• Tidak ada hasil yang ditemukan

REVIEW JURNAL KUALITATIF

N/A
N/A
Rasendrya Ramadhani gultom

Academic year: 2024

Membagikan "REVIEW JURNAL KUALITATIF "

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

REVIEW JURNAL KUALITATIF

Dosen Pengampu : Suraya, Prof. Dr, M.Si

Nama : Rasendrya Ramadhani Gultom NIM : 44122010038

Mata Kuliah : Metode Penelitian Kualitatif Kelas : E – 301

Jenis Tugas : Individu Tanggal Tugas :25 Maret 2024 Tanggal Diserahkan : 1 April 2024

(2)

JUDUL : MELACAK WARISAN MUSIKAL DALAM FILM BOB MARLEY ONE LOVE

NO IDENTITAS JURNAL

Teori yang digunakan

Prosedur penelitian

Hasil penelitian

State of The Art 1. Harsya Mehdi

Razali (2020) REPRESENTASI BUDAYA JAMAIKA DALAM FILM MARLEY https://www.acad emia.edu/downlo ad/51796568/MA RLEY_JWPM_2 _2_19789-78247- 1-PB.pdf

rumusan masalah dalam

penelitian ini sebagai berikut:

bagaimana makna denotasi, konotasi dan mitos

yang terdapat dalam film Bob Marley menurut teori semiotika model Roland Barthes yang mempresentasika n budaya

Jamaika?

Prosedur penelitian tentang Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas maka rumusan masalah

bada penelitian ini adalah apa saja representasi budaya Jamaika yang terdapat dalam film

*Marley" . Untuk

memfokuskan penelitian, maka masalah dalam penelitian ini mengacu pada model semiotika yang digunakan, yaitu semiotika Roland Barthes yang dikenal

Hasil penelitian ini

menampilkan beberapa scene yang

mempresentasik an

budaya Jamaika, baik secara verbal maupun non-verbal, seperti adanya scene

aliran musik reggae serta lifestyle rambut gimbal dan fashion budaya Jamaika

yang

ditunjukkan oleh sang legenda reggae Bob Marley dalam perjalanan hidup

Salah satu film yang mengangkat isu budaya Jamaika dan banyak menginspiras i komunitas anak muda dan para pemusik tanah air terhadap aliran

musik reggae dan

penampilan sang legenda reggae. Film Marley ini beredar pada tahun 2012.

Bob Marley adalah salah satu tokoh musik Reggae yang

(3)

dengan makna denotasi, konotasi dan mitos.

Schingga rumusan masalahnya yaitu:Apa makna denotasi yang

merepresentasik an budaya Jamaika dalam film Marley?

Apa makna konotasi yang merepresentasik an budaya Jamaika dalam film Marley?

Adakah mitos yang

merepresentasik an budaya Jamaika dalam film Marley

dan perjuangan melalui musik.

Kata Kunci Budaya Jamaika, Bob Marley, rambut gimbal, fashion, Rastafarian, film

dokumenter

terkenal.

Dalam filmnya mengusung pesan-pesan perdamaian, penolakan rasisme dan budaya jamaika.

Begitu juga dengan visualisasi dalam film Marley. Bob Marley mencoba untuk menyatukan berbagai golongan Tas untuk bersatu dalam

membentuk perdamaian di dunia. Itu bisa dilihat dari

banyaknya golongan ras berkumpul

(4)

berpesta dan bernyanyi bersama.

Subkultur gaya hidup budaya Jamaika dapat dengan mudah kita tandai.

kebanyakan dari mereka seringkali menggunaka n atribut pakaian dan gaya rambut yang

mencolok.

Gaya penampilan dalam Subkultur gaya hidup budaya Jamaika kebanyakan meninu gaya dari musisi legendaris Jamaika yaitu

(5)

Robert Nesta Marley yang biasa dikenal dengan Bob Marley yang merupakan seorang Rastafarian sejati.

Hampir dari seluruh apa yang

terkait dengan nama Bob Marley selalu menjadi acuan bagi komunitas musik Reggae.

mulai dari gaya rambut dreadlock, kecintaan terhadap musik Reggae (aliran musik yang berasal dari

(6)

Jamaika).

hingga kebiasaan menghisap ganja walaupun tidak semua Rastafarian menghisap ganja. seh .

