USULAN PENELITIAN SKRIPSI
UNIVERSITAS ANDALAS
FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN UNSAFE ACTION PADA PEKERJA BENGKEL UTAMA SERVICE
KOTA PADANG
Oleh:
Rahima Pebriani No. BP 2111211053
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Melaksanakan Penelitian Skripsi Sarjana Kesehatan Masyarakat
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2025
i
DAFTAR ISI
1.1 Latar belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 8
1.3 Tujuan Penelitian ... 8
1.3.1 Tujuan Umum ... 8
1.3.2 Tujuan Khusus ... 8
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
1.4.1 Manfaat Teoritis ... 9
1.4.2 Manfaat Akademis... 9
1.4.3 Manfaat Praktis ... 10
1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 10
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 12
2.1 Kecelakaan kerja ... 12
2.2 Tindakan Tidak Aman (Unsafe Action) ... 24
2.3 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Unsafe Action... 31
2.4 Telaah Sistematis ... 42
2.5 Kerangka Teori ... 46
2.6 Kerangka Konsep ... 47
2.6 Hipotesis Penelitian ... 48
BAB 3 METODE PENELITIAN ... 49
3.1 Jenis Penelitian ... 49
1
BAB 1: PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang
Perkembangan era industri global yang terjadi saat ini tentunya menyebabkan masalah keselamatan kerja di dunia industri. Permasalahan yang sering terjadi adalah kecelakaan kerja yang disebabkan oleh kelalaian pekerja, perusahaan maupun keduanya1. Dampaknya dapat menimbulkan trauma begi kedua belah pihak, bagi pekerja, cedera akibat kecelakaan dapat berdampak pada kehidupan pribadi, kehidupan rumah tangga, dan kualitas hidup. Sedangkan bagi perusahaan dapat menyebabkan kerugian produksi karena hilangnya waktu untuk menyelidiki kecelakaan dan biaya hukum akibat kecelakaan industri2. Untuk itu kecelakaan kerja perlu dicegah sejak dini, atau setidaknya dampaknya dapat diminimalkanSesuai dengan Peraturan Mentri Ketenagakerjaan Indonesia Nomor 5 Tahun 2018 untuk mewujudkan lingkungan kerja yang aman, sehat, dan nyaman serta mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja3.
BInternational Labour Organization (ILO) yang dipublikasikan pada 11 Januari 2024 terdapat 77.708 kasus kecelakaan kerja per 100.00 pekerja di dunia. ILO juga menyatakan bahwa kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja menimbulkan korban jiwa hampir setiap harinya4. Diperkirakan 2,78 juta pekerja meninggal setiap tahun, 2,4 juta (86,3%) diantaranya berhubungan dengan penyakit akibat kerja dan 380.000 (13,7%) disebabkan penyakit akibat kerja5. Keselamatan kerja di Indonesia tergolong paling buruk dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Bangladesh dan Pakistan. Masalah keselamatan dan kesehatan kerja di Indonesia masih sering terjadi, terlihat dari angka kecelakaan kerja yang tinggi6.
2
Selama empat tahun terakhir, tercatat adanya peningkatan yang signifikan dalam jumlah kasus kecelakaan kerja. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan (BPJS) mencatat pada tahun 2021 terdapat 234.370 kasus kecelakaan kerja. Tahun 2022, jumlah kasus meningkat sebesar 30.964 kasus, sehingga angka kecelakaan kerja menjadi 265.334 kasus7. Pada tahun 2023 berdasarkan data Kementrian Ketenagakerjaan Indonesia terjadi sebayak 370.747 kasus kecelakaan kerja8. Sedangkan selama periode Januari-Agustus 2024 telah terjadi 278.564 kasus kecelakaan kerja9.
Berdasarkan data dari Kemnaker Indonesia pada tahun 2023, beberapa provinsi mencatatkan angka kecelakaan kerja yang sangat tinggi. Provinsi Jawa Barat menduduki posisi pertama dengan temuan sebanyak 66.029 kasus, posisi kedua Jawa Timur sebanyak 56.603 kasus, dan posisi ketiga Jawa Tengah sebanyak 43.2111 kasus.
Sementara Provinsi Sumatra Barat berada pada posisi 14 dengan 6.053 kasus8. Kecelakaan kerja umumnya disebabkan oleh dua faktor, yaitu tindakan manusia yang tidak aman (unsafe action) dan kondisi lingkungan kerja yang tidak aman (unsafe condition)10. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Heinrich ditemukan bahwa 88% kecelakaan yang terjadi di lingkungan kerja disebabkan oleh unsafe action, 10% terjadi karena unsafe condition, dan 2% lainnya tidak dapat dihindari11. Hasil survei dan analisis faktor penyebab kecelakaan kerja yang dilakukan oleh Kementerian Tenaga Kerja Jepang menunjukkan bahwa kecelakaan kerja merupakan hasil interaksi dari beberapa variable, dimana diperoleh hasil bahwa 92% kecelakaan disebabkan unsafe action dan 80% karena lingkungan yang tidak aman unsafe condition12. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa penyebab terbesar kecelakaan di tempat kerja disebabkan oleh unsafe action11.
3
Unsafe action merupakan tindakan yang dapat menimbulkan bahaya bagi pekerja itu sendiri ataupun orang lain sehingga menyebabkan kecelakaan13. Unsafe action dapat berupa menggunakan alat pelindung diri (APD) tidak sesuai standar, tidak benar dalam penggunaan alat kerja, melakukan perbaikan peralatan saat alat tersebut sedang digunakan, bercanda saat melakukan pekerjaan, dan lainnya. Unsafe action yang dilakukan secara sadar maupun tidak tentunya akan berdampak negative terhadap pekerja maupun perusahaan. Salah satu contoh dampak dari tindakan tidak aman yang merugikan pekerja adalah diberikannya sanksi pelanggaran aturan yang telah ditetapkan oleh perusahaan dan terpapar potensi bahaya. Sedangkan salah satu contoh dampak dari tindakan tidak aman (unsafe action) yang merugikan perusahaan adalah meningkatnya angka kecelakaan kerja diperusahaan11.
Menurut Winarsunu (2008), perilaku keselamatan selalu berkaitan dengan keselamatan dalam bekerja, dengan melakukan perilaku aman dalam bekerja maka dapat meningkatkan persepsi untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan. Lawrence Green bersama rekannya Kreuter mengembangkan teori Precede-Protocted yang menyebut bahwa teori terdapat 3 faktor yang mempengaruhi seseorang dalam bertindak atau berperilaku yaitu factor presisposisi, pemungkin, dan pendorong14. Ketiga elemen ini dapat menganalisis bagaimana seseorang merespon lingkungan yang dapat mempengaruhi keputusan untuk melakukan tindakan15.
Sejalan dengan teori yang dikembangkan oleh Green dan Kreuter, Ramsey juga mengemukakan bahwa perilaku kerja yang aman atau terjadinya perilaku yang dapat menyebabkan kecelakaan dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu pengamatan, kognitif, pengambilan keputusan, dan kemampuan. Keempat faktor ini membentuk suatu proses yang terjadi secara berurutan. Jika pada tahap pengamatan, kognitif, dan pengambilan keputusan berjalan dengan baik, namun individu tidak memiliki
4
kemampuan untuk bertindak dalam menghindari bahaya, maka tindakan aman yang diharapkan tidak akan terwujud. Dengan demikian, meskipun seseorang dapat mengenali bahaya dan membuat keputusan yang tepat, tanpa kemampuan untuk bertindak dengan benar, kecelakaan tetap bisa terjadi.16.
Faktor penyebab unsafe action dapat timbul dari berbagai aspek, seperti pengetahuan, sikap, rekan kerja, sosialisasi K3, serta pengawasan. Rendahnya pengetahuan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja mengakibatkan pekerja sulit mengenali potensi bahaya di sekitarnya, sehingga mereka kesulitan dalam menentukan tindakan untuk mengendalikan potensi bahaya. Akibatnya pekerja kurang waspada terhadap risiko yang muncul dari perilakunya selama bekerja17. Hal ini dapat dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ayu Sekar (2023) yang menyebutkan bahwa adanya kolerasi antara pengetahuan dengan unsafe action18. Sikap pekerja yang tidak mematuhi aturan juga berpengaruh terhadap unsafe action, sesuai dengan penelitian oleh Noviyanti, dkk pada tahun 2023 pada pekerja ketinggian di PT.X Kota Batam19.
