pISSN 1858-1196 ISSN 2355-3596 1Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (UHAMKA), Indonesia
http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas
Promosi Kesehatan di Rumah Sakit (HPH) bertujuan untuk memberikan pelayanan dan pengobatan medis yang bermutu tinggi dan menyeluruh yang dilaksanakan melalui kegiatan promosi kesehatan kepada pasien, staf rumah sakit, dan masyarakat pada umumnya sebagai bagian dari jati diri dan praktik rutin rumah sakit. Dengan melaksanakan HPH, berarti rumah sakit mengintegrasikan upaya promosi dan layanan pendidikan kesehatan, profilaksis, dan rehabilitasi dalam layanan kuratif (WHO, 2004).
WHO memiliki 5 standar HPH yang telah digunakan oleh banyak negara dalam penerapan HPH. Di Indonesia, standar tersebut telah diadopsi dan dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan dan sedang digunakan untuk membuat standar HPH sendiri yang terdiri dari 6 standar: (1) Kebijakan Manajemen, (2) Penilaian Kebutuhan Komunitas Rumah Sakit,
(3) Pemberdayaan Komunitas Rumah Sakit, (4) Abstrak
Perkenalan Info Artikel
Emma Rachmawati Tatang1ÿ, Tri Mawartinah1
Rumah Sakit melaksanakan Pengembangan Masyarakat untuk mendukung Pemberdayaan, (5) Kemitraan, (6) Rumah Sakit mewujudkan tempat kerja sehat (Kemenkes RI, 2011),
Upaya promosi kesehatan bukanlah tugas yang mudah dilakukan oleh rumah sakit, terutama terkait dengan perannya untuk lebih berkontribusi dalam kesehatan masyarakat, yang jauh dari hakikatnya sebagai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesehatan dalam bentuk pelayanan kuratif atau pelayanan klinis (Johansson et al., 2009). Rumah sakit diharapkan untuk melakukan reorientasi pada struktur formal dan kegiatan rutinnya untuk lebih peduli dalam mempromosikan kesehatan, meskipun pada kenyataannya, reorientasi sistemik masih memiliki upaya yang sangat terbatas (Wieczorek et al., 2015),
dan masih memiliki perhatian khusus tentang menciptakan desain yang tepat.
Jurnal Kesehatan Masyarakat
Kata kunci:
Diterbitkan Maret 2019
Evaluasi, Kesehatan
Email : [email protected] Dikirimkan pada bulan Oktober 2018
Diterima Februari 2019 Riwayat Artikel:
KEMAS 14 (3) (2019) 410-418
kemas.v14i3.16520 https://doi.org/10.15294/
DOI
Promosi, Rumah Sakit
Alamat Korespondensi: Jl
Limau II Kebayoran Baru Jakarta 12130, Indonesia.
Survei dilakukan pada bulan Maret-April 2018 terhadap 304 karyawan tetap di tiga Rumah Sakit Muhammadiyah di Jakarta. Pengukuran meliputi karakteristik karyawan dan alat penilaian diri terkait pencapaian standar nasional HPH.
Inisiatif Promosi Kesehatan di Rumah Sakit (HPH) masih berjalan lambat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan HPH di Rumah Sakit Muhammadiyah di Jakarta, Indonesia.
Berdasarkan kegiatan HPH, hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pengetahuan pegawai cukup baik (5,6; maks: 10) dan sikap baik (29,6; maks: 40), namun kegiatan HPH rendah (25,3%), dan keterlibatan dalam pelatihan HPH rendah (13,5%). Capaian tertinggi adalah standar “kemitraan” (68%), dan capaian terendah adalah “menelaah kebutuhan warga rumah sakit” (50%). Sebanyak 56% responden menyatakan capaian standar nasional HPH di RS Muhammadiyah sudah baik. Hasil penelitian ini sebagai evidence-based untuk merancang prioritas strategi peningkatan HPH di RS Muhammadiyah.
ÿ
Studi Evaluasi Rumah Sakit Promosi Kesehatan (HPH) pada Rumah Sakit
Muhammadiyah DKI Jakarta, Indonesia
Faktor lain yang mempengaruhi implementasi HPH adalah kepemilikan rumah sakit, status akreditasi rumah sakit, kebijakan dan rencana HPH, jumlah staf rumah sakit yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan pelatihan HPH, identifikasi diri rumah sakit terhadap efektivitas organisasi secara keseluruhan dalam HPH (Lin & Lin, 2011); status rumah sakit dan jaringan HPH serta ukurannya (Groene et al., 2010). Studi lain di rumah sakit di Indonesia menemukan bahwa waktu program HPH dan koordinasi dengan sektor lain, keterbatasan sumber daya manusia di Unit HPH, standar dan instruksi HPH yang belum disosialisasikan juga menjadi faktor yang mempengaruhi implementasi HPH (Nova et al., 2016).
Hakim, BZ, & Fauzi (2013) juga menyebutkan faktor- faktor seperti tim pelaksana HPH belum mendapatkan pelatihan khusus tentang implementasi HPH, proses pembuatan program promosi yang tidak melibatkan pasien dalam mengkaji kebutuhan promosi kesehatan yang tepat dan dibutuhkan pasien juga akan
mempengaruhi implementasi HPH.
Dalam skala nasional, program HPH telah memiliki landasan hukum berupa Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 004 tentang Petunjuk Teknis HPH yang mewajibkan pelaksanaan HPH di setiap rumah sakit di Indonesia.
