• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pustaka Pustaka Pustaka

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Pustaka Pustaka Pustaka"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif menyatakan bahwa setiap ibu yang melahirkan wajib memberikan ASI eksklusif kepada bayinya (PP RI 2012). Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa terdapat pengaruh pijat oksitosin dan endorfin terhadap produksi ASI pada ibu menyusui (Tutik, 2019). Pijat oksitosin memberikan ketenangan, meredakan stres ibu dan meningkatkan rasa percaya diri serta berpikir positif tentang kemampuannya dalam menyusui.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pijat oksitosin dapat digunakan sebagai salah satu intervensi alternatif untuk memberikan perawatan pada ibu setelah melahirkan, khususnya mencegah masalah menyusui dan membantu proses involusi uterus, untuk mencegah risiko perdarahan setelah melahirkan.

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Luaran Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

Konsep Umum Asi

Serabut saraf ini membawa permintaan susu untuk melewati tulang belakang ke kelenjar hipofisis di otak. Imunoglobulin ini dapat melapisi dinding usus yang berfungsi mencegah penyerapan protein penyebab alergi 2) Laktoferin merupakan protein yang memiliki afinitas tinggi terhadap zat besi, kadar laktoferin yang tinggi pada kolostrum dan ASI terdapat pada hari ketujuh setelah melahirkan. Air Susu Ibu Peralihan (ASI) adalah air susu ibu yang keluar setelah keluarnya kolostrum hingga menjadi ASI matur/dewasa.

Kolostrum adalah cairan susu yang keluar dari payudara ibu setelah masa peralihan ASI. ASI mengandung protein lebih rendah dari susu sapi tetapi protein ASI memiliki nutrisi yang lebih tinggi (lebih mudah dicerna). akan bertambah dengan

Konsep Umum Pijat Oksitosin

Pijat oksitosin dilakukan untuk merangsang refleks oksitosin atau let-down reflex dan dapat dilakukan dengan bantuan keluarga terutama suami. Oleh karena itu, kami berharap ibu akan merasa rileks setelah pijat oksitosin ini, sehingga ibu tidak mengalami situasi stres yang dapat menghambat refleks oksitosin. Pada ibu menyusui dengan kondisi psikologis yang tidak menyenangkan atau stres, akan terjadi hambatan akibat let-down reflex yang akan menurunkan produksi oksitosin sehingga akan menyebabkan terhambatnya produksi ASI.

Penelitian yang dilakukan oleh (Rahayu dan Yunarsih, 2018) menemukan bahwa hasil pijat oksitosin meningkatkan kenyamanan dan produksi ASI pada ibu nifas. Pijat oksitosin dapat digunakan sebagai intervensi alternatif dalam perawatan ibu dalam persalinan, terutama untuk mencegah masalah menyusui. Manfaat pijat oksitosin antara lain membantu ibu secara psikologis, memberikan ketenangan, mengurangi stres dan meningkatkan harga diri, serta berpikir positif tentang kemampuan ibu dalam memberikan ASI.

Banyak penelitian yang membuktikan bahwa pijat oksitosin berpengaruh terhadap proses involusi uterus, sehingga dapat mencegah risiko perdarahan pasca persalinan. Menurut Hockenberry (200), pijat oksitosin dua kali sehari lebih efektif yaitu pada pagi dan sore hari. Dimana pemijatan yang dilakukan dua kali sehari dapat mempengaruhi produksi ASI pada ibu nifas.

Pijat oksitosin akan lebih efektif bila dikombinasikan dengan perawatan payudara ibu nifas dibandingkan dengan hanya melakukan pijat oksitosin saja. Ibu harus mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pijat oksitosin yaitu mendengarkan suara anak yang dapat memicu aliran yang menunjukkan bagaimana produksi ASI dapat dipengaruhi oleh kondisi psikologis dan lingkungan saat menyusui, kepercayaan diri, sehingga ada Tidak ada persepsi suplai ASI yang tidak mencukupi, semakin dekat dengan bayi, relaksasi, yaitu latihan yang santai dan menenangkan, seperti meditasi, yoga dan relaksasi progresif, dapat membantu pemulihan.

