Laporan Hari/Tanggal : Rabu, 25 Maret 2015
Teknologi Fermentasi PJ Dosen : Ir.CC.Nurwitri, DAA
Asisten : Susi Afrianti S., A,Md
PROPAGASI KULUR STARTER DAN PEMBUATAN NATA DE COCO Oleh:
Kelompok 7 B / P1
Aini Dian Pratiwi J3E113063 Aziz Ibrahim J3E113075 Tri Ani Setiawati J3E113086
PROGRAM KEAHLIAN SUPERVISOR JAMINAN MUTU PANGAN PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2015
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang banyak meiliki hasil perkebunan, salah satunya adalah kelapa. Kelapa merupakan salah satu komoditas yang lumayan besar di indonesia.
Kelapa memiliki banyak manfaat terlebih dalam dunia industri. Kelapa memiliki peranan penting mulai dari bagian daun, akar, batang sampai buah sekalipun.
Air kelapa merupakan salah satu limbah yang bermanfaat dari bagian buah kelapa. Tapi sangat disayangkan kebanyakan dari masyarakat kurang mengenal apa manfaat dari air kelapa ini. Padahal air kelapa sangat banyak manfaatnya slah satunya adalah diolah menjadi nata de coco. Harga bahan baku ini relatif sangat murah dan kadang-kadangpun tidak ada harganya atau diberikn secara cuma-cuma. Selain itu di indonesia sangat kaya akan kelapa sehingga apabila limbah air kelapa ini tidak dimanfaatkan akan sangat rugi karena hasil yang di dapat dari produksi air kelapa yang diolah menjadi nata de coco ini lumayan memuaskan kalau dilihat dari segi ekonominya. Air kelapa mempunyai potensi yang baik untuk di buat minuman fermentasi karena kandungan zat gizinya yang kaya dan relatif lengkap, sehingga sesuai untuk pertumbuhan mikroba. Komposisi gizi air kelapa tergantung pada umur kelapa dan variertasnya. Air kelapa per 100 ml mengandung sejumlah zat gizi, yaitu protein 0,2 g, lemak 0,2 g, gula 3,8 g, vitamin C 1,0 mg, asam amino, dan hormon pertumbuhan. Jenis gula yang terkandung glukosa, fruktosa, sukrosa, dan sorbitol (Astawan, 2004).
Nata adalah selulosa bakteri yang merupakan hasil sintesis dari gula oleh bakteri pembentuk nata, yaitu A. xylinum. Beberapa galur Acetobacter menghasilkan membran bergelatin yang dinamakan pellicle pada permukaan suatu kultur cair. Membran ini sama dengan
“Nata de Coco”, suatu jenis makanan hasil fermentasi tradisional di Filipina yang yang sangat dikenal sebagai makanan penutup di Jepang. Substansi gelatin ini secara kimiawi identik dengan selulosa (Yoshinaga et al., 2007)
1.2 Tujuan
Praktikum ini bertujuan agar praktikan dapat membuat kutur starter dan kultur antara dari nata de coco serta produk olahannya, juga untuk mengetahui fakrot kritis dari nata de coco.
