BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap pemimpin pada dasarnya memiliki perilaku yang berbeda dalam memimpin para pengikutnya, perilaku para pemimpin itu disebut dengan gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan merupakan suatu cara pemimpin untuk mempengaruhi bawahannya yang dinyatakan dalam bentuk pola tingkah laku atau kepribadian.
Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Seperti diungkapkan Supriadi (1998:346) bahwa: “Erat hubungannya antara mutu kepala sekolah dengan berbagai aspek kehidupan sekolah seperti peraturan-peraturan sekolah, iklim budaya sekolah dan menurunnya perilaku nakal peserta didik”.1 Kepala sekolah bertanggung jawab atas manajemen pendidikan secara mikro, yang secara langsung berkaitan dengan proses pembelajaran di sekolah atas penyelenggaraan kegiatan pendidikan. Sehingga dengan demikian kepala sekolah memiliki kewajiban untuk selalu mengadakan pembinaan dalam arti berusaha agar pengelolaan, penilaian, bimbingan, pengawasan dan pengembangan pendidikan
1 Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Professional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 24-25
1
dapat dilaksanakan dengan lebih baik. Dalam suatu lembaga pendidikan kepala sekolah merupakan pimpinan pendidikan yang mempunyai peranan sangat besar dalam mengembangkan mutu pendidikan di sekolah.2 Karena itu kepala sekolah harus menguasai sifat kepemimpinan yang baik, sehingga dalam menjalankan tugasnya dapat mencapai tujuan yang di inginkan.
Jadi di dalam menjalankan tugasnya sebagai atasan dari suatu lembaga pendidikan, maka kepala sekolah harus mampu menggerakkan bawahan termasuk guru agar dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kepala sekolah harus menguasai situasi dan kondisi sekolah. Sebagai seorang pemimpin, maka sudah sepatutnya bila kepala sekolah memiliki wibawa agar disegani oleh bawahan, sehingga dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang kepala sekolah, ia selalu mendapat sambutan hangat dari bawahannya serta didukung dalam mengambil keputusan dan melaksanakannya.
Sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah hendaknya mampu mengkoordinasi segala kegiatan para guru pada bawahan lainnya guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pernyataan ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh hadari Hanawi yaitu: agar
2 Wahyosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2011), hlm. 203
pemimpin dapat mengoptimalkan semua kegiatan yang mengacu kepada pencapaian tujuan hendaknya melalui pengorganisasian yang berdaya guna dan hasil agar dapat mewujudkan kerja personalia bergerak secara serempak kearah tujuan yang sama.
Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa pemimpin baiknya organisasi itu dapat menjalin kerjasama yang baik dan harmonis dengan para anggota organisasinya dan bertanggung jawab dengan apa yang telah di pimpinannya. Para bawahan ataupun staf suatu organisai harus senantiasa mendapat perhatian, petunjuk dan bimbingan dari seorang kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya.
Hal ini sebenarnya akan memberikan hasil yang kurang memuaskan ataupun hasil yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan yang diterapkan. Hubungan yang harmonis antara pemimpin dan bawahan yang di pimpin akan memberikan hasil yang baik sesuai dengan tuuana yang telah ditetapkan. Karena telah kita ketahui bagaimanapun pintarnya ataupun rajinnya seorang dalam melaksanakan tugasnya, ia masih memerlukan perhatian, bimbingan, pengawasan dari atasan. Dalam hal ini tentunya berkaitan dengan tugas kepala sekolah sebagai atasannya.
Dalam ilmu manajemen juga dikenal kepemimpinan yang dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang lain agar rela, mampu dan dapat mengikuti keinginan kebijakan sekolah demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dengan efektif, efisien dan ekonomis.3 Sedangkan gaya kepemimpinan sendiri merupakan suatu pola perilaku seorang pemimpin yang khas pada saat mempengaruhi anak buahnya. Ada 3 (tiga) gaya kepemimpinan yang didasarkan pada penggunaan kekuasaan, yaitu gaya otoriter, demokratis dan laisses faire.4
Otoriter adalah suatu gaya kepemimpinan dimana seorang pemimpin atau manajer yang lebih menekankan pemaksaan dalam menggerakkan bawahannya. Pemimpin dengan gaya ini cenderung tidak mau dibantah dan selalu ingin mendikte apapun yang dilakukan oleh bawahannya. Gaya ini seringkali mematikan kreativitas dari bawahan karena mereka tidak diberi kebebasan untuk melakukan suatu hal tanpa adanya perintah dari atasan.
