• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Kerja dan Syarat Pembangunan Jalan Kebumen STA 7+950

N/A
N/A
Dopris Purnama

Academic year: 2025

Membagikan "Rencana Kerja dan Syarat Pembangunan Jalan Kebumen STA 7+950"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

RENCANA KERJA DAN SYARAT – SYARAT (RKS) PEMBANGUNAN JALAN KEBUMEN

BAB I

PERSYARATAN UMUM PASAL 01. NAMA DAN LOKASI PEKERJAAN

Nama Pekerjaan : Pembangunan Jalan Kebumen STA 7 + 950 Lokasi Pekeejaan : Wilayah Kota Kebumen

Sumber Dana :

PASAL 02. PEDOMAN TEKNIS

Dalam melaksanakan pekerjaan terdapat Pedoman teknis yang digunakan untuk Pembangunan ini mengacu pada :

a. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 38 tahun 2004 tentang jalan.

b. Undang-undang Nomor 26 tahun 2007 tentang penataan ruang.

c. Peraturan pemerintah nomor 26 tahun 2008 tentang rencana tata ruang wilayah (RTRW) Nasional.

d. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 tahun 2006 tentang jalan.

e. Peraturan SPM tentang bidang jalan untuk perencanaan geometri jalan.

f. Standard kementrian PUPR Direktorat Jendral Bina Marga tentang Manual Perkerasan Jalan (Revisi Juni 2017) Nomor 04/SE/Db/2017.

g. Standard kementrian PUPR Direktorat Jendral Bina Marga tentang Manual Perkerasan Jalan No. 03/M/BM/2024.

h. Standard kementrian PUPR Direktorat Jendral Bina Marga tentang Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia No. 09/P/BM/2023.

(2)

PASAL 03. KETENTUAN UMUM DAN SYARAT BAHAN, ALAT PELAKSANAAN

a. Rencana kerja dan syarat-syarat pekerjaan jalan ini, dibuat dengan maksud agar konstruksi jalan yang dikerjakan memenuhi kualitas/persyaratan- persyaratan yang tertuang dalam gambar dan spesifikasi jalan ini serta berita acara rapat penjelasan, sebagaimana yang direncanakan/dikehendaki perencana.

b. Pemborong berkewajiban untuk melaksanakan pekerjaan jalan sesuai dengan spesifikasi jalan, gambar-gambar jalan yang terlampir serta berita acara rapat penjelasan.

c. Pihak direksi dan anggota team yang berpengalaman berkewajiban untuk mengawasi pekerjaan pemborong agar sesuai dengan spesifikasi jalan, gambar-gambar jalan yang terlampir serta berita acara rapat penjelasan.

d. Pemborong wajib mempunyai team quality control yang khusus mengawasi pekerja dan produknya agar sesuai dengan spesifikasi jalan, gambar-gambar jalan yang terlampir serta berita acara rapat penjelasan.

e. Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan, kontraktor dan direksi berkewajiban memeriksa dengan cermat kesesuaian gambar jalan berserta spesifikasi masing-masing.

f. Bila gambar kerja tidak sesuai dengan RKS maka yang mengikat/berlaku adalah gambar kerja.

g. Bila gambar tidak cocok dengan gambar lain dalam satu disiplin kerja, maka gambar yang mempunyai skala lebih besar (detail) yang berlaku.

h. Shop drawing merupaka gambar yang wajib dibuat oleh kontraktor berdasarkan gambar kerja dokumen yang telah disesuaikan keadaan di lapangan.

i. Kontraktor wajib membuat shop drawing untuk detail-detail khusus yang belum lengkap dalam gambar kerja dokumen.

j. Kontraktor wajib mengajukan shop drawing kepada MK dan pengawas lapangan untuk mendapatkan persetujuan tertulis bagi pelaksana kegiatan.

k. Kontraktor tidak dibenarkan mengubah atau menggantu ukuran gambar kerta tanpa sepengetahuan pengawas lapangan.

