• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Profitabilitas terhadap Kebijakan Dividen

N/A
N/A
Dewi Hapsari

Academic year: 2023

Membagikan "Pengaruh Profitabilitas terhadap Kebijakan Dividen"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

2.3 Kerangka Berpikir

2.3.1 Pengaruh Profitabilitas terhadap Kebijakan Dividen

Profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam hal efisiensi dan efektivitas perusahaan dalam memperoleh keuntungan, dimana keuntungan ini akan menjadi dasar perusahaan dalam menentukan jumlah laba yang akan dibagikan sebagai dividen kepada pemegang saham maupun jumlah laba yang akan ditahan oleh perusahaan untuk diinvestasikan kembali (Widyasti & Putri, 2021). Semakin tinggi profitabilitas pada perusahaan maka menunjukkan keuntungan yang dihasilkan perusahaan besar. Berdasarkan signalling theory, perusahaan akan membagikan dividen yang tinggi jika keuntungan yang diperoleh perusahaan juga besar (Bhattacharya, 1979).

Peningkatan pembayaran dividen pada suatu perusahaan tentu akan menjadi sinyal positif bagi investor (Kusuma & Semuel, 2019). Hal ini akan mendorong pemegang saham atau calon pemegang saham untuk melakukan investasi karena menganggap kondisi perusahaan saat ini dan yang akan datang memiliki prospek yang baik. Madyoningrum (2019) menunjukkan semakin besar laba yang diperoleh perusahaan maka semakin besar pula dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham. Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian Basri (2019), Madyoningrum (2019), Ratnasari & Purnawati, (2019), Franc- Dąbrowska et al. (2020), Sudiartana & Yudantara (2020), Hariyanti & Pangestuti (2021) yang menemukan bukti empiris bahwa profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen.

2.3.2 Pengaruh Leverage terhadap Kebijakan Dividen

Leverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur keefektifan perusahaan dalam menggunakan utang. Peningkatan leverage dalam sebuah perusahaan akan berakibat pada peningkatan beban bunga yang dikeluarkan perusahaan. Dengan meningkatnya beban bunga maka laba bersih yang diperoleh perusahaan juga akan berkurang sehingga porsi laba yang dibagikan perusahaan dalam bentuk dividen juga akan semakin kecil (Basri, 2019).

Berdasarkan teori keagenan, perusahaan akan mengutamakan penggunaan sumber dana internal perusahaan, yaitu laba ditahan untuk mendanai kegiatan investasinya (Hariyanti &

Pangestuti, 2021). Semakin tinggi leverage membuat perusahaan akan bergantung pada laba ditahan perusahaan yang mengakibatkan dividen yang dibagikan kepada para pemegang saham akan semakin sedikit. Selain itu, perusahaan dengan utang tinggi akan lebih fokus dalam melunasi utangnya dibandingkan membagikan dividen. Hal ini dilakukan supaya perusahaan tidak mengalami pailit karena tidak dapat memenuhi kewajibannya pada kreditur.

Oleh karena itu, tingkat utang yang tinggi pada perusahaan akan menyebabkan para

(2)

pemegang saham kurang menuntut pembayaran dividen yang tinggi (Widyasti & Putri, 2021).

Pada penelitian ini leverage diproksikan oleh Debt to Equity Ratio (DER) yaitu total utang terhadap total ekuitas. Wahjudi (2020) menunjukkan bahwa semakin tinggi rasio DER maka kewajiban yang harus dibayar perusahaan semakin besar sehingga tingkat dividen yang dibagikan juga akan semakin rendah. Hal ini sejalan dengan penelitian Basri (2019), Wahjudi (2020), Widyasti & Putri (2021) yang menemukan bukti empiris bahwa leverage berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen.

2.3.3 Pengaruh Pertumbuhan Aset terhadap Kebijakan Dividen

Pertumbuhan aset merupakan kenaikan total aset dibagi dengan total aset. Pertumbuhan aset yang tinggi dalam sebuah perusahaan dapat berasal dari laba ditahan (Basri, 2019).