3Burhanuddin, Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan, (Jakarta:
Bumi Aksara, 1994), hlm. 62
4E.Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah Konsep Strategi dan Implementasi, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2005), hlm .108
Sedangkan tipe kedua, yaitu demokratis yang lebih menekankan rasa kekeluargaan tanpa mengurangi profesionalitas antara pimpinan dengan bawahan. Gaya kepemimpinan ini memberikan peluang pada bawahan untuk bergerak bebas tanpa mengurangi kekuasaan yang dimiliki oleh seorang pimpinan. Jadi, seorang pimpinan tidak bertindak sendiri dalam memutuskan suatu hal melainkan sering bertukar pendapat dengan bawahan. Sehingga pemimpin juga memberikan kebebasan kepada bawahan untuk mengungkapkan apa yang diinginkan oleh bawahannya. Gaya seperti ini sangat tepat digunakan pada lembaga yang memiliki tenaga ahli dan profesional.
Gaya yang terakhir adalah laisses faire, dimana pemimpin memberikan kebebasan yang sebesar-besarnya kepada bawahan.
Dalam artian, pemimpin tidak memberikan petunjuk atau koreksi kepada bawahan. Jadi dalam gaya ini, pemimpin memberikan kepercayaan yang tinggi kepada bawahan untuk menjalankan lembaga yang bersangkutan. Di sini peranan pemimpin sangat sedikit, ini sangat berlawanan dengan gaya otokratis dimana pemimpin sangat dominan dalam kepemimpinannya.
Dilihat dari penjelasan di atas, gaya kepemimpinan yang
paling baik adalah gaya kepemimpinan demokratis dimana seorang pemimpin memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengungkapkan pendapatnya sehingga bawahan juga termotivasi untuk selalu maju dan berkembang. Sehingga suasana persaingan sehat juga dapat dikembangkan secara optimal sebagai salah satu motivasi kerja pada anggota-anggota organisasi. Selain itu, pemimpin juga dapat memahami bagaimana karakter dan kemampuan bawahannya sehingga dapat memberikan motivasi dan tugas yang sesuai dengan kompetensinya.
Menurut pandangan Islam pemimpin adalah tidak hanya menjalankan roda pemerintahan begitu saja namun seorang pemimpin harus mewajibkan kepada rakyatnya untuk melaksanakan apa saja yang terdapat dalam syariat Islam walaupun bukan beragama Islam. Serta mempengaruhi rakyatnya untuk selalu mengikuti apa yang menjadi arahan dari seorang pemimpin.
Disiplin adalah suatu keadaan tertib di mana orang-orang yang tergabung dalam dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati.5
5 Ali Imron, Pembinaan Guru di Indonesia, (Jakarta:PT Dunia Pustaka Jaya, 1995), hlm. 7
Secara definisi kata guru bermakna sebagai pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal. Tugas utama itu akan efektif jika guru memiliki derajat profesionalitas tertentu yang tercermin dari kompetensi, kemahiran, kecakapan, atau keterampilan yang memenuhi standar mutu atau norma etik tertentu. Definisi guru tidak termuat dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Dimana di dalam UU ini profesi guru dimasukkan ke dalam rumpun pendidik.6
Guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jawaban yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang diluar bidang pendidikan.
Walaupun pada kenyataannya masih terdapat hal-hal tersebut di luar bidang kependidikan.7
Kedisiplinan guru adalah ketaatan atau kepatuhan guru dalam melaksanakan tugas mengajar dan tata tertib yang berlaku pada setiap sekolah. Menurut Subari mengungkapkan bahwa disiplin adalah penurutan terhadap suatu peraturan dengan keasadaran
6 Sudarwan Danim, Profesi Kependidikan, (Bandung:Alfabeta, 2011), hlm.
5
7 Hamzah, Profesi Kependidikan, (Jakarta:PT Bumi Aksara, 2007), hlm.15
sendiri untuk terciptanya tujuan peraturan itu.8 Selanjutnya pengertian disiplin menunjuk pada kepatuhan seseorang dalam mengikuti kepatuhan dan tata tertib karena di dorong olehnya kesadaran yang pada kata hatinya.
