MASYARAKAT SAMALANGA
PROPOSAL SKRIPSI
Oleh :
SABILATUL MAULI NIM : 190440096
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARI’AH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MALIKUSSALEH LHOKSEUMAWE
FEBRUARI, 2025
EKONOMI MASYARAKAT SAMALANGA
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi
SABILATUL MAULI NIM.190440096
UNIVERSITAS MALEKUSSALEH LHOKSEUMAWE
FEBRUARI, 2025
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillahirabbil’alamin, Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat,karunia, serta hidayah-Nya kepada kita semua berupa kesehatan, kesempatan, kekuatan serta ilmu pengetahuan sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini yang berjudul “Peran Dayah Ma’hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (Mudi Mesra ) Dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Di Samalanga”.
Selawat beserta salam sama sama kita sanjungkan kepangkuan alam Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam jahiliyah kepada alam islamiyah,dari alam kebodohan kepada alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan saat ini.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan baik dari segi bahasa maupun pembahasannya, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan adanya kritikan dan saran yang sifatnya membangun sehingga menyempurnakan skripsi ini.
Skripsi ini dapat tersusun berkat bimbingan dan bantuan serta dukungan arahan.Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya penulisan skripsi ini.
1. Prof. Dr. Herman Fithra, S.T., M,T., IPM, ASEAN Eng. Selaku Rektor Universitas Malikussaleh.
2. Jullimursyida, S.E., Ak, M.M., Ph. D Selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh.
3. Dr. Murtala, SE., M.Si selaku Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Malikussaleh.
4. Muklish Muhammad Nur Lc, M.A selaku Sekretaris Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Malikussaleh.
5. Chalirafi, SE, M. Si Selaku Koordinator Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh.
6. Zarkasyi, S.H., M.H.I selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang sudah memberikan perhatian dan bimbingan selama menyelesaikan dalam penulisan skripsi.
7. Teristimewa Kepada Ibunda Tercinta (Nurjannah) dan Ayahanda Tercinta (Zulkarnaini) yang telah memberikan kekuatan semangat berjuang serta do’a yang dipanjatkan sehingga penulis dapat dengan mudah menyelesaikan skripsi ini.
8. Dosen dan Staf Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh yang telah membantu dan memberikan ilmu bermanfaat bagi penulis.
Akhir kata penulis berharap allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu penulis, semoga skripsi ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan terutama di bidang ekonomi syariah.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI... iii
DAFTAR TABEL... iv
DAFTAR GAMBAR... v
BAB 1 PENDAHALUAN...10
1.1 Latar Belakang Masalah...10
1.2. Rumusan masalah...15
1.3. Tujuan Penelitian...15
1.4. Manfaat Penelitian...15
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...17
2.1 Landasan Teori... 17
2.1.1 Peran... 17
2.2 Pesantren... 22
2.2.1 Pengertian pesantren...22
2.2.2 Tipe –Tipe Pesantren...22
2.2.3 Karakteristik Pesantren...23
2.2.4 Peran dan Fungsi Pesantren...24
2.2.5 Tujuan Kelembagaan Pondok Pesantren...26
2.3 Pemberdayaan Ekonomi...26
2.3.1 Pengertian Pemberdayaan Ekonomi...26
2.3.2 Indkator Pemberdayaan ekonomi Masyarakat...31
2.4 Kajian Terdahulu...32
2.4.1 Perbedaan Penelitian Terdahulu...32.
2.5 kerangka Berfikir...39
2.5.1 Dasar Pemikiran...39
BAB III METODELOGI PENELITIAN...41
3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian...41
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian...41
3.3 Sumber Data Penelitian... 42
3.3.1 Data Primer...42
3.3.2 Data Sekunder...42
3.4 Populasi dan Sampel...42
3.4.1 Populasi...42
3.4.2 Sampel...43
3.5 Teknik Pengumpulan Data...43
3.5.1 Observasi...43
3.5.2 Wawancara...43
3.5.3 Dokumentasi...44
3.6 Metode Analisis Data...44
3.7 Keabsahan Data...45
DAFTAR PUSTAKA... 47
DAFTAR TABEL Tabel 1.1 perbedaan penelitian terdahulu...32
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Kerangka berpikir...40
BAB 1 PENDAHALUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah Negara yang mayoritas pendahuluan beragama Islam.
Menurut data dari The Pew Research Center tahun 2010 jumlah penduduk Indonesia yang menganut agama Islam sebesar 87,2% dari total penduduk atau sekitar 209,1 juta jiwa. Indonesia menyumbang populasi Muslim dunia sebesar 13,1%. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai Negara dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia (Katadata,(2016).
Islam datang ke Indonesia dengan jalan yang damai. Ada empat teori yang menjelaskan asal muasal kedatangan Islam di Nusantara yaitu (Husaian, 2017):
pertama,teori gujarat. Teori ini menjelaskan bahwa kedatangan Islam di Nusantara dibawa oleh pedagang India pada abad ke-12 Masehi. Pelopor dari teori ini adalah sarjana-sarjana yang berasal dari Belanda dari Pijnappe, Snouck Hurgronje,J.P Moquette dan Fatimi. Landasan dari teori ini adalah ditemukannya batu-batu nisan muslim yang mirip dengan batu nisan yang ada di India. Selain itu sedikitnya fakta yang menyebutkan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Nusantara juga menjadi dasar dari teori ini.
Kedua, teori Arab. Teori ini dikemukan oleh Sir Thomas Arnold, Crawfurd, Niemann, dan de Hollarder. Dasar teori ini adalah sumber historiografi yang ditemukan mengungkapkan bahwa orang-orang Arab yang mengislamkan
kerajaan Samudra Pasai, dan kerajaan Aceh. Selain itu, gelar-gelar raja Pasai adalah al-Malik yang mendapat pengaruh dari Mesir. Berbeda dengan gelar-gelar dari India dan Persia yakni Shah dan Khan. Mengenai awal mulanya Islam masuk ke Nusantara, sebuah seminar digelar pada tahun 1969 dan 1978, disimpulkan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-7 Masehi atau tahun pertama Hijriah.
Ketiga,teori Persia,Pencetus teori ini adalah P.A Hoesien Djajadiningrat yang berpendapat bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi.
Alasan beliau mengemukakan teori ini adalah karena ditemukannya persamaan budaya antara Nusantara dengan Persia.
Keempat, teori Cina. Pada abad ke -9 Masehi, para muslim Cina mengungsi ke Jawa dan Sumatra karena adanya penumpasan penduduk di wilayah Kanton dan Cina Selatan pada masa Huan Chou. Hal ini itu berdampak pada peninggalan arsitektur keislaman di Jawa yang banyak dipengaruhi budaya Cina.
Masuknya Islam secara damai ke Nusantara telah membawa banyak perubahan. Wilayah Nusantara yang sebelumnya didominasi kerajaan Hindu dan Budha menjadi menjadi didominasi oleh kerajaan Islam. Hal ini karena Islam masuk ke Nusantara pada masa akhir kejayaan kerajaan Hindu dan Budha.
Masukanya agama islam berbeda dengan masuknya agama Kristen yang dibawa oleh para penjajah dengan cara konialisme. Hal ini yang menyebabkan Islam cepat berkembang di Nusantara sehingga Islam menjadi agama mayoritas di Indonesai. Membahas mengenai Islam di Indonesia, pasti sangat erat kaitannya dengan pesantren. Pondok Pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan
agama islam yang tertua di Indonesia, yaitu dididirikan oleh para ulama dan wali pada abad pertengahan. Keterlibatan lembaga Pesantren secara aktif dalam pemberdayaan masyarakat, merupakan wujud dari komitmen pesantren terhadap masyarakat sekitar dalam peningkatan masyarakat baik individu maupun secara kelompok. Hal ini dimaksudkan untuk mencapai tingkat sumber daya yang optimum sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan dan mutu masyarakat yang bertumpu pada kemandirian. Semua itu menunjukkan bahwa kehadiran pesantren betul-betul memberikan berkah terhadap masayarakat sekitarnya. Keterlibatan pesantren dalam pemberdayaan masyarakat melalui sektor ekonomi, menciptakan suatu kondisi dimana peran pesantren tidak hanya sebatas sebagai tempat menuntut ilmu agama saja, akan tetapi adanya pemberdayaan ekonomi masyarakat yang ditimbulkan oleh peran Pondok Pesantren.
Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, dayah memiliki keunikan yang tidak dimiliki lembaga pendidikan lain, terutama lembaga pendidikan yang berasal dari Barat (Husain,2017). Agama islam yang menjadi mayoritas di negeri ini telah membuat banyak sekali pesantren berdiri di Indonesia. Hadirnya dayah bukan hanya sebatas sebagai tempat untuk menuntut ilmu. Tapi lebih dari itu, dayah memiliki peran yang tak kalah pentingnya.
Bahkan pada saat masa kolonialisme, peran santri begitu kuat dalam melawan para penjajah. Pada masa pra kemerdekaan, tokoh-tokoh seperti H.O.S.
Tjokroaminato, KH. Kahar Muzakkir memiliki pengaruh yang besar dalam merealisasikan kemerdekaan Indonesia (Hidayat, 2016).
Selama ini, sebagian besar besar orang hanya melihat potensi dayah dalam bidang pendidikan agama, pendidikan sosial dan politik. Padahal dayah memiliki potensi dalam bidang kesehatan, pengembangan teknologi, pemulihan lingkungan hidup dan bidang yang paling utama adalah pembedayaan perekonomian bagi masyarakat sekitar. Sehingga, dapat dikatakan bahwa fungsi pesantren yaitu sebagai pusat pengkaderan pemikir-pemikir agama (center of excellence), mencetak sumber daya manusia (human resource), dan juga melakukan pemberdayaan pada masyarakat (agent of development) (Nadzir,2015).
Potensi pemberdayaan ekonomi dayah bisa lebih dikembangkan untuk memajukan perekonomian masyarakat sekitar. Hal ini akan berdampak pada penguragan kemiskinan umat. Apabila model pemberdayaan ekonomi dayah dikembangkan dan dijalankan secara luas dalam suatu wilayah, misalnya kota atau provinsi, maka hal ini akan mengurangi jumlah kemiskinan di wilayah tersebut. Pada akhirnya, kesejahteraan di daerah tersebut akan meningkat.
Berdasarkan data pada bulan September 2018 yang bersumber dari Badan pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan Indonesia sebesar 9,66% atau sebesar 25,67 juta jiwa (Badan Pusat Statistik,2019). Walaupun telah mengalami penuran, jumlah masih harus kita minimalkan lagi. Suatu Negara dapat dikatakan sejahtera apabila tingkat kemiskinannya sangat rendah. Menurunkan tingkat kemiskinannya menjadi tugas bagi kita semua. Tak hanya pemerintah, rakyat pun juga harus bekerjasama untuk menuntaskan kemiskinan yang terjadi di Indonesia(Muhammad Anwar Fathoni 2019).
Menurut Fauroni (2014) dalam bukunya yang berjudul Model Bisnis, Ala Pesantren, kiprah dan peran pesantren dalam kancah sosial ekonomi Indonesia tidak pernah dipandang remeh. Jumlah pesantren di Indonesia, menurut data pesantren Kementrian Agama RI tahun 2009, mencapai 21.521 dengan total 3.818.469 santri. Dalam 20 tahun terakhir jumlah pesantren naik hampir empat kali lipat atau dalam enam tahun terakhir bertambah dua kali lipat. Sehingga bisa dilihat, bahwa pesantren mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan.
Dayah memiliki peran yang strategis untuk memberdayakan ekonomi umat. Dengan keunikan serta sumber daya yang dimilikinya, dayah dapat menjadi pionir dalam memajukan perekonomian masyarakat. seperti dayah Darul Munawarah Ulee Glee Kab. Pidie jaya, Dayah Ulee titi Kab. Aceh Besar dan Dayah Budi Kab. Aceh Jaya. Pemerintah telah menetapkan uandang-undang Nomor 20 tahuh 2008 tentang Usaha Mikro Kecil Menengah, dan Nomor 17 Tahun 2013 tentang pelaksanaan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil Menengah, maka dengan adanya Undang-undang tersebut sangat membantu dalam mendukung terhadap pesantren untuk perekonomian masyarakat sekitar.
Perekonomian Aceh bedasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan IV-2024 mencapai Rp.65,36 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp.40,85 triliun.(BPS 2024).
Ekonomi Aceh, Zein Surya, dalam wawancara dengan RRI Banda Aceh, menyampaikan bahwa perekonomian Aceh di awal tahun 2025 masih dalam kondisi stabil dengan tingkat inflasi sebesar 0,76%. Angka tersebut masih di
bawah 1% karena pergerakan ekonomi pada Januari cenderung datar dan belum ada lonjakan besar dalam aktivitas ekonomi.
Menurut Zein, inflasi di Aceh sejalan dengan inflasi nasional yang juga berada pada angka 0,76%. “Hal ini dikarenakan pada bulan Januari, perekonomian masih sangat flat, belum ada pergerakan besar. Biasanya, lonjakan inflasi akan muncul setelah APBD diluncurkan dan dana mulai beredar di masyarakat,”
ujarnya.
Meskipun inflasi masih terkendali, tingkat kemiskinan di Aceh mencapai 8,57% pada awal tahun 2025. Menurut Zein, angka ini merupakan dampak dari kondisi ekonomi tahun 2024 yang mengalami perlambatan.
“Biasanya tingkat kemiskinan di atas 15%, tetapi pada awal tahun ini turun menjadi 8,57%. Namun, perlu dicatat bahwa kondisi ini masih bisa berubah seiring dengan kebijakan ekonomi yang diterapkan,” jelasnya.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Aceh tercatat mencapai 5,03%
hingga September 2024. Meski data terbaru untuk tahun 2025 belum dirilis, ia menegaskan bahwa peran pemerintah melalui APBD dan APBN sangat penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Zein juga menyoroti adanya deflasi sebesar 0,47% secara bulanan pada awal tahun. Bahwa fenomena ini menyebabkan harga-harga barang turun, termasuk harga emas.
“Desember lalu harga emas turun, sehingga daya beli masyarakat terhadap emas meningkat. Mereka cepat-cepat membeli dengan harapan harga kembali naik,” katanya.
Namun, ia mengingatkan bahwa deflasi yang berkepanjangan juga dapat berdampak negatif terhadap produksi. “Ketika harga tidak naik, produsen enggan memproduksi barang dalam jumlah besar. Hal ini bisa menyebabkan stok barang menipis dan justru berdampak negatif pada perekonomian ke depannya,”
tambahnya.
Dengan kondisi perekonomian yang masih stabil, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara inflasi dan deflasi untuk memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga serta sektor produksi tetap berjalan optimal.
“Perekonomian yang sehat membutuhkan keseimbangan. Pemerintah dan masyarakat harus bersama-sama menjaga stabilitas ini agar pertumbuhan ekonomi tetap berjalan baik”.
Desa Mideun Jok adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Samalanga kabupaten Bireuen. Di desa Mideuen Jok kecamatan Samalanga terdapat pondok pesantren Ma’hadal Ulum diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI MESRA) yang didirikan pertama oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Dayah MUDI MESRA sangat identic dengan Masjid Raya Samalanga karena pendidikan pesantren MUDI MESRA pada awal mulanya berpusat di mesjid.
Mesjid Raya Samalanga merupakan salah satu Mesjid tertua di Aceh selayaknya Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Masjid Raya Samalanga lah yang menjadi cikal bikal lahirnya pesantren MUDI MESRA. Masjid ini bernama
Mesjid Raya Po Teumereuhom Samalanga.Pesantren MUDI MESRA dipimpin oleh Abu Syekh H.hasanoel Bashry bin H. Gadeng atau yang sering disebut Abu Mudi beliau memimpin dayah MUDI MESRA dati tahun 1989 sampai dengan sekarang, sebagai lembaga pendidikan formal dan non-formal yang menyelenggarakan pendidikan pesantren salafi, pada jenjang ini para santri fokus kepada tafaqquhfiddin, tahapan ini dimulai semenjak kelas Tahhijzi hingga kelas tujuh, mu’adalah Wustha jenjang ini dikhususkan kepada santri yang masuk ke pesantren dengan ijazah SD,MIN. Mu’adalah Ulya jenjang ini dikhususkan bagi santri yang masuk dengan ijazah SMP,MTS. Ma’had Aly M1 jenjang yang dikhususkan kepada para santri lulusan Mu’adalah Ulya dayah mudi, Ma’had Aly Marhalah Tsaniyyah M2, jenjang ini ditujukan kepada lulusan M1 Mahad Aly dan dan S1 lulusan PTKI yang fokus di bidang tafaqquhfiddin, TPA Muhazzabul Akhlak Al-Aziziyah.
