Penguatan strategi pemasaran dan daya saing UMKM berbasis kemitraan Kota Wisata dapat diselesaikan. Kemitraan yang dibangun oleh UMKM berbasis atau memanfaatkan ekonomi pariwisata diwujudkan melalui pengembangan Kota Wisata. Desa Wisata merupakan pemberdayaan dalam bentuk pariwisata berbasis komunitas, dimana pendekatan pengembangan dan pengembangan pariwisata berbasis komunitas (CBT) sering dipandang sebagai salah satu alat untuk mengentaskan kemiskinan khususnya di negara-negara berkembang.
Untuk itulah buku ini disusun dan diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan desa sebagai destinasi wisata dengan memberdayakan masyarakat dengan potensi dan kearifan lokalnya. Tentunya sebagai sebuah usaha ekonomi, desa wisata juga harus memiliki strategi pemasaran dan memperhatikan daya saing (nilai jual) dari produk dan jasa yang ditawarkannya. Buku ini tentunya masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak.
Pelayanan UMKM..145 Grafik 5.2 Rata-rata nilai indikator pada faktor kondisi..146 Grafik 5.3 Rata-rata nilai indikator pada faktor. Jasa UMKM..169 Grafik 5.8 Nilai rata-rata indikator faktor kondisi..170 Grafik 5.9 Nilai rata-rata indikator faktor kondisi..170 Grafik 5.9 Nilai rata-rata indikator faktor kondisi..170 Grafik 5.9 Nilai rata-rata indikator faktor kondisi.
PENDAHULUAN
Dengan kata lain, harus ada kemitraan antar pelaku usaha di sekitar tempat wisata dan MSMV, baik vertikal (antara UMKM dengan usaha besar pariwisata) maupun horizontal (antara UMKM di sekitar tempat wisata) untuk memperkuat implementasi strategi pemasaran dan memperkuat daya saing UMKM. sekitar tempat wisata. Dengan memanfaatkan sinergi yang kuat antara pariwisata dan UMKM seperti yang telah dijelaskan di atas, maka potensi ekonomi pariwisata perlu dimanfaatkan untuk memperkuat strategi pemasaran dan daya saing produk UMKM Jawa Timur. Bagaimana kondisi daya saing produk dan jasa serta faktor daya saing yang mempengaruhi MSMV di wilayah sasaran.
Sedangkan jangka waktu pelaksanaan kegiatan penelitian “Pemanfaatan Potensi Ekonomi Pariwisata dalam Meningkatkan Promosi dan Daya Saing Produk UMKM Jatim” adalah selama 9 (sembilan) bulan terhitung dari bulan Januari sampai dengan September 2018. Kuesioner yaitu pembagian daftar pertanyaan-pertanyaan yang dipersiapkan terlebih dahulu dan disusun secara sistematis sesuai dengan permasalahan penelitian yang ditentukan, diisi dan dipandu oleh tim peneliti yang diarahkan pada sumber data primer, juga dilakukan untuk permasalahan penelitian yang bersifat kuantitatif yaitu kaitannya dengan daya saing produk. dan pelayanan pada UMKM di daerah tersebut.Objek wisata. Lebih detailnya, analisis daya saing produk UMKM menggunakan skala 5 Likert, dengan menghitung hasil rata-rata setiap indikator, variabel dan daya saing secara keseluruhan.
Dengan demikian ditentukan daya saing secara keseluruhan, variabel, indikator dan subindikator dirata-ratakan antara 1 sampai dengan 5. Selain itu, dalam kaitannya dengan daya saing tersebut juga diperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhi (analisis faktor) untuk meningkatkan daya saing produk dan jasa UMKM di sekitarnya. tempat wisata.
TINJAUAN PUSTAKA
Daya saing merupakan salah satu kriteria penentu keberhasilan dan tercapainya tujuan yang lebih baik oleh suatu negara dalam meningkatkan pendapatan dan pertumbuhan ekonomi. Daya saing diidentikkan dengan permasalahan produktivitas, yaitu dengan melihat tingkat output yang dihasilkan untuk setiap input yang digunakan. Merupakan ukuran daya saing suatu kegiatan, kemampuan suatu negara atau daerah dalam memasarkan produknya ke luar daerah atau luar negeri.
