• Tidak ada hasil yang ditemukan

Resettlement Planning Framework

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Resettlement Planning Framework"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

1

RINGKASAN

Resettlement Planning Framework - Process Framework (RPF-PF) / Kerangka Perencanaan Pemukiman Kembali -

Kerangka Proses (KPPK-KP)

Kerangka ini digunakan untuk memperkuat manajemen risiko dan dampak yang terkait dengan pemindahan mata pencaharian dan pembatasan akses akibat dari pelaksanaan kegiatan/proyek, Kerangka Perencanaan Pemukiman Kembali (KPPK) telah disiapkan sebagai langkah pencegahan jika risiko pemukiman kembali harus dipertimbangkan.

Kerangka ini juga mencakup Kerangka Proses (KP) untuk mengatasi risiko pembatasan akses bagi masyarakat yang bergantung pada hutan, termasuk penduduk asli, sebagai hasil dari implementasi program pengurangan emisi (PPE). Kerangka ini dikembangkan melalui proses partisipatif yang melibatkan pemangku kepentingan di Jambi termasuk pemerintah pusat dan daerah, universitas dan LSM.

Kerangka Perencanaan Pemukiman Kembali (KPPK) disusun sebagai langkah pencegahan, juga mencakup Kerangka Proses (KP) untuk mengatasi risiko pembatasan akses bagi masyarakat yang bergantung pada hutan, termasuk Masyarakat Adat. KPPK dan KP sebagai tindakan pencegahan untuk mengatasi risiko yang terkait dengan pemukiman kembali atau pembatasan akses setelah implementasi program. Kerangka kerja ini telah dikembangkan untuk memenuhi persyaratan utama sesuai Kebijakan Operasional Bank Dunia (KO) 4.12 tentang Pemukiman Kembali Non-sukarela dan KO 4.10 tentang Masyarakat Adat, terkait dengan dampak khusus yang memengaruhi masyarakat tersebut.

KPPK berfungsi sebagai pedoman untuk pengembangan Rencana Aksi Pemukiman Kembali (RAP) dalam hal pemukiman kembali dianggap terjadi sebagai bagian dari proyek. KP berfungsi sebagai pedoman untuk pengembangan Rencana Aksi yang menjabarkan proses konsultatif untuk mengurangi dampak yang dihasilkan dari pembatasan akses dan pembatasan penggunaan lahan. Catatan penting adalah, pemukiman kembali secara paksa tidak dipertimbangkan dalam J-SLMP. Kerangka Proses mengidentifikasi tipologi risiko berikut yang terkait dengan pembatasan akses dan pembatasan penggunaan lahan:

• Pembatasan akses dan penggunaan lahan dalam HCV di dalam area konsesi (baik konsesi kehutanan dan non-kehutanan). Meskipun pemukiman kembali tidak diperlukan, pembatasan pemanfaatan yang diizinkan pada komoditas kehutanan dan non-kehutanan (seperti karet, tanaman obat dan produk kehutanan non-kayu lainnya), disertai dengan penegakan hukum dapat berimplikasi pada sumber mata pencaharian yang ada. Tanaman perkebunan seperti kelapa sawit dilarang di area ini dan pembatasan semacam itu dapat merugikan petani kecil yang memanfaatkan lahan hutan untuk tujuan tersebut;

(2)

2

• Batasan akses di kawasan konservasi dan perlindungan hutan. Pembentukan kawasan konservasi dapat membatasi akses masyarakat ke wilayah-wilayah ini dan karenanya dapat berimplikasi pada mata pencaharian mereka, kegiatan keagamaan, atau budaya.

Alasan utama penerapan KPPK dan KP adalah memastikan bahwa setiap risiko yang dapat mengarah pada pemukiman kembali dan/atau pembatasan akses yang berdampak potensial pada perpindahan mata pencaharian terhadap masyarakat yang bergantung pada hutan, termasuk Masyarakat Adat dalam wilayah WPK dapat diidentifikasi sejak awal mungkin agar memungkinkan risiko dan dampak dapat dihindari dan, jika tidak memungkinkan, agar dilakukan tindakan minimalisasi dan kompensasi sebagaimana tercantum dalam dokumen ini.