Gambar 2.1  Pijat Oksitosin
Gambar 2.1 Pijat Oksitosin

Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Asi

Penelitian yang dilakukan (Djama, 2018) pemberian daun kacang panjang dapat mempengaruhi peningkatan produksi ASI bagi ibu menyusui. Penelitian yang dilakukan oleh (Zakaria et alle 2016) menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun kelor dapat meningkatkan produksi ASI secara signifikan, namun tidak mempengaruhi kualitas ASI. Setelah intervensi berupa pijat oksitosin berakhir, produksi ASI ibu dan berat badan bayi diukur kembali.

Hasil dari kedua pengukuran tersebut kemudian dibandingkan untuk mengukur pengaruh pijat oksitosin terhadap peningkatan produksi ASI. Pada penelitian ini digunakan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan pijat oksitosin dengan jumlah produksi ASI dengan hasil sebagai berikut. Berdasarkan hasil uji Dependent T-test didapatkan nilai P-value 0,0001 yang berarti ada hubungan yang bermakna antara pemberian pijat oksitosin dengan peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui.

Salah satu cara untuk meningkatkan produksi ASI adalah dengan melakukan pijat oksitosin yang dapat dilakukan pada ibu menyusui. Berdasarkan hasil uji T dependen diperoleh nilai P sebesar 0,0001 yang berarti ada hubungan yang bermakna antara pemberian pijat oksitosin dengan jumlah produksi ASI. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian pijat oksitosin akan semakin memperlancar produksi ASI pada ibu nifas.

Ema Pilaria, Rita Sopi “Pengaruh Pijat Oksitosin Terhadap Produksi ASI Pada Ibu Nifas Di Ruang Kerja Puskesmas Pejeruk Kota Mataram Tahun 2017”, Jurnal Kedokteran Yarsi 26(1). Hidayat Tutik (2019) Penggunaan Metode Endorphin dan Oxytocin Massage Untuk Meningkatkan Produksi ASI Pada Ibu Menyusui Bayi Usia 0-6 Bulan Di Desa Gading Kabupaten Probolinggo.

Gambar 2.2 Kerangka Teori  Sumber
Gambar 2.2 Kerangka Teori Sumber

Metode Lain Yang Mempengaruhi Produksi Asi

Kerangka Teori

METODE PENELITIAN

  • Desain Penelitian
  • Kerangka Konsep
  • Waktu dan Tempat Penelitian
  • Populasi dan Sampel
  • Variabel Penelitian
  • Instrumen Penelitian
  • Data Penelitian

Mayoritas produksi ASI setelah dilakukan intervensi pijat oksitosin adalah produksi ASI yang baik sebesar 87,9% dan produksi ASI yang buruk menurun menjadi 12,1%. Dari Tabel 4.5 diketahui bahwa pengaruh intervensi pijat oksitosin dapat meningkatkan produksi ASI sebesar 0,52, dari 1,12 sebelum intervensi menjadi 1,64 setelah intervensi pijat oksitosin. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rina (2019) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh pijat oksitosin yang dilakukan suami terhadap percepatan produksi ASI.

Hal ini juga sesuai dengan penelitian Rina (2019) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh pijat oksitosin oleh suami terhadap percepatan produksi ASI. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terlihat bahwa pengaruh intervensi pijat oksitosin dapat meningkatkan produksi ASI sebesar 0,52, dari 1,12 sebelum intervensi menjadi 1,64 setelah intervensi pijat oksitosin. Pijat oksitosin adalah pijatan sepanjang tulang punggung (vertebra) dan merupakan upaya untuk merangsang hormon oksitosin setelah melahirkan (Biancuzzo, 2003; Indiyani, 2006; Yohmi & Roesli, 2009 dalam Mardiyaningsih, 2010).

