• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESUME STUDI HUKUM ISLAM PADA MASA MODERN

N/A
N/A
Dian Eka

Academic year: 2024

Membagikan "RESUME STUDI HUKUM ISLAM PADA MASA MODERN"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

RESUME STUDI HUKUM ISLAM PADA MASA MODERN PT. 13 (Pendekatan Tekstual dan Kontekstual dalam Memahami Hadis) NAMA : DIAN EKA TIWANA NUR AZIZAH

NIM : 05020221045 PRODI/KELAS : HES/1B

Pemahaman tekstual adalah pemahaman terhadap matan hadis berdasarkan teksnya semata.

Teknik interpretasi ini cenderung mengabaikan latar belakang peristiwa hadis (asbab al-wurud).

Pemahaman kontekstual adalah pemahaman terhadap matan hadis dengan memperhatikan asbab al-wurud yang dihubungkan dengan konteks kekinian.

PRINSIP-PRINSIP HUKUM ISLAM :

1) Prinsip Tauhid. Prinsip yang berarti di bawah satu naungan, dinyatakan dalam kalimat La Ilaha Illa Allah (Tidak ada tuhan selain Allah).

2) Prinsip Keadilan (al-’adl). Dalam banyak ayat, Allah memerintahkan hambaNya untuk berbuat adil.

3) Prinsip Amar Makruf Nahi Mungkar. Merekayasa umat manusia untuk menuju tujuan yang baik dan benar yang diridhai Allah.

4) Prinsip Kemerdekaan atau kebebasan (al-hurriyah). Prinsip kebebasan menghendaki agar agama/ hukum Islam disiarkan tidak berdasarkan paksaan, tetapi berdasarkan penjelasan, demonstrasi, argumentasi.

5) Prinsip Persamaan atau Egaliter (al-musawa). Yakni prinsip Islam menentang perbudakan dan penghisapan darah manusia atas manusia.

6) Prinsip tolong-menolong (al-ta'awwun). Prinsip ini memiliki makna saling membantu antar sesama manusia dengan prinsip kebaikan serta taqwa dan taat.

7) Prinsip Toleransi (al-tasamuh). Prinsip toleransi yang dikehendaki Islam adalah toleransi yang menjamin tidak terlanggarnya hak-hak Islam dan ummatnya, tegasnya toleransi hanya dapat diterima apabila tidak merugikan agama Islam.

(2)

PENDEKATAN TEKSTUAL DAN KONTEKSTUAL 1. TEKSTUAL

Pendekatan yang digunakan secara tekstual terhadap nash (Quran dan hadits) dengan menitikberatkan pada aspek linguistik dan teologis. Berdaasar kepada (QS. al-Najm, 3-4).

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Contoh : ”Perang itu adalah tipu daya". (HR. Bukhari)

Pemahaman pada hadis ini sejalan dengan makna teksnya, yaitu taktik harus digunakan dalam setiap perang. Peraturan ini umumnya berlaku dan tidak dibatasi oleh lingkup ruang atau waktu tertentu. 

2. KONTEKSTUAL

Pendekatan ini menitikberatkan pada aspek peristiwa-peristiwa yang melatar belakangi munculnya nash (asbab al-nuzul dan al-wurud), kondisi yang dialami dan dihadapi oleh Rasulullah saw pada itu. Berdasarkan pada (QS. al-Ahzab, 21).

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. “

Contoh : “Ketika sampai kabar kepada Rasulullah SAW bahwa bangsa Persia mengangkat putri Kisra sebagai pemimpin, beliau bersabda ‘Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada wanita.” (HR Al-Bukhari).

Asbabul wurud atau sebab dituturkannya hadits tersebut oleh Abu Bakrah adalah ketika konflik politik meruncing antara kubu Sayyidah Aisyah dan Sayyidina Ali bin Abu Thalib, yang menjadi pemicu Perang Jamal pada tahun 36 H.

Posisi politik Abu Bakrah sendiri disebutkan tidak berpihak pada kubu Sayyidah Aisyah, dan mendasarkan sikapnya pada pernyataan Nabi di atas. Para ulama menjelaskan tentang hadits ini :

“…. peristiwa apa yang menyebabkan Nabi berujar demikian. Alkisah, negeri Kisra-salah satu bagian dari negeri-negeri Persia-memiliki seorang raja yang terbunuh, buah dari konflik internal

(3)

kerajaan. Rupanya, pembunuh sang raja adalah anak lelakinya sendiri. Intrik demi intrik terjadi dalam kerajaan, dan singkat cerita diputuskan untuk mengangkat raja dari anak perempuan sang Kisra”.

BEBERAPA PANDANGAN ULAMA :

a) Syekh Muhammad Al-Aini dalam Umdatul Qari Syarh Shahih Al-Bukhari mengutip pendapat jumhur ulama bahwa perempuan tidak dapat menjadi sebagai qadli (hakim), meski ada pendapat minor di kalangan mazhab Malikiyah yang memperbolehkannya.

b) Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari bahwa perempuan tidak hanya tidak boleh menjadi qadhi dalam urusan persaksian tetapi juga imamah (kepemimpinan) pun ia juga dilarang.

c) Imam Al-Munawi dalam Faidhul Qadir bahwa suatu kaum atau golongan tidak akan sejahtera jika dipimpin perempuan karena lemahnya pemikiran perempuan. Menurutnya, perempuan adalah aurat. Merupakan suatu pantangan bagi perempuan untuk menjadi pemimpin karena pemimpin perlu banyak tampak di masyarakat.

d) Imam As-Shan’ani dalam Subulus Salam Syarh Bulughul Maram bahwa perempuan telah ditetapkan syariat untuk menjadi pemimpin di rumahnya.

KRITIK TERHADAP PENDAPAT ULAMA

Bertentangan dengan ayat al-Quran : “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah;

sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. al-Taubah, 71).

Hadits Nabi Saw : Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik dan harta kalian tetapi Ia melihat hati dan amal kalian”. (HR. Muslim).

Referensi

Dokumen terkait