KEBUDAYAAN MINANGKABAU DALAM NOVEL MENGURAI RINDU KARYA NANG SYAMSUDDIN
Ratna Juwita1, Eva Krisna2, Asri Wahyuni Sari2
1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat
2Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]
ABSTRACT
This research is motivated by Minangkabau culture which discuss about the implementation of Lela and Gunawan marriage in novel Mengurai Rindu by Nang Syamsuddin. The purpose of this research is to analyze and describe the culture of Minangkabau in Novel Mengurai Rindu by Nang Syamsuddin. This type of research is qualitative with descriptive method. Instruments in this study are researchers themselves. Based on the results of data analysis and research results of marriage implementation in Minangkabau in novels Mengurai Rindu works Nang Syamsuddin, namely as follows, First, pinang-meminang. Second, barunding and batuka tando. Third, manjapuik start. to the fourth, qabul ijab. Fifth, the delivery of dowries. Sixth, baralek. So it can be concluded that in the procedure of marriage implementation in Minangkabau in novel Mengurai Rindu works Nang Syamsuddin not be separated from Minangkabau cultural system.
Kerywords: Minangkabau Culture – Mengurai Rindu Nang Syamsuddin Works.
PENDAHULUAN
Minangkabau daerah yang kaya dengan nilai budaya juga menjadi salah satu daerah yang sering dijadikan sebagai latar penciptaan karya sastra sehingga kekhasan budaya Minangkabau diantaranya tampak dalam masalah perkawinan, hubungan kekerabatan, organisasi, sosial, filsafat alam, kesenian, individu dalam masyarakat dan sistem perkawinan. Karya sastra tersebut adalah novel yang berlatarkan budaya Minangkabau adalah novel Mengurai Rindu. Novel Mengurai Rindu yang ditulis oleh Nang Syamsuddin menceritakan tentang budaya Minangkabau yang berhubungan dengan masalah perkawinan yang ada di masyarakat Minangkabau.
Masyarakat Minangkabau yang secara
alami tidak mungkin hidup sendiri serta setiap individu membutuhkan orang lain untuk bisa hidup. Sudah menjadi hukum alam dan merupakan takdir Tuhan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain. Manusia membutuhkan manusia lain untuk hidup bersama dan bekerja sama.
Nang Syamsuddin penulis novel Mengurai Rindu. Ia merupakan pensiunan Dosen Sendratasik FBSS UNP Padang. Ia memiliki jabatan sebagai Lektor Kepala Pembina Utama Madya Golongan IV/d. Ia aktif menulis buku bina Drama, menulis beberapa cerpen, novel dan artikel tentang perempuan yang dimuat dalam beberapa harian di Sumbar. Beberapa karyanya antara lain Lagu Rindu dari Kampus
Selatan, Penari Kampus dan Mengurai Rindu.
Salah satu novel yang menceritakan kebudayaan Minangkabau adalah novel Menguri Rindu Karya Nang Syamsuddin. Novel ini memadukan kisah cinta, ekonomi, sosial dan budaya Minangkabau. Novel Mengurai Rindu dilatar belakangi oleh budaya Minangkabau yang membicarakan sistem perkawinan, seperti pinang-meminang, batuka tando, manjapuik marapulai, ijab qabul, penyerahan mahar, dan baralek.
Novel ini menggambarkan adat Minangkabau yang sudah lama dipakai dan diturun temurunkan kepada generasi penerus. Novel Mengurai Rindu ini menceritakan tentang tata cara pelaksanaan pernikahan Lela dan Gunawan. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk menganalisis dan mendeskripsikan kebudayaan Minangkabau dalam novel Mengurai Rindu karya Nang Syamsuddin.
Menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro,2010:9), novel berasal dari kata novella yang secara harfiah yang berarti sebuah barang baru yang kecil dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa. Novel juga dapat diartikan sebagai sebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek (Nurgiyantoro,2010:9). Menurut
Koentjaraningrat (2000:181), kata budaya berasal dari bahasa Sansakerta buddhaya, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” dan “akal”. Dengan demikian, budaya dapat diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal.
Setiadi dkk. (2007:214) mengatakan bahwa budaya adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dan sukar diubah, budaya dapat diartikan hasil dari adat istiadat.
Menurut Amir M.S (2009:65-66) setiap individu dalam hidupnya akan mengalami berbagai tingkatan. Tingkatan hidup yang dialami itu akan merubah sikap, mempengaruhi pola pikir, keadaan pisik dan keadaan sosial dari individu itu serta masyarakat lingkungannya.