Kondisi ekonomi di Kecamatan Samalanga saat ini masih didominasi oleh sektor pertanian, perikanan, dan usaha mikro berbasis masyarakat. Pemerintah terus berupaya meningkatkan infrastruktur untuk mendukung perekonomian, seperti pembangunan Jembatan Tutu Panyang yang diharapkan dapat memperlancar konektivitas dan distribusi barang. Selain itu, alokasi dana desa dari pemerintah pusat juga membantu pemberdayaan ekonomi lokal melalui berbagai program pembangunan.
Berbiacara mengenai pemberdayaan, baik pemberdayaan sumber daya manusia, pemberdayaan sumber daya lingkungan maupun sumber daya ekonomi, maka dipandang perlu adanya suatu wadah untuk memfalisitasi gerak langkah
pemberdayaan itu sendiri, baik yang bersifat kelembagaan maupun non kelambagaan. Salah satu lembaga pendidikan yang mengambil pemberdayaan masyarakat adalah dayah.
Salah satu dayah yang memberdayakan masyarakat dalam bidang ekonomi adalah dayah ma’hadal ulum diniyah islamiyah measjid raya yang merupakan salah satu pesantren yang ada di Desa Mideun Jok yang sangat mementingkan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar, karena dayah MUDI MESRA mempunyai santriwan dan santriwati sebanyak 6000-an sedangkan dewan guru sebanyak 1000-an yang tercatat dari berbagai daerah sehingga sangat memungkinkan bagi para warga sekitar untuk berwirausaha di sekita dan di dalam lingkungan dayah.
Pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh dayah ma’hadal ulum diniyah islamiyah mejid raya kepada masyarakat ataupun warga sekitar sangat membantu roda perekonomian yang ada, wirausaha yang dilakukan oleh warga sekitar tidak hanya sebatas membantu perekonomian masyarakat sekitar tetapi juga membantu kebutuhan santriwan dan santriwati yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari dalam menjalani pendidikan selama didalam dayah, dayah ma’hadal ulum diniyah islamiyah mejid raya dalam hal memberdayakan sumber daya masyarakat yang ada, dengan cara berjualan di dalam dan disekitar pesantren sangatlah membantu perekonomian masyarakat sekitar, pemberdayaan yang dilakukan oleh pondok pesantren dengan sistem saling menguntungkan antara pihak pondok pesantren dengan masyarakat dengan berjualan di dalam dan di
sekitar pondok pesantren mengakibatkan roda perekonomian semakin berkembang.
Dari uraian latar belakang di atas maka penulis tertarik mengangkat sebagai sebuah penelitian dalam bentuk profosal di kaji lebih lanjut adalah tentang “PERAN DAYAH MA’HADAL ULUM DINIYAH ISLAMIYAH MESJID RAYA (MUDI MESRA) DALAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT DI SAMALANGA”.
1.2. Rumusan masalah
Dari latar belakang dan fenomena yang telah dikemukakan di atas, penulis dapat merumuskan permasalahan yaitu :
1. Bagaimana Peran dan Strategi Dayah Ma’hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI MESRA) dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat Samalanga?
2. Sejauh mana dampak ekonomi yang dihasilkan oleh Ma’hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI MESRA) terhadap masyarakat Samalanga?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapaun tujuan penelitian ini yaitu :
1. Menganalisis peran dayah Ma’hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI MESRA) dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat Samalanga 2. Menilai dampak ekonomi yang dihasilkan oleh dayah Ma’hadal Ulum
Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI MESRA) terhadap masyarakat Samalanga.
1.4. Manfaat Penelitian
Pada bagian mamfaat penelitian yang akan berisikan tentang suatu kontribusi yang diberikan penulis setelah menyelesaikan penelitiannya. Hasil dari penelitian ini berharap dapat bermaafat bagi masyarakat dan lingkungan sekitras secara teoritis dan praktis, yaitu :
1. Manfaat Teoritis
a. Dalam penelitian ini, peneliti mengharapkan bentuk dari kemamfaatan sacara teoritis yang dimana akan memberikan sekurang-kurangnya dapat digunakan sebagai bahan pemikiran, serta pengetahuan dan wawasan tentang bagaimana Peran Dayah Ma’hadal Ulum diniyah Islamiyah Mesjid Raya ( Mudi Mesra) Dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Samalanga.
b. Memberikan referensi bagi penelitian selanjutnya yang membahas ekonomi berbasisdayah.
c. Memperkaya literatur mengenai ketertarikan antara pendidikan Islam dan pembangunan ekonomi.
2. Mamfaat Praktis
a. Bagi Dayah: memberikan wawasana tentang strategi dan model pemberdayaan ekonomi yang efektif.
b. Bagi masyarakat: Memberikan informasi tentang peluang ekonomi yang dapat dikembangkan melalui dayah.
c. Bagi pemerintah: menjadi bahan pertimbangan dalam merancang kebijakan yang mendukung peran pesantren dalam pemberdayaan ekonomi.
d. Bagi Akademisi dan Peneliti: Menjadi referensi dalam pengembangan kajian tentang ekonomi berbasis dayah.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Peran
2.1.1 Pengertian Peran
Soerjono Soekanto yaitu peran merupakan aspek dinamis kedudukan (status), apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu peranan. Dari hal diatas lebih lanjut kita lihat pendapat lain tentang peran yang telah ditetapkan sebelumnya disebut sebagai peranan normatif. Peran meliputi norma-norman yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakat.
Teori peran mengambarkan interaksi sosial dalam teminologi aktoraktor yang ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berprilaku dalam kehidupan sehari-hari. Poewadarminta Peran adalah suatu tindakan yang dilakukan seseorang bedasarkan peristiwa yang melatarbelakangi. Peristiwa tersebut bisa dalam hal baik dan hal buruk sesuai dengan lingkungan yang sedang mempengaruhi dirinya untuk bertindak.
Dari pengertian atas, dapat disimpulkan bahwa peran adalah suatu tindakan atau perilaku yang diharapkan oleh sekelompok orang atau lingkungan untuk dilakukan oleh seseorang individu, kelompok, organisasi, badan atau
lembaga yang karena status atau kedudukan yang dimilikinya akan memberikan pengaruh.
2.1.1 Pengertian Peran dalam Perspektif Islam
Dalam Islam, peran seseorang mencerminkan tanggung jawab dan fungsi yang harus dijalankan sesuai dengan syariat Allah dan perannya dalam masyarakat. Berikut adalah beberapa peran utama menurut perspektif Islam:
1. Peran sebagai Hamba Allah (ʿAbdullāh)
Setiap manusia diciptakan untuk menyembah Allah. Dalam Al-Qur'an disebutkan:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Peran ini meliputi pelaksanaan ibadah wajib (seperti salat, puasa, zakat, dan haji) serta menjauhi segala larangan-Nya.
2. Peran sebagai Khalifah di Bumi.
Manusia diberi amanah untuk menjadi pemimpin atau pengelola bumi:
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi...'" (QS. Al-Baqarah: 30).
Peran ini melibatkan menjaga keseimbangan alam, menegakkan keadilan, dan memakmurkan bumi sesuai dengan syariat.
3. Peran dalam Keluarga
Sebagai suami/istri: Suami bertanggung jawab memimpin dan menafkahi keluarga, sedangkan istri berperan menjaga rumah tangga dan mendidik anak.
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan..." (QS. An-Nisa: 34).
Sebagai orang tua: Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anak dengan nilai-nilai Islam.
"Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6).
Sebagai anak: Anak wajib menghormati, mematuhi, dan berbakti kepada orang tua selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
4. Peran sebagai Anggota Masyarakat
Islam mengajarkan setiap individu untuk menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR.
Ahmad).
Hal ini meliputi membantu sesama, bekerja dengan jujur, menegakkan keadilan, dan berpartisipasi dalam kebaikan.
5. Peran dalam Menegakkan Syariat
Setiap Muslim bertanggung jawab mendukung tegaknya syariat dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.
"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar." (QS.
Ali Imran: 104).
6. Peran sebagai Penuntut Ilmu
Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim:
"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim (laki-laki dan perempuan)."
(HR. Ibnu Majah).
Ilmu digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah, menjalankan amanah, dan berkontribusi kepada umat.