Konsep daya saing regional berevolusi dari konsep daya saing yang digunakan oleh perusahaan dan negara. Daya saing perekonomian suatu negara sering kali merupakan cerminan kekuatan perekonomian regionalnya secara keseluruhan. Selain itu, dengan adanya tren desentralisasi, kebutuhan untuk mengetahui daya saing di tingkat daerah semakin meningkat (PPSK BI, 2008).
Michael Porter (1990) menyatakan bahwa konsep daya saing yang dapat diterapkan di tingkat nasional adalah “produktivitas” yang ia definisikan sebagai nilai output yang dihasilkan suatu tenaga kerja. Namun baik Bank Dunia, Porter, maupun literatur lain mengenai daya saing nasional. WEF mendefinisikan daya saing nasional sebagai “kemampuan perekonomian nasional untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan.
Dari berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa belum ada konsensus yang mendefinisikan persaingan secara jelas. Setidaknya, meski definisinya tidak terlalu seragam, namun hampir semua ahli mempunyai pendapat yang sama mengenai apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan daya saing (Sachs dkk, 2000, dalam PPSK BI, 2008). Dengan demikian, definisi tertentu yang disepakati semua pihak tidak lagi menjadi syarat mutlak untuk mengetahui faktor apa saja yang dapat menentukan daya saing suatu negara.
Menurut Porter, suatu negara memperoleh keunggulan kompetitif (CA) jika perusahaan (di negara tersebut) kompetitif. Kondisi permintaan mengacu pada ketersediaan pasar dalam negeri yang siap berperan penting dalam menciptakan daya saing. Negara ini akan kompetitif dalam industri di mana personel kuncinya dianggap bergengsi.
Ancaman adalah suatu kondisi lingkungan umum yang dapat menghambat upaya perusahaan untuk mencapai daya saing strategis. Sedangkan peluang adalah kondisi lingkungan umum yang dapat membantu perusahaan memperoleh daya saing strategis.
PEMANFAATAN EKONOMI PARIWISATA DAN KEMITRAAN UMKM
Adapun pemanfaatan industri pariwisata oleh responden UMKM di lokasi penelitian. Secara umum responden UMKM di wilayah Malang menyatakan bahwa perekonomian pariwisata justru memberikan keuntungan bagi mereka dalam menjalankan usahanya. Seluruh pelaku UMKM yang menanggapi survei ini menyatakan bahwa bermitra dengan UMKM lain merupakan hal yang penting untuk kelancaran usahanya. Seluruh responden UMKM pada penelitian ini menyatakan tidak merasa rugi jika bekerja sama dengan sesama UMKM. d) Peran UMKM dalam kemitraan.
Seluruh pelaku UMKM yang merespon penelitian ini menyatakan bahwa kemitraan dengan pelaku usaha pariwisata lainnya sangat diperlukan untuk mengembangkan usahanya dalam berbagai aspek, terutama dalam memperluas pasar atas produk dan jasa yang mereka jual. Keuntungan bagi sebagian besar MSMV responden penelitian (33,3%) adalah melalui kemitraan dengan pelaku usaha pariwisata lainnya menjadi sarana promosi. Seluruh pelaku UMKM yang merespon penelitian ini menyatakan bahwa bermitra dengan pelaku usaha pariwisata lain (selain UMKM lain) tidak membawa kerugian yang berarti bagi mereka atau dengan kata lain membawa banyak manfaat bagi mereka.
Jumlah kunjungan wisatawan lokal dan mancanegara ke tempat wisata di Kabupaten Probolinggo seperti terlihat pada grafik berikut: Bagi sebagian besar responden penelitian UMKM di Kabupaten Probolinggo, pemanfaatan ekonomi pariwisata tidak menimbulkan kerugian. Seluruh responden UMKM di Kabupaten Probolinggo menyatakan bahwa mereka merasa perekonomian pariwisata lebih besar manfaatnya dibandingkan kerugiannya.
Seluruh responden UMKM dalam penelitian ini mengatakan bahwa kemitraan dengan sesama UMKM merupakan suatu hal yang diperlukan demi kelancaran usahanya. Bagi seluruh responden UMKM penelitian ini, kemitraan dengan pelaku usaha pariwisata lain (selain UMKM) sangat diperlukan, misalnya kemitraan dengan agen perjalanan, pengelola media online, dan lain-lain. Sebagian besar (16 dari 30 orang) responden penelitian UMKM di Kabupaten Probolinggo menyatakan tidak terjadi kerugian yang signifikan akibat kemitraan dengan pelaku usaha pariwisata lainnya.
