• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL DESTINASI PARIWISATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL DESTINASI PARIWISATA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i

JURNAL

DESTINASI PARIWISATA

DIPUBLIKASIKAN OLEH

PS. SARJANA DESTINASI PARIWISATA (DPW) FAKULTAS PARIWISATA, UNIVERSITAS UDAYANA (UNUD)

Jurnal DESTINASI PARIWISATA merupakan jurnal yang terbit dua kali dalam setahun (bulan Juli dan bulan Desember) sebagai wadah karya ilmiah termasuk aspek perencanaan, penataan, pengelolaan dan dampak yang ditimbulkannya. Jurnal ini memuat tentang hasil penelitian, survei dan tulisan ilmiah populer kepariwisataan sebagai salah satu upaya memberikan sumbangan dari dunia akademis kepada sektor pariwisata. Redaksi menerima sumbangan tulisan para pakar, staf pengajar perguruan tinggi, praktisi maupun mahasiswa yang peka dan peduli terhadap eksistensi dan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Redaksi dapat menyingkat atau memperbaiki tulisan yang akan dimuat tanpa mengubah maksud dan isinya.

SUSUNAN PENGURUS JURNAL DESTINASI PARIWISATA

Editor in Chief:

I Gusti Agung Oka Mahagangga, S.Sos., M.Si.

Editor:

I Made Bayu Ariwangsa, S.S, M.Par, M.Rech.

Ida Bagus Suryawan, S.T., M.Si.

Natasha Erinda Putri Moniaga, S.S, M.Par, M.Rech.

I Gede Anom Sastrawan, S.Par. M.Par

Dian Pramita Sugiarti, S.S., M.Hum

Editorial Board:

Drs. I Putu Anom, M.Par

Dra. L.P. Kerti Pujani, M.Si

Dra. Ida Ayu Suryasih, M.Par

Made Sukana, SST.Par., M.Par., MBA.

Nararya Narottama, S.E., M.Par

Proof Reader:

I Made Adikampana, S.T, M.T Drs. A.A. Ngurah Palguna, M. Si Saptono Nugroho, S.Sos., M.Par.

I Gde Indra Bhaskara, SST.Par., M.Sc. Ph.D Putri Kusuma Sanjiwani, S.H., M.H

Sekretariat:

A.A. Putu Suwandewi, SST.Par

ALAMAT PENYUNTING DAN TATA USAHA

Program Studi Sarjana Destinasi Pariwisata Fakultas Pariwisata UNUD

Jl. DR. R. Goris No. 7 Denpasar Bali, Telp/fax: (0361)223798, email: [email protected]

(3)

ii

PENGANTAR REDAKSI JURNAL DESTINASI PARIWISATA

Era revolusi 4.0 memiliki implikasi yang sulit untuk dihindari oleh seluruh komponen di dunia. Mulai dari para praktisi, akademisi, pemegang kebijakan termasuk para calon intelektual muda yaitu mahasiswa. Situasi ini menuntut kecepatan, ketepatan, dan keunggulan kompetitif yang diyakini akan mampu menembus ruang, batas dan waktu sebagai suatu kesatuan masyarakat bumi yang telah “tersatukan” melalui sistem informasi dan teknologi dan serangkaian kekuatan, model, standar-standar, bahkan ideologi-ideologi yang mengikutinya (pertumbuhan , hedonis, konsumtif, neoliberalis dan yang lainnya) sebagai ciri globalisasi.

Globalisasi tidak lagi menjadi sekedar isu, globalisasi saat ini sudah dalam tahap aplikasi secara komprehensif. Uniknya, tidak semua masyarakat dunia menyadari bahwa sudah “dirasuki” oleh

“globalisasi” yang memiliki implikasi positif maupun negatif, tergantung dari perspektif yang digunakan. Dalam dunia kampus, digitalisasi sebagai salah satu ciri revolusi 4.0 diaplikasikan untuk mampu memberikan kontribusi secara akademis maupun praktis sebagai pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan/Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian). Termasuk dalam publikasi ilmiah, yaitu penerbitan hasil-hasil penelitian / pengabdian, dituntut harus melalui jurnal-jurnal ilmiah yang bermutu dan berkualitas.

Para pengelola jurnal ilmiah, tidak hanya dituntut mampu menampilkan tulisan ilmiah dari para dosen dan mahasiswa yang kaya substansi, memiliki kebaharuan dan menampilkan temuan-temuan terkini. Tetapi juga, dituntut mampu menjalankan management secara profesional, mengacu kepada standar-standar, alat-alat software (terkait penulisan, daftar pustaka, uji plagiasi dan yang lainnya), persyaratan administrasi dan kelayakan jurnal ilmiah (dinilai dari sistem seperti OJS, reputasi, impact dan yang lainnya).

Jurnal Destinasi Pariwisata sebagai salah satu OJS Universitas Udayana, telah menduduki SINTA 5 yang sangat kami syukuri dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh tim pengelola.

Jurnal yang berawal dari publikasi hasil penelitian mahasiswa dan dosen Program Studi Sarjana Destinasi Pariwisata, Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana ini, dituntut untuk terus berupaya meningkatkan pelayanan dan kualitas. Sehingga tidak hanya mampu menampilkan temuan- temuan terbaru terkait destinasi wisata, tetapi juga harus mampu memiliki reputasi sesuai dengan skala dan peruntukannya.

Pada Jurnal Destinasi Pariwisata Volume 7, nomor 2, edisi Desember tahun 2019 ini, kami berupaya membuka lebih lebar pintu bagi hasil-hasil penelitian dari luar Universitas Udayana sebagai upaya kami meningkatkan peringkat dan reputasi. Terdapat tiga tulisan ilmiah dari luar yang berjudul Studi Pengembangan Pasar Tradisional Pajak Ikan Sebagai Pusat Wisata Belanja di Kota Medan dari Femmy Indriany Dalimunthe, Wisata Puncak Becici : Kepuasan, Loyalitas Dan Intensi Rekomendasi Wisatawan dari Isnanda Zainur Rohman dan Daya Tarik Wisata Pasca Bencana Erupsi Gunung Api Sinabung, Di Kabupaten Karo, Sumatera Utara dari Liyushiana, Putri Rizkiyah dan Herman.

