Hasil penelitian menunjukkan produksi pisang Barangan yang bermikoriza dan non-mikoriza dimulai dari penaburan, pengolahan tanah, pembuatan lubang, penanaman, pemeliharaan hingga panen. Nilai R/C Ratio pada budidaya pisang Barangan non mikoriza sebesar 1,05 dan pada budidaya pisang Barangan mikoriza sebesar 0,82.
PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Bagaimana budidaya pisang barangan non mikoriza pada kelompok tani Mekar Tani desa Sari Laba Desa sibiru-biru dan budidaya pisang barangan mikoriza pada kelompok tani masyarakat Bersatu desa Sampali Percut Sei Tuan. Bagaimana kelayakan usahatani pisang barangan non mikoriza pada kelompok tani Mekar Tani desa Sari Laba Jahe Sibiru-biru dan pisang barangan mikoriza pada kelompok tani masyarakat Bersatu desa Sampali Percut Sei Tuan.
Tujuan Penelitian
Berapa biaya produksi dan penerimaan serta pendapatan produsen pisang barangan non mikoriza, Kelompok Tani Mekar Tani, Sari Laba Jahe Desa Sibiru-biru dan pisang barangan mikoriza, Kelompok Tani Masyarakat Bersatu, Desa Sampali, Percut Sei Tuan.
Manfaat Penelitian
Kerangka Pemikiran
Berdasarkan kerangka konseptual, hipotesis penelitian ini adalah usahatani pisang Barangan pada kelompok tani Mekar Tani di desa Sari Laba Jahe Sibiru-biru layak dan kelompok tani Masyarakat Bersatu di desa Sampali Percut Sei Tuan tidak layak. Daging buah pisang barangan merah berwarna kuning muda, sedangkan daging buah pisang barangan putih berukuran lebih kecil dan kurang harum sehingga kurang populer di kalangan konsumen, buah pisang barangan merah sangat digemari oleh masyarakat.
Budidaya Pisang Barangan 1.Syarat Tumbuh 1.Syarat Tumbuh
- Bibit
- Pengolahan Lahan
- Penanaman
- Pemupukan
- Pemeliharaan a. Pemangkasan
Tanaman yang baru ditanam diberikan sebanyak 3 kali yaitu 1/4 pada saat tanam dan sisanya dibagi dua pada umur 3 bulan dan 6 bulan. Sedangkan untuk tanaman berumur 1 tahun ke atas, pemupukan diberikan sebanyak dua kali, yaitu pada awal musim hujan dan menjelang akhir musim hujan (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2008). Pemangkasan daun kering bertujuan untuk mencegah penularan penyakit, mencegah daun tua menutupi daun muda dan melindungi buah dari goresan daun.
Pengendalian gulma secara mekanis terutama dilakukan pada saat tanaman berumur 1-5 bulan, apalagi 3 bulan pertama harus dilakukan secara intensif. Penjarangan Pekerja Penjarangan pekerja bertujuan untuk mengurangi jumlah petani, menghemat ruang tanaman dan memastikan produksi tidak menurun.
Produksi Pisang
Tabel 3 menunjukkan bahwa Kecamatan Hilir Sinembah Tanjung Muda (STM) merupakan daerah penanaman pisang terbesar diantara 22 kecamatan yang ada di Kabupaten Deli Serdang. Pada tahun 2013, produksi pisang sebesar 201.321 kuintal, dan pada tahun 2014 sebesar 151.250 kuintal. Kecamatan Pantai Labu merupakan kabupaten penghasil pisang terkecil di Kabupaten Deli Serdang, dengan produksi pisang sebesar 68 kuintal pada tahun 2013 dan 204 kuintal pada tahun 2014. Untuk mengetahui luas produksi pisang Barangan di wilayah Deli Serdang per kecamatan setiap tahunnya dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini.
Buah ini mempunyai keunggulan dibandingkan pisang lainnya, yaitu mempunyai daging buah yang manis dan kering, kulit buah berwarna kekuningan dan mempunyai aroma yang khas (Casalade, 1999) mencapai 1,8-2,3 juta ton dan tingkat konsumsi produk olahannya diperkirakan meningkat dari 8,2- 10 kg/kapita/tahun yaitu mencapai 90.000 ton. Volume tersebut memerlukan luas tanam sebesar 6.000 ha pada tahun 2010, dimana 4.500 ha diantaranya tersedia namun belum dikelola secara intensif, sedangkan 1.500 ha akan dibuka untuk lahan baru (Suswati, dkk. 2012) pada penelitian Sihotang tahun 2018 menjadi
Permintaan buah ekspor Sumut berfluktuasi, namun produksi pisang Barangan mengalami penurunan selama empat tahun terakhir.
Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA)
- Hasil pemanfaatan mikoriza terhadap peningkatan pertumbuhan dan hasil berbagai tanaman hasil berbagai tanaman
Mikoriza dapat meningkatkan serapan unsur hara dari dalam tanah Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologis terhadap infeksi patogen akar. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembapan. Hasil pemanfaatan mikoriza untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil berbagai tanaman. Menurut penelitian Dini Oktaviani dkk, (2015), pemberian cendawan mikoriza arbuskula (FMA) dengan dosis 20 g/tanaman meningkatkan tinggi tanaman sebesar 6 MSPT, diameter batang, derajat infeksi FMA, memberikan konsorsium mikroba dengan dosis dengan 15 g/kg benih meningkatkan tinggi tanaman sebesar 6 MSPT, diameter batang, derajat infeksi FMA.
Menurut penelitian Suswati, et al., (2013) bahwa penerapan FMA (Glomus type-1, Acaulospora type-4, Glomus fasciculatum) dapat meningkatkan ketahanan tanaman pisang Barangan terhadap BDB. Kepadatan perbanyakan BDB ditemukan dalam jumlah yang rendah pada akar tanaman pisang yang dikolonisasi dengan AMF pribumi. Meningkatnya ketahanan tanaman pisang terhadap BDB erat kaitannya dengan tingginya persentase dan intensitas kolonisasi FMA serta intensifnya struktur mikoriza (kepadatan spora, hifa luar, dan hifa dalam) pada akar tanaman pisang Barangan.
Biaya Produksi, Penerimaan dan Pendapatan
- Biaya Produksi
Pemahaman yang baik mengenai biaya sangatlah penting, karena besar kecilnya keuntungan suatu usaha sebagian bergantung pada besarnya biaya (Hernanto, F. 1989). Biaya tetap merupakan biaya yang besarnya relatif tetap dan tetap terjadi tanpa memandang besar atau kecilnya produksi yang dicapai. Biaya tidak tetap (biaya variabel) merupakan biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang dicapai, misalnya biaya sarana produksi.
Biaya produksi adalah keseluruhan biaya (biaya tetap dan biaya variabel) yang dikeluarkan selama proses produksi dan digunakan untuk pembelian benih, pupuk, pestisida, pembelian alat dan tenaga kerja. Biaya tetap tidak bergantung pada besar kecilnya produksi yang diperoleh, sedangkan biaya variabel diartikan sebagai biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh. Dimana TC = biaya total/total biaya produksi pisang (Rp/kg) FC = biaya tetap/biaya tetap (Rp).
Pendapatan adalah total pendapatan dikurangi total biaya, laba disebut juga keuntungan yang diperoleh dengan melakukan investasi pada kegiatan produksi yang nilainya melebihi harga beli.
Kelayakan Usahatani
Berdasarkan hasil penelitian pemberian mikoriza pada tanaman kacang panjang sebanyak 10 g/petak, diperoleh jumlah produksi sebesar 2021,574 kg/petak. Dengan biaya mikoriza yang digunakan 10 g dan jumlah petak 4 maka biaya mikoriza sebesar Rp 2000. Berdasarkan hasil penelitian pemberian mikoriza pada tanaman jagung manis sebanyak 20 g/petak maka jumlah produksi yang dihasilkan adalah yang diperoleh adalah 1017,5 kg/petak.
Berdasarkan hasil penelitian pemberian tanaman mikoriza sedikitnya 10 g/petak, total produksi yang diperoleh adalah 10.004 kg/petak. Dengan harga mikoriza bekas 10 gr dan 5 petak maka biaya mikoriza adalah Rp 2500. Berdasarkan hasil dan penelitian analisis kelayakan budidaya pisang di kabupaten Bantul dapat disimpulkan bahwa (1) Dari hasil analisis yang dilakukan total biaya eksplisit dan implisit yang harus dikeluarkan petani pisang adalah sebesar Rp.
Pendapatan petani pisang sebesar Rp. Dan keuntungan petani pisang sebesar Rp. 2) Usaha budidaya yang dilakukan oleh petani pisang dinyatakan layak yang dilihat dari indikator kelayakan berikut, nilai R/C yang diperoleh sebesar 2,64, produktivitas modal sebesar 2214,07%, produktivitas tenaga kerja sebesar Rp.
Metode Pengambilan Sempel
Penelitian ini dilakukan di Kelompok Tani Mekar Tani di Desa Sari Laba Jahe Kecamatan Biru-biru Kabupaten Deli Serdang dengan luas 2,5 ha dan Kelompok Tani Persatuan Komunitas di Desa Sampali Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang dengan luas 2,5 ha. . Lokasi penelitian ini sengaja ditentukan guna untuk menentukan lokasi penelitian karena daerah ini merupakan salah satu daerah penanaman pisang Barangan dan kelompok tani aktif dalam budidaya pisang Barangan non mikoriza dan mikoriza.
Metode Pengumpulan Data
Metode Analisis Data
Tujuan penelitian yang ketiga adalah untuk mengetahui apakah usaha budidaya pisang Barangan layak untuk dikembangkan, maka digunakan analisis revenue cost ratio (R/C). Menurut Soekartawi (1995), kriteria kelayakannya adalah sebagai berikut: - R/C > 1: Usahatani pisang barangan layak untuk diusahakan - R/C = 1: Usahatani pisang barangan impas. Usahatani pisang barangan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan pada sebidang lahan pertanian untuk ditanami tanaman pisang barangan.