Maka berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan bahwa pengertian disiplin yaitu kesedian untuk memahami, mentaati dan melaksanakan tata tertib atau peraturan yang telah ditetapkan oleh sekolah, yang berkenaan dengan hak dan kewajiban sebagai seorang pendidik di sekolah yang tersebut dengan rasa senang hati, sehingga dapat menciptakan suasana yang tertib dan aman serta sanggup menerima sanksi apabila melanggar peraturan yang telah diterapkan sekolah.
Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal pada umumnya karena bagi siswa guru sering dijadikan tokoh teladan.9 Guru yang disiplin adalah guru yang mematuhi atau mentaati tata tertib yang telah dikeluarkan oleh kepada sekolah yang bersangkutan.
Pada dasarnya tidak ada belajar tanpa keaktifan. Setiap kegiatan belajar mestinya melibatkan kegiatan mental, termasuk
8 Subarddi, Supervasi pendidikan dalam Rangka Perbaikan Situasi Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hlm. 164
9 Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan, Kemampuan dasar guru dalm Proses Belajar Mengajar,, (Bandung: remaja Rosdakarya, 1991), hlm. 1
kegiatan belajar yang banyak menggunakan fisik atau motorik sekalipun.
Hal tersebut baru akan terealisasi melalui guru yang disiplin dalam mengajar sehingga siswa menjadi aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran tersebut. Keaktifan itu sendiri dari kata aktif yang mendapat awalan me dan akhiran an. Perkataan ini berasal dari bahasa inggris ”active” yang artinya rajin, giat dan sibuk.10
Jelasnya tanpa adanya kedisiplinan guru dalam proses pembelajaran yang dilangsungkan, kemungkinan besar keaktifan murid-muridnya dalam belajar, baik diseklah maupun di luar sekolah, cenderung semakin kurang. Kondisi belajar seperti ini kemungkinan besar akan melahirkan sesuatu hasil atau prestasi belajar yang tidak memuaskan terutama sekali bagi murid yang bersangkutan dan orang tuanya. Justru itu kedisiplinan guru mengajar berpengaruh besar terhadap keaktifan murid-muridnya dalam belajar.
Berdasarkan hasil observasi awal yang penulis lakukan di SMA Nurul Qomar Palembang, dilihat dari segi gaya kepemimpinannya kepala sekolahnya terdapat permasalahan-permasalahan yang penulis dapatkan, seperti kepala datang terlambat, kepala sekolah
10 Wijowasito- W.J.S Poerwadarmintz, Kamus Lengkap Inggris Indonesia, Indonesia Inggris, dengan Ejaan yang Disempurnakan, (Bandung: P.N. Hasta, 1980), hlm. 2
jarang tidak hadir, kurangnya pengawasan terhadap guru dan siswanya. Sedangkan masalah kedisplinan guru penulis menemukan beberapa masalah seperti, guru datang ke sekolah tidak tepat waktu, kurang di siplin dalam proses belajar mengajar, kurangnya perhatian guru terhadap siswa, selain itu juga disebabkan oleh kurangnya prasarana di sekolah tersebut. Berdasarkan dari latar belakang masalah di atas penulis menemukan beberapa permasalah yaitu:
1. Kurangnya pengawasan kepala sekolah sehingga proses belajar mengajar tidak baik
2. Guru yang mengajar kurang disiplin, misalnya guru mengajar tidak tepat waktu sesuai jawal, guru tidak menepati peraturan yang telah ditentukan
3. Guru mengajar tidak sesuai dengan RPP (Rencana pelaksanaan pembelajaran)
4. Kepala sekolah bersifat pasif, tidak mau bertanya kepada guru apa yang dihadapinya sehingga menyebabkan ia terlambat datang
Dari observasi di atas, bahwa tujuan gaya kepemimpinan kepala sekolah adalah untuk meningkatkan kedisiplinan guru, dan kepala sekolah sudah menerapkan peraturaan-peraturan sekolah
tetapi guru-guru di SMA Nurul Qomar masih ada saja yang kurang disiplin, maka dari itu peneliti ingin mengetahui seberapa jauh pengaruh gaya kepemimpinan yang dimiliki oleh kepala sekolah terhadap kedisiplinan guru yang ada di SMA Nurul Qomar Palembang.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana gaya kepemimpinan kepala sekolah di SMA Nurul Qomar palembang?