Indonesia, termasuk Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM). Namun demikian, sebagaimana disebutkan sebelumnya, pelaksanaan program tersebut berjalan lambat. Pelaksanaan HPH di Indonesia selama 15 tahun belum menunjukkan hasil yang signifikan dan
keberlanjutan program belum terjaga dengan baik, tergantung pada komitmen rumah sakit. Beberapa isu strategis pelaksanaan HPH telah muncul di rumah sakit- rumah sakit besar di Indonesia, seperti (1) Rumah sakit belum menerapkan HPH sebagai salah satu kebijakan utama dalam menciptakan standar pelayanan kesehatan, (2)
Sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu program dan pelaksanaan HPH di rumah sakit di Indonesia, pada tahun 2011, Kementerian Kesehatan RI memerintahkan Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat untuk bermitra dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk meningkatkan pelaksanaan HPH di Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) di setiap kota yang terdapat RSM seperti Yogyakarta, Makassar, DKI Jakarta, Bandung, Palangkaraya, Tegal, Bumiayu, Palembang, Sumatera Utara, Padang, Kendal, dan seluruh kota di Jawa Timur.
Kemitraan tersebut masih terus dilaksanakan hingga tahun 2018 dan tahun-tahun berikutnya. Kemitraan HPH di RSM telah menghasilkan dampak positif bagi komitmen Manajemen, pasien, dan masyarakat di setiap wilayah RSM. Namun di sisi lain, hingga saat ini, belum ada evaluasi komprehensif yang dilakukan untuk mengevaluasi kegagalan dan pencapaian standar HPH yang penting untuk menunjukkan efektivitas program HPH dan nilai- nilai Al Islam Muhammadiyah yang akan menjadi karakteristik utama HPH di RSM. Dari alasan tersebut, penelitian ini penting sebagai penelitian berbasis bukti untuk menyoroti evaluasi kebijakan HPH secara umum dan HPH di RSM secara khusus.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel yang diambil adalah 304 orang karyawan tetap RSM 3 di DKI Jakarta yang diambil secara acak.
Metode untuk program promosinya sehingga menjadi program
yang komprehensif dan bukan hanya proyek jangka pendek (Pelikan, 2012). Di sisi lain, rumah sakit sebagai institusi kesehatan kompleks yang dijalankan dan diarahkan oleh banyak profesional dan orang yang berkualifikasi tinggi, menghadapi kesulitan saat membuat program, strategi, dan pendekatan promosi kesehatan yang sesuai dan tepat dalam operasi sehari-hari (Johannson et al., 2009). Fakta menunjukkan bahwa masih ada tenaga kesehatan profesional yang tidak mampu mengidentifikasi promosi kesehatan pada peran sehari-hari mereka yang dapat menyebabkan perdebatan yang tidak perlu, kesalahpahaman, dan kendala dalam mengembangkan program promosi kesehatan.
Keengganan tenaga kesehatan profesional untuk mengintegrasikan promosi kesehatan diindikasikan sebagai kendala utama dalam menerapkan promosi kesehatan di rumah sakit (Lee et al., 2015; Lee, Chen, &
Wang, 2014; Whitehead, 2004). Strategi dan alat implementasi yang tidak jelas menjadi alasan lainnya (Groene, 2005).
Rumah sakit belum memberikan informasi kepada pasien tentang tindakan pencegahan dan penyembuhan penyakit yang dideritanya, (3) Rumah sakit belum mewujudkan tempat kerja yang aman, bersih, dan sehat, dan (4) Rumah sakit masih sangat terbatas dalam menjalankan program kemitraan dengan pihak lain untuk menciptakan pelayanan preventif dan promotif (Kemenkes RI, 2011).
77 (25.3) distribusi frekuensi/karakteristik setiap variabel yang disediakan dalam bentuk tabel.
(jumlah halaman 95)
2 (0.7)
- -
TIDAK -
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tentang karakteristik responden (tingkat pendidikan, tingkat keaktifan di HPH dan keikutsertaan dalam pelatihan HPH), pengetahuan HPH (nilai ÿ-Cronbach
> 0,449: cukup reliabel) dengan kategori jawaban benar dan salah; sikap (nilai ÿ-Cronbach > 0,840: sangat reliabel) dengan kategori jawaban sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju; dan self-assessment tool tentang 6 capaian standar HPH dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2011 dengan kategori capaian tidak tercapai, tercapai sebagian, dan tercapai, dengan tambahan indikator penerapan nilai-nilai Al Islam Muhammadiyah pada setiap standar HPH (nilai ÿ-Cronbach > 0,9: sangat reliabel). Nilai capaian akhir pada setiap standar dibagi menjadi 2 kategori, yaitu baik (ÿ nilai median) dan kurang baik (< median).
219 (72.0)
Bahasa Inggris D3
RSIJPK*
(n=104)
S2
Sumber : Data Primer
94 (89.5) 11 (10.5)
Sekolah menengah atas
Rumah sakit memiliki kemitraan Ya Skor (%)
Hasil kegiatan dan pelatihan HPH responden pada tabel distribusi rumah sakit berdasarkan klasifikasi jenjang pendidikan dapat dilihat pada tabel 1. Dapat dilihat bahwa sebagian besar responden yang merupakan karyawan tetap di 3 RSM berpendidikan Diploma (72%), dan sebagian responden menyatakan pernah terlibat dalam kegiatan HPH (25,3%) dan pernah mengikuti pelatihan HPH (13,5%).