2. Kevin Macdonald (2012) Bob Marley

Documentary in film (2012) (ANALISIS SEMIOTIKA) https://d1wqtxts1 xzle7.cloudfront.n et/51796568/MA RLEY_JWPM_2 _by_Kevin.pdf&

Expires=1711938 938&Signature

teori semiotika model Roland Barthes yang menganalisis denotasi, konotasi, dan mitos.

Baik dalam bentuk film dokumenter faktual maupun rekonstruksi dramatis. tions, film patut mendapat perhatian kita karena mereka merumuskan risalah tentang musik populer.

Kita juga harus menyediakan ruang untuk program TV serta potret media lainnya tentang budaya musik populer dalam fitur radio dan podcast.

Sebagai contoh, film dokumenter musik dengan perspektif sejarah menawarkan kontribusi

Berdasarkan Hasil penelitian film meskipun hal ini belum tentu penilaian negatif ketika sudah jelas bahwa karya Marley sudah jelas-jelas menjadi sumber harapan bagi banyak orang.

Pada akhirnya, MacDonald menghadirkan Marley sebagai tokoh sejarah yang signifikan, tampaknya lolos dari

keterbatasan yang tampak musik populer melalui perbuatan dan kepentingannya yang lebih luas, namun dengan melakukan hal

ilm

dokumenter seperti Marley menarik dan terkadang kontroversial menambah pengetahuan kita tentang tokoh-tokoh tersebut, representasin ya dan caranya kami memikirkan sejarah musik populer.

sosok seperti Bob Marley telah menjadi subjek dari banyak biografi populer, beberapa di antaranya cenderung kompatibel kalah dengan

(7)

orisinal terhadap keilmuan musik pop, sering kali menyertakan wawancara orisinal, analisis pakar, dan materi arsip.

Seri penting Tony Palmer, All You Need is Love (1977), misalnya, dapat dianggap sebagai

kontribusi awal terhadap historiografi musik populer abad ke-20 (lihat Huber 2012; Long and Wall 2013).

Demikian pula, serial Ken Burns untuk saluran PBS AS Jazz (2000) atau serial BBC Jazz Britannia (2005) menawarkan wawasan orisinal mengenai satu genre musik tertentu, asal- usul dan perkembangann ya.

itu, ulti- dengan tegas

menegaskan pentingnya hal ini. Pada tingkat tertentu, ini adalah salah satunya aspek tragis dari cerita ini ketika kita mempertimbang kan harapan Marley untuk Jamaika, Zimbabwe, Gabon dan nasib diaspora kulit hitam yang adalah masalah yang detailnya memudar dari pandangan sementara suara musiknya tetap ada. Film dokumenter seperti Marley menarik dan terkadang kontroversial menambah pengetahuan kita tentang tokoh-tokoh tersebut, representasinya dan caranya kami

memikirkan sejarah musik populer. Tokoh seperti Bob Marley pernah menjadi subjek dari banyak biografi

film ini jika dilihat berdasarkan penelitian, sumber dan wawasan.

Film seperti Marley · sering kali merupakan pernyataan penting yang bersifat sadar diri tentang musik populer.

Mereka membuktikan nilai musik dalam ambisi mereka gambarkan gambar sz!

kehidupan atau momen dengan menggunaka n

pembingkaia n yang lazim perangkat dan struktur.

Bagi mereka yang

mengakui bahwa parameter apapun cerita sejarah mungkin lolos dari batasan retoris film, atau siapa yang bisa lolos

(8)

populer, beberapa di antaranya cenderung kompatibel kalah dengan film ini jika dilihat berdasarkan penelitian, sumber dan wawasan. Film seperti Marley sering kali merupakan pernyataan penting yang bersifat sadar diri tentang musik populer.

Mereka membuktikan nilai musik dalam ambisi mereka

menggambarkan gambaran kehidupan atau momen dengan menggunakan bingkai yang sudah dikenal

terdorong untuk mengajukan pertanyaan lebih lanjut tentang kehidupan seperti Marley.

