“GANGGUAN STRES”
Oleh
VANESSA JENNIFER DIAZ 2016-83-033
Pembimbing
dr. David Santoso, Sp,KJ, MARS
DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK PADA BAGIAN ILMU KEJIWAAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITASPATTIMURA AMBON
2023
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan anugerah-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan referat dengan judul “GANGGUAN STRES”. Penyusunan referat ini bertujuan memenuhi salah satu tugas dalam rangka kepanitraan klinik pada bagian ilmu Kejiwaan RSKD Nania Ambon.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam referat ini, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak sangat penulis harapkan demi kesempurnaan refarat ini. Semoga referat ini dapat memberikan manfaat ilmiah bagi semua pihak yang membutuhkan.
Ambon, Januari 2023
Penulis Vanessa Jennifer Diaz
iii
COVER...i
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I PENDAHULUAN...1
I.1 Latar Belakang...1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...3
II.1 Definisi Stres...3
II.2 Gejala Stres...3
II.3 Jenis Stres...6
II.4 Tingkatan Stres...7
II.5 Faktor Penyebab Stres...12
II.6 Dampak Stres...14
II.7 Penatalaksanaan...16
BAB III KESIMPULAN...18
REFERENSI...20
1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
Modernisasi dan kemajuan tekhnologi membawa perubahan dalam cara berfikir dan dalam pola hidup masyarakat luas. Perubahan tersebut akan membawa konsekuensi dibidang kesehatan fisik dan bidang kesehatan jiwa.
Tidak semua orang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut sehingga tidak menutup kemungkinan dengan adanya perubahan yang cukup signifikan inilah beberapa individu sedikit kesulitan dalam menyesuaikannya dan menimbulkan gejala gangguan stres yang akibatnya akan menimbulkan ketegangan atau akan mengalami hal yang dapat merupakan factor pencetus, penyebab dan juga akibat dari suatu penyakit.1,2
Stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan. Bertambahnya stress hidup akan menyebabkan terganggunya keseimbangan mental – emosional yang walaupun tidak menyebabkan kematian langsung, akan tetapi mengganggu produktivitas dan hidup seseorang menjadi tidak efesien.1
Menurut peneliti lain, stres adalah tuntutan-tuntutan eksternal yang mengenai seseorang misalnya objek dalam lingkungan atau sesuatu stimulus yang secara obyektif adalah berbahaya. Stres juga bisa diartikan sebagai tekanan, ketegangan, gangguan yang tidak menyenangkan yang berasal dari luar diri seseorang.3
Menurut Lindsay, Carrieri-Kohlman, Stres adalah “Sebuah fenomena sosiopsikofisiologik, yang merupakan gabungan dari fungsi intelektual, perilaku, metabolisme, kekebalan tubuh, dan respon fisiologis lainnya terhadap stressor (atau stres) baik yang berasal dari dalam tubuh (endogen) ataupun dari luar tubuh (eksogen). Stres mungkin juga melibatkan pikiran dan perasaan yang mungkin menjadi ancaman yang dirasakn.3,4
3 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA II.1 Definisi Stres
Stres didefinisikan sebagai ketidakmampuan mengatasi ancaman yang dihadapi oleh mental, fisik, emosional, dan spiritual manusia, yang pada suatu saat dapat mempengaruhi keadaan fisik manusia tersebut. Menurut WHO (2003) stres adalah reaksi/respon tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan mental/beban kehhidupan.1,6
Cranwell-Ward (1987) menyebutkan stres sebagai reaksi-reaksi fisiologik dan psikologik yang terjadi jika orang mempersepsi suatu ketidakseimbangan antara tingkat tuntutan yang dibebankan kepadanya dan kemampuannya untuk memenuhi tuntutan itu.1
Menurut Lindsay, Carrieri-Kohlman, Stres adalah Sebuah fenomena sosiopsikofisiologik, yang merupakan gabungan dari fungsi intelektual, perilaku, metabolisme, kekebalan tubuh, dan respon fisiologis lainnya terhadap stressor (atau stres) baik yang berasal dari dalam tubuh (endogen) ataupun dari luar tubuh (eksogen).3
II.2 Gejala Stres
Humpherey mengemukakan beberapa gejala awal yang diakibatkan oleh stres yaitu:
a) Gejala perilaku, orang akan mudah gugup, penyalahgunaan obat, mudah marah, hilang semangat, tidak tenang, diam, perilaku impulsif, dan lain sebagainya.5
b) Untuk gejala emosi, seseorang akan mudah gelisah, selalu sensitif dengan kritikan, mudah tersinggung, apatis, merasa bersalah dan frustasi dan untuk gejala kognitif seseorang akan mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan, sulit untuk mengingat, khawatir dengan pelaksanaan tugas dan apatis5,7
c) Untuk gejala fisik, seseorang akan merasakan detak jantung yang semakain cepat, berkeringat, mulut kering, penyempitan pupil mata, sakit perut, sakit kepala dan panas dingin.7
Menurut Andrew Goliszek, gejala-gejala stres dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu gejala fisik, emosional, dan gejala perilaku. Antara lain:
a) Gejala fisik : sakit kepala, nyeri otot, sakit punggung, rasa lemah, gangguan pencernaan, rasa mual atau muntah-muntah, sakit perut, nafsu makan hilang atau selalu ingin makan, jantung berdebar-debar, sering buang air kecil, tekanan darah tinggi, tidak dapat tidur atau tidur berlebihan, berkeringat secara berlebihan, dan sejumlah gejala lain.8,9 b) Gejala emosional : mudah tersinggung, gelisah terhadap hal-hal kecil,
suasana hati berubah-ubah, mimpi buruk, khawatir, panik, sering menangis, merasa tidak berdaya, perasaan kehilangan kontrol, muncul
5
pikiran untuk bunuh diri, pikiran yang kacau, ketidakmampuan membuat keputusan, dan sebagainya.10
c) Gejala perilaku : merokok, memakai obat-obatan atau mengkonsumsi alkohol secara berlebihan, berjalan mondar-mandir, kehilangan ketertarikan pada penampilan fisik, menarik atau memutar-mutar rambut, perilaku sosial berubah secara tiba-tiba, dan lainnya.11
Indikator stres dapat dilihat dari dua gejala, yaitu gejala fisik dan gejala mental. Adapun yang termasuk gejala fisik antara lain: tidak peduli dengan penampilan fisik, menggigit-gigit kuku, berkeringat, mulut kering, mengetukkan atau menggerakkan kaki berkali-kali, wajah tampak lelah, pola tidur yang terganggu, memiliki kecenderungan yang berlebihan pada makanan dan terlalu sering ke toilet.12
Sedangkan untuk gejala mentalnya antara lain: kemarahan yang tak terkendali, atau lekas marah/agresivitas, mencemaskan hal-hal kecil, ketidakmampuan dalam memprioritaskan, berkonsentrasi dan memutuskan apa yang harus dilakukan, suasana hati yang sulit ditebak atau tingkah laku yang tak wajar, ketakutan atau fobia yang berlebihan, hilangnya kepercayaan pada diri sendiri, cenderung menjaga jarak, terlalu banyak berbicara atau menjadi benar-benar tidak komunikatif, ingatan terganggu dan dalam kasus-kasus yang ekstrim benar-benar kacau.11
II.3 Jenis Stres
Jenis-jenis Stres Menurut Jenita DT Donsu secara umum stres dibagi menjadi dua yaitu :12,13
a) Stres akut Stres yang dikenal juga dengan flight or flight response.
Stres akut adalah respon tubuh terhadap ancaman tertentu, tantangan atau ketakutan. Respons stres akut yang segera dan intensif di beberapa keadaan dapat menimbulkan gemetaran.
b) Stres kronis
Stres kronis adalah stres yang lebih sulit dipisahkan atau diatasi, dan efeknya lebih panjang dan lebih.
Menurut Priyoto menurut gejalanya stres dibagi menjadi tiga yaitu:14,15 a) Stres Ringan
Stres ringan adalah stressor yang dihadapi setiap orang secara teratur, seperti banyak tidur, kemacetan lalu lintas, kritikan dari atasan. Situasi stres ringan berlangsung beberapa menit atau jam saja. Ciri-ciri stres ringan yaitu semangat meningkat, penglihatan tajam, energy meningkat namun cadangan energinya menurun, kemampuan menyelesaikan pelajaran meningkat, sering merasa letih tanpa sebab, kadangkadang terdapat gangguan sistem seperti pencernaan, otak, perasaan tidak santai.
Stres ringan berguna karena dapat memacu seseorang untuk berpikir dan berusaha lbih tangguh menghadapi tantangan hidup.
7
b) Stres Sedang
Stres sedang berlangsung lebih lama daripada stress ringan.