2. Bagaimana kedisiplinan guru di SMA Nurul Qomar?
3. Bagaimana pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap kedisiplinan guru di SMA Nurul Qomar Palembang?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan paparan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui gaya kepemimpinan kepala sekolah di SMA Nurul Qomar Palembang.
2. Untuk mengetahui kedisiplinan guru di SMA Nurul Qomar Palembang.
3. Untuk mengatahui pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kedisiplinan Guru di SMA Nurul Qomar Palembang.
D. Kegunaan Penelitian
Dengan adanya penelitian ini, diharapkan memiliki kegunaan sebagai berikut:
1. Dari segi teoritik, hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pengembangan ilmu dan pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap kedisiplinan guru dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan situasi kondisi proses belajar mengajar di sekolah yang baik sekaligus untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, selain itu juga sebagai wadah untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh di Perguruan Tinggi.
2. Sebagai bahan masukan bagi kepala sekolah dalam memberikan bimbingan kepada seluruh guru-guru yang ada sekolahnya sehingga dapat meningkatkan kedisiplinan guru
E. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah dugaan atau jawaban sementara terhadap suatu
GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH
KEDISIPLINAN GURU
persoalan, dan untuk membuktikan kebenaran maka perlu diadakan penelitian lebih lanjut. Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
a. Hipotesis Alternatif (Ha)
Ada pengaruh yang signifikan Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kedisplinan guru di SMA Nurul Qomar Palembang.
b. Hipotesis Nilhil (Ho)
Tidak ada pengaruh yang signifikan Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kedisiplinan guru di SMA Nurul Qomar Palembang.
F. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel pokok, yaitu Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Kebijakan, untuk lebih jelas dapat dilihat di Sketsa berikut:
Variabel X Variabel Y
G. Definisi Operasional
Dalam definisi operasional ini, dapat diungkapkan definisi kata- kata atau istilah-istilah kunci yang berkaitan dengan masalah atau variabel penelitian.11 Diantaranya adalah:
1. Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
Menurut Hadari Nawawi yang dikutip oleh Mufti Ahmad, mengatakan bahwa gaya kepemimpinan pada dasarnya berarti kemampuan menggerakkan, memberikan motivasi dan mempengaruhi orang-orang lain agar bersedia melakukan tindakan- tindakan yang terarah pada pencapain tujuan melalui keberanian mengambil keputusan tentang kegiatan tentang harus dilakukan.12
Adapun indikator gaya kepemimpinan itu sendiri adalah kepala sekolah menerapkan pendekatan kepemimpinan partisipasif terutama dalam pengambilan keputusan, kepala sekolah memiliki gaya kepemimpinan yang demokratis, lugas, dan terbuka, sehingga kepala sekolah bisa menyiapkan waktu untuk berkomunikasi secara terbuka dengan
11 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Skripsi, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 2004), hlm. 27
12 Mufti Ahmad, Administrasi Pendidikan dan Superpasi Pendidikan, (Palembang:IAIN Raden Fatah Press, 2005), hlm. 95
para guru, peserta didik, dan warga sekolah lainnya, kepala sekolah menekankan kepada guru dan seluruh warga sekolah untuk memenuhi norma-norma pembelajaran dengan disiplin yang tinggi agar terciptanya kedisiplinan sesuai dengan harapan, dengan demikian kepala sekolah membimbing dan mengarahkan guru dalam memecahkan masalah-masalah kerjanya, dan bersedia memberikan bantuan secara profesional, sehingga kepala sekolah memberikan dukungan kepada para guru untuk menegakkan disiplin peserta didik, dan memperhatikan kebutuhan peserta didik, guru, staf dan masyarakat sekitar sekolah, serta kepala sekolah dapat memberikan sikap dan perilaku teladan yang dapat menjadi panutan atau model bagi guru, peserta didik, dan seluruh warga sekolah, dan kepala sekolah melakukan perubahan inovasi sekolah.
2. Kedisiplinan guru
Adapun indikator-indikator kedisiplinan guru adalah guru hadir dari sekolah 15 menit sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai, kemudian guru menandatangani daftar hadir secara rutin setiap hari, serta hadir dan meninggalkan sekolah tepat waktu, sehingga guru dapat melaksanakan semua tugas secara tertib, teratur dan rutin, membuat program semester, membuat persiapan
mengajar/jurnal mengajar setiap hari, dan memeriksa setiap pekerjaan atau latihan siswa, menyelesaikan administrasi kelas secara baik dan teratur, tidak meninggalkan sekolah tanpa izin, guru mengisi buku agenda guru, dan mengatur siswa yang akan masuk kelas dengan berbaris secara teratur.
H. Kerangka Teori
1. Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah
Gaya kepemimpinan adalah tindakan atau sikap yang diambil oleh seorang pimpinan yang dalam hal ini adalah kepala sekolah dalam menghadapi segala hal yang terjadi dalam suatu lembaga untuk mencapai tujuan yang telah dilaksanakan sebelumnya.13 Adapun indikator gaya kepemimpinan adalah
a. Menerapkan pendekatan kepemimpinan partisipasif terutama dalam proses pengambilan keputusan
b. Memiliki gaya kepemimpinan yang demokratis, lugas, dan terbuka
c. Menyiapkan waktu untuk berkomunikasi secara terbuka dengan para guru, peserta didik, dan warga sekolah lainnya d. Menekankan kepada guru dan seluruh warga sekolah untuk
memenuhi norma-norma pembelajaran dengan disiplin yang tinggi
e. Membimbing dan mengarahkan guru dalam memecahkan masalah-masalah kerjanya, dan bersedia memberikan bantuan secara profesional
13 Winardi, Kepemimpinan dalam Manajemen, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), hlm. 47
f. Memberikan dukungan kepada para guru untuk menegakkan disiplin peserta didik
g. Memperhatikan kebutuhan peserta didik, guru, staf dan masyarakat sekitar sekolah
h. Memberikan sikap dan perilaku teladan yang dapat menjadi panutan atau model bagi guru, peserta didik, dan seluruh warga sekolah
i. Melakukan perubahan inovasi sekolah.14
Berdasarkan dari pendapat tentang pengertian gaya kepemimpinan dapat saya simpulkan bahwa menurut saya gaya kepemimpinan itu adalah gerak-gerik atau lagak yang dipilih oleh seseorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya dan bisa dikatakan suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya, dalam penerapan kewenangan, kewibawaan, norma, dan kualitas pribadi dalam memimpin.
