• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROTEKSI ISI LAPORAN PENELITIAN - Unissula

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PROTEKSI ISI LAPORAN PENELITIAN - Unissula"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

PROTEKSI ISI LAPORAN PENELITIAN: Dilarang menyalin, menyimpan, memperbanyak sebagian atau seluruh isi laporan ini dalam bentuk apapun kecuali oleh peneliti dan pengelola

administrasi penelitian

LAPORAN PENELITIAN INTERNAL UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG

IDENTITAS PENELITIAN A. JUDUL PENELITIAN

Evaluasi Risiko Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) pada Makanan di Indonesia: Studi Pendahuluan

B. BIDANG, TEMA, TOPIK, DAN RUMPUN BIDANG ILMU Bidang Unggulan

Perguruan Tinggi Tema Topik (jika ada) Rumpun Bidang Ilmu

Kesehatan Toksikologi Keamanan Pangan Biologi dan

Bioteknologi Umum

C. KATEGORI, SKEMA, TARGET TKT, DAN LAMA PENELITIAN Kategori Skema Penelitian (Penelitian

Dasar/Terapan/Pengembangan) Target Akhir TKT

Lama Penelitian

(Tahun)

Penelitian Internal 1 1

D. IDENTITAS PENGUSUL Nama,

Peran (Ketua, Anggota 1, Anggota 2)

Institusi

(Fakultas) Program

Studi Tugas ID Sinta H-

Index dr. H. Harka

Prasetya, Sp.M (K)

Kedokteran Profesi

Dokter Ketua -

Dr. Suparmi, S.Si, M.Si (ERT)

Kedoktera Pendidikan

Dokter Anggota 203 Google

Scholar

= 6 Scopus

= 3

(2)

E. MITRA KERJASAMA PENELITIAN (JIKA ADA)

Pelaksanaan penelitian dapat melibatkan mitra kerjasama, yaitu mitra kerjasama dalam melaksanakan penelitian, mitra sebagai calon pengguna hasil penelitian, atau mitra investor

Mitra Nama Mitra

- -

F. LUARAN DAN TARGET CAPAIAN (Luaran Wajib) Tahun

Luaran Jenis Luaran

Status target capaian (accepted, published, terdaftar atau granted,

atau status lainnya)

Keterangan (url dan nama jurnal, penerbit, url paten, keterangan sejenis lainnya) 2021 Manuscript di jurnal

nasional terakreditasi Draft Sains Medika

Luaran Tambahan Tahun

Luaran Jenis Luaran

Status target capaian (accepted, published, terdaftar atau granted,

atau status lainnya)

Keterangan (url dan nama jurnal, penerbit, url paten, keterangan sejenis lainnya)

G. ANGGARAN

Rencana anggaran biaya penelitian mengacu pada PMK yang berlaku dengan besaran minimum dan maksimum sebagaimana diatur pada buku Panduan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNISSULA.

Total RAB: Rp. 10.000.000,-

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

(4)

LAPORAN PENELITIAN

Pengisian poin A sampai dengan poin G mengikuti template berikut dan tidak dibatasi jumlah kata atau halaman namun disarankan seringkas mungkin. Dilarang menghapus/memodifikasi template ataupun menghapus penjelasan di setiap poin.

A. HASIL PELAKSANAAN PENELITIAN

Tuliskan secara ringkas hasil pelaksanaan penelitian yang telah dicapai sesuai tahun pelaksanaan penelitian. Penyajian meliputi data, hasil analisis, dan capaian luaran (wajib dan atau tambahan). Seluruh hasil atau capaian yang dilaporkan harus berkaitan dengan tahapan pelaksanaan penelitian sebagaimana direncanakan pada proposal. Penyajian data dapat berupa gambar, tabel, grafik, dan sejenisnya, serta analisis didukung dengan sumber pustaka primer yang relevan dan terkini.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengumpulkan semua informasi yang tersedia tentang konsentrasi Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) pada makanan maupun bahan makanan yang berasal dari Indonesia. Data yang diperoleh kemudian digunakan untuk mengevaluasi risiko paparan PAH sebagai akibat dari bahan makanan tersebut. Pendekatan analisis risiko yang digunakan adalah: i) Margin of Exposure (MOE) yang diusulkan oleh EFSA untuk senyawa yang bersifat genotoksik dan karsinogenik 1 dan ii) pendekatan risiko kanker hati kuantitatif yang diusulkan oleh Organisasi Pertanian Pangan (FAO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO))2. PAH umumnya diproduksi ketika daging terpapar suhu tinggi seperti pada sate dan daging panggang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif dengan menggunakan data kandungan PAH pada makanan di Indonesia yang sudah dipublikasikan.