Penyebab stres sedang yaitu situasi yang tidak terselesaikan dengan rekan, anak yang sakit, atau ketidakhadiran yang lama dari anggota keluarga.
Ciri-ciri stres sedang yaitu sakit perut, mules, otot-otot terasa tengang, perasaan tegang, gangguan tidur, badan terasa ringan.
c) Stres Berat
Stres berat adalah situasi yang lama dirasakan oleh seseorang dapat berlangsung beberapa minggu sampai beberapa bulan, seperti perselisihan perkawinan secara terus menerus, kesulitan financial yang berlangsung lama karena tidak ada perbaikan, berpisah dengan keluarga, berpindah tempat tinggal mempunyai penyakit kronis dan termasuk perubahan fisik, psikologis sosial pada usia lanjut.
Ciri-ciri stres berat yaitu sulit beraktivitas, gangguan hubungan sosial, sulit tidur, negatifistic, penurunan konsentrasi, takut tidak jelas, keletihan meningkat, tidak mampu melakukan pekerjaan sederhana, gangguan sistem meningkatm perasaan takut meningkat.15
II.4 Tingkatan Stres
Stres yang dialami tiap individu tidak selalu sama walaupun faktor penyebabnya kemungkinan sama. Seseorang dapat mengalami stres ringan, sedang, dan/atau stres berat (kronis). Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat
kedewasaan, kematangan emosional, kematangan spiritual, dan kemampuan masing-masing individu untuk menangani dan merespons stresor.15
Menurut Amberg, gangguan stres biasanya timbul secara lambat, tidak jelas awal mulanya dan sering kali tidak disadari. Berikut enam tingkatan stres :12,13 a) Stres tingkat I
Tahapan ini merupakan tingkat stres yang paling ringan dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut:
1) Semangat besar.
2) Penglihatan tajam tidak sebagaimana mestinya.
3) Energi dan gugup berlebihan, kemampuan menyelesaikan masalah pekerjaan lebih dari biasanya.
b) Stres tingkat II
Dalam tingkatan ini dampak stres yang menyenangkan mulai menghilang dan timbul keluhan-keluhan dikarenakan cadangan energi tidak lagi cukup sepanjang hari. Keluhan yang sering dikemukakan sebagai berikut:
1) Merasa letih ketika bangun pagi.
2) Merasa lelah sesudah makan siang.
3) Merasa lelah sepanjang sore.
4) Terkadang gangguan sistem pencernaan (gangguan usus, perut kembung), kadang-kadang pula jantung berdebar.
9
5) Perasaan tegang pada otot-otot punggung dan tengkuk (belakang leher).
6) Perasaan tidak bisa santai.
c) Stres tingkat III
Pada tingkatan ini keluhan keletihan nampak disertai dengan gejala-gejala:
1) Gangguan usus lebih terasa.
2) Otot terasa lebih tegang.
3) Perasaan tegang yang semakin meningkat.
4) Gangguan tidur (sukar tidur, sering terbangun dan sukar tidur kembali, atau bangun pagi-pagi).
5) Badan terasa oyong, rasa-rasa mau pingsan (tidak sampai jatuh).
d) Stres tingkat IV
Tingkatan ini sudah menunjukkan keadaan yang lebih buruk, yang ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1) Untuk bisa bertahan sepanjang hari terasa sulit.
2) Kegiatan-kegiatan yang semula menyenangkan kini terasa sulit.
3) Kehilangan kemampuan untuk menanggapi situasi, pergaulan social dan kegiatan-kegiatan rutin lainnya terasa berat
4) Tidur semakain sukar, mimpi-mimpi menegangkan dan seringkali terbangun dini hari.
5) Perasaan negativistik.
6) Kemampuan konsentrasi menurun tajam.
7) Perasaan takut yang tidak dapat dijelaskan, tidak mengerti mengapa.
e) Stres tingkat V
Tingkat ini merupakan keadan yang lebih mendalam dari tingkatan empat diatas:
1) Keletihan yang mendalam.
2) Untuk pekerjaan-pekerjaan yang sederhana saja terasa kurang mampu.
3) Gangguan sistem pencernaan (sakit maag dan usus) lebih sering, sukar buang air besar atau sebaliknya feses encer dan sering ke belakang (kamar mandi).
f) Stres tingkat VI
Tingkatan ini merupakan tingkatan puncak yang merupakan keadaan darurat. Gejalanya antara lain:
1) Debaran jantung terasa amat keras.
2) Nafas sesak.
3) Badan gemetar.
