Harapannya, perbedaan perspektif kita terhadap arsitektur lokal yang ada di ruang-ruang 'eksklusif' bisa terekspos ke ruang-ruang yang lebih inklusif. Seperti buku pertamanya, buku ini berbentuk antologi yang mengangkat topik arsitektur lokal. Namun jika dicermati, ada topik arsitektur lokal di buku pertama yang sebenarnya dibahas lebih lanjut oleh penulis lain di buku ini.
Pengertian umum yang diungkapkan dalam istilah berikut: arsitektur tradisional, arsitektur vernakular, arsitektur kolonial, dan arsitektur kontemporer mau tidak mau terlibat dalam arsitektur vernakular. Sebagaimana telah disampaikan pada buku sebelumnya, pengertian kita tentang 'arsitektur lokal' adalah arsitektur yang berkembang dan mempunyai sejarah sejarah dalam perkembangan dan pemukiman masyarakat di wilayah geografis tertentu. Oleh karena itu, penulis mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas nikmat kejernihan pikiran dan ketekunan dalam menyelesaikan buku ini.
Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada beberapa pihak yang telah mendukung penerbitan buku ini. Salah satu yang tidak akan terlupakan adalah: rekan-rekan tercinta di Departemen Arsitektur Universitas Diponegoro yang selalu melontarkan perdebatan sengit mengenai arsitektur lokal. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pimpinan Jurusan Arsitektur yang tak kenal lelah terus mendorong publikasi ilmiah dari masa ke masa, serta kepada Fakultas Teknik Universitas Diponegoro yang telah memberikan dukungan dana terhadap penelitian yang menjadi landasan penulisan buku ini.
Pada kesempatan kali ini kami akan mencoba mengamati dan menyelidiki kinerja termal dari tipologi sederhana bangunan tradisional Jawa beratap pedesaan.
Iklim tropis, Kinerja Termal, Loteng Bangunan Atap Kampung
Ini berarti bahwa kinerja termal selubung bangunan telah diuji dan patut mendapat pertimbangan khusus dalam konteks upaya perencana dalam aktivitas desain mereka saat ini. Metode penulisan ini kami buat dengan harapan dapat memudahkan mahasiswa atau pihak-pihak yang berkepentingan dalam mengamatinya ketika mengikuti tata cara perhitungan dan pengukuran suatu kajian yang berkaitan dengan kinerja termal. Dan kendala iklim mikro yang berhubungan dengan kinerja termal suatu bangunan adalah parameter suhu udara (suhu dalam satuan °C) dan kelembaban dalam satuan.
Pengertian efisiensi termal untuk bangunan arsitektur Nilai efisiensi termal suatu bahan atau bentuk bangunan didasarkan pada perbedaan antara suhu udara di dalam bangunan dan suhu lingkungan luarnya. Dalam kajian yang lebih detail mengenai kinerja termal suatu bahan sering disebut dengan kapasitas termal (Eurolab, n.d.), (Soekardi, 2019), (Samodra, n.d.), dimana faktor U digunakan untuk menguji ketahanan produk terhadap aliran panas. Efisiensi termal diukur dengan satuan yang disebut faktor U, yang digunakan untuk menentukan peringkat sifat isolasi bahan pada skala numerik.
Dapat dikatakan bahwa penilaian kinerja termal merupakan faktor penting agar ramah lingkungan dan masuk akal secara ekonomi. Pertama: Kinerja termal ruang loteng dicapai karena pengaruh elemen bahan atap bangunan (atap dari genteng beton, tanah liat, asbes, seng, polikarbonat, ijuk, sirap dan lain-lain) atau pengaruh elemen dari bentuk atap bangunan (atap limas atau pelana dengan berbagai sudut, hingga bentuk atap jenis yoke). Pada kesempatan kali ini, kami akan menjelaskan secara bertahap proses penghitungan kinerja termal loteng, membatasi diri pada studi suhu dan kelembaban udara serta aspek pengaruh keberadaan lubang ventilasi.
Dari hasil pengukuran pada grafik 9 kita telah dapat membaca profil kinerja termal model rumah desa, dimana ruangan loteng tidak memiliki ventilasi. Kemudian langkah selanjutnya sebaiknya divisualisasikan dalam bentuk grafik agar pengertian kinerja termal mudah dipahami. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang pengaruh lubang ventilasi di ruang loteng langkah demi langkah, Anda dapat membandingkan dua profil kinerja termal dari kedua model.
