Mata kuliah ini membahas tentang pengertian, klasifikasi, kerusakan yang ditimbulkan dan faktor-faktor yang mempengaruhi hama dan penyakit pasca panen, serta cara pengendaliannya. Mata kuliah ini juga membahas tentang hama dan penyakit pasca panen pada berbagai komoditas yang disimpan. Umum: Setelah menyelesaikan mata kuliah ini, mahasiswa dapat menjelaskan berbagai jenis hama dan penyakit yang menyerang pada tahap pasca panen, faktor-faktor yang mempengaruhinya dan gejala kerusakan yang ditimbulkannya, serta pengendalian hama dan penyakit tersebut. penyakit setelah panen. teknik yang menggunakan konsep IPM.
Deskripsi Singkat: Mata kuliah ini membahas tentang pengertian, klasifikasi, kerusakan yang ditimbulkan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi hama dan penyakit pascapanen, serta cara pengendaliannya. Kompetensi Umum : Setelah menyelesaikan mata kuliah ini mahasiswa mampu menjelaskan macam-macam hama dan penyakit yang menyerang pada tahap pasca panen, faktor-faktor yang mempengaruhinya dan gejala kerusakan yang ditimbulkannya serta hama dan penyakit pasca panen. penyakit. teknik pengendalian menggunakan konsep IPM. Kuesioner ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang cara dosen menyampaikan perkuliahan tentang Hama dan Penyakit Pascapanen.
Kuesioner ini dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi tentang kebiasaan belajar mahasiswa pada mata kuliah Hama dan Penyakit Pasca Panen. Apakah tugas dan pertanyaan pada mata kuliah ini mewakili keseluruhan materi?
MATA KULIAH
HAMA DAN PENYAKIT PASCA PANEN (PAE 417 )
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS
KONTRAK PERKULIAHAN
- Status
- Deskripsi Mata Kuliah
- Kompetensi Dasar
- Silabus
- Pustaka Acuan
- Proses dan Jadwal Kuliah
- VIII
Ruang lingkup: pengertian hama dan penyakit pascapanen, status, kerusakan yang ditimbulkan dan hubungan hama dan penyakit pascapanen.
Ujian Tengah Semester
Ujian Akhir Semester
Evaluasi
HAMA DAN PENYAKIT PASCAPANEN
OLEH
PENDAHULUAN
PENGERTIAN
Periode prapanen (preharvest period) adalah rentang waktu antara benih disebar sampai
Periode pascapanen (postharvest period) adalah rentang waktu antara saat
Lamanya atau lamanya masa setelah panen tidak sama, hal ini sangat dipengaruhi oleh jenis dan kegunaan barang tersebut. Lamanya periode pascapanen dapat bervariasi dari beberapa detik atau menit hingga beberapa bulan atau tahun.
KERUGIAN PASCAPANEN
Yang tidak tahan disimpan lama (perishable products), umumnya mengandung kadar air
Yang tahan disimpan lama (durable
Aspergillus seed decay
PENYAKIT PASCA PANEN
OLEH
Ir. Martinus, MS
Penyakit pascapanen nonpatogenik disebabkan oleh
PENYAKIT PASCAPANEN NONPATOGENIK
- AKTIVITAS FISIOLOGIS
- Penguapan (transpirasi)
- Respirasi
- LINGKUNGAN 1. Pengaruh suhu
- Pengaruh kelembaban
Menurut Robinson et al (1975), produk tanaman umumnya kehilangan 10% dari berat aslinya karena penguapan, yang merupakan batas kritis. Misalnya bawang merah dan kubis yang kehilangan 10% airnya menjadi layu dan kualitasnya menjadi sangat rendah sehingga harganya menjadi sangat murah. Akibat tidak langsung dari hilangnya air akibat penguapan adalah produk pasca panen yang layu lebih rentan terserang patogen dan juga lebih rentan terhadap kerusakan mekanis.
Kelompok buah klimakterik merupakan kelompok buah-buahan yang laju respirasi awalnya sangat tinggi dan menurun tajam pada masa pertumbuhannya. Suhu yang dapat menyebabkan kerusakan produk setelah panen adalah suhu di bawah suhu minimum atau suhu di atas suhu. Buah yang tidak mudah rusak mempunyai umur simpan lebih dari 12 minggu, misalnya apel, pir, lemon.