BAB II METODOLOGI 2.1 Alat dan Bahan
2.1.1 Alat
Kain saring
Panci
Sendok
Pengaduk
Pisau
Timbangan
Botol kaca
2.1.2 Bahan
2.1.2.1 Bahan-Bahan yang digunakan untuk Pembuatan Kultur I (starter):
Air Kelapa
Gula 7,5 %
Urea 0,5 %
Kultur Acetobacter Xylinum10 %
2.1.2.2 Bahan-Bahan yang digunakan untuk Pembuatan Kultur II (antara):
Air Kelapa
Gula 10 %
Urea 0,5 %
Starter 10 %
2.1.2.3 Bahan-Bahan yang digunakan untuk Pembuatan Produk Nata De Coco
Asam sitrat
Nata de coco
Larutan gula
Cmc
Natrium sitrat
Sirup
2.2 Prosedur Pembuatan
Talenan
Kertas indikator pH
Baki plastik
Karet/tali rafia
Gelas ukur plastik
Cup beserta tutupnya
Kertas koran
2.2.1 Pembuatan Kultur I (starter)
Disaring air kelapa 5.000 ml dengan kain saring
Dipanaskan hingga mendidih sambil diaduk
356 gram 24 gram
(diaduk,biarkan sampe mendidih ± 15 menit(sambil terus diaduk))
Dimatikan apinya hingga suhu nya turun mencapai (400c)
Ditambahkan asam asetat (tetes demi tetes) sampai nilai pH-nya menjadi 4,5 (digunakan kertas indikator pH)
Ditentukan volume asam asetat yang digunakan
Ditunggu suhu campuran menjadi suhu kamar
Ditambahkan
475 gram GULA
Kultur stater
UREA
@ @
Diaduk hingga homogen,
Dituangkan campuran ke dalam baki plastik (sebelumnya dilakukan simulasi, yaitu tentukan volume air yang diperlukan untuk membentuk ketebalan nata sekitar 1,3-1,5 cm pada baki)
Ditutup bagian atasnya dengan koran
Diikat pinggiran bakinya dengan menggunakan karet
Dibuat kontrol dengan memasukan campuran tadi ke dalam gelas jar
Disimpan pada suhu ruang selama ± 14 hari
2.2.2 Pembuatan Kultur II (antara)
Disaring air kelapa 18.000 ml dengan kain saring
Dipanaskan hingga mendidih sambil diaduk
1620 gram 81 gram
(diaduk,biarkan sampe mendidih ± 15 menit(sambil terus diaduk))
Dimatikan apinya hingga suhu nya turun mencapai (400c) UREA
GULA
@@
Ditambahkan asam asetat (tetes demi tetes) sampai nilai pH-nya menjadi 4,5 (digunakan kertas indikator pH)
Ditentukan volume asam asetat yang digunakan
Ditunggu suhu campuran menjadi suhu kamar
Ditambahkan
475 gram
Diaduk hingga homogen,
Dituangkan campuran ke dalam baki plastik (sebelumnya dilakukan simulasi, yaitu tentukan volume air yang diperlukan untuk membentuk ketebalan nata sekitar 1,3-1,5 cm pada baki)
Ditutup bagian atasnya dengan koran
Diikat pinggiran bakinya dengan menggunakan karet
Dibuat kontrol dengan memasukan campuran tadi ke dalam gelas jar
Disimpan pada suhu ruang selama ± 14 hari
Diamati ketebalan nata yang terbentuk setiap 2 hari Kultur dari proses
Pembuatan I
@
@
Diangakat ketika ketebalan nata sudah mencapai 1,3-1,5 cm,(dibuang lapisan yang menempel pada lapisan atas dan bawah nata)
Direndam lapisan nata yang sudah jadi di dalam baki plastik + cuka biang(sebelum dibuat produk)
Dipotong menjadi bentuk kubur atau untaian panjang lalu dicuci bersih
Direbus potongan nata sampai mendidih ± 5 menit,ukur nilai pH,dibuang air perebusannya
Direndam potongan nata dalam air, dilakukan ± 3 kali perendaman per harinya, (dilakukan sampai nata terasa tawar,tidak tercium bau asam)
Direbus potongan nata sampai potongan nata tersebut bisa digigit dan tidak keras
2.2.3 Pembuatan Produk Nata
Direbus dengan larutan gula sampe mendidih
Penambahan
Sirup melon Sirup Stoberi CMC Asam Sitrat Natrium
Sitrat
@@
Dimasukan kedalam wadah/cup plastik dan dilakukan hot filling
Ditutup dengan Sealer
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil
3.1.1 Pembuatan Kultur Starter nata de coco Air kelapa = 5.000 ml
Penyusutan 5% = 5/100 x 5.000 ml = 250 ml
Air kelapa yang digunakan = 5.000 ml – 250 ml = 4.750 ml Gula 7,5% = 7,5 g/ 100 ml x 4.750 ml = 356,25 gram = 356 gram Urea 0,5% = 0,5 g/ 100 ml x 4.750 ml = 23,75 gram =24 gram Starter A. Xylinum 10% = 10 g/ 100 ml x 4.750 ml = 475 gram