Hasil uji T dependen diperoleh p-value 0,0001 yang berarti pijat dengan oksitosin berpengaruh signifikan terhadap peningkatan berat badan bayi usia 0-6 bulan yang diberikan ASI eksklusif. Intervensi pijat oksitosin berpengaruh terhadap peningkatan produksi ASI sebesar 0,52 yaitu 1,12 sebelum intervensi menjadi 1,64 setelah intervensi pijat oksitosin, terdapat hubungan yang signifikan antara pijat oksitosin dengan peningkatan produksi ASI pada ibu menyusui. Pijat oksitosin bagi ibu dapat meningkatkan produksi ASI, pijat oksitosin secara langsung berpengaruh pada pertambahan berat badan bayi.

Meningkatkan produksi ASI dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya cara yang mudah dilakukan adalah melalui pijat oksitosin. Pijat oksitosin untuk mempercepat keluarnya ASI pada ibu setelah melahirkan normal di Desa Ketanan Kecamatan Gersik.

Gambar 3.1 Kerangka Konsep
Gambar 3.1 Kerangka Konsep

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Responden dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan, dengan peneliti juga melakukan analisis univariat terhadap variabel usia, paritas, pendidikan, pengalaman menyusui, dukungan keluarga, dan pola istirahat selama proses menyusui, dengan hasil sebagai berikut . Berdasarkan tabel 4.1, dari 33 responden, 24 responden (72,7%) didominasi oleh usia yang tidak berisiko, sedangkan 9 responden (27,3%) berisiko. Untuk paritas, responden didominasi oleh multipara sebanyak 19 responden (57,6%), diikuti oleh primipara sebanyak 12 responden sebanyak 36,4%, dan grandemultipara sebanyak 2 orang sebanyak 6,1%.

Berdasarkan Tabel 4.2, 33 responden berdasarkan pengalaman menyusui didominasi oleh 19 responden (57,6%) yang memiliki pengalaman menyusui dan 14 responden (42,4%) yang tidak memiliki pengalaman. Seluruh responden mendapatkan dukungan keluarga yang baik selama menyusui, sedangkan pola istirahat didominasi oleh pola istirahat yang baik yaitu 23 responden (69,7%) dan pola istirahat lebih sedikit yaitu 10 responden (30,3%). Berdasarkan Tabel 4.3, rata-rata atau mean berat badan bayi sebelum operasi adalah 5.115,15 gram dengan nilai minimal 1.800 gram dan nilai maksimal 8.200 gram.

Nilai mean atau median berat badan bayi setelah dilakukan intervensi adalah 5400 gram dengan nilai minimal 1700 gram dan nilai maksimal 8300 gram. Berdasarkan tabel 4.4 diketahui bahwa produksi ASI sebelum intervensi didominasi oleh produksi ASI yang kurang yaitu 63,6% dan sisanya memiliki produksi ASI yang baik (36,4).

Tabel Tabel 4.4
Tabel Tabel 4.4

Pembahasan

Edukasi inilah yang dapat merangsang produksi ASI yang juga dihasilkan lebih baik, sehingga secara langsung berpengaruh pada kenaikan berat badan anak. Sehingga selama prosedur, suami diajarkan untuk melakukan pijat oksitosin langsung kepada ibu, sehingga suami juga dapat melakukan pijat secara mandiri. Dengan tidak adanya antibodi maka bayi akan mudah terserang berbagai penyakit dan meningkatkan kematian bayi (Astuty, 2014), namun tidak semua ibu menyusui dapat mengeluarkan ASI yang cukup untuk bayinya, karena faktor yang menghambat pemberian ASI adalah produksi ASI itu sendiri, Keadaan emosi ibu yang berhubungan dengan refleks oksitosin ibu dapat mempengaruhi produksi ASI sekitar 80% sampai 90%.

Keadaan emosi ibu yang baik, nyaman dan tanpa tekanan akan dapat meningkatkan dan memperlancar produksi ASI (Rahayu, 2018). Melakukan perawatan payudara secara rutin juga dapat memengaruhi produksi ASI. Sebanyak 20 responden dalam penelitian ini secara mandiri melakukan perawatan payudara dengan menggunakan baby oil, dimulai sejak masa kehamilan. Produksi ASI dapat dipengaruhi oleh berbagai hal seperti pola makan, frekuensi menyusui, usia kehamilan saat melahirkan, berat badan lahir, stress, penyakit akut, konsumsi rokok, pil kontrasepsi (Rukiyah, 2015).

Pijat oksitosin dapat dijadikan salah satu alternatif intervensi dalam pemberian perawatan ibu setelah melahirkan, khususnya untuk mencegah masalah menyusui. Ibu yang memiliki ASI yang cukup dapat dilihat dari frekuensi kenaikan berat badan bayi pada hari ke 10. Penelitian lain yang dilakukan oleh Fendristica pada tahun 2019 juga menemukan hasil yang signifikan antara pemberian pijat oksitosin dengan kenaikan berat badan bayi dengan rata-rata berat badan bayi 484,4 gram. Pijat oksitosin berpengaruh terhadap peningkatan berat badan bayi.Dari 33 bayi, rata-rata atau rata-rata berat badan bayi sebelum dilakukan intervensi adalah 5115,15 gram dan setelah dilakukan intervensi nilai rata-rata atau rata-rata berat badan bayi meningkat sebesar 5400 gram atau diperkirakan akan meningkat menjadi 284,85 gram dalam waktu 2 minggu.

Pijat sitokin ini diharapkan dapat menjadi salah satu materi yang dapat diberikan pada kelas ibu hamil/prenatal sehingga pijat oksitosin dapat diimplementasikan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan produksi ASI. Pengaruh pijat punggung yang dilakukan suami terhadap percepatan pengeluaran ASI ibu nifas hari I dan II di Puskesmas Sebrang Padang, Jurnal Riset dan Kajian Ilmiah Universitas Menara Sains.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan\

Adanya penelitian ini dapat menjadi upaya untuk meningkatkan produksi ASI sehingga dapat dilakukan penyuluhan dan penyuluhan kesehatan secara berkesinambungan baik oleh tenaga kesehatan maupun kader tingkat RT.

Saran

Gambar

Gambar 2.1  Pijat Oksitosin
Gambar 2.2 Kerangka Teori  Sumber
Gambar 3.1 Kerangka Konsep
Tabel Tabel 4.4

Referensi

Dokumen terkait

jika kenaikan berat badan ibu hamil mencapai kategori cukup baik selama kehamilan sesuai usia kehamilan ibu?. jika kenaikan berat badan ibu hamil mencapai kategori

bermakna antara kenaikan berat badan ibu selama hamil dengan berat bayi. baru

Ada 6 variabel yang berpengaruh terhadap kelambatan pemberian ASI pertama kali oleh seorang ibu pada bayi yaitu komplikasi kehamilan, status pekerjaan ibu, berat badan bayi

Ada 6 variabel yang berpengaruh terhadap kelambatan pemberian ASI pertama kali oleh seorang ibu pada bayi yaitu komplikasi kehamilan, status pekerjaan ibu, berat badan bayi

Pengaruh Perawatan Metode Kanguru dan Pijat Bayi Terhadap Kenaikan Berat Badan pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah di Ruang NICU RSUD Taman Husada

Hasil: Produksi ASI pada ibu nifas dengan kenaikan berat badan pada kelompok kontrol dengan rentang 100-250 gram, sedangkan kelompok eksperimen peningkatan berat

Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ada hubungan usia kehamilan ibu, berat badan lahir bayi dan frekuensi pemberian ASI dengan kejadian ikterus neonatorum, maka

Hasil: Produksi ASI pada ibu nifas dengan kenaikan berat badan pada kelompok kontrol dengan rentang 100-250 gram, sedangkan kelompok eksperimen peningkatan berat