• Tidak ada hasil yang ditemukan

Resume Materi Pertemuan 8-14 Antropologi Hukum

N/A
N/A
dngg

Academic year: 2024

Membagikan "Resume Materi Pertemuan 8-14 Antropologi Hukum"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Danang Kusuma Admaja NIM : 21103040047

Kelas : C

RESUME MATERI PERTEMUAN 8-14

Pertemuan 8 : Legal Anthropology

Antropologi hukum sebagai sub-disiplin antropologi yang mempelajari tatanan sosial lintas budaya, termasuk manajemen konflik, kejahatan, sanksi, dan peraturan formal. Sejarah antropologi hukum dimulai dengan karya-karya seperti "Ancient Law" oleh Sir Henry Maine dan

"Crime and Custom in Savage Society" oleh Bronisław Malinowski. Antropologi hukum mempertanyakan bagaimana hukum hadir dalam budaya, bagaimana hukum itu terwujud, dan bagaimana antropolog dapat berkontribusi pada pemahaman tentang hukum. Metode penelitian antropologi hukum meliputi studi kasus dan pendekatan prosesual terhadap keteraturan dan konflik dalam masyarakat.

Selain itu, antropologi hukum juga mempertimbangkan terminologi, etnologi, dan kontribusi terhadap isu-isu seperti pluralisme hukum, hak asasi manusia universal, dan praktik budaya seperti pemotongan alat kelamin perempuan. Ada juga minat yang semakin besar pada persimpangan antara antropologi hukum dan linguistik. Beberapa akademisi terkemuka dalam bidang ini termasuk Sally Falk Moore, Justin Richland, dan Rebecca French. Asosiasi untuk Antropologi Politik dan Hukum adalah asosiasi profesional utama di Amerika Serikat untuk para antropolog hukum.

Dalam pembahasan kali ini juga menyoroti berbagai artikel dan jurnal penelitian tentang antropologi hukum, termasuk topik-topik seperti penggunaan norma dalam penyelesaian sengketa, kontrol sosial dalam masyarakat Afrika, sejarah antropologi hukum, dan studi kasus tentang metode dan moral dalam pekerjaan komisi kebenaran dan rekonsiliasi Afrika Selatan. Beberapa penulis yang dikutip dalam jurnal ini antara lain Boddy, Bohannan, Comaroff, Roberts, Gulliver, Pospisil, Hamnett, MacFarlane, Malinowski, Lyon.

(2)

Pertemuan 9 : Antropologi Hukum a. Pengertian

Antropologi, adalah studi ilmu yg mempelajari tentang manusia dari Aspek Budaya, Perilaku, Nilai, Keanekaragaman dan lainnya. Antropologi Hukum, adalah ilmu yg mempelajari manusia dengan kebudayaan, yg khusus di bidang Hukum. Antropologi Hukum: ilmu tentang Manusia dalam kaitannya dengan Kaidah-kaidah sosial yg bersifat Hukum. Antropologi hukum sebagai ilmu pengetahuan yang merupakan spesialisasi dari Antropologi budaya. Dimana sebagai ilmu pengetahuan memiliki empat hal yakni objek, metode, sistem, dan universal.

Antropologi Hukum, adalah Ilmu pengetahuan (logos) tentang Manusia (antropos) yg berhubungan dengan Hukum. Manusia, adalah manusia yg hidup bermasyrakat, masyarakat yg masih sederhana budayanya (primitif) dan yg sudah Maju (modern). Budaya adalah Budaya Hukum, yaitu segala bentuk perilaku budaya manusia yg mempengaruhi Masalah Hukum.

Menurut Hegel (Abad 19), Budaya sebagai keterasingan manusia dengan dirinya sendiri. Dalam berbudaya manusia tidak menerima begitu saja apa yang disediakan oleh alam; dirubah dan dikembangkan; mendorong kemajuan budaya. Dalam perspektif Islam, kebudayaan adalah Pola hubungan manusia dengan Khaliq (ibadah) dan antar sesama manusia (muamalah) memberi warna pada kebudayaan. Pola tingkah laku manusia yang bersumber dari kebudayaan aadalah bercorak tingkah laku dalam upaya mendapatkan ridha Allah SWT.

b. Manfaat

Adapun manfaat antropologi hukum sebagai berikut.

1. secara teoritis dapat mengetahui pengertian-pengertian hukum yang berlaku dalam masyarakat sederhana & modern.