Kami menyadari bahwa banyak penelitian tentang kinerja termal yang telah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya, hasil penelitian sebelumnya sangat berguna untuk dijadikan acuan karena akan memperkaya atau memperdalam analisis pekerjaan kami. Contoh studi pertama: Dengarkan grafik a yang menunjukkan kinerja termal dari aspek suhu udara kedua model, dimana nilai rata-rata melalui pengukuran 24 jam, kinerja termal M-01 adalah -0,3°C, sedangkan untuk M -02 adalah -0.2° C atau bisa dibilang kedua model tersebut memiliki profil suhu di loteng yang lebih hangat dibandingkan suhu udara luar. Grafik a menunjukkan kinerja termal aspek suhu udara kedua model, dimana nilai rata-rata pada siang hari (pukul 06.00-18.00 WIB), kinerja termal M-01 adalah 0,9°C, sedangkan M-02 adalah 0,9°C. 0 4°C atau bisa dikatakan kedua model tersebut memiliki profil suhu dalam ruangan yang lebih dingin dibandingkan suhu udara luar ruangan.
Nilai rata-rata periode malam, kinerja termal M-01 adalah -1.6°C sedangkan M-02 adalah -0.9°C atau dapat dikatakan kedua model memiliki profil suhu di ruang loteng yang lebih hangat. adalah suhu udara luar. Pada grafik a terlihat perubahan yang sama dibandingkan kedua model, yaitu kinerja termal ruang loteng mulai mendingin (suhu udara luar mulai memanas – karena matahari terbit, bukan suhu ruangan). attic air) dari sekitar jam 7 pagi. Pertama, pada rentang pengukuran horsepower dan horsepower, periksa notasi A), dimana pada rentang jam 2 pagi ini perubahan suhu sangat terasa, mencapai 36,9°C atau kinerja termal 1- 7°C, dimana hal ini bisa terjadi akibat paparan radiasi, sinar matahari lebih banyak dibandingkan jam-jam sebelumnya yang cenderung berawan (rata-rata suhu siang hari sekitar 31°C).
Dengan mengamati grafik yang muncul pada pk terdapat perubahan nilai kinerja termal yang tidak statis akibat kondisi saat hujan (periksa catatan C).
Kesimpulan
Misalnya saja misalnya solusi desain arsitektur loteng ini (berdasarkan kajian kinerja termalnya), maka menurut penulis, penggunaan loteng harus mampu mengakomodir kebutuhan penghuni pada saat pembangunan. periode. siang dan malam. Dengan catatan: tidak selalu, desain ruangan di daerah tropis selalu membutuhkan suasana yang dingin. Ruangan di daerah pegunungan atau ruangan gudang/perpustakaan memerlukan suasana hangat pada siang dan malam hari.
Untuk itu desain loteng sebaiknya dioptimalkan dalam desain loteng ini dengan menambahkan penempatan jendela yang dapat dibuka dan ditutup. Ketika menilai pengaruh elemen bangunan terhadap kinerja termal atau apapun ruang lingkup pengamatannya dalam bidang ilmu bangunan, alangkah baiknya dan terbukti akurat jika dilakukan model perbandingan (model berupa model awal dan model teruji). Pengaruh lubang ventilasi pada bangunan dengan atap berbentuk kampung menghasilkan panas yang cukup besar pada malam hari dibandingkan dengan bangunan tanpa ventilasi.
Bisa dikatakan model tanpa ventilasi (seperti kebanyakan rumah sungguhan di lapangan) terbukti menciptakan kesejukan baik pada kondisi siang maupun malam dibandingkan model modifikasi. Beberapa pertanyaan tambahan dari pengamatan ini, bagaimana menciptakan kesejukan pada loteng model atap kampung atau joglo. Berdasarkan parameter elemen atap pada model pengujian kali ini, solusi untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan memilih material atap yang tepat atau adanya material insulasi pada elemen atap.
Investigating the self-cooling effect of ventilated attics under different roof and ambient temperatures in summer. The effect of roof pitch and ceiling insulation on the cooling load of naturally ventilated attics.
Bibliografi Penulis
Ia kemudian melanjutkan studi magister studi pembangunan di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1994 dan program doktor di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknologi Universitas Diponegoro pada tahun 2012 dengan penelitian bertajuk “Ruang Bersama Kelurahan Bustaman Kota Semarang”. Saat ini beliau mengajar mata kuliah Pengembangan Kelembagaan, Struktur dan Konstruksi, serta Konstruksi dan Manajemen Anggaran. Mulai menjadi staf pengajar di Departemen Arsitektur pada tahun 1990-sekarang dan mengajar di Program Magister Energi Sekolah Pascasarjana Undip.