Kejadian Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) pada Makanan di Indonesia dan Perkiraan Paparan melalui konsumsi makanan di Indonesia

Data kadar PAH yang terdeteksi pada makanan di Indoenesia dikumpulkan melalui referensi google scholar dan scopus dengan kata kunci PAH di Indonesia, resiko aflatoxin di Indonesia dan tingkat kontaminasi PAH di Indonesia. Pengumpulan data ini akan dilakukan pada bulan Desember 2020 – Januari 2021. Selain itu, sebagai pembanding data kontaminasi aflatoxin dikumpulkan melalui sistem Alert Food and Feed Safety Alerts (RASFF) untuk mengecek data PAH yang pada makanan yang diimpor dari Indonesia3. Perkiraan intake harian (EDI = estimated daily intake) PAH dihitung berdasarkan data kadar aflatoksin yang diperoleh dari makanan di Indonesia berdasarkan karakteristik orang Indonesia, dengan berat badan of 54 kg, rata-rata berat badan orang Indonesia perempuan dan laki-laki4. Sedangkan

(5)

untuk PAH dari makanan yang diimpor dari pasar European Union EDI akan dihitung dengan asumsi berat badan 70 kg, sebagai batasan berat badan orang dewasa di Eropa menurut EFSA.3

Untuk mengitung potensial paparan aflatoksin pada orang Indonesia melalui konsumsi makanan, EDI dihitung berdarkan persamaan 1 berikut:

𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸𝐸 = 𝑊𝑊 ×𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃𝑃

𝐵𝐵𝑊𝑊 (Persamaan 1)

dimana EDI dinyatakan dalam ng/kg bw/day. W adalah berat makanan yang dikonsumsi, dinyatakan dalam 4 g per hari berdasarkan data konsumsi dari BPS5. Kadar PAH dinyatakan dalam ng/kg untuk makanan yang padat. BW adalah berat badan orang Indonesia 54 kg.4

Tabel 1 menunjukkan data kejadian kontaminasi PAH B1 di Indonesia dan Table 2 menampilkan estimasi paparan melalui konsumsi makanan yang mengandung bahan makanan terkontaminasi. Sebagain besar kejadian cemaran aflatoxin ditemukan pada jagung yang merupakan makanan pokok kedua di Indonesia. Kadar PAH tertinggi ditemukan pada menu makanan yang dikoleksi di restoran di Jakarta yaitu pada kadar 9871ng/g sampel.6 Kadar ini jika dikonsumsi oleh manusia akan menghasilkan estimasi intake AfB1 (EDI) sebesar 731.19ng/kg bw/ hari.

Tabel 1. Data kejadian kontaminasi aflatokxin B1 di Indonesia Reference Nama

Makanan Lokasi Sampling Jumlah

sampel Kadar PAH

Minimum/Rerata (ng/g)

Kadar PAH Maksimum (ng/g) Irnanda et al

(2012)7 Sate ayam Jogyakarta 34 22 6171

Agustina et al,

20208 komposit (menu makanan di restoran)

Jakarta 30 9869 9871

Agustina et al,

20208 komposit (menu makanan di restoran)

Bogor 30 4748 4908

Tabel 2. Estimasi paparan PAH melalui konsumsi makanan yang mengandung bahan makanan terkontaminasi

Reference Perkiraaan paparan

minimum/rerata menurut data konsumsi dari Indonesia (ng/kg bw/ hari)

Perkiraaan paparan maksimum menurut data konsumsi dari Indonesia (ng/kg bw/ hari)

