Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan hukuman dan penghargaan dapat menurunkan perilaku hiperaktif pada anak tunagrahita kelas II di SLB Widya Mulia Pundong. Secara umum punishment dan reward mampu menurunkan perilaku hiperaktif anak tunagrahita kelas II di SLB Widya Mulia Pundong.
Identifikasi Masalah
Data hasil observasi pada fase Baseline-I diatas menunjukkan frekuensi perilaku hiperaktif pada anak tunagrahita sedang kelas II di SLB Widya Mulia Pundong. Perilaku hiperaktif yang jarang terjadi adalah perhatian mudah berpindah sebanyak 8 kali selama 60 menit. Perilaku hiperaktif yang sering diwujudkan adalah tangan dan kaki tidak bisa diam sebanyak 9 kali dalam 60 menit.
Perilaku hiperaktif yang umum terjadi adalah ketidakmampuan tangan dan kaki untuk tetap diam sebanyak 12 kali dalam jangka waktu 60 menit. Perilaku hiperaktif yang jarang terjadi adalah perhatian mudah berpindah sebanyak enam kali dalam rentang waktu 60 menit. Pada observasi ketiga ini, perilaku hiperaktif yang sering muncul adalah ketidakmampuan menjaga tangan dan kaki tetap diam sebanyak sebelas kali dalam kurun waktu 60 hari.
Perilaku hiperaktif yang sering terjadi adalah tangan dan kaki tidak bisa diam sebanyak 17 kali dalam kurun waktu 60 menit. Perilaku hiperaktif yang jarang terjadi adalah seperti mengganggu teman sebanyak 5 kali dalam rentang waktu 60 menit. Perilaku hiperaktif yang sering terjadi adalah tangan dan kaki tidak bisa diam sebanyak 13 kali dalam kurun waktu 60 menit.
Perilaku hiperaktif yang sering terjadi adalah ketidakmampuan tangan dan kaki untuk tetap diam sebanyak 8 kali dalam kurun waktu 60 menit. Perilaku hiperaktif yang umum terjadi adalah ketidakmampuan tangan dan kaki untuk tetap diam sebanyak 11 kali dalam jangka waktu 60 menit. Perilaku hiperaktif yang jarang terjadi adalah perhatian mudah berpindah sebanyak lima kali dalam rentang waktu 60 menit.
Data hasil observasi Tahap Dasar II di atas menunjukkan frekuensi perilaku hiperaktif pada anak tunagrahita sedang kelas II di SLB Widya Mulia Pundong.
Batasan Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka dalam penelitian ini dirumuskan masalah sebagai berikut: “Apakah penggunaan punishment dan reward dapat menurunkan perilaku hiperaktif pada anak tunagrahita kategori kelas menengah II di SLB Widya Mulia Pundong?”. Hasil penelitian ini dapat dijadikan alternatif dan pertimbangan penggunaan metode yang tepat yang dapat diterapkan pada anak tunagrahita, khususnya dalam penanganan perilaku hiperaktif anak.
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Punishment
Fungsi Punishment
Hukuman, jika diterapkan dengan benar, akan mengurangi perilaku buruk. Waktu dan bentuk hukuman harus dipertimbangkan dalam modifikasi perilaku. Hukuman diberikan untuk koreksi agar siswa tidak mengulangi perilaku yang salah sehingga siswa berperilaku disiplin.
Macam-macam Punishment
Kelebihan Punishment
Kajian Tentang Reward
- Pengertian Reward
- Fungsi Reward
- Bentuk-bentuk Reward
Hasil pencatatan munculnya perilaku hiperaktif pada fase intervensi dapat dilihat pada tabel 4.3 di bawah ini. Perilaku hiperaktif yang jarang terjadi, berjalan kesana kemari 5 kali dalam 60 menit.
Kajian Tetang Perilaku Hiperaktif pada Anak Tunagrahita Sedang
- Pengertian Perilaku Hiperaktif
- Karakteristik Anak Hiperaktif
Kajian Tentang Anak Tunagrahita Sedang
- Pengertian Anak Tunagrahita Sedang
Ciri-ciri anak tunagrahita sedang adalah ciri-ciri khusus anak tunagrahita sedang yang menunjukkan kondisinya. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengurangi perilaku hiperaktif anak tunagrahita di Kelas II SDLB SLB Widya Mulia Pundong.
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan penelitian subjek tunggal yang akan dilakukan peneliti dimulai dengan mengkaji frekuensi perilaku hiperaktif pada subjek sebelum mendapat pengobatan, selama pengobatan, dan setelah mendapat pengobatan (intervensi). Hal ini bertujuan untuk mengetahui hubungan fungsional antara intervensi melalui punishment dan reward untuk menurunkan perilaku hiperaktif anak tunagrahita sedang.