Kami membuka diri dan berharap kepada para peneliti, dosen, mahasiswa, pemegang kebijakan maupun praktisi, yang berkepentingan untuk publikasi ilmiah dapat memiliki Jurnal Destinasi Pariwisata sebagai “corong publikasi”. Destinasi wisata di Indonesia yang berkembang pesat sangat membutuhkan ide, kreatifitas dan semangat pembaharuan untuk kemajuan pembangunan pariwisata di Indonesia. Akan lebih bijak, jika pembangunan pariwisata di Indonesia mulai mempertimbangkan dan menggunakan hasil-hasil riset sebagai referensi dan dasar dalam pengambilan keputusan untuk masa depan destinasi wisata yang tidak hanya melihat aspek kuantitas melainkan juga kualitas untuk terwujudnya pembangunan pariwisata secara berkelanjutan.

Denpasar, Desember 2019 REDAKSI

(4)

iii

PERSYARATAN NASKAH UNTUK JURNAL DESTINASI PARIWISATA

1. Naskah dapat berupa hasil penelitian atau kajian pustaka yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya (Jika ingin menggunakan skripsi, harap dibuat dan disesuaikan dalam format jurnal, dan jika diperlukan perubahan kata-kata maupun kalimat (paraphrase) sangat disarankan untuk mencegah autoplagiat).

2. Abstrak (bahasa Inggris) tidak lebih dari 250 kata dengan disertai 3-5 istilah kunci (keywords) dengan ukuran font cambria 10 Italic.

3. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Naskah berupa ketikan asli dan CD (Soft copy) dengan ukuran A4 ketikan spasi 1 font cambria 11 dengan jumlah maksimal 5-10 halaman (2 columns), kecuali abstrak, tabel dan kepustakaan.

4. Naskah ditulis dengan batas 2,54 cm dari tepi kiri dan tepi kanan, batas 1,9 cm bawah dan atas (Moderate).

5. Judul singkat, jelas dan informatif serta ditulis dengan huruf besar (Uppercase). Judul yang terlalu panjang harus dipecah menjadi judul utama dan anak judul.

6. Nama penulis tanpa gelar akademik, alamat e-mail dan asal instansi penulis ditulis lengkap.

7. Naskah hasil penelitian terdiri atau judul, nama penulis, abstrak, pendahuluan, tinjauan pustaka dan metode, hasil dan pembahasan, simpulan dan saran serta kepustakaan.

8. Naskah kajian pustaka terdiri atas judul, nama penulis, abstrak, pendahuluan, masalah, pembahasan, simpulan dan saran serta kepustakaan.

9. Tabel, grafik, histogram, sketsa dan gambar harus diberi judul serta keterangan yang jelas disertai dengan sumber (font menyesuaikan dan bisa dibuat menjadi 1 column).

10. Dalam mengutip pendapat orang lain, dipakai sistem nama penulis dan tahun. Contoh : XXXXX (2010); XXXX et al. (2012).

11. Kepustakaan memakai “harvard style” (font cambria 9) disusun menurut abjad nama penulis tanpa nomer urut.

a. Untuk buku : nama pokok dan inisial pengarang, tahun terbit, judul, jilid, edisi, tempat terbit dan nama penerbit.

Ex: Picard, Michael. 1996. Cultural Tourism and Touristic Culture. Singapore: Archipelago Press.

b. Karangan dalam buku : nama pokok dari inisial pengarang, tahun terbit, judul karangan, inisial dan nama editor : judul buku, hal permulaan dan akhir karangan, tempat terbitan dan nama penerbit.

Ex: McKean, Philip Frick. 1978. “Towards as Theoretical analysis of Tourism:

Economic Dualism and Cultural Involution in Bali”. Dalam Valena L. Smith (ed). Host and Guests: The Antropology of Tourism. Philadelphia : University of Pensylvania Press.

c. Untuk artikel dalam jurnal: nama pokok dan inisial pengarang, tahun, judul karangan, singkatan nama majalah, jilid (nomor), halaman permulaan dan akhir.

Ex: Pitana, I Gde. 1998. “Global Proces and Struggle for Identity: A Note on Cultural Tourism in Bali, Indonesia” Journal of Island Studies, vol. I, no. 1, pp. 117-126.

d. Untuk Artikel dalam format elektronik : Nama pokok dan inisial, tahun, judul, waktu, alamat situs.

Ex: Hudson, P. (1998, September 16 - last update), "PM, Costello liars: former bank

chief", (The Age), Available:

http://www.theage.com.au/daily/980916/news/news2.html (Accessed: 1998, September 16).

12. Dalam tata nama (nomenklatur) dan tata istilah, penulis harus mengikuti cara penulisan yang baku untuk masing-masing bidang ilmu.

13. Dalam hal diperlukan ucapan terima kasih, supaya ditulis di bagian akhir naskah dengan menyebutkan secara lengkap: nama, gelar dan penerima ucapan.

(5)

VOL. 7, No. 1, 2019

iv

JURNAL

p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937

DESTINASI PARIWISATA

DAFTAR ISI Volume 7, no 2, Desember 2019

Privatisasi Sempadan Pantai oleh Akomodasi Pariwisata

di Denpasar

______________________________________________________________________ (

211-217

)

Alzaena Geanina Irnawan dan Ida Bagus Suryawan

Perkembagan Wisata Mendaki Di Gunung Agung:

Studi Kasus Gunung Agung Kabupaten Karangasem

Provinsi Bali

_____________________________________________________________________ (218-225)

Himsar Hutabarat dan I Gusti Agung Oka Mahagangga

Dampak Ekonomi Pengembangan Daya Tarik Wisata “Hot Spring”

Di Kecamatan Marobo, Kabupaten Bobonaro, Timor-Leste

_________ (226-230)

Gracita Chiana do Rêgo Cornélio da Piedade dan I Putu Anom

Pencitraan Sosial Media: Studi Kasus Ulasan Tripadvisor

Terhadap 5 Restaurant Terbaik Di Bali

__________________________________ (231-238)

Intan Yulia Insani Saragih dan Gde Indra Bhaskara

Pengelolaan Sampah Di Daya Tarik Wisata Pantai Candikusuma, Desa Candikusuma, Kecamatan Melaya,

Kabupaten Jembrana ________________________________________________

______ (239-243)

Made Bagus Megawan dan Ida Bagus Suryawan

Penerapan Kesehatan Dan Keselamatna Kerja (K3) Wisata Arung Jeram Di Pinus Camp, Desa Sumberbulu,