2.2 Dayah
2.2.2 Pengertian Dayah
Dalam bahasa Aceh, istilah untuk “lembaga” yang dikenal dengan nama pesantren di Jawa dan seluruh Indonesia adalah dayah (James, 1969:48). Kata dayah, juga sering diucapkan deyah oleh masyarakat Aceh Besar, diambil dari bahasa Arab yaitu zawiyah (Hurgronje, 1906:63). Istilah zawiyah, yang secara literal bermakna sebuah sudut, diyakini oleh masyarakat Aceh pertama kali digunakan sudut Masjid Madinah ketika Nabi Muhammad berdakwah pada masa
awal Islam (Mohd. Basyah, 1987:7). Orang-orang ini, sahabat Nabi, kemudian menyebarkan Islam ketempat-tempat lain. Pada abad pertengahan, kata zawiyah dipahami sebagi pusat agama dan kehidupan mistik dari penganut tasawuf, karena itu, didominasi hanya oleh ulama perantau, yang telah dibawa ketengah-tengah masyarakat (Gibb, 1961:657). Dayah berasal dari kata zawiyah, kata ini dalam bahasa arab mengandung makna sudut, atau pojok mesjid. Kata zawiyah mula- mula dikenal di afrika utara pada masa awal perkembangan Islam, zawiyah yang dimaksud pada masa itu adalah satu pojok mesjid yang menjadi halaqah para sufi, mereka biasanya berkumpul bertukar pengalaman, diskusi, berzikir dan bermalam di mesjid. Dalam khazanah pendidikan Aceh, istilah zawiyah berubah menjadi dayah, seperti halnya perubahan istilah madrasah menjadi menasah (Azkia, 2007:107). Menelusuri pengertian dayah yang sesungguhnya tentunya juga merujuk pada masa Rasulullah Saw, karena pada masa itu ungkapan zawiyah berdasarkan pada sebuah pojok mesjid yang sering dijadikan untuk melakukan pengajaran dan diskusi tentang kemaslahatan umat islam pada masa itu. Dan pemaknaan dayah sendiri banyak menimbulkan pengertian dikalangan para ahli, namun semuanya memberikan gambaran yang sama yaitu sebuah tempat untuk belajar tentang pendidikan Islam(Tapak and Email, n.d.).
Pendidikan dayah, di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan pesantren termasuk jenis pendidikan keagamaan. Pendidikan keagamaan merupakanpendidikan yang sedemikian rupa menyiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan perannya sebagai warga negara dengan dasar penguasaan pengetahuan khusus ajaran agama yang bersangkutan (UU No. 20/2003: pasal 11
ayat (6). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan pasal 14 menyatakan bahwa pendidikan keagamaan Islam dapat berbentuk pendidikan diniyah dan pesantren. Ayat (3) dalam peraturan pemerintah tersebut menjelaskan bahwa pesantren dapat menyelenggarakan satu atau berbagai satuan dan/atau program pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Artinya, pendidikan pesantren dapat mengintegrasikan program pada jalur formal, nonformal, dan informal. Pasal 13 ayat (4) menjelaskan tentang syarat pendirian satuan pendidikan keagamaan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3) yakni terdiri atas: isi pendidikan, jumlah dan kualifikasi pendidik dan tentang kependidikan, sarana dan prasarana yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan pembelajaran, sumber pembiayaan untuk kelangsungan program pendidikan sekurang-kurangnya untuk satu tahun pendidikan/akademik berikutnya, sistem evaluasi, dan manajemen dan proses pendidikan.(ZA et al. 2021)
Institut pendidikan Islam Ma’ahadal Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI MESRA) terletak di kecamatan Samalanga, kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, di gampong Mideun Jok, pemukiman mesjid yang lebih besar. Sultan Iskandar Muda meletakkan batu pertama untuk pembangunan Mesjid Agung Dayah Mudi bersama dengan Mesjid Poe Teumerehom (1607-1636 M) (Nasir, 2022; LPI Mudi Mesra, 2022)(Tsanawiyah and Hidayatus 2023).
Dalam rentang sejarah, dengan segala keterbatasannya, Dayah masih menjadi salah satu tumpuan harapan dalam mengemban misi teologis dan
pengembangan intelektual. Hingga saat ini, Dayah telah terpola menjadi tiga, yaitu :Dayah salafi, khalafi dan kombinasi(Tapak and Email, n.d.).
2.2.3 Karakteristik Dayah
Dayah merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang unik dan memiliki ciri-ciri dan karakteristik yang membedakan lembaga pendidikan ini dengan lembaga pendidikan lain (Muliawan, 2005). Beberapa ciri dan
karakteristik khusus atau elemen dasar yang dimiliki dayah antara lain adalah:, masjid, pondok, santri, kyai, dan kitab-kitab klasik yang membedakan sistem pendidikan dayah. dengan sistem pendidikan lembaga pendidikan lainnya (Anas, 2012).(ZA et al. 2021)
Terdapat lima unsur yang melekat pada pesantren yaitu:
1)Masjid
Masjid merupakan unsur pokok utama dari dayah, disamping berfungsi sebagai tempat melakukan sholat berjamaah setiap waktu sholat, juga berfungsi sebagai tempat belajar mengajar.
2) Pondok
Pondok atau tempat tinggal para santri merupakan ciri khas tradisi dayah yang membedakannya dengan sistem pendidikan lainnya yang berkembang di kebanyakan wilayah Islam di Negara-Negara lain.
3) Kyai
Keberadaan kyai dalam dayah sangat sentral sekali. Suatu lembaga pendidikan Islam disebut pesantren apabila memiliki tokoh sentral yang disebut kyai. Menurut Ali, Kyai dalam dunia dayah sebagai penggerak dalam mengembangkan dayah sesuai dengan pola yang dikehendaki.
4) Santri
Santri adalah siswa atau murid yang belajar di dayah.
Seseorang dapat disebut disebut kyai kalau memiliki santri yang tinggal dalam dayah tersebut untuk mempelajari ilmu-ilmu agama Islam melalui kitab-kitabb biasanya juga berkaitan dengan adanya santri di dayah nya.
5) Pengajaran Kitab Klasik
Kitab-kitab Islam Klasik dikenal juga dengan istilah kitab kuning merupakan warna kitab dahulu bewarna kekuningan, biasanya dikarang para ulama terdahulu mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan agama islam.
2.2.4 Peran dan Fungsi Dayah
Bedasarkan sebuah dayah di suatu wilayah membuat dayah tersebut tersebut memiliki peran strategis yang dapat membuat wilayah tersebut lebih berkembang. Sejak tahun 1970-an. dayah telah banyak memainkan peran strategis. Peran strategis dayah tercakup peran dalam bidang perekonomian sosial dan politik .(Lugina,2017).
Adapun fungsi dayah adalah sebagai berikut:
1) Pondok Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan
Sebagai suatu lembaga pendidikan Islam, pesantren dari sudut historis kultural dapat dikatakan sebagai “training center” yang otomatis menjadi “cultural training” Islam yang disahkan atau dilembagakan oleh masyarakat, setidak-tidaknya oleh masyarakat Islam sendiri yang secara defactor tidak dapat diabaikan oleh pemerintah. Pondok pesantren memiliki model-model pengajaran yang bersifat non klasikal, yaitu model yang didalamnya terdapat seorang kyai yang membaca kitab dalam waktu tertentu, sedangkan santrinya membawa kitab yang sama, lalu santri mendengarkan dan menyimak becaan kyai. Dan sorongan, yaitu santri cukup pandai men “sorong” kan (mengajukan) sebuah kitab kepada kyai untuk dibaca dihadapannya, kesalahan dalam membaca itu langsung dibenarkan oleh kyai.
Di Dayah MUDI MESRA Samalanga terdapat tujuh orang Pengajar Bahasa Inggris yaitu : Tgk. Mahlil, Tgk. Masrizal,, Tgk.
Sulaiman, Tgk. Aziz Faizin, Tgk Munawar dan Tgk. Fikri. Semua pengajar bahasa Inggris di asraman putra tersebut adalah alumni Dayah MUDI MESRA Samalanga dan dayah-dayah lain di Aceh. Model atau pembelajaran Bahasa bertujuan untuk mencetak tenaga-tenaga pengajar Islam yang disamping menguasai materi-materi keislaman tapi juga secara skills atau ketrampilan mampu berbicara dan menulis secara lancar dua
bahasa Asing yang dianggap sebagai pakaian dayah yaitu bahasa Arab dan bahasa Inggris(Azhar 2017).
Di Dayah MUDI MESRA, sistem mengaji dilakukan secara terstruktur dengan pendekatan tradisional yang telah disesuaikan dengan tuntutan zaman. Beberapa ciri utamanya adalah:
1. Pembelajaran Tatap Muka:
Santri mengikuti sesi mengaji secara langsung dengan pengajar (ustadz/ustadzah) yang memberikan penjelasan tentang bacaan, tajwid, dan makna ayat. Metode ini menitikberatkan pada interaksi langsung antara pengajar dan santri.