Khusus di RSIJ Pondok Kopi, hanya 2 responden (1,9%) yang pernah mengikuti pelatihan HPH dan 11 responden (10,6%) pernah terlibat dalam kegiatan HPH. Hal ini menjadi catatan yang sangat penting baik bagi RSM maupun tim HPH di 3 RSM tersebut karena jumlah karyawan yang terlibat aktif dalam pelatihan HPH dapat menjadi titik penguatan hubungan antara kondisi HPH, karakteristik rumah sakit, dan identifikasi diri rumah sakit terhadap efektivitas organisasi secara keseluruhan dalam HPH (Lin & Lin, 2011). Di sisi lain, meskipun RSIJ Sukapura belum memiliki program kemitraan HPH, hal ini dapat memperlihatkan keterlibatannya yang lebih baik dan lebih mendalam dalam HPH dibandingkan dengan 2 RSM lainnya. Rendahnya tingkat keterlibatan pegawai pada kegiatan maupun pelatihan HPH ini sejalan dengan beberapa penelitian yang menemukan bahwa masih kurang mengandalkan pegawai HPH, pelatihan, pendanaan, dan fasilitas fisik di rumah sakit yang kemudian menjadi kendala pegawai dalam melakukan promosi HPH di rumah sakit dan berujung pada
(n-304)
41 (13.5) 29 (27.6)
21 (20.0) Analisis data adalah analisis deskriptif univariat untuk menghitung nilai ÿ-Cronbach dari nilai statistik instrumen (mean, median, SD, range), persentase/proporsi, juga untuk menunjukkan
RSIA SP*
61 (29.1)
Terlibat dalam kegiatan HPH
*Catatan: RS CP: RSIJ Cempaka putih; RSIJ PK: RSI Pondok Kopi; RSIJ SP: RSI Sukapura
TIDAK
Survei telah dilakukan pada bulan Maret-April 2018. RSM yang terlibat dalam penelitian ini adalah rumah sakit umum tipe B yang tersebar di 3 wilayah Jakarta, yaitu RS Islam Jakarta (RSIJ) Pondok Kopi (Jakarta Timur), RSIJ Sukapura (Jakarta Pusat), RSIJ Cempaka Putih (Jakarta Utara).
Nama Variabel
22 (7.2)
S1
dan proporsional dari total populasi sebanyak 1486 orang.
Kriteria eksklusi responden adalah pegawai tetap yang sedang menjalani cuti tahunan atau memiliki izin sakit pada saat survei.
Tabel 1: Distribusi Karakteristik Responden
Tingkat Pendidikan
-
RSIJ CP*
(n=105)
7 (6,70) 15 (15,8) 72 (69,3) 53 (55,8) 25 (24,0) 25 (26,3) 2 (2,1) 11 (10,6) 37 (38,9) 2
(1,9) 18 (18,9)
Terlibat dalam pelatihan HPH
Hasil dan Pembahasan
Total
1. Pengetahuan tentang HPH 5.4 0.8 5.7
RSIA CP RSIJ PK
29.5 2.8 29.9
Kombinasi
30 2,9 30,31 30 4,41 29,57 29 3,49 Rata-rata Md SD Rata-rata Md SD Rata-rata Md SD Rata-rata Md SD
6 6,0 0,94 5,59 6.0 0.92
2. Sikap terhadap HPH 29
6
RSSIJ
0.9 5.6 Variabel
Di sisi lain, ada juga informasi dari penelitian lain yang menyebutkan bahwa ada kesulitan yang dihadapi oleh tenaga kesehatan dalam mengaitkan peran mereka sebagai tenaga kesehatan profesional dengan peran sebagai promotor kesehatan. Untuk kasus ini,
kemampuan memahami dan menyadari potensi promosi kesehatan dalam hal apa pun perlu ditingkatkan sehingga tenaga kesehatan dapat membuat tujuan HPH sejalan dengan peran dan kegiatan mereka (Johansson et al., 2009). Singkatnya, tenaga kesehatan profesional di RSM sekarang ditantang untuk meningkatkan kemampuan, pengetahuan, dan kompetensi baru mereka tentang HPH. Promosi kesehatan di rumah sakit, secara tidak langsung juga mendorong personel rumah sakit untuk memiliki gaya hidup dan perilaku sehat dan menjadi panutan baik bagi rekan kerja maupun masyarakat (Lin & Lin, 2011). HPH dapat digunakan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian, meningkatkan pendapatan rumah sakit, menurunkan biaya medis, meningkatkan kepuasan pemangku kepentingan internal dan eksternal, mencegah penyebaran penyakit tidak menular, dan meningkatkan kualitas hidup (Yaghoubi & Javadi, 2013).
Tabel 2 menunjukkan bahwa untuk variabel pengetahuan HPH, skor rata-rata hampir sama di setiap RSM yaitu 5,59 dan cukup homogen (SD = 0,92).
Namun skor tersebut belum dapat dikatakan baik karena skor terbaik adalah 10, sedangkan skor rata-rata tentang tingkat pemahaman HPH adalah 55,9%. Rendahnya skor pengetahuan dapat terjadi karena kampanye dan sosialisasi HPH yang minim disampaikan kepada setiap staf RSM, rasa ingin tahu staf yang rendah tentang HPH yang dapat disebabkan karena mereka telah memiliki jadwal dan kegiatan tetap untuk setiap hari, juga komitmen manajemen rumah sakit yang belum menempatkan HPH sebagai prioritas untuk diterapkan di rumah sakitnya. Baik rumah sakit yang telah bermitra dengan HPH dengan Kementerian Kesehatan Indonesia maupun yang belum bermitra, skor pengetahuan HPH sedikit berbeda.
Untuk variabel sikap responden terhadap HPH, skor rata-rata menunjukkan skor baik sebesar 29,57 dengan variasi skor yang tinggi. Jika dibandingkan dengan skor maksimal yang tercatat yaitu 40 dan nilai rata-rata sebesar 29,7 maka sikap responden terhadap HPH tergolong baik dengan persentase 74,25%. Sama halnya dengan variabel sebelumnya, skor rata-rata antara rumah sakit yang telah bermitra dengan Kementerian Kesehatan RI dan yang belum, menunjukkan sedikit perbedaan.
Berdasarkan jawaban responden mengenai HPH, masih terdapat kesalahpahaman bahwa tujuan HPH adalah agar rumah sakit memperoleh penghargaan karena telah melakukan promosi kesehatan. Padahal tujuan sebenarnya tidak sesederhana yang mereka bayangkan.
Berdasarkan pedoman HPH tahun 2011 dari Kementerian Kesehatan Indonesia, kegiatan promosi kesehatan terutama difokuskan pada upaya menciptakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang relevan atau bahkan dapat mengkatalis proses rehabilitasi dan penyembuhan penderita penyakit.
Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua tenaga kesehatan profesional mempunyai kemampuan dalam mengidentifikasi peran mereka dalam mempromosikan kesehatan yang dapat menjadi kendala laten bagi pengembangan promosi kesehatan di masa mendatang.
ketidakmampuan pemahaman karyawan terhadap kerangka kerja HPH (McHugh et al., 2010).
Pengetahuan dan sikap terhadap HPH menunjukkan bahwa pemahaman, pemahaman yang baik dan pandangan bersama sangat penting dan menjadi aspek mendasar yang perlu dipenuhi untuk melaksanakan dan mengembangkan program kesehatan bagi masyarakat. Hasil penelitian ini juga menandai adanya pendekatan yang berbeda yang telah diadopsi dalam mempromosikan kesehatan berdasarkan persepsi tenaga kesehatan profesional tentang promosi kesehatan dan strategi untuk meningkatkan promosi kesehatan dalam aktivitas sehari-hari mereka (Johansson, et al., 2009).
Untuk rincian variabel sikap, dapat dilihat bahwa mayoritas responden/
Tabel 2: Distribusi Nilai Statistik Variabel Pengetahuan dan Sikap Responden tentang HPH di RSM di DKI Jakarta Tahun 2018
RSIJ Pondok Kopi yang juga belum terekspos program kemitraan HPH, memperoleh nilai rata-rata terendah pada seluruh pencapaian standar dibanding kedua RSM lainnya dan nilai rata-rata gabungan.
Sedangkan RSIJ Cempaka Putih memperoleh nilai rerata dibawah nilai rerata RSIJ Sukapura namun diatas nilai rerata RSIJ Pondok Kopi pada seluruh standar, namun hanya pada standar capaian indikator 1 (Kebijakan Manajemen) (77,7%) dan standar 2 (Penilaian Kebutuhan Komunitas Rumah Sakit) (75,7%) melebihi rata-rata capaian gabungan (73,9%).
Pada tabel 3 dapat dilihat gambaran lengkap skoring capaian masing-masing standar (standar 1 s/d 6) sesuai pedoman HPH Kementerian Kesehatan tahun 2011 yang ditambah dengan nilai-nilai Islam standar Muhammadiyah (AIK) yang wajib diterapkan pada masing-masing RSM, dan nilai skoring capaian standar HPH untuk ketiga RSM gabungan. Berdasarkan hasil pengolahan data self assessment terkait dengan HPH, maka dapat diketahui nilai
skoring capaian standar HPH yang harus diterapkan pada masing-masing RSM.
terhadap capaian implementasi HPH, rerata skor tertinggi pada seluruh standar diraih oleh RSIJ Sukapura (84,7%) dibanding rerata skor kedua RSM lainnya (59,6% dan 65,1%) dan rerata gabungan (75,1%).
Meskipun rumah sakit ini belum terekspos pada program kemitraan HPH antara MPKU PP Muhammadiyah dengan Dirjen Promosi Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang telah berlangsung sejak tahun 2011, namun sebagian besar responden menilai semua standar HPH telah tercapai.
Namun, lebih dari 80% responden menyatakan sikap yang kurang tepat terhadap hal-hal terkait HPH berikut ini, yaitu: tidak dapat menjamin tempat kerja yang aman, sehat, dan bersih, belum tentu mencerminkan nilai-nilai Islam, dan belum perlu melaksanakan cita-cita gerakan Muhammadiyah. Kelompok masyarakat ini dapat dimasukkan ke dalam kelompok “demarcater”, yaitu kelompok tenaga kesehatan yang secara tegas memisahkan upaya promosi kesehatan, tetapi untuk beberapa hal justru berperilaku sebagai tenaga promosi kesehatan (Johansson et al, 2009).
Staf tetap RSM menyatakan sikap setuju bahwa HPH dikaitkan dengan hal positif yaitu: tidak membebani tugas, tidak dilaksanakan secara paralel/bersama pelayanan medis/klinik, tidak cukup ditangani oleh tenaga khusus prokes saja, harus dilaksanakan, perlu melibatkan masyarakat, dan perlu kajian khusus.
Setelah dilakukan pengelompokan berdasarkan nilai median pada masing-masing standar, maka
diperoleh informasi proporsi responden yang tingkat pencapaiannya dianggap
Tabel 3. Distribusi Statistik Pencapaian Standar HPH di RS Muhammadiyah DKI Jakarta Tahun 2018
4.98 SD
42.94 7.50
2.06 2.48
jam 7.00
Berarti
2.32
7.39
Jam 10.00 jam 7.00
Standar 3
0/22
8.62
Tanggal 17.10
Putih
0/72 SD
40.0 6.42
1.59 1.82
7.92 Rata-rata
2.58
jam 8.00
61.07 7.23
pukul 18.00
0/10 Standar 2
Jam 10.00
RSIJ Pondok Kopi RSIJ Sukapura
2.38
Min/Maks Berarti
5.5
2.28
jam 9.00
7.57 13.62
1.93
66.00
jam 7.00
7.57
2.32 2.67
8.22 Rata-rata
Skor gabungan (3 RSM)
Standar Standar 1
6.95 0/10
11.19 54.07
jam 8.00 Jam 13.00
2.42 2.55
Berarti
7.85
jam 8.00
2.45
Jam 10.00
18.97 Pencapaian
Total (1 sampai 6)
3.98
jam 7.00
Standar 6
55.0 7.28 6.50
jam 9.00
0/10 1.87
Rata-rata
7.18
1.94
8.14
pukul 21.00
Kriteria
7.88
5.47 SD
2.45 0/10
jam 7.00 Jam 6.00
46.85 Standar 5
2.39 16.49
jam 9.00 jam 7.00
2.28 8.17
Berarti
0,01
3.67 SD
2.0 2.25
2.16 7.42
6.99
47. 0 Standar 4
17.0
8.96 7.27
0/10
jam 9.00
Rata-rata RSIJ Cempaka
pukul 14.59
Upaya promosi kesehatan di pelayanan
kesehatan, termasuk rumah sakit, hanya dapat diterapkan apabila didukung oleh struktur dan budaya internal serta kebijakan yang relevan secara politik dan lingkungan serta bersedia berubah untuk melakukan inovasi. Untuk itu, reorientasi pelayanan kesehatan terkait HPH memerlukan sumber daya dan kerangka kerja yang tepat sehingga memungkinkan tercapainya HPH sebagai bagian yang terpadu dari suatu organisasi dan menjadi
“core business”, bukan sekedar “side issues”, tetapi harus masuk sebagai bagian dari budaya, arah, dan strategi rumah sakit. Hal ini memerlukan dukungan dari para pengambil kebijakan tingkat tinggi untuk mendorong terjadinya perubahan (VHA, 2009). Dari sumber yang sama, VHA (Victorian Health Association) menyatakan bahwa apabila promosi kesehatan hanya terbatas pada divisi/bagian khusus, atau departemen atau bahkan staf, HPH tetap merupakan kegiatan yang terpinggirkan dan tidak menantang seluruh organisasi untuk melakukan reorientasi peran rumah sakit di masyarakat atau menjadikan promosi kesehatan terintegrasi ke dalam peran staf rumah sakit yang lebih luas. Struktur pelayanan kesehatan merupakan komponen penting dalam memberikan sinyal tentang komitmen terhadap pengembangan organisasi dan untuk menunjukkan kepada staf tentang pentingnya promosi kesehatan.
VHA juga mengutip bahwa pelayanan kesehatan/rumah sakit secara efektif merupakan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kesehatan, maka kepemimpinan strategis di tingkat pemerintah dan eksekutif sangat diperlukan, kemudian dilengkapi dengan sistem yang sesuai untuk pemberdayaan dan pendidikan staf pelayanan kesehatan/rumah sakit.
Dalam Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS) edisi pertama terbaru (berlaku sejak 1 Januari 2018) yang menjadi acuan mutu pelayanan kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit di Indonesia, upaya promosi kesehatan ini belum disebutkan secara tegas, namun upaya-upaya seperti pencegahan penyakit seperti program cuci tangan atau kegiatan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) atau Germas (Gerakan Masyarakat Sehat) yang menjadi isu dalam promosi kesehatan di masyarakat disebutkan sebagai bagian dari penilaian akreditasi rumah sakit. Oleh karena HPH masih dikelola oleh unit atau bahkan staf yang ditugaskan secara khusus, maka dimungkinkan HPH masih menjadi kegiatan yang kurang menantang, menjadi isu
sampingan, terpinggirkan, belum terintegrasi dan belum menjadi komitmen yang kuat dari pimpinan rumah sakit, termasuk di RSM.
Standar 2 (Penilaian Kebutuhan Komunitas Rumah Sakit): 50%. Standar 3 (Pemberdayaan Komunitas Rumah Sakit): 56%. Standar 4 (Rumah Sakit menerapkan Pengembangan Komunitas untuk mendukung
Pemberdayaan): 62%. Standar 5 (Kemitraan): 68%.
Standar 6 (Rumah Sakit mewujudkan tempat kerja yang sehat): 56%.
Capaian tertinggi terdapat pada indikator “Rumah Sakit menerapkan nilai-nilai Islam berstandar Muhammadiyah dalam melaksanakan kegiatan HPH” di RSIJ Sukapura (85,3%).
Untuk standar 1 (Kebijakan Manajemen), hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden menilai pada ketiga RSM capaiannya belum cukup baik dalam meningkatkan kapasitas pengelolaan HPH (kurang dari 46,7%). Pada salah satu RSM yang diketahui belum memiliki unit HPH, hampir seluruh indikator standar 1 dinilai kurang tercapai, dengan skor terendah pada
“Rumah Sakit mensosialisasikan HPH pada seluruh rentang rumah sakit”
baik pada masing-masing standar HPH di ketiga RSM berkisar antara 50% sampai dengan 68% dengan rincian sebagai berikut: Standar 1 (Kebijakan Manajemen) : 55%.
Untuk pencapaian standar 2 yaitu “Penilaian Kebutuhan Masyarakat Rumah Sakit” yang memiliki tingkat pencapaian terendah di RSM (50%), indikator
“Rumah sakit mengkaji kebutuhan informasi dan media komunikasi yang tepat bagi pasien, pengunjung, dan masyarakat sekitar rumah sakit” memang terlihat rendah (26% menjadi 67,4%). Tujuan pencapaian standar 2 adalah untuk memperoleh gambaran umum tentang informasi yang dibutuhkan oleh pasien, keluarga pasien, pengunjung, dan masyarakat sekitar rumah sakit sebagai dasar pelaksanaan Promosi Kesehatan. Untuk kegiatan seperti “people-centered care” dan “healing environments”
sebagai bagian dari promosi kesehatan di rumah sakit atau layanan kesehatan lainnya berdasarkan analisis kebutuhan pasien, keluarga, pengunjung, dan masyarakat sekitar rumah sakit merupakan hal yang penting.
Penelitian menunjukkan bahwa bentuk kegiatan tersebut ternyata dapat memberikan pengaruh positif bagi pasien, mengurangi stres, dan mempercepat penyembuhan fisik.
Kuatnya koherensi/integrasi kebutuhan semua pihak merupakan faktor kunci dalam memperlancar pelaksanaan promosi kesehatan di layanan kesehatan (Dilani, 2008). Kekurangan ini juga dapat ditemukan pada kegiatan promosi kesehatan lainnya.
Selanjutnya hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 56% responden yang menyatakan Standar 3 (Pemberdayaan Masyarakat Rumah Sakit) telah tercapai. Indikator capaian tertinggi terdapat pada indikator “Rumah sakit mengamanatkan staf untuk menerapkan nilai-nilai Islam dalam memberdayakan masyarakat dalam melaksanakan aspek kuratif, rehabilitatif, preventif, dan promotif” untuk RSIJ
Sukapura, namun indikator “Rumah sakit mengamanatkan staf rumah sakit untuk memberdayakan masyarakat dalam melaksanakan aspek kuratif, rehabilitatif,
preventif, dan promotif masih merupakan tingkat capaian rata-rata yang rendah (49,3%). Pemberdayaan
masyarakat rumah sakit yang penting dinilai/
diukur karena baik secara nasional maupun global, HPH dinyatakan sebagai “memperluas peran kesehatan masyarakat rumah sakit”, dalam kaitannya dengan masyarakat setempat dan layanan sosial dan kesehatan mereka yang akan mengoptimalkan jaringan di antara penyedia, pengguna dan pemimpin masyarakat di sektor kesehatan dan masyarakat secara keseluruhan (Amiri et al., 2016; Whitehead, 2005). Dalam perjalanan kemitraan HPH di RSM, pemberdayaan masyarakat dan kelompok sasaran RSM yang terkait dengan isu prioritas kesehatan nasional dan lokal di wilayah RSM menjadi tujuan utama implementasi HPH baik di dalam maupun di luar gedung. Hal ini sesuai dengan tujuan implementasi standar 3, yaitu meningkatkan kekuatan dan peran serta komunitas rumah sakit dalam pencegahan dan/atau
atau mengatasi masalah kesehatan yang dihadapinya (Kemenkes RI, 2011).
Pada pencapaian Standar 4 (Rumah Sakit melaksanakan Community Development untuk mendukung Pemberdayaan) terdapat 62% responden yang menyatakan tercapai dengan baik, namun beberapa indikator masih menunjukkan pencapaian terendah pada ketiga RSM yaitu “Rumah Sakit memanfaatkan individu/kelompok di luar rumah sakit bersama-sama dengan amal usaha Muhammadiyah untuk mengembangkan suasana (52,8%)” dan “Rumah Sakit memanfaatkan media massa untuk mengembangkan suasana” untuk pencapaian di RSIJ Cempaka Putih (36,2%). Hal ini tentu saja
Sangat disayangkan mengingat Muhammadiyah sebagai pemilik RSM di seluruh Indonesia merupakan organisasi masyarakat terbesar kedua di Indonesia yang memiliki kepemimpinan/pengelolaan dan amal usaha kesehatan, sosial, dan pendidikan di tingkat pusat, daerah, cabang, dan ranting yang jumlahnya tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Peluang ini tampaknya belum dioptimalkan oleh RSM di DKI Jakarta dalam melakukan koordinasi dengan baik untuk kegiatan HPH di lokasi masing- masing.
Hal ini tercermin dari pelaksanaan HPH di RSM di Indonesia berupa kegiatan promosi kesehatan yang diutamakan untuk mewujudkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan kegiatan Germas, sehingga hal ini sesuai dengan setting pada tahap awal dan sangat layak dan menarik untuk dicapai bersama melalui keterlibatan individu/kelompok atau amal usaha Muhammadiyah di sekitar lokasi RSM. Dalam laporan kegiatan kemitraan HPH antara Direktorat Jenderal Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI dengan MPKU PP Muhammadiyah, banyak sekali peluang yang telah dimanfaatkan bersama sehingga program kemitraan HPH dapat berjalan dengan baik dan terus berlanjut hingga saat ini. Walaupun dalam perkembangan HPH sampai saat ini telah terjadi banyak perubahan signifikan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan dan
pengembangan HPH, antara lain kondisi internal manajemen RSM, keterbatasan dana dan tingginya persaingan, namun kualitas dan efisiensi menjadi hal penting bagi pendekatan inovatif dalam HPH. Untuk mewujudkan potensi penuh dari pendekatan HPH, yaitu meningkatkan kesehatan pasien, staf dan masyarakat, HPH harus diterapkan tidak hanya pada proyek-proyek seperti program
kemitraan ini, tetapi pendekatan yang komprehensif, terpadu dalam sistem manajemen pelayanan kesehatan rumah sakit, yang meliputi:
komitmen, sumber daya, komunikasi,
Pendekatan promosi kesehatan di rumah sakit mengarah pada konteks/pengaturan di mana orang tinggal, bekerja dan bermain, karena pendekatan/lokasi pada tahap awal merupakan rute yang sangat menarik dan layak yang akan membantu tindakan organisasi untuk keberhasilan upaya promosi kesehatan (Poland et al., 2009).