Tingkatan-tingkatan hidup itu misalnya:
masa balita, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa setelah menikah dan masa tua. Sistem pernikahan di Minangkabau tidak terlepas dari adat dan agama Islam. Pernikahan yang tidak memenuhi syarat-syarat yang berlaku dianggap sumbang menurut adat Minangkabau. Di Minangkabau ada ketentuan Islam yang harus dipenuhi, yaitu paserek, pinang-meminang, barundiang, batuka tando, akad nikah, manjapuik marapulai, ijab qabul, penyerahan mahar, baralek dan lain-lainnya.
Menurut Amir M.S (2009:65-66) Manyiriah (meminang) adalah dimana
66666 66666 66666 6666
pihak perempuan yang mengirim utusan ke rumah pihak laki-laki, untuk meminta kesediaannya menjadi suami bagi anak perempuannya. batuka tando adalah bila pinangan telah diterima, berarti kedua belah pihak sudah memberikan persetujuan prinsip untuk melangsungkan pernikahan.
Manjapuik marapulai ini adalah acara adat yang paling penting dalam seluruh rangkaian acara perkanikahan menurut adat Minangkabau. Calon pengantin laki- laki dijemput dan dibawa ke rumah calon perempuan untuk melangsungkan akad nikah. Ijab kabul artinya serah terima, dimana orang tua si anak dara menyerahkan tanggung jawab atas anak perempuannya kepada laki-laki yang akan menjadi suami bagi anaknya. Penyerahan mahar merupakan pemberian mas kawin yang berupa uang, barang maupun perhiasan. Menurut istilah syara’ mahar ialah suatu pemberin yang wajib diberikan oleh suami kepada isteri dengan sebab pernikhan. Baralek (pesta) merupakan pesta peresmian dari ikatan pernikahan antara mempelai laki-laki dengan mempelai perempuan yang dilaksanakan setelah sah menjadi suami-istri.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Menurut Ratna (2010:47), penelitian kualitatif memberikan perhatian terhadap data ilmiah, data dalam hubungannya dengan
konteks keberadaannya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis. Ratna (2010:53) mengatakan bahwa metode deskriptif analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis.
Secara etimologis deskripsi dan analisis berarti menguraikan. Instrumen dalam penelitian ini adalah penelitian sendiri.
Data dalam penelitian ini adalah kutipan yang berhubungan dengan kebudayaan Minangkabau dalam novel Mengurai Rindu karya Nang Syamsuddin. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Mengurai Rindu karya Nang Syamsuddin.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut.
Pertama membaca secara saksama novel Mengurai Rindu karya Nang Syamsuddin yang bertujuan untuk mendapat pemahaman secara keseluruhan terhadap isi novel. Kedua, mengidentifikasi satuan- satuan peristiwa yang terkait dengan permasalahan penelitian dalam novel.
Ketiga, mengklasifikasikan data dalam bentuk format inventarisasi data. Keempat, menganalisis data yang berhubungan dengan kebudayaan Minangkabau dalam novel Mengurai Rindu karya Nang Syamsuddin. Teknik pengabsahan data dalam penelitian ini berupa uraian rinci.
Teknik analisis data penelitian dalam novel Mengurai Rindu karya Nang
Syamsuddin dilakukan dengan langkah- langkah sebagai berikut: pertama, Mendeskripsikan hasil analisis berkenaan dengan kebudayaan Minangkabau. Kedua, menganalisis data tentang kebudayaan Minangkabau. Ketiga, menyimpulkan hasil penelitian. Keempat, menulis laporan penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan analisis data dan hasil penelitian, maka diperoleh kebudayaan Minangkabau dalam novel Mengurai Rindu karya Nang Syamsuddin terbagi menjadi beberapa bagian yaitu: (1) pinang- meminang terdapat tujuh data yaitu sebagai berikut ini. (a) “mamaku bertanya, keluargaku atau keluargamu yang harus melamar”. (b) “gunawan bertanya padaku, siapa yang harus datang kalau terjadi acara lamar-melamar”. (c) “Menurutku, ikuti saja cara yang biasa dilakukan keluarga kita”. (d) “Lalu nanti kita kirim beberapa orang datang ke rumah ibunya untuk melamar”. (e) “Oh ya keluargaku memutuskan akan datang melamar ke rumah mamamu, sesuai dengan kebiasaan yang selama ini berlaku”. (f) “Acara melamar akan dilangsungkan pada hari ini.