2. Jadwal Rutin:
Kegiatan mengaji di Dayah MUDI diadakan secara rutin setiap hari, baik sebelum atau sesudah pelajaran formal. Jadwal ini dirancang agar santri mendapatkan konsistensi dalam mempelajari Al-Qur’an dan materi keagamaan lainnya.
Jadwal mengaji di Dayah MUDI MESRA umumnya disusun secara terstruktur setiap hari, meskipun bisa ada sedikit variasi sesuai dengan kegiatan dan kebutuhan dayah. Secara umum, jadwal tersebut meliputi:
a. Sesi Pagi:
Dimulai setelah sholat Subuh, biasanya antara pukul 05.00 hingga 07.00. Pada waktu ini, santri melakukan pembacaan Al-Qur’an dan hafalan ayat-ayat penting melalui metode muraja’ah.
b. Sesi Siang:
Sebelum atau setelah makan siang, biasanya diadakan pengulangan hafalan dan pembelajaran tajwid. Waktu tepatnya dapat bervariasi, misalnya sekitar pukul 11.00–12.00 atau setelah sholat Dzuhur.
3. Sesi Sore/Malam:
Setelah sholat Ashar atau Maghrib, diadakan kembali sesi muraja’ah atau pengulangan materi yang telah diajarkan. Pada malam hari, ada juga sesi pengajian yang mengintegrasikan pembelajaran Al-Qur’an dengan nilai-nilai etika dan keagamaan.
Jadwal tersebut dirancang agar santri mendapatkan konsistensi dalam belajar dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an, serta dapat menyeimbangkan antara kegiatan akademik dan ibadah. Untuk informasi yang lebih tepat mengenai jadwal harian, sebaiknya mengonfirmasi langsung dengan pengelola Dayah MUDI karena jadwal dapat disesuaikan dengan kondisi dan program kegiatan yang sedang berjalan ( Kanal Aceh, 2024).
3. Metode Pengulangan (Muraja’ah):
Selain membaca, para santri diajak untuk mengulangi hafalan dan memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an melalui metode muraja’ah. Hal ini membantu meningkatkan daya ingat dan pemahaman mereka terhadap teks suci.
4. Pendekatan Tematik dan Kontekstual:
Materi pengajaran sering kali diintegrasikan dengan pelajaran tentang etika, akhlak, dan nilai-nilai kehidupan, sehingga santri tidak
hanya hafal, tetapi juga memahami aplikasi ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
5. Penggunaan Teknologi:
Dalam beberapa kesempatan, Dayah MUDI juga mengintegrasikan teknologi, misalnya dengan bantuan audio visual atau aplikasi digital untuk mendukung proses pembelajaran, sehingga metode tradisional dapat berjalan lebih efektif.
Dengan sistem ini, Dayah MUDI berusaha mencetak santri yang tidak hanya fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami serta mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari.
2) Dayah Sebagai Lembaga Dakwah
Pengertian sebagai lembaga dakwah, melihat kiprah dayah dalam kegiatan dakwah dikalangagn masyarakat,dalam arti kata melakukan suatu aktifitas menumbuhkan kesadaran beragama atau melaksanakan sebagai ajaran-ajaran agama secara konsekuen sebagai pemeluk agama Islam.
Sebagaimana kita ketahui bahwa semenjak berdirinya dayah merupakan pusat penyebaran agama Islam baik dalam masalah aqidah, atau syari’ah di Indonesia. Fungsi dayah sebagai penyiaran agama (lembaga dakwah) terlihat dari elemen pondok pesantren itu sendiri yakni mesjid dayah, yang operasionalnya juga berfungsi sebagai mesjid umum, yaitu sebagai tempat belajar agama dan ibadah masyarakat umum. Mesjid dayah sering dipakai
masyarakat umum untuk menyelenggarakan majelis ta’lim (pengajian) diskusi-diskusi keagamaan dan lain sebagainya.
3) Dayah Sebagai Lembaga Sosial Ekonomi
Sebagai lembaga sosial, dayah menampung anak dari segala lapisan masyarakat muslim tanpa membeda-bedakan tingkat sosial ekonomi orang tuanya. Biaya hidup di pesantren relatif lebih murah pada di luar dayah, sebab biasanya para santri mencukupi kebutuhan sehari- harinya dengan jalan patungan atau masak bersama, bahkan ada diantaranya mereka yang gratis, terutaman bagi anak-anak yang kurang mampu atau yatim piatu. Sebagai lembaga sosial, dayah ditandai dengan adanya kesibukan akan kedatangan para utama dari masyarakat, kedatangan mereka adalah untuk bersilaturrahmi, berkonsultasi, minta nasehat “doa”, berobat, minta ijazah yaitu semacam jimat untuk menagkat gangguan dan lain sebagainya.
Tugas kemasyarakatan dayah sebenarnya tidak mengurangi arti tugas keagamaannya, karean dapat berupa penjabaran nilai-nilai hidup keagamaan bagi kemaslahatan masyarakat luas. Dengan fungsi sosial ini, dayah diharapkan peka dan menanggapi persoalan-persoalan kemasyarakatan, seperti: memilihara tali persaudaraan memberantas kebodohan dan sebagainya.
Menurut Nur Syam bahwa dayah adalah lembaga pendidikan keagamaan yang memerankan peranan sebagai Instutusi Sosial, sehingga fungsi dayah dapat diperoleh sebagai berikut:
a. Sebagai sumber nilali dan moralitas
b. Sebagai pendalaman nilai dan ajaran keagamaan
c. Sebagai pengendali (filter) bagi perkembangan moralitas kehidupan spiritual
d. Sebagai perantara berbagai kepentingan yang timbul dan berkembang dalam masyarakat
e. Sebagai praktisi dalam kehidupan dan f. Pesantren sebagai pemberdayaan masyarakat 2.2.5 Kurikulum Pembelajaran
Berdasarkan hasil penelitian, Dayah MUDI MESRA Samalanga melakukan beberapa pembaharuan terhadap kurikulumnya untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan santri serta masyarakat, agar tidak tertinggal sesuai dengan perkembangan zaman. Pembaharuan tersebut dilakukan terutama pada tiga aspek penting, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Sejalan dengan yang dikemukakan oleh Oviyanti bahwa manajemen kurikulum adalah meliputi kegiatan perencanaan,pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan atau evaluasi (Oviyanti, 2015). Maka rangkaian proses manajemen kurikulum di lembagapendidikan cakupannya hampir sama dengan cakupan manajemen secara umum, yaitu: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan atau evaluasi dan mengupayakan efektivitas pembelajaran. Adapun perencanaan kurikulum didahului dengan kegiatan kajian kebutuhan (needs assessment) secara akurat agar pendidikan dayah fungsional (Usman et al., 2019). Kajian kebutuhan tersebut dikaitkan dengan era global, di mana pendidikan itu berbasis kepada
kecakapan hidup (life skills) yang sesuai dengan lingkungan santri (Usman et al., 2018). Pelaksanaan kurikulum juga mempunyai tiga pendekatan kecerdasan majemuk (multiple inteligence) dan pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning). Sedang evaluasinya menerapkan penilaian secara universal terhadap semua kompetensi santri (authentic assessment) (Tabrani ZA, 2009). Dalam dunia pendidikan, kurikulum merupakan komponen vital dalam menentukan arah dan pengembangan, serta kebijakan bagaimana tujuan pendidikan tercapai (Muhaimin, 2006). Secara konseptual, sebenarnya Dayah MUDI MESRA optimis akan mampu dalam memenuhi tuntutan reformasi pembangunan nasional, karena fleksibilitas dan keterbukaan sistemik yang melekat, maksudnya perwujudan masyarakat berkualitas dapat dibangun melalui kurikulum Dayah yang berusaha membekali para santri untuk menjadi subyek pembangunan yang mampu menampilkan keunggulan santri, yang tangguh, kreatif, dan profesional pada bidangnya masing-masing. Berdasarkan hal tersebut, pembaharuan kurikulum pada Dayah MUDI MESRA Samalanga sejalan dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa: ‚Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yangdigunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Republik Indonesia, 2005). Kurikulum Dayah MUDI Mesra Samalanga dirancang secara akomodatif dengan sistem terpadu, artinya mata pelajaran yang diberikan adalah merupakan akumulasi dari kurikulum nasional dan kurikulum
lokal. Dalam proses metode dan pendidikan di lembaga dayah MUDI Mesra Samalanga terdiri dari tiga tingkatan, yaitu:
1) Tajhizi (Matrikulasi) 1 tahun;
2) `Aliyah 3 tahun;
3) Takhassus (Ma`had Aly) 4 tahun.(ZA et al. 2021) 2.2.6 Tujuan Kelembagaan Dayah
Menurut Hasbullah tujuan pokok dari kembagaan dayah adalah sebagai berikut:
1) Tujuan Umum
Membimbing anak didik untuk menjadi manusia yang berkepribadian Islam yang dengan ilmu agamanya ia sanggup menjadi mubalig Islam dalam masyarakat.
