RANGKUMAN GALIAN (Bina Marga 2018 Revisi 2)
1. Galian merupakan pekerjaan yang umumnya diperlukan untuk:
Pembuatan saluran air dan selokan
Formasi galian atau fondasi pipa
Gorong-gorong
Pekerjaan stabilisasi lereng dan pembuangan bahan longsoran,
Galian bahan konstruksi dan pembuangan sisa bahan galian
Pengupasan dan pembuangan bahan perkerasan beraspal
Perkerasan beton pada perkerasan lama
Pembentukan profil dan penampang
2. Jenis-jenis galian:
Galian biasa, mencakup seluruh galian batu lunak, galian batu, galian struktur, galian perkerasan aspal, galian perkerasan berbutir, dan galian perkerasan beton serta pembuangan bahan galian biasa yang tidak terpakai.
Galian batu lunak harus mencakup galian pada batuan yang mempunyai kuat tekan uniaksial 0,6 – 12,5 MPa (6-125 kg/cm2) yang diuji sesuai dengan SNI 2825:2008.
Galian batu harus mencakup galian bongkahan batu yang mempunyai kuat tekan beton uniaksial >12,5 MPa (>125 kg/cm2) yang diuji sesuai dengan SNI 2825:2008 dengan volume 1 m3 atau lebih dan seluruh batu dan bahan lainnya.
Penggalian dilakukan dengan menggunakan alat bertekanan udara atau pemboran (drilling), dan peledakan.
Galian struktur mencakup galian pada segala jenis tanah dalam batas pekerjaan yang disebut atau ditunjukkan dalam gambar untuk struktur, kecuali galian yang didefinisikan sebagai galian biasa atau galian batu atau galian perkerasan beton. Galian ini digunakan untuk lantai beton fondasi jembatan, tembok penahan tanah beton, dan struktur beton pemikul beban lainnya.
Galian perkerasan beraspal mencakup galian pada perkerasan aspal lama dan pembuangan bahan perkerasan beraspal dengan maupun tanpa Cold Milling Machine
Galian Perkerasan Berbutir mencakup galian pada perkerasan berbutir eksisting dengan atau tanpa tulangan dan pembuangan bahan perkerasan berbutir yang tidak terpakai.
Galian Perkerasan Beton mencakup galian pada perkerasan beton lama dan pembuangan bahan perkerasan beton yang tidak terpakai sebagaimana yang diperintahkan Pengawas Pekerjaan.
Jarak buangan galian: dianggap sama kepolisian sebagai bahan galian C atau bahan tambang, tanah diangkut dump truck, apabila truck belum siap maka diperlukan (area penampung sementara),
Toleransi Dimensi:
Elevasi akhir, garis, dan formasi sesudah galian (selain perkerasan beraspal dan/atau perkerasan beton) tidak boleh berbeda lebih tinggi dari 2 cm atau lebih rendah 3 cm pada setiap titik dan 1 cm pada setiap titik untuk perkerasan lama.
Pemotongan permukaan lereng tidak boleh berbeda dari garis profil melampaui 10 cm untuk tanah dan 20 cm untuk batu.
Galian biasa dan batu (jika terbuka terhadap aliran air, permukaan harus rata dan memiliki kemiringan cukup untuk pengaliran air).
3. Metode Pelaksanaan
Cek kondisi existing lahan/tanah yang akan digali. Pasang Patok-patok batas galian dan penggalian yang akan dilaksanakan.
Buatkan titik pemantauan kelongsoran dan tempatkan pada daerah yang benar- benar aman.
Penggalian tanah dilakukan dengan alat berat yaitu Excavator untuk daerah galian tanah yang dalam. Sedang untuk galian yang bersifat pemotongan tanah, lebih baik dilakukan dengan menggunakan Bulldozer atau Motor Grader.
Untuk lahan/daerah yang tidak bisa dijangkau oleh alat berat (Excavator/Bulldozer/Motor Grader), lakukan penggalian secara manual.
Muat hasil galian ke atas Dump Truck, angkut dan buang hasil galian tersebut keluar area/lokasi kerja.