Fungsi pengawasan tidak hanya menjadi tanggung jawab seorang pengawas, karena pekerja lainnya juga merupakan bagian dan perusahaan. Maka dari itu, rekan kerja memiliki peran penting dalam menjaga dan mengawasi keselamatan di tempat kerja. Partisipasi aktif dari rekan kerja sangat diperlukan untuk saling mengingatkan satu sala lain agar selalu berperilaku aman di lingkungan kerja. Teori Lawrence Green juga mendukung hal ini yang menjelaskan bahwa rekan kerja merupakan faktor pendoromg dalam membentuk perilaku keselamatan. Rekan kerja dapat menjadi role model bagi pekerja lainnya dalam melakukan tindakan saat bekerja20. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sudarmo, dkk pada tahun 2016 yang menyatakan
5
bahwa adanya pengaruh yang tidak signifikat terhadap kepatuhan penggunaan APD pada perawat di RSUD Ulin Banjarmasin21.
Unsafe action dapat dicegah dengan melakukan pengawasan dan sosialisasi tentang kesehatan dan keselamatan kerja (K3), yang saling berkaitan dalam mewujudkan budaya keselamatan di tempat kerja. Gabungan dua elemen ini berperan sangat penting untuk mengurangi tingkat kecelakaan kerja dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman. Pengawasan bertujuan mengidentifikasi dan mengelola risiko di area kerja. Melalui pengawassan yang dilakukan secara rutin, pengawas dapat mengidentifikasi perilaku dan kondisi yang berbahaya sehingga dapat melakukan tindakan pencegahan yang sesuai. Dan sosialisasi K3 yang diberikan agar pekerja mendapatkan informasi mengenai K3, meningkatkan pengetahuan, dan kesadaran terhadap bahaya yang ada. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Emylia dan Sestiono pada tahun 2024 diperoleh hasil bahwa sosialiasi K3 memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian unsafe action pada pekerja perusahaan pembangkit listrik22.Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Iqbaal (dkk) pada tahun 2024 ditemukan bahwa adanya hubungan pengawasan kerja dengan tindakan tidak aman pada pekerja pengelasan di Bengkel23.
Bengkel merupakan suatu bangunan atau ruangan untuk perawatan, pemeliharaan, perbaikan serta modifikasi mesin atau kendaraaan. Bengkel merupakan jenis usaha yang bergerak dalam bidang pemberian jasa pelayanan perbaikan terhadap sepeda motor hingga mobil yang disesuaikan dengan keinginan dari pemilik kendaraan. Semakin banyak aktivitas kendaraan di jalanan maka kebutuhan untuk perbaikan, perawatan terus meningkat, maka dari itu keberadaan bengkel kendaraan sangat diperlukan. Oleh karena itu, keberadaan bengkel kendaraan sangat diperlukan dan menjadi jenis usaha yang dapat ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia24.
6
Utama Service merupakan salah satu bengkel ternama yang berlokasi di daerah Ulak Karang, Kota Padang dan sudah beroperasi sejak tahun 1995. Bengkel ini telah memiliki 2 cabang, yaitu Utama Service Station dan Utama Service Goodyear.
Aktivitas seperti perbaikan mesin, pengelasan, pengecatan, dan penggunaan bahan kimia berbahaya dapat menyebabkan kecelakaan, cedera, atau keracunan jika tidak dilakukan dengan benar. Tidak hanya aktivitas tersebut yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja, kondisi lingkungan kerja yang jauh dari kata aman bagi keselamatan dan Kesehatan kerja juga beresiko berbahaya dan mengancam keselamatan serta Kesehatan pekerja25.
Berdasarkan survey awal yang dilakukan di Bengel Utama Servuce pada bulan Januari 2025 didapatkan bahwa 8 dari 10 pekerja pernah mengalami kecekalakaan kerja, seperti terjatuh, terjepit, tertimpa alat kerja, dan tersengat arus listrik, Kecelakaan yang sering dialami oleh para pekerja yaitu terjatuh dikarena kondisi lantai yang licin dan para pekerja hanya menggunkan sandal saat bekerja. Banyaknya kasus kecelakaan yang terjadi tentunya disebabkan oleh tindakan tidak aman yang dilakukan oleh para pekerja seperti seperti tidak menggunankan alat pelindung diri (APD) saat bekerja, bersenda gurau dengan sesema pekerja saat melakukan pekerjaan, dan merokok saat bekerja.
Berdasarkan keterangan dari pekerja, diketahui sebanyak 60% pekerja tidak mengetahui mengenai kesehatan dan keselamatan kerja secara umum. Sebanyak 60%
pekerja memiliki sikap yang tidak aman saat bekerja, dan 54% pekerja merasa kurang mendapatkan pengawasan dari atasan saat bekerja sehingga dapat meningkatkan tindakan tidak aman yang dilakukan saat bekerja. Pada aspek sosialisasi sebesar 50%
pekerja menyatakan bahwa sosialisasi yang dilakukan di perusahaan masih kurang dan tidak semua pekerja mendapatkan sosialisasi terkait keselamatan dan kesehatan kerja.
7
Dan menurut 40% pekerja, rekan kerja memiliki pengaruh terhadap tindakan kerja tidak aman.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka perlu dilakukan penelitian dengan judul faktor-faktor yang berhubungan dengan unsafe action pada pekerja Bengkel Utama Service Kota Padang tahun 2025.
8 1.2 Rumusan Masalah
Bersadarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah faktor apa saja yang berhubungan dengan tindakan tidak aman (unsafe action pada pekerja bengkel Service Utama Station Kota Padang pada tahun 2025?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan unsafe action pada pekerja Bengkel Utama Service Kota Padang pada tahun 2025.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui distribusi frekuensi unsafe action pada pekerja Bengkel Utama Service Kota Padang pada tahun 2025.
2. Mengetahui distribusi frekuensi pengetahuan pekerja Bengkel Utama Service Kota Padang pada tahun 2025
3. Mengetahui distribusi frekuensi sikap pekerja Bengkel Utama Service Kota Padang pada tahun 2025
4. Mengetahui distribusi frekuensi rekan kerja pekerja Bengkel Utama Service Kota Padang pada tahun 2025
5. Mengetahui distribusi frekuensi sosialiasi K3 pekerja Bengkel Utama Service Kota Padang pada tahun 2025
6. Mengetahui distribusi frekuensi pengawasan pekerja Bengkel Utama Service Kota Padang pada tahun 2025
9
7. Mengetahui hubungan pengetahuan dengan unsafe action pada pekerja Bengkel Utama Service Kota Padang pada tahun 2025
8. Mengetahui hubungan sikap dengan unsafe action pada pekerja Bengkel Utama Service Kota Padang pada tahun 2025
9. Mengetahui hubungan rekan kerja dengan unsafe action pada pekerja Bengkel Utama Service Kota Padang pada tahun 2025
10. Mengetahui hubungan pengawasan dengan unsafe action pada pekerja Bengkel Utama Service Kota Padang pada tahun 2025
11. Mengetahui hubungan sosialisasi K3 dengan unsafe action pada pekerja Bengkel Utama Service Kota Padang pada tahun 2025
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan pengetahuan tambahan serta menjadi sumber informasi di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (k3), khususnya mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan unsafe actionpada pekerja dalam pencegahan kecelakaan kerja.
1.4.2 Manfaat Akademis
Penelitian ini dapat berfungsi sebagai sarana untuk mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan, dan hasilnya dapat memberikan informasi serta menjadi referensi bagi peneltian selanjutnya di Universitas Andalas, khususnya Fakultas Kesehatan Masyarakat dalam bidang ilmu Keselamatan Kesehatan Kerja dan Kesehatan Lingkungan (K3KL) mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan tidak aman (unsafe action) pada pekerja Bengkel Utama Service Station Kota Padang pada tahun 2025.