Kabupaten Banyuwangi Sebagai Daya Tarik Wisata

__________________ (245-251)

Miftahol Arifin dan Made Sukana

Pemasaran Dan Persaingan Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort

Sebagai Sebuah Atraksi Wisata

_____________________________________________ (252-261)

Malene Haahr Poulsen dan Gde Indra Bhaskara

Identifikasi Potensi Desa Wisata Kerta Payangan,

Kabupaten Gianyar, Bali

_____________________________________________________ (262-268)

Putu Aditya Dharma Arya Wiguna dan I Nyoman Sukma Arida

Penerapan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Di Daya Tarik Wisata Bounce Bali Desa Canggu

Kecamatan Kuta Utara Kabupaten Badung

______________________________ (269-274)

Abel Kurniawan dan Made Sukana

Penerapan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Pada Wisata Paralayang Di Gunung Banyak,

Kota Batu, Provinsi Jawa Timur

____________________________________________ (275-280) Muhammad Alif Adz Dzikri dan Made Sukana

(6)

VOL. 7, No. 2, 2019

v Strategi Pengembangan Lumpur Lapindo Sebagai Wisata Edukasi

Di Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur

________________________________________ (281-287)

Rizky Maulana Abdillah dan Ida Bagus Suryawan

Pengaruh Store Atmosphere Terhadap Minat Beli Wisatawan

Di Pasar Seni Sukawati Kabupaten Gianyar

_____________________________ (288-294)

Andreas Agung Riantra dan Made Sukana

Penurunan Jumlah Lahan Dan Perubahan Budidaya Tanaman Kopi Bali Kintamani Mengancam Destinasi Wisata Kopi

Di Kintamani

____________________________________________________________________ (295-303)

Ijlal Faiz Bayu Permana dan Made Sukana

Implikasi Erupsi Gunung Agung Terhadap Sosial Ekonomi Pelaku Usaha Pariwisata Di Kawasan

Pantai Batu Bolong, Canggu

__________________________________________________ (304-309)

Dewi Sasmita dan Saptono Nugroho

Pengaruh Harga Dan Citra Merek

Terhadap Minat Beli Wisatawan Domestik

Di Pusat Oleh-Oleh Joger, Kuta, Bali

_____________________________________ (310-314)

Risa Kariba Jambak dan I Made_Sukana

Dampak Ekonomi Ekowisata Air Terjun Suranadi

Terhadap Masyarakat Lokal Di Desa Jatiluwih

_________________________ (315-325)

I Putu Agus Mahendra Suryajaya dan I Made Adikampana

Implikasi Erupsi Gunung Agung Terhadap Pertunjukan Seni Tari Tradisional Di Kelurahan Ubud, Kecamatan Ubud,

Kabupaten Gianyar, Bali

______________________________________________________ (326-331)

Bony Christianta Sembiring dan I Made Adikampana

Tingkat Kepuasan Wisatawan Terhadap Kualitas Pelayanan Di Sanggar Seni Yasa Putra Sedana di Kecamatan Payangan,

Kabupaten Gianyar, Bali

______________________________________________________ (332-338)

I Kadek Ardita dan Ida Bagus Suryawan

Pengelolaan Air Limbah Hotel Dan Pemanfaatannya

Dalam Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan : Studi Kasus Pada

Pengelolaan Air Limbah Lagoon, Itdc, Nusa Dua

______________________ (339-343)

Septi Ayu Andini dan I Nyoman Sukma Arida

Pengelolaan Desa Wisata Kaba – Kaba, Kecamatan Kediri,

Kabupaten Tabanan: Suatu Analisis Kualitatif

________________________ (344-351)

I Gusti Ayu Komang Meilinda Wijayanthi dan Putri Kusuma Sanjiwani

Upaya Revitalisasi Pertanian Rumput Laut Dalam Praktik

Pariwisata Di Desa Lembongan, Kabupaten Klungkung

_____________ (352-363)

I Wayan Gede Wahyu Pradnyana dan Saptono Nugroho

(7)

VOL. 7, No. 1, 2019

vi Strategi Pengembangan Desa Sayan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali,

Sebagai Desa Wisata Berbasis Wisata Alam Bija

_______________________ (364-373) Alinda Thalia dan Saptono Nugroho

Pengembangan Atraksi Wisata Minat Khusus Berbasis Nilai Tradisi

Makotek Di Desa Wisata Munggu Badung Bali

_________________________ (374-381)

Winda Kusumawati Supandi dan I Made Adikampana

Sistem Pengelolaan Daya Tarik Wisata Pulau Gili Ketapang Sebagai Aset Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumber Asih,

Kabupaten Probolinggo

______________________________________________________ (382-389) Decky Abdi Dermawan dan I Putu Anom

Analisis Peran Stakeholder Desa Wisata Carangsari,

Kecamatan Petang, Kabupaten Badung

__________________________________ (390-397)

Shafa Raya Cahyana dan Saptono Nugroho

Respon Masyarakat Lokal terhadap Pengembangan Kebun Raya

Gianyar sebagai Destinasi Pariwisata di Desa Kerta

__________________ (398-403)

I Putu Ardita Yadnya dan I Made Adikampana

Studi Pengembangan Pasar Tradisional Pajak Ikan

Sebagai Pusat Wisata Belanja Di Kota Medan

___________________________ (404-414)

Femmy Indriany Dalimunthe

Wisata Puncak Becici: Kepuasan, Loyalitas, Dan

Intensi Rekomendasi Wisatawan

_________________________________________ (415-420)

Isnanda Zainur Rohman

Daya Tarik Wisata Pasca Bencana Erupsi Gunung Api Sinabung

di Kabupaten Karo, Sumatera Utara

_______________________________________ (421-432)

Liyushiana, Putri Rizkiyah dan Herman

Reidentifikasi Konsep dan Teori Dalam Memahami

Fenomena Blind Spot Penelitian Pariwisata di Bali

___________________ (433-445)

I Putu Anom, I Gusti Agung Oka Mahagangga, I Made Bayu Ariwangsa,

dan I Gusti Agung Athina Wulandari

(8)

Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 2, 2019

382

Sistem Pengelolaan Daya Tarik Wisata Pulau Gili Ketapang Sebagai Aset Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumber Asih, Kabupaten Probolinggo

Decky Abdi Dermawana, 1 , I Putu Anom a2

1 [email protected], 2[email protected]

a Program Studi Sarjana Destinasi Pariwisata, Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana, Jl. Dr. R. Goris, Denpasar, Bali 80232 Indonesia

ABSTRACT

Probolinggo is an area East Java which has beautiful tourism area, especially Gili Ketapang Island. This research purposes to know how the management system in Gili Ketapang Village Asset, Sumber Asih , Probolinggo Regency.