(3)

l. Segala akibat yang terjadi adalah tanggung jawab kontraktor dari segi biaya, waktu dan konsekuensi Keputusan dari pengguna anggaran.

m. Bahan dan alat yang akan digunakan serta syarat-syarat pelaksanaan dan ketentuan syarat bahan lainnya yang berlaku di Indonesia.

n. Semua bahan material yang akan digunakan untuk pekerjaan pelaksanaan terlebih dahulu harus memberikan contoh kepada pihak direksi.

o. Bahan- bahan yang tidak sesuai spesifikasi/ berkualiatas jeek yang ditolak direksi, tidak boleh dipergunakan dan harus segera dikeluarkan dari lapangan pekerjaan selambat-lambatnya dalam waktu 2x24 jam.

p. Jika terdapat perselisihan dalam pelaksanaan tentang pemeriksaan kualitas dari bahan-bahan, direksi berhak mengambil cpntph dari bahan dan memeriksanya ke laboratorium Balai Penelitian bahan-bahan milik pemerintah dan biaya yang timbul menjadi tanggung jawab pemborong pekerjaan.

q. Kontraktor harus menyediakan alat pelaksanaan sebelum pekerjaan dimulai, terdapat beberapa alat yaitu, theodolite dan waterpass yang telah diizinkan pengawas lapangan, perlengkapan penerangan untuk lembur, semua alat berat yang sesuai spesifikasi atas persetujuan pengawas lapangan.

PASAL 04. LINGKUP PEKERJAAN

Lingkup pekerjaan konstruksi yang akan dilaksanakan sesuai dengan kuantitas konstruksi tersebut secara garis besar meliputi :

a. Pekerjaan persiapan

b. Pekerjaan galian dan timbunan c. Pekerjaan drainase (parit)

d. Pekerjaan penyiapan dan pengerasan badan jalan e. Pekerjaan jalur pejalan kaki (Trotoar)

f. Pemeliharaan

(4)

PASAL 05. TUJUAN

a. Tujuan pedoman teknis/spesifikasi teknis Pembangunan jalan kebumen sta 7+950 adalah memberikan pedoman secara teknis kepada pelaksana dalam menyiapkan Pembangunan jalan.

b. Tujuan kegiatan Pembangunan jalan ini untuk mempercepat transportasi dari Kawasan tambang batu bara, kantor pemerintah maupun perumahan penduduk.

PASAL 06. SASARAN

a. Mempermudah akses dalam hal transportasi di Kawasan atau area tambang batu bara, kantor pemerintah dan Kawasan perumahan penduduk.

b. Adanya penunjang infrastruktur maka tambang batu bara akan lebih mudah dalam pengangkutannya.

PASAL 07. PENJAGA KEAMANAN LAPANGAN

a. Penyedia Jasa diwajibkan menjaga keamanan lapangan terhadap barang- barang milik Pemerintah dan milik Pihak Ketiga yang ada di lapangan. 

b. Bila terjadi kehilangan bahan-bahan bangunan yang telah disetujui Pengawas Lapangan baik yang telah dipasang maupun yang belum adalah menjadi tanggungjawab Penyedia Jasa dan tidak akan diperhitungkan dalam biaya pekerjaantambahan (bila ada).

c. Apabila terjadi kebakaran Penyedia Jasa bertanggung jawab atas akibatnya, baik yang berupa barang-barang maupun keselamatan jiwa. Untuk itu penyedia jasa diwajibkan menyediakan alat pemadam kebakaran yang siap ditempatkan yang akan ditetapkan oleh pengawas lapangan

PASAL 08. JAMINAN DAN KESELAMATAN KERJA

a. Penyedia jasa diwajibkan menyediakan obat-obatan menurut syarat-syarat pertolongan pertama pada kecelakaan (PPPK) yang selalu dalam keadaan siap

(5)

digunakan di lapangan untuk mengatasi segala kemungkinan musibah bagi semua petugas dan pekerja.

b. Penyedia jasa wajib menyediakan air minum yang bersih dan memenuhi syarat Kesehatan bagi semua petugas yang ada di bawah kekuasaan penyedia jasa.

c. Penyedia jasa wajib menyediakan air bersih, kamar mandi dan WC yang layak dan bersih bagi semua petugas dan pekerja.

d. Segala hal yang menyangkut jaminan sosial dan keselamatan pekerja, wajib diberikan oleh penyedia jasa sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(6)

BAB II

URAIAN PEKERJAAN PASAL 01. PEKERJAAN PERSIAPAN

1. Pekerjaan pemetaan atau pengukuran badan jalan

Tahap ini merupakan tahap pertama diman menggumpulkan data spasial yang akurat mengenai kondisi fisik yang akan digunakan untuk perencanaan geometri jalan, desain jalan, struktur perkerasan, sistem drainase dan pemeliharaan jalan. Selain itu juga memilih titik-titik yang stabil dan mudah diidentifikasi sebagai acuan pengukuran, mengukur detail seperti kemiringan, lebar, elevasi dan mengukur profil tanah untuk mengetahui titik-titik penting.

2. Stripping dan Pembersihan lahan

a. Stripping dilakukan pada lahan yang hanya ditumbuhi oleh rumput dengan menggunakan alat buldoser atau excavator dengan ketebalan sekitar 10 cm.

b. Daerah yang akan didirikan jalan harus kering/ bebas air, untuk itu pemborong harus menyediakan mesin pompa air bila diperlukan.

c. Penebangan pohon hanya dilakukan pada tempat tertentu yang mengganggu konstruksi, penebangan pohon harus mendapatkan izin dari direksi/konsultan.

d. Sisa kayu, akar, batu-batuan dan unsur yang mengganggu harus dikeluarkan dari Lokasi konstruksi sebelum pengupasan tanah.

e. Sebelum pekerjaan pembentukan muka tanah dilakukan jaringan air bersih dan Listrik pada Lokasi Pembangunan harus diamankan/dipindahkan.

3. PEMASANGAN PAPAN NAMA PROYEK

a. Papan nama proyek dipasang pada patokan kayu dengan ukiuran kaso (5/7 cm) yang tertancap ditanah sehingga tidak bisa digerak-gerakkan atau dirubah-rubah.

(7)

b. Papan nama proyek dengan bahan banner digital printing dengan informasi berisi nama pemilik proyek, nama Perusahaan pelaksana, nama Perusahaan pengawas, nilai kontrak, dan jangka waktu pekerjaan.

c. Papan nama proyek dipasang sejauh 100 cm dari sisi luar galian pondasi atau ditempatkan didepan Lokasi proyek yang menghadap jalan utama agar terlihar dan terbaca serta tidak mengganggu pekerjaan yang akan dilakukan.

4. MOBILISASI PERALATAN KERJA

a. Kontraktor harus mempersiapkan dan mengadakan peralatan kerja dan alat bantu yang akan digunakan di Lokasi proyek yang sesuai dengan lingkup pekerjaan.

b. Kontraktor harus menjaga keamanan, ketertiban, kelancaan, dan kebersihan selama perjalanan alat-alat menggunakan jalanan umum yang mengganggu lalu lintas.

c. Pengawas/direksi berhak memerintah untuk menambah atau menolak peralatan yang tidak sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan.

d. Penggunaan alat berat dan pengoperasian peralatan mengikuti aturan perizinan yang ditetapkan oleh Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya (DLLAJR), kepolisian dan instansi terkait lainnya.

e. Jika pekerjaan telah selesai pemborong bertanggung jawab untuk segera mengeluarkan alat kerja dari Lokasi proyek.

PASAL 02. PEKERJAAN GALIAN DAN TIMBUNAN 1. PEKERJAAN GALIAN

a. Galian harus dilaksanakan menurut kelandaian dan elevasi yang ditentukan dalam gambar yang disetujui oleh direksi teknis.

b. Pekerjaan galian harus dilaksanakan dengan gangguan seminimal mungkin terhadap bahan di bawah dan di luar batas galian.

c. Galian pada kemiringan/landau pemotongan melintang dan memanjang badan jalan harus benar-benar dikerjakan menurut gambar rencana dengan

(8)

membuat permukaan badan jalan yang segera menggalirkan air hujan supaya tidak terjadi genangan.

d. Jika terdapat pekerjaan galian harus menggali batu, maka harus dilakukan sedemikian rupa apakah dengan cara ledakan atau yang lainnya sehinnga permukaan galian harus dibiarkan pada kondisi yang aman.

e. Pada pelaksaan pekerjaan galian kontraktor harus mempertahankan lereng semntara galian yang stabil agar mampu menahan pekerjaan, atau mesin disekitarnya.

f. Kontraktor harus memasang penyokong dan pengaku yang memadai untuk menopang permukaan lereng galian yang mungkin tidak stabil.

g. Direksi memerintah untuk menjaga stabilitas lereng galian, maka galian yang lebih dari 5 meter harus dibuat bertangga dengan teras selebar 1 meter.

h. Semua pekerjaan galian harus mengacu pada standard yang sudah ditetapkan yaitu spesifikasi pekerjaan tanah (diklat spesifikasi umum pekerjaan jalan dan jembatan) dan ……..

2. PEKERJAAN TIMBUNAN

a. Direksi memerintah untuk membuang semua bahan yang tidak diperlukan sebelum penghambaran timbunan di setiap tempat.

b. Kontraktor harus memasang patok batas dasar timbunan 3 hari sebelum pekerjaan dimuali.

c. Bahan timbunan yang dipilih sebaiknya termasuk tanah berplastis tinggi, yang diklasifikasi sebagai A-7-6 menurut AASHTO M145 atau sebahi CJ menurut ”Unified atau Casagande Soil Classification System”.

d. Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan pilihan harus terdiri dari timbunan tanah atau batu yang memenuhi semua ketentuan SNI 03- 1744-1989 yang memiliki CBR minimum 10%, setelah 4 hari perendaman bila dipadatkan sampai 100%.

e. Pemadatan timbunan tanah harus dilaksanakan hanya bilamana kadar air bahan berada dalam rentang 3% di bawah kadar air optimum 1% di atas kadar air optimum, sesuai dengan SNI 03-1742-1989.

(9)

f. Seluruh timbunan batu dan Dasar pondasi timbunan harus dipadatkan setebal 20 cm dari bahan bergradasi menerus yang tidak menggandung batu dan memenuhi kepadatan yang disyaratkan.

g. Timbunan pada Lokasi yang tidak dapat dicapai peralatan pemadat mesin gilas, harus dihambar dalam lapisan horizontal dengan tebal gembur dan tidak lebih dari 15 cm.

h. Lapisan tanah yang lebih dalam dari 30 cm di bawah elevasi tanah dasar harus dipatkan sampai 95% dari kepadatan kering maksimum yang ditentukan SNI 03-1742-1989.

i. Lapisan tanah pada kedalaman 30 cm atau kurang dari elevasi tanah dasar harus dipadatkan sampai dengan 100 % dari kepadatan kering maksimum yang ditentukan sesuai dengan SNI 03-1742-1989.

PASAL 03. PEKERJAAN DRAINASE (PARIT)

Pekerjaan Drainase (parit) merupakan pekerjaan yang termasuk dalam pekejaan badan jalan, meliputi :

a. Drainase jalan dibuat sesuai dengan gambar rencana atau kedalam parit tidak boleh rendah dari parit pembungan sekitar dan sesuai dengan arahan dari pengawas Teknik.

b. Drainase dibuat sesuai kebutuhan keadaan lapangan sepanjang ±4km. Jarak antara pengaliran air dibuat sependek mungkin dengan jarak minimal 50 m, tergantung kondisi lapangan dan petunjuk pengawas teknis.

c. Pada tikungan jalan di daerah galian terutama bertebing tinggi harus dibuat pembuangan air asal parit jalan yang cukup baik.

d. Guna mengetahui tempat-tempat Dimana air hujan dapat dialiarkan dengan sempurna, pelaksana dan pengawas wajib mengadakan peninjauan jalan pada saat hujan.

(10)

PASAL 04. PEKERJAAN PENYIAPAN DAN PENGERASAN BADAN JALAN

1. Lingkup Pekerjaan

a. Pengerasan badan jalan dikenal dengan istilah gravelling dilakukan untuk membuat lapisan permukaan badan jalan yang kuat dan kokoh.

b. Pekerjaan pengerasan badan jalan mencakup penyiapan, penggaruan dan pemadatan permukaan tanah dasar untuk hamparan lapis pondasi agregat, lapis pondasi jalan tanpa penutup aspal, dan lapis pondasi semen tanah atau lapis pondasi beraspal.

c. Standar rujukan yang relevan mengacu pada spesifikasi pekerjaan galian.

d. Penyiapan tempat kerja berdasarkan pekerjaan galian yang diperlukan untuk membentuk tanah dasar dan timbunan yang dihampar harus sesuai dengan spesifikasi.

e. Tanah dasar yang dipadatkan dan jaminan mutu tanah dasar harus sesuai dengan spesifikasi.

2. Persyaratan Bahan

a. Bahan yang digunakan harus sesuai yang diperintahkan direksi pekerjaan, dan sifat bahan yang disyaratkan untuk bahan yang dihampar dan membentuk tanah dasar yang disyaratkan dalam spesifikasi untuk bahan.

b. Lapis pondasi agregat terdiri dari 3 kelas, yaitu agregat kelas A, agregat kelas B, dan agregat kelas C. Agregat kelas A&B digunakan untuk lapis pondasi, sedangkan agregat kelas C untuk lapis pondasi bawah, bahu jalan dan perkerasan tanpa penutup aspal.

Elevasi permukaan

Bahan dan Lapisan Pondasi Agregat Toleransi Tinggi Permukaan Agregat kelas C digunakan sebagai lapis pondasi

bawah

±1.5cm Agregat kelas A & Kelas B digunakan untuk lapis ±1cm

(11)

pondasi jalan yang akan ditutup dengan lapis resap ikat atau pelaburan

Ketebalan Lapis Pondasi Agregat

Bahan dan Lapisan Pondasi Agregat Toleransi Tinggi Permukaan Agregat kelas C digunakan sebagai lapis pondasi

bawah

±1cm

Agregat kelas A & Kelas B digunakan untuk lapis pondasi jalan yang akan ditutup dengan lapis resap ikat atau pelaburan

±0−1cm

Tebal total minimum lapis pondasi agregat kelas A dan kelas C atau kelas B dan kelas C tidak boleh kurang dari tebal yang disyaratkan.

Kerataan Lapis Pondasi Agregat

Bahan dan Lapisan Pondasi Agregat Toleransi Tinggi Permukaan Agregat kelas C digunakan sebagai lapis pondasi

bawah

−1cm

Agregat kelas A & Kelas B digunakan untuk lapis pondasi jalan yang akan ditutup dengan lapis resap ikat atau pelaburan

+1cm

Pengukuran kerataan permukaan dengan mistar Perata Panjang 3 m yang diletakkan sejajar dan melintang sumbu jalan, dilakukan setelah semua bahan yang dilepas dibersihkan.

c. Lapis pondasi agregat dipilih dari sumber yang disetujui direksi pekerjaan sesuai dengan spesifikasi.

d. Kontraktor harus menyerahkan sampel agregat kepada dieksi sebanyak 50 kg dijadikan sebagai rujukan selama pelaksanaan pekerjaan.

(12)

e. Agregat berupa batu pecah yang mempunyai ukuran lebih dari 4.75 mm yang bebas dari lempung dan kotoran lainnya.

f. Agregat halus berupa pasir yang lolosa saringan 4.75 mm yang bebas dari lempung dan kotoran lainnya.

g. Pencampuran bahan harus memenuhi ketentuan yang disyaratkan dan telah disetujui oleh direksi, dan dengan aspal keras penetrasi 60/70 atau 80/100 yang seragam, tidak mengandung air, bila dipanaskan sampai dengan 175°C tidak berbusa, dan memenuhi persyaratan.

h. Lapis resap pengikat/ primer coat merupakan cairan ikat aspal cair tidak boleh dipakai berlebih karena akan menimbulkan bleeding/ kegemukan jalan.

i. Lapisan tack coat atau lapis perekat yang diberikan sebelum lapis berikutnya akan dihamparkan, dipakai kisaran 0,15 liter/m2 atau lebih tipis dari primer coat.

j. Asphalt Concrete – Binder Course (AC-BC) merupakan lapisan perkerasan yang terletak dibawah lapisan aus (wearing course) dan di atas lapisan pondasi (base course), Karakteristik yang terpenting pada campuran ini adalah stabilitas.

k. Asphalt Concrete -Wearing Course (AC-WC) merupakan lapisan perkerasan yang terletak paling atas berfungsi sebagai lapisan aus. AC- WC dapat menambah daya tahan perkerasan terhadap penurunan mutu sehingga secara keseluruhan menambah masa pelayanan dari konstruksi perkerasan. AC-WC mempunyai tekstur yang paling halus dibandingkan dengan jenis laston lainnya.

3. Persyaratan Pelaksanaan

a. Elevasi dan kekuatan tanah dasar dibuat sesuai rencana, kemiringan melintang sekita 3% didaerah lurus dengan CBR minimum 4%.

b. Lapisan dasar berupa lapis pondasi kelas A/B

c. Pengawas wajib memperhatikan pekerjaan sub base course atau lapis pondasi bawah dengan ketebalan 30 cm berupa batu pecah atau batu makadam.

(13)

d. Pekerjaan base course atau lapis permukaan berupa campuran 70% batu pecahan berwarna abu keputihan ukuran 5cm, dan 30% lagi campuran abu batu atau pasir ini yang dinamakan Base course type A hingga ketebalan 15 cm.

e. Pencampuran agregat dan aspal dengan temperature tidak lebih rendah lebih rendah 150ºC dan tidak boleh lebih lebih rendah 170ºC, diawasi oleh pengawas teknis.

f. Pengawas memperhatikan penggunaan Aspal Prime Coat, permukaan harus dalam keadaan bersih dan penggunaan Lapis Perekat (tack coat) dengan truck atau kendaraan lain yang dilengkapi dengan aspal pompa dan batang penyemprot. Prime coat mengering setelah ± 48 jam akan tetapi tergantung cuaca dan panas matahari.

g. Penghamparan Aspal type AC-BC dimulai dari lajur rendah terlebih dahulu, kemudian diatur ketebalan dan kemiringan sesui spesifikasi.

h. Pengawas memperhatikan penggunaan tack coat dengan truck atau kendaraan lainnya dan akan kering setelah ± 48 jam akan tetapi tergantung cuaca dan panas matahari.

i. Penghamparan aspal type AC-WC dengan tebal minimal 4 cm, dilakukan apabila permukaan sudah kering dan bersih dari kotoran dan debu, kemudian pengawas wajib mengecek ketebalan dan kemiringan agar sesuai spesifikasi.

PASAL 05. PEKERJAAN JALUR PEJALAN KAKI (TROTOAR)

a. Lebar trotoar harus direncanakan sesuai ketentuan dengan kebutuhan satu orang 60 cm dengan lebar ruang gerak 15 cm, sekurang-kurangnya memiliki lebar 1.5 m dan pada spesifikasi ini direncanakan lebar 2 m.

b. Permukaan trotoar harus stabil, terhindar dari gundukan dan tidak memiliki tinggi lebih dari 1.25 cm.

c. Memiliki kemiringan memanjang 8% dan kemiringan melintang 4% untuk kepentingan penyaluran air permukaan.

(14)

d. Perencana harus merencanakan penyedia informasi untuk pejalan kaki yang mempunyai keterbatasan.

e. Lapisan tanah dasar dipadatkan tidak boleh lebih dari 20 cm, dilakukan dari tepi timbunan.

f. Pengawas wajib memperhatikan permukaan agar bebas dari sampah/kotoran sebelum dipasang patok/levelling lantai kerja.

g. Pasir dihamparkan sampai ketebalan 4 cm dan dipadatkan dengan memperhatikan kadar air.

h. Pemasangan paving block berhimpitan satu dengan yang lainnya dengan celah tidak boleh lebih dari 4 mm, dan dilakukan pemadatan setelah pemasangan paving block dengan minimal 2 gilasan.