Dengan menahan laba lebih tinggi maka hal ini akan berakibat pada porsi laba bagi pemegang saham menjadi lebih sedikit. Pada penelitian ini pertumbuhan aset diproksikan oleh growth yaitu pertumbuhan aset milik perusahaan dari tahun ke tahun (Sari & Suryantini, 2019).

Menurut teori agensi yang dikemukakan oleh Jensen & Meckling (1976), perusahaan yang memiliki pertumbuhan aset tinggi dapat mengurangi konflik kepentingan antara manajer dengan pemegang saham. Pemegang saham akan merelakan labanya untuk dialokasikan sebagai investasi pendanaan perusahaan sehingga jumlah pembagian dividennya akan semakin sedikit. Sebaliknya, apabila tingkat pertumbuhan aset bersih perusahaan rendah maka dividen yang dibagikan cenderung tinggi sehingga sebagian besar keuntungan yang diperoleh perusahaan digunakan untuk kesejahteraan pemegang saham (Hariyanti &

Pangestuti, 2021). Pernyataan tersebut sejalan dengan penelitian Dewi & Sedana (2018), Sari

& Suryantini (2019), Wahjudi (2020), Hariyanti & Pangestuti (2021) yang menemukan bukti empiris bahwa pertumbuhan aset berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen.

2.3.4 Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Kebijakan Dividen

Menurut Fahmi & Sulhan (2020) kepemilikan institusional merupakan persentase kepemilikan saham yang dimiliki oleh investor institusi-institusi, seperti perusahaan investasi, perusahaan perseroan (PT), lembaga yayasan, bank, dan institusi lainnya. Dalam keputusan pembayaran dividen pada suatu perusahaan, investor institusi memiliki peranan penting. Dalam hal ini struktur kepemilikan dan kontrol perusahaan memberikan pengaruh terhadap keputusan pembayaran dividen yang dilakukan perusahaan terhadap pemegang saham (Basri, 2019).

(3)

Rais & Santoso (2018) menyatakan kepemilikan institusional dapat mengurangi agency cost karena pemilik saham akan memilih manajer untuk mengelola perusahaan dengan tujuan agar nilai perusahaan serta kesejahteraan pemilik saham meningkat. Berdasarkan teori agensi yang dikemukakan oleh Jensen & Meckling (1976), meningkatnya kepemilikan institusional dalam perusahaan dapat meminimalkan masalah keagenan dengan melakukan kontrol dan mengawasi kinerja manajer. Semakin tinggi tingkat kepemilikan institusional maka pengawasan terhadap kinerja insider perusahaan juga akan semakin meningkat. Kondisi ini berpengaruh pada meningkatnya laba yang diperoleh perusahaan sehingga jumlah dividen yang dibagikan kepada pemegang saham juga akan semakin tinggi (Ismiati & Yuniati, 2017).

Hal ini sejalan dengan penelitian Nugraheni & Mertha (2019), Basri (2019), Rahayu &

Rusliati (2019), Lajar & Marsudi (2021) yang menemukan bukti empiris bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen.

2.3.5 Pengaruh Board Independence terhadap Kebijakan Dividen

Dalam sebuah struktur dewan, independensi dewan dianggap sebagai karakteristik yang penting (Mili et al., 2017). Menurut Buchdadi et al. (2019) board independence merupakan anggota dewan komisaris yang tidak pernah berafiliasi atau berurusan langsung dengan organisasi tersebut. Board independence bertujuan untuk mengawasi k inerja investasi dewan direksi supaya tidak terjadi konflik keagenan ketika direksi lebih mengutamakan urusan pribadi dibandingkan kepentingan para pemegang saham. Board independence juga memiliki peran untuk melakukan pengawasan terhadap kinerja dewan direksi dalam rangka meminimalkan biaya perantara di antara pemegang saham minoritas dan dewan direksi (Cahyadi et al., 2018).

Berdasarkan teori agensi, board independence adalah wakil dari principal yang memiliki fungsi untuk mencegah perilaku oportunistik manajemen sehingga kepentingan antara agen dan prinsipal dapat seimbang. Persentase board independence yang semakin tinggi akan meningkatkan efektifitas dalam mengawasi kinerja manajemen termasuk keputusan dalam melakukan kebijakan dividen sehingga dapat mengurangi masalah agensi di antara manajemen dengan pemegang saham (Lestari, 2017).