The tourist attraction management system is an important indicator in determining the success of a tourist attraction, therefore the attraction of Gili Ketapang requires a good management system in order to become a leading attraction. Data collection techniques conducted in this study are observation techniques, unstructured interview techniques and documentary techniques. Determination technique of informant by using purposive sampling technique. Data analysis technique used is qualitative data.

The conclusion of the discussion is the management system of Gili Ketapang tourist attraction on planning, organizing, actuating, and controlling, in each of the five components there are variables of tourism attraction, management and improvement of human resources, tourism facilities, service quality improvement, and promotion and marketing.On the other hand, this study also discusses what obstacles faced by government and society in the implementation of Gili Ketapang tourism management system.In knowing these obstacles required variables are physical constraints, among others, regarding parking, access, lodging, and shopping. Non-physical constraints on the social condition of the community, the condition of human resources, economic benefits, and institutions. Suggestions are addressed to the next Government, Manager, Society, and Academia in subsequent research

Keywords: Management system, Tourist Attraction, and constraints.

I. PENDAHULUAN

Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang memiliki banyak potensi sumberdaya alam yang melimpah dan beranekaragam pula etnik budaya daerah yang khas, sehingga sangat mendukung pengembangan sektor strategis nasional yaitu pariwisata. Begitu pula pembangunan pariwisata di Provinsi Jawa Timur juga sangat potensial dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) jika dikembangkan dengan baik.

Melalui implementasi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah telah memberikan peluang bagi Pemerintah Daerah untuk mengelola dan mengoptimalkan potensi daerahnya secara mandiri temasuk mengelola sektor pariwisata. Upaya pembangunan pariwisata di Provinsi Jawa Timur ini ditunjukan oleh Dinas Kebudayaaan dan Pariwisata Jawa Timur dengan membuat sebuah program “Visit East Java” pada tahun 2011, yang bertujuan untuk menarik wisatawan dengan memperkenalkan kepada dunia bahwa Jawa Timur memiliki berbagai kekayaan alam dan budaya yang sangat istemewa sehingga menarik untuk dikunjungi. Dalam program Visit East Java ini, wisata pulau Gili Ketapang Kabupaten Probolinggo ditunjuk sebagai salah

satu destinasi unggulan pariwisata di Jawa Timur. Kabupaten Probolinggo yang mempunyai destinasi wisata yang menarik akan anda jumpai di Jawa Timur, tepatnya di Kabupaten Probolinggo ini merupakan kota terbesar ke-4 se-Jawa Timur dilihat dari jumlah penduduknya. Kota ini terkenal dengan Kabupaten/Kota Mangga dan Anggur, Kota Seribu Taman, karena kota yang hijau dan bersih. Probolinggo adalah Kabupaten/Kota dengan banyak destinasi wisata yang indah dan menarik untuk di kunjungi. Daya tari wisata yang indah dan menarik untuk dikunjungi antara lain adalah Gunung Bromo, Pantai Bentar, Madakaripura waterfall, Danau Ranu Agung, Arun Jeram Rafting, dan yang saat ini sedang popular dikunjungi oleh pemuda- pemudi serta keluarga adalah wisata Gili Ketang, sebagai wisata bahari dan keindahan alam bawah lautnya.

Pada rangka mengangkat Kabupaten Probolinggo sebagai wisata bahari yang sangat populer dengan potensi yang ada di daya tarik wisata Pulau Gili Ketapang. Pemerintah Daerah Kabupaten Probolinggo menyiapkan program- program pengembangan pariwisata. Upaya promosi wisata mengakibatkan beberapa tahun terakhir pariwisata di Kabupaten Probolinggo

(9)

Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 2, 2019

383

berkembang pesat. Hal ini dilihat dari munculnya tempat wisata-wisata konvensional baru, salah satunya daya tarik wisata Pulau Gilli Ketapang. Pantai yang indah dengan pemandangan alam yang mempesona, terumbu karang yang cantik dan banyak jenis ikan yang cantik yang bisa ditemui, selain itu juga bisa atraksi snorkling di tempat ini. Namun, perkembangan pariwisata di Kabupaten Probolinggo memunculkan permasalahan baru yaitu pembangunan pariwisata tidak lagi memperhatikan kondisi lingkungan yang selaras dengan pembangunan ekonomi, adanya beberapa keganjalan dalam sistem pengelolaan daya tarik wisata contohnya seperti adanya penduduk asing yang membuka jasa pariwisata di daya tarik wisata Gili Ketapang, padahal sudah ditetapkan peratuan bahwa yang diizinkan untuk beropasi atau yang menjadi aset desa adalah masyarakat lokal, selain itu masyarakat lokal belom berpartisipasi secara maksimal dalam pembangunan pariwisata, masyarakat yang masih enggan menerima wisatawan asing dan masih banyak lagi kendala sistem pengelolaan yang ada di daya tarik wisata pulau Gili Ketapang.

Sebagai tujuan Destinasi Wisata Jawa Timur, Kabupaten Probolinggo notabene adalah mengedepankan potensi alamnya yang indah dan sejuk. Oleh karena itu, dalam penanganan masalah pengelolaan daya tarik wisata pulau Gili Ketapang Probolinggo, perlu adanya upaya dalam menangani pembangunan pariwisata yang bertujuan untuk meningkatkan perekonomian dan melestarikan lingkungan perlu disertai upaya memperhatikan aspek lingkungan dan keikut sertaan masyarakat dalam pengelolaan daya tarik tersebut, agar tidak ada yang dirugikan dalam pembangunan pariwisata ini baik itu masyarakat, budaya dan alam. Penelitian ini bertujuan untuk menetahui sistem pengelolaan daya tarik wisata atau sumberdaya alam dan budaya tanpa merusak konsep ekologis dari lingkungan wisata itu sendiri dan juga dapat memajukan potensi pariwisata lokal sebagai aset desa Gili Ketapang. Sistem pengelolaan pulau Gili Ketapang, desa Ketapang mengusung konsep tradisional dengan melibatkan masyarakat lokal untuk berpartisipasi langsung sebagai manajemen pengelola. Dalam hal ini aktor utama dalam sistem pengelolaan daya tarik

wisata pulau Gili Ketapang ini sepenuhnya adalah masyarakat lokal.

