• Tidak ada hasil yang ditemukan

REVIEW FILM HELVETICA 2007

N/A
N/A
Taerishf

Academic year: 2025

Membagikan "REVIEW FILM HELVETICA 2007"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Fathya Maulida Ayu Moesalevie

NIM : 2212551049

Mata Kuliah : DKV

REVIEW FILM HELVETICA 2007

Helvetica merupakan film yang keluar di tahun 2007. Disutradarai oleh Gary Hustwit, film ini ber-genre dokumenter independen tentang Sejarah tipografi Helvetica. Film ini rilis bertepatan dengan ulang tahun Helvetica ke-50 tahun. Gary Hustwit membuat Film Helvetica ini sebagai film pembuka dari Design Trilogy yang dibuatnya.

Film ini diawali dengan diperlihatkannya tipografi Helvetica yang terdapat dekat kita dan menyadarkan kita bahwa tipografi Helvetica menjadi lebih familiar daripada yang kita kira. Rick Poynor, Manuel Krebs, Stefan Sagmeister, Michael C. Place, Massimo Vignelli, Erik Spiekermann, Paula Scher, Michael Bierut, dan David Carson yang diwawancarai oleh Hustwit juga memberikan pendapatnya mengenai tipografi Helvetica ini.

Rick Poynor memberikan pendapat bahwa helvetica merupakan simbol dari gerakan modernis dalam desain grafis. Helvetica memberikan udara baru karena desainnya yang bersih dan membawa kesan keteratuan dan profesionalisme. Menurutnya, helvetica bisa terlihat netral di satu konteks, tetapi dapat konteks lain juga dapat terlihat menjadi lambang otoritas dan kekuasaan.

Massimo Vignelli berpendapat bahwa Helvetica merupakan contoh sempurna dari desain yang bersih, netral, dan abadi. Ini sesuai dengan tujuan Helvetica yang menginginkan pendakatan yang dibawanya modernis dan rasional. Sedangkan Spiekermann memberikan pendapat yang berbeda.

Ia menganggap bahwa tipografi helvetica dinilai terlalu kaku dan membosankan. Menurutnya, helvetica merupakan font yang terlalu netral dan tidak ekspresif. Bentuknya yang terlalu seragam dan tidak punya karakter membuat erik spiekermann menganggap font helvetica terlalu basic.

Spiekermann juga menyoroti pentingnya pemilihan font yang sesuai dengan konteks pesan, bukan karena hanya estetika populernya. Paula Scher memberikan tanggapan juga terhadap tipografi Hevtica. Dahulu ia menganggap Helvetica sebagai simbol dari birokrasi dan sistem yang kaku, karena sering digunakan pada perang Vietnam. Ia merasa Helvetica tidak mewakili ekspresi individu atau semangat pemberontakan. Tetapi seiring berjalannya waktu, ia mengakui helvetica

(2)

sebagai alat desain yang powerful jika digunakan dengan tepat. Opini Michael Bierut sedikit berbeda. Bierut menceritakan bahwa helvetica merupakan salah satu alasan ia jatuh cinta dengan desain grafis. Ia menggambarkan helvetica sebagai desain yang sempurna karena keteraturan dan kemampuannya menyampaikan pesan dengan font yang bersih. Menurutnya helvetica juga fleksibel karena kemampuannya dapat menyampaikan pesan dalam berbagai konteks dan dapat berkomunikasi secara efektif tanpa terlalu mencolok. Bierut juga berpendapat bahwa helvetica merupakan pilihan yang aman bagi banyak komunikasi visual. David Carson berpendapat bahwa helvetica terlalu default dan membosankan. Ia percaya bahwa helvetica membatasi kreativitas dan tidak mampu menyampaikan emosi atau karakter khas. Bagi Carson, desain harus menyentuh perasaan dan mambawa emosional di dalamnya.

film ini menunjukan bagaimana desain grafis dan tifograsi membentuk budaya visual.

Tipografi dapat dikaitkan dengan sosial politik , opini publik, hungga budaya konsumen. Para ahli yang menjadi narasumber pada film ini juga memberikan pendapat yang berbeda-beda dengan perspektif yang berbeda juga. Mereka yang setuju dan mengagung-agungkan helvetica merupakan desainer grafis modernis, sementara yang kurang setuju dan mengkritik tipograsi ini merupakan desainer grafis post-modernis. Film ini juga merupakan refleksi bagaimana desain membentuk dunia kita. Film helvetica juga menyadarkan kita bahwa setiap pilihan desain pasti membawa pesan dan ideologi tertentu.

Referensi

Dokumen terkait

˝ Ratatouille ˝ karya Brad Birds, yang menjelaskan bahwa ekspresi marah dalam film tersebut, memiliki jenis-jenis bentuk yang sesuai dengan konteks yang

Kristen Bell, Idina Menzel, Jonathan Groff, Josh Gad, dan Santino Fontana menjadi pengisi suara dalam film yang menceritakan tentang seorang putri pemberani yang bertualang

nyata oleh Mariane Pearl’s. Film ini menggambarkan kerasnya hidup menjadi seorang wartawan. Letihnya mencari narasumber dan perihnya meninggalkan keluarga demi sebuah berita.

Dari perbedaan pendapat para ahli tentang variasi ketebalan lapisan porselen yang berbeda-beda baik lapisan opak, lapisan dentin maupun lapisan enamel dalam mencapai kesesuaian

Setiap film memiliki esensi yang berbeda-beda, akan tetapi tujuan dalam pembuatan film sendiri agar pesan yang ingin disampaikan kepada penonton dapat ditangkap dan

Dari hal tersebut diataslah yang menjadi daya tarik peneliti untuk mengetahui lebih dalam mengenai perspektif para pembuat film, pakar film dokumenter dan

Perbandingan didalam film ini akan membagi 2 perspektif yang berbeda yaitu: Pro ganja bisa digunakan sebagai pengobatan sama halnya kasus fidelis yang menggunakan ganja

Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya akan memberikan kontribusi akademis dalam bidang studi film dan agama, tetapi juga akan memberikan perspektif baru tentang bagaimana media