Desain Penelitian
Peneliti menggunakan instrumen pencatatan kejadian untuk mengetahui frekuensi perilaku hiperaktif sebelum mendapat pengobatan (intervensi). Pada Baseline-II, peneliti mengamati kembali frekuensi perilaku memukul subjek pada saat kegiatan pembelajaran untuk mengetahui sejauh mana pengaruh pemberian treatment dalam menurunkan perilaku hiperaktif pada anak tunagrahita sedang.
Tempat dan Waktu Penelitian
Subjek Penelitian
Variabel Penelitian
Sedangkan dalam penelitian ini, pengukuran perilaku pada variabel dependen diukur dengan menggunakan jenis ukuran frekuensi yang ditunjukkan dengan berapa kali suatu target perilaku dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Perilaku sasaran dalam penelitian ini adalah perilaku hiperaktif dalam proses pembelajaran, dengan sistem pencatatan data melalui produk permanen berupa lembar analisis tugas.
Definisi Operasional Variabel
Pada penelitian ini anak tunagrahita sedang yang menjadi subjek penelitian adalah siswa tunagrahita yang mempunyai perilaku hiperaktif.
Teknik Pengumpulan Data
Instrumen Penelitian
- Validitasi Instrumen
Menurut Nana Syaodih Sukmadinata, validitas konstruk berkaitan dengan konstruk atau struktur dan karakteristik psikologis dari aspek yang akan diukur dengan instrumen. Pengujian instrumen dalam penelitian ini adalah membandingkan aspek-aspek yang akan diteliti dengan teori-teori yang ada.
Prosedur Perlakuan
Analisis Data
Sajikan data yang diperoleh dari observasi pada tahap baseline dan treatment dalam bentuk grafik dan tabel. Analisis data dilanjutkan dengan memeriksa dan membandingkan data masing-masing kelompok pada tahap baseline dan treatment. Langkah yang lebih mudah dalam menganalisis data adalah dengan terlebih dahulu menganalisis kondisi, misalnya fase baseline, atau intervensi, kemudian dilanjutkan dengan analisis antar kondisi, misalnya fase baseline dan fase intervensi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Subjek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa tunagrahita kelas menengah II Sekolah Luar Biasa (SLB) Widya Mulia Pundong. Subjek mampu melakukan aktivitas yang menggunakan keterampilan motorik halus maupun kasar seperti menulis, menyapu, memotong, berjabat tangan, melompat dan juga berlari. Perilaku anak yang sering muncul adalah mengalihkan perhatian yaitu melamun, tidak memperhatikan guru saat belajar, memalingkan muka, meninggalkan tempat duduk, dan tidak mengikuti petunjuk guru.
Subjek dapat mengekspresikan emosinya dengan tepat, ketika bahagia maka subjek akan mengekspresikan kepuasannya dengan tertawa atau tersenyum. Namun ketika subjek dimarahi oleh guru kelas, subjek tidak merasa bersalah dan semakin nakal. Subjek menunjukkan perilaku hiperaktif yaitu lengan dan kakinya tidak bisa diam, suka meninggalkan tempat duduknya, suka mengganggu teman-temannya, suka berlarian, perhatiannya mudah teralihkan.
Deskripsi Data yang Berkaitan dengan Perilaku Hiperaktif
- Deskripsi Baseline- I (Perilaku Hiperaktif Subjek Sebelum
- Deskripsi Perlakuan intervensi
- Deskripsi Baseline- II (Perilaku Hiperaktif Subjek Sesudah
Grafik di atas menunjukkan perilaku hiperaktif yang sering terjadi yaitu lengan dan kaki tidak bisa diam sebanyak 91 kali dalam 5 sesi dengan rentang waktu 60 menit. Pada observasi kedua, Kamis 18 Mei 2016, tercatat sering terjadi perilaku hiperaktif, tangan dan kaki tidak bisa diam. Perilaku hiperaktif yang jarang terjadi seperti mengganggu teman sebanyak 8 kali dalam 60 menit.
Perilaku hiperaktif yang jarang terjadi seperti menyela teman dan dengan mudah mengalihkan perhatian sebanyak sembilan kali dalam jangka waktu 60 menit. Perilaku hiperaktif yang jarang terjadi seperti menyela teman dan mudah mengalihkan perhatian sebanyak lima kali dalam rentang waktu 60 menit. Perilaku hiperaktif yang jarang terjadi adalah seperti mengganggu teman sebanyak lima kali dalam kurun waktu 60 menit.
Perilaku hiperaktif yang jarang terjadi adalah seperti mengganggu teman sebanyak 3 kali dalam 30 menit. Perilaku hiperaktif yang jarang terjadi, berjalan bolak-balik dan mudah mengalihkan perhatian sebanyak 5 kali dalam jangka waktu 60 menit. Dari grafik di atas terlihat perilaku hiperaktif yang sering terjadi yaitu lengan dan kaki tidak bisa diam sebanyak 45 kali dalam 5 sesi dengan rentang waktu 60 menit.