II. KEPUSTAKAAN

2.1 Tinjauan PeneIitian sebelumnya Telaah penelitian sebelumnya sangat penting dilakukan yang berguna untuk mendapatkan perbandingan antara penelitian yang saat ini dilakukan dengan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh peneliti lain. Selain itu, peneliti juga dapat mengetahui posisi penelitiannya dari perbandingan dengan penelitian lain dari segi fokus rumusan masalah pada penelitian.

Terdapat beberapa penelitian sebelumnya yang digunakan untuk memposisikan penelitian yang akan dilakukan berdasarkan fokus (topik penelitian) dan locus penelitian (lokasi penelitian).

PeneIitian ini mengunakan dua hasil penelitian sebagai referensi. Hasil peneIitian yang diIakukan oleh I Nyoman Widiarta (2016) yang berjudul “Pengelolaan Daya Tarik Wisata Pura Taman Ayun Sebagai Bagian Dari Warisan Budaya Dunia”. Adapun relevansi dari jurnal tersebut dengan penelitian ini ialah fokus dari penelitian tersebut, dimana membahas tentang pengelolaan Daya Tarik Wisata. Referensi skripsi kedua yaitu ditulis oleh Zainur Rofiq (2013) yang berjudul tentang Nilai Sosial dan Ekonomi pada Tradisi Ngalak Anak di Pulau Gili Ketapang, Kabupaten Probolinggo.

Kesamaan skripsi tersebut dengan penelitian ini yaitu membahas tentang lokasi yang sama yaitu Pulau Gili Ketapang, Probolinggo.

2.1 Landasan Konsep.

PeneIitian ini mengunakan tiga konsep untuk menganalisis permasalahan dalam tulisan ini yaitu konsep pengelolaan, konsep ini berfungsi sebagai mendiskripsikan pekerjaan Manajer berdasarkan fungsinya yakni perencanaan (Planning), pengorganisasian (Organizing), penggerakkan (Actuating),

(10)

Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 2, 2019

384

pengendalian (Controlling) (Siswanto, 2005 : 18). Dalam penelitian ini, konsep pengelolaan akan menjawab permasalahan tentang pengelolaan Daya Tarik Wisata Pulau Gili Ketapang. Konsep yang kedua adalah konsep Daya Tarik Wisata

menurut Yoeti (2006:167) untuk menganalisis dan mengidentifikasi daya Tarik berdasarkan natural attraction, build

attraction, cultural attraction, dan social attraction. Konsep terakhir adalah konsep

fasilitas pariwisata menurut Yoeti (1990: 81) yang berfungsi untuk menganalisis sarana (sarana pokok, sarana pelangkap, sarana penunjang ) dan prasarana ( Prasarana umum

dan

Prasarana yang menyangkut ketertiban dan keamanan ).

III. METODE PENELITIAN

PeneIitian ini berlokasi

di Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumber Asih, Kabupaten Probolinggo

yang merupakan sebuah pulau kecil yang memiliki luas sekitar 68 ha dan jumlah penduduk sekitar 7.600 jiwa.. Jenis data yang digunakan didalam penelitian ini terdiri atas dua jenis data, yakni Data Kualitatif dan Data Kuantitatif (Bungin dan Sugiyono, 2003).

Sumber data yang digunakan dalam peneIitian ini adalah sunber data primer (Moleong, 2000) dan data sekunder (Sugiyono, 2008). Data primer dalam peneIitian ini diantaranya adalah gambaran umum permasalahan Pengelolaan Daya Tarik Wisata Pulau Gili Ketapang sebagai Aset Masyarakat Desa Gili Ketapang, Probolinggo. Data Sekunder dalam peneIitian ini berupa profiI Desa Gili Ketapang seperti letak geografis, data monografi dan data kunjungan.

Teknik pengumpulan data dalam peneIitian ini ialah dengan teknik observasi (Akbar dan Usman, 2009), wawancara mendalam (

Menurut Satori dan Komariyah

, 2010) dengan para informan dan dokumentasi (

Indrawan dan Yaniawati, 2014

).

Teknik analisis data dalam peneIitian ini mengunakan teknik analisis deskriptif kuaIitatif (Sugiyono, 2014). Teknik analisis deskriptif

memiliki empat langkah yaitu pertama tahap pengumpulan data dimana peneliti dalam tahap ini mengumpulkan data sesuai dengan keadaan di lapangan, selanjutnya yaitu reduksi data, dimana data yang sudah di dapatkan dan di kumpulkan di pilah ataupun di filter sesuai kebutuhan penelitian, data tersebut adalah mengenai data gambaran umum Pulau Gili Ketapangfasilitas pariwisata, pengelolaan Daya Tarik Wisata, tingkat kunjungan Wisata Pulau Gili Ketapang, selanjutnya yaitu penyajiian data yang diIakukan dengan menyajikan data yang telah direduksi seperti hasiI wawancara dalam bentuk naratif, dan yang terakhir adalah kesimpulan, dalam peneIitian ini data yang diperoleh akan diverifikasi dan ditarik kesimpulan sesuai dengan topik permasalahan sehingga dapat menghasilkan data aktual dan di uji kevaliditasannya mengenai Sistem Pengelolaan Daya Tarik Wisata Pulau Gili Ketapang, Probolinggo.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Sistem Pengelolaan Daya Tarik Wisata Pulau Gili Ketapang

Sistem pengelolaan Daya Tarik Wisata Pulau Gili Ketapang dari diresmikankan pulau tersebut menjadi suatu Kawasan pariwisata telah mendapatkan suatu pujian dan juga komentar dari sebagian wisatawan. Secara administratif, pulau ini masih termasuk dalam Kabupaten Probolinggo. Untuk lokasi tepatnya wisata ini berada di Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumber Asih, Probolinggo, Provinsi Jawa Timur. Sedangkan untuk rute penyeberangan dimulai dari pelabuhan Tanjung Tembaga. Lama waktu penyeberangan ini kurang lebih memakan 30 menit. Pulau ini memiliki luas sekitar 61.000 hektar. Desa Gili Ketapang merupakan desa yang cukup banyak memiliki penduduk 8.424 jiwa dengan luas wilayah 0,61 km2 sehingga dapat mencapai kepadatan penduduk kurang lebih 13.809,84 jiwa.