11
4) Tenaga untuk hal-hal yang ringan sekalipun tidak kuasa lagi, pingsan atau collap.
Pendapat yang lain tentang tingkat stres dikemukakan oleh Weiten, ia menjelaskan adanya empat jenis tingkat stres, yaitu:
a) Perubahan
Kondisi yang dijumpai ternyata merupakan kondisi yang tidak semestinya serta membutuhkan adanya suatu penyesuaian.
b) Tekanan
Kondisi dimana terdapat suatu harapan atau tuntutan yang sangat besar terhadap individu untuk melakukan perilaku tertentu.
c) Konflik
Kondisi ini muncul ketika dua atau lebih perilaku saling berbenturan, dimana masing-masing perilaku tersebut butuh untuk diekspresikan atau malah saling memberatkan.
d) Frustasi
Kondisi dimana individu merasa jalan yang akan daaitempuh untuk meraih tujuan dihambat.
Pendapat Amberg berdasar pada kajian keilmuan yaitu dalam bidang kedokteran jiwa. Apabila dilihat kembali indikatornya jelas sebagian bersifat fisik daripada psikis.
Sedangkan pendapat Weiten meski dikatakan sebagai tingkat stres namun peneliti berpendapat bahwa hal tersebut masih terdapat kekurangan yaitu kekaburan perbedaan antara jenis stres ataukah tingkat stres.
II.5 Faktor Penyebab Stres
Para peneliti menyetakan terdapat beberapa faktor yang menyebabkan stres, antara lain :14
1) Faktor Lingkungan
Ketidakpastian lingkungan mempengaruhi perancangan struktur organisasi, ketidakpastian juga mempengaruhi tingkat stres di kalangan individu dalam sebuah organisasi. Bentuk-bentuk ketidakpastian lingkungan ini antara lain ketidakpastian ekonomi berpengaruh terhadap seberapa besar pendapatan yang diterima oleh individu maupun reward yang diterima individu, ketidakpastian politik berpengaruh terhadap keadaan dan kelancaran organisasi yang dijalankan, ketidakpastian teknologi berpengaruh terhadap kemajuan suatu organisasi dalam penggunaan teknologinya, dan ketidakpastian keamanan berpengaruh terhadap posisi dan peran organisasinya.
2) Faktor Organisasi
Beberapa faktor organisasi yang menjadi potensi sumber stres antara lain:
a) Tuntutan tugas dalam hal desain pekerjaan individu, kondisi kerja, dan tata letak kerja fisik.
13
b) Tuntutan peran yang berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada seseorang sebagai fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam sebuah organisasi termasuk beban kerja yang diterima seorang individu.
c) Tuntutan antar-pribadi, yang merupakan tekanan yang diciptakan oleh individu lain disekitarnya, seperti kurangnya dukungan sosial dan buruknya hubungan antar pribadi.
d) Struktur organisasi yang menentukan tingkat diferensiase dalam organisasi, tingkat aturan dan peraturan, dan di mana keputusan di ambil. Aturan yang berlebihan dan kurangnya partisipasi individu dalam pengambilan keputusan merupakan potensi sumber stres.
e) Kepemimpinan organisasi yang terkait dengan gaya kepemimpinan atau manajerial dan eksekutif senior organisasi. Gaya kepemimpinan tertentu dapat menciptakan budaya yang menjadi potensi sumber stres.
3) Faktor Individu
Faktor individu menyangkut dengan faktor-faktor dalam kehidupan pribadi individu. Faktor tersebut antara lain persoalan keluarga, masalah ekonomi pribadi, dan karakteristik kepribadian bawaan. Menurut Robbins, setiap individu memiliki tingkat stres yang berbeda meskipun diasumsikan berada dalam faktor-faktor pendorong stres yang sama. Perbedaan individu dapat menentukan tingkat stress yang ada. Secara teoritis faktor perbedaan
individu ini dapat dimasukkan sebagai variable intervening. Ada lima yang dapat menjadi variabel atau indikator yang dapat digunakan dalam mengukur kemampuan individu dalam menghadapi stres yaitu pengalaman kerja merupakan pengalaman seorang individu dalam suatu pekerjaan dan pendidikan yang ditekuninya, dukungan sosial merupakan dukungan atau dorongan dari dalam diri sendiri maupun orang lain untuk menghadapi masalah-masalah yang dialaminya termasuk bagaimana motivasi dari dalam diri individu maupun dari luar individu, ruang (locus) kendali merupakan cara bagi seorang individu mengendalikan diri untuk menghadapi masalah yang ada, keefektifan dan tingkat kepribadian orang dalam menyingkapi permusuhan dan kemarahan.12
II.6 Dampak Stres
Stres pada dosis yang kecil dapat berdampak positif bagi individu. Hal ini dapat memotivasi dan memberikan semangat untuk menghadapi tantangan.