rumah sakit dimana penilaian kebutuhan promosi bagi pasien masih terkesan sepihak tanpa melibatkan pasien lebih dalam untuk menilai kebutuhan promosi kesehatan yang tepat dan bermanfaat bagi pasien (Hakim et al., 2013).
.
lingkungan pelayanan, dan menjamin kecukupan sarana dan prasarana perilaku hidup bersih dan sehat. Indikator standar 6 yang perlu mendapat perhatian khusus untuk dicapai antara lain “Rumah sakit menetapkan kawasan tanpa rokok dan menerapkan ketentuan yang tegas dan disiplin” (56,7%) dan “Rumah sakit menjamin penerapan nilai-nilai Islam di lingkungan rumah sakit”
(57,3%).
Keselamatan dan kesehatan karyawan mempunyai dimensi etika karena keputusan manajemen rumah sakit dapat mempengaruhi kehidupan dan kesejahteraan karyawannya (Lin & Lin, 2011). Kawasan Tanpa Rokok
Kebijakan (KTR) dan perilaku merokok di lingkungan usaha Muhammadiyah termasuk Rumah Sakit
Muhammadiyah telah memiliki aturan yang jelas, artinya KTR tersebut ditegakkan dan fatwa haram merokok ada dan ditegakkan, namun ternyata belum cukup
mendisiplinkan. Hal tersebut dapat berdampak buruk terhadap kesehatan karyawan dan pasien atau pengunjung Rumah Sakit Muhammadiyah. Nilai-nilai Islam merupakan salah satu nilai yang akan mendukung terciptanya budaya dan lingkungan kerja yang sehat karena terkait dengan keyakinan dan nilai-nilai bersama yang berinteraksi dengan staf, sistem dan struktur rumah sakit untuk memperoleh norma-norma perilaku yang sehat (Lin & Lin, 2011).
Secara keseluruhan Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) di DKI Jakarta telah melaksanakan upaya
Promosi Kesehatan di Rumah Sakit (HPH) dengan capaian yang cukup baik. Langkah-langkah peningkatan kinerja unit HPH di masing-masing RSM perlu
diperhatikan, terutama peningkatan kapasitas anggota unit HPH, serta keikutsertaan pegawai tetap RSM dalam kegiatan pelatihan HPH dan HPH yang dinilai masih rendah. Upaya HPH diharapkan tidak hanya terbatas pada tujuan proyek semata, perlu strategi komprehensif yang melibatkan semua pihak, baik dengan unit amal usaha Muhammadiyah maupun sektor lainnya, dunia usaha dan sektor swasta lainnya serta RSM dapat melibatkan jaringan HPH nasional yang ada.
Kemitraan atau jaringan dalam upaya HPH di semua tingkatan (lokal, regional, nasional, dan internasional) sangat penting untuk meningkatkan pencapaian kinerja HPH dan meningkatkan kualitas upaya HPH. Kemitraan atau pelatihan dalam HPH merupakan mekanisme pendukung yang sangat berharga dan alat intervensi yang berguna bagi pengembangan organisasi (Baxter et al., 2008), karena bentuk kemitraan yang baik dapat membantu mengatasi kendala di rumah sakit seperti kendala dana, sumber daya manusia, metode pemberian, monitoring dan evaluasi, serta hal-hal lain yang terkait dengan upaya pengembangan HPH.
Hasil penelitian untuk pencapaian Standar 6 (Rumah Sakit mewujudkan tempat kerja sehat) dinyatakan masih dinilai rendah oleh sebagian pegawai RSM (56%). Standar 6 ini berarti Rumah Sakit mewujudkan tempat kerja yang aman, bersih dan sehat/
Untuk pencapaian Standar 5 (Kemitraan) dengan tingkat capaian keseluruhan sebesar 68%, capaian tertinggi terdapat pada indikator “Rumah Sakit mengedepankan asas Al Islam dalam menjalin kemitraan dengan sektor manapun yang terkait dengan
penyelenggaraan promosi kesehatan” dan “Rumah Sakit memiliki jaringan kemitraan dengan rumah sakit lain dan badan usaha kesehatan Muhammadiyah dalam penyelenggaraan promosi kesehatan” (di atas 80%).
Namun demikian, kemitraan dengan pihak/jaringan lain non Muhammadiyah (sektor lain, badan usaha dan swasta lainnya) masih rendah (proporsi rata-rata 52,7%).
rencana aksi, evaluasi, pendidikan, penelitian, keberlanjutan, dan jaringan (Baxter et al., 2008).
Kesimpulan
Referensi
Terakhir, penelitian ini tentunya memiliki beberapa keterbatasan. Meskipun tingkat responsnya
100%, namun data yang diperoleh berupa alat penilaian diri berdasarkan tingkat pengetahuan, sikap, dan paparan responden dengan variasi HPH yang sangat luas, sehingga dapat mengakibatkan variasi yang besar dalam penilaian pencapaian masing-masing standar HPH.