Semua keluarga sudah berkumpul di rumahku. semua syarat untuk lancarnya acara ini sudah terletak di atas”. (g)
“Sudah tahu apa yang akan disebut nanti dalam rundingan itu Sawir ?. “Aku sudah
siap. Tapi kalau melakukan “pasambahan”
yang panjang-panjang jujur saja aku tidak biasa, jawab uda gadang”. (2) batuka tando terdapat tiga data yaitu sebagai berikut ini. (a) “hari ini hubunganmu dengan gunawan, sudah resmi keluarga sudah tahu. uda gadang menyerahkan kotak perhiasan itu padaku”. (b)
“Perempuan pembawa barang antaran itu harus diiringi laki-laki”. (c) “Pihak keluargaku menyodorkan cerana sirih, keluarga Gunawan menerimanya”. (3)
“manjapuik marapuai terdapat tujuh data yaitu sebagai berikut. (a) “Sebuah gelar untukku setelah menikah nanti. Karena menurut mamaku, seorang anak laki-laki dari keluarganya akan mendapat sebuah gelar kehormatan kalau sudah menikah, pertanda sudah dewasa”. (b) “urusan jemput-menjemput waktu akad nikah maupun baralek, soal itu yang harus di pastikan lebih dulu,”kata etek tangah.
“yang harus menjemput ketika akad nikah atau baralek itu kewajiban kita”. (c) “etek tangah sudah selesai memeriksa semua barang yang akan dibawa untuk menjemput calon minantu”. (d) “Yang pergi menjemput cukup tiga orang perempuan saja. Satu untuk membawa baki berisi jas, satu orang lagi membawa carano dan satu orang lagi membawa baki berisi sepatu dan payung kuning”. (e)
“pagi-pagi kira-kira pukul sembilan kita menjemput pengantin laki-laki ke
rumahnya.” (f) “Lamang pulut yang disusun di piring besar lengkap denga pinyaram, kalamai, goreng pisang dan kue- kue bolu besar, ada semur ayam seekor utuh, pangek ikan mas besar, ada sambal padeh daging, ada gulai bukek, ada nasi secambung. Ada sambal rabung dan ikan siam goreng”. (g) “Aku, mempelai perempuan, ikut dalam rombongan penjemputan itu. Jadi pada saat penjemputan itu mempelai perempuan sekaligus menjelang, mendatangi, rumah mertuanya”. (4) Ijab qabul terdapat tiga data yaiu sebagai berikut ini. (a) Aku dibawa keluar dari kamar. Di sandingkan dengan Gunawan yang telah duduk lebih dahulu di bawah pelaminan”. (b) “Ijab kabul berjalan lancar”. (c) “Setelah itu, dibacakan doa oleh Angku Kadhi itu sendiri. Semua yang hadir mengamininya.
Acara itu di tutup dengan makan bersama”. (5) penyerahan mahar terdapat satu data yaitu (1) “Gunawan menyerahkan maharnya diiringi tepuk tangan. Memang mahar gunawan berbeda dari biasa yang terjadi. Di depan yang hadir gunawan memberikan seperangkat alat sholat dan sebuah sertifikat rumah. (6) Baralek terdapat tiga data yaitu sebagai berikut ini. (a) “aku di dudukkan di bawah pelaminan, didampingi kedua pasumandan. Anggota rombongan yang lain duduk mengelilingi hidangan”. (b)
“Setelah acara makan selesai, Gunawan
bersanding denganku di pelaminan”. (c)
“Di halaman aula, rombongan disambut dengan tari gelombang. Rombongan diantar masuk aula oleh penari-penari cantik itu”.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa di dalam novel Mengurai Rindu karya Nang Syamsuddin terdapat kebudayaan Minangkabau yaitu pinang-meminang, batuka tando, manjapuik marapulai, ijab qabul, penyerahan mahar dan baralek.
DAFTAR PUSTAKA
Amir, M.S. 2009. Traditional Wedding of Minangkabau. Jakarta: Citra Harta Prima.
Koentjaraningrat. 2000. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press.
Ratna, Nyoman Kutha. 2010. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Syamsuddin, Nang. 2012. Mengurai Rindu. Yogyakarta: Rahima Intermedia Publising.