Kehadiran board independence dapat mengurangi kemungkinan adanya kecurangan pelaporan keuangan dan dapat memantau tindakan manajemen untuk memberikan kinerja yang efisien sesuai dengan kepentingan pemegang saham, yang dapat berupa memaksimalkan keuntungan perusahaan. Hal ini berakibat semakin banyak anggota board independence maka dividen yang dibagikan oleh perusahaan juga akan semakin tinggi (Maharani & Cahyaningdyah, 2022). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh

(4)

Yarram & Dollery (2015), Uwalomwa et al. (2015), Tahir et al. (2020) yang menunjukkan board independence berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen. Hasil tersebut menunjukkan bahwa board independence memainkan peran tata kelola yang saling melengkapi dengan mendorong perusahaan untuk membagikan dividen pada pemegang saham (Yarram & Dollery, 2015).

2.3.6 Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Kebijakan Dividen

Ukuran perusahaan menggambarkan kondisi perusahaan yang diukur dari total aset perusahaan. Perusahaan dengan ukuran besar dapat lebih mudah dalam aksebilitas ke pasar modal. Hal ini membuat perusahaan mendapatkan pendanaan dari luar perusahaan sehingga ketergantungan pendanaan internal perusahaan berkurang. Oleh karena itu, kondisi tersebut menandakan perusahaan mampu membagikan dividen kepada pemegang saham (Novianto &

Haryono, 2017). Dalam menentukan ukuran perusahaan dapat dilakukan dengan metode logaritma natural dari total aset.

Berdasarkan teori sinyal, perusahaan dengan aset besar dan pertumbuhannya baik maka dapat memberi sinyal bahwa laba yang diperoleh perusahaan besar sehingga dividen yang dibagikan juga akan semakin tinggi (Dewi & Muliati, 2021). Perusahaan yang besar dan matang mempunyai kapasitas untuk menghasilkan laba yang stabil dan tinggi sehingga perusahaan besar juga cenderung membagikan dividen secara stabil dan tinggi. Berbeda dengan perusahaan berukuran kecil yang membagikan dividen lebih rendah karena keuntungan yang dihasilkan akan dijadikan sebagai laba ditahan dalam rangka meningkatkan perusahaan serta aset perusahaan (Sudiartana & Yudantara, 2020). Hal tersebut sejalan dengan penelitian Rais & Santoso (2018), Sharma & Bakshi (2019), Agustino & Dewi (2019), Sudiartana & Yudantara (2020), Dewi & Muliati (2021) yang menemukan bukti empiris bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen.

(5)

4.2 Pembahasan

4.2.1 Pengaruh Profitabilitas terhadap Kebijakan Dividen

Hasil pertama dalam penelitian ini adalah profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Artinya profitabilitas yang semakin tinggi pada perusahaan mampu meningkatkan dividen yang dibagikan kepada pemegang saham. Pada tabel uji statistik t menunjukkan bahwa variabel profitabilitas memiliki nilai koefisien 0.062708 yang menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen. Kemudian nilai probabilitas signifikansi sebesar 0.0271 menunjukkan nilai lebih kecil dari tingkat signifikansi yang telah ditentukan yaitu 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif satu (Ha1) yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen diterima.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori sinyal yang menyatakan bahwa semakin besar keuntungan yang diperoleh perusahaan maka semakin besar pula jumlah dividen yang dibagikan perusahaan (Bhattacharya, 1979). Peningkatan profitabilitas dapat terjadi karena peningkatan pendapatan yang lebih besar dibandingkan beban perusahaan sehingga laba perusahaan akan meningkat. Dengan meningkatnya laba yang diperoleh perusahaan maka bagian laba yang dapat dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen juga semakin besar. Sebaliknya, semakin rendah jumlah laba yang dihasilkan perusahaan maka semakin rendah pula dividen yang akan dibagikan kepada pemegang saham. Perusahaan yang mampu menghasilkan keuntungan yang besar dengan laba bersih stabil mampu memperoleh jumlah arus kas lebih besar sehingga dapat membagikan dividen pada pemegang saham dengan jumlah besar (Mehta, 2012).