,pekerjaan tersebut adalah a titik pangkal. .Jika Michelson benar tentang historiografi musik populer, seperti itu teks sangat berharga dan satu-satunya harapan bahwa film- film tersebut dapat

menambah pemahaman kita

kedudukan musik populer akan menjadi pertanyaan 3. Tiffanny

Rosabella T, REPRESENTASI ISLAMOPHOBI A DALAM FILM LONDON HAS FALLEN

VOL 6. NO.1 Hal

Berdasarkan artikel jurnal tersebut, Teori yang digunakan dalam penelitian tentang

representasi Islamophobia

Prosedur penelitian pada representasi Islamophobia dalam film

"London Has Fallen"

meliputi:

Berdasarkan penelitian yang disampaikan Hasil penelitian pada

representasi Islamophobia dalam film

Persamaan pada

representasi Islamophobia pada film

"American Sniper" dan

"London Has

(9)

1-8 TAHUN 2018 https://publication .petra.ac.id/index.

php/ilmu-

komunikasi/articl e/view/8254/7448

dalam film

"London Has Fallen" adalah analisis semiotika dengan

menggunakan kode-kode televisi John Fiske. Metode ini menggunakan pendekatan kualitatif dan meliputi penampilan, ekspresi, kamera, musik, latar, dialog, konflik, dan tindakan

Pemilihan sasaran: Peneliti memilih film

"London Has Fallen" sebagai sasaran

penelitian

Pemilihan teori:

Peneliti memilih teori semiotika dengan

menggunakan kode-kode televisi John Fiske sebagai teori utama

Pemilihan metode: Peneliti menggunakan metode analisis semiotika dengan menggunakan kode-kode televisi John Fiske

Pengumpulan data: Peneliti

"London Has Fallen"

menunjukkan bahwa film ini menunjukkan Islam sebagai agama teroris dan melakukan jihad atas nama Allah dan kepentingan ekonomi. Film ini juga

menunjukkan identitas muslim baik secara verbal maupun non verbal, serta memperlihatkan konstruksi Islam melalui suara, konflik, percakapan, editing, dan pemilihan pemain

Fallen"

adalah penggambara n Islam sebagai agama teroris dan

melakukan jihad atas nama Allah dan

kepentingan ekonomi.

Namun, persamaan ini tidak sama dalam keterangan yang diberikan.

Dalam

"American Sniper,"

Islamophobia ditunjukkan melalui perspektif orientalisme dan

konstruksi mediasi,

(10)

mengumpulkan data dari film

"London Has Fallen" melalui pengumpulan data berupa penampilan, ekspresi, kamera, musik, latar, dialog, konflik, dan tindakan

Pengolahan data: Peneliti mengolah data dengan

menggunakan teori semiotika dengan

menggunakan kode-kode televisi John Fiske

Penjelasan hasil:

Peneliti menjelaskan hasil penelitian mengenai representasi

sedangkan dalam

"London Has Fallen,"

Islamophobia ditunjukkan melalui jihad yang tidak sesuai dengan ajaran Islam

Perbedaan representasi Islamophobia pada film

"American Sniper" dan

"London Has Fallen"

antara lain:

Pendekatan analisis semiotika:

Film

"American Sniper"

menggunaka n analisis semiotika Charles Sandres

(11)

Islamophobia dalam film

"London Has Fallen" yang ditunjukkan melalui kode televisi John Fiske

Peirce, yang terdiri dari makna denotasi, konotasi, dan mitos

Film

"London Has Fallen"

menggunaka n analisis semiotika dengan menggunaka n kode-kode televisi John Fiske, yang terdiri dari makna denotasi, konotasi, dan mitos.

Pendekatan analisis konstruksi jihad:

Film

"American Sniper"

menggunaka

(12)

n analisis konstruksi jihad untuk menganalisis representasi Islamophobia

Film

"London Has Fallen" tidak menggunaka n analisis konstruksi jihad.

Pendekatan analisis makna jihad:

Film

"American Sniper"

menggunaka n analisis makna jihad untuk

menganalisis representasi Islamophobia .