Analisis Data Hasil Penelitian
Hasil analisis data pada kondisi baseline tahap-I tercantum pada ringkasan tabel 4.8 sebagai berikut. Analisis kondisi yang didapat pada tahap baseline-I adalah panjang kondisi pada baseline-I sebanyak 5 sehingga jumlah data yang diperoleh sebanyak 5 data. Hasil analisis data pada kondisi baseline tahap-I tercantum sebagai berikut pada ringkasan tabel 4.10.
Analisis kondisi yang diperoleh pada baseline tahap 1 adalah panjang kondisi pada baseline-I sebanyak 5 sehingga jumlah data yang diperoleh sebanyak 5 data. Hasil analisis data pada kondisi baseline tahap-I disajikan dalam ringkasan Tabel 4.12 sebagai berikut. Hasil analisis data pada kondisi tahap intervensi ini disajikan dalam tabel ringkasan sebagai berikut.
Hasil analisis data pada kondisi tahap intervensi ini disajikan dalam tabel ringkasan sebagai berikut. Tingkat Stabilitas dan Rentang Analisis Variabel keadaan perilaku tangan dan kaki tidak bisa diam selama fase baseline-II. Jarak antara data pertama (7) dengan data terakhir (7) Hasil analisis data pada kondisi baseline tahap II disajikan dalam tabel ringkasan sebagai berikut.
Jarak antara data pertama (5) dengan data terakhir (7) Hasil analisis data pada kondisi baseline tahap II dituangkan dalam tabel rangkuman sebagai berikut. Jarak antara data pertama (8) dengan data terakhir (5) Hasil analisis data pada kondisi baseline tahap II dituangkan dalam tabel ringkasan sebagai berikut.
Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil observasi selama tahap awal 1 ditemukan banyak subjek yang menunjukkan perilaku hiperaktif selama pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Ending Rochyadi bahwa perhatian anak tunagrahita pada saat belajar tidak bertahan lama, mudah berpindah ke objek lain yang terkadang sama sekali tidak menarik atau tidak bermakna. Sebagaimana dikemukakan oleh Atkinson, Atkinson, & Hilgard, (Tt: 321) bahwa jika seseorang tidak mempunyai kesempatan (melakukan) dalam suatu aktivitas yang terjadi secara alami, maka aktivitas tersebut akan menjadi penguat yang lebih kuat setidaknya untuk sementara waktu karena aktivitas itu akan memperkuat. tanggapan yang umumnya berada di atasnya dalam hierarki penguatan seseorang.
Pilihan penghargaan dan penguatan untuk perilaku hiperaktif berarti pengurangan perilaku hiperaktif yang lebih baik atau sementara. Jika muncul hiperaktivitas berupa tangan dan kaki tidak bisa istirahat, suka meninggalkan tempat duduk, suka mengganggu teman, lari kesana kemari, dan mudah mengalihkan perhatian saat belajar, maka hukuman langsung akan diberikan.
Keterbatasan Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa punishment dan reward dapat menurunkan perilaku hiperaktif pada anak tunagrahita kategori sedang di kelas II SDLB Widya Mulia Pundong. Hal ini ditunjukkan dengan adanya penurunan frekuensi perilaku hiperaktif, yang meliputi 1) tidak mampu menjaga tangan dan kaki tetap diam, 2) suka meninggalkan tempat duduk, 3) suka mengganggu teman, 4) berlari kesana kemari, dan 5) dengan mudah mengalihkan perhatian. Sebaiknya guru menggunakan hukuman dan penghargaan sebagai upaya untuk mengurangi perilaku hiperaktif pada anak tunagrahita kategori sedang di kelas II SDLB.
Sekolah hendaknya menerapkan berbagai macam penanganan untuk mengurangi perilaku hiperaktif, salah satunya dengan menggunakan metode desain, sehingga apabila ada anak tunagrahita yang berperilaku hiperaktif dapat tertangani dengan baik. Penelitian mengenai perilaku hiperaktif dapat dikurangi melalui penggunaan punishment dan reward, sehingga diharapkan bagi peneliti selanjutnya dapat menggunakan metode lain untuk mengurangi perilaku hiperaktif pada anak tunagrahita ringan. Metode Penelitian Pendidikan: Penelitian memberikan gambaran, penjelasan, prediksi, inovasi, dan juga landasan teori bagi pengembangan pendidikan.
Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian-Pengembangan) Bandung: Alfabeta. 2010) Metode penelitian kualitatif, kuantitatif dan gabungan (mixed method). Bandung: Alfabet. Hasil perhitungan komponen pada fase Baseline-I, Intervensi dan Baseline-II Lengan dan kaki tidak bisa diam HASIL PERHITUNGAN KOMPONEN PADA FASE.
KESIMPULAN DAN SARAN
Saran
- 108