RENCANA
PERAWATAN GTJ
Dosen Pembimbing:
Ricca Chairunnisa, drg., Sp.Pros(K) Mahasiswa:
Florence Rohani Gultom (220631004) Vania Sitorus (220631005)
IDENTITAS PASIEN (UNTUK KEBUTUHAN REKAM MEDIS DI RSGM)
o Nama : Phantom
o Umur : -
o Jenis Kelamin : - o Suku/Bangsa : - o Alamat : -
o Pekerjaan : -
DIAGNOSIS
o Anamnesis
Pasien datang ke klinik Prostodonsia RSGM FKG USU dengan keluhan gigi belakang kiri rahang bawah telah hilang dan pasien ingin dibuatkan gigi tiruan yang tidak dapat dilepas pasang.
o Pemeriksaan Umum
• Penyakit sistemik/infeksi : Tidak ada
• Kebiasaan buruk : Tidak ada
• Pernah memakai gigi tiruan : Belum pernah
• Sikap mental pasien : Filosofis
o Pemeriksaan Lokal
a. Pemeriksaan Ekstra Oral
• Tonus Bibir : ( ) Hipotonus ( ✓ ) Normal ( ) Hipertonus
• TMJ : ( ✓ ) Normal ( ) Ada Kelainan
• Kelenjar Limfe : ( ) Teraba ( ) Teraba Sakit ( ✓ ) Tidak Teraba b. Pemeriksaan Intra Oral
• Status Gigi
• Gigi Hilang: 36
8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8
8 7 6 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 6 7 8
X
DIAGNOSIS
o Pemeriksaan Gigi Penyangga (Phantom Head) Elemen 35
• Vitalitas : Vital
• Posisi : Normal
• Karies : -
• Tambalan : -
• Fraktur Mahkota : -
• Resesi Gingiva : -
Elemen 37
• Vitalitas : Vital
• Posisi : Normal
• Karies : -
• Tambalan : -
• Fraktur Mahkota : -
• Resesi Gingiva : -
Rahang Bawah: Klas III Kennedy
DIAGNOSIS
Sanitary Pontic
DASAR PONTIK
Ekstrakoronal
JENIS RETAINER
Rigid Fixed Bridge
GIGI PENYANGGA TIPE
JEMBATAN
Gigi 35 dan 37
DESAIN PERAWATAN
RENCANA PERAWATAN
RENCANA PERAWATAN
1. Perawatan Pendahuluan
• Periodonsia : Tidak ada
• Bedah Mulut : Tidak ada
• Konservasi : Tidak ada
• Ortodonsia : Tidak ada
RENCANA PERAWATAN
RENCANA PERAWATAN
2. Desain Perawatan
Tipe jembatan : Fixed - fixed bridge (rigid fixed bridge) Alasan:
• Memiliki konektor yang rigid sehingga tidak mungkin terjadi pergeseran antara pontik dengan retainer
• Merupakan tipe jembatan yang paling umum, dapat digunakan untuk gigi anterior dan posterior
Keuntungan dari rigid-fixed bridge:
• Tidak mudah lepas
• Dapat melindungi gigi dari karies
• Tidak mudah mengalami distorsi di bawah beban pengunyahan
RENCANA PERAWATAN
3. Gigi Penyangga: 35 dan 37 Alasan:
• Gigi tersebut adalah gigi yang paling dekat dengan daerah edentulus
• Gigi 35 dan 37 sudah erupsi sempurna, memiliki ketebalan dinding pulpa yang cukup, berdiri tegak pada prossesus alveolaris, akar cukup kuat, didukung oleh tulang alveolar dan jaringan periodontal yang sehat.
• Sesuai dengan Hukum Ante: jumlah luas membran periodontal dari gigi- gigi penyangga harus sama atau lebih luas dari jumlah luas membran periodontal gigi-gigi yang diganti
4. Jenis Retainer
Pada kasus ini retainer yang dipilih adalah retainer ekstrakoronal.