2. Kedisiplinan Guru
Kedisiplinan guru dalah sikap penuh kerelaan dalam mematuhi semua aturan dan norma yang ada dalam menjalankan tugasnya sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap pendidikan anak didiknya. Karena bagaimana pun seorang guru atau tenaga kependidikan, merupakan cermin bagi anak didiknya dalam sikap atau teladan, dan sikap disiplin guru dan tenaga kependidikan akan memberikan warna terhadap hasil pendidikan yang jauh lebih baik. Adapun indikator-indikator kedisiplinan guru adalah
a. Hadir dari sekolah 15 menit sebelum pelaksanaan pembelajaran dimulai
14 Mulyasa, Manajemen dan Kepemimpinan kepala Sekolah, (Jakarta:
Bumi aksara, 2011), hlm. 20-21
b. Menandatangani daftar hadir secara rutin setiap hari c. Hadir dan meninggalkan sekolah tepat waktu
d. Melaksanakan semua tugas secara tertib, teratur dan rutin e. Membuat program semester
f. Membuat perisapan mengajar/jurnal mengajar setiap hari g. Memeriksa setiap pekerjaan atau latihan siswa
h. Menyelesaikan administrasi kelas secara baik dan teratur i. Tidak meninggalkan sekolah tanpa izin
j. Mengisi buku agenda guru
k. Mengatur siswa yang akan masuk kelas dengan berbaris secara teratur.15
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa sekolah termasuk dalam kategori pendidikan formal. Selain itu, juga dapat dilihat ciri-ciri sekolah itu sendiri, yang antara lain adalah:
diadakan di sekolah atau tempat tertentu tertur sistematis, mempunyai jenjang dan dalam kurun waktu tertentu secara berlangsung mulai dari TK sampai dengan lembaga perguruan tinggi formal merupakan tempat yang paling memungkinkan seseorang meningkatkan pengetahuan, dan paling mudah untuk membina generasi muda yang dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat.16
I. Kajian Pustaka
Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan seorang pimpinan sekolah dalam meningkatkan kualitas Pendidikan di Indonesia. Maka peneliti meneliti beberapa dari
15 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Skripsi, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 2004), hlm. 27
16 Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Citpa, 2001), hlm. 162
skripsi-skripsi yang terdahulu :
Pariyatun dalam skripsinya yang berjudul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah Terhadap Kurikulum Di Madrasah Aliyah Negeri 1 Palembang”, telah dilaksanakan oleh kepala madrasah, para guru madrasah melaksanakan tugasnya sesuai dengan pedoman kurikulum dibawah bimbingan kepala Madrasah.
Namun ada beberapa kendala-kendala yang ditemukan diantaranya faktir kemampuan dan gaya kepemimpinan kepala Madrasah dalam melaksanakan tugas dan tnggung jawabnya.17
Ramadhani, Arnety Nantris, 2007 yang berjudul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Kreativitas Guru di Kelas Terhadap Prestasi Belajar Siswa”. Dalam meningkatkan prestasi dan mutu para tamatan SMK, perlu adanya peningkatan kualitas proses belajar mengajar di kelas. Kualitas belajar siswa para lulusan ditentuka oleh keberhasilan pelaksanaan proses belajar mengajar tersebut atau dengan kata lain kualitas belajar siswa banyak ditentukan oleh fungsi dan peran guru di Kelas. Fungsi dan guru salah satunya adalah sebagai pemimpin. Dalam memimpin kelas guru memiliki gaya kepemimpinan tersendiri, ada tiga macam gaya
17Pariyatun, Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah Terhadap Kurikulum di Madrasah Aliyah Negeri 1 Palembang, (Palembang: Skripsi Tarbiyah IAIN Raden Fatah, 2011), hlm.
9
kepemimpinan guru di kelas (kendali bebas). Disamping itu kreativitas guru dikelas juga mempengaruhi prestasi belajar siswa.18 Tri Wahyuni dalam skripsinya “Kepemimpinan Kepala Madrasah Dalam Penerapan Manajeman Berbasis Kepala Sekolah sebagai Salah satu Upaya meningkatkan Mutu Pendidikan: 2003”.
Kepemimpinan kepala madrasah menjadi sangat penting untuk bertanggung jawab dalam miningkatkan mutu pendidikan.
Kepemimpinan kepala madrasah yang efektif sangat diperlukan karena dalam menerapkan manjemen berbasis sekolah. Kepala Madrasah diharuskan untuk menjalani hubungan yang baik dan dapat bekerja sama dengan masyarakat internal dan eksternal.
Pertama, Eka Fittriani menyatakan bahwa dalam pembinaan kepala sekolah dalam meningkatkan Kedisiplinan Guru, dalam skripsii ini penulis menceritakan masalah usaha kepala sekolah dalm membina kedisiplinan guru-guru yang ada di sekolah tersebut.