2) Tujuan Khusus
Mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dan ilmu agama yang diajarkan oleh kyai yang bersangkutan serta mengamalkan dalam masyarakat. Jadi dapat disimpulkan tujuan pokok lembaga pendidikan pesantren adalah untuk mempersiapkan santri menjadi pimpinan yang berakhlak dan beragama serta berkepribadian Islam.
Sebagaimana diungkapkan oleh Oemar Hamalik bahwa pembelajaran merupakan suatu sistem dengan komponen-komponen yang saling berkaitan untuk melakukan suatu sinergi, yaitu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, karena pembelajaran adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengajarkan peserta didik (Hamalik, 2001). Pembelajaran berbeda dengan belajar, karena
pembelajaran menurut Hamalik, adalah acara menjadikan orang atau makhluk hidup untuk belajar (Hamalik, 2001). Tujuan pembelajaran merupakan kompetensi yang harus dicapai dan harus mencerminkan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapat diperlihatkan oleh seseorang setelah menempuh proses pembelajaran (Idris et al., 2018). Dalam proses pembelajaran, Dayah MUDI Mesra Samalanga lebih mengedepankan pada usaha menjadikan santri sebagai subjek pendidikan, artinya santri ikut terlibat aktif dalam setiap pembelajaran. Dengan keaktifan santri tersebut diharapkan tujuan pembelajaran bisa tercapai secara maksimal. Sedangkan peran seorang guru dalam proses pembelajaran lebih diarahkan sebagai fasilitator yang berusaha mengaktifkan siswa dalam setiap pembelajaran, dan juga berperan sebagai pembawa nilai kebenaran yang patut diteladani dan yang mampu memberikan teladan yang baik terhadap santrinya sehingga terdapat umpan balik (feed back) dari proses pembelajaran tersebut. Umpan balik (feed back) yang dimaksud dalam konteks ini merupakan informasi yang diperlukan untuk meningkatkan efektivitas proses dalam sebuah sistem pembelajaran. Umpan balik dapat digunakan sebagai fasilitas untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran agar lebih efektif dan efisien (Pribadi, 2009). Semua komponen dalam sistem pembelajaran memiliki peran dan fungsi yang saling terkait satu sama lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya (Sagala, 2010). Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data di lapangan, proses pembelajaran di Dayah MUDI Mesra Samalanga, dalam pelaksanaannya tidak terpaku hanya di dalam kelas, akan tetapi juga dilaksanakan di luar kelas. Seperti di masjid, balai, qabilah, halaman dayah
dan bahkan di bilik guru/teungku. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa, dari tujuan khusus pembelajaran pada Dayah MUDI Mesra Samalanga yaitu membangun generasi yang beriman dan bertakwa sehingga dengan keimanan dan ketakwaan tersebut santri mampu menghadapi arus globalisasi yang terjadi saat ini. Di mana untuk mencapai tujuan tersebut diajarkan berbagai mata pelajaran yang mengkaji kitab-kitab klasik (arab gundul) yang diintegrasikan dengan mata pelajaran-mata pelajaran umum yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan era modern. Jadi, generasi yang beriman adalah generasi yang mampu menguasai ilmu agama dan umum baik secara pengetahuan maupun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.(ZA et al. 2021)
2.3 Pemberdayaan Ekonomi
2.3.1 Pengertian Pemberdayaan Ekonomi
Menurut kamus bahasa Indonesia, pemberdayaan berasal dari kata yang daya yang berarti tenaga dan kekuatan, proses, cara, perbuatan memberdayakan.
Pemberdayaan adalah sebuah proses dan tujuan sebaimana yang dikemukakan oleh Suharto (2005: 59-60). Sebagai proses, pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami masalah kemiskinan.
Sedangkan sebagai tujuan, pemberdayaan adalah hasil yang di capai dari perubahan sosial, yaitu maysarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan atau kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomi, maupun sosial, serta mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata
pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
Menurut Suharto, pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang, khususnya kelompok rentan dam lemah sehingga mereka memiliki kekuatan atau kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasarnya hingga memiliki kebebasan (freedom). Dalam arti bukan saja bebas mengemukakan pendapat, melainkan bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, dari kesakitan, menjangkau sumber- sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang diperlukan, serta berpatisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi kehidupan mereka.
Pada dasarnya, pemberdayaan merupakan penciptaan suasana yang memungkinkan potensi masyarakat dapat berkembang. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa tidak ada masyarakat yang sama sekali tidak memiliki daya. Setiap masyarakat pasti memiliki daya, akan tetapi kurang menyadari bahkan tidak diketahui secara eksplisit.
Konsep pemberdayaan tidak lepas kaitannya dengan konsep demokrasi.
Karena tujuan utama pemberdayaan adalah untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Konsep ini dilandasi untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia yang mendasar sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945 pada alinea 4 adalah menjadi bangsa yang terlindungi, sejahtera, cerdas dan
bersolidaritas tinggi. Adapun bunyi Pembukaan UUD 1945, alinea 4 sebagai berikut :“ Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenab bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang bedasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Cita-cita ini menggariskan makna sejahtera secara merata.(Di and Bireuen 2015)
2.3.2 Pemberdayaan Ekonomi Menurut Perspektif Islam
Pemberdayaan berasal dari kata daya. Kata daya bermakna kemampuan dan kekuatan.Dalam bahasa Inggris pemberdayaan berasal dari kata empowerment yang berarti pemberkuasaan. Dalam arti pemberian kekuasaan atau kekuatan kepada masyarakat yang lemah atau tidak mampu. Dalam bahasa Arab pemberdayaan disebut dengan tamkin. Kata tamkin berasal dari kata makkana yang memiliki arti menguatkan atau mengokohkan. DalamAlquran kata tamkin dan semua turunan katanya disebutkan sebanyak 18 kali. Alquran tidak membatasi kata tamkin dalam suatu istilah yang khusus, tetapi hal tersebut digunakan untuk menyebutkan beragam makna sebagaimana disebutkan dalam kamus-kamus bahasa. Di dalam ‘ulum al-Qur’an disebut dengan kata wujuh yaitu satu kata yang memiliki ragam makna. Paling tidak Alquran mengunakan kata tamkin untukmenunjukkan pada makna berikut ini: 8
1. Tamkin berarti pemberian kekuasaan atau kerajaan Firman Allah dalam QS. al-Kahfi ayat 84 :
Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.
Kata انكم terambil dari kata ينكتم yang berarti memungkinkan dan menjadikan bisa dan mampu. Kemampuan yang dimaksud adalah kemantapan dalam hal kekuasaaan dan pengaruh. Allah memantapkan bagi Dzulqarnain kekuasaan dengan menganungerahkan kepadanya pengetahuan tentang tata cara mengendalikan wilayah, serta mempermudah baginya perolehansarana dan prasarana agar tercapai maksudnya.
2. Tamkin berarti kedudukan sisi penguasa
Firman Allah dalam QS. Yusuf ayat 54 :
Dan raja berkata: bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapatkepadaku. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami.
Kata ينكم pada ayat di atas, maksudnya mendapatkan kedudukan dan kepercayaan, yaitu Yusuf yang mendapat kepercayaan danmemperoleh kedudukan yang tinggi disisi raja.
Pemberdayaan merupakan proses, cara dan upaya untuk menjadikan orang lain memiliki daya, kemampuan atau kekuatan. Secara istilah pemberdayaan
merupakan upaya untuk membangun daya yang dimiliki duafa atau orang lemah dengan cara menggerakkan, memberikan motivasi dan meningkatkan kesadaran tentang potensi yang dimilikinya, serta berupaya untuk mengembangkannya.14 Ada juga yang memahami pemberdayaan sebagai upaya dalam penyediaan sumber daya, kesempatan, pengetahuan dan keterampilan bagi masyarakat untuk menumbuhkan dan meningkatkan kapasitas mereka, sehingga dapat menemukan masa depannya yang lebih baik.15 Pemberdayaan masyarakat diartikan sebagai sebuah upaya untuk mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih baik, sehingga kualitas dan kesejahteraan hidupnya secara perlahan juga akan meningkat.