10 1.4.3 Manfaat Praktis
1. Bagi Perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan tidak aman unsafe action pada pekerja Bengkel Utama Service Kota Padang. Sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu pertimbangan bagi perusahaan untuk menyusun kebijakan dalam upaya mencegah kecelakaan kerja.
2. Bagi pekerja
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan dan pengetahuan pekerja mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan unsafe action sehingga pekerja dapat menerapkan perilaku yang aman saat bekerja.
3. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, wawasan, dan pengalaman peneliti mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan unsafe action, sehingga dapat berkontribusi dalam pencegahan kecelakaan kerja.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Bengkel Utama Service Kota Padang yang berfokus pada faktor-faktor yang berhubungan dengan unsafe action pada pekerja lapangan.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan januari hingga juni 2025. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain cross-sectional.
Variabel indenpenden penelitian ini yaitu pengetahuan, sikap, sosialisasi K3, pengawasan, dan rekan kerja dan variabel dependen yaitu unsafe action. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 65 responden dengan teknik pengambilan sampel total
11
sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, kemudian dilakukan pengolahan data berupa data editing, data coding, data entry, data cleaning, dan data processing. Kemudian dianalisis secara univariat untuk mendeskripsikan karakteristik setiap variable penelitian secara bivariat menggunakan analisis chi square dan secara multivariat menggunakan regresi logistic ganda untuk mengetahui variabel paling berpengaruh terhadap variable dependen.
12
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kecelakaan kerja
2.1.1 Pengertian Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan yang disebabkan oleh banyak faktor seperti faktor manusia, faktor lingkungan dna faktor mesin atau alat kerja yang digunakan. Menurut Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia, kecelakaan kerja merupakan suatu insiden yang terjadi secara mendadak dan tidak terduga, tetapi kejadian kecelakaan kerja ini tidak terjadi begitu saja, melainkan ada penyebabnya misalnya karena adanya kelalaian dari tenaga kerja pada saat melakukan pekerjaannya. Berdasarkan definisi diatas terlihat bahwa kecelakaan kerja terjadi karena kurangnya persiapan dari tempat kerja dan tenaga kerja untuk menghadapi kondisi-kondisi bahaya yang ada di tempat kerja yang dapat menimbulkan risiko yaitu terjadinya kecelakaan kerja serta tenaga kerja masih menerapkan perilaku yang tidak aman pada saat bekerja26.
Kecelakaan kerja merupakan suatu kejadian yang tidak diinginkan yang dapat menyebabkan kerugian. Kerugian yang diakibatkan kecelakaan kerja berupa : cidera pada manusia yang dapat menyebabkan hilangnya waktu kerja karyawan, bahkan meninggal dunia, hilangnya waktu kerja rekan kerja, dan supervisor. Selain waktu kerja yang hilang, kerugian akbiat kecelakaan kerja berupa kerusakan properti dan terhambatnya proses produksi. Secara tidak langsung mengurangi performa dan berkurangnya keuntungan. Suatu kecelakaan dapat juga disebut kecelakaan kerja meskipun tidak terjadi di tempat kerja, namun kejadiannya ada di jalur rutin yang biasa dilewati dari dan ke tempat kerja27.
2.1.2 Faktor yang Mempengaruhi Kecelakaan Kerja
13
Kecelakaan kerja pada dasarnya dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu faktor manusia, pakerjaan, dan faktor lingkungan di tempat kerja2.
1. Faktor manusia a) Umur
Umur mempunyai pengaruh yang penting terhadap kejadian kecelakaan akibat kerja. Golongan umur tua mempunyai kecendrungan yang lebih tinggi untuk mengalami kecelakaan dibadingkan dengan golongan umur muda dikarenakan umur muda mempunyai reaksi dan kegesitan yang lebih tinggi.
Namun umur juga sering mengalami kecelakaan kerja dikarenakan beberapa faktor seperti kurang perhatian, kurang disiplin, cenderung menuruti kata hati, kurang disiplin, ceroboh, dan tergesa-gesa.
b) Tingkat Pendidikan
Pendidikan seseorang berpengaruh dalam pola piker seseorang dalam mengahdapi pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Selain itu Pendidikan juga akan berpengaruh tingkat penyerapan terhadap pelatihan yang diberikan dalam rangka melaksanakan pekerjaaan dan keselamata kerja. Pekerja dengan tingkat pendidikan rendah seperti Sekolah Dasar atau bahkan tidak pernah bersekolah akan bekerja di lapangan dengan mengandalkan fisik. Hal ini dapat mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja karena beban fisik yang berat dapat mengakibatkan kelelahan yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja.
c) Pengalaman Kerja
Pengalaman kerja dan keterampilan yang tinggi akan disertai dengan penurunan angka kecelakaan kerja. Serta kewaspadaaan terhadap kecelakaan kerja bertambah baik sejalan dengan pertambahan usia dan lamanya kerja di
14
tempat kerja yang bersangkutan. Tenaga kerja baru biasanya belum mengetahui secara mendalam seluk beluk pekerjaanya.
2. Faktor pekerjaan a) Giliran kerja (shift)
Giliran (shift) kerja merupakanpembagian kerja dalam waktu dua pulum empat jam. Terdapat dua masalah utama pada pekerja yang bekerja secara bergiliran, yaitu ketidakmampuan pekerja untuk beradaptasi dengan system shift dan ketidak mampuan pekerja untuk beradaptasi dengan kerja pada malam hari dan tidur pada siang hari. pergesaran waktu kerja dari pagi, siang, dan malam hari dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan kecelakaan kerja.
b) Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan mempunyai pengaruh besar terhadap risiko terjadinya kecelakaan kerja. Jumlah dan macam kecelakaan kerja berbeda-beda di berbagai kesatuan operasi dalam suatu proses.
3. Faktor lingkungan a) Lingkungan Fisik
➢ Pencahayaan
Pencahayaan merupakan suatu aspek lingkungan fisik yang penting bagi keselamatan kerja. Beberapa penelitian membuktikan bahwa pencahayaan yang tepat dan sesuai dengan pekerjaan akan dapat menghasilkan produksi yang maksimal dan dapat mengurangi terjadinya kecelakaan akibat kerja.
➢ Kebisingan
Kebisingan ditempat kerja dapat berpengaruh terhadap pekerja karena kebisingan dapat menimbulkan gangguan perasaan, gangguan
15
komunikasi sehingga menyebabkan salah pengertian, tidak mendengar isyarat yang diberikan, hal ini dapat berakibat terjadinya kecelakaan akibat kerja disamping itu kebisingan juga dapat menyebabkan hilangnya pendengaran sementara atau menetap. Nilai ambang batas kebisingan adalah 85 dBa untuk 8 jam kerja sehari atau 40 jam kerja dalam seminggu b) Lingkungan Kimia
Faktor lingkungan kimia merupakan salah satu faktor lingkungan yang memungkinkan penyebab kecelakaan kerja. Faktor tersebut dapat berupa bahan baku suatu produksi, hasil suatu produksi dari suatu proses, proses produksi sendiri ataupun limbah dari suatu produks
c) Lingkungan Biologi
Bahaya biologi disebabkan oleh jasad renik, gangguan dari serangga maupun binatang lain yang ada di tempat kerja. Berbagai macam penyakit dapat timbul seperti infeksi, allergi, dan sengatan serangga maupun gigitan binatang berbisa berbagai penyakit serta bisa menyebabkan kematian.
2.1.3 Penyebab Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja dapat dicegah bila diketahui penyebabnya. Penyebab kecelakaan kerja dapat dijelaskan melalui beberapa teori. Teori kecelakaan kerja yang pertama adalah Teori Domino yang dikemukakan oleh Heirich, dan kedua adalah modifikasi teori domino yang dikemukakan oleh Frank E Bird dari International Loss Control Institute, yang nantinya akan dikenal sebagai dasar manajemen K327.