3.1.2 Pembuatan Kultur Antara nata de coco Air kelapa = 18 L = 18.000 ml
Penyusutan 10% = 10/100 x 18.000 ml = 1.800 ml
Air kelapa yang digunakan = 18.000 ml- 1.800 ml = 16.200 ml Gula 10% = 10 g/ 100 ml x 16.200 ml = 1.620 g
Urea 0,5%= 0,5 g/ 100 ml x 16.200 ml = 81 g
Starter 10% = 10 ml/ 100 ml x 16.200 ml = 1.620 ml
3.1.3 Pengolahan minuman olahan nata de coco Total Nata De Coco
A. Grade A = 5.969 gram B. Grade B = 896 gram
Konsentrasi larutan gula 5% = 5 g gula/ 100 ml air Total larutan awal = Air Gula + Sirup + Nata
= 22000 ml + 1000 ml + 5000 g
= 28000 ml
CMC 0.03 g/L = 0.03g
1000mlx28000ml=0.84g Asam Sitrat 0.08 g/L = 0.08g
1000mlx28000ml=2.24g
Natrium Sitrat 0.025 g/L = 0.025g
1000mlx28000ml=0.70g
Total larutan akhir = 28000 ml + 0.84 ml + 2.24 ml + 0.70 ml
= 28003.78 ml Jumlah kemasan = 127 cup
Isi kemasan = Air :Nata
= 180 ml : 40 g
= 220 ml
Total padatan terlarut dan tingkat kemanisan medium nata = 16 oBrix.
3.2 Pembahasan
Pembentukan nata de coco yang sempurna ini dipengaruhi oleh bakteri Acetobacter xylinum. Acetobacter xylinum merupakan bakteri asam asetat yang bersifat gram negatif, aerob, berbentuk batang, nonmotil, suhu optimum pertumbuhannya 25‐300C, dan mampu mengoksidasi etanol menjadi asam aetat pada pH 4,5 (Madigan et al., 2007). Ciri-ciri Acetobacter adalah selnya berbentuk bulat panjang sampai batang lurus atau agak bengkok, terdapat dalam bentuk tunggal, berpasangan atau dalam bentuk rantai. Acetobakter merupakan aerobik sejati, membentuk kapsul, bersifat nonmotil dan tidak membentuk spora, suhu optimumnya adalah 300C. Di alam banyak dijumpai pada buah-buahan dan sayur-sayuran dan dalam sari buah, cuka dan minuman beralkohol (Pelczar, 1998). Spesies Acetobacter yang telah dikenal antara lain A.
aceti, orleannensis, Acetobacter liquefasiensis dan A. xylinum. Meskipun ciri-ciri yang dimiliki hampir sama dengan spesies lainnya A. xylinum dapat dibedakan dengan spesies lainnya karena sifatnya yang unik. Bila A. xylinum ditumbuhkan pada medium yang mengandung gula, bakteri ini dapat memecah komponen gula dan mampu membentuk suatu polisakarida yang dikenal denga selulosa ekstraseluler. Spesies bakteri yang tergolong Acetobacter teruatama A. xylinum mempunyai sifat oksidier lanjut, yaitu mampu mengoksidasi asam asetat lebih lanjut menjadi gas CO2, Sifat inilah yang membedakan dengan glukonobakter yang umumnya mempunyai sifat oksidier sebagian, yaitu yang hanya mengubah alkohol menjadi asam asetat.
Proses pembuatan nata oleh bakteri A. xylinum merupakan kegiatan sintesa selulosa yang dikatalis oleh enzim pensintesis selulosa yang terikat pada membran sel bakteri.
Penguraian/fermentasi gula dilakukan melalui jalur heksosa monofosfat dan siklus asam sitrat
(Susilawati dan Mubarik, 2002). Adanya gula sukrosa dalam air kelapa akan dimanfaatkan oleh Acetobacter xylinum sebagai sumber energi, maupun sumber karbon untuk membentuk senyawa metabolit diantaranya adalah selulosa yang membentuk nata de coco. Senyawa peningkat pertumbuhan mikroba (growth promoting factor) akan meningkatkan pertumbuhan mikroba, sedangkan adanya mineral dalam substrat akan membantu meningkatkan aktifitas enzim kinase dalam metabolisme di dalam sel Acetobacter xylinum untuk menghasilkan selulosa. Acetobacter merupakan bakteri yang menghasilkan serat‐serat selulosa yang sangat halus. Serat‐serat ini dapat membentuk suatu jaringan pada lapisan permukaan antara udara dan cairan yang disebut pelikel. Pelikel ini memiliki ketebalan kira‐kira 10 mm bergantung pada masa pertumbuhan mikroba. Pelikel yang berada pada permukaan udara cairan ini terdiri atas pita‐pita yang mengandung kristalin yang tinggi. Pita–pita tersebut memiliki lebar 40‐100 nm, namun panjangnya sulit diukur karena membentuk jaringan yang berkaitan satu dengan yang lainnya.