Alasannya :
• Sangat retentif dan mampu menerima beban pengunyahan yang normal maupun besar
• Retainer ekstrakoronal terletak di luar bidang mahkota gigi
• Kemampuan dalam retensi dan resistensi baik
• Pada kasus ini jenis retainer ekstra koronal yang digunakan adalah full-crown dengan bahan porcelain fused to metal (PFM) karena kuat dan daya tahan yang tinggi serta estetik yang baik (gabungan sifat metal dan porcelain)
RENCANA PERAWATAN
5. Tipe Dasar Pontik: Sanitary Pontic Alasan:
• Merupakan pontik yang mudah dibersihkan karena tidak berkontak dengan edentulous ridge
• Pontik tipe ini diindikasikan untuk gigi posterior rahang bawah
RENCANA PERAWATAN
TAHAPAN KERJA
PENCETAKAN ANATOMIS
a) Cetakan anatomis adalah bentuk negatif dari jaringan rongga mulut yang digunakan untuk mempersiapkan cetakan diagnostik.
b) Tujuan: untuk mendapatkan model studi dan untuk pembuatan sendok cetak fisiologis.
c) Alat dan Bahan:
• Bahan cetak : Alginate dan air
• Jenis sendok cetak : Buatan pabrik
• Rubber bowl dan spatula
• Instrumen diagnosis (kaca mulut, sonde, pinset dan ekskavator)
TAHAPAN KERJA
PENCETAKAN ANATOMIS
d) Prosedur pencetakan anatomis:
• Lakukan try in sendok cetak ke mulut pasien, harus terdapat ruangan 4-5 mm
• Untuk rahang bawah, posisi operator berada di depan kanan pasien.
Sedangkan untuk rahang atas, posisi operator berada di belakang kanan pasien.
• Aduk bahan cetak dengan perbandingan sesuai anjuran pabrik hingga homogen
• Masukkan bahan cetak ke sendok cetak
• Masukkan sendok cetak ke dalam mulut pasien, terlebih dahulu rahang bawah untuk mengurangi efek muntah pasien
• Menekan sendok cetak, hingga bahan cetak setting dengan sempurna
• Keluarkan dari mulut pasien
• Isi dengan dental stone tipe II
TAHAPAN KERJA
PENCETAKAN ANATOMIS
Evaluasi Hasil Cetakan:
• Hasil cetakan tidak boleh poreus dan halus
• Hasil cetakan harus mencakup seluruh gigi geligi yang masih ada
• Hasil cetakan harus mencakup batas anatomis
• Tepi cetakan harus bulat
• Tepi sendok cetak tidak boleh terlihat
• Semua bagian ridge dan daerah jaringan lunak sampai batas mukosa bergerak dan tidak bergerak tercetak dengan baik
• Cetakan RA mencakup hamular notch, RB mencapai retromolar pad
TAHAPAN KERJA
HASIL PENCETAKAN ANATOMI
RAHANG ATAS RAHANG BAWAH
TAHAPAN KERJA
PEMBUATAN PUTTY INDEX
Tujuan: untuk penuntun evaluasi pada saat preparasi gigi penyangga.
• Aduk base dan catalyst bahan cetak putty sebanyak setengah scoop masing-masing sampai homogen
• Cetakkan regio gigi yang akan dipreparasi, tunggu sampai mengeras
• Potong melintang dari arah bukal palatal/lingual di pertengahan axis gigi penyangga
TAHAPAN KERJA
PREPARASI GIGI PENYANGGA
BAGIAN PREPARASI BUR TEBAL PREPARASI
Oklusal Round-ended tapered 1,5 mm Labial/Bukal Flat-ended tapered 1,5 mm
Proksimal/Lingual Round-ended tapered
(chamfer) Minimal 0,5 mm
Tepi akhiran servikal
Bukal (shoulder) Proksimal/Lingual (chamfer)
Flat-ended tapered Round-ended tapered
Oklusal
Lingual (Chamfer)
Bukal (Shoulder) Depth Guide
TAHAPAN KERJA
PREPARASI GIGI PENYANGGA
• Buat depth guide dengan bur round-ended tapered
• Preparasi bagian oklusal 1,5 mm dengan bur round-ended tapered
• Preparasi bagian bukal 1,5 mm dengan bur flat- ended tapered
• Preparasi bagian proksimal dan lingual 0,5 mm dengan bur round-ended tapered
TAHAPAN KERJA
PREPARASI AKHIRAN GIGI PENYANGGA
• Bentuk shoulder pada bagian bukal
Menggunakan bur flat-ended tapered karena preparasi ini lebih menjamin adanya ruang yang cukup di daerah servikal untuk porcelain fused to metal.