1. Teori kecelakaan kerja Heinrich/ Teori Domino
Dalam teori ini heindrich menyatakan bahwa sebuah kecelakaan salah satu dari lima faktor dalam rangkaian yang mengakibatkan cedera. Cedera
16
selalu disebabkan oleh kecelakaan dan kecelakaan selalu merupakan akibat dari faktor yang mendahuluinya. Dalam pencegahan kecelakaan, sasaran utama berada di tengah-tengah urutan yaitu tindakan tidak aman dari seseorang atau bahaya mekanis atau fisik28.
Lima faktor yang dimaksud Heinrich adalah2:
• Lingkungan sosial/asal usul
Merupakan karakteristik atau kondisi yang dimiliki oleh seseorang yang berisiko celaka. Misalnya keras kepala, ceroboh, lalai.
• Kesalahan orang tersebut
Kelalaian manusia yang meliputi, motivasi rendah, stress, konflik, masalah yang berkaitan dengan fisik pekerja, keahlian yang tidak sesuai, dan lain sebagainya.
• Tindakan tidak aman, bahaya mekanis, dan fisik
Kebiasaan kebiasaan yang berisiko terjadi kecelakaan, misalnya tidak memakai alat pelindung anti radiasi ketika bekerja di instalasi radiologi, bekerja melebihi jam kerja, atau kerja lembur pada malam hari tanpa istirahat yang cukup. Selain itu terdapat keadaan yang berisiko menimbulkan kecelakaan seperti mesin dibiarkan tanpa penutup, ruang kerja tanpa ventilasi cukup, pencahayaan yang tidak memenuhi standar.
17
• Kecelakaan
Kecelakaan kerja, seperti terpeleset, luka bakar, tertimpa benda yang ada di tempat kerja yang terjadi karena adanya kontak dengan sumber bahaya.
• Cedera
Akibat dari peristiwa kecelakaan yaitu berupa cedera yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja yang menyebabkan hilangnya waktu kerja karyawan, bahkan meninggal dunia
Berdasarkan teori domino, kecelakaan kerja dapat dicegah dengan menghilangkan salah satu faktor dan dengan demikian memutus efek knockdown. Heinrich mengusulkan tindakan tidak aman dan bahaya mekanis merupakan faktor utama dalam rangkaian kecelakaan dan menghilangkan faktor utama ini akan membuat faktor-faktor sebelumnya menjadi tidak efektif.
Ia berfokus pada faktor manusia, yang disebutnya sebagi “human failed”, sebagai penyebab Sebagian besar kecelakaan. Untuk mendukung usulan ini, Heinrich melakukan analisis 75.000 laporan kecelakaan sehingga didaptakan hasil 88% kecelakaan dapat dicegah dengan tindakan manusia yang tidak aman dan 10% dengan kondisi mekanik atau fisik yang tidak aman, dan 2% terakhir diakui sebagai hal yang tak dapat dicegah28.
2. Loss Causation Model
Loss Causation Model merupakan pengembangan dari teori domino yang dikemukakan oleh Frank E. Bird pada tahun 198528. Teori Domino yang telah digunakan secara meluas di banyak negara dalam menjelaskan terjadinya kecelakaan kerja dan upaya pengendaliannya. Namun dalam perkembangnya muncul berbagai pendapat yang mengungkapkan bahwa kecelakaan kerja tidak
18
bukan disebabkan satu faktor saja, melainkan interaksi multifaktor yang merupakan refleksi dari manajemen2.
• Lack of control
Pengendalian merupakan salah satu dari empat fungsi dari manajemen. Fungsi ini berkaitan dengan manajer di semua lini administrasi, pemasaran, quality control, teknik, pemesanan, keselamatan. Supervisor /pimpinan/ manajemen harus menerapkan funsgi manajamen ini. Seorang manajer yang profesional mengetahui program pengendalian bahaya;
mengetahui standar;merencanakan dan merancang standar kerja; mendorong karyawan untuk memenuhi standar;mengukur kinerja;mengevaluasi hasil dan kebutuhan. Ini semua merupakan manajemen pengendalian. Tanpa manajemen pengendalian yang memadai, kecelakaan penyebab dan akibatnya akan terjadi. Ada tiga hal yang termasuk lemahnya manajemen pengendalian, yaitu :1) Program tidak memadai, 2) Standar program tidak memdai, 3) Ketidakpatuhan terhadap standar.
• Basic causes
Penyebab dasar ini terdiri atas faktor manusia (personal factor) dan faktor pekerjaan (job factor). Faktor manusia meliputi tidak memadainya: a) Kemampuan fisik/ fisiologi, b) Kemampuan mental, c) Tekanan fisik, d) Tekanan psikis, e) Pengetahuan rendah, f) Ketrampilan rendah, g) Motivasi kurang. Sedangkan faktor pekerjaan meliputi a) Kepemimpinan dan
19
pengawasan, b) Teknik tidak tepat, c) Pemesanan barang, d) Perawatan, e) Alat dan peralatan, dan f) Standar kerja.
• Immediate causes
Penyebab utama meliputi praktik di bawah standar (sub standard action) dan kondisi di bawah standar (sub standard condition). Praktik/
tindakan di bawah standar (sub standar action) adalah tindakan karyawan yang dilakukan tanpa suatu prosedur yang benar. Sedangkan kondisi di bawah standar (substandar condition) adalah keadaan di tempat kerja meliputi mesin, peralatan, material, proses yang tidak memiliki pedoman keselamatan kerja.
• Incident
Kecelakaan/ accident/ incident adalah kotak dengan energi atau zat.
Apabila jumlah energi yang dipidahkan jumlahnya terlampau besar atau dengan kata lain melebihi batas penerima maka akan terjadi kerusakan.
Kerusakan ini bisa berupa cidera, sakit, kerusakan properti, dan berkurangnya waktu kerja.
• Loss
Hasil dari sebuah kecelakaan adalah berupa kerugian. Beberapa kerugian yang timbul sebagai akibat terjadinya kecelakaan kerja telah dijelaskan pada materi di atas. Kerugian yang diakibatkan oleh kecelakaan kerja bisa diibaratkan sebagai sebuah fenomena gunung es.
2.1.4 Dampak Kecelaakaan Kerja
Kecelakaan kerja tidak hanya memberikan dampak langsung kepada korban, tetapi juga berpengaruh luas terhadap instansi, masyarakat, dan negara. Setiap pihak yang terlibat dapat merasakan kerugian baik dalam bentuk finansial, emosional, maupun sosial29.
1. Kerugian bagi instansi
20
Kerugian bagi instansi berupa baiya pengangkutan korban kerumah sakit, biaya pengobatan, penguburan jika sampai korban meninggal dunia hilangnya waktu kerja si korban dan rekan-rekanya yang menolong sehingga menghambat kelancaran program mencari pengganti atau melatih tenaga baru mengganti/memperbaiki mesin yang rusak kemunduran mental para pekerja.
2. Kerugian bagi korban
Kerugian paling fatal bagi korban adalah jika kecelakaan itu sampai mengakibatkan ia sampai cacat atau meninggal dunia, ini berarti hilangnya pencari nafkah bagi keluarga dan hilangnya kasih sayang orang tua terhadap putra-putrinya.
3. Kerugian bagi masyarakat dan negara
Akibat kecelakaan maka beban biaya akan dibebankan sebagai biaya produksi yang mengakibatkan dinaikkannya harga produksi perusahaan tersebut dan merupakan pengaruh bagi harga di pasaran.
Kerugian-kerugian yang ditimbulkan oleh kecelakaan kerja dapat berupa kerugian yang bersifat ekonomi, baik langsung maupun, tidak langsung antara lain kerusakan, mesin, peralatan, bahan dan bangunan, biaya pengobatan dan perawatan korban, tunangan kecelakaan, hilangnya waktu kerja dan menurunya jumlah maupun mutu produksi. Sedangkan kerugian yang bersifat non ekonomi antara lain, berupa penderitaan korban baik itu kematian, luka/cidera berat maupun ringan, serta penderitaan keluarga korban meninggal/cacat29.