Pemberdayaan yang disebut dengan tamkin dan beragam penggunaannya dalam Alquran menegaskan bahwa pemberdayaan manusia lemah, baik level individu maupun kelompok tidak hanya fokus mencakup sisi material, namun juga spiritual sebagai entitas utama manusia dalam pandangan Islam, sekaligus mewakili dimensi maqṣaid al-Syariah (tujuan umum syariat Tuhan) yang merujuk kepada lima hal kebutuhan primer dalam hidup manusia yaitu agama, jiwa, akal, harta dan keturunan.
Pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah yang menjadi progam pengentasan kemiskinan adalah pembangunan pada masyarakat desa.
Pembangunan masyarakat desa didefinisikan sebagai suatu upaya di mana orang- orang secara bersama-sama dengan pejabatpejabat pemerintah bergerak untuk memperbaiki keadaan ekonomi, sosial dan kebudayaan terhadap masyarakat yang
bersangkutan, mengintergrasikan masyarakat dalam kehidupan bangsa dapat membantu dalam membangun bangsa dan negara.
Menurut Faridah Ahmad dalam Mafhum al-Tamkin fi al- Qur’an al-Karim bahwa tamkin terhadap suatu tempat maksudnya adalah mengokohkan atau meneguhkan sesuatu ditempat tersebut. Hal itu terdapat di dalam Alquran dengan bentuk fi’il (kata kerja) yang disandarkan kepada Allah. Karena hanya Allah yang mampu meneguhkan manusia terhadap sesuatu yang dikehendaki-Nya dan meneguhkan sesuatu yang dikehendaki untuk manusia. sehingga dari kata tersebut tamkin dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu: tamkin pada suatu hal dan tamkin terhadap suatu hal.(Wijaya et al. 2023).
2.3.3 Indkator Pemberdayaan ekonomi Masyarakat
Wrihatnolo dan Dwidjowijoto (2007: 147-152) mengemukakan bahwa terdapat lima indicator dengan mengukur Pemberdayaan. Kelima indicator tersebut adalah sebagai berikut:
1. Akses, yaitu target yang diberdayakan pada akhirnya mempunyai akses dan risorsis yang diperlakukannya untuk mengembangkan diri.
2. Partisipasi, yaitu target yang diberdayakan pada akhirnya dapat berpatisipasi mendayagunakan risorsis yang diaksesnya.
3. Kontrol, yaitu target yang diberdayakan pada akhirnya mempunyai kemampuan mengontrol proses pendayagunaan risorsis tersebut.
4. Kesetaraan, yaitu pada tingkat tertentu saat terjadi konflik, target mempunyai kedudukan sama dengan yang lain dalam hal pemecah maslah.
5. Mamfaat, yaitu target yang diberdayakan pada akhirnya sama-sama menikmati hasil pemamfaatan sumber daya atau pembangunan secara bersama dan setara.
2.4 Kajian Terdahulu
Bedasrakan penelitian yang telah dilakukan penulis maka ada beberapa kajian terdahulu yang telah di teliti oleh beberapa orang yaitu:
Tabel 1.1
Perbedaan Penelitian Terdahulu No Peneliti
Judul
peneliti Hasil penelitian
Perbedaan
1. Muhamma
d Anwar Fathoni, Ade Nur Rohim.
(2019)
Peran Pesantren dalam
Pemberdayaa n Ekonomi
Umat di
Indonesia.
Membahas bagaimana pesantren tidak hanya
sebagai lembaga
pendidikan agama tetapi juga berkontribusi pada pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kelebihan :
Menyoroti peran
Metode penelitian terdahulu berbasis studi literatur, sedangkan peneletian ini ini berbasis data lapangan (wawancar,
tidak hanya membahas pesantren sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai agen pemberdayaan ekonomi masyrakat. Serta relevan dengan kebijakan ekonomi islam hasil penelitian ini bisa
digunakan oleh
pemerintah , pesantren, dan masyarakat untuk mengembangkan sistem ekonomi berbasis Islam.
Kekurangan:
Tidak berbasis data lapangan karena hanya mengguakan studi literatur, penelitian ini tidak menyajikan data primer dari wawancara atau observasi langsung
observasi).
di pesantren.
Serta kurang spesifik artikel ini membahas pesantren secara umum di Indonesia, tanpa fokus pada satu pesantren tertentu sebagai studi kasus.
2. Rahman,da n Fadli, M (2022).
Universitas Airlangga.
Peran BMT dalam
Meningkatka n
Kemandirian Ekonomi Santri
BMT (Baitul Maal wat Tamwil) pesantren membantu santri dan masyarakat dengan pinjaman modal usaha berbasis syari’ah. BMT
berperan dalam
mengurangi
ketergantungan santri terhadap bantuan ekonomi dari luar.
Kelebihan:
Menggunakan data dari
Penelitian terdahulu lebiih
spesifik ke
BMT di
dalam
pesantren dan dampaknya kepada santri, sedangkan penelitian ini lebih spesifik kepada masyarakat,
beberapa BMT di pesantren, sehingga hasilnya lebih aplikatif Memberikan gambaran
konkret tentang
mekanisme BMT dalam mendukung ekonomi santri.
Kekeurangan:
Fokus hanya pada peran BMT, tidak membahas usaha lain dari pesantren.
Tidak meneliti faktro sosial dan budaya dalam pemberdayaan ekonomi pesantren.
bagaimana peran pesantrem dalam
pemberdayaa n ekonomi masyarakat.
3. Ahmad
Zainuddin (2021)
Peran pesantren dalam
pemberdayaa
Pesantren berperan aktif dalam pengembangan ekonomi berbasis santri melalui koperasi
Penelitian terdahulu mengkaji pemberdayaa
n ekonomi umat melalui kewirausahaa n.
pesantren, UMKM, dan pelatihan
kewirausahaan.
Kelebihan :
Memberikan gambaran nyata tentang bagaimana pesantren
mengembangkan
ekonomi santri melalui koperasi,UMKM, dan pelatihan
kewirausahaan.
Menggunakan motode studi kasus, sehingga bisa mendalami satu pesantren sebagai contoh konkret.
Relevan dengan
program pemberdayaan ekonomi yang berbasis kemandirian santri.
n ekonomi dengan menekankan aspekk kewirausahaa n dan peran pesantren sebagai agen perubahan sosial.
Sedangkan penelitian ini meneliti program pemberdayaa n ekonomi di pesantren secara luas.
Kekurangan :
Terbatas pada aspek kewirausahaan santri, tidak membahas dampak ekonomi pesantren terhadap masyarakat secara luas.
Tidak membahas
tantangan atau hambatan yang dihadapi pesantren dalam menjalankan program kewirausahaan.
Hanya berfokus pada suatu atau bebrapa pesantren tertentu, sehinggakurang
menggambarkan kondisi pesantren secara umum.
4. Muhamma
d Arifil Zohdi,
Peran Pondok Pesantren Dalam
Pondok pesantren di Lombok Tengah, seperti Pondok Pesantren Nurul
Penelitian terdahulu meneliti 3
Muhamma d Baidaw (2022).
UIN Mataram
Pemberdayaa n
Ekonomi Masyarakat Di Kabupaten Lombok Tengah.
mukhlisin NWDI
Pringgarata, Darul
Muhibbin NW
Mispalah, dan Al- Manshuriyah
Taklimussibyan NU Bonder, berkontribusi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pesantren tidak hanya meneydiakan peluang kerja tetapi juga membantu UMKM, memanfaatkan bisnis lokal, dan memasarakan
produk industri
rumahan.
Kelebihan:
Membahas beberapa pondok pesantren spesifik di Lombok Tengah, seperti Nurul
pesantren yaitu Pondok Pesantren Nurul Mukhlisin NWDI Pringgarata, Darul Muhibbin NW Mispalah,
dan Al-
Manshuriyah Taklimussiby
an NU
Bonder.
Sedangakan penelitian ini hanya
meneliti satu pesantren tertentu.
Mukhlisin NWDI Pringgarata, darul
Muhibbin NW
Mispalah, dan Al- Manshuriyah
Taklimussibyan NU Bonder, sehingga lebih aplikatif.
Kekurangan:
Kuranng membahas
tantangan yang
dihadapi, meskipun menyoroti peran positif pesantren, penelitian ini kurang mendalami tantangan atau kendala yang dihadapi dalam pemberdayaan ekonomi.
5. Achmad
Lutfi Chamidi (2023)
Peran
Permberdaya an Ekonomi Pesantren
Peran pesantren dalam pemberdayaan ekonomi melalui berbagai unit usaha dan dampaknya
Penelitian terdahulu menggunakan metode
dalam Mendorong Kemandirian Ekonomi (Studi Kasus Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang)
terhadap kemandirian santri serta ekonomi masyarakat sekitar.
