• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respon Positif IPO Garuda

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Respon Positif IPO Garuda"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Respon Positif IPO Garuda Oleh Mutamimah

Beberapa hari ini kita dikejutkan oleh berita bahwa initiall public coffering (IPO) PT Garuda Indonesia di beberapa wilayah sepi peminat. Padahal garuda mempunyai nama besar, sudah menjadi top of mind bagi publik baik nasional maupun internasional, serta merupakan satu-satunya maskapai penerbangan Indonesia yang mempunyai sertifikat IOSA. Namun, respons terhadap IPO Garuda tidak semeriah respons terhadap IPO PT. Krakatau Steel.

Mengapa hal ini terjadi? Apakah IPO Garuda tetap harus dilanjutkan?

Initial public offering merupakan salah satu strategi privatisasi BUMN, dengan cara menjual sebagian saham yang dimiliki oleh pemeintah kepada investor publik untuk pertama, baik investor domestic maupun asing. Melalui IPO, Garuda mendapatkan dana segar dalma jumlah besar untuk mendukung program ekspansi perusahaan.

Melalui IPO, juga diharapkan kinerja perusahaan menjadi lebih baik karena ketika saham dimiliki publik maka monitoring tentang kondisi, kinerja, dan prospek perusahaan akan selalu dilakukan secara rutin oleh publik. Dengan demikian, manajemen akan lebih professional dan bersungguh-sungguh dalam meningkatkan kinerjanya. Garuda melepas 6,355 miliar lembar saham atau 26,67%, dengan harga penawaran IPO Rp. 750 per lembar sehingga diharapkan mendapat penerimaan Rp. 4,751 triliun.

Tidak agresifnya respons publik terhadap IPO Garuda disebabkan beberapa hal, antara lain : adanya asymmetric information, artinya informasi yang dimiliki oleh manajemen tidak seimbang dengan informasi yang dimiliki publik. Fenomena minimnya informasi yang dimiliki publik mendorong munculnya persepsi negative terhadap manajemen.

Ada keterbukaan

Kedua ; peraturan tentang pelaksanaan, mekanisme, dan tata cara privatisasi sangat terbatas sehingga membuka peluang free rider (pejabat pemerintah, DPR, politikus, investor/pengusaha) mengambil keuntungan dalam jumlah besar secara tidak wajar sebagaimana dalam IPO KS. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran dan ketidakpercayaan publik sehingga menurunkan minat untuk segera meresponnya.

Respons yang kurang maksimal dari publik tersebut harus menjadi masukan dan informasi penting bagi manajemen. Padahal pada tahun ini pemerintah berencana melakukan privatisasi terhadap 11 BUMN. Kalau IPO Garuda ini dipaksakan, tampak bahwa timing-nya kurang tepat, dan dikhawatirkan tujuan hakiki privatisasi tidak tercapai.

Strategi IPO cocok dipilih bila nilai saham yang akan diprivatisasi jumlahnya cukup besar, BUMN memiliki kondisi keuangan yang baik, memiliki kinerja manajemen yang baik, tersedia cukup waktu untuk melaksanakan IPO, kondisi pasar yang mendukung, dan prospek perusahaan bagus. Namun, beberapa waktu lalu adanya pemberitaan media atau rumor negatif tentang kinerja Garuda dan strategi komunikasi yang kurang efektif, ini merupakan risiko reputasi yang menurunkan tingkat keperjayaan publik.

(4)

Untuk mengantisipasi risiko reputasi dan memperlancar strategi IPO, garuda mestinya melakukan transparansi dan keterbukaan, utamanya pada tahap bookbuilding yakni tahap ketika penjamin emisi membangun citra sehingga menimbulkan trust (kepercayaan) bagi investor. Selain itu melakukan transparansi secara riil tentang kondisi keuangan, kinerja, dan prospek.

Sepinya respons public menunjukkan sinyal yang menjadi informasi penting bagi Garuda sebagai dasar pengambilan keputusan berikutnya. Karena itu, perlu dilakukan beberapa hal, antara lain, sebaiknya IPO ditunda dulu sampai public yakin akan reputasi Garuda mengingat hal itu menyangkut nama besar, brand image, dan reputasi. Aturan tentang privatisasi juga perlu disempurnakan karena sampai saat ini, belum ada aturan yang jelas BUMN mana yang boleh diprivatisasi dan mana yang tidak, sehingga muncul persepsi bahwa semua BUMN boleh diprivatisasi. Kalai hal ini dibiarkan maka BUMN yang merupakan aset- aset strategis sangat mungkin dikuasai Negara lain.

Peraturan tentang mekanisme dan tata cara privatisasi juga perlu disempurnakan, sehingga keadilan dan fairness terwujud, serta tidak memberi kesempatan kepada free rider mengambil keuntungan besar secara tidak wajar sebagaimana terjadi dalam IPO KS. Perlu juga mengutamakan investor domestic yang bersifat jangka panjang, dan bukan investor asing. Pasalnya, ketika kepemilikan aset BUMN dimiliki pihak asing secara mayoritas maka kendali manajemen perusahaan pun ada di pihak asing. Akibatnya, kemakmuran dan kesejahteraan pun lebih banyak dinikmati oleh mereka.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan menggunakan metode studi kasus yang bertujuan untuk mengetahui fase spesifik subyek penelitian yaitu perencanaan kampanye IPO Garuda

Dengan harga jual saham per lembar yang ditetapkan oleh kementrian Badan Usaha Milik Negara (Kementrian BUMN) sebesar Rp 750. Harga saham perdana PT. Garuda

Pengaruh Manajemen Laba (Eamings Management) Terhadap Kinerja Operasi dan Return Saham di Sekitar IPO: Studi terhadap Perusahaan yang Listing di Bursa Efek

Dikarenakan hasil temuan empiris dari penelitian ini masih belum dapat memberi penjelasan yang kuat tentang pengaruh underpricing terhadap likuiditas saham setelah IPO, maka

Berdasarkan kedua hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan perusahaan manufaktur yang melakukan IPO tahun 2015 lebih baik setelah dilakukannya

IPO dari emiten dengan rasio ROE yang tinggi akan menciptakan sentiment positif bagi investor dalam membeli saham perusahaan tersebut, sehingga pelaksanaan IPO

Pada proposisi 3 dinyatakan bahwa dalam jangka panjang, secara rata-rata saham IPO berada pada posisi yang jelek jika di bandingkan pada keseluruhan pasar (portfolio ) sebab: (1)

IPO dari emiten dengan rasio ROE yang tinggi akan menciptakan sentiment positif bagi investor dalam membeli saham perusahaan tersebut, sehingga pelaksanaan IPO