Menurut Suma' mur P.K, kecelakaan kerja menyebabkan lima jenis kerugian, yaitu29:
1. Kerusakan
2. Kekacauan organisasi
21 3. Kelelahan dan kesedihan
4. Kelainan dan cacat 5. Kematian
2.1.4 Pencegahan Kecelakaan Kerja
Untuk mencegah kecelakaan kerja sangatlah penting diperhatikannya keselamatan kerja. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan dengan peralatan, tempat kerja, lingkungan kerja, serta tata cara dalam melakukan pekerjaan yang bertujuan untuk menjamin keadaan, keutuhan dan kesempurnaan, baik jasmaniah maupun rohaniah manusia, serta hasil' karya budayanya tertuju pada kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan pekerja pada khususnya. Jadi dapat disimpulkan, bahwa keselamatan kerja pada hakekatnya adalah usaha manusia dalam melindungi hidupnya dan yang berhubungan dengan itu, dengan melakukan tindakan preventif dan pengamanan terhadap terjadinya kecelakaan kerja ketika kita sedang bekerja2.
Upaya dari pencegahan kecelakaan kerja diantarannya29 : 1. Pengamatan resiko bahaya ditempat kerja
Pengamatan resiko bahaya di tempat kerja merupakan basis informasi yang berhubungan dengan banyaknya dan tingkat jenis kecelakaan yang terjadi ditempat kerja. Terdapat 2 tipe untuk mengamati risiko bahaya di tempat kerja, yaitu :
➢ Pengamatan resiko bahaya di tempat kerja merupakan basis informasi yang berhubungan dengan banyaknya dan tingkat jenis kecelakaan yang terjadi ditempat kerja.
➢ Penilaian resiko bahaya, yaitu mengindikasikan sumber pencemaraan, faktor bahaya yang menyebabkan kecelakaan, tingkat kerusakaan dan
22
kecelakaan yang terjadi. Misalnya bekerja di ketinggian dengan resiko (eriatuh dan luka yang diderita pekerja atau bekerja di pemotongan dengan resiko terpotong karena kontak dengan benda tajam dan lain-lain.
2. Melaksanakan SOP secara benar di tempat kerja
SOP (Standar Operasional dan Prosedur) merupakan suatu pedoman kerja yang harus dilakukan dengan benar, dipatuhi dan berurutan sesuai dengan instruksi yang tercantum.
3. Mengendalikan faktor bahaya di tempat kerja
Faktor bahaya dan sumber pencemaran di tempat kerja sangan ditentukan oleh suatu proses produksi yang ada, metode yang dipakai, peralatan yang digunakan dan produk yang dihasilkan. Dengan mengukur suatu tingkta resiko bahaya yang akan terjadi, dapat dilakukan pengendalian yang dapat mengurangi resiko kecelakaan.
Hirarki pengendalian resiko merupakan suatu urutan-urutan dalam pencegahan dan pengendalian resiko yang mungkin timbul yang terdiri dari beberapa tingkatan secara berurutan. Salah satunya dengan membuat rencana pengendalian antara lain29:
➢ Eliminasi dan substitusi
Mengurangi pencemaran atau resiko bahaya yang terjadi akibat proses produksi, mengganti bahan berbahaya yang digunakan dalam proses produksi dengan bahan yang kurang berbahaya.
➢ Pengendalian teknik
Memisahkan pekerja dengan faktor bahaya yang ada di tempat kerja, membuat peredam untuk mengisolasi mesin supaya tingkat kebisingannya
23
berkurang, memasang pagar pengaman mesin agar pekerja tidak kontak langsung dengan mesin, pemasangan ventilasi dan lain-lain.
➢ Pengendalian Administrasi
Pengaturan secara administrative untuk melindungi: pekerja, misalnya penempatan pekerja sesuai dengan kemampuan dan keahliannya, pengaturan shift kerja, penyediaan alat pelindung diri yang sesuai dan lain- lain.
➢ Alat Pelindung Diri
Alat pelindung diri yang digunakan untuk membatasi antara terpaparnya tubuh dengan potensi bahaya yang diterima oleh tubuh.
4. Peningkatan pengetahuan tenaga kerja terhadap keselamatan kerja
Tenaga kerja adalah sumber daya utama dalam proses produksi yang harus dilindungi, untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kecelakaan perlu memberikan pengetahuan kepada tenaga kerja tentang pentingnya pelaksanaan keselamatan kerja saat melakukan aktivitas kerja agar mereka dapat melaksanakan budaya keselamatan kerja di tempat kerja.
Peningkatan pengetahuan tenaga kerja dapat dilakukan dengan memberi pelatihar Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada awal bekerja dan secara berkala untuk penyegaran dan peningkatan wawasan. Pelatihan ini dapat membantu tenaga kerja untuk melindungi dirinya sendiri dari faktor bahaya yang ada ditempat kerjanya.
5. Pemasangan peringatan bahaya kecelakaan di tempat kerja
Banyak sekali faktor bahaya yang ditemui di tempat kerja, pada kondisi tertentu tenaga kerja atau pengunjung tidak menyadari adanya faktor bahaya yang ada ditempat kerja, untuk menghindari terjadinya kecelakaan maka perlu
24
dipasang rambu-rambu peringatan berupa papan peringatan, poster, batas area aman dan lain sebagainya.
2.2 Unsafe Action
2.1 Pengertian Unsafe Action
Tidakan merupakan suatu perbuatan nyata yang direalisasikan dari pengetahuan dan sikap. Menurut Notoadmojo (2005) tindakan merupakan gerakan atau perbuatan dari tubuh yang muncul setelah mendapat rangsangan atau adaptasi dari lingkungan, baik yang berasal dari dalam maupun luar tubuh. Tindakan seseorang terhadap suatu stimulus akan sangat dipengaruhi bagaimana ia memandang dan merasakan stimulus tersebut. Secara biologis, sikap dapat tercermin dalam tindakan, namun tidak selalu dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan yang sistematis antara sikap dan tindakan tersebut. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek (practice) yang dapat dengan mudah dilihat atau diamati oleh orang lain 30.
Menurut Notoadmojo, empat tingkat tindakan adalah 30: 1. Presepsi (Perception)
Yaitu kemampuan untuk mengenal dan memahami berbagai objek yang berkaitan dengan tindakan yang akan diambil.
2. Respon terpimpin (Guided Response)
Yaitu kemampuan untuk melakukan suatu tindakan sesuai dengan urutan yang benar
3. Mekanisme (Mechanism)
Yaitu ketika seseorang sudah mampu melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau menjadikannya sebagai kebiasaan
25 4. Adaptasi (Adaptation)
Yaitu suatu praktik atau tindakan yang telah berkembang dengan baik, dimana tindakan tersebut telah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenarannya.
Tindakan tidak aman (unsafe action) merupakan kegagalan manusia dalam mengikuti persyaratan dan prosedur kerja yang tepat sehingga dapat menyebabkan kejadian kecelakaan kerja. Unsafe action dapat berupa tindakan yang dilakukan tanpa keahlian atau wewenang yang sesuai, tidak lengkap bahkan tidak menggunakan sama sekali alat pelindung diri, gagal dalam merawat peralatan, bekerja dengan kecepatan yang berisiko, mengabaikan peringatan, menghindari atau memindahkan peralatan keselamatan, menggunakan peralatan kerja yang sudah tidak layak, penggunaaan peralatan untuk tujuan yang tidak sesuai, menggenakan pakaian yang tidak aman, mengambil posisi kerja yang berisiko, serta bekerja dengan ceroboh12.
Unsafe action ini disebabkan oleh kesalahan yang dilakukan secara tidak disengaja dan pelanggaran yang dilakukan secara sengaja. Menurut konsep perilaku yang dikemukakan oleh Notoadmodjo, terdapat dua fator utama yang mempengaruhi unsafe action yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal mencakup karakteristik individu yang bersifat bawaan, seperti pengetahuan, motivasi, jenis kelamin, presepsi, sikap, dan lainnya. Sementara itu, faktor eksternal berkaitan dengan lingkungan yang meliputi aspek fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan sebagainya31.
