• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA PERAWATAN GTJ SLIDE

N/A
N/A
Floren

Academic year: 2024

Membagikan "RENCANA PERAWATAN GTJ SLIDE"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

RENCANA

PERAWATAN GTJ

Dosen Pembimbing:

Ricca Chairunnisa, drg., Sp.Pros(K) Mahasiswa:

Florence Rohani Gultom (220631004) Vania Sitorus (220631005)

(2)

IDENTITAS PASIEN (UNTUK KEBUTUHAN REKAM MEDIS DI RSGM)

o Nama : Phantom

o Umur : -

o Jenis Kelamin : - o Suku/Bangsa : - o Alamat : -

o Pekerjaan : -

(3)

DIAGNOSIS

o Anamnesis

Pasien datang ke klinik Prostodonsia RSGM FKG USU dengan keluhan gigi belakang kiri rahang bawah telah hilang dan pasien ingin dibuatkan gigi tiruan yang tidak dapat dilepas pasang.

o Pemeriksaan Umum

• Penyakit sistemik/infeksi : Tidak ada

• Kebiasaan buruk : Tidak ada

• Pernah memakai gigi tiruan : Belum pernah

• Sikap mental pasien : Filosofis

(4)

o Pemeriksaan Lokal

a. Pemeriksaan Ekstra Oral

• Tonus Bibir : ( ) Hipotonus ( ✓ ) Normal ( ) Hipertonus

• TMJ : ( ✓ ) Normal ( ) Ada Kelainan

• Kelenjar Limfe : ( ) Teraba ( ) Teraba Sakit ( ✓ ) Tidak Teraba b. Pemeriksaan Intra Oral

• Status Gigi

• Gigi Hilang: 36

8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8

8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8

X

DIAGNOSIS

(5)

o Pemeriksaan Gigi Penyangga (Phantom Head) Elemen 35

• Vitalitas : Vital

• Posisi : Normal

• Karies : -

• Tambalan : -

• Fraktur Mahkota : -

• Resesi Gingiva : -

Elemen 37

• Vitalitas : Vital

• Posisi : Normal

• Karies : -

• Tambalan : -

• Fraktur Mahkota : -

• Resesi Gingiva : -

Rahang Bawah: Klas III Kennedy

DIAGNOSIS

(6)

Sanitary Pontic

DASAR PONTIK

Ekstrakoronal

JENIS RETAINER

Rigid Fixed Bridge

GIGI PENYANGGA TIPE

JEMBATAN

Gigi 35 dan 37

DESAIN PERAWATAN

RENCANA PERAWATAN

RENCANA PERAWATAN

(7)

1. Perawatan Pendahuluan

• Periodonsia : Tidak ada

• Bedah Mulut : Tidak ada

• Konservasi : Tidak ada

• Ortodonsia : Tidak ada

RENCANA PERAWATAN

(8)

RENCANA PERAWATAN

2. Desain Perawatan

Tipe jembatan : Fixed - fixed bridge (rigid fixed bridge) Alasan:

• Memiliki konektor yang rigid sehingga tidak mungkin terjadi pergeseran antara pontik dengan retainer

• Merupakan tipe jembatan yang paling umum, dapat digunakan untuk gigi anterior dan posterior

Keuntungan dari rigid-fixed bridge:

• Tidak mudah lepas

• Dapat melindungi gigi dari karies

• Tidak mudah mengalami distorsi di bawah beban pengunyahan

(9)

RENCANA PERAWATAN

3. Gigi Penyangga: 35 dan 37 Alasan:

• Gigi tersebut adalah gigi yang paling dekat dengan daerah edentulus

• Gigi 35 dan 37 sudah erupsi sempurna, memiliki ketebalan dinding pulpa yang cukup, berdiri tegak pada prossesus alveolaris, akar cukup kuat, didukung oleh tulang alveolar dan jaringan periodontal yang sehat.

• Sesuai dengan Hukum Ante: jumlah luas membran periodontal dari gigi- gigi penyangga harus sama atau lebih luas dari jumlah luas membran periodontal gigi-gigi yang diganti

(10)

4. Jenis Retainer

Pada kasus ini retainer yang dipilih adalah retainer ekstrakoronal.