• Bentuk chamfer pada bagian lingual dan proksimal gigi
Menggunakan bur round-ended tapered karena menghasilkan tekanan lebih rendah dan tepi restorasi dapat dengan mudah masuk ke celah gingiva.
TAHAPAN KERJA
EVALUASI HASIL PREPARASI
• Kekonusan preparasi: 5-10°
• Tebal preparasi 1,5- 2 mm
• Bentuk preparasi mengikuti bentuk anatomi gigi-gigi yang dipreparasi
• Sudut pertemuan preparasi ditumpulkan
• Preparasi akhiran gigi penyangga pada bagian bukal (shoulder) dan pada bagian lingual/proksimal (chamfer)
• Preparasi harus sejajar sisi antara satu penyangga dengan penyangga yang lain
• Preparasi harus non undercut
• Tepi akhiran servikal preparasi berada sejajar margin gingiva
TAHAPAN KERJA
RETRAKSI GINGIVA
Tujuan: Agar sewaktu pencetakan fisiologis, bahan cetak dapat masuk ke dalam sulkus gingiva sehingga daerah akhiran preparasi dapat tercetak dengan akurat.
Alat dan Bahan: gunting, cotton pliers, kaca mulut, explorer, double-ended (DE) plastic filling instrument IPPA, cotton rolls, retraction cord, dappen dish, cotton pellets.
TAHAPAN KERJA
RETRAKSI GINGIVA
Langkah-langkah:
1. Retraction cord dipotong sesuai ukuran gigi
2. Retraction cord direndam dalam adrenaline chloride 1%/adrenaline dan cocain/epinefrin 8-10%/ aluminium potassium/H2SO4/trichloracetic (fungsi:
mengontrol jaringan jangan sampai ada cairan dalam celah gusi untuk pengkerutan gingiva)
3. Retraction cord dimasukkan ke dalam celah gusi dengan menggunakan instrumen plastis dengan sedikit miring ke luar (fungsi: menekan gusi ke samping sehingga masuk dalam sulkus gingiva)
4. Mulai dari bagian mesial ke lingual lalu ke distal dan terakhir di bagian bukal gigi
TAHAPAN KERJA
PENCETAKAN FISIOLOGIS
Pencetakan menggunakan sendok cetak pabrikan dengan bahan: putty dan wash.
a. Teknik pencetakan: two-stage technique karena teknik ini memberikan akurasi yang baik dan dilakukan 2 tahap, yang pertama dicetak dengan putty kemudian dicetak lagi dengan wash.
b. Tahapan pencetakan fisiologis:
• Evaluasi sendok cetak pada mulut pasien dan periksa ketepatan sendok cetak.
• Pastikan tip syringe mempunyai ukuran yang sesuai tergantung viskositas bahan cetak (light body: 0.8 – 1.0 mm).
c. Isolasi gigi penyangga dan letakkan benang retraksi pada sulkus gingiva.
Rongga mulut dikeringkan.
d. Bahan cetak putty diaduk menggunakan tangan dengan perbandingan yang sama sampai homogen.
TAHAPAN KERJA
PENCETAKAN FISIOLOGIS
e. Letakkan pada sendok cetak pabrik sampai merata dan letakkan spacer berupa polyethylene sheet 0,5 mm sebagai tempat untuk ruang wash.
f. Lakukan pencetakan putty dan tunggu sampai bahan mengeras sempurna.
Lepaskan spacer dari cetakan putty.
g. Retraksi gingiva dilepas.
h. Bahan wash diaduk dengan mixing gun dan letakkan pada sendok cetak dan lakukan pencetakan kembali.
TAHAPAN KERJA
PROSEDUR PEMBUATAN MAHKOTA JEMBATAN SEMENTARA
Tujuan pembuatan mahkota jembatan sementara:
• Proteksi pulpa gigi penyangga dari iritasi panas/dingin, kimia (asam)
• Membantu jaringan gingiva membentuk kontur yang baik
• Estetis
• Mengurangi atau mencegah gigi tetangga bergerak
• Fungsi mastikasi
Prosedur pembuatan mahkota atau jembatan sementara dapat dilakukan dengan metode direct (langsung di mulut pasien) dan dengan metode indirect (tidak langsung).