Dorong dan ratakan buangan hasil galian/tanah dengan Bulldozer.
Lakukan penggalian dan pembuangan secara berulang, sampai batas galian dan elevasi yang sudah ditentukan.
Cek apakah hasil akhir galian sudah sesuai dengan yang direncanakan.
Lakukan koordinasi dengan bagian pengukuran untuk melakukan pengendalian dan perbaikan pengukuran saat proses.
Galian untuk Struktur dan Pipa
a. Galian untuk pipa, gorong-gorong atau drainase beton harus cukup ukurannya sehingga memungkinkan penempatan struktur yang memadai.
b. Bila galian dilakukan pada timbunan baru, maka timbunan harus dikerjakan sampai ketinggian yang diperlukan sampai jarak masing-masing lokasi galian parit tidak kurang dari 5 kali lebar galian parit tersebut.
c. Semua bahan fondasi harus dibersihkan dari semua bahan yang lepas dan digali sampai permukaan yang keras.
d. Setiap galian lubang harus selesai sebelum tiang dipancangkan apabila akan menggunakan fondasi tiang pancang dan menimbun kembali apabila pemancangan telah selesai.
Galian berupa Pemotongan
a. Supaya tidak terjadi penggalian yang berlebihan, papan pengarah profil harus dipasang pada setiap penampang dengan interval 50 meter pada puncak semua pengarah untuk pemotongan yang menunjukkan posisi dan lereng pengarah rancangan.
b. Galian pada tanah lebih baik dipangkas dengan grader yang dilengkapi dengan pisau yang dapat dimiringkan atau dengan eksavator.
c. Singkapan batu haruslah dipisahkan terlebih dahulu dengan pengeboran sampai dalam atau peledakan jika disetujui oleh pengawas pekerjaan
Galian Tanah Lunak, Tanah ekspansif, atau Tanah Dasar Berdaya Dukung Sedang selain Tanah Organik atau Tanah Gambut
a. Mempunyai nilai CBR pemadatan setidaknya 2,5% dengan kedalaman galian tertentu. Tanah ekspansif didefinisikan sebagai tanah yang memiliki pengembangan potensial sebesar 5%. Apabila tanah lunak berdaya dukung
rendah terekspos pada tanah dasar hasil galian atau tanah lunak berada di bawah timbunan maka akan dilakukan perbaikan:
Dipadatkan sampai kapasitas daya dukung tanak dengan CBR di lapangan lebih dari 2,5%
Distabilisasi
Dibuang seluruhnya
Digali sampai di bawah elevasi tanah dasar dengan kedalaman yang ditunjukkan dan gambar atau ditunjukkan dalam table di bawah ini.
Galian pada Perkerasan Aspal yang Ada
a. Pekerjaan galian dapat dilakukan dengan atau tanpa mesin Cold milling.
Bila tidak menggunakan cold milling, tepi lokasi yang digali haruslah digergaji atau dipotong dengan jack hammer agar pembongkaran berlebihan dapat diminimalisir.
b. Galian saluran atau lainnya yang memotong jalan yang terbuka harus dilakukan dengan pelaksanaan setengah badan jalan sehingga jalan tetap terbuka untuk lalu lintas.
c. Setiap galian perkerasan beraspal harus ditutup kembali dengan campuran aspal pada hari yang sama kecuali apabila diperintahkan Pengawas.
Jack Hammer Cold Milling
Keunggulan Kelemahan Keunggulan Kelemahan
Fleksibel untuk area kecil dan
sempit
Progres lambat, terutama pada
area luas
Efisiensi pekerjaan pada area luas cukup
tinggi
Biaya awal tinggi
Biaya awal lebih terjangkau
Membutuhkan tenaga manusia untuk
operasinya
Hasil pekerjaan rapi dan seragam
Membutuhkan ruang yang
luas
Dapat digunakan di berbagai lokasi
Hasil kurang rata dan lebih
kasar tergantung pada tenaga
ahli
Pekerjaan selesai lebih cepat
sehingga mengurangi gangguan lalu
lintas Hasil lebih
mendetail pada area yang
Limbah material aspal dapat di-
recycle
terbatas
4. Penggunaan dan Pembuangan Bahan Galian
Bahan galian tanah dan batu yang dapat dipakai harus digunakan secara efektif untuk formasi timbunan atau penimbunan kembali.