KONDISI EKSISTING USAHA UMKM
Namun pendidikan mereka sebagian besar adalah sekolah menengah atas, kemudian sarjana, dan yang paling sedikit adalah sekolah menengah atas. Lama waktu responden UMKM dalam penelitian ini mengelola usahanya saat ini berkisar antara 1 hingga 5 tahun. Jumlah pegawai yang bekerja menjalankan usaha pelaku UMKM dalam penelitian ini bervariasi antara 1 sampai 3 orang, dan terbanyak sebanyak 3 orang yaitu 13 responden (43,3%), disusul 1 orang dan 2 orang.
Jumlah kunjungan tamu responden UMKM pada penelitian ini maksimal 3 kali kunjungan dalam seminggu, rangkaian selanjutnya adalah 1 kali per minggu, 2 kali per minggu dan terakhir 4 kali per minggu. Rata-rata pendapatan responden UMKM dalam penelitian ini berkisar antara Rp1 juta hingga Rp8 juta per bulan. Bagi responden UMKM penelitian ini, kendala terbesar yang mereka rasakan dalam mengembangkan usahanya adalah upaya pengembangan jaringan pasar. Namun, promosi juga dianggap sebagai hambatan dan kemudian menjadi masalah permodalan.
Diurutkan paling banyak yaitu: wisma, pemandu wisata, petik apel, jeep, produk olahan apel, wisma dan cinderamata, jeep dan wisma, cinderamata, toko cinderamata, dan warung makan. Periode terlama UMKM yang disurvei menjalankan usahanya adalah: >1 tahun hingga <5 tahun, diikuti oleh: >5 tahun hingga <10 tahun dan terakhir >10 tahun. Jumlah karyawan di perusahaan UMKM yang menjadi responden survei ini sebanyak 40 orang dengan berbagai level.
Kunjungan wisatawan ke usaha UMKM responden dalam sebulan paling banyak 20 kunjungan, lalu 25 kunjungan, tak menentu setiap bulannya, bahkan ada yang rata-rata 300 kunjungan. Usaha yang digeluti oleh UMKM adalah: Penginapan, souvenir, makanan dan minuman, transportasi, pemandu wisata dan wisata petik apel. Program pendidikan dan pelatihan manajemen usaha sebaiknya dilakukan pada usaha rumah tangga, cinderamata, makanan dan minuman, serta transportasi.
KONDISI DAYA SAING PRODUK DAN JASA SERTA FAKTOR-FAKTOR DAYA SAING YANG BERPENGARUH
PADA UMKM
Nilai rata-rata faktor kondisi ini sebesar 3,46 yaitu “3” dengan kategori “agak setuju” dengan pernyataan mengenai indikator variabel ini. Nilai rata-rata faktor pertanyaan ini sebesar 3,28 yaitu “3” dengan kategori “agak setuju” dengan pernyataan mengenai indikator variabel ini. Nilai mean faktor industri yang berhubungan dan mendukung adalah sebesar 3,31 yaitu “3” dengan kategori “agak setuju” dengan pernyataan mengenai indikator variabel ini.
Nilai rata-rata faktor strategi bisnis dan persaingan sebesar 3,41 yang bernilai “3” dalam kategori “agak setuju” dengan pernyataan mengenai indikator variabel tersebut. Nilai rata-rata faktor pemerintah ini sebesar 3,20 yang merupakan nilai “3” dalam kategori “sangat setuju” dengan pernyataan mengenai indikator-indikator variabel ini. Indikator SDF persepsi daya saing UMKM di wilayah Probolinggo mempunyai nilai mean sebesar 3,42 yang termasuk dalam nilai “3” dengan kategori “sangat setuju” dengan pernyataan yang diuraikan dalam indikator ini, dengan penjelasan sebagai berikut: .
Nilai rata-rata faktor permintaan ini sebesar 3,88 yaitu “4” dengan kategori “setuju” dengan pernyataan indikator variabel ini. Nilai mean faktor industri yang berhubungan dan mendukung sebesar 3,98 yaitu “4” dalam kategori “setuju” dengan pernyataan indikator variabel ini. Nilai mean faktor strategi bisnis dan persaingan ini sebesar 3,99 yaitu “4” dengan kategori “setuju” dengan pernyataan indikator variabel ini.