KPPK mensyaratkan bahwa jika risiko pemukiman kembali dan pembatasan akses dipertimbangkan atau diperkirakan akan terjadi selama implementasi, setiap anggota masyarakat yang terkena dampak Program (selanjutnya disebut MTDP) akan dikonsultasikan, dikompensasi untuk penggantian biaya dan dibantu dengan langkah- langkah pemulihan untuk membantu mereka meningkatkan atau paling tidak mempertahankan kondisi kehidupan dan kapasitas untuk mendapatkan penghasilan yang mereka miliki sebelum Program. Pihak Pemerintah Daerah perlu memastikan bahwa Rencana Aksi Pemukiman Kembali (RAPK) untuk subproyek dan intervensi akan disiapkan oleh pemerintah yang bertanggung jawab untuk melaksanakan subproyek atau intervensi.

Tujuan dari KP adalah untuk menetapkan proses di mana masyarakat yang berpotensi terkena dampak pembatasan lahan dan sumber daya alam untuk tujuan konservasi dan perlindungan dapat terlibat dalam konsultasi dan negosiasi untuk mengidentifikasi dan menerapkan langkah mengurangi dampak pembatasan akses tersebut. KP ini akan sangat terkait dengan program Pemerintah Indonesia tentang Perhutanan Sosial dan Program Pembaruan Agraria yang lebih luas, yang diharapkan bermanfaat bagi masyarakat miskin yang tidak memiliki tanah di dalam atau disekitar kawasan hutan.

Kerangka kerja proses harus mencakup PADIATAPA dan proses konsultasi di tingkat desa, Kabupaten dan Provinsi (pemangku kepentingan dari sektor kehutanan, pertambangan dan perkebunan). Oleh karenanya, KPPK berfungsi sebagai pedoman untuk memastikan bahwa implementasi program mengklasifikasikan jenis tanah di mana terdapat permukiman informal atau perambahan dan ketika ada kemungkinan risiko untuk konflik dan penggusuran sehingga tindakan yang diperlukan dapat dimobilisasi secara tepat waktu untuk mengatasi dan mengurangi risiko tersebut.

Sesuai Kebijakan Bank Dunia, warga masyarakat yang dipindahkan dapat diklasifikasikan dalam salah satu dari tiga kelompok berikut:

1. Mereka yang memiliki hak hukum formal atas tanah (termasuk hak adat dan tradisional yang diakui berdasarkan hukum negara);

2. Mereka yang tidak memiliki hak hukum formal atas tanah pada saat pendataan/sensus dilaksanakan namun memiliki klaim atas tanah atau aset tersebut

(3)

3

(klaim tersebut diakui berdasarkan hukum negara atau diakui melalui proses yang diidentifikasi dalam pemukiman kembali); dan

3. Mereka yang tidak memiliki hak hukum yang diakui atau klaim atas tanah yang mereka tempati.

Warga masyarakat yang dicakup dalam kelompok (a) dan (b) diberikan kompensasi atas tanah yang hilang, dan bantuan lainnya. Warga masyarakat yang dicakup dalam kelompok (c) diberi bantuan pemukiman kembali sebagai pengganti kompensasi atas tanah yang mereka tempati, dan bantuan lainnya, sebagaimana diperlukan, untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dalam kebijakan ini, jika mereka menempati area proyek sebelum pembukaan kawasan. Warga masyarakat yang melanggar batas wilayah setelah tanggal batas tidak berhak atas kompensasi atau bentuk lain dari bantuan pemukiman kembali. Semua warga masyarakat yang termasuk dalam tiga kelompok (a), (b), atau (c) diberikan kompensasi atas kehilangan aset selain tanah.

Penting dicatat bahwa warga masyarakat perlu melakukan pengaduan jika dirugikan.

Oleh karenanya, prosedur pengaduan akan memastikan bahwa MTDP diberi informasi yang memadai tentang prosedur tersebut, sebelum aset mereka diambil. Mekanisme penanganan pengaduan dirancang dengan tujuan menyelesaikan perselisihan secepat mungkin yang menjadi kepentingan semua pihak terkait dan merujuk masalah-masalah tersebut ke Pengadilan untuk diselesaikan.

Rencana kompensasi dan pemukiman kembali akan mengikat berdasarkan undang- undang dan akan mengakui bahwa hukum adat adalah hukum yang mengatur administrasi dan penguasaan lahan di kawasan pedesaan/desa. Ini adalah hukum yang digunakan dan dipahami penduduk yang tinggal di kawasan ini. Semua keberatan atas pembebasan lahan harus dibuat secara tertulis, dalam bahasa yang dipahami dan dimengerti oleh MTDP. Salinan pengaduan akan dikirim ke Tim Perencanaan Proyek dan Spesialis Pemukiman Kembali dan Menteri terkait untuk urusan tanah dalam waktu 20 hari setelah pemberitahuan publik.

Referensi