Alasannya :

• Sangat retentif dan mampu menerima beban pengunyahan yang normal maupun besar

• Retainer ekstrakoronal terletak di luar bidang mahkota gigi

• Kemampuan dalam retensi dan resistensi baik

• Pada kasus ini jenis retainer ekstra koronal yang digunakan adalah full-crown dengan bahan porcelain fused to metal (PFM) karena kuat dan daya tahan yang tinggi serta estetik yang baik (gabungan sifat metal dan porcelain)

RENCANA PERAWATAN

(11)

5. Tipe Dasar Pontik: Sanitary Pontic Alasan:

• Merupakan pontik yang mudah dibersihkan karena tidak berkontak dengan edentulous ridge

• Pontik tipe ini diindikasikan untuk gigi posterior rahang bawah

RENCANA PERAWATAN

(12)

TAHAPAN KERJA

PENCETAKAN ANATOMIS

a) Cetakan anatomis adalah bentuk negatif dari jaringan rongga mulut yang digunakan untuk mempersiapkan cetakan diagnostik.

b) Tujuan: untuk mendapatkan model studi dan untuk pembuatan sendok cetak fisiologis.

c) Alat dan Bahan:

• Bahan cetak : Alginate dan air

• Jenis sendok cetak : Buatan pabrik

Rubber bowl dan spatula

• Instrumen diagnosis (kaca mulut, sonde, pinset dan ekskavator)

(13)

TAHAPAN KERJA

PENCETAKAN ANATOMIS

d) Prosedur pencetakan anatomis:

• Lakukan try in sendok cetak ke mulut pasien, harus terdapat ruangan 4-5 mm

• Untuk rahang bawah, posisi operator berada di depan kanan pasien.

Sedangkan untuk rahang atas, posisi operator berada di belakang kanan pasien.

• Aduk bahan cetak dengan perbandingan sesuai anjuran pabrik hingga homogen

• Masukkan bahan cetak ke sendok cetak

• Masukkan sendok cetak ke dalam mulut pasien, terlebih dahulu rahang bawah untuk mengurangi efek muntah pasien

• Menekan sendok cetak, hingga bahan cetak setting dengan sempurna

• Keluarkan dari mulut pasien

• Isi dengan dental stone tipe II

(14)

TAHAPAN KERJA

PENCETAKAN ANATOMIS

Evaluasi Hasil Cetakan:

• Hasil cetakan tidak boleh poreus dan halus

• Hasil cetakan harus mencakup seluruh gigi geligi yang masih ada

• Hasil cetakan harus mencakup batas anatomis

• Tepi cetakan harus bulat

• Tepi sendok cetak tidak boleh terlihat

• Semua bagian ridge dan daerah jaringan lunak sampai batas mukosa bergerak dan tidak bergerak tercetak dengan baik

• Cetakan RA mencakup hamular notch, RB mencapai retromolar pad

(15)

TAHAPAN KERJA

HASIL PENCETAKAN ANATOMI

RAHANG ATAS RAHANG BAWAH

(16)

TAHAPAN KERJA

PEMBUATAN PUTTY INDEX

Tujuan: untuk penuntun evaluasi pada saat preparasi gigi penyangga.

• Aduk base dan catalyst bahan cetak putty sebanyak setengah scoop masing-masing sampai homogen

• Cetakkan regio gigi yang akan dipreparasi, tunggu sampai mengeras

• Potong melintang dari arah bukal palatal/lingual di pertengahan axis gigi penyangga

(17)

TAHAPAN KERJA

PREPARASI GIGI PENYANGGA

BAGIAN PREPARASI BUR TEBAL PREPARASI

Oklusal Round-ended tapered 1,5 mm Labial/Bukal Flat-ended tapered 1,5 mm

Proksimal/Lingual Round-ended tapered

(chamfer) Minimal 0,5 mm

Tepi akhiran servikal

Bukal (shoulder) Proksimal/Lingual (chamfer)

Flat-ended tapered Round-ended tapered

Oklusal

Lingual (Chamfer)

Bukal (Shoulder) Depth Guide

(18)

TAHAPAN KERJA

PREPARASI GIGI PENYANGGA

• Buat depth guide dengan bur round-ended tapered

• Preparasi bagian oklusal 1,5 mm dengan bur round-ended tapered

• Preparasi bagian bukal 1,5 mm dengan bur flat- ended tapered

• Preparasi bagian proksimal dan lingual 0,5 mm dengan bur round-ended tapered

(19)

TAHAPAN KERJA

PREPARASI AKHIRAN GIGI PENYANGGA

Bentuk shoulder pada bagian bukal

Menggunakan bur flat-ended tapered karena preparasi ini lebih menjamin adanya ruang yang cukup di daerah servikal untuk porcelain fused to metal.