4. Selvi Wardany (2017)

REPRESENTASI

Teori penelitian yang digunakan pada representasi

Prosedur penelitian pada representasi

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa

Persamaan dan

perbedaan

(13)

ISLAMOPHOBI A DALAM FILM FITNA

(ANALISIS SEMIOTIK TERHADAP FILM

DOKUMENTER KARYA GREET WILDER). HAL 1-118

http://eprints.rade nfatah.ac.id/3466/

1/SELVI

%20WARDANY

%20%281353005 8%29.pdf

Islamophobia dalam film

"Fitna" adalah analisis

semiotika, yang terdiri dari makna denotasi,

konotasi, dan mitos

Islamophobia dalam film

"Fitna" meliputi:

Pemilihan sasaran: Peneliti memilih film

"Fitna" sebagai sasaran

penelitian

Pemilihan teori:

Peneliti menggunakan teori semiotika, yang terdiri dari makna denotasi, konotasi, dan mitos

Pemilihan metode: Peneliti menggunakan metode analisis semiotika dengan menggunakan teori Roland Barthes

Pengumpulan data: Peneliti

representasi Islamophobia dalam film

"Fitna"

ditunjukkan melalui

diskriminasi dan tindakan yang tidak

menyenangkan serta merugikan bagi individu atau kelompok yang beragama Islam.

Penelitian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes, yang terdiri dari makna denotasi, konotasi, dan mitos

representasi Islamophobia pada film

"American Sniper" dan

"Fitna" antara lain:

Penggambara n Islam sebagai agama teroris:

Film

"American Sniper"

menggambar kan Islam sebagai agama teroris dan

melakukan jihad atas nama Allah dan

kepentingan ekonomi.

Film "Fitna"

juga

menggambar kan Islam sebagai

(14)

mengumpulkan data dari film

"Fitna" melalui pengumpulan data berupa teks, gambar, dan suara

Pengolahan data: Peneliti mengolah data dengan

menggunakan teori semiotika Roland Barthes

Penjelasan hasil:

Peneliti menjelaskan hasil penelitian mengenai representasi Islamophobia dalam film

"Fitna" yang ditunjukkan melalui makna denotasi, konotasi, dan mitos

agama teroris dan

melakukan jihad atas nama Allah dan

kepentingan ekonomi

Penggambara n Islam sebagai agama yang penuh dengan kekerasan:

Film

"American Sniper"

memperlihatk an Islam sebagai agama yang penuh dengan kekerasan dan

mengajarkan tindak kekerasan.

Film "Fitna"

juga

memperlihatk

(15)

an Islam sebagai agama yang penuh dengan kekerasan dan

mengajarkan tindak kekerasan

Penggambara n Islam sebagai agama yang tidak toleran:

Film

"American Sniper"

memperlihatk an Islam sebagai agama yang tidak toleran dan

mendorong kekerasan terhadap non- Muslim.

Film "Fitna"

juga

memperlihatk

(16)

an Islam sebagai agama yang tidak toleran dan

mendorong kekerasan terhadap non- Muslim

Penggambara n Islam sebagai agama yang tidak damai:

Film

"American Sniper"

memperlihatk an Islam sebagai agama yang tidak damai dan

mendorong kekerasan terhadap non- Muslim.

Film "Fitna"

juga

memperlihatk

(17)

an Islam sebagai agama yang tidak damai dan

mendorong kekerasan terhadap non- Muslim

Perbedaan antara kedua film tersebut adalah pada pendekatan analisis semiotika yang digunakan.

Film

"American Sniper"

menggunaka n analisis semiotika Charles Sandres Peirce, sedangkan film "Fitna"

menggunaka

(18)

n analisis semiotika Roland Barthes 5. Ahmed Al-Rawi

Volume 7, Issue 2 the representation of September 11th and American Islamophobia in non-Western cinema

https://journals.sa gepub.com/doi/ab s/10.1177/175063 5214530208

Berdasarkan jurnal yang saya baca, Teori penelitian pada representasi September 11th dan Islamophobia di cinema non- Western berbagai macam, antara lain:

Analisis

semiotika Roland Barthes:

Penelitian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes, yang terdiri dari makna denotasi, konotasi, dan mitos

Analisis kritis film Hollywood:

Penelitian ini menganalisis

Prosedur penelitian pada representasi September 11th dan

Islamophobia di cinema non- Western meliputi:

Pengumpulan data: Penelitian ini

mengumpulkan data dari film- film non- Western yang menggambarkan September 11th dan representasi Islamophobia.

Pemilihan teori:

Penelitian ini menggunakan teori semiotika Roland Barthes, yang terdiri dari makna denotasi, konotasi, dan mitos

Pendekatan analisis:

Penelitian ini menggunakan analisis semiotika Roland Barthes untuk

menganalisis representasi Islamophobia

Hasil penelitian pada

representasi September 11th dan

Islamophobia di cinema non- Western menunjukkan bahwa film-film non-Western yang

menggambarkan September 11th dan representasi Islamophobia mengandung tanda-tanda yang

merepresentasik an

Islamophobia.