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan Basri (2019), Hariyanti

& Pangestuti (2021), Sudiartana & Yudantara (2020), Madyoningrum (2019) yang menemukan bahwa profitabilitas memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen perusahaan.

4.2.2 Pengaruh Leverage terhadap Kebijakan Dividen

Hasil kedua dalam penelitian ini adalah leverage berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kebijakan dividen. Pada tabel uji statistik t menunjukkan bahwa variabel leverage memiliki nilai koefisien –0.070990 yang menunjukkan bahwa leverage berpengaruh negatif terhadap kebijakan dividen. Kemudian nilai probabilitas signifikansi sebesar 0.2694 menunjukkan nilai lebih besar dari tingkat signifikansi yang telah ditentukan yaitu 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa leverage berpengaruh negatif dan tidak

(6)

signifikan terhadap kebijakan dividen, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif dua (Ha2) yang menyatakan bahwa leverage berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen ditolak.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Hariyanti & Pangestuti (2021) yang menemukan bahwa leverage berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kebijakan dividen. Dimana tingkat leverage tidak dijadikan patokan perusahaan dalam menentukan pembayaran dividen kepada para pemegang saham. Selain itu, menurut Ginting (2018) perusahaan tetap memperhatikan kepentingan pemilik modal sehingga tingginya jumlah utang perusahaan tidak menghalangi perusahaan untuk tidak membagikan dividen. Oleh karena itu, leverage tidak mempengaruhi besar kecilnya dividen yang dibagikan. Tidak adanya pengaruh signifikan antara variabel leverage terhadap kebijakan dividen, artinya leverage yang rendah tidak menjamin bahwa dividen yang dibayarkan juga akan tinggi. Hal ini menunjukkan adanya faktor lain yang lebih memiliki peran dalam mempengaruhi kebijakan dividen perusahaan.

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori keagenan. Dimana perusahaan lebih memilih untuk memanfaatkan sumber dana internal, yaitu laba ditahan untuk mendanai aktivitas investasi yang dilakukan perusahaan, sehingga perusahaan dengan leverage yang tinggi akan bergantung terhadap laba ditahan perusahaan yang berdampak pada laba yang dihasilkan perusahaan tidak dibagikan sebagai dividen (Basri, 2019). Hal tersebut menyebabkan semakin tinggi leverage pada perusahaan maka jumlah dividen yang akan dibagikan semakin rendah.

4.2.3 Pengaruh Pertumbuhan Aset terhadap Kebijakan Dividen

Hasil ketiga dalam penelitian ini adalah pertumbuhan aset berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kebijakan dividen. Pada tabel uji statistik t menunjukkan bahwa variabel pertumbuhan aset memiliki nilai koefisien 0.018112 yang menunjukkan bahwa pertumbuhan aset berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen. Kemudian nilai probabilitas signifikansi sebesar 0.7681 menunjukkan nilai lebih besar dari tingkat signifikansi yang telah ditentukan yaitu 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan aset berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kebijakan dividen, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif tiga (Ha3) yang menyatakan bahwa pertumbuhan aset berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kebijakan dividen ditolak.

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel pertumbuhan aset tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen pada perusahaan property dan real estate yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2021. Hasil penelitian ini

(7)

didukung oleh penelitian yang dilakukan Basri (2019) yang menyatakan bahwa pertumbuhan aset berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kebijakan dividen. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan aset bukan menjadi faktor yang menentukan pembayaran dividen. Perusahaan dengan penambahan aset memiliki pembiayaan tersendiri yang menyebabkan tinggi rendahnya tingkat pertumbuhan perusahaan tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan Sari (2014) yang menyatakan bahwa setiap perusahaan mempunyai dana tersendiri yang berasal dari laba ditahan yang nantinya akan dimanfaatkan untuk pembagian dividen. Perusahaan dengan kinerja baik dan seimbang dapat mengelola keuangan untuk berbagai tujuan seperti untuk keperluan perusahaan dan pembagian dividen. Tidak adanya pengaruh signifikan antara pertumbuhan aset terhadap kebijakan dividen, artinya pertumbuhan aset yang rendah tidak memberikan jaminan bahwa dividen yang dibayarkan akan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat faktor lain yang lebih berperan dalam mempengaruhi kebijakan dividen perusahaan.