Sedangkan stres pada level yang tinggi dapat menyebabkan depresi, penyakit kardiovaskuler, dan penurunan respon imun.9,10
Menurut Priyono dampak stres dibedakan dalam tiga kategori, yaitu : A. Dampak fisiologik
1) Gangguan pada organ tubuh hiperaktif dalam salah satu system tertentu
a. Muscle myopathy : otot tertentu mengencang/melemah.
15
b. Tekanan darah naik : kerusakan jantung dan arteri.
c. Sistem pencernaan : mag, diare.
2) Gangguan system reproduksi
a. Amenorrhea : tertahannya menstruasi.
b. Kegagalan ovulasi ada wanita, impoten pada pria, kurang produksi semen pada pria.
c. Kehilangan gairah sex.
3) Gangguan lainnya, seperti pening (migrane), tegang otot,rasa bosan, dll.
B. Dampak psikologik
1) Keletihan emosi, jenuh, penghayatan ini merpakan tanda pertama dan punya peran sentral bagi terjadinya burn-out.
2) Kewalahan/keletihan emosi.
3) Pencapaian pribadi menurun, sehingga berakibat menurunnya rasa kompeten dan rasa sukses.
C. Dampak perilaku
1) Manakala stres menjadi distres, prestasi belajar menurun dan sering terjadi tingkah laku yang tidak diterima oleh masyarakat.
2) Level stres yang cukup tinggi berdampak negatif pada kemampuan mengingat informasi, mengambil keputusan, mengambil klangkah tepat.
3) Stres yang berat seringkali banyak membolos atau tidak aktif mengikuti kegiatan pembelajaran.
II.7 Penatalaksanaan 1. Terapi Farmakologi
Terapi farmakologi merupakan suatu jenis terapi yang menggunakan obat-obatan yang berkhasiat memulihkan fungsi gangguan neurotransmiter disusunan syaraf pusat otak yakni sistem limbik.
Sebagaimana diketahui sistem limbik merupakan bagian otak yang berfungsi mengatur alam pikiran, alam perasaan dan perilaku seseorang.
Obat yang sering dipakai adalah obat anti cemas (axiolytic) golongan benzodiazepine seperti diazepam, lorazepam, alprazolam dan anti depresi (anti depressant) golongan SSRI seperti fluoxetine, sertraline (Zoloft).6,7 2. Psikoterapi
a. Pendekatan perilaku
Pendekatan perilaku dilakukan dengan mengubah perilaku yang menimbulkan stress akut, toleransi atau adaptabilitas terhadap stress akut yang dialami, menyeimbangkan antara aktivitas fisik dan nutrisi, serta manajemen perencanaan, organisasi dan waktu.
17
b. Pendekatan Kognitif
Pendekatan kognitif merupakan pendekatan yang bertujuan untuk mengubah pola pikir individu agar berpikir positif dan sikap yang positif, membekali diri dengan pengetahuan tentang stres, serta menyeimbangkan antara aktivitas otak kiri dan kanan. Pendekatan kognitif bisa juga dilakukan dengan menggunakan metode hipnoterapi.1,6
c. Metode Coping Stres Menggunakan Teknik Relaksasi
Relaksasi dilakukan dengan tujuan untuk melepaskan semua ketegangan-ketegangan yang selama ini dialami oleh individu.
Relaksasi yang dilakukan bisa berupa relaksasi otot-otot, relaksasi kesadaran indra dan relaksasi pikiran-pikiran.1,2
18
Stres didefinisikan sebagai ketidakmampuan mengatasi ancaman yang dihadapi oleh mental, fisik, emosional, dan spiritual manusia, yang pada suatu saat dapat mempengaruhi keadaan fisik manusia tersebut. Menurut WHO (2003) stres adalah reaksi/respon tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan mental/beban kehhidupan.