Daya Tarik Wisata Pulau Gili Ketapang salah satu pulau yang ada di Kabupaten

(11)

Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 2, 2019

385

Probolinggo yang dikelola oleh masyarakat lokal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti di lapangan, ada beberapa sistem pengelolaan yang dapat dilakukan oleh Pihak Pengelola bersama masyarakat lokal yaitu sebagai berikut:

4.1.1 Perencanaan (Planning)

Perencanaan adalah pemilihan atau penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijakan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.

“ Di tahun 2019 akan ada banyak pembaharuan di sini mas, ada beberapa perencanaan yang sudah disusun oleh pengelola sini contohnya seperti perbaikan fasilitas, promosi, atraksi, dan tingkat pengelolaannya juga mas.” (Hasil wawancana, 25 April 2018).

(1) Perencanaan atraksi yang akan diadakan di daya tarik wisata Pulau Gili Ketapang ialah akan diadakan atraksi diving di zona laut pulau Gili Ketapang, pelestarian terumbu karang dan ikan akan dikembangkan semaksimal mungkin, dan akan ada penyewaan sepeda pancal dan jalur jalan untuk sepeda pancal mengeliling pulau Gili Ketapang. (2) Perencanaan Pengelola dan Peningkatan SDM akan melaksanakan kegiatan pembinaan dan pelatihan kepada staff, pihak pengelola masing-masing zona dan masyarakat sekitar dalam menjaga dan mengembangkan daya tarik wisata Pulau Gili Ketapang, agar tetap pada komitmen awal yang telah dirancang dan disepakati bersama. Selain itu perencanaan pengelola dan Peningkatan SDM akan melaksanakan pemberian pelatihan dalam pembuatan sovenir lokal atau oleh-oleh khas dari Daya tarik wisata Gili Ketapang yang akan diproduksi oleh masyarakat lokal.

(3)Perencanaan fasilitas pariwisata di Gili Ketapang akan dibangun toilet yang lebih produktif dan efisien dalam pembuangan air bekas dan kualitas toilet baik bagi wisatawan khususnya wisatawan domestik dan wisatawan asing. Selain itu akan ada perbaikan toilet yang lebih baik dan mewah untuk wisatawan.

“ Fasilitas toilet dari dulu ya seperti ini mas, tidak ada perubahan meskipun sudah banyak ada komen dari wisatawan terhadap fasilitas toilet yang masih kurang bagus, masih baru wacana perbaikan toilet ini mas, semoga saja segera diperbaiki” (Hasil wawancana, 25 April 2018). (4) Perencanaan peningkatan kualitas layanan yang akan dilakukan di daya tarik wisata Gili Ketapang ialah tentang hospitality yang baik, meningkatkan kualitas kebersihan dan kenyamana wisatawan, serta akan mengadakan reward gift kepada staff terbaik di setiap bulannya. (5) Perencanaan Pemerintah dan Pengelola akan melakukan kegiatan promosi dan pemasaran Daya Tarik Wisata Pulau Gili Ketapang besar-besaran melalui media cetak dan elektronik, serta media online seiring kemajuan perkembangan teknologi dan informasi.

4.1.2 Pengorganisasian (Organizing) Proses pengorganisasian yaitu bagaimana suatu perencanaan yang sudah dibuat dalam pengelolaan Daya Tarik Wisata Pulau Gili Ketapang bisa tercapai tapat sasaran.

Adapun proses pengorganisasian yang dilakukan pengelola terkait atraksi wisata di Daya Tarik Wisata Gili Ketapang sebagai berikut:

(1) Pengelola membuat dan mengatur jadwal atraksi wisata snorkling. (2) Pengelola membuat dan mengatur jadwal penjemputan dan pengantaran wisatawan, dan Pengelola membuat papan pengumuman yang berisi aturan-aturan dari Pemerintah, kepala Desa terkait pelestarian ekosistem laut dan potensi alam, serta lingkungan. (3) Pengorganisasian dalam Pengelolaan dan Peningkatan Sumber Daya Manusia antara lain adalah Pengelola membuat dan mengatur jadwal pembinaan setta pelatihan bagi pengelola masing-masing zona beserta staffnya dan masyarakat, selain itu pembuatan sovenir yang dilakukan oleh pengelola dan masyarakat desa.

(5)Pengorganisasian dalam fasilitas bariwisata antara lain adala pengelola menyediakan dan menata tempat dan sumber daya manusia

(12)

Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 2, 2019

386

yang akan merawat secara berkelanjutan dan membenahi kekurangan yang ada pada daya tarik wisata Gili Ketapang sehingga terciptanya kenyamanan dan keharmonisan.

(6)Pengorganisasian dalam peningkatan kualitas layanan antara lain adalah pengelola membuat aturan mengenai penggunaan pakaian seragam guna menambah kesan yang baik kepada wisatawan, membuat dan mengatur jadwal kebersihan untuk kenyamanan wisatawan, dan Pengelola membuat dan mengatur jadwal pembinaan bagi pengelola masing-masing zona beserta staffnya dan masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan Daya Tarik Wisata Gili Ketapang.

(7) Pengorganisasian dalam promosi dan pemasaran antara lain adalah Sumber daya manusia dalam hal mempromosikan dan memasarkan daya tarik wisata Pulau Gili Ketapang yaitu melalui media sosial, seperti facebook, instagram, youtube, koran, dan interaksi.

4.1.3 Penggerakan Orang-orang (Actuating) Dalam hal ini bagaimana proses kerja atau upaya yang dilakukan oleh pihak pengelola alam mengelola Daya Tarik Wisata Gili Ketapang agar semua yang telah direncanakan dapat berjalan dengan baik. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, tindakan-tindakan yang dilakukan pihak pengelola Daya Tarik Wisata Gili Ketapang adalah sebagai berikut.

“Semua pekerja di sini merupakan masyarakat Desa Gili Ketapang ini mas, jadi tidak mungkin orang dari desa lainnya”, (Hasil wawancara, 25 April 2018).

(1) Penggerak dalam atraksi antara lain adalah Pengelola melaksanakan kegiatan atraksi sesuai dengan apa yang sudah diatur dan telah direncanakan bersama staf dan permintan wisatawan, Pengelola menyediakan usaha jasa foto yang kreatif dan inovatif untuk berfoto di atraksi snorkling dan bisa juga buat video.

Selain itu ada juga staf atau petugas yang bertugas mengantarkan wisatawan ke daya tarik wisata Goa Kucing yang berada di sebelah timur desa Gili Ketapang. (2) Penggerak dalam

pengelolaan dan peningkatan SDM.