Kelebihan :
Focus pada studi kasus
penelitian ini
memberikan analisis mendalam tentang ekonomi pondok pesanten Bahrul ‘Ulum.
Relevan dengan
ekonomi islam
menyoroti ekonomi
syariah dalam
pemberdayaan
pesantren. Serta dukungan data lapangan menggunakan
wawancara dan
observasi sebagai metode penelitian.
kualitatif dan mengangkat masalah santri seperti pengelolaan unit usaha, dukungan pesantren terhadap santri,peneliti an inni juga menggunakan metode kualitatif akan tetapi penelitian in akan lebih foksu kepafa program yang di adakan oleh
pesantren dan apa dampak
Kekurangan :
Terbatas pada satu pesantren dan minim data kuantitatif tidak banyak menyajikan angka konkret terkait dampak ekonomi.
bagi
masyarakat Samalanga.
2.5 kerangka Berfikir
Kerangka berpikir adalah suatu alur atau pola logis yang digunakan untuk mennjelaskan hubungan antara variabel, konsep, atau fenomena dalam penelitian.
Kerangka berpikir membantu peneliti menjelaskan dasar pemikiran dan langkah- langkah yang digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Adapun menurut beberapa ahli tentang kerangka berpikir yaitu:
Menurut Sugiono (2017), kerangka berpikir adalah cara berpikir logis yang menunjukkan hubungan antaa konsep, teori, atau hasil penelitian sebelumnya yang mendasari penelitian yang sedang dilakukan. Kerangka ini menjadi panduan dalam menjelaskan fenomena yang akan di teliti. Menurut Riduwan (2015), kerangka berpikir merupakan struktur yang menjelaskan hubungan logis antar variabel dalam penelitian. Ia menjelaskakan bahwa kerangka berpikir berfungsi sebagai landasan untuk menjawab rumusan masalah.
Sedengkan Suryabrat (2000), Suryabrata mendefinisikan kerangka berpikir
sebagai cara berpikir yang terstruktur untuk menjelaskan dasar teoretis dan alur pemikiran dalam sebuah penelitian. Hal ini memungkinkan peneliti untuk mengembangkan hipotesis berdasarkan teori yang relevan.
2.5.1 Dasar Pemikiran
Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga memiliki potensi besar dalam bidang ekonomi. Dengan berbagai unit usaha, koperasi, dan pelatihan keterampilan, pesantren dapat berkonttribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Adapun kerangka berfikir pada penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:
Pondok Pesantren Ma’ahadal Ulum Diniyah Islamiah Mesjid Raya
Peran pesantren dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat
Dampak pada ekonomi masyarakat
Gambar 1. 1 Kerangka berpikir
Berdasarkan kerangka pikir di atas, menjelaskan bahwa penulis mengumpulkam data pondok pesantren melalui analisis terhadap peran pondok pesantren ma’ahadal ulum diniyah islamiayah mesjid raya dalam mempengaruhi pemberdayaan masyarakat di Samalanga.
BAB 3
METODELOGI PENELITIAN
Metode penelitian ini adalah cara ilmiah untuk menemukan atau memperoleh dara dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Oleh karena itu memperoleh data atau informasi dalam penelitian ini diperlukan adanya metode sebagaimana yang tercantum di bawah ini.
3.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini bersifat deskripstif, yaitu data yang diperoleh dan dikumpulkan dari proses penelitian disajikan ke dalam bentuk kalimat-kalimat.
Hasil penelitian kualitatif berisi kutipan-kutipan dari data-data. Data-data tersebut mencakup transkip wawancara, catatan lapangan, fotografi, video, dokumen pribadi dan resmi, memo, gambar dan rekaman-rekaman resmi lainnya.
Penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh memalu prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya, seperti tentang kehidupan, perilaku seseorang, peranan organisasi, pergerakan sosial dapat dihitung sebagaimana dan sensus, namun analisisnya bersifat kualitatif.
Penelitian ini cocok dalam penelitian kualitatif yang sifat dari masalah yang diteliti, yaitu yang berhubungan dengan perilaku seseorang atau studi kasus.
Metode kualitatif dapat digunakan untuk mengungkap dan memahami sesuatu di balik fenomena yang belum diketahui. Oleh sebab itu, penelitian ini untuk menganalisis tentang Peran Pesantren Ma’hadal Ulum diniyah Islamiyah Mesjid Raya (Mudi mesra) Dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Samalanga.
Metode penelitian ini deskriptif ini dapat dilakukan melalui pengamatan yang lebih mendalam dan teliti terhadap objek penelitian sehingga data yang didapatkan lebih akurat.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Menurut Sugiyono (2021:23) adalah sasaran ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu tentang sesuatu hal objektif, valid dan reliabel tentang suatu hal (Ilham Raka Guntara et al., 2023)
Lokasi penelitian ini dilakukan di Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireuen, dan penelitian ini dilakukan mulai bulan Desember tahun 2024.
Pemilihan lokasi ini dilakukan bedasarkan pada beberapa pertimbangan, seperti:
1. Pesantren memilih unit usaha yang melibatkan santri dan masyarakat.
2. Adanya kemitraan antara pesantren dan pihak eksternal dalam bidang ekonomi 3.3 Sumber Data Penelitian
Keseluruhan data yang diperlukan terdiri dari dua bagian, yakni dari primer dan sekunder. Data primer diperoleh hasil wawancara yang dilakukan kepada masing-masing informan. Adapun data sekunder diperoleh oleh observasi dan hasil dokumentasi. Dengan demikian peneliti harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat penelitian dilakukan. Bedasarkan sumber pengambilannya, data dibedakan atas dua, yaitu data primer dan data sekunder.
3.3.1 Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan langsung dari responden melalui dan hasil wawancara mengenai Peran Pesantren Ma’hadal Ulum diniyah Islamiyah Mesjid Raya (Mudi mesra) Dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Samalanga.
3.3.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan bedasarkan dokumen atau gambar Peran Pesantren Ma’hadal Ulum diniyah Islamiyah Mesjid Raya (Mudi mesra) Dalam Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Samalanga.
3.4 Informan Penelitian
Sugiyono (2019), informan adalah orang yang membantu peneliti untuk memperoleh data melalui wawancara, observasi, atau sumber informasi lainnya.
Mereka biasanyandipilih secara purposive, yakni bedasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. (Sugiono 2013).
Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah Dayah Mudi Mesra. Sedangkan yang menjadi objek adalah Pengurus Koperasi, alumni yang melakukan aktivitas usaha sekitar dayah, masyarakat pelaku usaha di sekitar dayah, serta salah satu dosen ekonomi Mudi Mesra.
Tabel 1.2 Informan Penelitian
No Nama Jabatan
1. Dosen mudi Dosen Mudi Mesra
2. zulkifli Penjaga Koperasi
3. Anisa Penjaga koperasi
4. Ikhlasul Amal Penjaga Foto Copy
6. Hidayatullah Penjual Baju
7. Nurjannah Pelaku Usaha
8. Rijal Alumni Pelaku usaha
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada studi ini dengan melakukan metode observasi, wawancara atau interveiw, serta dokumentasi yang berhubungan dengan masalah yang ingin diteliti.
Untuk mendapatkan data maka penulis menggunakan teknik pengumpulan data yang berupa:
3.5.1 Observasi
Observasi adalah salah satu metode pengumpulan data dalam penelitian yang dilakukan dengan cara mengamati langsung objek yang diteliti. Observasi
memungkinkan peneliti untuk memperoleh data tentang fenomena, perilaku, atau aktivitas yang terjadi dalam situasi tertentu.
Peneliti mengamati langsung kegiatan langsung kegiatan ekonomi pesantren, seperti usaha koperasi, dan interaksi pesantren dengan masyarakat.
3.5.2 Wawancara
Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara peneliti mengajukan pertanyaan secara lisan kepada seseorang. Model wawancara yang digunakan pada penelitian ini ialah wawancara terstruktur, wawancara ini dilakukan oleh peneliti dengan cara terlebih dahulu mempersiapkan bahan pertanyaan yang akan diajukan dalam wawancaranya.
3.5.3 Dokumentasi
Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya. Penggunaan dokumen ini berkaitan dengan apa yang disebut analisis isi.
Peneliti mengumpulkan dokumen terkait, seperti peraturan pesantren tentanng ekonomi, serta arsip foto atau video kegiat