Pita tersebut tersusun atas bagian mikrofibril yang berhubungan melalui ikatan hidrogen (Figini, 2002).
Bibit nata adalah bakteri Acetobacter xylinum yang akan membentuk serat nata jika ditumbuhkan dalam air kelapa yang telah diperkaya dengan karbon dan nitrogen melalui proses yang terkontrol. Dalam kondisi demikian, bakteri tersebut akan menghasilkan enzim yang dapat menyusun zat gula menjadi ribuan rantai serat atau selulosa. Dari jutaan renik yang tumbuh, akan dihasilkan jutaan lembar benang-benang selulosa yang akhirnya nampak padat berwarna putih hingga transparan, padat, kokoh, kuat dan kenyal yang disebut sebagai nata.
Acetobacter xylinum dalam pertumbuhan dan aktivitasnya membentuk nata memerlukan suatu media yang tepat. Komponen media nata yang dibutuhkan sebagai syarat media nata antara lain memiliki sumber karbon dapat berupa gula, sumber nitrogen berupa penambahan urea, mineral, vitamin serta asam sitrat atau asam asetat sebagai penyedia kondisi asam.
Untuk menghasilkan produk nata yang maksimal perlu diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut.
a. Jenis dan konsentrasi medium
Medium fermentasi ini harus banyak mengandung karbohidrat (gula) disamping vitamin dan mineral, karena pada hakekatnya nata tersebut adalah slime (menyerupai kapsul)
dari sel bakteri yang kaya selulosa yang diproduksi dari glukosa oleh bakteri Acetobakter xylinum. Bakteri ini dalam kondisi yang optimum memiliki kemampuan yang luar biasa untuk memproduksi slime sehingga slime tersebut terlepas dari sel vegetatif bakteri dan terapung-apung dipermukaan medium. Pembentukan nata terjadi karena proses pengambilan glukosa dari larutan gula yang kemudian digabungkan dengan asam lemak membentuk prekursor (penciri nata) pada membran sel. Prekursor ini selanjutnya dikeluarkan dalam bentuk ekskresi dan bersama enzim mempolimerisasi glukosa menjadi selulosa yang merupakan bahan dasar pembentukan slime. Nata itu merupakan hasil fermentasi dari bakteri Acetobakter xylinum, bakteri ini dapat tumbuh dan berkembang dalam medium gula dan akan mengubah gula menjadi selulosa. Kadar karbohidrat optimum untuk berlangsungnya produksi nata adalah 10%.
b. Jenis dan konsentrasi starter
Pada umumnya Acetobacter xylinum merupakan starter yang lebih produktif dari jenis starter lainnya, sedang konsentrasi 5-10% merupakan konsenstrasi yang sangat ideal (Budiyanto, 2002).
c. Lama Fermentasi
Lama fermentasi yang digunakan dalam pembuatan nata ini pada umumnya 2-4 minggu. Minggu ke 4 dari waktu fermentasi merupakan waktu yang maksimal produksi nata, yang berarti lebih dari 4 minggu produksi nata akan menurun.
d. Suhu Fermentasi
Pada umumnya suhu untuk pertumbuhan bakteri pembuat nata adalah suhu kamar (280C). Suhu yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi akan mengganggu pertumbuhan bakteri pembuat nata yang akhirnya juga akan menghambat produksi nata de coco.