(3)Pengelola melaksanakan kegiatan pembinaan bagi pengelola masing-masing zona beserta staffnya dan masyarakat yang terlibat.

(4)Penggerak dalam fasilitas pariwisata antara lain adalah Pengelola melaksanakan bersinergi dengan semua masyarakat, beserta staff nya dalam mewujudkan pariwisata yang lebih baik dalam segi fasilitas dan pengelola melaksanakan kerjasana dengan pelabuhan pelindo dalam hal tenaga kerja parkir.(5) Penggerak dalam peningkatan kualitas pelayanan antara lain adalah pengelola telah membuat beberapa seragam guna menunjukkan kerapian dan kesan yang baik kepada wisatawan, selain itu Pengelola memberikan pengarahan kepada pekerja atau staff untuk menggunakan hospitality yang baik.

(6) Penggerak dalam promosi dan pemasaran antara lain adalah Pengelola melaksanakan kegiatan promosi dan pemasaran melalui media cetak dan media elektronik serta media sosial.

4.1.4 Pengawasan (Controlling)

Demi kelancaran jalannya program dan memastikan perencanaan yang dibuat pihak pengelola dilaksanakan proses pengawasan, selain itu mengevaluasi hasil kerja dari pengelola masing-masing zona dan karyawan apakah sudah menjalankan tugas dengan baik dan sesuai target atau kurang baik.

“Semua pengawasan di sini dilakukan oleh pengelola dan masyarakat mas, jadi kita langsung evaluasi kalua ada kekeliruan dalam menjalankan tugas dan bekerja sebagaimana mestinya”. (Hasil wawancara,25 April 2018) (1) Pengawasan dalam atraksi antara lain adalah Pengelola berkoordinasi dengan Kepala desa yang dalam hal pariwisata sekaligus sebagai Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan atraksi khususnya kegiatan Snorkling. Selain itu pengelola juga melakukan pengawasan di daerah lautan menjaga biota laut.(2) Pengawasan dalam pengelolaan dan peningkatan SDM antara lain adalah Pengelola berkoordinasi dengan Kepala

(13)

Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 2, 2019

387

Desa dalam melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap kegiatan pelatihan yang dilaksanakan dan juga melakukan evalusi terkait kenyamanan wisatawan dalam berkunjung serta staff.(3) Pengawasan dalam fasilitas pariwisata antara lain adalah pengelola berkoordinasi dengan kepada Desa untuk mengadakan pengawasan dan keperihatian terhadap fasilitas semua yang ada di daya tarik wisata Gili Ketapang dan Pengelola berkoordinasi dengan staff dan masyarakat lokal untuk menyediakan tempat samapah, agar terciptanya kebersihan lingkungan.

(4)Pengawasan dalam peningkatan kualitas layanan antara lain adalah Pengelola bersnergi dengan kepala desa dan staff untuk mengadakan pengawasan dan evaluasi terhadap penggunaan seragam untuk staff yang telah disepakati bersama. Selain itu Pengelola bersinegi dengan kepala desa mengadakan pengawasandan evaluasi terhadap kegiatan pembinaan mengenai informasi update yang dilaksanakan terhadap pengelola masing-masing zona dan masyarakat sekitar.

(5) Pengawasan dalam promosi dan pemasaran antara lain adalah pengelola bersinergi dengan kepala desa mengadakan pengawasan dan evaluasi terhadap kegiatan promosi dan pemasaran yang sedang dan telah dilaksanakan.

Di samping itu pengelola bersinergi dengan kepala desa mengadakan pengawasan dan evaluasi terhadap pembuatan brosur dan alat promosi pemasaran lainnya mengenai informasi Daya Tarik Wisata Gili Ketapang yang sudah disepakati bersama.

Gambar 4.2 Kondisi Eksisting Desa Gili Ketapang

Sumber: Dokumentasi Penelitian, Mei 2018

V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN

Dari penelitian yang telah dilakukan diperolehlah beberapa simpulan yang dapat disampaikan sebagai hasil dari penelitian ini.

Simpulan-Simpulan yang dapat disampaikan tersebut diantaranya adalah:

a. Perencanaan (Planning)

Akan diadakan perencanaan atraksi diving di zona laut pulau Gili Ketapang, pelestarian terumbu karang dan ikan akan dikembangkan semaksimal mungkin, dan akan ada penyewaan sepeda pancal. Selain itu pengelola dan peningkatan SDM akan melaksanakan kegiatan pembinaan dan pelatihan kepada staff, pihak pengelola masing-masing zona dan masyarakat sekitar dalam menjaga dan mengembangkan daya tarik wisata Pulau Gili Ketapang dan pemberian pelatihan dalam pembuatan sovenir lokal atau oleh-oleh khas dari Daya tarik wisata Gili Ketapang yang akan diproduksi oleh masyarakat lokal. Fasilitas pariwisata akan dibangun toilet yang lebih produktif dan efisien dalam pembuangan air bekas dan kualitas toilet baik bagi wisatawan adapun peningkatan kualitas layanan yang akan dilakukan ialah tentang hospitality yang baik, meningkatkan kualitas kebersihan dan kenyamanan wisatawan, serta akan mengadakan reward gift kepada staff terbaik di setiap bulannya. Serta Pemerintah dan Pengelola akan melakukan kegiatan promosi dan pemasaran Daya Tarik Wisata Pulau Gili Ketapang melalui media cetak dan elektronik, serta media online seiring kemajuan perkembangan teknologi dan informasi.

b. Organisasi (Organizing )

Pengorganisasian yang dilakukan pengelola terkait atraksi wisata di Daya Tarik Wisata Gili Ketapang sebagai berikut: Pengelola membuat dan mengatur jadwal atraksi wisata snorkling , Pengelola membuat dan mengatur jadwal penjemputan dan pengantaran wisatawan, dan Pengelola membuat papan pengumuman yang berisi aturan-aturan dari pemerintah, kepala desa terkait pelestarian ekosistem laut dan

(14)

Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 2, 2019

388

potensi alam, serta lingkungan. Selain itu membuat dan mengatur jadwal pembinaan serta pelatihan bagi pengelola masing-masing zona beserta staffnya dan masyarakat, selain itu pembuatan sovenir yang dilakukan oleh pengelola dan masyarakat desa serta menyediakan dan menata tempat dan sumber daya manusia. Pengelola membuat aturan mengenai penggunaan pakaian seragam dan juga dalam hal mempromosikan dan memasarkan daya tarik wisata Pulau Gili Ketapang yaitu melalui media sosial, seperti facebook, instagram, youtube, koran, dan interaksi.