2. dapat mengetahui bagaimana masyarakat bisa mempertahankan nilai-nilai dasar yang dimiliki sekaligus mengetahui bagaimana masyarakat bisa melakukan perubahan- perubahan terhadap nilai-nilai dasar tersebut.

3. dapat mengetahui perbedaan pendapat / pandangan masyarakat atas sesuatu yang seharusnya mereka lakukan.

4. dapat mengetahui suku bangsa / masyarakat mana yang masih kuat / fanatik mempertahankan keberlakuan nilai-nilai budaya mereka.

5. dapat mengetahui suku bangsa / masyarakat mana yang memiliki norma-norma perilaku hukum yang sudah tinggi dan mana yang belum tinggi.

(3)

c. Sifat Keilmuan

1. Antropologi Hukum tidak membatasi pandangan pada kebudayaan tertentu (studi perbandingan)

2. Antroplogi Hukum, mempelajari masyarakat sebagai suatu keseluruhan yang utuh, dimana bagian-bagiannya saling bertautan

3. Antropologi Hukum Modern tidak memusatkan perhatian hanya pada kekuatan sosial dan hal superorganis

4. Antropologi Hukum memandang masyarkat secara Dinamis, sehingga peranan sosial dan Hukum tidak terbatas mempertahankan Status quo

5. Antropologi Hukum termasuk ilmu Hukum yang empiris d. Ruang Lingkup

Ruang Lingkup Antropologi Hukum adalah suatu spesialisasi dari Antropologi Budaya.

Adapun ruang lingkup kajiannnya adalah objekmya yakni manusia dengan kebudayaannya dan manusia dengan hukum dan tatanan kehidupannya. Ruang lingkup manusia dengan kebudayaannya mencakup Sejarah manusia dan kemanusiaan, manusia sebagai individu, manusia sebagai makhluk sosial, manusia dalam kehidupan berkeluarga, manusia dalam kehidupan bermasyarakat, manusia dan sistem nilai yang berlaku, manusia dalam perkembangan pola pikir dan pola kehidupannya. Ruang lingkup kajian manusia dengan hukum mencakup sistem berpikir pada manusia, sistem nilai yang tumbuh dan dianut manusia, pembentukan kebudayaan normative, dan keluarga dan hukum yang ditimbulkan.

e. Sejarah

Awal pemikiran antropologis tentang hukum dimulai dengan studi-studi yang dilakukan oleh kalangan ahli antropologi dan bukan dari kalangan sarjana hukum. Awal kelahiran antropologi hukum biasanya dikaitkan dengan karya klasik Sir Henry Maine yang bertajuk The Ancient Law yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1861. Ia dipandang sebagai peletak dasar studi antropologis tentang hukum melalui introduksi teori evolusionistik (the evolusionistic theory) mengenai masyarakat dan hukum, yang secara ringkas menyatakan: hukum berkembang seiring dan sejalan dengan perkembangan masyarakat, dari masyarakat yang sederhana (primitive), tradisional, dan kesukuan (tribal) ke masyarakat yang kompleks dan modern, dan hukum yang inherent dengan masyarakat semula menekankan pada status

(4)

kemudian wujudnya berkembang ke bentuk kontrak (Nader, 1965; Roberts, 1979; Krygier, 1980; Snyder, 1981).

f. Aliran

Terdapat dua macam aliran yakni evolusionisme dan fungsionalisme. Adapun penjelasannya sebagai berikut.

Aliran Evolusionisme memiliki ciri-ciri yakni Mempunyai perspektif yang sama yaitu mengenai perubahan secaraperlahan-lahan, Holistik, hukum dilihat kaitannya dengan aspek kebudayaannya yang lain, Tinjauannya bersifat komparatif, dan Tinjauan bersifat universal, hasil kajian berlaku universal.

Aliran Fungsionalisme muncul sebagai reaksi terhadap pemikiran kaum evolusionis. Hal ini berdasar pada pemilikiran masyarakat di analisa sebagai bagian-bagian yang terpisah satu sama lain saling tergantung berdasarkan fungsinya. Teori ini tidak bersifat universal, tetapi mengenai masyarakat atau suku bangsa atau desa Tunggal. Metode yang digunakan adalah turun ke lapangan dan membuat deskripsi atau eksplanasi.

g. Metode

Terdapat metode penelitian antropologi hukum.

1. Metode Ideologis, metode ini dilakukan dengan mempelajari kaidah-kaidah hukum yang ideal (norma ideal) yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Penelitian ini memperoleh prinsip-prinsip hukum dalam kehidupan masyarakat.