Irnanda et al (2012)7 1.63 457.11

Agustina et al, 20208 731.04 731.19

(6)

Agustina et al, 20208 351.70 363.56

Karakterisasi Risiko Keamanan Konsumsi AfB1 pada Konsumen

Analisa resiko keamanan paparan aflatoksin melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi senyawa ini dilakukan dengan pendekatan margin of exposure (MOE) sesuai dengan rekomendasi dari EFSA untuk penilaian risiko senyawa genotoksik dan karsinogenik.1 Nilai MOE dihitung dengan persamaan 2 berikut:

𝑀𝑀𝑀𝑀𝐸𝐸=𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐵𝐸𝐸𝐵𝐵𝐸𝐸 10 (Persamaan 2)

dimana MOE adalah tanpa satuan, nilai BMDL10 (benchmark dose lower confidence limit for 10% extra risk) adalah 170 ng/kg bw/day berdasarkan data penelitian insiden tumor pada tikus, EDI dihitung dengan persamaan 1 yang dinyatakan dalam mg/kg bw/day. Jika nilai MOE lebih dari 10.000 maka konsumsi aflatoksin pada makanan di Indonesia dinyatakan sebagai prioritas rendah untuk manajemen risiko dan meimliki konsen yang rendah untuk kesehatan masyarakat Indonesia. Sebaliknya apabila nilai MOE kurang dari 10.000 maka konsumsi aflatoksin pada makanan di Indonesia perlu diprioritaskan untuk langkah menajemen resiko. Nilai 10.000 mencakup faktor 10 untuk perbedaan spesies antara manusia dan tikus, faktor 10 untuk perbedaan antar individu manusia dalam kapasitas metabolisme, faktor 10 untuk perbedaan kemampuan siklus sel dan repair kerusakan DNA tiap individu dan faktor 10 terakhir untuk koreksi penggunanan BMDL10 sebagai point of departure (POD) bukan NOAEL (No observed health effect level). 1

Gambar 1 menampilkan range nilai MOE berdasarkan EDI minimum/rerata dan EDI maksimum dari paparan PAH pada konsumen Indonesia. Nilai MOE <10,000 menunjukkan bahwa konsumsi PAH pada makanan di Indonesia perlu diprioritaskan untuk langkah menajemen resiko untuk mencegah resiko kanker hati.

(7)

MOE values

10-1 100 101 102 103 104 105 106 107 108

Irnanda et al (2012)7 Agustina et al 2020 (JAkarta) Agustina et al 2020 (Bgoor)

Gambar 1. Nilai MOE berdasarkan estimasi paparan PAH melalui konsumsi makanan bahan makanan yang terkontaminasi PAH.

B. STATUS LUARAN

Tuliskan jenis, identitas dan status ketercapaian setiap luaran wajib dan luaran tambahan (jika ada) yang dijanjikan. Jenis luaran dapat berupa publikasi, perolehan kekayaan intelektual, hasil pengujian atau luaran lainnya yang telah dijanjikan pada proposal. Uraian status luaran harus didukung dengan bukti kemajuan ketercapaian luaran sesuai dengan luaran yang dijanjikan. Lengkapi keterangan jenis luaran yang dijanjikan serta mengunggah bukti dokumen ketercapaian luaran wajib dan luaran tambahan melalui Sippmas.

Luaran wajib berupa artikel di jurnal nasional terakreditasi.

Nama jurnal : Sains Medika Akreditasi : Sinta 3 (S3) Status : Draft

(8)

C. PERAN MITRA

Tuliskan realisasi kerja sama dan kontribusi Mitra baik in-kind maupun in-cash (untuk Penelitian Terapan dan Penelitian Pengembangan). Bukti pendukung realisasi kerja sama dan realisasi kontribusi mitra dilaporkan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Bukti dokumen realisasi kerja sama dengan Mitra dilampirkan bersama laporan ini.

Tidak ada Mitra

D. KENDALA PELAKSANAAN PENELITIAN

Tuliskan kesulitan atau hambatan yang dihadapi selama melakukan penelitian dan mencapai luaran yang dijanjikan, termasuk penjelasan jika pelaksanaan penelitian dan luaran penelitian tidak sesuai dengan yang direncanakan atau yang dijanjikan.