Menurut Suma’mur tindakan tidak aman merupakan perbuatan yang dilakukan oleh individu maupun beberapa pekerja yang meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelaan kerja. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Heindrich ditemukan bahwa penyebab terbesar kecelakaan yang ada di lingkungan kerja adalah tindakan tidak aman yang dilakukan oleh pekerja yaitu sebanyak 88%11. Dapat disimpulkan
26
bahwa unsafe action merujuk pada tindakan yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja tentunya menimbulkan berbagai kerugian, baik bagi perusahaan maupun pekerja. Menurut Septiana (2014) kerugian yang ditimbulkan dapat berupa kerugian materiil hingga menyebabkan korban jiwa. Dewan Keselamatan dan Kesehatan kerja juga menyatatakan bahwa kecelakaan kerja menghasilkan kerugian, yaitu kerugian langsung (direct loss) berupa biaya yang digunakan untuk pengobatan dan biaya perbaikan fasilitas yang mengalami kerusakan. Dan kerugian tidak langsung (indirect loss) hilangnya jam kerja karyawan yang dapat menyebabkan penurunan produksi32.
2.2.2 Jenis - Jenis Tindakan Tidak Aman (Unsafe Action)
Tindakan tidak aman yang sering dijumpai di tempat kerja menurut Suma’mur (2015) adalah sebagai berikut 33:
a. Melakukan tugas yang bukan menjadi tanggung jawab b. Gagal memberikan peringatan
c. Mengoperasikan peralatn dengan kecepatan melebihi batas yang telah ditentukan
d. Melepaskan atau merusak alat pengaman sehingga tidak berfungsi e. Menggunakan alat dalam kondisi rusak
f. Tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) g. Memuat barang melebih kapasitas yang aman
h. Menempatkan barang di Lokasi yang tidak semestinya i. Mengangkat beban secara berlebihan
j. Posisi kerja yang tidak tepat
k. Melakukan perbaikan saat mesin masih beroperasi
27 l. Bersenda gurau
m. Bertengkar
n. Berada dalam pengaruh obat-obatan atau alcohol
Jenis tindakan tidak aman menurut Heinrich yang dikutip pada penelitian yang dilakukan oleh Pratiwi (2012) adalah:
a. Mengoperasikan peralatan dengan kecepatan yang tidak sesuai b. Mengoperasikan peralatan yang bukan haknya
c. Menggunakan peralatan yang tidak pantas d. Menggunakan peralatan yang tidak benar e. Membuat peralatan safety tidak berfungsi
f. Kegagalan untuk memperingatkan karyawan lain g. Kegagalan untuk menggunakan alat pelindung diri
h. Beban, tempat dan materi yang tidak layak dalam pengangkatan i. Mengambil posisi yang salah
j. Mengangkat yang salah
k. Tidak disiplin dalam pekerjaan
l. Menservis peralatan yang sedang bergerak m. Meminum minuman yang beralkohol n. Mengkonsumsi obat-obatan
Sedangkan menurut Bird dan Germain jenis tindakan tidak aman yang dikutip pada penelitian yang sama adalah:
a. Mengoperasikan peralatan tanpa otoritas b. Gagal untuk mengingatkan
c. Gagal untuk mengamankan
28
d. Pengoperasian dengan kecepatan yang tidak sesuai e. Membuat peralatan safety menjadi tidak beroperasi f. Memindahkan peralatan safety
g. Menggunakan peralatan yang rusak
h. Menggunakan peralatan secara tidak benar i. Tidak menggunakan APD
j. Loading barang yang salah k. Penempatan barang yang salah l. Pengangkatan yang salah
m. Memperbaiki peralatan pada saat beroperasi n. Posisi yang salah dalam bekerja
o. Bercanda
p. Dibawah pengaruh alkohol dan atau obat
2.2.3 Penyebab Tindakan Tidak Aman (Unsafe Action)
Tindakan merupakan respon seseorang terhadap stimilus dalam bentuk nyata atau terbuka. Suatu rangsangan akan direspon oleh seseorang sesuai dengan arti rangsangan itu bagi orang yang bersangkutan. Respon atau reaksi ini disebut perilaku, bentuk perilaku dapat bersifat sederhana dan kompleks. Dalam peraturan teoritis, tingkah laku dapat dibedakan atas sikap, di dalam sikap diartikan sebagai suatu kecenderungan potensi untuk mengadakan reaksi (tingkah laku). Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan, untuk terwujudnya sikap agar menjadi suatu tindakan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi fasilitas yang memungkinkan30. Menurut Lawreen Green (1991) faktor-faktor yang menimbulkan perilaku adalah15:
29
1. Faktor Predisposisi (Predisposing factors)
Faktor predisposisi merupakan faktor yang dapat mempermudah dan mendasari terjadinya perubahan perilaku atau tindakan pada individu.
Faktor predisposisi meliputi pengetahuan, sikap, kepercayaan, umur, tingkat pendidikan, dan persepsi yang berhubungan dengan motivasi individu untuk bertindak atau berperilaku.
2. Faktor pemungkin atau pendukung (Enabling factors)
Faktor pemungkin sebagai faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi terjadinya perilaku atau tindakan. Faktor pemungkin adalah keterampilan dan sumber daya yang diperlukan untuk melakukan perilaku, seperti tersedianya sarana dan prasarana.
3. Faktor penguat (Reinforcing factors)
Faktor penguat merupakan faktor yang dapat memperkuat atau terkadang justru memperlunak untuk terjadinya perilaku (menentukan apakah perilaku kesehatan didukung). Faktor penguat akan memperkuat perilaku dengan memberikan penghargaan secara terus menerus pada perilaku dan berperan pada terjadinya pengulangan. Pengetahuan, sikap, dan fasilitas yang tersedia terkadang belum menjamin terjadinya perilaku seseorang. Faktor ini dipengaruhi oleh rekan di tempat kerja dan pengawasan yang ada.
Menurut The human Factor Analysis and Classification System (HFACS), tindakan tidak aman (unsafe action) terdiri atas 2, yaitu kesalahan manusia (human error) dan pelanggaran (violation). Human error merujuk pada kegiatan mental dan fisik seseorang yang gagal mencapai hasil yang diinginkan, sedangkan violation mengacu pada niat untuk sengaja mengabaikan petunjuk atau aturan yang telah
30
ditetapkan dalam melakukan suatu kegiatan. Penyebab tindakan tidak aman menurut teori Ramsey yang dikutip dari Dermawan 2018 terdapat 4 faktor yang mempengaruhi tindakan kerja yang aman maupun tidak aman, yaitu16 :
1. Pengamatam (preception)
Pada tahap ini, individu akan mengidentifikasi suatu potensi bahaya, namun belum dapat mengaitkan bahaya tersebut dengan tindakan yang dapat mempengaruhi keselamatan dalam pekerjaan. Tahap ini dipengaruhi oleh kemampuan sensorik, presepsi, dan kewaspadaan individu.
2. Kognitif (cognition)
Individu telah mengidentifikasi bahaya, namun belum memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup untuk menyadari bahwa hal tersebut berpotensi membahayakan. Akibatnya, tindakan yang aman tidak dilakukan.
Tahap ini dipengaruhi oleh pengalaman, sosialiasi, kemampuan mental, dan daya ingat individu.
3. Pengambilan keputusan (decision making)
Meskipun individu telah mengenali dan memahami adanya bahaya, tindakan tidak aman akan terjadi jika individu tersebut tidak mengambil keputusan untuk menghindari atau menjauhi potensi kecelakaan. Proses pengambilan keputusan ini dipengaruhi oleh pengalaman, sikap, pelatihan, kepribadian, motivasi, dan kecendrungan dalam menghadapi risiko
4. Kemampuan (ability)
Pada tahap ini, jika individu tidak memiliki keterampilan atau kemampuan untuk menghindari bahaya, maka tindakan yang aman tidak akan terwujud. Tahap ini bergantung pada factor-factor seperti kemampuan fisik, kemampuan psikomotorik, dan proses fisiologis.
31
Keempat faktor tersebut merupakan suatu proses yang sekuensial mulai dari yang pertama hingga yang terakhir. Bila ke empat tahapan ini dapat berlangsung dengan baik maka akan dapat terbentuk suatu periaku yang aman16.
2.3 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Unsafe Action 2.3.1 Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga34. Terbentuknya pengetahuan sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan presepsi terhadap objek30. Tanpa pengetahuan seseorang tidak mempunyai dasar untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan terhadap masalah yang dihadapi34.
Pengetahuan adalah hasil dari proses mencari tahu, dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dapat menjadi dapat. Dalam proses mencari tahu ini mencakup berbagai metode dan konsep-konsep, baik melalui proses pendidikan maupun melalui pengalaman. Ciri pokok dalam taraf pengetahuan adalah ingatan tentang sesuatu yang diketahuinya baik melalui pengalaman, belajar, ataupun informasi yang diterima dari orang lain20. Pengetahuan merupakan salah satu faktor penting dalam memotivasi seseorang dalam bertindak. Perilaku seseorang yang didasari pengetahuan akan lebih bersifat bertahan lama dari pada perilaku seseorang tanpa didasari pengetahuan.
Semakin positif perilaku yang dilakukannya akan mampu menghindari kejadian yang tidak diinginkan 35.
32
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan34:
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain dapat menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.
2. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagian suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari
3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum – hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen – komponen, tetapi masih di dalam satu struktur
33
organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian – bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi – formulasi yang ada.
6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian – penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria – kriteria yang telah ada
Pekerja yang memiliki pengetahuan tentang keselamatan dan kesehatan kerja yang kurang akan cenderung bekerja secara terburu-buru dan ingin menyelesaikan pekerjaan dengan cepat guna menghemat waktu istirahat menjadi lebih cepat35. Kurangnya pengetahuan K3 pekerja terkait dengan bahaya dan risiko bahaya dan risiko kecelakaan kerja, yang menyebabkan ketidakpedulian pada pekerja. Mereka terdorong untuk melakukan tindakan tidak aman yang dapat membahayakan keselamatan mereka18. Hal ini dikarenakan ketidaktahuan dan ketidaksadaran pekerja akan pentingnya prosedur dan peraturan dalam bekerja guna melindungi pekerja itu sendiri. Oleh karena itu pengetahuan pekerja yang kurang tentang keselamatan dan kesehatan kerja dapat menimbulkan kecelakaan kerja35.
34
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden30. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ayu Sekar (2023) menyatakan bahwa adanya korelasi antara antara pengetahuan K3 dan tindakan tidak aman pada pekerja pekerja bagian produksi di PT Mandiri Java Food18. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ardila, dkk pada tahun 2022 yang menyebutkan bahwa unsafe action dilakukan oleh pekerja yang memiliki tingkat pengetahuan rendah yaitu sebanyak 61 (92.4%)11. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Bird dan Germain dalam teori Loss Causation Model bahwa pengetahuan K3 merupakan bagian dari faktor personal personal yang dianggap sebagai akar dari masalah dan penyebab sebenarnya di balik tindakan tidak aman18. 2.3.2 Sikap
Sikap adalah respons tertutup seseorang terhadap suatu stimulus atau objek, baik yang bersifat intern maupun ekstern sehingga manifestasinya tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup tersebut. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku. Sikap kerja yang dilakukan oleh pekerja sebagai akibat interaksi dengan fasilitas atau alat yang digunakan ataupun kebiasaan pekerja dalam melakukan pekerjaannya. Sikap juga merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan juga merupakan pelaksanaan motif tertentu.
Menurut Gerungan (2002), sikap merupakan pendapat maupun pendangan seseorang tentang suatu objek yang mendahului tindakannya. Sikap tidak mungkin terbentuk sebelum mendapat informasi, melihat atau mengalami sendiri suatu objek30.
35
Sikap seseorang dapat berubah melalui penekanan keselamatan selama kursus pelatihan dan pendidikan. Sehingga apabila pengetahuan pekerja tentang faktor faktor penyebab kecelakaan kerja baik, maka dapat menimbulkan sikap dari pekerja yang baik juga. Jika seseorang bersikap baik akan cenderung memilih berperilaku aman saat bekerja. Perilaku aman inilah yang diharapkan mampu menghindarkan pekerja dari hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan kerja. Selanjutnya pekerja yang memiliki sikap baik akan meras bahwa prosedur dan peraturan keselamatan dan kesehatan kerja dibuat dan dibentuk untuk melindungi dan meningkatkan produktivitas pekerja36.
Sebaliknya jika pekerja memiliki sikap buruk maka akan cenderung tidak peduli terhadap lingkungan dan bahaya yang ada ditempat kerja. Meraka merasa bahwa prosedur dan peraturan keselamatan dan kesehatan kerja hanya dibuat dan dibentuk untuk kepentingan perusahaan dan hanya membebani pekerja dengan beberapa peraturan yang menurutnya menghambat kinerja. Sehingga yang memiliki sikap buruk akan melakukan perilaku tidak aman saat bekerja yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Pembentukan sikap dapat dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh kebudayaan, dan media informasi36.
Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu30: 1. Menerima (receiving). Diartikan bahwa orang (subjek) mau dan
memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).
2. Merespon (responding). Memberikan jawaban bila ditanya, mengerjakan atau menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
3. Menghargai (valuing). Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
36
4. Bertanggung jawab (responsibility). Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi.
Pengukuran sikap dapat dilakuan secara langsung atau tidak langsung, melalui pendapat atau pertanyaan responden terhadap suatu objek secara tidak langsung dilakukan dengan pertanyaan hipotesis, kemudian dinyatakan pendapat responden. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh. Noviyanti, dkk (2023) pada pekerja ketinggian di PT.X Kota Batam, dari 30 responden, sebanyak 23 responden (76,7%) yang memiki sikap baik dan sebanyak 7 responden (23,3%) memiliki sikap tidak baik. Dari hasil penilitian ini didapatkan bahwa pekerja yang memiliki sikap yang baik lebih banyak dibandingkan dengan sikap pekerja yang tidak baik, karena para pekerja telah mengikuti aturan yang telah dibuat oleh pihak perusahaan sehingga adanya kesadaran sikap dari setiap pekerja untuk tidak melakukan kegiatan unsafe action19.
2.3.3 Rekan Kerja
Rekan kerja merupakan ikatan yang terjadi ketika seseorang berada pada situasi yang sama dengan tujuan yang sama dan mereka satu sama lain saling membantu membangkitkan semangat, menjadi lebih giat dan aktif, dan berguna dalam mediskusikan suatu keputusan37. Hubungan interpersonal di antara rekan kerja yang mendukung dan dapat dipercaya akan menimbulkan keamanan psikologis, dimana pekerja merasa percaya akan keselamatannya saat bekerja di tempat kerjanya.
Kepercayaan interpersonal dapat berupa kognitif atau afektif keyakinan kognitif terkait dengan konsistensi dan loyalitas kepada orang lain. Kepercayaan afektif berakar pada hubungan emosional antar individu20.
Teori Lawrence Green menyatakan bahwa rekan kerja merupakan faktor reinforcing dalam membentuk perilaku keselamatan. Peran pihak management untuk
37
menjalin hubungan interpersonal antar rekan kerja sangat dibutuhkan, perusahan dapat melakukan perkumpulan yang didalamnya terdapat perwakilan dari pihak management dan pekerja untuk berbincang santai dengan topic keselamatan, kegiatan ini dapat meningkatkan hubungan interpersonal yang akan meningkatkan awareness pekerja terkait keselamatan saat bekerja maupun kenyamanan di tempat kerja. Belum banyak penelitian mengenai hubungan rekan kerja dengan tindakan tidak aman, namun pada tahun 2020 Dwi, dkk melakukan penelitian literature review mengenai faktor terjadinya unsafe action pada pekerja sektor manufaktur dan disimpulkan bahwa rekan kerja memiliki hubungan dengan kejadian unsafe action karena rekan kerja sebagai role model bagi pekerja lainnya dalam melakukan tindakan saat bekerja20. Dan pada tahun 2016 Sudarmo, dkk melakukan penelitian di RSUD Ulin Banjarmasin didapatkan hasil bahwa adanya pengaruh yang tidak signifikat terhadap kepatuhan penggunaan APD pada perawat21.