4.2.4 Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Kebijakan Dividen

Hasil keempat dalam penelitian ini adalah kepemilikan institusional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Artinya meningkatnya kepemilikan institusional pada perusahaan maka akan meningkatkan pula jumlah dividen yang dibagikan kepada pemegang saham. Pada tabel uji statistik t menunjukkan bahwa variabel kepemilikan institusional memiliki nilai koefisien 0.053143 yang menunjukkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen. Kemudian nilai probabilitas signifikansi sebesar 0.0192 menunjukkan nilai lebih kecil dari tingkat signifikansi yang telah ditentukan yaitu 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif empat (Ha4) yang menyatakan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen diterima.

Berdasarkan teori agensi yang dikemukakan oleh Jensen & Meckling (1976), meningkatnya kepemilikan institusional dalam perusahaan dapat meminimalkan masalah keagenan dengan melakukan kontrol dan mengawasi kinerja manajer. Pengawasan yang dilakukan oleh pihak institusional akan menyebabkan kesempatan manajer dalam memanfaatkan sumber daya untuk kepentingan pribadi juga akan semakin berkurang. Hal tersebut berimbas pada kinerja manajemen perusahaan yang semakin meningkat.

Meningkatknya kinerja manajemen perusahaan akan membuat perusahaan memperoleh laba

(8)

maksimal sehingga dividen yang dibagikan perusahaan juga akan meningkat (Ubaidillah &

Witiastuti, 2022).

Pemegang saham institusional memiliki peran penting dalam menentukan kebijakan dividen karena mempunyai karakteristik untuk mengendalikan manajemen (Qahtani & Ajina, 2017). Sejalan dengan perspektif agensi, bahwa pemegang saham institusional dapat melakukan tindakan sebagai mekanisme untuk mencegah biaya agensi antara pemegang saham dengan pihak manajemen perusahaan. Investor institusional dapat mendorong perusahaan untuk melakukan pembagian dividen dengan jumlah besar yang bertujuan untuk meminimalisir potensi timbulnya perilaku oportunistik dari pihak manajemen. Hal ini dapat dilakukan dengan mengurangi arus kas yang tersedia (Ubaidillah & Witiastuti, 2022).

Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Nugraheni &

Mertha (2019), Basri (2019), Rahayu & Rusliati (2019), dan Bataineh (2021) yang menemukan hasil bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen.

4.2.5 Pengaruh Board Independence terhadap Kebijakan Dividen

Hasil kelima dalam penelitian ini adalah board independence berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kebijakan dividen. Pada tabel uji statistik t menunjukkan bahwa variabel board independence memiliki nilai koefisien 0.002891 yang menunjukkan bahwa board independence berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen. Kemudian nilai probabilitas signifikansi sebesar 0.9340 menunjukkan nilai lebih besar dari tingkat signifikansi yang telah ditentukan yaitu 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa board independence berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kebijakan dividen, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif tiga (Ha5) yang menyatakan bahwa board independence berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen ditolak.

Hasil dari penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Pratitis &

Defung (2022) yang menemukan bahwa board independence berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kebijakan dividen. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengangkatan jabatan board independence hanya untuk memenuhi ketentuan dan regulasi perusahaan semata, tetapi tidak dengan mewujudkan good corporate governance (Pratitis & Defung, 2022). Selain itu, board independence merupakan bagian pengelola perusahaan yang berasal dari luar perusahaan yang membuat pengetahuan board independence mengenai kondisi perusahaan juga terbatas. Hal tersebut menunjukkan bahwa board independence tidak memiliki peran dalam mencegah konflik dan masalah biaya keagenan antara dewan direksi dan shareholders.

Selain itu, menurut Mansourinia et al. (2013) board independence tidak memiliki hubungan

(9)

dengan kebijakan pembagian dividen kepada pemegang saham dalam sebuah perusahaan.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa board independence ditunjuk hanya untuk menaati peraturan perusahaan dan bukan sebagai langkah menegakkan tata kelola perusahaan yang baik. Tidak adanya pengaruh signifikan antara board independence terhadap kebijakan dividen, artinya board independence yang tinggi tidak memberikan jaminan bahwa dividen yang dibayarkan juga akan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat faktor lain yang lebih berperan dalam mempengaruhi kebijakan dividen perusahaan.

Hasil penelitian ini tidak selaras dengan teori keagenan yang menyatakan bahwa board independence memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen.

Persentase dewan komisaris independen yang semakin tinggi akan berdampak pada tingginya tingkat independensi dan efektifitas dalam mengawasi kinerja manajemen. Hal ini dapat membantu mengurangi masalah agensi antara pemegang saham dan manajemen sehingga akan meningkatkan efektifitas dalam mengawasi kebijakan yang dilakukan manajemen, termasuk kebijakan dividen (Lestari, 2017). Oleh karena itu, tingginya board independence dalam perusahaan akan berdampak pada dividen yang dibagikan juga akan semakin tinggi.

4.2.6 Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Kebijakan Dividen

Hasil keenam dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Pada tabel uji statistik t menunjukkan bahwa variabel ukuran perusahaan memiliki nilai koefisien 0.236072 yang menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap kebijakan dividen. Kemudian nilai probabilitas signifikansi sebesar 0.0000 menunjukkan nilai lebih kecil dari tingkat signifikansi yang telah ditentukan yaitu 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif enam (Ha6) yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen diterima.

Perusahaan dengan ukuran besar mempunyai kelebihan dalam skala ekonomi yang membuat perusahaan memiliki bargaining power yang lebih kuat atas supllier, biaya per unit yang lebih kecil dan kegiatan operasional berjalan dengan efisien (Pervan & Visic, 2012).

Aktivitas operasional yang lebih efisien serta terdapat peluang mendapatkan laba yang lebih besar mengakibatkan perusahaan besar mempunyai peluang untuk mendapatkan profitabilitas yang lebih baik. Selain itu, perusahaan ukuran besar mempunyai akses yang lebih mudah untuk memperoleh pendanaan. Hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan dengan ukuran besar dinilai mampu memperoleh laba yang besar dan menyebabkan perusahaan akan selalu membagikan dividen kepada para pemegang saham (Tamara & Ardiansari, 2021).

(10)

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori sinyal. Dimana menurut teori sinyal, perusahaan dengan ukuran besar berarti memiliki aset besar serta mengalami pertumbuhan baik yang dimana hal ini akan memberi sinyal bahwa perusahaan mendapatkan laba yang besar sehingga dividen yang dibagikan juga akan semakin tinggi (Dewi & Muliati, 2021). Hasil penelitian ini juga konsisten dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Sharma & Bakshi (2019), Agustino & Dewi (2019), Sudiartana & Yudantara (2020), dan Dewi & Muliati (2021) yang menemukan bahwa ukuran perusahaan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh variabel Profitabilitas, Kebijakan Hutang, Kebijakan Dividen, Keputusan Investasi, dan Insider Ownership terhadap Nilai Perusahaan

Penelitian Rahmanita (2013) yang berjudul Pengaruh Profitabilitas, Leverage, Likuiditas dan Pertumbuhan Perusahaan Terhadap Kebijakan Dividen Pada Perusahaan Manufaktur Yang

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan, pertumbuhan perusahaan, profitabilitas, struktur modal, dan kebijakan dividen terhadap nilai

“Pengaruh Keputusan Investasi, Profitabilitas dan Kebijakan Dividen TerhadapNilai Perusahaan (Studi pada Perusahaan yang terdaftar dalam Jakarta Islamic Index

Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa Profitabilitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, Kebijakan Dividen memiliki pengaruh terhadap harga saham, dan secara

Pengaruh Rasio Likuiditas, Rasio Profitabilitas, Rasio Leverage, Ukuran Perusahaan, dan Asset Growth terhadap Kebijakan Dividen Studi Kasus pada Perusahaan Industri Manufaktur Sub

Pengaruh Profitabilitas, Pertumbuhan Perusahaan, Kepemilikan Manajerial, Leverage, Likuiditas, Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kebijakan Dividen Studi Empiris Pada Perusahaan

Pengaruh Struktur Aset, Likuiditas, Profitabilitas, Kebijakan Dividen, Kepemilikan Saham Institusional, Dan Risiko Bisnis Terhadap Kebijakan Utang Studi Empiris Pada Perusahaan