Bentuk chamfer pada bagian lingual dan proksimal gigi

Menggunakan bur round-ended tapered karena menghasilkan tekanan lebih rendah dan tepi restorasi dapat dengan mudah masuk ke celah gingiva.

(20)

TAHAPAN KERJA

EVALUASI HASIL PREPARASI

• Kekonusan preparasi: 5-10°

• Tebal preparasi 1,5- 2 mm

• Bentuk preparasi mengikuti bentuk anatomi gigi-gigi yang dipreparasi

• Sudut pertemuan preparasi ditumpulkan

• Preparasi akhiran gigi penyangga pada bagian bukal (shoulder) dan pada bagian lingual/proksimal (chamfer)

• Preparasi harus sejajar sisi antara satu penyangga dengan penyangga yang lain

• Preparasi harus non undercut

• Tepi akhiran servikal preparasi berada sejajar margin gingiva

(21)

TAHAPAN KERJA

RETRAKSI GINGIVA

Tujuan: Agar sewaktu pencetakan fisiologis, bahan cetak dapat masuk ke dalam sulkus gingiva sehingga daerah akhiran preparasi dapat tercetak dengan akurat.

Alat dan Bahan: gunting, cotton pliers, kaca mulut, explorer, double-ended (DE) plastic filling instrument IPPA, cotton rolls, retraction cord, dappen dish, cotton pellets.

(22)

TAHAPAN KERJA

RETRAKSI GINGIVA

Langkah-langkah:

1. Retraction cord dipotong sesuai ukuran gigi

2. Retraction cord direndam dalam adrenaline chloride 1%/adrenaline dan cocain/epinefrin 8-10%/ aluminium potassium/H2SO4/trichloracetic (fungsi:

mengontrol jaringan jangan sampai ada cairan dalam celah gusi untuk pengkerutan gingiva)

3. Retraction cord dimasukkan ke dalam celah gusi dengan menggunakan instrumen plastis dengan sedikit miring ke luar (fungsi: menekan gusi ke samping sehingga masuk dalam sulkus gingiva)

4. Mulai dari bagian mesial ke lingual lalu ke distal dan terakhir di bagian bukal gigi

(23)

TAHAPAN KERJA

PENCETAKAN FISIOLOGIS

Pencetakan menggunakan sendok cetak pabrikan dengan bahan: putty dan wash.

a. Teknik pencetakan: two-stage technique karena teknik ini memberikan akurasi yang baik dan dilakukan 2 tahap, yang pertama dicetak dengan putty kemudian dicetak lagi dengan wash.

b. Tahapan pencetakan fisiologis:

• Evaluasi sendok cetak pada mulut pasien dan periksa ketepatan sendok cetak.

• Pastikan tip syringe mempunyai ukuran yang sesuai tergantung viskositas bahan cetak (light body: 0.8 – 1.0 mm).

c. Isolasi gigi penyangga dan letakkan benang retraksi pada sulkus gingiva.

Rongga mulut dikeringkan.

d. Bahan cetak putty diaduk menggunakan tangan dengan perbandingan yang sama sampai homogen.

(24)

TAHAPAN KERJA

PENCETAKAN FISIOLOGIS

e. Letakkan pada sendok cetak pabrik sampai merata dan letakkan spacer berupa polyethylene sheet 0,5 mm sebagai tempat untuk ruang wash.

f. Lakukan pencetakan putty dan tunggu sampai bahan mengeras sempurna.

Lepaskan spacer dari cetakan putty.

g. Retraksi gingiva dilepas.

h. Bahan wash diaduk dengan mixing gun dan letakkan pada sendok cetak dan lakukan pencetakan kembali.

(25)

TAHAPAN KERJA

PROSEDUR PEMBUATAN MAHKOTA JEMBATAN SEMENTARA

Tujuan pembuatan mahkota jembatan sementara:

• Proteksi pulpa gigi penyangga dari iritasi panas/dingin, kimia (asam)

• Membantu jaringan gingiva membentuk kontur yang baik

• Estetis

• Mengurangi atau mencegah gigi tetangga bergerak

• Fungsi mastikasi

Prosedur pembuatan mahkota atau jembatan sementara dapat dilakukan dengan metode direct (langsung di mulut pasien) dan dengan metode indirect (tidak langsung).

(26)

TAHAPAN KERJA

PROSEDUR PEMBUATAN MAHKOTA JEMBATAN SEMENTARA

Metode Direct

• Cetak gigi yang akan dipreparasi dengan bahan alginate.

• Setelah itu, preparasi gigi penyangga atau gigi yang akan dipasangkan GTJ.

• Lalu olesi gigi yang telah dipreparasi dengan vaselin.

• Isi cetakan alginate dengan self curing akrilik di bagian gigi yang dipreparasi.

• Cetakan dikembalikan ke mulut pasien pada posisi semula.

• Kelebihan akrilik diambil dengan bur hingga mahkota sementara sesuai dengan bentuk gigi sebelum dipreparasi.

• Lalu lekatkan atau pasang mahkota atau jembatan sementara tersebut ke gigi yang telah dipreparasi

(27)

TAHAPAN KERJA

PROSEDUR PEMBUATAN MAHKOTA JEMBATAN SEMENTARA

Metode Indirect

• Sediakan model gigi pasien yang belum dipreparasi (model diagnostik) → model A.

• Sediakan model gigi pasien yang sudah dipreparasi → oleskan vaselin pada gigi penyangga → model B.

• Susun gigi pada daerah pontik pada model A → anarsir gigi tiruan, pola malam.

• Cetak model A dengan sendok cetak setengah rahang dengan bahan alginet.

• Buka cetakan → hasil cetakan harus mencakup semua gigi penyangga.

• Aduk akrilik swapolimerisasi panas yang berwarna putih.

• Tempatkan adonan akrilik ke sendok cetak hasil cetakan alginet.

(28)

TAHAPAN KERJA

PROSEDUR PEMBUATAN MAHKOTA JEMBATAN SEMENTARA

Metode Indirect

• Cetak kembali ke model B (model gigi yang sudah dipreparasi) → tunggu sampai polimerisasi hampir sempurna.

• Lepaskan sendok cetak dari model B, rapikan sisa akrilik mahkota pada model B.

• Setelah polimerisasi sempurna, lepaskan mahkota sementara dari model B.

• Rapikan mahkota sementara dengan menggunakan bur frasser.

• Polish mahkota sementara.

• Mahkota sementara siap dipasang ke pasien, sementasi dengan semen sementara.

Pada kasus ini digunakan metode indirect.

(29)

TAHAPAN KERJA

PROSEDUR PEMBUATAN MAHKOTA JEMBATAN SEMENTARA

Resin yang dapat digunakan dalam pembuatan mahkota jembatan sementara, antara lain

• Polymethyl methacrylate

• Polyethyl methacrylate

• Polyvinylethyl methacrylate

• Bis-acryl composite

• VLC urethane dimethacrylate

(30)

TAHAPAN KERJA

PROSEDUR PEMBUATAN MAHKOTA JEMBATAN SEMENTARA

Mahkota jembatan sementara yang baik harus memenuhi persyaratan berikut:

Proteksi pulpa. Harus terbuat dari bahan yang dapat mencegah konduksi suhu yang ekstrem.

Stabilitas kedudukan. Gigi tidak boleh dibiarkan ekstrusi atau intrusi.

• Mampu berfungsi secara oklusal dengan mahkota jembatan

sementara akan membantu kenyamanan pasien, mencegah migrasi gigi, dan mungkin mencegah ketidakseimbangan sendi atau neuromuskuler.

Mudah dibersihkan.

Tepi retainer yang tepat (tidak menyebabkan peradangan mukosa).

Kekuatan dan retensi.

• Dalam beberapa kasus, restorasi harus memberikan efek estetik yang baik, khususnya pada gigi anterior dan premolar.

(31)

TAHAPAN KERJA

PASANG SEMENTARA

• Dengan menggunakan bahan Zinc Oxide Eugenol.

Tujuan: untuk melihat adaptasi margin retainer, kontak dengan gigi yang berdekatan, retensi, stabilisasi, adaptasi pontik pada jaringan lunak, oklusi, fonetik, bentuk warna dan posisi gigi serta persetujuan pasien.

• Waktu pasang sementara selama 1 minggu.

Alat dan Bahan: articulating paper, petrolatum, straight handpiece, high-speed handpiece, muslin rag wheel, pumice, cement spatula, paper pad, zinx oxide-eugenol cement, explorer, kaca mulut, dental floss.

(32)

TAHAPAN KERJA

PASANG SEMENTARA

Langkah-langkah: A, Permukaan luar dilapisi tipis dengan petrolatum untuk membantu menyingkirkan agen luting. B, Penempatan agen luting dengan hati-hati untuk menyegel margin dan mengurangi upaya pembersihan nantinya. C, Restorasi ditempatkan dengan tekanan jari yang tegas, atau (untuk restorasi pada posterior) pasien dapat menggigit cotton roll. D dan E, Sebuah explorer digunakan untuk menyingkirkan kelebihan dan untuk menelusuri sulkus dengan lembut untuk menyingkirkan sisa-sisa. F, Area kontak proksimal dan sulkus dibersihkan dengan benang gigi, diikuti irigasi dengan air-water syringe.

(33)

TAHAPAN KERJA

PROSEDUR PEMBUATAN MAHKOTA JEMBATAN

Pemilihan Warna

Desain Vita 3D shade guide, diperhatikan hue, value, dan chrome.

(34)

TAHAPAN KERJA

PROSEDUR PEMBUATAN MAHKOTA JEMBATAN

Passen Coping GTJ

• Coping dipassenkan dan sesuai dengan keadaan gigi penyangga.

• Yang perlu diperhatikan:

o Adaptasi pada daerah servikal

o Ruangan yang tersisa (space) untuk bahan porselen o Karakteristik dasar pontik

(35)

TAHAPAN KERJA

PASSEN GTJ

Jembatan porselen dibuat setelah coping dipassenkan dan sesuai dengan keadaan gigi penyangga.

Yang perlu diperhatikan:

• Adaptasi pada daerah servikal

• Adaptasi dengan gigi tetangga

• Cek oklusi pasien

(36)

TAHAPAN KERJA

SAND BLASTING DAN GLAZING

• Sand blasting adalah proses penghalusan, pembentukan, dan pembersihan permukaan keras dengan menembakkan partikel padat dengan menggunakan kecepatan tinggi.

• Glazing merupakan proses pembakaran akhir dari porselen dimana

permukaannya dibuat mengkilap.

(37)

TAHAPAN KERJA

PASANG PERMANEN

Bahan semen yang digunakan Glass Ionomer Cement (GIC).

Kelebihan GIC: dapat melepaskan fluor agar tidak mudah terjadi karies, memiliki efek bakteriostatik, dan memiliki kekuatan yang adekuat.

Alat dan Bahan: kaca, explorer, dental floss, cotton rolls, prophylaxis cup, pumice, GIC luting, white stones dan cuttle disks, saliva evacuator, glass slab, paper pad, cement spatula, plastic instrument.

Langkah-langkah:

GTJ dilepaskan kemudian dibersihkan dan disterilkan lalu dikeringkan, gigi penyangga yang akan dipasang GTJ juga dikeringkan

Glass Ionomer Cement (GIC) diaduk untuk mendapatkan konsistensi yang baik untuk penyemenan, kemudian dioleskan pada bagian dalam dari GTJ

GTJ dipasang dan pasien diinstruksikan untuk dalam posisi oklusi sentrik beberapa menit

Kelebihan GIC yang mengalir ke gingiva diambil dan kemudian dibersihkan

Setelah dilakukan penyemenan, dicek kembali retensi, stabilisasi dan oklusi (dengan articulating paper)

(38)

TAHAPAN KERJA

PASANG PERMANEN

Evaluasi pasang permanen GTJ:

• Kontak proksimal

• Integritas marginal

• Stabilitas

• Oklusi

• Karakterisasi dan glazing

Kontak proksimal dievaluasi pertama, dikarenakan kontak yang berlebihan akan mencegah restorasi untuk duduk, dan mengakibatkan ketidaksesuaian marginal. Dengan adanya ketidak cocokan pada saat mendudukan restorasi maka akan menyulitkan dalam menilai stabilitas, dan menyesuaikan oklusi yang premature.

(39)

REFERENSI

1. Rosenstiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary Fixed Prosthodontics. 5th Ed. St. Louis, Elsevier; 2016.

2. Shillingburg HT, Sather DA, Wilson EL, Cain JR, Mitchell DL, Blanco LJ, dkk.

Fundamentals of Fixed Prosthodontics. 4th Ed. Hanover Park, Quintessence Publishing Co; 2012.

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,