c. Penggerakan

Pengelola melaksanakan kegiatan atraksi sesuai dengan apa yang sudah diatur dan telah direncanakan bersama staf dan permintan wisatawan, menyediakan usaha jasa foto yang kreatif dan inovatif untuk berfoto di atraksi snorkling dan bisa juga buat video, dan selain itu ada juga staf atau petugas yang bertugas mengantarkan wisatawan ke daya tarik wisata Goa Kucing yang berada di sebelah timur desa Gili Ketapang. Melaksanakan kegiatan pembinaan. Bersinergi dengan semua masyarakat, beserta staff nya . Di samping itu menunjukkan kerapian dan kesan yang baik kepada wisatawan, selain itumenggunakan hospitality yang baik. Serta melaksanakan kegiatan promosi dan pemasaran melalui media cetak dan media elektronik serta media sosial.

d. Pengawasan (Controlling)

Berkoordinasi dengan Kepala desa yang dalam hal pariwisata sekaligus sebagai Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan dan melakukan evalusi terkait kenyamanan wisatawan dalam berkunjung serta staff serta keperihatian terhadap fasilitas semua yang ada. Selain itu Pengelola bersinegi dengan kepala desa mengadakan pengawasandan evaluasi terhadap kegiatan pembinaan mengenai informasi update yang dilaksanakan terhadap pengelola masing-masing zona dan masyarakat sekitar.

Dan juga promosi dan pemasaran antara lain. Di samping itu pengelola bersinergi dengan kepala desa mengadakan pengawasan dan evaluasi.

5.2 Saran

Adapun beberapa saran yang dapat disampaikan guna menjadi referensi beberapa pihak:

1. Kepada Pemerintah

Pemerintah sebagai fasilitator dalam hal ini diharapkan untuk memberikan pengarahan dan sosialisasi secara terpadu terkait sistem pengelolaan dan hendak ikut berpartisipasi penuh dalam upaya mempromosikan daya tarik wisata GiliKetapang sebagai tempat wisata yang memiliki potensi alam yang indah dan memiliki pengolalaan yang unggul dengan kualitas yang bagus. Selain itu pemerintah diharapkan dapat membantu lebih dalam pembangunan infrastruktur dan fasilitas wisata yang ada di daya tarik wisata Gili Ketapang.

2. Pengelola

Perlunya kesadaran dari pengelola Daya Tarik Wisata Gili Ketapang untuk lebih disiplin terhadap waktu bekerja dan selalu melakukan inovasi dan kreatifitas terhadap pengengembangan dan pengelolaan Daya Tarik Wisata Gili Ketapang.

3. Masyarakat lokal

Masyarakat Pulau Gili Ketapang diharapkan mampu menjaga potensi yang dimiliki saat ini, tanpa mengekploitasi berlebihan yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan, alih fungsi lahan terhadap pembangunan.

Disamping itu masyarakat diharapkan juga berpartisipasi dalam membantu pengelolaan daya tarik wisata Gili Ketapang dengan mendukung program-program yang telah dirancang oleh pengelola dan pemerintah, serta masyarakat hendaknya dapat mejaga kebudayaannya.

4. Akademisi

Dalam penelitian ini belum mendalam dan holistik. Dalam penelitian selanjutnya diharapkan dapat melanjutkan penelitian dengan mengambil permasalahan mengenai

(15)

Jurnal Destinasi Pariwisata p-ISSN: 2338-8811, e-ISSN: 2548-8937 Vol. 7 No 2, 2019

389

strategi pengembangan daya tarik wisata Gili Ketapang, Kecamatan Sumber Asih, Kabupaten Probolinggo

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2009. Undang-Undang RI No.10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan.

Ariyanto,.2005.Tentang Fasilitas Pariwisata

Butler.R.W, 1998.“The Concept Of a Tourist Area Cycle Of Evolution: Implications For Management Of Resources”. University of Western Ontario.

Gunn, Clare A. 1988. “Tourism Planning”. Taylor &

Francis Publishing.

Pitana, I Gde dan I Ketut Surya Diarta. 2009.

Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta : ANDI Rofiq, Zainur, 2013. Nilai Sosial dan Ekonomi pada Tradisi

Ngalak Anak di Pulau Gili Ketapang Kabupaten Probolinggo.

Sugiyono. 2004. Metode Penelitian Kombinasi. Bandung: CV Alfabeta.

Widiarta, Nyoman, 2016. Pengelolaan Daya Tarik Wisata Pura Taman Ayun sebagai bagian dari Warisan Budaya Dunia.

Yoeti, Oka A, 1982. Pengantar Ilmu Pariwisata. Pengertian Pariwisata. Bandung. Angkasa.

Yulianie, Fatrisia. 2015. Partisipasi Dan Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengelolaan Daya Tarik Wisata

“Rice Terrace” Ceking, Gianyar, Bali. Jurnal Master Pariwisata (JUMPA). Vol 2 No 1: Hal 165-184.

(16)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara tentang efektivitas pengawasan secara tidak langsung oleh KPID Riau terhadap lembaga penyiaran TV Kabel berlangganan dapat

Perlakuan kombinasi antara variasi media dan jenis bakteri dengan nilai absorbansi tertinggi pada hari ketiga adalah kombinasi antara Bacillus subtilis dengan

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A  Hasil Wawancara...77 A.1.Daftar Hadir Wawancara...77 A.2.Skenario Operasi Primary Reformer...85

Rata-rata pembelajaran kitab kuning di lembaga pendidikan nonformal , seperti di pondok pesantren masih menggunakan metode klasik dan tekstual dengan pola teacher

Rancangan Jadual dan Mekanisme pembahasan 4 (empat) RUU tentang Pembentukan Pengadilan Tinggi Agama di Provinsi Maluku Utara, Banten, Bangka Belitung dan Gorontalo

Kelimpahan mikroplastik dari setiap zona di tiga stasiun, tiga transek, dan dua kedalaman yang diamati menunjukkan bahwa zona 1 memiliki kelimpahan mikroplastik tertinggi

Untuk memenuhi protokol kesehatan Covid-19 semua satker supaya melakukan persidangan perkara pidana dan perdata secara online berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung