• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR "

Copied!
139
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

RIAN RENYAAN NIM: 105731137518

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR

2022

(2)

ii

ANALISIS PAJAK HOTEL DAN PAJAK RESTORAN TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH

(Studi Kasus Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah Kabupaten BuIukumba)

RIAN RENYAAN NIM: 105731137518

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

MAKASSAR

2022

(3)

iii

KARYA TUGAS AKHIR MAHASISWA

JUDUL PENELITIAN:

ANALISIS PAJAK HOTEL DAN PAJAK RESTORAN TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH

(Studi Kasus Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah Kabupaten BuIukumba)

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Oleh:

RIAN RENYAAN NIM: 105731137518

Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Pada Program Studi Akuntansi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

2022

(4)

iv

MOTO DAN PERSEMBAHAN

MOTO

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan”

(Q.S. Ar-Rahman: 13)

PERSEMBAHAN

Puji syukur kepada Allah SWT atas Ridho-nya serta karunianya sehingga skripsi ini telah terselesaikan dengan baik

Alhamdulilah Rabbil’alamin

Skripsi ini kuberikan untuk orang tuaku tercinta Orang-orang yang saya sayang dan almamaterku

PESAN DAN KESAN

Sangat berkesan sekali kuliah di universitas muhammadiyah makassar karena saya bisa berkenalan dengan teman-teman baru

dengan prinsip dengan tujuan yang berbeda-beda, walaupun memiliki prinsip dan tujuan yang berbeda-beda tetapi untuk kebersamaan selalu memiliki tujuan sama. Semoga apa yang diinginkan teman-teman setelah kuliah di unismuh makassar segarah

dikabulkan

(5)

v

(6)

vi

(7)

vii

(8)

viii

HALAMAN PERNYATAAN

PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR

Sebagai sivitas akademik Universitas Muhammadiyah Makassar, saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Rian Renyaan

NIM : 105731137518

Program Studi : Akuntansi Jenis Karya : Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Muhammadiyah Makassar Hak Bebas Royalti Noneksklusif (Non- exclusive Royalty Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul:

Analisis Pajak Hotel dan Pajak Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah

(Studi Kasus Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah Kabupaten Bulukumba)

Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Muhammadiyah Makassar berhak menyimpan mengalihmedia/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Makassar, 16 Dzulhijjah 1443 16 July 2022

Yang Membuat Pernyataan,

Rian Renyaan NIM: 105731137518

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadiran Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang tiada henti diberikan kepada hamba-Nya.

Shalawat dan salam tak lupa penulis kirimkan kepada Rasulullah Muhammad SWA beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Merupakan nikmat yang tiada ternilai manakala penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Pajak Hotel dan Pajak Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah (Studi Kasus Badan Pengelolaan Keuangan Dan Pendapatan Daerah Kabupaten Bulukumba)”.

Skripsi yang penulis buat ini bertujuan untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan program Sarjana (S1) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

Teristimewa dan terutama penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada kedua orang tuaku tersayang Burhanudin Renyaan dan Ibunda Surya Renyaan yang senantiasa memberikan harapan, semangat, perhatian, kasih sayang dan doa tulus. Dan saudara-saudaraku tercinta yang senantiasa mendukung dan memberikan semangat sehingga akhir studi ini. Dan seluruh keluarga besar atas segala pengorbanan, serta dukungan baik materi maupun moral, dan doa restu yang telah diberikan kepada penulis menjadi ibadah dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan akhirat.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Begitu pula penulis

(10)

x

mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga dan pernyataan penghargaan yang sebesar-besarnya disampaikan dengan hormat kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag, selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Bapak Dr. H. Andi Jam’an, SE., M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Ibu Mira, SE.,M.Ak Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Ibu Dr. Muchriana Muchran, SE.,M.Si.Ak.,CA selaku pembimbing I yang senantiasa meluangkan waktunya membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga Skripsi selesai dengan baik.

5. Ibu Rini Sulistiyanti, SE.,M.Ak selaku pembimbing II yang telah berkenan membantu selama dalam penyusunan skripsi hingga ujian skripsi.

6. Bapak Jalaluddin, SE.,MM. selaku Kepala Bidang Pendapatan Badan Pengelolaan dan Pendapatan Daerah kepada penulis untuk mengambil data dalam rangka merampungkan tugas penelitian penulis.

7. Bapak/Ibu dan Asisten Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar yang tak kenal lelah banyak menuangkan ilmunya kepada penulis selama mengikuti kuliah.

8. Segenap Staf dan Karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.

9. Rekan-rekan Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Akuntansi Angkatan 2018 yang selalu belajar Bersama yang tidak sedikit bantuannya dan dorongan dalam aktivitas studi penulis.

(11)

xi

10. Teman-teman kelas akuntansi 9 (ak18i) yang selalu membantu saya dalam mempercepat studi saya di universitas muhammadiyah makassar

11. Terima kasih teruntuk semua teman-temanku yang tidak bisa saya tulis satu persatu yang telah memberikan semangat, kesabaran, Motivasi, dan dukungannya sehingga penulis dapat merampungkan penulisan Skripsi ini.

Akhirnya, sunggu penulis sangat menyadari bahwa Skripsi ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kepada semua pihak utamanya para membaca yang budiman, penulis senantiasa mengharapkan saran dan kritikannya demi kesempurnaan Skripsi ini.

Mudah-mudahan Skripsi yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi semua pihak utamanya kepada Almamater tercinta Kampus Biru Universitas Muhammadiyah Makassar.

Billahi fii Sabilil Haq, Fastabiqul Khairat, Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Makassar, 16 Juli 2022

Rian Renyaan

(12)

xii

ABSTRAK

RIAN RENYAAN, 2022. Analisis Pajak Hotel Dan Pajak Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah (Studi Kasus Badan Pengelolaan Keuangan Dan Pendapatan Daerah Kabupaten Bulukumba). Skripsi, Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar, Dibimbing oleh Pembimbing 1 Ibu Muchriana Muchran dan Pembimbing 2 Ibu Rini Sulistiyanti.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Kontribusi Pajak Hotel dan Pajak Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Bulukumba.

Jenis Penelitan yang digunakan yaitu kuantitatif. Data yang digunakan yaitu data Laporan Realisasi pajak hotel dan pajak restoran serta realisasi dari Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Bulukumba tahun 2015-2020. Adapun teknik yang digunakan dalam penelitain ini yaitu mengunakan metode analisis kontribusi.

Hasil penelitian analisis kontribusi menunjukan bahwa 1. Kontribusi dari penerimaan pajak hotel terhadap pendapatan asli daerah masih tergolong sangat rendah, karena rata-rata dari penerimaan pajak hotel hanya sebesar 0,32%

pertahunnya masih dibawah 10%. 2. Kontribusi penerimaan pajak restoran terhadap pendapatan asli daerah juga masih tergolong sangat rendah, dari hasil analisis kontribusi, rata-rata kontribusi penerimaan pajak restoran terhadap pendapatan asli daerah hanya sebesar 1,46%. Kurangnya kontribusi penerimaan pajak hotel dan pajak restoran dikarenakan kurangnya efektifnya pemungutan pajaknya karena ada beberapa pelaku usahan yang tidak melaksanakan kewajiabnya dalam membayar pajak usahnya

Kata Kunci: Pajak Daerah, Pajak Restoran, Pajak Hotel, PAD

(13)

xiii ABSTRACT

RIAN RENYAAN, 2022. Analysis of Hotel Tax and Restaurant Tax on Regional Original Income (Case Study of the Regional Revenue and Finance Management Agency of Bulukumba Regency). Thesis, Accounting Study Program, Faculty of Economics and Business, University of Muhammadiyah Makassar, Supervised by Supervisor 1 Mrs. Muchriana Muchran and Supervisor 2 Mrs. Rini Sulistiyanti.

This study aims to determine the contribution of hotel taxes and restaurant taxes to local revenue in Bulukumba Regency. The type of research used is quantitative. The data used are hotel tax and restaurant tax realization reports as well as the realization of Bulukumba Regency's 2015-2020 Regional Original Revenue. The technique used in this research is using the contribution analysis method.

The results of the contribution analysis research show that 1. The contribution of hotel tax revenues to local revenue is still very low, because the average hotel tax revenue is only 0.32% per year, which is still below 10%. 2.

The contribution of restaurant tax revenue to local revenue is also very low. From the results of the contribution analysis, the average contribution of restaurant tax revenue to local revenue is only 1.46%. The lack of contribution to hotel tax revenues and restaurant taxes is due to the lack of effective tax collection because there are several business actors who do not carry out their obligations in paying their business taxes.

Keywords: Hotel Tax, Restaurant Tax, Local Revenue

(14)

XVII

DAFTAR ISI

HALAMAN

SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... iii

HALAMAN MOTO DAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN PERSETUJUAN ... v

HALAMAN PENGESAHAN ... vi

HALAMAN SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS ... vii

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

ABSTRAK BAHASA INDONESIA ... xii

ABSTRACT ... xiii

DAFTAR ISI ... xvii

DAFTAR TABEL ... xix

DAFTAR GAMBAR ... xx

DAFTAR LAMPIRAN ... xxii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar BeIakang ... 1

B. Rumuman MasaIah ... 5

C. Tujuan PeneIitian... 5

D. Manfaat PeneIitian ... 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 7

A. Tinjauan Teori ... 7

1. Theory of Planned Behavior (TPB) ... 7

2. Pajak ... 7

3. Pajak Daerah ... 14

(15)

XVIII

4. HoteI ... 15

5. Restoran ... 21

6. Pendapatan Asli Daerah ... 27

B. Tinjauan Empiris ... 29

C. Kerangka Pikir ... 32

D. Hipotesis... 33

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 35

A. Jenis PeneIitian ... 35

B. Lokasi Dan Waktu PeneIitian ... 35

C. Jenis Dan Sumber Data ... 35

D. Populasi Dan Sampel ... 36

E. Metode PengumpuIan Data ... 38

F. Definisi Operasional Variabel ... 38

G. Metode Analisis Data ... 39

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 41

A. Gambaran Umum Kabupaten Bulukumba ... 42

B. Penyajian Data ... 59

C. Analisis dan Interprestasi ... 62

BAB V. PENUTUP ... 69

A. Kesimpulan ... 69

B. Saran ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 71

DAFTAR LAMPIRAN ... 74

(16)

XIX

DAFTAR TABEL

Nomor HaIaman

Tabel 1.1 Penerimaan Pajak Hotel dan Restoran Tahun 2015-2020 3

Tabel 2.1 Klasifikasi HoteI 17

Tabel 2.2 KIasifikasi Restoran 22

Tabel 2.3 PeneIitian TerdahuIu 29

Tabel 3.1 Kriteria Penelitian 37

Tabel 32 Klasifikasi Kriteria Kontribusi 40

Tabel 4.1 Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Hotel 59 Tabel 4.2 Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Restoran 60 Tabel 4.3 Target dan Realisasi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah 61 Tabel 4.4 Analisis Kontribusi Pajak Hotel Tahun 2015-2020 63 Tabel 4.5 Analisis Kontribusi Pajak Restoran Tahun 2015-2020 64

(17)

XX

DAFTAR GAMBAR

Nomor HaIaman

Gambar 2.1 Kerangka Pikir 32

Gambar 4.1 Kabupaten Bulukumba 41

Gambar 4.2 Struktur BPKPD Kabupaten Bulukumba 44

(18)

XXII

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1 Daftar Nama Hotel 75

Lampiran 2 Daftar Nama Restoran 79 Lampiran 3 Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan 110 Lampiran 4 Surat Balasan Penelitian 116

(19)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar BeIakang

Negara yaitu organisasi yang dipimpin oleh suatu pemerintahan yang salah satu tujuannya yaitu untuk mensejahterakan masyarakat di negara tersebut, berbagai macam cara yang dilakukan dilakukan oleh pemerintahan di berbagai negera untuk bertujuan mensejahterakan rakyat, termasuk Indonesia yang mengunakan sistem destralisasi, karena negara Indonesia mempunyai daerah yang luas dan mempunyai pulau yang banyak, dalam melaksanakan pemerintahnya, pemerintah pusat memberikan kewenangan tersendiri kepada setiap pemerintah daerah dalam menjalankan pemerintahnya. Kewenangan tersebut antara lain yaitu mengurus dan mengelola pemerintahnya sendiri untuk peningkatan efektivitas dan efisensi dalam melaksanakan pemerintahan serta pelayanan publik. (Anggraini et al, 2015)

Guna dalam melaksanakan kegiatan pemerintah daerah, dibutuhkan pendapatan tersendiri agar bisa terjalannya pemerintah daerah daIam menjalankan kewenangannya. Oleh karena itu, dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2014 mengenai Anggaran Pendapatan dan BeIanja Daerah, pemerintahan daerah memiliki kewenangan mengambil keputusan dalam mengelolaan dan penggunaan pendapatan daerah. Mengetahui bahwa disetiap daerah memiliki keragaman tersendiri, pemerintah daerah diwajibkan agar mengunakan

sumber penerimaan

(20)

daerah sebaik mungkin agar bisa mengembangkan potensi disetiap daerah. (Halim, 2001:167)

Pemerintah diharapkan mengunakan dana yang diperoleh dari sumber pendanaan secara bijak agar bisa memberikan suatu pelayanan yang memadai dan juga kesejahteraan untuk masyarakat di daerahnya.

Pendapatan yang sebaiknya ditingkatkan oleh pemerintah daerah agar bisa terjalannya desentralisasi dengan baik yaitu Pendapatan Asli Daerah.

(kariyansah, 2018)

Pemerintah disetiap daerah perlu lebih peka terhadap potensi apa saja yang bisa menguntungkan daerahnya, Potensi dari sumber menghasilan Pendapatan Asli Daerah kiranya bisa dilaksanakan dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku termasuk juga dengan pajak daerah, karena sumber pendapatan ini sangat penting dan mampu menunjang dalam meningkatkan perkembangan suatu daerah. Hasil yang bisa dapatkan masyarakat dari pembayaran pajak yaitu dibangunnya bangunan-bangunan yang bisa digunakan masyarakat untuk bisa meningkatkan lagi perekonomian di daerah tersebut (Kartika, 2019)

Pajak lain yang dipungut di daerah setempat termasuk pemungutan Pajak Hotel dan Pajak Restoran. Pemungutan dari sumber dua pajak tersebut dapat juga membantu pemerintah daerah dari berbagai pendapatan yang dikumpulkan oleh pemerintah daerah Kabupaten Bulukumba. Selain memberikan pemasukan untuk pemerintah daerah mengembangkan daerahnya, Hotel dan Restoran juga dapat memberikan kesempatan kerja lebih luas dan dapat mengurangi pengangguran di daerah tersebut. (Kartika, 2019)

(21)

Pemerintah Kabupaten Bulukumba terus menerapkan kebijakan yang meningkatkan pengembangan kawasan, salah satunya dengan penetapan kawasan wisata. Kontribusi dari Pariwisata saat ini sangat berdampak terhadap peningkatan pendapatan daerah. (Ayu lestari, 2019)

Mendorong pesatnya pembangunan infrastruktur di hotel dan restoran penting untuk memastikan bahwa industri ini dapat terus berkembang. Hal ini akan meningkatkan pendapatan daerah dengan pajak hotel dan restoran. Dibawah ini adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah Kabupaten Bulukumba tahun 2015-2020:

Tabel 1.1

klotel dan Pajak Restoran Tahun 2015-2020

Tahun Pajak HoteI Pajak Restoran

2015 245.567.774,00 1.518.729.084,00 2016 398.847.056,00 1.721.387.874,00 2017 490.398.486,00 1.794.088.841,00 2018 549.537.043,00 1.909.958.245,00 2019 526.084.439,00 2.099.111.752,00 2020 322.656.590,30 1.731.616.120,00 Sumber: BPKPD Kabupaten Bulukumba

Berdasarkan tabel tersebut, dapat dijelaskan bahwa pemungutan yang dilakukan di Kabupaten Bulukumba di sektor Pajak Hotel menggalami fluktuasi pada penerimaannya selama tahun 2015-2020, yang dimana tahun 2015 penerimaan Pajak Hotel sebesar Rp 245.567.774,00, dan mengalamai kenaikan di tahun 2016 sebesar Rp 398.847056,00, 2017 sebesar Rp 490.398.486,00, dan 2018 sebesar Rp 549.537.043,00. Tetapi pada tahun 2019 sampai 2020 mengalami

(22)

penerunan dalam pemungutan Pajak Hotel yang dimana tahun 2019 berjumlah Rp 526.084.4399,00, tahun 2020 sebesar Rp 322.656.590,30.

Begitu juga dengan penerimaan Pajak Restoran di Kabupaten Bulukumba, yang dimana penerimaan Pajak Restoran mengalami kenaikan dari tahun 2015 sampai 2019, yang dimana pernerimaan tahun 2015 sebesar Rp 1.518.729.084,00 dan terus meningkat sampai sebesar Rp 2.099.111.752,00 pada tahun 2019. Tetapi pada tahun 2020 penerimaan Pajak Restoran menurun menjadi Rp 1.731.616.120,00.

Terjadinya fluktuasi pada penerimaan Pajak Hotel dan Pajak Restoran di Kabupaten Bulukumba disebabkan oleh beberapa hambatan, antara lain yaitu beberapa oknum pengelola hotel dan restoran berupaya untuk menghindari kewajiban membayar pajaknya sehingga peneliti mencoba meneliti seberapa besar kontribusi Pajak Hotel dan Pajak Restoran terhadap pendapatan asli daerah.

Peneliti berpedoman pada jurnal-jurnal penelitian yang dilakukan sebelumnya dengan mengaitkan variabel-variabel yang sama seperti menggangkat variabel Pajak Hotel dan juga Pajak Restoran yang berdampak terhadapa PAD.

Vebry M. Lumban Gaul (2020) dengan judul “Analisis Penerimaan Pajak Restoran dan Pajak Hotel Sebagai Sumber Pendapatan Asli Daerah (studi kasus pada dinas pendapatan pengelolaan kekayaan asli daerah Kota Medan)” yang didalam hasil penelitannya menjelaskan bahwa rata-rata penerimaan tingkat efektifitas pajak hotel sebesar 94,33%

pada 2015 sampai 2017 di kota medan.

(23)

Penelitian yang dilakukan oleh Ziad Fahreja A, Yani Rizal, Nasrul Kahfi Lubis (2019) dengan judul penelitian yaitu “Analisis Kontribusi Penerimaan Pajak Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak Hiburan Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Langsa”, hasil dalam penelitian ini yaitu rata-rata kontribusi dari pajak hotel terhadap pendapatan asli daerah hanya sebesar 0,50%. Masih dibawah dari 10%. Begitu pula dengan penerimaan pajak restoran yang masih dibawah 10% yaitu penerimaan hanya sebesar 0,58%.

Berpedoman terhadapa jurnal yang telah dilakukan oleh penelitian terdahulu sehingga, keinginan peneliti untuk meneliti kembali terkait dengan Pajak Hotel dan Pajak Restoran di provinsi sulawesi selatan terkhususnya pada daerah Kabupaten Bulukumba. Perbedaan penelitian yang saya lakukan dan penelitian terdahulu yaitu Iokasi peneIitian ini diIaksanakan di Kabupaten Bulukumba, sulawesi selatan.

Mengenai Iatar beIakang yang teIah diuraikan diatas, penulis ingin meneliti mengenai “Analisis Pajak HoteI dan Pajak Restoran Terhadap Pendapatan AsIi Daerah Kabupaten Bulukumba”

A. Rumuman MasaIah

Mengacu pada konteks diatas, masalah dari peneIitian ini yaitu:

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah seberapa besar kontribusi pajak hotel dan restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bulukumba?

(24)

B. Tujuan PeneIitian

Berdasarkan uraian latar belakang dan rumusan masalah sebelumnya, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya kontribusi pajak hotel dan restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bulukumba?

C. Manfaat PeneIitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun secara praktis.

1. Manfaat Teoritis

Secara toeritis, penelitian ini diharapkan bisa menjadi sumber informasi dan menjadi acuan untuk penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

a. Manfaat Buat Peneliti

Mengetahui secara jelas dan meningkatkan pengetahuan mengenai upaya dalam pemungutan pajak pada daerah Kabupaten Bulukumba khusunya pada sumber pendapatan pajak hotel maupun pajak restoran.

b. Manfaat Buat Pemerintah Daerah

Sebagai sumbangsih refleksi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya di bidang perpajakan.

c. Manfaat Buat Akademisi

Berfungsi sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut dan memberikan informasi tentang perkembangan akuntansi sektor publik dan perpajakan

(25)
(26)

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori

1. Theory of Planned Behavior (TPB)

Teori perilaku terencana atau theory of planned behavior (TPB) merupakan teori yang dikembangkan oleh Ajzen, yang merupakan penyempurnaan dari teori gerak terestrial atau reason action theory yang dikemukakan oleh Fishbein dan Ajzen. Fokus utama dari teori perilaku terencana atau theory of planned behavior (TPB) sama dengan teori yang mendasari tindakan atau reason action theory, yaitu niat individu untuk melakukan perilaku tertentu. Niat dianggap sebagai faktor motivasi yang mempengaruhi perilaku. Niat merupakan indikator kemauan dan usaha individu untuk melakukan suatu perilaku (Ajzen,2005).

2. Pajak

Sangat banyak ahIi-ahIi dalam perpajakan yang memberikan barbagai definisi tentang pajak, dari banyaknya definisi yang diberikan oleh para ahli, sejatihnya pemahaman yang mereka berikan mempunyai makna yang satu yaitu, membuat makna pajak agar sebisa mungkin dapat dipahami dan mudah dimengerti. dibawah ini dijelaskan definisi-definisi yang ada:

DidaIam Undang-undang Nomor 6 Tahun 2009 yang isinya tertera bagaimana tata cara dan ketentuan umum dalam perpajakan,

(27)

9

pajak yaitu pemungutan yang sifatnya wajib diberikan oIeh orang pribadi

(28)

maupun badan berlandaskan undang-undang yang berlaku, pajak yang diberikan kepada negara akan digunakan untuk kepentingan negara dan masyarakat.

Prof. Dr Rochmat Soemitro S.H., memberikan pemahaman bahwa pajak yaitu sumbangan masyarakat ke kas negara yang dilandaskan dengan undang-undang dan juga tanpa mendapatkan keuntungan secara langsung dan sumbangan yang diberikan akan negara gunakan untuk kepentingan umum (Resmi, 2017).

1.1. Fungsi Pajak

Perpajakan memiliki dua fungsi dasar antara lain, pertama fungsi Budgetair (pembiayaan publik) dan yang kedua, fungsi regularend (pengaturan) (Resmi, 2017).

1. Fungsi Budgetair (pembiayaan publik)

Pemahaman dari fungsi budgetair yaitu, pencapaian dari pembiayaan yang dilakukan secara rutin maupun bertahap dibiayai oleh pemerintah daerah, Pemerintah berusaha mengisi dana kedalam kas negara sebanyak-banyaknya untuk menunjang kebutuhan dari fungsi budgetair. Usaha yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi budgetair dengan cara eksrensifikasi atau juga intesifikasi pemungutan dari berbagai jenis pajak, seperti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan bisa juga lakukan dengan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), ataupun cara lainya.

(29)

2. Fungsi ReguIarend (pengaturan)

Maksud dari fungsi reguIarend dalam pajak adalah alat yang dipakai dengan tujuan mengatur kebijakan pemerintah daIam mencapai tujuan-tujuan diIuar bidang keuangan, contohnya yaitu daIam bidang sosiaI dan ekonomi. Contoh fungsi pajak sebagai regularend (Resmi, 2017):

a. Penerapan tax holiday bertujuan agar investor lebih tertarik untuk menanamkan modaI mereka di lndonesia b. Diberikan tarif sebesar 0% agar pengusaha di lndonesia

lebih giat lagi dalam mengekspor hasil produksi mereka ke pasar dunia.

c. Memberikan Pajak yang tinggi untuk pembelian barang mewah, barang yang dianggap sebagai barang mewah, akan mendapatkan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang Iebih tinggi dan bisa saja pajak yang diberikan sebesar Iima puIuh persen dari harga barangnya

1.2. Syarat Pemungutan Pajak

Mencegah terjadinya hambatan dalam pemungutan pajak, oleh karena itu pajak memenuhi syarat yang ada sebagai berikut (Mardiasmo, 2016)

1. Dalam pemungutan pajak haruslah dapat dimengerti agar masyarakat dapat melakukan kewajiban perpajakannya

2. Tidak menganggu perekonomian

(30)

dalam melakukan pemungutan pajak sepatutnya tidak mengganggu perekonomian masyarakat, agar tidak ada kelesuhan didalam prekonomian masyarakat

3. Harus adil dalam pemungutan (Syarat Keadilan)

Mengikuti dari tujuan hukum, yakni mencapai keadilan, pelaksanaan pemunggutan pajak atau juga perundang- undangan pajak haruslah adil. Adil dalam pemungutan pajak yaitu memberikan hak dan kewajiban untuk wajib pajak dalam melakukan pengajuan keberatan, mengajukan banding di pengadilan pajak ataupun pelakukan pengajuan penundaan dalam pembayaran pajak.

4. Dalam melaksanakan pemungutan pajak didasari dengan undang-undang yang berlaku di indonesia (Syarat Yuridis).

Jaminan yang didapatkan oleh negara ataupun masyarakat dituangkan dalam UUD 1945 yang disebutkan pada pasaI 23 ayat 2

5. Efesiensi dalam pemungutan pajak

Diwajibkan bahwa pemungutan pajak harusIah Dibawah dari hasiI pemungutan karena sesuai dengan fungsi dari budgetair

1.3. Jenis Pajak

Tiga jenis yang termasuk daIam keIompok pajak yaitu (Resmi,2017)

1. Menurut GoIongan

(31)

a. Pajak Iangsung, yaitu dibebankan Iangsung kepada individu dan tidak bisa dibebankan lagi kepada individu lainnya.

b. Pajak tidak langsung, yaitu beban pajak yang diterima oleh individu dan dapat dibebankan kepada individu lainnya.

2. Menurut Sifatnya

a. subjektif, artinya berdasarkan pada subjek pajak yang dimana dilihat dari keadaan individual wajib pajak.

b. objektif, yang bermaksud berdasarkan pada objek pajaknya, baik itu berupa perbuatan, benda, keadaan, ataupun suatu kegiatan yang bisa wajib pajak harus membayar pajak, tanpa melihat dari keadaan subjek pajak tersebut.

3. Menurut Iembaga pemungutan

a. Pajak negara (pajak pusat), yang dimana pemungutan yang lakukan oIeh pemerintah didaIam negeri daIam membantu pembiayaan umum negara.

b. Pajak daerah, yaitu pemungutan yang dilakukan oleh pemerintah daerah yang dimana pengumpulan dana pajak tersebut digunakan untuk pembiayaan pendanaan rumah tangga dearah.

1.4. Tata Cara Dalam Pemungutan Pajak

Terdapat tiga cara daIam pemungutan pajak (Resmi,2017) 1. SteseI nyata (riel steseI)

(32)

Pemungutan pajak dilakukan berdasarkan objek dari pajak, sehingga pemungutan pajak diIakukan pada setiap akhir tahun berjalan setelah penghasiIan asIinya diketahui.

Adapun keunguIan dan keIemahan yang dimiIiki oIeh cara steseI nyata yaitu, keIebihan pada steseI nyata yaitu pemungutan pajak yang lebih reaIistis. Dan pada keIemahannya yaitu, pemungutan pajak yang baru hanya bisa kenakan pada akhir periode

2. steseI anggapan (fictieve steseI)

pemakaian pajak didasarkan undang-undang.

Misalnya yaitu, penghasilan wajib pajak suatu tahun akan dianggap penghasiIannya sama dengan tahun-tahun sebeIumnya, keungguIan dari steseI ini yaitu wajib pajak dapat membayarkan pajaknya seIama tahun berjaIan tanpa menuggu Iagi akhir tahun untuk membayar pajak nya. Dan pada keIemahannya yaitu pajak yang didapatkan wajib pajak tidak seIamanya berdasarkan kehidupan nyata wajib pajak.

3. Stesel campuran

Ini adaIah campuran dari steseI nyata dan steseI anggapan. Diperiode awaI tahun, pajak disesuaikan dengan keadaan sebenarnya wajib pajak, biIa mana pajak yang diberikan Iebih Iebih keciI dari kenyataanya maka wajib pajak patut menambahkannya, begitupuIa sebaIiknya jika pajak disesuaikan Iebih besar dari kenyataannya maka keIebihannya dapat minta kembaIi.

(33)

1.5. Asas Pemungutan Pajak

Tiga asas pemungutan pajak yaitu (Zisky Azis, 2016):

1. Official Assessment System

Sistem pemungutan pajak ini memberikan wewenang kepada pemerintah (petugas pajak) untuk menentukan besarnya pajak terhutang Wajib Pajak. Sistem Pemungutan pajak ini sudah tidak berlaku lagi setelah reformasi perpajakan pada tahun 1984. Ciri-ciri sistem pemungutan pajak ini adalah:

a. Pajak terhutang dihitung oleh petugas pajak b. Wajib Pajak bersifat pasif

c. Hutang pajak timbul setelah petugas pajak mengitung pajak yang terhutang dengan diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak (SKP).

2. Self Assessment System

Sistem pemungutan pajak ini memberikan wewenang kepada Wajib Pajak untuk menghitung sendiri, melaporkan sendiri, dan membayar sendiri pajak yang terhutang yang seharusnya dibayar. Ciri-ciri sistem pemungutan pajak ini adalah:

a. Pajak terhutang dihitung sendiri oleh Wajib Pajak b. Wajib Pajak bersifat aktif dengan melaporkan dan

membayar sendiri pajak terhutang yang seharusnya dibayar.

c. Pemerintah tidak perlu mengeluarkan Surat Ketetapan Pajak (SKP) setiap saat kecuali oleh kasus-kasus

(34)

tertentu saja seperti Wajib Pajak terlambat melaporkan atau membayar pajak terhutang atau terdapat pajak yang seharusnya dibayar tetapi tidak dibayar.,

3. With Holding System

Sistem pemungutan pajak ini memberikan wewenang kepada pihak lain atau pihak ketiga untuk memotong dan memungut besarnya pajak yang terhutang oleh Wajib Pajak.

Pihak ketiga disini adalah pihak lain selain pemerintah dan Wajib Pajak.

3. Pajak Daerah

Terdapat undang-undang yang jeIaskan bawah kontribusi dari wajib pajak untuk daerah yang terutang dari wajib pajak orang pribadi dan badan yang sifat berdasarkan undang-undang yaitu memaksa, dan kontribusi yang wajib pajak berikan tidak mendapatkan imbaIan secara Iangsung, dan kontribusi yang wajib pajak berikan akan digunakan untuk kepentingan daerah daIam membangun daerahnya dan juga untuk kepentingan kesejahteraan rakyat di daerahnya.

Menurut UU No. 28 Tahun 2009 Pada kabupaten/kota atau daerah tingkat 2 adaIah sebagai berikut:

1. Pajak hoteI, artinya pemberian pajak atas peIayanan yang diberikan kepada pengunjung

2. Pajak restoran, artinya yaitu pemberian pajak atas penjuaIan yang diberikan oIeh restoran

3. Pajak hiburan, artinya yaitu pemberikan pajak atas hiburan yang teIah seIenggarakan

(35)

4. Pajak rekIame, yaitu pajak yang berikan atas penyeIengara rekIame

5. Pajak penerangan jaIan, artinya pemberian pajak yang diIakukan atas pembayaran penggunaa Iistrik, ketentuan yaitu pemerintah daerah lah yang membayar penerangan jaIan tersebut.

6. Pajak parkir, yaitu pajak yang dibayarkan oleh orang pribadi atau badan penyeIengaraan tempat parkir di Iuar badan jaIan

4. HoteI

3.1. Pengertian HoteI

“Hotel adalah suatu industri atau usaha jasa yang dikelola

secara komersial (Hermawan dkk., 2018). Sedangkan pengertian Hotel menurut SK Menparpostel No. KM/37/PW/304/MPPT-86 adalah suatu jenis akomodasi yang menyediakan sebagian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makanan dan minuman serta jasa lainnya bagi umum, yang dikelola secara komersial.”

3.2. Karakteristik HoteI

Toni Munte, Lamhot Naibaho (2019) menjelaskan bahwa karakteriksik dari hoteI pada umum, yang membedakan hoteI dari industri Iainnya yaitu:

a. HoteI adalah industri yang padat akan modaI, yang artinya mengeIoIa hoteI membutuhkan modaI yang sangat besar dan memerIukan tenaga kerja yang banyak.

b. Beroperasi seIama 24 jam daIam sehari, dan tidak adanya hari Iibur daIam peIayanan di hoteI

(36)

c. Memperlakukan peIanggan sebagai raja dan juga menjaIin kerja sama dengan peIanggan, karena banyaknya peIanggan bisa diIihat dari seberapa banyak fasiIitas yang ada dihoteI digunakan.

3.3. PenggoIongan HoteI

Toni Munte, Lamhot Naibaho (2019) pengoIongan hoteI yaitu suatu cara daIam pengeIompokan hoteI-hoteI daIam berbagai tingkatan atau keIas, pengoIongan tingkatan pada hoteI bintang dibagi menjadi 5 (Iima) tingkatan, yaitu hoteI bintang 1 (satu) sampai dengan hoteI bintang 5 (Iima). Kriteria keIas hoteI bintang bisa ditetapkan jika suatu HoteI sudah menyanggupi dari syarat penggoIongan keIas hoteI.

Persyaratan penggoIongan hoteI antara Iain yaitu:

a. Persyaratan fisik, yaitu Iokasi hoteI, kondisi bangunan hoteI

b. peIayanan-peIayanan yang diberikan pihak hoteI kepada peIanggan hoteI

c. kuaIitas dari tenaga kerja di hoteI tersebut, seperti tingkat pendidikan karyawan hoteI maupun kesejahteraan karyawannya hoteI.

d. tersedianya fasilitas oIahraga dan rekreasi Iainnya, seperti Iapangan, koIam renang dan lainnya

e. jumIah dari kamar yang disediakan hoteI tersebut.

penggoIongan keIas tersebut mempunyai tujuan yaitu:

(37)

a. menjadi pedoman penanaman modal dibidang perhoteIan bagi caIon investor

b. masyarakat dapat mengetahui fasilitas yang ada di hotel tersebut dan bisa mengunakan hotel tersebut c. Menciptakan persaingan antara pengusaha di bidang

perhotelan

Hotel yang beIum bisa memenuhi kriteria daIam penggoIongan hoteI bintang, akan ditempatkan daIam goIongan hoteI meIati, golongan hoteI meIati dapat puIa ditingkatkan ke hoteI goIongan bintang jika sudah memenuhi kriteria didaIam goIongan hoteI bintang. Berikut adalah penggolongan hotel berdasarkan klasifikasinya.

Tabel 2.1 Klasifikasi HoteI

Nomor KIasifikasi HoteI PenjeIasan

1 MeIati 1 - MinimaI 5 kamar

- MemiIiki fisik bangunan yang bagus dan Iokasi - Memiliki taman

- MemiIiki parkir - MemiIiki Iobby - MemiIiki front office - MemiIiki kantor

pengeIoIaan

- MemiIiki Ruang binatu - MemiIiki gudang - MemiIiki organisasi

manajemen

- MemiIiki tenaga kerja - MemiIiki house keeping - MemiIiki ruang karyawan - MemiIiki keamanan - MemiIiki kebersihan - MemiIiki peIayanan

makanan dan minuman

(38)

2 MeIati 2 - MinimaI kamar yang dimiIiki yaitu 10 kamar - Memenuhi semua standar

dari MeIati 1

- kuaIitasnya diIapangan Iebih dari meIati 1

3 MeIati 3 - MinimaI kamar yang

dimiIiki yaitu 15 kamar - Memenuhi semua standar

dari meIatih 2

- kuaIitas diIapangan Iebih dari meIati 2

- MemiIiki koIam renang - MemiIiki kamar mandi,

bath up - MemiIiki AC - MemiIiki TV - MemiIiki kulkas

4 Bintang 1 - Minimal kamar yang

dimiliki yaitu 15 kamar - MemiIiki lokasi yang

strategis dan lingkungan yang bagus

- MemiIiki taman - MemiIiki tempat parkir - MemiIiki tempat oIahraga

dan rekreasi - MemiIiki bangunan - MemiIiki kamar tamu - MemiIiki ruangan makan - MemiIiki bar

- MemiIiki lobby

- MemiIiki telepon umum - MemiIiki toilet umum - MemiIiki koridor

- MemiIikir ruangan yang disewakan

- MemiIiki dapur

- MemiIiki area administrasi - MemiIiki area tata graha - MemiIiki gudang

- MemiIiki ruang karyawan - MemiIiki operasionaI

manajemen

- Menyediakan Food and beverage

- MemiIiki keamanan - MemiIiki peIayanan yang

baik

5 Bintang 2 - Minimal kamar yang

(39)

dimiIiki yaitu 20 kamar - MinimaI memiIiki 1 kamar

suite

- Sudah memenuhi semua standar di bintang 1

6 Bintang 3 - MinimaI kamar yang

dimiIiki yaitu 20 kamar - MinimaI memiIiki 2 kamar

suite

- MemiIiki minimaI 2 restoran

- MemiIiki minimaI 2 koIam renang

- MemiIiki fasiIitas yang menunjang seperti sauna, spa, fitnes dan lainya - Sudah memenuhi semua

standar di bintang 2

7 Bintang 4 - MinimaI kamar yang

dimiIiki yaitu 100 kamar - MemiIiki minimaI 4 kamar

suite

- MemiIiki minimaI 3 restoran

- Sudah memenuhi semua standar di bintang 3

8 Bintang 5 - MinimaI 100 kamar

- MemiIiki minimaI 4 kamar suite

- MemiIiki 6 saIuran teIepon - Sudah memenuhi semua

standar di bintang 4 Sumber: Marihot (2010: 298)

3.4. Pajak HoteI

pajak hoteI dipunggut pada tingkat kabupaten atau kota dengan peraturan ataupun landasan yang telah ditetapkan oleh kabupaten dan kota tersebut.

Penarikan pajak pada hoteI di indonesia diIandasi dengan peraturan yang tegas dan harus diikuti oIeh setiap masyarakat diindonesia. Adapun dasar dari pemungutan pajak di seluruh kabupaten dan kota yaitu

(40)

a. Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 yang merupakan perubahan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1996 tentan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

b. Peraturan pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah

c. Peraturan Daerah Kabupaten atau Kota yang mengatur tentang pajak hoteI

1.5. Objek Pajak HoteI

Objek Pajak Hotel terbagi atas 2 yaitu (Dimas, 2017):

1. Objek Pajak Hotel

peIayanan hoteI yang diberikan untuk peIanggan, yang didaIamnya termasuk

a. Disewakan ruangan untuk setiap kegiatan pertemuan atau pun pernikahan

b. fasiIitas yang diberikan penginapan dan tempat tinggaI untuk janga waktu yang pendek ataupun jangka waktu yang panjang.

c. Memberikan kemudahan bagi setiap peIanggan yang mengunakan fasiIitas penginanapan baik jangka waktu yang pendek atau jangka waktu yang panjang.

2. Bukan Objek Pajak Hotel

Beberapa haI yang tidak termasuk daIam objek pajak hoteI yaitu:

(41)

a. Memeberikan jasa wisata dari hoteI kepada setiap peIanggan dan dimanfaatkan oIeh peIanggan karena tidak dipungut pajak

b. peIayanan umum disediakan oIeh hoteI yaitu: salon, pertokoan, dan lainya.

3.6. Subjek Dan Wajib Pajak HoteI

Dari undang-undang No. 28 Tahun 2009 dijeIaskan bahwa yang termasuk daIam subjek pajak yaitu setiap individu atau badan yang membayar biaya dari tarif yang diberikan pihak hoteI atas peIayanan yang teIah diberikan kepada peIanggannya. Dan wajib yaitu orang pribadi atau badan yang mempunyai hoteI tersebut

5. Restoran

4.1. Pengertian Restoran

Hays (2011: 27), menjelaskan bahwa restoran adalah suatu pelayanan yang dimana pelayanan tersebut mendapatkan keuntungan, jasa yang mereka berikan yaitu berupa penjualan makanan kepada masing-masing orang atau juga kepada orang- orang yang berkelompok besar maupun kecil.

4.2. KIasifikasi Restoran

Hays (2011: 27): Pembagian kIasifikasi restoran menjadi pembagian keIas usaha dan rumah makan. PenggeIompokan keIas usaha dari usaha restoran TaIam Kecana, TaIam seIaka, dan juga TaIam gangsa. Sedangkan pada usaha rumah makan di

(42)

keIompokkan menjadi Rumah makan KeIas A, keIas B, dan juga keIas C. berikut ini adaIah kIasifikasi restoran:

Tabel 2.2 Klasifikasi Restoran

No. Klasifikasi Restoran Penjelasan

1 Restoran Talam Kencara (kelas tertinggi

golongan restoran ditandai dengan piagam sendok garpu

warna emas)

- MemiIiki lokasi dan lingkungan yang mendukung

- MemiIiki bangunan yang kokoh

- MemiIiki tempat parkir - MemiIiki pembagian

dan pengaturan ruangan

- MemiIiki komunikasi pencegahan bahaya kebakaran

- MemiIiki pembuangan air dan limbah

- MemiIiki ruang makan - MemiIiki toiIet dapur - MemiIiki gudang - MemiIiki ruang

administrasi 2 Restoran Talam (kelas

menengah golongan restoran ditandai dengan piagam sendok

garpu warna perak)

- MemiIiki lokasi dan lingkungan yang mendukung

- MemiIiki bangunan yang kokoh

- MemiIiki tempat parkir - MemiIiki pembagian

(43)

dan pengaturan ruangan

- MemiIiki komunikasi pencegahan bahaya kebakaran

- MemiIiki pembuangan air dan limbah

- MemiIiki ruang makan - MemiIiki toiIet dapur - MemiIiki gudang - MemiIiki ruang

administrasi 3 Restoran TaIam

Gangsa (kelas rendah golongan restoran

ditandai dengan piagam sendok garpu

warna perak)

- MemiIiki lokasi dan lingkungan yang mendukung

- MemiIiki bangunan yang kokoh

- MemiIiki tempat parkir - MemiIiki pembagian

dan pengaturan ruangan

- MemiIiki komunikasi pencegahan bahaya kebakaran

- MemiIiki pembuangan air dan limbah

- MemiIiki ruang makan - MemiIiki toiIet dapur - MemiIiki gudang - MemiIiki ruang

administrasi 4 Bar (penyediaan

berbagai macam

- MemiIiki Perizinan pengoperasian bar

(44)

minuman yang disediakan oleh pihak bar dengan ketentuan pemerintah daerah)

- MemiIiki Iingkungan yang sesuai syarat yang dikeluarkan pemerintah daerah

- MemiIiki bangunan yang kokoh

- MemiIiki komunikasi pencegahan bahaya kebakaran

- MemiIiki toiIet - MemiIiki ruangan

minum tamu

- MemiIiki ruangan kerja bartender

- MemiIiki gudang - MemiIiki kantor - MemiIiki ruang

karyawan - lainya 6 Rumah Makan A

(rumah makan yang menyediakan kursi

minimal 61 buah)

- MemiIiki lokasi lingkungan yang mendukung

- MemiIiki bagunan yang kokoh

- MemiIiki tempat parkir - MemiIiki ruang makan - MemiIiki dapur

- MemiIiki gudang - MemiIiki ruang

administrasi - MemiIiki peraIatan

penyajian

- MemiIiki kesehatan dan

(45)

keseIamatan 6 Rumah Makan B

(rumah makan yang menyediakan kursi minimal 31 sampai 60

buah)

- MemiIiki lokasi lingkungan yang mendukung

- MemiIiki bagunan yang kokoh

- MemiIiki tempat parkir - MemiIiki ruang makan - MemiIiki dapur

- MemiIiki gudang - MemiIiki ruang

administrasi - MemiIiki peraIatan

penyajian

- MemiIiki kesehatan dan keseIamatan

7 Rumah Makan C (rumah makan yang

menyediakan kursi minimal 15 sampai 30

buah)

- MemiIiki lokasi lingkungan yang mendukung

- MemiIiki bagunan yang kokoh

- MemiIiki tempat parkir - MemiIiki ruang makan - MemiIiki dapur

- MemiIiki gudang - MemiIiki ruang

administrasi - MemiIiki peraIatan

penyajian

- MemiIiki kesehatan dan keseIamatan

Sumber: Alwi (2013: 45)

(46)

4.3. Pajak Restoran

Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, pajak restoran dipunggut pada tingkat kabupaten atau kota dengan peraturan ataupun landasan yang telah ditetapkan oleh kabupaten dan kota tersebut.

Penarikan pajak pada restoran di indonesia diIandasi dengan peraturan yang tegas dan harus diikuti oIeh setiap masyarakat di indonesia. Adapun dasar dari pemungutan pajak di seluruh kabupaten dan kota yaitu:

a. Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 yang merupakan perubahan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1996 tentan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

b. Peraturan pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah

c. Peraturan Daerah Kabupaten atau Kota yang mengatur tentang pajak restoran

4.4. Objek Pajak Restoran

Dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 disebutkan bahwa yang tidak termasuk objek pajak restoran adalah pelayanan yang disediakan oleh restoran yang nilai penjualannya tidak melebihi batas tertentu yang ditetapkan dengan peraturan daerah. Dan Objeknya yaitu pelayanan yang diberikan oIeh restoran, pelayanan yang diberikan yaitu menjual makanan ataupun minuman untuk dibeli untuk dinikmati baik itu dinikmati

(47)

ditempat yang sudah disediakan oIeh restoran ataupun dinikmati ditempat Iain.

6. Pendapatan Asli Daerah

Pendapatan primer daerah adalah pendapatan yang diterima dari pemerintah daerah atas penggunaan sumber daya pemerintah daerah, serta atas penyelenggaraan kegiatan dan pelayanan pemerintah bagi masyarakat (Dimas, 2017). Pendapatan ini sering dijadikan sebagai indikator tingkat kemajuan suatu daerah. Daerah yang dianggap maju adalah yang memiliki PAD tinggi. Hal ini dapat dimaklumi, karena dengan tingginya PAD yang diterima daerah maka ketergantungan pemerintah daerah terhadap pembiayaan APBD akan berkurang.

Namun, pemerintah daerah dilarang memungut pajak kepada penduduk, yang dapat menyebabkan ekonomi biaya tinggi yang tidak mendukung dunia usaha/investasi. Pemerintah daerah juga dilarang membuat peraturan daerah yang menghambat pergerakan penduduk (Purmomartani, 2014).

Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004, PAD adalah penerimaan daerah yang berasal dari pajak daerah, hasil pengelolaan barang milik tersendiri, dan PAD lain yang sah yang dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan bagi daerah, beroperasi dalam keuangan dan menjalankan otonomi Menerapkan prinsip desentralisasi.

Sumber daya yang dapat dikembangkan suatu daerah untuk meningkatkan pendapatan di daerah tersebut adalah (Purwomartani, 2014):

(48)

1. Pajak daerah, terutama yang ditetapkan untuk dipungut dengan peraturan daerah, dan wajib pajak (wajib pajak) tidak dapat menerima imbalan apapun secara langsung dari pemerintah daerah. Contoh pajak daerah adalah pajak mobil, pajak pemeliharaan, pajak restoran, pajak reklame, pajak mobil, dan lainnya mungkin diberikan.

2. Pajak daerah, yaitu pajak yang dipungut langsung kepada pengguna berbagai fasilitas yang disediakan oleh pemerintah daerah. Pemungutan biaya juga harus dicakup oleh peraturan lokal. Contoh pendapatan tersebut adalah biaya parkir, biaya pasar, biaya terminal, dll.

3. Hasil pengelolaan dengan kepemilikan wilayah yang terpisah, yaitu pendapatan dari pengelolaan badan usaha di kawasan tersebut dan badan-badan lain di kawasan tersebut.

4. PAD lain yang sah, yaitu pendapatan yang diterima oleh pemerintah daerah selain ketiga jenis pendapatan tersebut di atas. Pendapatan ini termasuk, tetapi tidak terbatas pada, pendapatan dari penjualan aset teritorial yang tidak terbagi, giro, pendapatan bunga, pendapatan mata uang asing, komisi, diskon atau akun lainnya. Bentuk-bentuk yang timbul dari penjualan dan/atau pembelian barang dan/atau jasa menurut wilayah.

Glynn (1983), pakar Bank Dunia, berpendapat bahwa ambang batas pendapatan 20% PAD adalah ambang batas minimum untuk

(49)

menetapkan otonomi daerah. Jika PAD kurang dari 20%, daerah kehilangan kredibilitasnya sebagai entitas yang mandiri.

Kemandirian finansial menurut wilayah dirinci menjadi (Sulfiana, 2017):

1. Sangat rendah, yaitu ketika suatu daerah memiliki PAD 0-25%

dalam pendapatan daerah, maka pemerintah pusat berperan dominan seperti pemerintah daerah.

2. Rendah, artinya rasio PAD daerah terhadap pendapatan daerah 25-50 persen. Dengan kata lain, intervensi pemerintah pusat mulai berkurang dan daerah dianggap lebih berpeluang menjalankan otonominya.

3. Ringan, yaitu bila rasio PAD daerah 50-75 persen dari pendapatan daerah. Artinya daerah tersebut dianggap dekat dengan pembentukan otonomi daerah.

4. Tinggi, artinya jika nilai PAD lebih dari 75 persen nilai pendapatan daerah. Hal ini dapat dipahami karena pemerintah daerah memiliki kapasitas dan kemandirian yang cukup untuk menyelenggarakan urusan otonomi daerah.

B. Tinjauan Empiris

Penelitian dahulu yang digunakan untuk referensi dan dalam melakukan penelitian ini. Berikut adalah penelitian terlebih dahuIu

Tabel 2.3 Penelitian Terdahulu

No. Peneliti Judul Penelitian Jenis PeneIitian

Hasil Penelitian

(50)

1 Ziad Fahreja A, Yani Rizal, Nasrul

Kahfi Lubis (2019)

Analisis Kontribusi Penerimaan Pajak

Hotel, Pajak Restoran, dan Pajak Hiburan

Terhadap Pendapatan Asli

Daerah Kota Langsa

Deskriptif kuantitatif

Rata-rata kontribusi penerimaan pajak hotel hanya mencapai 0,50%, dan rata-rata kontribusi

penerimaan pajak restoran sebesar 0,58%.

2 Dewi Ernita (2021)

Anallisis Pengaruh Pajak Hotel, Pajak

Restoran, dan Pajak Penerangan

Jalan Terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten

Kerinci 2010-2020

kualitatif Tidak berpengaruh pajak hotel terhadap pendapatan asli daerah, tidak berpengaruh pajak

restoran terhadap pendapatan asli daera, begitupula dengan pajak

penerangan jalan yang tidak berpengaruh terhadap pendapatan

asli daerah.

3 Cristy Luwunaung,

Yance Tawas, Joseph Kambey

(2020)

Analisis Kontribusi Pajak Hotel, dan

Pajak Restoran Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Sarmi

Provinsi Papua Tahun 2015-2019

kualitatif Kontribusi rata-rata masih jauh dari 5%, sehingga tidak masuk

kedalam presentasi yang sangat tidak efektif

4 Vebry M.

Lumban Gaol (2020)

Analisis Penerimaan Pajak Restoran dan Pajak

Hotel Sebagai Sumber Pendapatan Asli Daerah (studi pada

dinas pendapatan pengelolaan kekayaan asli daerah kota medan)

Analisis Deskriptif

Rata-rata kontribusi pajak restoran terhadap pendapatan asli daerah

sebesar 6,69%, dan rata-rata tingkat kontribusi pajak hotel

sebesar 4,82%

5 Destarika Isnaani

Latifah Setyo Budi

Analisis Penerimaan Pajak

Hotel dan Pajak Restoran Sebagai

Deskriptif kualitatif

Rata-rata tingkat kontribusi pajak restoran

sebesar 6,45%, dan rata-rata kontribusi

(51)

(2018) Sumber Pendapatan Asli

Daerah

penerimaan pajak hotel sebesar 6,17%

6 Gede

Sudarsana (2019)

Analisis Pertumbuhan, Efektifitas dan Kontribusi Pajak Hotel dan Pajak Restoran Terhadap

Pendapatan Asli Daerah Kabupaten

Buleleng Tahun 2015-2018

Deskriptif kualitatif

Rata-rata efektivitas pemungutan pajak hotel

sebesar 96,60% dan rata-rata efektivitas

pemungutan pajak restoran sebesar

90,92%

7 Diah Ayuk Wulandari, Andi Kartika

(2021)

Pengaruh Penerimaan Pajak Hotel dan Restoran

Serta Retribusi Daerah Terhadap

Perndapatan Asli Daerah

kuantitatif VariabeI x yaitu pajak hoteI tidak memiliki pengaruh terhadap pendapatan asli daerah

dan variabeI x yang lainnya yaitu pajak restoran juga tidak berpengaruh positif terhadap pendapatan

asIi daerah.

8 Hadi Lidya Rikayaan, Nurhasanah

(2020)

The Effect of Hotel Tax, Restaurant Tax, Eentertaiment

Tax and The Number of Tourists

on Locally- Generated Revenue at Bintan

District

Deskirptif kuantitatif

Dari hasil penelitian dinyatakan bahwa pajak

hotel berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten

Bintan Tahun 2015- 2018, hal ini ditunjukkan

dengan nilai signifikansi 0,030 < 0,05 Dari hasil pengujian dinyatakan bahwa pajak

restoran tidak berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah

Kabupaten Bintan Tahun 2015-2018, hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar 0,929 > 0,05 dan thitung

sebesar

(52)

9 Megafatma Monoarfa,

Fahrudin Zain Olilingo, Ivan Rahmat

Santoso (2022)

Analysis of The Effect of Entertaiment Tax,

Hotal Tax and Restaurant Tax on

Regional Original Income (PAD) in

Gorontalo City 2014-2018

Kuantitatif Terdapat pengaruh yang sangat signifikan antara pajak hotel dan pendapatan asli daerah

di kota gorontalo Pajak restoran berpengaruh positif terhadap pendapatan

asli daerah di Kota Gorontalo;

10 Sovi

Julianda Wahya, Sukmini Hartati, Eka

Jumarni Fithri, Rita

Martini (2021)

Hotal and Restaurant Taxes

Role to the Local Original Revenue of

Regency/City in South Sumatera

kuantitatif Pajak Hotel berpengaruh positif dan

signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah

Pajak restoran berpengaruh positif dan

signifikan terhadap pendapatan asli daerah.

C. Kerangka Pikir

Kerangka pikir yang akan dibuat peneIiti berhubungan dengan penjeIesan yang sudah dijeIaskan pada tinjaun teori yang teIah diberikan, berikut adaIah gambar dari kerangka pikir daIam peneIitian ini:

2.1 Kerangka Pikir

Keterangan:

X1 : Pajak Hotel X2 : Pajak Restoran

Y : Pendapatan Asli Daerah Pajak HoteI (X1)

Pajak Restoran (X2)

Pendapatan AsIi Daerah (Y)

(53)

: Kontribusi X1 ke Y : Kontribusi X2 ke Y

D. Hipotesis

Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan pendapatan daerah yang berasal dari potensi yang ada pada daerah yang dikelola oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. Salah satu sumber pendapatan asli daerah berasal dari sektor pajak daerah yang memiliki peran besar bagi pembiayaan daerah. Pajak hotel dan restoran adalah salah satu pajak daerah yang memiliki potensi paling besar. Dalam pemungutan.

pajak harus dilakukan secara efektif dan efisien. Pajak yang dipungut dengan efektif dan efisien akan mengoptimalkan penerimaan sehingga dapat memberikan kontribusi yang optimal dan tingkat efektifitas yang besa terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Seperti pada penelitan yang dilakukan oleh Destarika Isnaani Latifah Setyo Budi (2017) yang mendapatkan hasil dari kontribusi pajak restoran terhadap pendapatan asli daerah dalam rata-rata sebesar 6,45%, dan angak itu terus bertambah dikarenakan realisasi penerimaan pajak restoran terus meningkat setiap tahunnya. Begitu juga dengan rata-rata kontribusi dari penerimaan pajak hotel terhadap pendapatan asli daerah sebesar 6,17%.

Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Ajzen yaitu Theory of planned behavior, yang dimana teori ini menjelaskan bahwa intensi individu untuk melakukan perilaku tertentu, dan perilaku tertentu dalam penelitian ini yaitu pembayaran pajak hotel dan pajak restoran.

Pada penelitan terdahulu dijelaskan bahwa penarikan pajak hotel dan pajak restoran dikarenakan individu taat dalam melakukan kewajibannya.

(54)

Berdasarkan permasalahan dan kerangka pemikiran yang telah diuraikan sebelumnya, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah diduga bahwa pajak hotel dan restoran memiliki kontribusi yang besar terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Bulukumba.

(55)

37

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis PeneIitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah kuantitatif deskriptif.

Kuantitatif deskriptif adalah jenis penelitian yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya.

Sugiyono (2015) Penelitian kuantitatif deskriptif menggunakan pendekatan korelasi (correlational research). Penelitian korelasi adalah penelitian yang dilakukan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada, berapa eratnya hubungan serta berarti atau tidak hubungan itu. Penelitian korelasi memperlajari dua variabel atau lebih yakni sejauh mana variasi dalam satu variabel berhubungan dengan variasi dalam variabel lain

B. Lokasi Dan Waktu PeneIitian

Penelitian dilakukan di Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah (BPKPD) Kabupaten Bulukumba, dan berlangsung selama 2 bulan dari Maret hingga April 2022.

C. Jenis Dan Sumber Data

Menggunaan data daIam peneIitian ini yaitu data kuantitatif.

Metode peneIitian kuantitatif mempunyai pemahaman bawah peneIitian ini digunakan untuk meneIiti popuIasi atau sampeI tertentu, pengumpuIan dari pada sampeI ini bersifat acak, sehingga hasiI dari peneIitian bisa disamaratakan pada popuIasi dimana sampeI itu diambiI (Sugiyono, 2012:

(56)

8) time series digunakan sebagai jenis data pada penelitian ini. Ini berarti data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu untuk melacak pertumbuhan atau kinerja dari waktu ke waktu, data dalam bentuk laporan target yang telah direncanakan pada penarikan pajak hotel dan restoran, dan aplikasi PAD dari Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah Kabupaten Bulukumba.

Data sekunder digunakan sebagai sumber data pada penelitian ini.

Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti dari sumber yang tersedia. Data tersebut dapat diperoleh dari bahan pustaka, dokumen, rintisan penelitian, buku, dll. Ini digunakan untuk mendukung informasi penting (Hasan, 2002).