Sayuran yang mudah rusak mempunyai umur simpan 0-4 minggu, misalnya asparagus, bayam, jagung manis, jamur, kacang polong, mentimun, selada, kembang kol. Sayuran yang tidak mudah busuk mempunyai umur simpan lebih dari 12 minggu, misalnya bawang bombay, kentang, wortel, dan ubi jalar.
Black heart
PENYAKIT PASCAPANEN PATOGENIK
- Penyakit Pascapanen Pada Buah Dan Sayur Terutama disebabkan oleh jamur dari phylum
Penyakit pascapanen pada buah-buahan dan sayur-sayuran terutama disebabkan oleh jamur dari filum. Terutama disebabkan oleh jamur dari filum Ascomycota dan jamur tidak sempurna. Bakteri lebih banyak menyerang sayuran pada penyimpanan karena umumnya sayuran memiliki pH diatas 4,5. Virus variegasi ubi jalar menyebabkan gejala gabus internal pada umbi ubi jalar.
PENYAKIT PASCAPANEN PADA BIJI-BIJIAN DAN PENGARUH JAMUR GUDANG TERHADAP
BINATANG DAN MANUSIA
- Menurunnya perkecambahan
- Diskolorasi dan penyusutan butiran benih
- Pemanasan
- Menurunnya nilai nutrisi
- Kadar air
- kelembapan relatif udara
- Kerusakan fisik benih
- Tingkat awal infeksi/serangan pada benih
- Campuran
- Lama penyimpanan
- Infestasi serangga dan tungau
Jamur penyimpanan → berkembang pada kelembaban relatif 70-80% dan kadar air benih >16%, dapat berkembang pada benih tanpa air bebas.
KADAR AIR
KADAR AIR YANG DIBUTUHKAN UNTUK PERTUMBUHAN JAMUR GUDANG
SUHU
- Kondisi butiran benih
- Isolasi jamur
- Observasi dibawah sinar uv
- Pengukuran gas
- Penetapan FAV
- Bau jamur
- Pengumpulan eksudat benih
- Menghindari kerusakan benih selama panen dan processing
- Menerapkan syarat-syarat penyimpanan yang dapat mencegah perkembangan jamur
- Penurunan kadar air benih
- Perlakuan benih
- Allergic diseases
- Mycotoxicoses
- Mycoses
Beberapa penyakit pada hewan dan manusia dapat disebabkan oleh infeksi Aspergillus, misalnya pada kulit telinga.
MIKOTOKSIN
PATOGEN
Perkembangan penyakit pascapanen bergantung pada kemampuan patogen dalam menghasilkan enzim untuk memecah senyawa dalam sel atau jaringan tanaman. Enzim ini memetakan hubungan α-1,4-galakturonida pektin ke berbagai tingkat pengacakan melalui mekanisme pembatasan silang, menghasilkan serangkaian oligo galakturonida yang tidak larut. Mekanismenya mirip dengan endo-pektin lyase, hanya substratnya asam pektat dan hasilnya oligo galakturonida.
Enzim ini umumnya diproduksi oleh bakteri sebagai penyebab utama pelunakan umbi akibat bakteri busuk lunak.
INANG
Pada jaringan buah dan sayur terdapat 2 jenis penghambat pertumbuhan patogen, yaitu inhibitor yang ada sebelum patogen menyerang dan inhibitor yang disintesis oleh inang sebagai respons terhadap infeksi dan kerusakan lain yang disebut fitoaleksin.
LINGKUNGAN
Tingkat air bebas dan kelembaban di sekitar hasil pasca panen mempengaruhi tingkat kerentanan hasil yang disimpan. Air bebas juga menyebabkan terbukanya lentil dan kondisi anaerobik, misalnya pada umbi kentang dapat menjadi salah satu faktornya. Air juga mampu mengurangi serangan penyakit busuk kering Fusarium dan Phoma pada kentang di tempat penyimpanan saat digunakan untuk mencuci inti kentang.
Pencucian dapat mengurangi keparahan penyakit antraknosa pada jeruk akibat Colletrotrichum karena mencuci appresorium patogen dari patogen buah. Kandungan CO2 mempengaruhi perkembangan penyakit pascapanen baik melalui penghambatan patogen secara langsung maupun melalui perubahan resistensi inang. Misalnya saja menyimpan buah alpukat pada suhu 10°C dalam ruangan dengan suasana 2% O2 dan 10% CO2 dapat mengurangi penyakit antraknosa jika.