Bahan galian tanah sangat organic, tanah gambut, dan sejumlah akar besar akan menyulitkan pemadatan bahan di atasnya dan menyebabkan settlement , maka harus diklasifikasikan sebagai bahan yang tidak memenuhi syarat sebagai timbunan.
Setiap bahan galian yang melebihi timbunan atau bahan yang tidak disetujui Pengawas Pekerjaan untuk timbunan harus dibuang dan diratakan di luar Rumija.
Bahan galian struktur yang surplus tidak boleh diletakkan di daerah aliran agar tidak mengganggu aliran dan kinerja struktur.
5. Metode Pembayaran
a. Galian yang tidak diukur untuk pembayaran
Jenis galian yang secara spesifik tidak dimasukkan untuk pengukuran dalam seksi ini:
1. Galian di luar garis yang ditunjukkan dalam profil dan penampang melintang yang disetujui tidak akan dimasukkan dalam volume yang diukur untuk prmbayaran jika berupa pekerjaan tambahan akibat dari longsoran lereng dan tidak memenuhi syarat galian.
2. Pekerjaan galian untuk selokan drainase dan saluran air, kecuali untuk galian batu.
3. Pekerjaan galian yang dilaksanakan untuk pemasangan gorong-gorong pipa dan kotak.
4. Pekerjaan galian yang dilaksanakan untuk memperoleh bahan konstruksi dari sumber bahan atau sumber lainnya di luar batas-batas kerja.
5. Pekerjaan galian dan pembuangan selain tanah, batu, perkerasan berbutir, tanah oragnik dan bahan perkerasab aspal lama.
b. Pengukuran galian untuk pembayaran
1. Pekerjaan galian di luar ketentuan di atas harus diukur untuk pembayaran dalam meter kubik bahan yang dipindahkan.
2. Pekerjaan galian struktur adalah volume dari prisma yang dibatasi oleh bidang-bidang berikut: Bidang atas (bidang horizontal), bidang bawah (bidang dasar fondasi), dan bidang tegak (bidang vertical keliling fondasi) 3. Galian yang bahannya digunakan untuk timbunan, tanah gambut, tanah
lunak, tanah organic, dan tanah dengan daya dukung sedang.
c. Dasar pembayaran
RANGKUMAN TIMBUNAN (Bina Marga 2018 Revisi 2)
1. Pekerjaan timbunan mencakup pengadaan, penghamparan, dan pemadatan tanah atau bahan berbutir yang disetujui untuk pembuatan timbunan.
2. Jenis-jenis timbunan:
Timbunan Biasa
Bahan timbunan yang termasuk timbunan biasa harus terdiri dari bahan galian tanah atau batu yang disetujui oleh Pengawas Pekerjaan. Tidak termasuk tanah berplastisitas tinggi dan tanah sangat ekspansif. Bahan timbunan biasa bila diuji dengan SNI 03-1744-1989 harus memiliki CBR tidak kurang dari 6% setelah perendaman 4 hari bila dipadatkan 100%
dengan kepadatan kering maksimum seperti yang ditentukan SNI 03-11742- 1989.
Timbunan Pilihan (lapis penopang, material timbunan di daerah saluran air, stabilisasi lereng)
Timbunan ini digunankan untuk meningkatkan kapasitas daya dukung tanah dasar lapisan penopang pada tanah lunak yang mempunyai CBR lapangan kurang dari 2,5% yang tidak dapat ditingkatkan dengan pemadatan atau stabilisasi. Bahan timbunan pilihan bila diuji dengan SNI 03-1744-1989 harus memiliki CBR paling sedikit 10% setelah 4 hari perendaman bila dipadatkan sampai 100% dengan kepadatan kering maksimum sesuai SNI 03-1742-1989. Bahan timbunan berupa pasir, kerikil, dan bahan berbutir lainnya dengan indeks pastisitas minimum 6%.
Timbunan Pilihan Berbutir di atas Tanah Rawa harus digunakan di atas tanah rawa, daerah berpasir dan lokasi-lokasi serupa di mana bahan timbunan pilihan dan biasa tidak dapat dipadatkan dengan memuaskan.
Penimbunan Kembali Bahan Berbutir harus digunakan untuk penimbunan kembali di daerah pengaruh dari struktur seperti abutmen dan dinding penahan tanah serta daerah kritis lainnya yang memiliki jangkauan terbatas untuk pemadatan dengan alat.
Toleransi Dimensi
Elevasi dan kelandaian akhir setelah pemadatan harus tidak lebih tinggi dari 2 cm atau lebih rendah 3 cm dari yang ditentukan dan disetujui.
Seluruh permukaan timbunan yang terekspos harus cukup rata dan kelandaian yang menjamin pengaliran air permukaan.
Permukaan akhir lereng timbunan tidak boleh bervariasi lebih dari 10 cm dari garis profil yang ditentukan.
Timbunan selain lapis penopang di atas tanah lunak tidak boleh dihampar dalam lapisan dengan tebal padat lebih dari 20 cm atau dalam lapisan tebal padat kurang dari 10 cm.
3. Bahan
Timbunan biasa
1. Tidak termasuk tanah berplastisitas tinggi yang diklasifikasikan sebagai A-7-6 menurut SNI-03-6797-2002 atau CH menurut “Unified atau Casagrande Soil Classification System”. Bila tidak dapat dihindarkan, penggunaan tanah ini diperbolehkan hanya pada bagian dasar dari timbunan yang tidak memerlukan daya dukung atau kekuatan geser tinggi. Tanah sangat ekspansif dengan nilai aktif sebesar 1,25 atau derajat pengembangan menurut AASHTO T258-81 sebagai very-high dan extra high. Tanah yang mengandung organic seperti OL, OH, Pt dalam system USCS.
Timbunan Pilihan
1. Terdiri dari bahan tanah dan batu yang memenuhi semua ketentuan di atas timbunan biasa dan sebagai tambahan harus memiliki sifat-sifat tertentu. Apabila diuji SNI 1744:2012 harus memiliki CBR paling sedikit 10% setelah 4 hari perendaman bila dipadatkan sampai 100%.
2. Bahan timbunan pada lereng atau pekerjaan stabilisasi timbunan yang memerlukan kuat geser besar, dapat berupa timbunan batu atau kerikil
lempungan bergradasi baik atau lempung pasiran atau lempung berplastisitas rendah.
Timbunan Pilihan Berbutir di atas Tanah Rawa
Harus berupa batu, pasir, atau kerikil atau bahan berbutir bersih lainnya dengan index plastisitas maksimum 6%.
Penimbunan Kembali Berbutir
Harus terdiri dari kerikil pecah, batu, timbunan batu, atau pasir alam atau campuran yang baik dengan bergradasi bukan menerus dengan IP maksimum 10%. Gradasi timbuna daerah oprit ditunjukkan dalam table berikut.
4. Metode Perencanaan
Gambar detail penampang melintang yang menunjukkan permukaan yang telah disiapkan untuk penghamparan timbunan.
Hasil pengujian kepadatan yang membuktikan bahwa pemadatan pada permukaan yang telah disiapkan untuk timbunan akan dihampar cukup memadai.
Penyedia jasa menyerahkan dua contoh masing-masing 50 kg untuk setiap jenis bahan paling lambat 14 hari sebelum tanggal pengunaan pertama kalinya bahan timbunan.
Penyedia jasa menyerahkan hasil pengukuran permukaan dan data survey yang menunjukkan bahwa toleransi permukaan yang tersyarat telah terpenuhi.
5. Metode Pelaksanaan 1. Penyiapan tempat kerja
a. Semua bahan yang tidak diperlukan harus dibuang sebelum penghamparan dimulai.
b. Dasar fondasi timbunan harus dipadatkan sampai 15 cm bagian permukaan atas dasar fondasi memenuhi kepadatan yang disyaratkan untuk timbunan yang ditempatkan di atasnya kecuali daerah tanah lunak dan tanah rawa.
c. Dasar saluran yang ditimbun harus diratakan dan dilebarkan sedemikian hingga memungkinkan pengoperasian peralatan pemadat yang efektif.
2. Penghamparan timbunan
a. Timbunan ditempatkan ke permukaan yang telah disiapkan dan disebar dalam lapisan yang merata.
b. Tanah timbunan umumnya diangkut langsung dari lokasi sumber bahan ke permukaan yang telah disiapkan.
c. Penimbunan di atas pipa dan di belakang struktur harus dilakukan secepat mungkin dan sistematis setelah pemasangan pipa atau struktur. Dibutuhkan waktu 8 jam setelah pengecoran struktur beton sebelum ditimbun kembali.
d. Lapisan penopang di atas tanah lunak harus dihampar sesegera mungkin dan tidak lebih dari tiga hari setelah persetujuan setiap penggalian atau pembersihan dan pengupasan oleh Pengawas Pekerjaan.
3. Pemadatan timbunan
a. Setelah penghamparan timbunan, setiap lapis harus dipadatkan dengan peralatan pemadat sesegera mungkin.
b. Pemadatan timbunan tanah harus dilakukan bila kadar air bahan berada dalam rentang 1%-3% kadar air optimum.
c. Seluruh timbunan batu harus ditutup dengan satu lapisan atau lebih setebal 20 cm dari bahan bergradasi menerus dan tidak mengandung batu yang lebih besar dari 5 cm serta mengisi rongga-rongga batu pada bagian atas timbunan batu.
d. Timbunan dipadatkan dari tepi luar dan bergerak menuju ke arah sumbu jalan sedemikian rupa sehingga setiap ruas menerima pemadatan yang sama.
e. Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai dengan peralatan pemadat mesin gilas, harus dihampar dalam lapisan horizontal dengan tebal gembur tidak lebih dari 10 cm dan dipadatkan dengan penumbuk loncat mekanis atau timbris (tamper) manual dengan berat statis minimum 10 kg.
4. Penyiapan tanah dasar pada timbunan Ketentuan kepadatan untuk timbunan
a. Lapisan tanah yang lebih dalam dari 30 cm di bawah elevasi tanah dasar harus dipadatkan sampai 95% dari kepadatan kering maksimum yang ditentukan sesuai standar SNI.
b. Lapisan tanah pada kedalaman 30 cm atau kurang di bawah elevasi tanah dasar harus dipadatkan sampai 100% dari kepadatan kering maksimum yang ditentukan sesuai standar SNI.
c. Pengujian kepadatan disesuaikan standar SNI 2828:2011 dan keseragaman kepadatan diuji dnegan Light Weight Deflectometer (LWD).
5. Perbaikan Terhadap Timbunan yang Tidak Memenuhi Ketentuan
Timbunan akhir yang tidak memenuhi penampang melintang yang disyaratkan dalam Pasal 3.2.13 harus diperbaiki dengan menggemburkan permukaannya dan membuang atau menambah bahan sebagaimana diperlukan dalam pembentukan dan pemadatan kembali.
Timbunan yang terlalu kering untuk pemadatan dalam Pasal 3.2.2.3 diperbaiki dengan menggaru bahan tersebut, dilanjutkan dnegan penyemprotan air secukupnya dan dicampur seuruhnya dengan menggunakan motor grader atau peralatan yang disetujui.
Timbunan yang terlalu basah untuk pemadatan harus diperbaiki dengan menggaru bahan tersebut dengan motor grader secara berulang-ulang dengan selang waktu istirahat selama penanganan, dalam cuaca cerah atau diganti dengan bahan kering yang lebih cocok.
Timbunan yang telah dipadatkan menjadi jenuh akibat banjir biasanya tidak memerlukan pekerjaan perbaikan asal sifat-sifat bahan dan kerataan permukaan masih memenuhi ketentuan
Pekerjaan dalam perbaikan timbunan yang tidak memenuhi kepadatan meliputi pemadatan tambahan, penggemburan yang diikuti dengan penyesuaian kadar air dan pemadatan kembali, atau pembuangan dan penggantian bahan.