e. pH Fermentasi
Derajat keasaman yang dibutuhkan dalam pembuatan nata adalah 3-5 atau dalam suasana asam. Pada kedua sisi pH optimum, aktifitas enzim sering kali menurun dengan tajam. Suatu perubahan kecil pada pH dapat menimbulkan perbedaan besar pada kecepatan beberapa reaksi enzimatis yang amat penting bagi organisme. Penambahan amonium sulfat 0,8 % dan sukrosa 10% dapat mempertahankan pH optimum (pH 4) bagi pertumbuhan bakteri, sehingga pertumbuhan bakteri dan pembentukan lapisan nata dapat berlangsung dengan baik. Penurunan pH bisa terjadi akibat fermentasi karbohidrat menjadi asam,
sehingga semakin lama fermentasinya maka akan semakin cenderung terjadi penurunan pH medium.
f. Jenis dan konsentrasi suplemen
Kandungan karbohidrat dalam bahan untuk membuat nata merupakan bahan yang terpenting. Limbah dengan kadar karbohidrat rendah jika ingin digunakan sebagai medium pembuatan nata perlu ditambahkan gula pasir.
g. Tempat Fermentasi
Tempat fermentasi sebaiknya tidak terbuat dari unsur logam karena mudah korosif yang dapat mengganggu pertumbuhan mikroorganisme pembuat nata yang akhirnya dapat mengganggu pembuatan nata. Disamping itu tempat fermentasi diupayakan untuk tidak mudah terkontaminasi, tidak terkena cahaya matahari secara langsung, jauh dari sumber panas, dan jangan langsung berhubungan denga tanah. Tempat fermentasi yang mempunyai permukaan yang lebih luas akan menghasilkan nata lebih tebal dari pada tempat fermentasi yang mempunyai permukaan sempit. Selain hal diatas dalam pembuatan nata juga harus diperhatikan bahwa selama proses pembentukan nata berlangsung harus dihindari gerakan atau goncangan disekitar tempat fermentasi. Akibat adanya gerakan atau goncangan ini akan menenggelamkan lapisan nata yang telah terbentuk yang menyebabkan terbentuknya lapisan baru, dimana lapisan yang lam adan lapisan yang baru tidak dapat bersatu.
Pada uji organoleptik, dilakukan uji hedonic terhadap nata de coco grade A dan nata de coco grade B. Grade A merupakan nata yang memiliki bentuk sebagaimana umumnya, sedangkan grade B memiliki bentuk slice. Dari parameter rasa, warna, kekenyalan, kenampakan dan juiceness, nata de coco dengan grade A lebih banyak disukai panelis dibandingkan dengan nata de coco grade B. Hal ini dapat disebabkan oleh panelis yang turut serta dalam pembuatannya sehingga mempengaruhi hasil uji organoleptik. Padahal, mutu dari keduanya sama saja, yang membedakan hanyalah bentuknya.
Kemasan merupakan aspek penting dalam rangka menghasilkan produk nata de coco untuk keperluan komersial. Dengan demikian proses pengemasan perlu dilakukan secara teliti dan detai prosesnya sehingga menghasilkan nilai tambah yang optimal dari manfaat dan tujuan pengemamasan tersebut. Kemasan terhadap produk nata de coco memiliki tujuan seabagai berikut:
1. Mengawetkan produk agar bertahan lama tidah rusak.
2. Memberikan sentuhan nilai estetika terhadap produk sehingga memiliki daya tarik yang lebih tinggi.
3. Meningkatkan nilai tambah secara ekonomi terhadap produk.
4. Memudahkan proses penyimpanan dan distribusi produk.
Untuk menghasilkan kemasan yang baik dengan mempertimbangkan keawetan produk yang dihasilakan perla diperhatikan hal-hal seabagai berikut:
1. Kemasan harus bersih atau steril.
2. Isi kemasan diusahakan penuh agar tidak ada udara tersisa dalam kemasan sehingga mikroba kontaminan tidak tumbuh.
3. Hot filling juga dapat meminimalisisasi pertumbuhan mikroba pembusuk.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan
Setelah melakukan praktikum pembuatan nata de coco, dapat disimpulkan bahwa ada beberapa tahapan dalam pembuatan nata de coco yaitu persiapan bahan, penyaringan, pemanasan, pencampuran, inokulasi, penuangan ke dalam wadah, inkubasi, dan dihasilkan nata de coco. Bakteri yang berperan dalam pembuatan nata de coco adalah Acetobacter xylinum.
Faktor keberhasilan dalam pembuatan nata de coco yaitu jenis dan konsentrasi (medium, starter, juga suplemen), waktu, suhu, pH, dan tempat inokulasi.