2. Metode Deskriptif, penelitian ini bermaksud untuk mengetahui bagaimana hukum dalam kenyataannya dapat diterima dalam kehidupan masyarakat.

3. Study Kasus, biasanya mempelajari kasus-kasus perselisihan kelompok masyarakat, latar belakang kultur yg menyebabkannya & rencana solusi penyelesaiannya.

Terdapat metode pendekatan antropologi hukum.

1. Metode Historis mempelajari perilaku manusia & budaya hukumnya dengan kacamata sejarah. Perkembangan karakteristik budaya merupakan awal budaya masyarakat. Budaya hukum yaitu ide, gagasan, harapan masyarakat terhadap hukum.

2. Metode Deskriptif Prilaku menggambarkan perilaku manusia & budaya hukumnya termasuk melukiskan / menggambarkan perilaku nyata jika mereka sedang berselisih / bersengketa. (melihat sistem hukum mana yg digunakan (hukum adat atau hukum Negara).

(5)

3. Metode Study Kasus mempelajari kasus-kasus hukum & penyelesaiaannya yang berkembang dalam masyarakat. Penyelesaian sengketa melalui pengadilan merupakan alternatif terakhir.

Pertemuan 10 : Teori Antropologi Hukum 1. Teori Forum Shopping – Shopping Forum

Teori ini merupakan teori dari Keebet von benda Beckmann (2000: 64-65) merupakan hasil penelitiannya di Sumatera Barat yang berlangsung bulan Juni 1974 – September 1975.

Teori ini dibangun dari fakta persengketaan harta warisan kolam Batu Panjang yang diklaim oleh dua kaum yang berbeda. Dari fakta-fakta penelitian itu, Keebet membangun sebuah teori yang di-analogkan dari istilah hukum perdata internasional, yaitu Forum Shopping-Shopping Forum. Forum Shopping berarti orang-orang yang bersengketa dapat memilih lembaga dan mendasarkan pilihannya pada hasil akhir apakah yang diharapkan dari sengketa tersebut.

Sedangkan Shopping Forum berarti pihak pengadilan, baik pengadilan adat ditingkat masyarakat maupun pengadilan pemerintah terlibat memanipulasi sengketa yang diharapkan dapat memberikan keuntungan politik atau malah menolak sengketa yang mereka (hakim) khawatirkan akan mengancam kepentingan mereka.

2. Teori Justice in Many Rooms

Teori Justice in Many Rooms oleh Marc Galanter sebagaimana dikutip oleh Satjipto Rahardjo, bahwa cara untuk mendapatkan keadilan yang tidak diperoleh dari pengadilan maka keadilan dapat diperoleh di luar pengadilan. Mengamati pengadilan dan peradilan di masyarakat, Marc Galanter sampai pada kesimpulan bahwa pengadilan ternyata tidak hanya satu, yaitu pengadilan formal, melainkan lebih banyak daripada itu. Tulisan Marc Galanter tersebut memberitahu kepada kita, tentang kompleksitas dan mungkin juga relativitas dari pengadilan dan yang karena itu tidak bisa dimonopoli oleh pengadilan Negara. Pengadilan rakyat, ternyata bisa bekerja lebih efektif daripada pengadilan negeri yang terikat pada prosedur.

3. Teori Semi Autonomous Sodal Fields

Selanjutnya teori Semi Autonomus Sodal Fields yang merupakan hasil penelitiannya di bidang agraria di Tanzania, tepatnya pada suku Chagga. Latar belakang munculnya teori ini bermula dari adanya dikotomi tentang hukum, dari Roscoe Pound dan Cochrane. Ahli

(6)

sosiologi hukum Roscoe Pound berpendapat bahwa hukum itu berfungsi sebagai alat untuk merubah/merekayasa masyarakat (law as a tool of social engeneering), artinya dengan pemberlakuan hukum dari pemerintah maka perilaku masyarakat dapat diarahkan sesuai dengan hukum tersebut (perubahan sosial). Sebaliknya Cochrane mengemukakan bahwa masyarakatlah yang menentukan hukum, bukan masyarakat yang diarahkan oleh hukum dari pemerintah.