6. Metode Pengukuran dan pembayaran 1. Pengukuran Timbunan
a. Timbunan harus diukur sebagai jumlah kubik meter bahan terpadatkan yang diperlukan, diselesaikan di tempat, dan diterima.
b. Timbunan yang dihampar untuk mengganti tanah yang dibuang penyedia jasa untuk memasang pipa, drainase beton, gorong-gorong, drainase bawah tanah atau struktur tidak akan diukur untuk pembayaran.
c. Timbunan yang berada di luar kontrak kerja atau untuk mengubur bahan yang tidak terpakai, dan menutup sumber bahan tidak dimasukkan dalam pengukuran timbunan.
2. Dasar Pembayaran
RANGKUMAN COLD MILLING
Cold Milling machine merupakan perangkat mekanis yang dipakai untuk kebutuhan perbaikan jalan, menghilangkan, mengelupas atau scrapping lapisan atas aspal atau beton di permukaan jalan tol, jalan perkotaan atau landasan.
Fungsi dari cold milling machine adalah untuk membuang permukaan jalan atau landangan yang sudah rusak agar dapat kembali diperbaiki. Proses perbaikan atau pergantian aspal pada jalanan dimulai dengan pengerukan sehingga permukaan jalanan lebih rata dan tekstur sesuai untuk pengaspalan ulang atau pemasangan material baru.
Cold milling memiliki beberapa komponen, di antaranya:
a) Drum penggiling: Komponen utama yang memiliki bilah baja tajam untuk menggiling lapisan aspal atau beton. Drum disesuaikan untuk mengatur kecepatan dan kedalaman penggilingan
b) Conveyor belt: Mengangkut material bekas yang akan dibuang ke truk.
c) Sistem hidrolik: Menggerakkan dan mengendalikan komponen alat berat.
d) Rangka dan suspensi: Menahan beban dan kondisi kerja yang berat, serta menjaga stabilitas alat.
e) Sistem pendingin: Menjaga kondisi alat berat tetap dapat digunakan dalam suhu yang optimal.
f) Pengaturan kedalaman
g) Pemantauan dan pengendalian
Cara Kerja
1. Pemilihan profil
Operator alat berat ini wajib melakukan pemilihan profil yang diinginkan sesuai kebutuhan permukaan jalan yang akan dikerjakan. Hal ini berkaitan dengan penyesuaian tingkat penggilingan yang akan didapatkan.
2. Pembersihan lokasi
Petugas juga harus membersihkan wilayah atau lokasi kerja dan sekitarnya sebelum dibersihkan, seperti trotoar, lampu lalu lintas, atau penanda jalan.
Pembersihan ini dilakukan agar tidak mengganggu jalannya proses kerja.
3. Penggilingan
Pada proses penggilingan, Cold Milling diposisikan di bagian atas permukaan landasan atau jalanan. Drum dengan bilah baja akan berputar dengan tinggi dan menggiling lapisan atas aspal atau beton. Material yang tergiling masuk ke bagian conveyor belt dan akan dibuang.
4. Proses pengaturan kedalaman penggilingan
Pada saat penggilingan dilakukan, operator dapat mengatur kedalaman penggilingan yang disesuaikan dengan ketebalan sesuai dengan ketebalan lapisan yang akan dihilangkan.
5. Pengawasan kualitas
Selama proses penggilingan, operator memantau kualitas permukaan yang dihasilkan. Memastikan tingkat kehalusan, ketebalan, serta tekstur yang didapatkan sesuai dengan kebutuhan jalan atau landasan yang dikerjakan.
Kapasitas produksi per jam Cold Milling berdasarkan Permen PUPR 28 tahun 2016 yaitu:
Kecepatan laju pembongkaran/menit x lebar galian x tebal galian x factor efisiensi kerja x konversi jam ke menit
Pengujian kertas resap dilakukan sebelum atau sesudah aspal kering?
a. Kertas resap ditempel dan