Mereka menunjukkan sikap yang mendiskriminasi muslim dari

Persamaan representasi Islamophobia dalam film

"The

Representatio n of

September 11th and American Islamophobia in Non- Western Cinema" dan film

"American Sniper"

antara lain:

Pendekatan analisis semiotika:

Film "The Representatio n of

September 11th and American

(19)

representasi Islam di film

Hollywood dengan menggunakan analisis kritis

Analisis

konstruksi jihad:

Penelitian ini menggunakan analisis

konstruksi jihad untuk

menganalisis representasi Islamophobia dalam film

Analisis makna jihad: Penelitian ini menggunakan analisis makna jihad untuk menganalisis representasi Islamophobia dalam film

Analisis semiotika John

dalam film-film non-Western Pengumpulan data: Penelitian ini

mengumpulkan data dari film- film non- Western yang menggambarkan September 11th dan representasi Islamophobia.

berpakaian, hak kebebasan beragama, premanisme dan sebagainya.

Media massa juga memiliki peran yang memberikan dan membentuk stigma atau isu yang

menyuduktkan Islam dalam setiap berita yang berkaitan dengan aksi terorisme. Film ini memberikan pelajaran penting kepada kita untuk saling menghormati dan

memberikan rasa toleransi antar umat beragama.

Islamophobia in Non- Western Cinema"

menggunaka n analisis semiotika Roland Barthes, yang terdiri dari makna denotasi, konotasi, dan mitos

Film

"American Sniper"

menggunaka n analisis semiotika dengan menggunaka n kode-kode televisi John Fiske, yang terdiri dari makna denotasi, konotasi, dan mitos

(20)

Fiske: Penelitian ini menggunakan teori semiotika John Fiske, yang terdiri dari makna denotasi,

konotasi, dan mitos.

Pendekatan analisis konstruksi jihad:

Film "The Representatio n of

September 11th and American Islamophobia in Non- Western Cinema"

menggunaka n analisis konstruksi jihad untuk menganalisis representasi Islamophobia dalam film

Film

"American Sniper"

menggunaka n analisis konstruksi jihad untuk

(21)

menganalisis representasi Islamophobia dalam film

Pendekatan analisis makna jihad:

Film "The Representatio n of

September 11th and American Islamophobia in Non- Western Cinema"

menggunaka n analisis makna jihad untuk

menganalisis representasi Islamophobia dalam film

Film

"American Sniper"

menggunaka

(22)

n analisis makna jihad untuk

menganalisis representasi Islamophobia dalam film

Perbedaan antara kedua film tersebut adalah pada pendekatan analisis semiotika yang digunakan.

Film "The Representatio n of

September 11th and American Islamophobia in Non- Western Cinema"

menggunaka n analisis semiotika Roland

(23)

Barthes, sedangkan film

"American Sniper"

menggunaka n analisis semiotika dengan menggunaka n kode-kode televisi John Fiske

Referensi

Dokumen terkait

Pengumpulan data dilakukan dengan cara kepustakaan, yaitu mengumpulkan data- data dari referensi internet, artikel dari majalah ataupun buku-buku yang berisikan informasi

Teknik pengumpulan data merupakan suatu cara yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian serta informasi yang relevan dengan tujuan dan masalah penelitian, jenis

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu menggunakan Tes dan dokumentasi, (a) test merupakan alat atau instrumen untuk mengumpulkan data supaya mengetahui

Teknik pengumpulan data primer dilakukan melalui teknik observasi dengan cara mengumpulkan informasi-informasi langsung ke lokasi penelitian untuk mengamati bagaimana

a) Kebutuhan sebuah kemandirian dan kebebasan.. Format-format pendamping dapat membantu peneliti dalam proses pengumpulan data. Dalam penelitian yang berjudul “Konflik

Penggumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumentasi yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder yang terdapat didalam

Untuk menjawab kendala yang ada dilapangan terkait pengumpulan data yang masih dilakukan secara manual menggunakan excel maka diperlukan sebuah sistem yang mampu mengumpulkan data

Tujuan analisa sistem untuk mengumpulkan data dan mengetahui sudut pandang pengguna aplikasi user dalam memandang setiap hubungan-hubungan data tersebut sehingga data yang ditampilkan