4.2 Saran
Sebaiknya, kerja aseptic dan aspek higenis harus dijaga agar pembuatan nata de coco tidak mengalami kegagalan. Praktikan harus sudah membuat formulasi sebelum dimulainya praktikum arag praktikum berjalan dengan lancar.
DAFTAR PUSTAKA
Astawan M. 20 Feb 2004. Nata De Coco yang Kaya Serat. Kompas: 10 (klm 7‐8) Budiyanto, 2002, Mikrobiologi Pangan , Universitas Muhamadiyah Malang, Malang.
Figini M. 2002. Cellulose and Other Nature Polymer System. Plenum, New York.
Madigan MT, Martinko JM, Parker J, 2007. Brock Biology of Microorganism. Edisi ke‐8, New Jersey: Prentince Hall.
Pelczar, J., 1988, Mikrobiologi Dasar 2, UI-Press, Jakarta.
Susilawati L, Mubarik NR. 2002. Pembuatan Nata de Coco dan Nata de Radia. Laboratorium mikrobiologi, Jurusan Biologi FMIPA IPB, Bogor
Yoshinaga F, Tonouchi N, Watanabe K. 2007. Research Progress in Production of Bacterial Cellulose by Aeration and Agitation Culture and Its Application as a New Industrial Material. Biosci. Biotech. Biochem., 61:219‐224.
LAMPIRAN Lampiran 1. Hasil Uji Organoleptik Nata De Coco
No Nama Panelis Penilaian
Rasa Warna Kekenyalan Penampakan Juiceness
A B A B A B A B A B
1 Aini 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0
2 Grace 0 1 0 1 0 1 1 0 1 0
3 Sulistya Nisa Utami 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1
4 Abeth 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0
5 Gerry 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0
6 Bella 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0
7 Alifah 0 1 1 0 0 1 0 1 0 1
8 Triani 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0
9 Ghina 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0
10 Aziz 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1
11 St. Sarifah 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
12 Yuni 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0
13 Rizky Mei 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0
14 Rahma Mauliasari 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1
15 Zulfah 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
16 Titi Risnawati 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0
17 Bryan 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1
18 Dara N 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0
19 Ria Mayang 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0
20 Antonius 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1
21 Anggita 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1
22 Srikomala 1 0 1 0 0 1 1 0 1 0
23 Ika Fitri 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0
24 Maretia 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1
25 Adlina 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
Jumlah 22 10 22 9 20 11 23 6 20 11
Keterangan:
A: Grade A B: Grade B
Lampiran 2. Gambar produk nata de coco
Nata de coco sebelum diolah
Nata de Coco Setelah Penyimpanan selama 20 Hari
Lampiran 3. Hasil pengamatan nata de coco
Nata de Coco Hari
Ke- Warna Aroma Tekstur Rasa Kenampakan
0 Putih Khas nata Kenyal Khas Nata Segar
Produk Nata De Coco Suhu Ruang
Hari Ke-
Warna Medium
Nata
Kondisi Medium Nata
Kejernihan Medium
Nata
Kondisi
Kemasan Kenampakan
0 +++ Cair (tidak
kental) Jernih
Baik (Tidak mengembung,
atau bocor)
Segar dan warna medium menarik
5 +++ Cair (tidak
kental) Jernih
Baik (Tidak mengembung,
atau bocor)
Segar dan warna medium menarik (Belum ada perubahan)
10 +++
Masih tetap cair tidak ada
perubahan (menjadi mengental)
Jernih
Baik (Tidak mengembung,
atau bocor)
Segar dan warna medium menarik (Belum ada perubahan)
15 ++
Masih tetap cair tidak ada
perubahan (menjadi mengental)
Kurang Jernih
Masih dalam keadaan baik
(Tidak mengembung,
atau bocor)
Warna medium mulai berubah menjadi pucat
dan sedikit pudar
20 +
Masih tetap cair tidak ada
perubahan (menjadi mengental)
Kurang Jernih
Masih dalam keadaan baik
(Tidak mengembung,
atau bocor)
Warna medium berubah menjadi pucat
dan pudar
Keterangan :
+++ = Warna medium nata menarik
++ = Warna medium nata mulai pucat dan memudar + = Warna medium nata pucat dan pudar