TAHAPAN KERJA
PROSEDUR PEMBUATAN MAHKOTA JEMBATAN SEMENTARA
Metode Direct
• Cetak gigi yang akan dipreparasi dengan bahan alginate.
• Setelah itu, preparasi gigi penyangga atau gigi yang akan dipasangkan GTJ.
• Lalu olesi gigi yang telah dipreparasi dengan vaselin.
• Isi cetakan alginate dengan self curing akrilik di bagian gigi yang dipreparasi.
• Cetakan dikembalikan ke mulut pasien pada posisi semula.
• Kelebihan akrilik diambil dengan bur hingga mahkota sementara sesuai dengan bentuk gigi sebelum dipreparasi.
• Lalu lekatkan atau pasang mahkota atau jembatan sementara tersebut ke gigi yang telah dipreparasi
TAHAPAN KERJA
PROSEDUR PEMBUATAN MAHKOTA JEMBATAN SEMENTARA
Metode Indirect
• Sediakan model gigi pasien yang belum dipreparasi (model diagnostik) → model A.
• Sediakan model gigi pasien yang sudah dipreparasi → oleskan vaselin pada gigi penyangga → model B.
• Susun gigi pada daerah pontik pada model A → anarsir gigi tiruan, pola malam.
• Cetak model A dengan sendok cetak setengah rahang dengan bahan alginet.
• Buka cetakan → hasil cetakan harus mencakup semua gigi penyangga.
• Aduk akrilik swapolimerisasi panas yang berwarna putih.
• Tempatkan adonan akrilik ke sendok cetak hasil cetakan alginet.
TAHAPAN KERJA
PROSEDUR PEMBUATAN MAHKOTA JEMBATAN SEMENTARA
Metode Indirect
• Cetak kembali ke model B (model gigi yang sudah dipreparasi) → tunggu sampai polimerisasi hampir sempurna.
• Lepaskan sendok cetak dari model B, rapikan sisa akrilik mahkota pada model B.
• Setelah polimerisasi sempurna, lepaskan mahkota sementara dari model B.
• Rapikan mahkota sementara dengan menggunakan bur frasser.
• Polish mahkota sementara.
• Mahkota sementara siap dipasang ke pasien, sementasi dengan semen sementara.
Pada kasus ini digunakan metode indirect.
TAHAPAN KERJA
PROSEDUR PEMBUATAN MAHKOTA JEMBATAN SEMENTARA
Resin yang dapat digunakan dalam pembuatan mahkota jembatan sementara, antara lain
• Polymethyl methacrylate
• Polyethyl methacrylate
• Polyvinylethyl methacrylate
• Bis-acryl composite
• VLC urethane dimethacrylate
TAHAPAN KERJA
PROSEDUR PEMBUATAN MAHKOTA JEMBATAN SEMENTARA
Mahkota jembatan sementara yang baik harus memenuhi persyaratan berikut:
• Proteksi pulpa. Harus terbuat dari bahan yang dapat mencegah konduksi suhu yang ekstrem.
• Stabilitas kedudukan. Gigi tidak boleh dibiarkan ekstrusi atau intrusi.
• Mampu berfungsi secara oklusal dengan mahkota jembatan
sementara akan membantu kenyamanan pasien, mencegah migrasi gigi, dan mungkin mencegah ketidakseimbangan sendi atau neuromuskuler.
• Mudah dibersihkan.
• Tepi retainer yang tepat (tidak menyebabkan peradangan mukosa).
• Kekuatan dan retensi.
• Dalam beberapa kasus, restorasi harus memberikan efek estetik yang baik, khususnya pada gigi anterior dan premolar.
TAHAPAN KERJA
PASANG SEMENTARA
• Dengan menggunakan bahan Zinc Oxide Eugenol.
• Tujuan: untuk melihat adaptasi margin retainer, kontak dengan gigi yang berdekatan, retensi, stabilisasi, adaptasi pontik pada jaringan lunak, oklusi, fonetik, bentuk warna dan posisi gigi serta persetujuan pasien.
• Waktu pasang sementara selama 1 minggu.
• Alat dan Bahan: articulating paper, petrolatum, straight handpiece, high-speed handpiece, muslin rag wheel, pumice, cement spatula, paper pad, zinx oxide-eugenol cement, explorer, kaca mulut, dental floss.