Tidak semua referensi yang sudah terbit tentang cemaran PAH di Indonesia mencantumkan data yang lengkap tentang jumlah sampel, lokasi sampel, kadar minimal dan kadar maksimal.

Sebagaian besar artikel yang sudha terbit menyajiakan data kandungan PAH pada serairan seperti laut, teluk maupun pada sedimen. Sangat minim data mengenai kadar PAH pada makanan di Indonesia.

E. KESIMPULAN DAN SARAN

Tuliskan dan uraikan kesimpulan dari pelaksanaan dan hasil penelitian yang sudah dilaksanakan dalam bentuk poin (1., 2., dst). Tuliskan dan uraikan saran untuk kemungkinan dilanjutkannya penelitian berikutnya, baik oleh peneliti yang bersangkutan maupun oleh peneliti lainnya dalam bentuk poin (1., 2., dst).

Kesimpulan

Konsumsi PAH pada makanan di Indonesia perlu diprioritaskan untuk langkah menajemen resiko untuk mencegah resiko kanker hati.

Saran

Penelitian akan dilanjutkan dengan mencari pustaka yang lebih banyak untuk memenuhi kriteria sesuai dengan analisa manajemen risiko dengan menggunakan pendekatan MOE.

Belum banyaknya penelitian nalaisa kandungan PAH pada makanan di Indonesia merupakan peluang untuk penelitian selanjutnya.

F. DAFTAR PUSTAKA

Penyusunan Daftar Pustaka berdasarkan sistem nomor sesuai dengan urutan pengutipan.

Hanya pustaka yang disitasi pada laporan kemajuan yang dicantumkan dalam Daftar Pustaka.

1. EFSA. Opinion of the Scientific Committee on a request from EFSA related to A Harmonised Approach for Risk Assessment of Substances Which are both Genotoxic and Carcinogenic. EFSA J. 2005;3(10):282. doi:doi:10.2903/j.efsa.2005.282

2. WHO. Aflatoxins Safety Evaluation of Certain Food Additives and Contaminants:

Prepared by the Forty-ninth Meeting of the Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA), World Health Organization (WHO Food Additives Series, No. 40), Geneva (1998). Published 1998. Accessed January 30, 2021.

(9)

http://www.inchem.org/documents/jecfa/jecmono/v040je16.htm

3. EFSA, Authority EFS. Opinion of the scientific panel on contaminants in the food chain [CONTAM] related to the potential increase of consumer health risk by a possible increase of the existing maximum levels for aflatoxins in almonds, hazelnuts and pistachios and derived products. EFSA J. 2007;5(3):446.

doi:10.2903/j.efsa.2007.446

4. FAO. Body Weights and Heights by Countries. In: Agriculture and Consumer Protection. Published 2017. Accessed March 13, 2017.

http://www.fao.org/docrep/meeting/004/M2846E/M2846E07.htm

5. BPS. Tingkat konsumsi per kapita tanaman pangan Indonesia. Accessed January 30, 2021. https://www.bps.go.id/

6. Yamashita A, Yoshizawa T, Aiura Y, et al. Fusarium Mycotoxins (Fumonisins, Nivalenol, and Zearalenone) and Aflatoxins in Corn from Southeast Asia. Biosci Biotechnol Biochem. 1995;59(9):1804-1807. doi:10.1271/bbb.59.1804

7. Irnanda K, Meiftasari A, Nagadi S, Lukitaningsih E. Safety Evaluation of Chicken Satay In Yogyakarta Indonesia Based on Benzo[a]pyrene Content. Indones J Cancer Chemoprevention. 2012;3:432. doi:10.14499/indonesianjcanchemoprev3iss3pp432- 436

8. Agustina SS, Lioe HN. Paparan Kontaminan Polisiklik Aromatik Hidrokarbon dari Konsumsi Makanan Siap Saji pada Penduduk Daerah Urban dan Rural. Published online 2020. http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/96255

G. LAMPIRAN

Lampirkan dokumen-dokumen dan foto pendukung kegiatan dan laporan.

Referensi

Dokumen terkait