4. Teori Street Level Bureaucracy

Teori dari Michel Lipsky ini berpendapat bahwa para birokrat tingkat bawah yang langsung berhadapan dengan masyarakat mengamban dua tugas sekaligus: 1). Sebagai pelaksana peraturan/kebijakan; 2). Dalam diri mereka melekat diskresi (kebijaksanaan). Teori Street Level Bureaucracy mengatakan bahwa ada kecenderungan birokrat tingkat bawah untuk melakukan diskresi yang menguntungkan dirinya sendiri. Berbagai contoh di Indonesia, adalah pungutan-pungutan liar untuk mengurus KTP, SIM, Paspor, Perijinan, Sertifikat Tanah, bahkan termasuk pelanggaran lalu lintas, dan lain-lain.

Pertemuan 11 : Masa Depan Antropologi Hukum

Paradigma pengembangan hukum saat ini telah berubah arah. Pada masa lalu, unifikasi dan sentralisasi hukum menjadi mode, sehingga yang mengemuka adalah keseragaman (uniform) hukum untuk semua golongan masyarakat dengan menafikan realitas yang sesungguhnya berbhineka. Pada masa seperti itu, antropologi hukum menjadi bidang kajian yang berada di wilayah periperi dan terabaikan. Pada saat ini keadaannya berabalik. Kini lebih dari yang sudah- sudah, antropologi hukum bermaksud untuk bertolak dari yang khas untuk sampai pada yang universal, dengan menolak yang seragam. Inilah titik tolak dari pertumbuhan yang akan terjadi di masa mendatang.

Melihat dan mempertimbangkan semua penjelasan di atas, dan dengan melihat kecenderungan perkembangan jaman pada saat ini, maka pengkajian hukum yang bersifat antropologis menjadu suatu keharusan. Dikatakan demikian karena kondisi Indonesia yang multicultural dan kesempatan dari perkembangan jaman yang telah memasuki era postmodernisme dimana penghargaan terhadap yang particular dan lokal telah ditonjolkan maka penggalian tehadap hukum lokal yang berisi kearifan sebagai bagian dari tatanan atau tertib sosial yang lebih besar perlu dilakukan.

(7)

Pertemuan 12 : Pengaruh Budaya

Antropologi Hukum sebagai Ilmu mempelajari perilaku manusia dengan segala aspeknya yang terkait dengan norma-norma hukum tertulis dan tidka tertulis secara empiris. Dalam hal ini, budaya yang dimaksud adalah budaya hukum, yaitu segala bentuk perilaku budaya manusia yang mempengaruhi atau yang berkaitan dengan masalah hukum. Dengan kata lain, Antropologi Hukum adalah Antropologi yang mempelajari Hukum sebagai salah satu aspek dari kebudayaan. Itulah sebabnya penelitian antropologis terhadap hukum sebagai salah satu aspek budaya dibedakan menjadi dua kelompok tujuan, yaitu: penelitian untuk kepentingan pengembangan Antropologi, dan penelitian untuk pengembangan Ilmu Hukum. Perkembangan Antropologi Hukum di Indonesia berkorelasi positif dengan perkembangan Ilmu Hukum Adat, sehingga antara keduanya dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan. Efektivitas hukum yang dimaksud di sini adalah, apakah ketentuan batas usia kawin secara normatif tersebut (law in books) sama atau tidak dengan yang dipraktekkan (law in action). Berdasarkan survey demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, pada 6.927 responden wanita berusia 15-19 tahun di sejumlah wilayah di Indonesia, 59% di antaranya pernah melahirkan pertama kali pada usia di bawah 18 tahun.Artinya, satu dari sepuluh remaja perempuan umur 15- 19 tahun sudah pernah melahirkan atau sedang hamil. Bahkan, sebanyak 11,1% telah menikah pertama kali pada usia 10-14 tahun(Media Indonesia : 25 Maret 2014). Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa ketentuan batas usia kawin seperti yang dimaksud dalam Undang-Undang No.1 Tahun 1974 di atas tidak efektif.

E. B. Tylor (Soerjono Soekanto : 1990 : 188) mengemukakan bahwa “Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adatistiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat”. Koentjaraningrat (Koentjaraningrat : Edisi Baru: 180) mengemukakan bahwa “Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar”. Jadi, menurut Koentjaraningrat kebudayaan berkaitan erat dengan 3 (tiga) hal yang saling terkait.Pertama, hal- hal yang bersifat abstrak seperti sistem gagasan, pengetahuan, kesenian, nilai dan lain-lain.Kedua, hal-hal bersifat nyata (konkrit), yaitu perilaku yang sudah terpola misalnya kebiasaan dan lain- lain. Ketiga, hal-hal yang berkaitan dengan benda-benda fisik sebagai perwujudan dari gagasan

(8)

dan karya manusia seperti candi, peralatan rumah tangga, bendabenda seni dan lain-lain sebagainya.

Menurut Kluckhohn terdapat 7 unsur kebudayaan yakni Peralatan dan perlengkapan hidup manusia, Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi, Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan), Bahasa (lisan maupun tulisan), Kesenian, Sistem pengetahuan, dan Religi (Sistem kepercayaan). Unsur-unsur kebudayaan menjelma dalam tiap macam wujud kebudayaan yang menurut Koentjaraningrat (Soerjono Soeknato: 1990 : 186-187) terdiri atas: 1.Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya, 2. Wujud kebudayaan sebagai kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat, 3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Unsur sistem kemasyarakatan sebagai unsur kebudayaan yang meliputi kompleks budaya, seperti sistem kekerabatan, sistem hukum, sistem perkawinan dan lain-lain akan menjelma dalam 3 (tiga) wujud kebudayaan. Pertama, wujud kebudayaan pada tataran nilai akan tercermin dalam nilai-nilai sakral yang melandasi ikatan perkawinan seperti misalnya nilai religius-magis sehingga perkawinan adalah suatu peristiwa penting dalam kehidupan seseorang. Kedua, wujud kebudayaan pada tataran perilaku akan tercermin dari ucapan-ucapan perkawinan sebagai perilaku terpola yang harus dilakukan kedua belah pihak seperti ucapan melamar atau upacara pesta perkawinan. Ketiga, wujud kebudayaan pada tataran fisik akan tercermin dari benda-benda fisik yang dipergunakan dalam ritual perkawinan seperti sirih, uang logam, emas, perak, pakaian, piring, perabot rumah tangga dan lain-lain. )Sistem budaya merupakan bagian ideal dari kebudayaan karena berkaitan dengan ide-ide, gagasan-gagasan, nilainilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. Ide-ide, gagasan-gagasan atau nilai-nilai itu mengatur dan memberi arah kepada perilaku, tindakan, perbuatan dan karya manusia. Nilai-nilai budaya, ide atau gagasan tersebut mengarahkan dan menentukan bagaimana suatu masyarakat mempersepsi, bersikap, dan bertindak terhadap setiap gejala yang terdapat dalam kehidupan manusia.Karenanya, nilai-nilai budaya memberi orientasi terhadap bagaimana seharusnya masyarakat bersikap dan bertindak sebagai respon terhadap suatu gejala sosial. Nilai-nilai budaya mengarahkan atau menentukan bagaimana masyarakat menyikapi gejala-gejala hukum dalam arti apakah hukum tersebut akan dipatuhi, diabaikan, atau dilanggar.

(9)

Stajipto Rahardjo mengemukakan “Budaya hukum suatu bangsa ditentukan oleh nilai-nilai tertentu yang menjadi acuan dalam mempraktikkan hukumnya.

Lawrence M. Friedman mengemukakan bahwa sistem hukum memiliki 3 (tiga) unsur yaitu (a) struktur hukum, (b) substansi hukum dan (c) budaya hukum. (M. Sastraprateja:1993 : 7) Unsur struktur hukum meliputi lembaga pengadilan dan ruang lingkup kompetensinya, lembaga legislatif dan lain-lain yang membentuk dan menegakkan hukum. Unsur substansi hukum adalah aturan atau norma dalam sistem hukum yang memberi tuntutan untuk melakukan perilaku yang seharusnya.

Unsur budaya hukum adalah sikap manusia terhadap hukum dan sistem hukum yang berkaitan dengan kepercayaan, nilai, pemikiran serta harapannya (M. Sastraprateja :1993 : 7). Sikap manusia terhadap hukum dan sistem hukum itu akan tercermin dari bagaimana manusia itu bertindak mematuhi hukum, menghindari atau menyalahgunakannya. “Tanpa budaya hukum sistem hukum itu sendiri tidak akan berdaya -seperti ikan mati yang berenang di keranjang, bukan seperti ikan hidup yang berenang di lautnya.” Analogi Friedman ini memperjelas betapa eratnya hubungan antara substansi hukum dengan budaya hukum. M. Sastraprateja (M. Sastraprateja :1993 : 7) mengemukakan bahwa “orang bertindak berdasarkan nilai yang diyakininya. Dan ini selalu diulang dan menjadi kaidah hidupnya.Semakin kuat nilai yang dipilih, semakin kuat pengaruh nilai itu atas kehidupannya.” Persepsi, sikap, dan perilaku suatu masyarakat terhadap hukum dan sistem hukum ditentukan oleh nilai-nilai budayanya.Nilainilai budaya yang diyakini menentukan bagaimana perilakunya terhadap hukum. Jadi, karena tiap masyarakat atau tiap bangsa mempunyai nilainilai budaya yang berbeda, maka akan berbeda pula budaya hukum antara suatu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Dalam hubungan ini, Lawrence M. Friedman (Lawrence M. Friedman : 1984 : 9) mengemukakan bahwa “Setiap masyarakat, setiap negara, setiap komunitas mempunyai budaya hukum.” Ada 2 (dua) hal yang mungkin terjadi berkaitan dengan hubungan antara nilai- nilai budaya dengan budaya hukum.Pertama, masyarakat akan cenderung mematuhi substansi hukum jika nilainilai substansi hukum itu menunjukkan kesesuaian dengan nilai-nilai budayanya. Kedua, akan terjadi pelanggaran terhadap substansi hukum jika nilainilai budaya masyarakat tersebut bertentangan dengan nilai-nilai substansi hukum meski hal itu ditetapkan oleh negara (badan yang berwenang).

(10)

Pertemuan 13-14 : Legal Pluralism

Pluralisme hukum adalah keadaan di mana terdapat lebih dari satu tatanan hukum yang berlaku dalam suatu masyarakat. Pluralisme hukum dapat terjadi karena adanya pertemuan antara dua atau lebih tradisi hukum yang berbeda dalam masyarakat yang dijajah sebagian besar menghasilkan transfer ideologi hukum Barat yang dominan ke sistem pribumi. Pluralisme hukum baru lebih berpusat pada penolakan terhadap studi tradisional yang berpusat pada hukum tentang fenomena hukum, dengan berargumen bahwa tidak semua hukum terjadi di pengadilan atau sistem hukum resmi negara yang mapan.

Dalam konteks Indonesia, terdapat tiga tradisi hukum yaitu hukum adat, hukum Islam, dan hukum perdata "modern". Hukum adat dan hukum Islam memiliki pendekatan komunal dan ilahi, sedangkan hukum perdata "modern" memiliki pendekatan individual dan pemisahan yang kaku antara publik dan privat. Pluralisme hukum di Indonesia dapat diwujudkan dengan memperkuat pluralisme hukum negara/lemah dan menggunakan metode transplantasi legal sebagai metode akomodasi.

Selain itu, nilai-nilai budaya juga sangat berpengaruh terhadap budaya hukum masyarakat.

Sebagai contoh, masyarakat Batak Toba cenderung mematuhi aturan pembatasan usia kawin minimal karena nilai-nilai budaya yang dianut. Pernikahan dini dapat berisiko meningkatkan Angka Kematian Ibu (AKI) akibat melahirkan. Oleh karena itu, diperlukan penyuluhan hukum tentang kesehatan perkawinan khususnya dikalangan generasi muda untuk merubah budaya hukum yang melanggar aturan batas minimal usia kawin menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 menjadi budaya hukum yang mendukung.

Dalam antropologi hukum, kebudayaan terdiri dari beberapa unsur seperti peralatan dan perlengkapan hidup manusia, mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, dan religi. Unsur-unsur kebudayaan ini tercermin dalam tiga wujud kebudayaan yaitu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma- norma, peraturan dan sebagainya, kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan benda-benda hasil karya manusia. Sistem budaya merupakan bagian ideal dari kebudayaan karena berkaitan dengan ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.

(11)

Dengan begitu kesimpulannya, pluralisme hukum dan nilai-nilai budaya sangat berpengaruh terhadap budaya hukum masyarakat. Pluralisme hukum dapat diwujudkan dengan memperkuat pluralisme hukum negara/lemah dan menggunakan metode transplantasi legal sebagai metode akomodasi. Sedangkan nilai-nilai budaya dapat mempengaruhi perilaku masyarakat terkait dengan aturan hukum yang berlaku. Oleh karena itu, diperlukan penyuluhan hukum tentang kesehatan perkawinan khususnya dikalangan generasi muda untuk merubah budaya hukum yang melanggar aturan batas minimal usia kawin menjadi budaya hukum yang mendukung.

Referensi

Dokumen terkait