Gejala stres paling umum yang ditemukan pada individu adalah 1) Gejala perilaku, orang akan mudah gugup, penyalahgunaan obat, mudah marah, hilang semangat, tidak tenang, diam, perilaku impulsif, dan lain sebagainya. 2) Untuk gejala emosi, seseorang akan mudah gelisah, selalu sensitif dengan kritikan, mudah tersinggung, apatis, merasa bersalah dan frustasi dan untuk gejala kognitif seseorang akan mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan, sulit untuk mengingat, khawatir dengan pelaksanaan tugas dan apatis. 3) Untuk gejala fisik, seseorang akan merasakan detak jantung yang semakain cepat, berkeringat, mulut kering, penyempitan pupil mata, sakit perut, sakit kepala dan panas dingin.
Stres akut Stres yang dikenal juga dengan flight or flight response dan stres kronis merupakan pembagian secara umum untuk jenis stres. Setelah itu, pembagian jenis stres juga sesuai jenis stres ringan, sedang dan berat.
Stres yang dialami tiap individu tidak selalu sama walaupun faktor penyebabnya kemungkinan sama. Seseorang dapat mengalami stres ringan, sedang, dan/atau stres berat (kronis). Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat
19
kedewasaan, kematangan emosional, kematangan spiritual, dan kemampuan masing-masing individu untuk menangani dan merespons stresor. Menurut Amberg tingkatan stres berdasar pada kajian keilmuan yaitu dalam bidang kedokteran jiwa. Apabila dilihat kembali indikatornya jelas sebagian bersifat fisik daripada psikis. Sedangkan pendapat Weiten meski dikatakan sebagai tingkat stres namun peneliti berpendapat bahwa hal tersebut masih terdapat kekurangan yaitu kekaburan perbedaan antara jenis stres ataukah tingkat stres.
Terapi farmakologi merupakan suatu jenis terapi yang menggunakan obat-obatan yang berkhasiat memulihkan fungsi gangguan neurotransmiter disusunan syaraf pusat otak yakni sistem limbik. Selain itu, terapi psikoterapi juga dianjurkan untuk individu yang merasa mengalami gangguan stres.
20
2. Hawari, Dadang. Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta: FKUI. 2011 3. Musradinur. Stres dan Cara Mengatasinya dalam Porspek Psikologi. Jurnal
Edukasi, Vol.2, No.2, Hal.183-200. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry :Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. 2016.
4. Carr, D., & Umberson, D. The social psychology of stress, health, and coping.
In DeLameter, J. & Ward, A. (Eds.). Handbook of Social Psychology (pp.
465-487). Netherlands: Springer.2013.
5. Lin, S. H., & Huang, Y. C. Life stress and academic burnout. Active Learning in Higher Education, 15(1), 77-90. 2014.
6. Lyon, B. L. Stress, coping, and health. In Rice, H. V. (Eds.) Handbook of stress, coping and health: Implications for nursing research, theory, and practice(pp.3-23). USA: Sage Publication, Inc.2012.
7. Jayanthi, P., Thirunavukarasu, M., & Rajkumar, R. Academic stress and depression among adolescents: A cross-sectional study. Indian Pediatrics,52(3), 217-219.2015.
8. Waqas, A., Khan, S., Sharif, W., Khalid, U., & Ali, A. Association of academic stress with sleeping difficulties in medical students of a Pakistani medical school: a cross sectional survey. PeerJ, 2-11. doi: 10.7717/peerj.840
21
9. Chernomas & Shapiro. Stress, depression, and anxiety among undergraduate nursing student. International journal of nursing education scholarship, 10(1).
doi: 10.1515/ijnes-2012-0032.
10. Dodiansyah, Khafidh. Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan StresKerja Pada Karyawan Solopas. Skripsi. Surakarta: Fakultas PsikologiUniversitas Muhammadiyah Surakarta
11. Greczanik H.M & Lupico V.A. The Relationship Between Stress And Social Support in Baccalaureate Nursing Students. Honors Research Project. 2016 12. Handayani, R, Hubungan Antara Tipe Kepreibadian Ekstrovert danInstrovet
Dengan Toleransi Terhadap Stres Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Angkatan 2001, Skripsi (TidakDiterbitkan).
Surakarta, Fakultas Psikologis, UMS.Hans Selye(2005). The strees of life.
New york : MCgraw hill
13. Hawari, Dadang. Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta : FKUniversitas Indonesia.
14. Courtois, C, Sonis, J, Brown, L, Schulz, P. Guideline Development Panel for the Treatment of Posttraumatic Stress Disorder in Adults Adopted as APA Policy. American Psychological Association.2017.
15. Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa: Rujukan singkat dari PPDGJ-III DSM-5 ICD-11. 3rd ed. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya; 2019.