12.
Amiri, M., Khosravi, A., Riyahi, L., & Naderi, S., 2016. Dampak Penetapan Standar Rumah Sakit yang Mempromosikan Kesehatan terhadap Indikator Rumah Sakit di Iran.
PLoS ONE, 11(12), hlm.1–
Baxter, R., Hastings, N., Law, A., & Glass, EJ, 2008. Jaringan Internasional Rumah Sakit yang Mempromosikan Kesehatan dan Layanan Kesehatan: Mengintegrasikan Promosi Kesehatan ke dalam Rumah Sakit dan Layanan Kesehatan. Konsep, Kerangka Kerja dan Organisasi. Genetika Hewan, 39(5),
VHA., 2009. Kesehatan Mempromosikan Pelayanan Kesehatan.
Groene, O., 2005. Mengevaluasi Kemajuan Inisiatif Rumah Sakit yang Mempromosikan Kesehatan?
Penguatan Promosi Kesehatan di Rumah Sakit dengan Peningkatan Kapasitas: Studi Kasus di Taiwan. Health Promotion International, 30(3), hlm.625–36.
Poland, B., Krupa, G., & Mccall, D., 2009. Pengaturan Promosi Kesehatan: Kerangka Analisis untuk Memandu Desain dan Implementasi Intervensi. Praktik Promosi Kesehatan, 10(4), hlm.505–516.
Wieczorek, CC, Marent, B., Osrecki, F., Dorner, TE, & Dür, W., 2015. Rumah Sakit sebagai Organisasi Profesional:
Tantangan untuk Reorientasi Menuju Promosi Kesehatan. Health Sociology Review, 24(2), hlm.123–
136.
Nomor telepon 213.
hal.561–563.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Italia, 4(4), hlm.261–
Whitehead, D., 2005. Rumah Sakit yang Mempromosikan Kesehatan: Peran dan Fungsi Keperawatan. Jurnal Keperawatan Klinis, 14(1), hlm.20–27.
Kemenkes RI., 2011. No Judul Standar Promosi Kesehatan Rumah Sakit.
Layanan Perawatan Kesehatan. 2004. Standar untuk Layanan Kesehatan 19(2), hal.259–267.
Nova, A., Purba, A., Bm, S., & Shaluhiyah, Z., 2016.
Hakim, L., BZ, H., & Fauzi., 2013. Analisis Manajemen Dan Intervensi Bagi Pasien Terhadap Upaya Promosi Kesehatan Rumah Sakit (HPH) Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2012. Kebijakan, Promosi Kesehatan Dan Biostatistika, 2(1), hal.1–10.
Groene, O., Alonso, J., & Klazinga, N., 2010.
Tinjauan Bukti. Promosi Kesehatan
Asosiasi Perawatan Kesehatan Victoria.
Lin, YW, & Lin, YY, 2011. Efektivitas Organisasi Promosi Kesehatan dan Organisasi Organisasi
dalam Promosi Kesehatan di Rumah Sakit: Survei Lintas Seksi Nasional di Taiwan. Health Promotion International, 26(3), hlm.362–375.
Dilani, A., 2008. Desain Dukungan Psikososial-Sebagai Teori dan Model untuk Meningkatkan Kesehatan.
Lee, CB, Chen, MS, Chien, SH, Pelikan, JM, Wang, YW, & Chu, CMY, 2015.
Nomor telepon 270.
Promosi di Rumah Sakit. Kopenhagen.
Kesehatan Mempromosikan Pelayanan Kesehatan: A
Tergantung pada Apa yang Anda Maksud: Sebuah Studi Kualitatif tentang Pandangan Profesional Kesehatan Swedia tentang Kesehatan dan Promosi Kesehatan. BMC Health Services Research, 9, hlm. 1–12.
Pelikan, JM, 2012. Rumah Sakit yang Mempromosikan Kesehatan – Menilai Perkembangan dalam Jaringan.
Siapa Kantor Eropa untuk Kesehatan Terpadu Johansson, H., Weinehall, L., & Emmelin, M., 2009.
Pengembangan dan Validasi Alat Penilaian Mandiri WHO untuk Promosi Kesehatan di Rumah Sakit: Hasil Studi di 38 Rumah Sakit di Delapan Negara. Health Promotion International, 25(2), hlm.221–9.
Internasional, 25(2), hlm.230–237.
Whitehead, D., 2004. Proyek Rumah Sakit Promosi Kesehatan Eropa (HPH). Sejauh Mana?. Health Promotion International,
McHugh, C., Robinson, A., dan Chesters, J., 2010.
Pelaksanaan Kegiatan Promosi Kesehatan Rumah Sakit (HPH) di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 4(4), hal.2356–3346.
Yaghoubi, M., & Javadi, M., 2013. Rumah Sakit yang Mempromosikan Kesehatan di Iran: Bagaimana
Keadaannya. Jurnal Pendidikan dan Promosi Kesehatan, 2(1), hlm.41.
Perspektif WHO - Komentar tentang: Whitehead, D., 2004. Proyek Rumah Sakit Promosi Kesehatan Eropa (HPH): Sejauh Mana?. Health Promotion International, 20(2), hlm.205–207.
Lee, CB, Chen, MS, & Wang, YW, 2014. Hambatan dan Fasilitator Implementasi Rumah Sakit yang Mempromosikan Kesehatan di Taiwan: Gerakan Top- down yang Membutuhkan Dukungan dari Lapangan.
Jurnal Internasional Perencanaan dan Manajemen Kesehatan, 29(2), hlm.197–