Rumah Karya: Andi Nayla
Indramayu adalah kota dimana aku tumbuh dengan banyak cerita bersama keluarga ku, dengan keluarga kecil beranggotakan lima orang tiga anak dan dua orang tua,bisa di bilang aku mempunyai keluarga cemara yang sederhana yang hidup bukan seperti kolomerat yang masih makan tahu tempe buatan mamah.
Mulai dimana aku duduk di bangku sd dengan punuh ceria dan kasih sayang yang aku jalani dengan senang hati, dulu layaknya anak kecil yang masih belum mengeti apa pun aku sering di marahi oleh ayah karena usil, aku di marahi oleh mamah karena tidak mau belajar. Hingga dimana waktunya aku memasuki bangku smp yang harus jauh dari pelukan hangat sang ibu dan genggaman tangan sang ayah.
Sebelum aku memasuki pondok pesantren kedua orang tua ku berpesan”nak jadilah anak yang dapat membenggakan kedua orang tua mu entah itu dalam akhlak atau pun perbuatan” kata itu yang aku dengar ketika aku memasuki pondok pesantren. sebulah telah aku lalui di ponpes aku hanya bisa mengabari mereka lewat sebuah hp jadul dulu kubilang itu adalah cinitnit, mengabari mreka bercerita dengan mereka,meraka selalu bembetiku nasihat dan lain sebagainya itu sudah sangat membuat ku bahagia apalagi kalau berada di samping mereka saat itu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan ,tahun pun berganti, tidak terasa tiga tahun pun sudah ku lewati tawa susah senang silih berganti aku dan akhirnya aku memilih untuk smk di luar kota. Kota yang di sebut kota ternyaman yang penuh cerita kisah cinta anak remaja ,kali ini sama seperti aku smp jauh dari sang ibu dan sang ayah
aku tinggal di ampartement bersama sang bibi, jujur rasa sepi itu mulai terasa sekarang sepi, sunyi, hening aku pergi ke sekolah lalu pulang, terus menerus seperti itu setiap harinya berkabar melalui gawai, sekarang aku menyebut diriku adalah anak rantau, sama seperti anak rantau lainnya aku berusha untuk belajar dan menggapai mimpi mimpi.
Di malam hari di kamar yang sunyi dengan badan yang diselimuti aku menangis merindukan kedua orangtua aku aku tidak tahu mengapa aku tiba tiba meneteskan air mata yang jatuh bigitu saja aku selalu merasakan banyak sekali beban yang aku punya mulai dimana aku belajar dan lainnya memang aku tipe bukan orang yang terbuka tentang masalah yang kuhadapi aku lebih senang kalau menyimpannya.
Menjadi anak rantau memiliki beberapa duka. Saat sakit, anak rantau harus tegar menghadapinya jauh dari keluarga. Anak rantau juga harus bisa menahan rindu. Teman anak rantau adalah deadline tugas yang menumpuk.
Anak rantau harus terbiasa hidup mandiri, sendiri dan pandai menahan diri. Tapi selalu ada kaliamat yang selalu mengingatkanku aku mendapatkan kalimat ini ketika aku membuka sosial media di gawai yang kupunya. “Sejauh apapun kamu pergi, kamu akan selalu punya tempat untuk pulang yaitu keluarga. Seorang perantau hanya pergi untuk kembali dan membuktikan kepada mereka bahwa kita bisa pulang dengan keadaan berbeda” ya begitulah anak perantau
Dari situ aku menegrti ternyata semua itu tentang masa depan masa yang dimana aku diajarkan untuk dewasa dan mengerti semua, dan juga aku mengerti bahwa keadaan yang sesulit apa pun ternyata obatnya adalah keluarga, bisa di bilang mereka adalah “RUMAH” dengan mereka aku bisa tertawa,bercanda,berbicara tentang masa depan dan banyak lainnya dan mulai sekarang aku terbuka dengan mereka menceritaan keluh kesah dan banyak lainnya, itu semua bukan untuk menjadikan beban di dalam hidup meraka tapi dengan aku bercerita kepada meraka, semua yang ada di hidupku menjadi lebih tenang dan positive vibe pastinya dan pada akhirnya aku bisa menyimpulkan masih ada mereka yang bisa membuat mu bahagia dan tempatmu untuk pulang