TAHAPAN KERJA
PASANG SEMENTARA
Langkah-langkah: A, Permukaan luar dilapisi tipis dengan petrolatum untuk membantu menyingkirkan agen luting. B, Penempatan agen luting dengan hati-hati untuk menyegel margin dan mengurangi upaya pembersihan nantinya. C, Restorasi ditempatkan dengan tekanan jari yang tegas, atau (untuk restorasi pada posterior) pasien dapat menggigit cotton roll. D dan E, Sebuah explorer digunakan untuk menyingkirkan kelebihan dan untuk menelusuri sulkus dengan lembut untuk menyingkirkan sisa-sisa. F, Area kontak proksimal dan sulkus dibersihkan dengan benang gigi, diikuti irigasi dengan air-water syringe.
TAHAPAN KERJA
PROSEDUR PEMBUATAN MAHKOTA JEMBATAN
Pemilihan Warna
Desain Vita 3D shade guide, diperhatikan hue, value, dan chrome.
TAHAPAN KERJA
PROSEDUR PEMBUATAN MAHKOTA JEMBATAN
Passen Coping GTJ
• Coping dipassenkan dan sesuai dengan keadaan gigi penyangga.
• Yang perlu diperhatikan:
o Adaptasi pada daerah servikal
o Ruangan yang tersisa (space) untuk bahan porselen o Karakteristik dasar pontik
TAHAPAN KERJA
PASSEN GTJ
Jembatan porselen dibuat setelah coping dipassenkan dan sesuai dengan keadaan gigi penyangga.
Yang perlu diperhatikan:
• Adaptasi pada daerah servikal
• Adaptasi dengan gigi tetangga
• Cek oklusi pasien
TAHAPAN KERJA
SAND BLASTING DAN GLAZING
• Sand blasting adalah proses penghalusan, pembentukan, dan pembersihan permukaan keras dengan menembakkan partikel padat dengan menggunakan kecepatan tinggi.
• Glazing merupakan proses pembakaran akhir dari porselen dimana
permukaannya dibuat mengkilap.
TAHAPAN KERJA
PASANG PERMANEN
• Bahan semen yang digunakan Glass Ionomer Cement (GIC).
Kelebihan GIC: dapat melepaskan fluor agar tidak mudah terjadi karies, memiliki efek bakteriostatik, dan memiliki kekuatan yang adekuat.
Alat dan Bahan: kaca, explorer, dental floss, cotton rolls, prophylaxis cup, pumice, GIC luting, white stones dan cuttle disks, saliva evacuator, glass slab, paper pad, cement spatula, plastic instrument.
Langkah-langkah:
• GTJ dilepaskan kemudian dibersihkan dan disterilkan lalu dikeringkan, gigi penyangga yang akan dipasang GTJ juga dikeringkan
• Glass Ionomer Cement (GIC) diaduk untuk mendapatkan konsistensi yang baik untuk penyemenan, kemudian dioleskan pada bagian dalam dari GTJ
• GTJ dipasang dan pasien diinstruksikan untuk dalam posisi oklusi sentrik beberapa menit
• Kelebihan GIC yang mengalir ke gingiva diambil dan kemudian dibersihkan
• Setelah dilakukan penyemenan, dicek kembali retensi, stabilisasi dan oklusi (dengan articulating paper)
TAHAPAN KERJA
PASANG PERMANEN
Evaluasi pasang permanen GTJ:
• Kontak proksimal
• Integritas marginal
• Stabilitas
• Oklusi
• Karakterisasi dan glazing
Kontak proksimal dievaluasi pertama, dikarenakan kontak yang berlebihan akan mencegah restorasi untuk duduk, dan mengakibatkan ketidaksesuaian marginal. Dengan adanya ketidak cocokan pada saat mendudukan restorasi maka akan menyulitkan dalam menilai stabilitas, dan menyesuaikan oklusi yang premature.
REFERENSI
1. Rosenstiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary Fixed Prosthodontics. 5th Ed. St. Louis, Elsevier; 2016.
2. Shillingburg HT, Sather DA, Wilson EL, Cain JR, Mitchell DL, Blanco LJ, dkk.
Fundamentals of Fixed Prosthodontics. 4th Ed. Hanover Park, Quintessence Publishing Co; 2012.