PASAL 06. PEKERJAAN PEMELIHARAAN JALAN

a. Pemeliharaan jalan berguna untuk mengatur tata cara dan alur kerja pelaksanaan kegiatan pemeliharaan jalan.

b. Pemeliharaan jalan dapat dilakukan secara berkala dan rutin yang berfungsi mencegah terjadinya kerusakan yang lebih luas, perawatan, maupun pemerikasaan secara teratur terhadap komponen utama struktur agar kondisi jalan sesuai dengan rencana dalamkontrak.

c. Pekerjaan pemeliharaan jalan mengacu pada “Prosedur Pemeliharaan Jalan SOP/UPM/DJBM-12 Kementrian PUPR Direktorat Jendral Bina Marga”, UU RI No. 38 tahun 2004 tentang jalan, UU No.22 tahun 2010 tentang lalu lintas dan angkutan jalan, dan peraturan pemerintah No. 34 tahun 2006 tentang jalan.

PASAL 07. PEKERJAAN LAIN-LAIN

a. Sebelum penyerahan pertama, pemborong wajib menelitisemua bagian pekerjaan dan harus bersih semua batrang yang tidak terpakai disingkirkan dari Lokasi kegiatan.

(15)

b. Meskipun telah ada unsur pengawsan dan lainnya, semua hal penyimpangan dari gambar menjadi tanggung jawab pemborong untuk itu pemborong harus menyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin.

c. Selama masa pemeliharaan pemborong wajib merawat dan memperbaiki segala cacat yang timbul sehingga pekerjaan menjadi benar-benar sempurna.

d. Semua yang belum tercantum dalam peraturan ini (RKS) akan ditentukan dalam Rapat Penjelasan (Aanwijzing)

PASAL 08. PENUTUP

a. Rekanan/ kontraktor harus dapat menyelesaikan pekerjaan secara keseluruhan (100%) dengan tepat mutu dan tepat waktu sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ada dalamDokumen Kontrak secara keseluruhan serta petunjuk Direksi Proyek / Pengawas.

b. Hal-hal yang belum diatur dalam RKS ini ataupun perubahan.tambahan yang mngkin ada akan dijelaskan dalam aanwijzing dan atau diberi petunjuk pengawas.

c. Sebelum menyerahkan pekerjaan yang pertama/kedua, pelasana wajib menyelesaikan semua jenis pekerjaan dan pembersihan lapangan sehingga hasil pekerjaan Nampak bersih dan sempurna.

d. Syarat-syarat dan peraturan Teknik ini mengikat sampai pekerjaan selesai 100% dan diserahkan untuk kedua kalinya ke direksi proyek.

Referensi

Dokumen terkait

Administrasi Teknis memuat hal-hal sebagai berikut: ketentuan apabila terjadi perselisihan beserta cara-cara penyelesaiannya, syarat-syarat penawaran dan pelulusan pekerjaan, tata

RKPD Kabupaten Lombok Utara Tahun 2015 merupakan rencana pembangunan tahunan yang menjadi pedoman dalam penyusunan Kebijakan Umum Anggaran (KUA)

Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kota Batu tahun 20161. disusun berdasarkan pada berbagai ketentuan yang diatur

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Maluku Tahun 2014-2019 merupakan pedoman bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam menyusun Rencana Strategis

80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, dan peraturan teknis lainnya yang terkait langsung dalam penyelenggaraan pembangunan jalan (termasuk

Penguatan Sinergi SPPIP/RPKPP dalam Penyusunan RPIJM Kab./Kota f... Aspek Teknis Persyaratan 1) pembangunan perumahan dan permukiman belum tersusun 2) Belum 3) tersusunnya

Keywords: Road Damaged ; Overlay ; Budget Anlisis Kerusakan Jalan, Serta Teknik Perbaikan dan Rencana Estimasi Biaya Perbaikan Jalan Desa Tani Bakti STA 00+00 – 03+00 Kabupaten Kutai

LAPORAN KERJA PRAKTEK KP PT.PP PERSEROTbk PEMBANGUNAN JALAN TOL TRANS SUMATRA INDRAPURA – KISARAN STA 109+100 s/d STA 156+850 PROVINSI SUMATRA UTARA GREGORY YONATAN TAMPUBOLON