Setelah meninjau dari penelitian tersebut, maka dapat diambil kesimpulan pada skripsi yang berjudul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Madrasah Terhadap Pembinaan Kurikulum Di Madrasah Aliyah Negeri 1 Palembang. Oleh Pariyatun lebih memfokuskan terhadap pembinaan kurikulum, dan skripsi yang
18 Ramadhani, Arnety Nantris, Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Kreativitas Guru di Kelas Terhadap Prestasi Belajar Siswa, (Palembang: Skripsi Tarbiyah IAIN Raden Fatah, 2007.), hlm. 45
berjudul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan Dan Kreativitas guru dikelas terhadap Prestasi Belajar Siswa” lebih memfokuskan kreativitas guru dikelas terhadap prestasi belajar siswa. Dan Skripsi yang berjudul Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Penerapan Manajemen Berbasis Kepala Sekolah Sebagai Salah Satu Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan: 2003. Oleh Tri Wahyuni lebih memfokuskan penerapan MBS, sementara penelitian penulis lebih memfokuskan pada Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah terhadap Kedisiplinan Guru di SMA Nurul Qomar.
J. Metodelogi Penelitian 1. Populasi dan Sampel
Penelitian ini yang menjadi sasaran populasinya adalah kepala sekolah dan guru di SMA Nurul Qomar Palembang yang berjumlah 25 guru, seluruh anggota populasi tersebut dijadikan objek penelitian karena jumlahnya dibawah seratus. Arikunto yang menyatakan, bahwa “Jika subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua, sehingga penelitian merupakan penelitian polulasi dan jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10 – 15% atau 20 – 25% atau lebih”.19 Dengan demikian yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah berjumlah 25 guru.
19Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 120
2. Jenis dan Sumber Data a. Jenis Data
Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif yang meliputi tentang pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap kedisiplinan guru di SMA Nurul Qomar Palembang.
b. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah skunder dan primer, sumber data primer adalah sumber data yang dikumpulkan langsung dari tangan pertama, yaitu kepemimpinan kepala sekolah (manajer) sebagai motivator, administrator dan supervisor, serta guru-guru yang berjumlah 25 orang menjadi responden dalam penelitian ini. Sedangkan data skunder yaitu sumber data yang diperoleh dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan semua asfek yang menunjang penelitian.
3. Pengumpulan Data
a. Angket, digunakan untuk mengumpulkan data dari guru, mengenai gaya kepemimpinan kepala sekolah dan kedisiplinan guru di SMA Nurul Qomar Palembang.
b. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data tentang
sejarah berdirinya sekolah, letak geografis sekolah, sarana dan prasarana, jumlah guru, siswa dan tenaga administrasi.
4. Analisis Data
Setiap peneliti harus menganilis data yang diperoleh agar dapat mengetahui bisa atau tidak bisa data tersebut digunakan. Dalam penelitian ini akan digunakan teknik analisis komparasional, yaitu suatu teknik analisi data statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis mengenai ada tidaknya pengaruh antara variabel yang diteliti. Analisis data dalam penilitian ini menggunakan rumus uji t sebagai berikut.20
tₒ=M₁−M₂ SEM₁−M₂
Keterangan:
M₁ = Mean Variabel 1 M₂ = Mean Variabel 2
SEM₁−M₂ = Perbedaan Mean Variabel 1
K. Sistematis Pembahasan
Dalam sistematis pembahasan ini, akan sedikit dijelaskan mengenai isi dari bab pembahasan yang ada dalam hasil penelitian yang akan dilaksanakan oleh peneliti:
BAB I : terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan
20 Anas Sujiono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta:Rajawali Pers, 2009), hlm. 206
penelitian, kegunaan penelitian, hipotesis penelitian, variabel penelitian, definisi operasional, kerangka teori, kajian pustaka, metodologi penelitian dan sistematis pembahasan.
BAB II : Bagian landasan teori yang terdiri dari gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan kedisiplinan guru, fungsi dan tugas kepala sekolah, kedisplinan guru.
BAB III : Gambaran umum wilayah penelitian, yaitu meliputi sejarah singkat SMA Nurul Qomar Palembang, profil sekolah, keadaan guru, keadaan murid, sarana dan prasarana, fasilitas pendidikan, site plant, dan struktur organisasi di SMA Nurul Qomar Palembang.
BAB IV : Hasil penelitian dan pembahasan tentang gaya kepemimpinan kepala sekolah, Kedisiplinan Guru dan Pengaruh Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Kedisiplinan Guru di SMA Nurul Qomar Palembang.
BAB V : Penutup ini berisikan tentang kesimpulan dan saran sebagai paparan akhir hasil penelitian.