Biaya produksi usahatani pisang barangan adalah biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan pisang barangan mulai dari penanaman hingga panen, dihitung dalam satuan rupiah. Faktor produksi merupakan faktor yang dapat mempengaruhi kelancaran usahatani pisang barangan, seperti lahan, bibit, pupuk, tenaga kerja dan peralatan. Pendapatan usahatani pisang barangan merupakan hasil penjualan pisang barangan selama masa produksi yang dihitung dalam rupiah.
Pendapatan bersih daripada penanaman pisang Barangan adalah hasil daripada pengurangan dalam hasil kasar pisang Barangan ditolak jumlah kos pengeluaran pisang Barangan, dinyatakan dalam rupiah.
Kondisi Geografis Desa Sampali
Secara geografis Kabupaten Deli Sardang terletak pada 2057' LU sampai 3016' LU dan 98033' BT sampai 99027' BT dengan ketinggian 0 – 500 m di atas permukaan laut. Kabupaten Deli Serdang terdiri dari 22 kecamatan, 2 diantaranya adalah kecamatan Biru-biru dan kecamatan Percut Sei Tuan. Kecamatan Biru-biru mempunyai 17 desa, salah satunya adalah desa Sari Laba Jahe dan kecamatan Percut Sei Tuan memiliki 20 desa, salah satunya adalah desa Sampali yang menjadi lokasi penelitian.
Kependudukan Desa Sampali
Sebaran umur penduduk di Desa Sampali disajikan pada Tabel 5 di bawah ini. Tabel 5 menunjukkan bahwa jumlah penduduk terbanyak terdapat pada kelompok umur 5-9 tahun sebanyak 3230 jiwa, dan terkecil pada kelompok umur 60-64 tahun sebanyak 877 jiwa.
Mata Pencaharian Desa Sampali
Desa Sari Laba Jahe mempunyai luas wilayah 8,88 km2 atau sekitar 9,90% dari luas wilayah Kecamatan Biru-biru dan berada pada ketinggian 28 meter di atas permukaan laut dengan kontur tanah.
Kependudukan Desa Sari Laba Jahe
Pada tabel 8 terlihat penduduk tertinggi pada kelompok umur 5-9 tahun sebanyak 180 orang dan penduduk terendah pada kelompok umur 60-64 tahun sebanyak 47 orang.
Mata Pencaharian Desa Sari Laba Jahe
Profil Responden Petani pisang barangan bermikoriza dan non mikoriza Responden penelitian adalah petani yang melakukan usahatani pisang
Peningkatan ketahanan pisang barangan terhadap bakteri penyakit darah (BDB) dengan aplikasi jamur mikoriza arbuskula Indegenus. MYCORIZA PADA KELOMPOK PETANI BUNGA DI DESA SARI LABA BIRU-BIRU JAHE DAN PISANG BARARAN SEI TUAN. Saya seorang mahasiswi S1 Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Medan Area, sedang menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Usahatani Pisang Barangan Non Mikoriza Di Kelompok Tani Pisang Mekar Tani Sari Laba Jahe dan Pisang Mikoriza Masyarakat Persatuan Desa Sampali Kelompok Tani".
Sehubungan dengan hal tersebut, saya mohon bantuannya untuk mengisi kuesioner ini sesuai dengan situasi/perasaan anda, Kuesioner ini hanya akan digunakan sebagai alat (data) dalam penelitian ini. Demikian yang dapat saya sampaikan, atas perhatian, kerjasama dan bantuan yang telah diberikan, saya ucapkan terima kasih. Isilah jawaban pada kolom atau ruang yang tersedia dengan mengisi bagian yang kosong atau memberi tanda [] pada jawaban yang sesuai dengan pilihan Anda.
IDENTITAS RESPONDEN
ANALISIS PENDAPATAN PETANI
Apa yang Anda harapkan dari kelompok tani ini? 10. Apakah penggunaan mikoriza pada budidaya pisang? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memanen pisang barangan yang bermikoriza? 16. Apakah ada ciri atau kriteria tertentu untuk mengetahui pisang barangan siap dipanen? ANALISIS PISANG NON-MYCORRIFIC PADA KELOMPOK PETERNAKAN MEKAR DI DESA SIBIRU-BIRU KEUNTUNGAN JUS JAHE DAN PISANG MYCORRIFIC PADA KELOMPOK PETERNAKAN.
Tabel Harga Bibit Pisang Non Mikoriza Pada Petak Luas 2,5 Ha Jumlah Sampel. Luas lahan Benih/musim tanam Harga/satuan (Rp. Total biaya benih.
KECAMATAN SIBIRU-BIRU
KECAMATAN PERCUT SEI TUAN