2.3.4 Sosialisai K3
Sosialisasi K3 merupakan bagian dari kampanye K3 yang mencakup pendidikan dan pelatihan, bertujuan untuk menyebarluaskan informasi mengenai kesehatan dan keselamatan kerja kepada semua pekerja, sehingga meningkatkan pengetahuan mereka. George menjelaskan bahwa promosi K3 adalah usaha untuk meningkatkan kesadaran dan perilaku pekerja dalam hal keselamatan, melindungi mereka dari kecelakaan kerja, serta menjaga properti dan lingkungan.Sosialisasi K3 sangat penting dalam mencegah unsafe action, yang sering menjadi penyebab utama kecelakaan kerja dengan risiko cedera serius atau kematian. Pada penelitian yang dilakukan oleh Emylia (dkk) ditahun 2024 menunjukkan bahwa adanya hubungan antara sosialisasi K3 dengan kejadian unsafe action22.
38
Sosialisasi K3 bertujuan untuk melindungi kesehatan dan keselamatan pekerja.
Meningkatkan kesadaran pekerja tentang bahaya potensial dan langkah-langkah pencegahan yang tepat dapat membantu mengurangi risiko cedera dan penyakit akibat kerja. Pekerja yang diberikan pemahaman edukasi dalam aspek K3, maka akan mampu bekerja lebih efisien dan produktif. Ketika kecelakaan atau cedera terjadi, pekerjaan dapat terhenti, dan biaya perbaikan atau ganti rugi dapat meningkatkan beban finansial. Melalui sosialisasi K3 secara rutin, budaya keselamatan dan kesehatan dapat dikembangkan di dalam tempat kerja. Pekerja akan menginternalisasi pentingnya K3 dan menerapkannya dalam setiap aspek pekerjaan mereka, membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan sehat25.
Sosialisasi tentang K3 memberikan kesempatan untuk memberikan penyuluhan dan pengetahuan baru kepada pekerja. Hal ini akan meningkatkan kesadaran mereka tentang risiko potensial dan langkah-langkah pencegahan yang dapat mereka ambil untuk melindungi diri mereka dan rekan kerja. Memperkenalkan praktik K3 yang baik dapat membantu mengurangi biaya perawatan dan pemeliharaan mesin, karena karyawan akan belajar cara merawat peralatan dengan benar, mengurangi risiko kerusakan, dan memperpanjang umur peralatan. Melalui kegiatan sosialisasi K3 di dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman, lebih sehat, dan lebih produktif25. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Decy (dkk) pada tahun 2021 bahwa setelah pelaksanaan sosialiasi K3 meningkatkan pengetahuan karyawan di kantor Yayasan X, sehingga para karyawan mulai menyadari pentingnya menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja38.
2.3.5 Pengawasan K3
39
Pengawasan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah proses yang memastikan bahwa semua prosedur dan praktik keselamatan di tempat kerja dijalankan dengan baik, bertujuan utama untuk mencegah kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Fokus utama pengawasan K3 adalah mengawasi kejadian tindakan tidak aman (unsafe action), yang memicu terjadinya kecelakaan kerja. Menurut teori domino kecelakaan kerja22. Bird dan Loftus, salah satu faktor penyebab kecelakaan kerja adalah ketidakmampuan manajemen untuk mengawasi keselamatan kerja39. Dan teori Loss Causation Models menjelaskan bahwa penyebab langsung kecelakaan berasal dari tindakan dan kondisi tidak aman. Jika pengawasan tidak dilakukan secara efektif, penyebab dasar kecelakaan yang terkait dengan faktor individu dan lingkungan kerja dapat muncul22.
PP No. 50 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen K3 menyatakan bahwa40: a. Dilakukan pengawasan untuk menjamin bahwa setiap pekerjaan
dilaksanakan dengan aman dan mengikuti setiap prosedur dan petunjuk yang telah ditentukan.
b. Setiap orang diawasi dengan tingkat kemampuan mereka dan tingkat risiko tugas.
c. Pengawas ikut serta dalam identifikasi bahaya dan membuat upaya pengendalian
d. Pengawas diikutsertakan dalam pelaporan dan penyelidikan penyakit akibat kerja dan kecelakaan dan wajib menyerahkan laporan saran-sarn kepada pengurus
e. Pengawas ikut serta dalam proses konsultasi.
40
Pengawasan K3 dilakukan di setiap tempat kerja agar keselamatan dan kesehatan para pekerja terjamin supaya tidak menimbulkan risiko yang tidak diinginkan. Jaminan dalam perlindungan keselamatan kerja akan menciptakan suasana kerja yang tenteram sehingga para pekerja dapat fokus bekerja tanpa perlu khawatir akan kecelakaan kerja sewaktu-waktu41. Dengan pengawasan yang konsisten, pengawas dapat mendeteksi perilaku dan kondisi berbahaya, sehingga dapat mengambil tindakan mitigasi yang tepat. Pengawasan yang aktif juga meningkatkan kesadaran pekerja tentang pentingnya keselamatan. Selain itu, pengawasan K3 termasuk pelatihan berkelanjutan untuk membantu pekerja memahami risiko, serta menganalisis kejadian untuk menyebarkan dan memperbaiki prosedur yang ada.
Dengan pengawasan yang konsisten, budaya keselamatan dapat terbangun. Secara keseluruhan, pengawasan K3 sangat penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan produktif 22.
Pengawasan sangat penting dalam upaya membentuk perilaku aman para pekerja. Seperti halnya peraturan, pengawasan dilakukan untuk memberi motivasi kepada pekerja untuk berperilaku aman. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Suwignyo (dkk) pada tahun 2022 ditemukan bahwa pekerja menyatakan pengawasan kurang mereka dapatkan pada saat bekerja hal ini dikarenakan perilaku aman yang dilakukan hanya dipengaruhi adanya pengawasan oleh pihak pengawas, terlepas dari tidak adanya pengawasan maka pekerja akan mulai menerapkan perilaku tidak aman kembali. Namun sebagian dari pekerja menyadari bahwa bukan hanya bergantung pada pengawasan saja untuk mencapai keselamatan dalam bekerja melaikan kesadaran dalam berperilaku aman sangat utama dalam menunjang keselamatan bekerja42. sejalan dengan penelitian Emylia (dkk) pada tahun 2024 yang menunjukkan adanya hubungan pengawasan dengan kejadian unsafe action. Mayoritas pekerja yang
41
melakukan unsafe action lebih tinggi saat pengawasan petugas kurang baik, di bandingkan pada saat pengawasan yang baik22.
42 2.4 Telaah Sistematis
Table
No Peneliti Tahun Judul Desain Variabel Hasil Penelitian
1 Dwina Aulia Putri 2024 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Tidak Aman pada Pekerja Stasiun Pengisian dan Pengangkut Bulk Elpiji Kota Payakumbuh 2024
Cross sectional
1. Pengetahuan 2. Sikap
3. Masa kerja 4. Pengawasan
K3 5. Presepsi
terhadap risiko 6. Sosialisasi K3
Terdapat hubungan antara pengetahuan (p- value = 0,034), sikap (p-value = 0,000) dan persepsi (p-value = 0,001) dengan perilaku tidak aman.
Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara masa kerja (p-velue = 0,000), pengawasan (p-velue = 0,592), presepsi terhadap risiko (p-velue = 0,001), dan sosialiasi K3 (p-velue = 0,100) dengan perilaku tidak aman
2 Emylia Ruznaiza, Sestiono
Mindiharto
2024 Hubungan Pengawasan dan Sosialisasi
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan Kejadian Unsafe Action di Pt. X
Cross sectional
1. Pengawasan K3
2. Sosialisasi K3
Terdapat hubungan antara pengawasan (p=0,011 dan OR=3,500) dan sosialisasi K3 (p=0,002 dan OR=4,511) dengan kejadian unsafe action.
3 Ayu Sekar Pawening, Tri Martiana
2023 Correlation Between Ohs Knowledge, Motivation, Work Stress, and Unsafe Action (Study on
Production Section
Cross sectional
1. Pengetahuan 2. Motivasi 3. Stress kerja
Korelasi yang lemah antara tindakan tidak aman dengan pengetahuan K3 (r = -0,351), kolerasi sedang motivasi (r = 0,491), dan stress kerja (r = 0,479)