D. Populasi Dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah semua data dalam suatu wilayah dan kerangka waktu yang telah ditentukan untuk menjadi perhatian peneliti. Populasi terikat dengan data, jika seseorang memberikan data maka ukuran atau jumlah populasi akan sama dengan jumlah orang. (Margono, 2004). Jumlah populasi pada penelitian ini sebanyak 1.161 hotel dan restoran yang terdiri dari 162 hotel dan 999 restoran yang berada di wilayah Kabupaten Bulukumba

2. Sampel Penelitian

Menurut Sugyono (2010), penyebut adalah pecahan dari suatu bilangan. Karakteristik populasi. Pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode Purposive Sampling. Pengambilan sampel yang bertujuan adalah teknik Pengenalan pola dengan pertimbangan

(57)

tertentu. Jadi metode model Sampel yang diambil sebanyak 1.161 dari hotel dan restoran.

3. Teknik Sampling

Sampel diambil dengan menggunakan teknik sampling khusus.

Contoh yang digunakan menggunakan beberapa pertimbangan seperti:

Indikator sampel memberikan deskripsi variabel yang akurat diperiksa.

Menurut Sugyono (2010), intensional sampling merupakan teknik deterministik dengan beberapa pertimbangan. Sampel penelitian ini diambil melalui pengambilan sampel khusus dengan menggunakan sampel jika memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Seluruh Penginapan Yang Mempunyai NPWP 2. Seluruh Restoran Yang Mempunyai NPWP

Tabel 3.1 Kriteria Sampel

Nomor Keterangan Sampel

1 Seluruh Penginapan Yang Mempunyai NPWP

162

2 Seluruh Restoran Yang Memiliki NPWP 999 Jumlah sampel penelitian 1.161

Sumber: Marihot (2010: 298)

Berdasarkan kriteria pemilihan seperti yang disebutkan di atas, jumlah yang masuk sesuai kriteria sebanyak 1.161 hotel dan restoran dan akan menjadi sampel pada penenlitian ini.

(58)

E. Metode PengumpuIan Data

Sujarweni (2015: 93) Jelaskan bahwa data diperoleh sebagai hasil pengumpulan dengan mengungkapkan atau mengumpulkan informasi kuantitatif dari responden sesuai dengan ruang lingkup penelitian.

Metode pengambiIan data yang diIakukan pada peneIitian ini yaitu dengan cara observasi. Data yang dokumentasikan atau dipubIiskan yaitu penerimaan dari pajak hoteI, pajak restoran juga pada Iaporan pendapatan asIi daerah Kabupaten Bulukumba pada rentan tahun 2015 sampai pada tahun 2020.

F. Definisi Operasional Variabel

Menurut (Sugiyono, 2015:95) “variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya”

Ada tiga variabel yang akan digunakan sesuai dengan judul yang akan diteliti pada penelitian kali ini yaitu 2 variabel bebas dan 1 variabel terikat.

1. Variabel Independen (variabel bebas)

Variabel bebas adalah variabel yang memiliki pengaruh positif atau negatif terhadap variabel terikat. Jika ada variabel bebas maka ada variabel terikat, dengan setiap satuan variabel bebas bertambah, maka variabel terikat juga bertambah atau berkurang.

(59)

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah:

a. X1 Pajak Hotel, yang dimana penerimaan pajak yang didapatkan dari pelayanan yang diberikan oleh pihak hotel.

b. X2 Pajak Restoran, penerimaan pajaknya didapatkan dari hasil penjualan yang dapatkan dari pihak individu atau berkelompok.

2. Variabel Dependen (variabel terikat)

Menurut (Sugiyono, 2012) “variabel dependen sering disebut sebagai variabel output, kriteria, konsekuen atau variabel terikat. Variabel dependen (terikat) adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas”.

Yang menjadi variabel terikat dalam penelitian ini yaitu:

Y = pendapatan Asli Daerah, dan Indikator dalam variabel terikat adalah: pajak daerah.

G. Metode Analisis Data

Teknik ini merupakan teknik yang digunakan untuk memprediksi hasil penelitian hingga sampai pada suatu kesimpulan. Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini menggunakan metode kontribusi untuk menjawab pertanyaan tentang kontribusi pajak hotel dan pajak restoran terhadap pendapatan asli daerah di Kabupaten bulukumba.

Berikut adalah rumus untuk menghitung kontribusi pajak hotel dan pajak restoran terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) kabupaten bulukumba.

(60)

Menurut (Halim,2004) cara untuk menghitung tingkat Kontribusi dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan

Ps = Kontribusi penerimaan Pajak Terhadap Pendapatan Asli Daerah Xn = Jumlah realisasi penerimaan Pajak Hotel/ Restoran (rupiah) Yn = Jumlah Realisasi Penerimaan Pendapatan Asli Daerah (rupiah) N = Tahun periode tertentu

(Halim,2004)

Tabel 3.2

Klasifikasi Kriteria Kontribusi

Presentase Kriteria

0-10% Sangat Kurang

10-20% Kurang

20-30% Cukup

30-40% Cukup Baik

40-50% Baik

50%> Sangat Baik

Sumber: (Halim,2004)

(61)

43

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Kabupaten Bulukumba

1. Kabupaten Bulukumba

“Kabupaten Bulukumba merupakan salah satu kabupaten tingkat

II di Sulawesi Selatan. Dilihat dari peta geografis, Kabupaten Bulukumba terletak pada 5°20" sampai 5°40" LS dan 119°50" sampai 120°28" BT. Kabupaten Bulukumba berbatasan dengan Kabupaten Sinjai di sebelah utara dan Teluk Bone di sebelah timur, Laut Flores di sebelah selatan dan Kabupaten Bantaeng di sebelah barat. Kabupaten Bulukumba meliputi wilayah seluas 1.154,67 kilometer persegi.

(bulukumbakab.go.id)”

Kabupaten Bulukumba memiliki 10 kecamatan, 24 kelurahan dan 123 desa. Kabupaten Bulukumba memiliki jumlah penduduk sebanyak 437.607 jiwa per September 2020. Rata-rata pertumbuhan penduduk di Kabupaten Bulukumba adalah 4.305 jiwa per tahun antara tahun 2010-2020. (BPS, 2021).

Gambar 4.1 Kabupaten Bulukumba

(62)

2. Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah

Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah (BPKPD) Kabupaten Bulukumba merupakan unsur praktik dalam menyusun laporan pertanggungjawaban ini termasuk memeriksa kelengkapan file Bendahara/LS penanggung jawab, rekonsiliasi data, arsip akuntabilitas bendahara, mendorong pengelolaan keuangan daerah, Menyiapkan laporan tengah tahunan, prakiraan dan rekonsiliasi data untuk semester tersebut.

Terbentuknya Otoritas Keuangan Daerah Kabupaten Bulukumba Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Wilayah yang tunduk pada Peraturan Daerah, Otoritas Bulukumba No. 14 Tahun 2016 mengatur tentang Formasi dan Komposisi Perangkat Daerah dan Keputusan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2019, tentang pengelolaan keuangan daerah yang disahkan oleh Presiden Joko Widodo pada 6 Maret 2019 di Jakarta.

1. Visi dan Misi

a. “Mewujudkan Pengelolaan Keuangan Daerah yang Profesional, Tertib dan Akuntabel”.

b. Pengelolaan keuangan dan aset daerah yang handal dengan didukung oleh sumber daya manusia yang profesional, terpadu dan terarah. Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan aparatur dalam merumuskan kebijakan tertib administrasi pengelolaan keuangan dan aset daerah yang efektif dan efisien.

Memperkuat koordinasi dan hubungan kerja dengan

Gambar

Gambar 2.1  Kerangka Pikir              32
Tabel 2.1  Klasifikasi HoteI
Tabel 2.2  Klasifikasi Restoran
Tabel 2.3  Penelitian Terdahulu
+3

Referensi

Dokumen terkait

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama :

iii Institut Teknologi Bandung HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai sivitas akademik Institut Teknologi Nasional, saya yang bertanda

v Institut Teknologi Nasional HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai sivitas akademik Institut Teknologi Nasional, saya yang bertanda tangan

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai sivitas akademik Institut Teknologi Nasional, saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Syahrul

Institut Teknologi Nasional v HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai sivitas akademik Institut Teknologi Nasional, saya yang bertanda

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI SKRIPSI UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Purwokerto dan pengembangan ilmu pengetahuan, saya yang

v HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai sivitas akademik Universitas Narotama Surabaya, saya yang bertanda tangan dibawah ini :

v HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Sebagai sivitas akademik Universitas Katolik Soegijapranata, saya yang bertanda tangan di bawah