PENGENDALIAN
PENYAKIT PASCAPANEN
- Perlakuan prapanen I Perlakuan saat panen
- Perlakuan Prapanen
- Perlakuan Saat Panen
- Perlakuan Pascapanen
Mulsa tanah sangat penting dalam menjaga kebersihan hasil pasca panen pada saat ditanam, menghindari cipratan tanah pada musim hujan atau akibat pengairan yang dapat membantu penyebaran patogen tular tanah pada hasil pasca panen. Selain itu, kandungan air yang tinggi pada buah akan menciptakan kondisi yang sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan patogen pascapanen pada jaringan buah. Gulma tanaman lain yang tidak diinginkan atau gulma, menghilangkan persaingan unsur hara dan ruang hidup dengan tanaman inang, menghilangkan sumber inokulum patogen pasca panen.
Beberapa patogen pascapanen dapat bertahan hidup pada berbagai jenis gulma atau tanaman lain di lingkungan. Berbagai jenis serangga hama juga dapat merusak produk yang akan dipanen saat masih berada di tanaman induknya, atau dengan meninggalkan telur atau pupanya di dalam produk. Jika hal ini terus berlanjut hingga tanaman berbunga dan berbuah, maka buah yang dihasilkannya akan berubah bentuk dan tampilannya menjadi tidak menarik.
Tindakan ini dapat mencegah serangan hama atau lalat buah penyebab luka sebagai pintu masuk patogen pasca panen. Perawatan ini dapat mencegah timbulnya penyakit penyebab serangan yang terjadi pada saat buah masih berada di pohon atau di lahan. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan pada saat panen untuk mencegah timbulnya penyakit pasca panen pada saat panen adalah sebagai berikut.
Pemanenan terlalu muda/awal: mengurangi jumlah hasil, pada banyak produk buah-buahan menyebabkan kegagalan proses pemasakan. Hal ini dilakukan untuk memisahkan produk yang sehat dan yang sakit, mana yang morfologinya baik dan mana yang tidak. Tujuan dari pelapisan lilin adalah untuk menghambat proses berkumpul atau menyusutnya buah (mengurangi penguapan), mencegah tumbuhnya jamur mikroba patogen, memperpanjang kesegaran buah.
Penyimpanan dipengaruhi oleh jenis produk yang disimpan, kondisi fisik ruang penyimpanan, suhu, kelembaban, suasana dalam ruang penyimpanan dan tujuan produk disimpan. Oleh karena itu, penyimpanan yang baik dan tepat akan berbeda untuk setiap jenis produk setelah panen.
PENGENDALIAN KIMIAWI PENYAKIT PASCAPANEN
- Pengurangan inokulum
- Pencegahan dan pemusnahan infeksi lapang 3. Pentidakaktifan infeksi luka
- Penekanan perkembangan dan penyebaran penyakit
- Fungisida berbahan alami
Dari tumbuhan (sayuran), misalnya: minyak serai untuk mengendalikan penyakit antraknosa pasca panen pada pepaya, ekstrak daun ruku-ruku (Ocimum sanctum) atau ekstrak biji pinang untuk mengendalikan penyakit.
PENGENDALIAN PENYAKIT
PASCAPANEN SECARA HAYATI
Kesimpulan
Kehilangan Bobot (kuantitatif)
Kehilangan Nilai Pangan
Kehilangan Mutu dan Keamanan Pangan
Kehilangan Benih
EKOLOGI HAMA PASCA PANEN
HASMIANDY HAMID
JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN PS. AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS
Masa perkembangan, kelangsungan hidup, dan produksi pascapanen serangga hama bergantung pada kesesuaian lingkungan dan makanan. Dalam kondisi normal gudang merupakan sumber makanan, sehingga permasalahan utama bagi serangga adalah suhu dan tingkat air/kelembaban. Kadar air yang rendah pada bahan yang disimpan akan memperpanjang tahap larva, namun tahap telur dan kepompong tidak terpengaruh.
Perkembangan populasi Sitophilus (kutu debu) akan terjadi dengan cepat jika kadar air bahan yang disimpan lebih besar dari 15%.