• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saman

N/A
N/A
ELISA ELISA

Academic year: 2024

Membagikan "Saman"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

“Saman-Ratoh Jaroe” : Oposisi Biner Dalam Perspektif Gender, Konflik Sosial Pada Tari Tradisi Aceh

Tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Antropologi Pendidikan Seni

Dosen Pengampu :

Prof. Dr. Marhaeni Tri Pudjiastuti, M.Hum Prof. Dr. Slamet Subiyantoro, M.Si

Oleh : Elisa Nim. 2302190036

PRODI S3 PENDIDIKAN SENI FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2024

(2)

Pendahuluan

Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki sejarah panjang dalam persebaran agama Islam di nusantara. Islam telah memainkan peran yang penting dalam kehidupan sosial, budaya, politik, dan ekonomi masyarakat Aceh selama berabad- abad, dan membuatnya menjadi sebuah “identitas” bagi yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Aceh itu sendiri. Hal tersebut pada akhirnya memunculkan sebuah pepatah aceh yang berbunyi “Hukom ngon adat lage zat ngon sifeut” (hukum Islam dengan adat seperti zat dengan sifatnya), dengan kata lain memiliki makna dimana syariat Islam telah mengakar dan mengatur secara keseluruhan aspek kehidupan masyarakat Aceh.

Hal tersebut tercipta dikarenakan faktor dari sosiokultural dan historis Aceh, sehingga pelaksanaan syariat Islam menjadi hukum yang berlaku diwilayah Aceh.

Kedatangan Islam tidak hanya mengubah keyakinan agama masyarakat Aceh, tetapi juga membentuk struktur sosial, politik, dan ekonomi mereka. Dari proses tersebut ada indikasi kuat bahwa orang-orang Aceh mendapat pengaruh oleh para penyebar Islam tersebut, misalnya dalam masyarakat Aceh sampai sekarang masih terdapat adat, tradisi, seni dan warisan budaya lainnya yang mirip dengan India, Persia, dan Arab.

Di Aceh, Islam telah menggabungkan budaya lokal telah masuk ke dalam masyarakat. Sulit dipungkiri bahwa status Islam sebagai agama yang populer di Nusantara (bermula dari Indonesia) berkembang seiring dengan penerimaan nilai-nilai kearifan lokal tanpa menimbulkan konflik (Kurniawan, 2018). Dalam kasus ini, telah jelas bahwa agama Islam masih menerima budaya lokal yang berkaitan dengan proses sosial namun dengan catatan tidak bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam. Proses sosialisasi berkaitan dengan proses belajar kebudayaan dalam konteks sistem (Nuriyanto, 2017). Hal ini juga sejalan dengan gagasan bahwa kesadaran budaya adalah ketika seseorang mampu menghargai, memahami, dan menghormati perbedaan budaya mereka sendiri dengan budaya orang lain (Mumtazul, 2017)

(3)

Akulturasi timbal balik antara Islam dan budaya lokal diakui dalam suatu kaedah atau ketentuan dasar dalam ilmu Usul Fikih, bahwa “Adat itu dihukumkan”, atau lebih lengkapnya “Adat adalah syariah yang dihukumkan”. Ini bermakna bahwa adat dan kebiasaan suatu masyarakat, yaitu budaya lokalnya, adalah Islam mengakui keberadaan adat-kebiasaan masyarakat karena adat istiadat atau kebiasaan merupakan bagian dari kehidupan sosial masyarakat tersebut. Islam datang mengakui dan mengakomodir nila- nilai kebudayaan dan adat-kebiasaan suatu masyarakat yang dianggap baik dan tidak bertentangan dengan ideologi Islam.

Kembali pada sejarah masuknya Islam di Aceh diawali pada abad ke-7 Masehi ketika pedagang Arab dan Gujarat mulai memperkenalkan agama Islam kepada masyarakat Aceh melalui jalur perdagangan. Namun, Islam secara signifikan menjadi agama dominan di Aceh pada abad ke-13 melalui upaya dakwah yang dilakukan oleh para ulama dan Sufi, khususnya Syeikh Abdullah bin Muhammad al-Samudera, yang dikenal sebagai penggerak utama penyebaran Islam di wilayah ini (Imran , n.d.).

Sejarah proses kedatangan Islam di Aceh masih menjadi diskusi dan perdebatan yang panjang, hal ini dikarenakan keterbatasan data yang dapat mendukung suatu teori tertentu, tetapi juga karena sifat sepihak dari berbagai teori yang ada. Setelah menyimpulkan dari semua data yang dikemukakan historiografi klasik ini, maka diambil empat tema pokok. Pertama, Islam dibawa langsung dari Arabia; Kedua, Islam diperkenalkan oleh para guru dan penyair “profesional” yakni mereka yang memang khusus bermaksud menyebarkan Islam; Ketiga, yang mula-mula masuk Islam adalah para penguasa; dan Keempat, kebanyakan para penyebar Islam “profesional” ini datang ke Nusantara pada abad ke-12 dan ke-13. Mempertimbangkan tema terakhir ini, seperti dibahas di depan, mungkin benar bahwa Islam sudah diperkenalkan ke dan ada di Nusantara pada abad-abad pertama Hijri, sebagaimana dikemukakan Arnold dan dipegangi banyak sarjana Indonesia-Malaysia, tetapi hanyalah setelah abad ke-12 pengaruh Islam kelihatan lebih nyata (Islam Indonesia & Historis dan Awal Pembentukan Islam, n.d.).

(4)

Kedatangan Islam tidak hanya sebatas mengubah keyakinan agama masyarakat Aceh, tetapi juga membentuk struktur sosial, politik, dan ekonomi mereka. Dari proses ada indikasi kuat bahwa orang-orang Aceh terpengaruh oleh para penyebar Islam tersebut, misalnya dalam masyarakat Aceh sampai sekarang masih terdapat adat dan tradisi dan kesenian yang mirip dengan kebudayaan India, Persia, dan Arab.

Seni dan Islam awalnya tampak sebagai dua jalur yang terpisah. Dalam batas waktu tertentu, seni dianggap sebagai bagian dari budaya, sedangkan Islam dianggap sebagai agama yang tidak terkait dengan budaya. Namun, dalam praktik kehidupan sehari-hari, keduanya saling berinteraksi dan melahirkan produk budaya yang berbasis syariat Islam. Salah satu contoh adalah adanya seni yang mengandung unsur-unsur nilai- nilai Islam, atau sebaliknya, Islam dapat berwujud sebagai suatu bentuk seni.

Salah satu contoh akomodatif budaya terhadap Islam dapat dilihat pada pengembangan seni yang kemudian dikenal sebagai seni Islam atau seni islami. Ada pula yang menyebutnya sebagai seni lokal dengan unsur-unsur Islam. Hal ini menunjukkan adanya sintesis antara budaya sebagai hasil karsa dan ciptaan manusia dengan ajaran Islam sebagai suatu gagasan yang datang dari luar karsa dan ciptaan manusia. Salah satu contoh sintesis ini terwujud dalam bentuk-bentuk seni, seperti seni Islam atau seni islami.

Tari Saman dan tari Ratoh Jaroe adalah merupakan perwujudan seni tari yang hingga sekarang ini diidentifikasikan sebagai tari seni Islam. Tari Saman merupakan salah satu tari tradisi perkauman etnis Gayo dan merupakan warisan budaya dunia yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai daftar representatif budaya takbenda warisan manusia.

Seni tari ini diidentifikasikan sebagai tari Islam karena mempunyai beberapa ciri yang mewakili nilai-nilai Islam. Ciri-ciri tersebut diantaranya memuat nilai ketauhidan dan unsur pesan dakwah Islam. Dalam sejarah, Tari Saman berasal dari abad ke-14 dan awal abad ke-15, ketika kerajaan Aceh berada di bawah pengaruh Islam. Tari Saman sendiri diciptakan dan dikembangkan oleh seseorang yang dikenal bernama Syekh Saman, yaitu seorang tokoh Islam pada abad ke-14 Masehi.

Nama tari Saman didasarkan pada nama pembuatnya. Sebelumnya, tari Saman diciptakan karena terinspirasi permainan rakyat setempat yaitu "pok-pok ane", yang

(5)

yang disukai masyarakat tersebut dalam proses penyebaran agama Islam sehingga terciptalah satu tarian yang berakar dari permainan tradisi suku setempat yaitu Saman.

Syair pada tarian ini diubah dengan ditambahkan unsur-unsur syiar, dakwah dan ketauhidan(Tari, n.d.). Selanjutnya Syair yang dilantunkan bermuatan pantun nasihat dan tuntunan agar manusia berbuat kebajikan. Dalam syair tersebut terdapat percampuran bahasa syair yaitu terdapat Bahasa Arab dan Gayo. Selanjutnya pada komposisi penyajian penari, tarian Saman ini hanya boleh dilakukan oleh kaum laki laki yang berjumlah ganjil, dimana ganjil memiliki simbolik yang melambangkan Zat Yang Maha Esa(Dari & Gayo, n.d.).

Pada tahun 2000-an muncul sebuah tarian Aceh yang dinilai memiliki kesamaan dengan tarian Saman, dikenal dengan nama Ratoeh Jaroe. Ratoeh Jaroe merupakan tarian Aceh yang menggabungkan beberapa gerakan tarian tradisi Aceh lainnya (likok pulo, meusekat,saman) dan dimodifikasi dari gerak dan estetika nya(Tari Ratoh Jaroe Dan Tari et al., 2019). Pada tahun 2018 Ratoeh Jaroe menjadi topik perbincangan hangat, dimana Ratoeh Jaroe tampil memukau dengan menampilkan formasi 1.600 penari di pembukaan perhelatan Sea Games. Secara tampilan terkadang masyarakat yang diluar aceh kerap salah penyebutan dan mengenali antara Ratoeh Jaroe dan tari Saman, hal ini dikarenakan secara representasi memiliki “kemiripan”. Kemiripan terlihat dari struktur penyajian, namun pada tari ratoh jaroe dilakukan oleh penari perempuan, dan berjumlah genap.

Dibalik “kemiripan” dari perspektif penikmat pertunjukan tari, tetapi terdapat perbedaan yang mencolok dan menjadi polarisasi dari tari Saman dan Ratoh Jaroe tersebut, dimana polarisasi tersebut mengakibatkan adanya kontradiksi (oposisi biner) sehingga membuat batasan-batasan dalam tatanan sosial budaya (Barker, 2004).

Pemikiran struktur yang berorientasi pada oposisi biner dapat menyebabkan terjadinya naturalisasi dan mistifikasi terhadap suatu objek, sehingga pengertian objek tersebut menjadi kurang akurat dan seringkali dianggap sebagai hal yang "wajar" atau "sudah pasti". (Barker, 2004)

(6)

Didalam budaya tradisional, selalu terdapat dua kontradiksi yang saling berlawanan dan saling memperkuat, namun pada akhirnya membentuk kesadaran dan identitas budaya. Hal-hal yang berlawanan (oposisi biner) ini dapat ditemukan dalam berbagai aspek diantaranya seperti sejarah, tujuan, gerakan, gender, budaya, dan estetika.

Dalam situasi tersebut keberadaan dari dua hal yang bertentangan tidak dapat dihilangkan namun dapat dibedakan. Dengan demikian, ciri kultural bukanlah suatu keberadaan yang satu-satu, tetapi suatu sistem yang kompleks dan dinamis, yang terdiri atas berbagai unsur-unsur yang saling berhubungan dan saling memperkuat." (Geertz, 1973).

Begitu juga halnya yang terjadi pada tari tradisi Aceh, dalam analisis ini dikhususkan pada tari Saman dan Ratoh Jaroe. Seperti yang diketahui, pengaruh Islam di Aceh menjadikan posisi perempuan sangat lemah dalam berkesenian dan sampai hari ini masih menjadi pembahasan yang mengalami pro dan kontra, karena sebahagian ulama menganggap hal tersebut bertentangan dengan syariat. Hal ini pula yang menjadi ketertarikan penulis dalam memilih pembahasan oposisi biner terhadap tari tradisi Aceh yaitu Saman dan Ratoh Jaroe yang dihighlight dalam perspektif gender, konflik sosial.

(7)

Konsep/Teori/Pendekatan

1. Pendekatan Strukturalisme

Dalam kajian ini, penulis menggunakan pendekatan strukturalisme, yaitu sebuah pendekatan ilmiah yang berfokus pada analisis struktur masyarakat, organisasi, atau sistem sosial yang mempengaruhi perilaku individu. Teori strukturalisme dalam sosiologi memandang bahwa perilaku individu tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal seperti kemampuan dan kebiasaan, tetapi juga oleh struktur masyarakat dan sistem sosial yang mereka tinggal. Hal ini seperti halnya yang diungkapkan dalam pandangan Lévi-Strauss yaitu, ilmu pengetahuan sosial memiliki dua tingkatan pengetahuan, yaitu pengetahuan

"dasar" dan "turunan". Pengetahuan "dasar" merujuk pada pengetahuan yang paling primitif dan fundamental, sedangkan pengetahuan "turunan" adalah hasil dari analisis dan interpretasi terhadap pengetahuan dasar.(Lévi-Strauss Strukturalisme & Teori Sosiologi, n.d.-a). Dalam kutipan Original text Levi-Strauss’ disebutkan:

..."The main goal of Levi-Strauss' structuralism is to uncover the structure of social-cultural phenomena, but this does not mean he dismisses function.

According to Nutini, Levi-Strauss is indeed concerned with function 'but only insofar as it is a result of the positional and relational arrangements of elements of a contextual social situation' (emphasis mine). This means that for Levi-Strauss, 'function can only be assigned after the structure has been thoroughly established' (1970: 557), function can only be assigned after the structure has been fully built.") ...

Hal tersebut diatas memiliki makna bahwa tujuan utama strukturalisme Lévi- Strauss adalah memahami struktur gejala-gejala sosial-budaya, tetapi ini tidak berarti mengabaikan fungsi. Strukturalisme Lévi-Strauss memang terkait dengan fungsi, tetapi hanya dalam kaitannya dengan penempatan dan pengaturan relasi antara elemen-elemen situasi sosial konteksual. Hal ini berarti bahwa fungsi hanya dapat ditetapkan setelah struktur telah sepenuhnya terbangun.

(8)

Berikut adalah beberapa asumsi dasar yang digunakan oleh Lévi Strauss dalam memahami teori strukturalisme yang terkait dengan fenomena budaya diantaranya :

1. Dalam teori strukturalisme, terdapat pandangan bahwa segala aktivitas sosial dan produknya, seperti cerita dongeng, upacara, sistem kekerabatan dan perkawinan, pola tempat tinggal, pakaian, dan sebagainya, layaknya bahasa- bahasa formal, atau lebih tepatnya merupakan sistem tanda dan simbol yang mengungkapkan pesan-pesan tertentu.

2. Para penganut strukturalisme berpendapat bahwa kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis pada manusia termasuk kemampuan untuk menyusun atau menyusun struktur tertentu pada gejala yang dihadapinya.

3. Suatu istilah yang ditentukan maknanya oleh relasi-relasinya pada suatu titik waktu tertentu, yaitu secara sinkronis.

4. Relasi yang terdapat pada struktur dalam dapat disederhanakan menjadi oposisi berpasangan (binary opposition) yang paling tidak punya dua pengertian (Ahimsa-Putra, 2001:66-70).

Dalam teori strukturisme, subjek individu tidak dilihat sebagai entitas independen yang memiliki kemampuan dan kebebasan untuk memilih, tetapi sebagai bagian dari struktur yang lebih besar. Subjek individu dianggap sebagai bagian dari sistem sosial yang terbentuk oleh hubungan-hubungan antar-objek. Oleh karena itu, perilaku subjek individu dipengaruhi oleh struktur sosial dan budaya yang dibentuk oleh hubungan- hubungan antar-objek. Dalam kaitannya dengan semiotika, strukturalisme berpendapat bahwa makna tidak ditentukan oleh subjek individu, tetapi oleh struktur sosial dan budaya. Dalam analisis strukturalisme, objek-objek tidak dilihat sebagai bagian yang independen, tetapi sebagai bagian dari sistem yang lebih besar. Oleh karena itu, analisis harus dilakukan dengan mempertimbangkan bagaimana objek-objek terkait dengan objek lainnya dan bagaimana mereka membentuk sistem yang lebih besar.

(9)

1.1 Teori Oposisi Biner (Binary Opposition)

Selanjutnya untuk mengkaji polarisasi yang mengakibatkan kontradiksi dalam tari tradisi Aceh dalam hal ini Saman dan Ratoh Jaroe, penulis menggunakan Teori strukturalisme oposisi biner ( binary opposition) Levi-Strauss’. Claude Lévi-Strauss, seorang antropolog Belanda, memperkenalkan konsep oposisi biner dalam karyanya "The Elementary Structures of Kinship" (Struktur Dasar Kependudukan) pada tahun 1949.

Oposisi biner adalah konsep yang digunakan untuk menjelaskan bagaimana orang-orang dalam masyarakat tradisional berinteraksi dan membangun hubungan sosial. Oposisi biner yang ditemukan dalam tari tradisi, khususnya dalam seni tari Indonesia. Dalam konteks ini, oposisi biner menunjukkan adanya perbedaan antara dua hal yang tampaknya saling bertentangan, namun sebenarnya saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain. Oposisi biner atau binary opposition merupakan aturan kekerabatan yang disetarafkan dengan obyek linguistik (bahasa). Sistem kekerabatan dianggap sebagai semacam bahasa. (Rusmanto, 2024).

Menurut Lévi-Strauss, oposisi biner adalah kontradiksi yang dianggap sebagai hal yang normal dan diperlukan dalam kehidupan sosial. Ia berpendapat bahwa semua sistem sosial didasarkan pada oposisi biner, yaitu suatu kontradiksi antara dua pihak yang saling berlawanan. Oposisi biner terjadi dalam aspek kehidupan sosial manusia, seperti sistem kepercayaan, sistem budaya, dan sistem politik. Oposisi biner memiliki dua sifat penting:

pertama, oposisi ini tidak dapat dihilangkan; kedua, oposisi ini dapat diintegralkan dan diorganisir menjadi sistem sosial. Lévi-Strauss berpendapat bahwa semua sistem sosial didasarkan pada sintesis dari dua oposisi biner yang saling berlawanan.

Strukturalisme oposisi biner menunjukkan bahwa masyarakat tidak stabil dan selalu bergerak dalam suatu proses konflik antara dua pihak yang berbeda. Kedua pihak tersebut saling mempengaruhi dan memengaruhi perilaku individu, sehingga mengarah pada perubahan dan evolusi masyarakat. Dalam sintesis, teori strukturalisme oposisi biner dalam sosiologi menunjukkan bahwa masyarakat terdiri dari konflik antara dua pihak yang berbeda, yang saling mempengaruhi dan memengaruhi perilaku individu. Oleh

(10)

karena itu, analisis terhadap struktur masyarakat dan sistem sosial sangat penting untuk memahami bagaimana individu bereaksi terhadap situasi sosial.

Dalam kaitannya dengan kajian-kajian lainnya tentang budaya dan sosial, teori oposisi biner Levi-Strauss memiliki beberapa implikasi penting. Pertama, teori ini menunjukkan bahwa semua sistem sosial didasarkan pada kontradiksi-kontradiksi yang saling berlawanan. Kedua, teori ini menunjukkan bahwa oposisi biner dapat diintegralkan dan diorganisir menjadi sistem sosial yang stabil. Ketiga, teori ini menunjukkan bahwa oposisi biner digunakan sebagai cara untuk menjelaskan keanehan-keanehan hidup. Lévi- Strauss berpendapat bahwa struktur sosial dibentuk oleh oposisi biner yang terjadi dalam masyarakat. Oposisi biner ini memungkinkan individu untuk berinteraksi dengan orang lain dan menciptakan relasi sosial. Struktur sosial bukan hanya sebagai suatu sistem yang statis, tapi juga sebagai suatu sistem yang dinamis dan selalu berubah.(Lévi-Strauss Strukturalisme & Teori Sosiologi, n.d.-b)

Paradigma strukturalis dalam antropologi menyatakan bahwa struktur proses berpikir manusia adalah sama di semua budaya, dan bahwa proses mental ini ada dalam bentuk oposisi biner (Winthrop, 1991). Beberapa pertentangan tersebut antara lain seperti siang-malam, panas-dingin, laki-laki-perempuan, hitam-putih, budaya-alam dan lainnya.

Kaum strukturalis berpendapat bahwa oposisi biner tercermin dalam berbagai institusi budaya (Lett,1987).

1.2 Teori Gender

Konsep gender dapat diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dalam hal nilai-nilai dan perilaku sosial. Dalam sumber etimologis, gender dapat didefinisikan sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Menurut pandangan Handayani (2020), gender sebenarnya adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang dipengaruhi oleh konstruksi sosial dan budaya.

Perspektif gender dalam masyarakat Aceh adalah suatu fenomena yang kompleks dan dinamis, dipengaruhi oleh sejarah, kebudayaan, dan nilai-nilai sosial yang berlaku di

(11)

masyarakat. Dalam masyarakat Aceh, peranan gender ditentukan oleh hukum syariat Islam dan kebudayaan adat istiadat yang berlaku. Oleh karena itu, peranan gender dalam masyarakat Aceh memiliki ciri-ciri yang unik dan berbeda dengan masyarakat lainnya.

Dalam masyarakat Aceh, laki-laki dan perempuan memiliki peranan yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari. Laki-laki dianggap sebagai pemimpin dan pengaruh, sedangkan perempuan dianggap sebagai pengiring dan penunjang. Peranan ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Namun dalam kasus kajian Saman dan Ratoh Jaroe ini, penulis menemukan adanya upaya kesetaraan perempuan dalam hal budaya, dimana sampai hal ini masih menjadi perbincangan dan perdebatan panjang di masyarakat Aceh. Gender sebagai sebuah perspektif untuk memandang kenyataan adalah berbagai asumsi, dasar, model, konsep, serta metode yang digunakan untuk mengungkap dan menampilkan adanya fenomena gender dalam suatu masyarakat serta berbagai persoalan sosial budaya yang ditimbulkannya.

Dalam memahami gender, Elaine Shorwalter mengartikan sebagai lebih dari sekadar perbedaan laki-laki dan perempuan, melainkan sebagai konsep analisis yang dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena sosial (Nasaruddin, 2001). Menurutnya, gender adalah suatu konsep yang dapat digunakan untuk menganalisis dan memahami perbedaan laki-laki dan perempuan. H.T Wilson juga berpendapat bahwa gender adalah suatu dasar untuk menentukan pengaruh budaya dan kehidupan kolektif terhadap perbedaan laki-laki dan perempuan. Gender bukanlah sesuatu yang kodrati, tetapi rather a social construction, yaitu suatu bentuk rekayasa masyarakat yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya.(Afandi, 2019)

(12)

1.3 Konflik Sosial

Konflik sosial adalah sebuah proses di mana individu atau kelompok memiliki tujuan, nilai, dan kepentingan yang saling bertentangan, sehingga menimbulkan perbedaan pendapat, kesalahpahaman, dan ketegangan. Konflik sosial dapat terjadi antara individu, kelompok, atau bahkan antara budaya. Dalam budaya, konflik sosial dapat berpengaruh sangat signifikan terhadap perkembangan dan evolusi budaya.

Seperti yang diketahui bersama bahwa Aceh telah mengalami konflik sosial yang berkepanjangan dan kompleks sejak tahun 1970-an. Konflik ini terjadi antara pemerintah pusat dan gerakan separatis Aceh, Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang bertujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan Aceh dari Indonesia. Dalam beberapa dasawarsa konflik ini telah membawa dampak signifikan terhadap budaya masyarakat Aceh. Awalnya, konflik ini dimulai karena perbedaan pandangan antara pemerintah pusat dan GAM tentang status quo Aceh dalam kehidupan politik Indonesia. Pemerintah pusat menjamin Aceh sebagai bagian dari wilayah Indonesia, sedangkan GAM berpendapat bahwa Aceh memiliki hak untuk memperjuangkan kemerdekaan.

Soerjono Soekanto dalam Ahmadi (2009: 281) menyatakan bahwa konflik adalah suatu proses sosial antara individu atau kelompok yang terjadi ketika mereka berusaha mencapai tujuan dengan cara menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan/atau kekerasan. Selanjutnya Lewis A. Coser dalam Ahmadi (2009: 281) berpendapat bahwa konflik adalah sebuah perjuangan atas nilai-nilai atau tuntutan atas status, kekuasaan, dan sumber daya yang bertujuan untuk menetralkan, mencederai, atau melenyapkan lawan.

Gillin dan Gillin dalam Ahmadi (2009: 282) melihat konflik sebagai bagian dari proses interaksi sosial antara manusia yang memiliki perbedaan-perbedaan fisik, emosional, budaya, dan perilaku. Oleh karena itu, konflik adalah bagian dari proses interaksi sosial yang terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan tersebut. Kemudian Pruit & Rubin (2009: 9) mendefinisikan konflik sebagai persepsi tentang perbedaan kepentingan (Perceived divergence of interest) atau suatu keyakinan bahwa aspirasi pihak-pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai secara simultan. Mereka juga

(13)

menjelaskan bahwa jika kita memahami konflik pada dimensi ini, maka unsur-unsur yang terlibat dalam konflik adalah persepsi, aspirasi, dan aktor-aktor yang terlibat di dalamnya.

Konflik sosial dapat berupa konflik horizontal, yaitu konflik antara individu atau kelompok yang memiliki status sosial yang sama, atau konflik vertical, yaitu konflik antara individu atau kelompok yang memiliki status sosial yang berbeda. Konflik horizontal biasanya terjadi dalam masyarakat yang memiliki lapisan sosial yang jelas, seperti perbedaan antara kelas pekerja dan kelas atas. Sedangkan konflik vertical terjadi dalam masyarakat yang memiliki struktur sosial yang lebih kompleks, seperti perbedaan antara pemerintah dan rakyat.

Konflik sosial dapat berpengaruh pada budaya melalui beberapa cara. Pertama, konflik dapat mengarah pada perubahan budaya. Misalnya, konflik antara kelompok etnis dapat mengarah pada perubahan nilai-nilai budaya dan tradisi. Kedua, konflik dapat mempengaruhi perkembangan budaya. Misalnya, konflik antara pemerintah dan rakyat dapat mempengaruhi perkembangan sistem pendidikan dan kesehatan. Ketiga, konflik dapat berpengaruh pada identitas budaya. Misalnya, konflik antara kelompok agama dapat mempengaruhi identitas budaya masyarakat dan pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari.

(14)

Analisis

1. Oposisi Biner Saman-Ratoh Jaroe Dalam Sejarah, Tujuan, bentuk penyajian 1.1 Saman

Saman merupakan salah satu tari tradisi Aceh yang memiliki sejarah yang panjang, dimana dipercaya muncul dari abad ke-14. Saman berasal dari nama penciptanya yaitu Syekh Saman, seorang tokoh Islam yang melakukan penyebaran agama di tanah Gayo Aceh. Bentuk Tari Saman sendiri berangkat dari sebuah permainan rakyat etnis Gayo yang disebut “Pok Ane”, yaitu permainan bertepuk tangan dan dada sambil bersyair. Selanjutnya Pok Ane dijadikan bentuk dasar dalam sebuah media syiar Islam oleh syekh saman kedalam sebuah bentuk tarian yang secara struktur bentuk serta syair disisipkan nilai nilai ketauhidan dan nasihat penting nya beragama, serta ke Esaan Allah SWT.

Didalam tari Saman memiliki keharusan dari komposisi kepenariannya, yaitu dimana seluruh penari wajib laki-laki. Hal ini dikarenakan Tari Saman mencerminkan kepemimpinan ulama (syekh). Selanjutnya pada komposisi penyajian, tari saman hanya memiliki pola horizontal yaitu pola barisan yang menyerupai shaf di dalam shalat. Kemudian pada syair-syair yang mengiringi tarian saman dari awal penyajian berisi tentang ketauhidan , kisah sejarah dalam agama Islam, ke Esaan Allah SWT dan pujian terhadap Rasulullah Muhammad SAW yang menggunakan bahasa etnis Gayo dengan menyisipkan bahasa Arab didalamnya.

Dalam penyajiannya, penari Saman harus berjumlah ganjil, dimana hal ini dapat dimaknai sebagai perwujudan zat Allah. Saman awalnya ditampilkan diacara- acara keagamaan serta tanpa instrument musik pengiring didalam penyajiannya.

Dalam penyajiannya, Saman menonjolkan permainan tepukan tangan dan dada. Dari sini dapat kita ketahui bahwa tari saman dahulunya adalah sebuah media syiar agama Islam, dan dikemas dalam bentuk seni yang dimana seni tersebut juga tercipta dari kebiasaan masyarakat setempat. Hal ini dapat dimaknai dalam pensyiaran agama Islam dilakukan dengan hal yang menarik perhatian masyarakat. Dalam

(15)

dan dakwah, namun telah menjadi sebuah seni pertunjukan dengan tidak meninggalkan esensi utamanya yaitu syiar Islam.

1.2 Ratoh Jaroe

Ratoh Jaroe secara etimologi memiliki makna yang menarik, yaitu kata "ratoh"

memiliki arti "berkata" atau "berbincang", sedangkan "jaroe" berarti "jari tangan".

Oleh karena itu, Tari Tradisi Aceh Ratoh Jaroe memiliki makna yang terkait dengan pengucapan puisi atau menceritakan kisah dengan diiringi gerakan-gerakan jari tangan yang artistik. Secara makna tari Ratoh Jaroe adalah tarian tradisional Aceh yang merepresentasikan semangat dan keanggunan perempuan Aceh. Menurut Ensiklopedia, tarian ini lahir pada tahun 2000 an untuk membangkitkan kembali semangat perempuan Aceh dari keterpurukan akibat konflik sosial maupun bencana alam. Sebagaimana diketahui aceh telah mengalami konflik sosial yang berkepanjangan dan bencana alam Tsunami yang memporak porandakan bumi Aceh.

Dimana salah satu yang menjadi korban dari konflik tersebut adalah kaum perempuan, banyak perempuan Aceh pada saat itu merasa trauma dan kesedihan mendalam akibat kehilangan orangtua, suami, anak serta anggota keluarga lainnya (Gebrina, 2018).

Selain itu, tarian ini juga menjadi medium untuk menyiarkan nilai Islam melalui syair-syair yang melantunkan pujian-pujian kepada Allah. Jika pada saman dilakukan oleh laki-laki maka tari ratoh jaroe dilakukan oleh perempuan dan berjumlah genap. Gerakan para penari lebih banyak duduk atau berlutut di tempat.

Dalam penyajiannya Ratoh Jaroe diringi oleh tabuhan instrument perkusi yang disebut rapai, serta syair yang dilantunkan dipandu oleh seorang syeh. Tari Ratoh Jaroe juga memiliki fungsi yang sama berfungsi sebagai salah satu media dakwah yang mencerminkan nilai-nilai pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan yang diperlihatkan melalui gerakan jari tangan penari.

(16)

Tari ratoh jaroe sekilas mirip tari saman, hal ini dapat dikatakan bahwa tari ratoh jaroe bisa dianggap sebagai revitalisasi dari tari saman yang lebih tradisional.

Dalam kesimpulan akhir Tari Ratoh Jaroe adalah perpaduan tari tradisional Aceh dengan modifikasi gerak, estetika dan musik pengiring yang berbeda. Tarian ini menjadi salah satu wujud ekspresi budaya dan identitas masyarakat Aceh yang terkenal tangguh sejak dahulu.

2. Tari Ratoh Jaroe dalam perspektif Gender

Tari Ratoh Jaroe, salah satu tarian tradisional Aceh, Indonesia, telah lama menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat setempat. Dalam konteks ini, tarian ini memperlihatkan kekuatan dan keanggunan perempuan Aceh dan menjadi medium untuk ekspresi budaya dan identitas. Dalam perspektif gender, Tari Ratoh Jaroe memiliki arti yang signifikan karena menampilkan kemandirian dan pengaruh perempuan Aceh. Tarian ini diperlakukan oleh perempuan yang menjadi pemeran utama, menggambarkan pentingnya perempuan dalam masyarakat. Dalam banyak budaya, perempuan biasanya berada di belakang latar belakang, sedangkan laki-laki menjadi pemeran utama.

Dalam masyarakat Aceh, fakta bahwa perempuan menjadi pemeran utama dalam tarian ini menunjukkan pentingnya posisi mereka didalam masyarakat.

Gerakan tarian ini karakteristik oleh gerakan tangan yang kompleks, klapping yang ritmik, dan langkah kaki yang sinkron. Gerakan penari ini menunjukkan kekuatan fisik dan koordinasi mereka, sebagai mereka melakukan langkah-langkah kompleks dan gerakan-gerakan dengan akurat dan indah. Pemaparan kekuatan fisik ini adalah deklarasi kuat tentang kemampuan perempuan Aceh yang selama ini dianggap sebagai “penunggu” rumah tangga dan penjaga anak.

Selain itu, Tari Ratoh Jaroe tidak hanya menampilkan kemampuan fisik; juga menampilkan keterampilan artistik dan kesadaran emosional. Tarian ini diiringi musik dan syair yang menggambarkan nilai-nilai Islam dan ajaran-ajaran agama, yang menekankan pentingnya kesederhanaan, kesetiaan, dan iman. Gerakan penari

(17)

ini dipenuhi devosi dan keyakinan, menggambarkan komitmen mereka yang mendalam terhadap agama.

Kemudian, Tari Ratoh Jaroe juga menampilkan kemampuan emosional dan empati perempuan Aceh. Tarian ini sering dipentaskan untuk menceritakan cerita- cerita sehari-hari di Aceh, termasuk tema-tema seperti migrasi, kesedihan, kegembiraan, nasihat, dan mengatasi kesulitan. Syair-syair yang dikumandangkan dalam tari Ratoh Jaroe ini berfungsi sebagai sarana berbagi pengalaman dan emosi antara komunitas, menggambarkan pentingnya empati dan pemahaman dalam membangun hubungan-hubungan yang kuat.

Dalam perspektif sejarah, Tari Ratoh Jaroe telah berperan penting dalam melestarikan budaya Aceh dan identitas masyarakat. Tarian ini telah dilestarikan melalui generasi-generasi dengan setiap generasi menambahkan sentuhan-sentuhan unik dan interpretasi-interpretasinya sendiri. Proses transmisi ini membantu mempertahankan kesinambungan budaya dan melestarikan praktik-tradisi.

Dalam kesimpulan, Tari Ratoh Jaroe menawarkan perspektif gender yang kuat dalam penyajian tarian tradisional. Sebagai ekspresi unik budaya Aceh dan identitas masyarakat, tarian ini menampilkan kemandirian, pengaruh, dan kemampuan emosional perempuan Aceh. Melalui gerakan tangan yang kompleks, klapping yang ritmik, sinkron, tarian ini menunjukkan kekuatan fisik dan koordinasi perempuan Aceh. Selain itu, keterampilan artistik dan kesadaran emosionalnya menggambarkan devosi mereka terhadap agama serta komitmen mereka terhadap melestarikan budaya tradisional.

3. Tari Ratoh Jaroe dalam perspektif konflik sosial di Aceh

Tari Ratoh Jaroe, salah satu tarian tradisional Aceh, memiliki makna yang lebih dalam daripada sekedar gerakan badan dan suara. Tarian ini telah menjadi wujud ekspresi budaya yang kaya akan nilai-nilai sosial, agama, dan budaya masyarakat Aceh. Dalam kaitannya dengan konflik sosial di Aceh, Tari Ratoh Jaroe

(18)

menjadi salah satu contoh bagaimana budaya masyarakat Aceh beradaptasi dan menghadapi tekanan politik dan agama(Rusmanto, 2024).

Dalam pandangan sosial, Tari Ratoh Jaroe dapat dilihat sebagai wujud ekspresi rasa solidaritas dan kesetiaannya masyarakat Aceh terhadap nilai-nilai budaya dan agama mereka. Dalam tarian ini, para penari menunjukkan keberaniannya dalam menghadapi kesulitan dan kegagalan, serta kepercayaan mereka terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini menunjukkan bahwa Tari Ratoh Jaroe tidak hanya sekedar tarian, tetapi juga menjadi wahana untuk menunjukkan identitas dan komitmen masyarakat Aceh terhadap nilai-nilai agama dan budaya mereka(Syamsuddin MAN Kepulauan Selayar Jl Aroepala Benteng Kepulauan Selayar, n.d.).

Dalam kaitannya dengan konflik sosial di Aceh, Tari Ratoh Jaroe juga dapat dilihat sebagai wujud ekspresi rasa kebersamaan dan kesetiaannya masyarakat Aceh dalam menghadapi tekanan politik dan agama. Dalam tarian ini, para penari menunjukkan kepedulian mereka terhadap nasib saudara-saudara mereka yang mengalami kesulitan dan penderitaan. Hal ini menunjukkan bahwa Tari Ratoh Jaroe bukan hanya sekedar tarian, tetapi juga menjadi wahana untuk menunjukkan kepedulian dan kesetiaannya masyarakat Aceh terhadap nasib saudara-saudara mereka.

Selain itu, Tari Ratoh Jaroe juga dapat dilihat sebagai wujud ekspresi rasa keyakinan masyarakat Aceh terhadap nilai-nilai agama dan budaya mereka. Dalam tarian ini, para penari menunjukkan kepercayaan mereka terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan keyakinan mereka bahwa nilai-nilai agama dan budaya mereka adalah suatu bagian dari kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa Tari Ratoh Jaroe bukan hanya sekedar tarian, tetapi juga menjadi wahana untuk menunjukkan keyakinan masyarakat Aceh terhadap nilai-nilai agama dan budaya mereka.

Dalam kaitannya dengan feminisme, Tari Ratoh Jaroe dapat dilihat sebagai wujud ekspresi kebebasan dan kemerdekaan perempuan Aceh. Dalam tarian ini, para penari menunjukkan kemampuan mereka untuk bergerak bebas dan berkreasi tanpa

(19)

Konflik Dan Teori Sosiologi Nurjannah, n.d.)Hal ini menunjukkan bahwa Tari Ratoh Jaroe bukan hanya sekedar tarian, tetapi juga menjadi wahana untuk menunjukkan kemampuan perempuan Aceh dalam berkreasi dan bergerak bebas.

Dalam kesimpulan, Tari Ratoh Jaroe dapat dilihat sebagai wujud ekspresi budaya yang kaya akan nilai-nilai sosial, agama, dan budaya masyarakat Aceh.

Dalam kaitannya dengan konflik sosial di Aceh, Tari Ratoh Jaroe menjadi salah satu contoh bagaimana budaya masyarakat Aceh beradaptasi dan menghadapi tekanan politik dan agama. Selain itu, Tari Ratoh Jaroe juga menjadi sarana untuk menunjukkan kebersamaan, kesetiannya, keyakinan, dan kebebasan perempuan Aceh dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan.

(20)

Penutup

Tari tradisi Aceh Saman dan Ratoh Jaroe adalah dua bentuk tarian tradisional yang berasal dari Provinsi Aceh, Indonesia. Keduanya telah menjadi bagian integral dari budaya dan identitas masyarakat Aceh. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, tari- tarian ini telah mengalami perubahan dan pengaruh yang signifikan akibat pengaruh globalisasi, urbanisasi, dan perubahan nilai-nilai sosial.

Dalam perspektif gender, tari tradisi Aceh Saman dan Ratoh Jaroe menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam pengembangan gender. Tari Aceh Saman dipertahankan oleh laki-laki, sedangkan Ratoh Jaroe oleh perempuan. Perbedaan ini terkait dengan peran gender yang telah diterima masyarakat Aceh, di mana laki-laki dianggap sebagai penguasa dan pemimpin, sementara perempuan dianggap sebagai pelengkap dan pendamping.

Namun, perbedaan ini tidak hanya berdasarkan peran gender saja, tetapi juga terkait dengan konflik sosial dan budaya. Tari Aceh Saman dipertahankan oleh golongan elit masyarakat, yaitu para imam dan ulama, yang mempertahankan tradisi ini sebagai bagian dari identitas agama dan budaya. Sebaliknya, Ratoh Jaroe dipertahankan oleh golongan rakyat biasa, yaitu para pedagang dan petani, yang mempertahankan tradisi ini sebagai bagian dari identitas sosial dan ekonomi.

Dalam beberapa dekade terakhir, pengaruh globalisasi dan urbanisasi telah mengakibatkan perubahan pada budaya dan nilai-nilai sosial masyarakat Aceh. Tari Aceh Saman dan Ratoh Jaroe juga telah mengalami perubahan, terutama dalam hal aliran modernisasi dan feminisme. Beberapa orang muda Aceh telah memilih untuk meninggalkan tradisi-tradisi ini karena dianggap sebagai tidak relevan dengan kehidupan modern.

Dalam beberapa kasus, tari Aceh Saman dipertahankan oleh beberapa organisasi yang mempromosikan tradisi-tradisi kuno. Mereka berpendapat bahwa tradisi-tradisi ini adalah bagian dari identitas budaya masyarakat Aceh yang unik dan harus dipertahankan.

Namun, perlawanan terhadap perubahan tidak hanya datang dari organisasi-organisasi

(21)

Contohnya, beberapa orang muda Aceh telah memilih untuk meninggalkan tradisi-tradisi ini karena dianggap sebagai tidak relevan dengan kehidupan modern. Mereka berpendapat bahwa tari-tradisi ini hanya sekadar ritual agama yang tidak bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.

Dalam beberapa kasus lainnya, tari Ratoh Jaroe dipertahankan oleh beberapa organisasi yang mempromosikan hak-hak perempuan. Mereka berpendapat bahwa tari- tradisi ini adalah bagian dari identitas gender yang unik dan harus dipertahankan. Namun, perlawanan terhadap perubahan tidak hanya datang dari organisasi-organisasi tersebut, tapi juga dari pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan sendiri. Contohnya, beberapa orang tua masyarakat Aceh telah mempertanyakan keberadaan tari Ratoh Jaroe karena dianggap sebagai sesuatu yang tidak bermoral. Mereka berpendapat bahwa tari-tradisi ini hanya sekadar hiburan semata-mata dan tidak memiliki arti spiritual seperti tari Aceh Saman.

Dalam perspektif konflik sosial, tari Aceh Saman dan Ratoh Jaroe menunjukkan konflik antara golongan elit dengan rakyat biasa. Tari Aceh Saman dipertahankan oleh golongan elit masyarakat, yaitu para imam dan ulama, yang mempertahankan tradisi ini sebagai bagian dari identitas agama dan budaya. Sebaliknya, Ratoh Jaroe dipertahankan oleh golongan rakyat biasa, yang mempertahankan tradisi ini sebagai bagian dari identitas sosial dan ekonomi.

Dalam kesimpulan, kesimpulan oposisi biner tari tradisi Aceh Saman dan Ratoh Jaroe menunjukkan konflik sosial dan budaya yang kompleks dalam masyarakat Aceh.

Konflik ini terkait dengan perbedaan gender, peranan gender yang telah diterima masyarakat Aceh, serta pengaruh globalisasi dan urbanisasi.

(22)

Daftar Pustaka

Afandi, A. (2019). BENTUK-BENTUK PERILAKU BIAS GENDER.

Https://Journal.Unesa.Ac.Id/Index.Php/JOFC

Ahimsa-Putra, S. (2001). Strukturisme dan Fenomenologi: Tinjauan Kritis atas Teori Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ahmadi, Agus. (2009). Psikologi Sosial. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Barker, C. (2004). Cultural Studies: Theory and Practice. Sage Publications.

Dari, K., & Gayo, T. (N.D.). SAMAN.

Gender Perspektif Teori Feminisme, Teori Konflik Dan Teori Sosiologi Nurjannah.

(N.D.). Https://Doi.Org/10.46339/Al-Wardah.Xx.Xxx

Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures: Selected Essays. New York: Basic Books.

Handayani, B., & Daherman, Y. (2020). Wacana Kesetaraan Gender: Kajian Konseptual Perempuan Dan Pelaku Media Massa. Jurnal Ranah Komunikasi (JRK), 4(1), 106- 121.

Imran . (N.D.). Islam Indonesia, K., & Historis Dan Awal Pembentukan Islam, A. (N.D.) Kurniawan, A. (2018). Islamisasi dan Penerimaan Budaya Lokal di Nusantara. In Jurnal

Al-Azhar, Vol. 2, No. 2, pp. 1-12.

Lett, J. (1987). Strukturisme dan Teori Sosiologi. Jakarta: Erlangga.

Lévi-Strauss Strukturalisme & Teori Sosiologi. (N.D.-A).

Lévi-Strauss Strukturalisme & Teori Sosiologi. (N.D.-B).

Mumtazul, M. (2017). Kesadaran Budaya dan Kesadaran Multikulturalisme dalam Pembelajaran IPS. In Jurnal Pendidikan Nasional, Vol. 3, No. 2, pp. 1-12.

Nuriyanto, A. (2017). Sosialisasi Budaya dan Pengaruhnya terhadap Proses Belajar Mengajar. In Jurnal Ilmiah Pendidikan, Vol. 5, No. 1, pp. 1-10.

Pruit, D. G., & Rubin, J. Z. (2009). Social conflict: Escalation, stalemate, and settlement.

McGraw-Hill.

Riska Gebrina. (2018). Bentuk Penyajian Tari Kreasi Ratoh Jaroe di Sanggar Budaya Aceh Nusantara” jurnal Invensi Vol. 3 No. 2

Rusmanto, J. R. (2024). 2 Paradigma Dan Anatomi Teori Sosial Modern.

Https://Www.Researchgate.Net/Publication/381371820

Syamsuddin MAN Kepulauan Selayar Jl Aroepala Benteng Kepulauan Selayar, A.

(N.D.). KONFLIK SOSIAL DALAM PERSPEKTIF SOSIOLOGI AGAMA.

Tari. (N.D.). TARIAN SAMAN MENJADI SARANA MASUKNYA ISLAM KE ACEH.

Tari Ratoh Jaroe Dan Tari, P., Arifani, R., & Hartati, T. (2019). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari Dan Musik Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala: Vol. IV.

Winthrop, R. B. (1991). "The Concept of Structure in Anthropology". In: A. L. Epstein (Ed.), The Craft of Social Anthropology (pp. 55-72). London: Tavistock Publicat

(23)

Lampiran Foto

Saman

Ratoh Jaroe

(24)

Curriculum Vitae

Penulis bernama lengkap Elisa, M.Pd, M.Sn. Lahir di Kota Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang, pada tanggal 01 Agustus 1985. Penulis menyelesaikan Pendidikan S1 di Prodi Pendidikan Seni Musik di Universitas Negeri Medan pada tahun 2007 dengan judul skripsi Keragaman Pola Ritme Musik Tradisi Melayu di Kabupaten Aceh Tamiang. Selanjutnya penulis menyelesaikan Pendidikan S2 di Prodi Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Medan pada tahun 2012 dengan Judul tesis Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Kemampuan Apresiasi Seni Musik Terhadap Hasil Belajar Seni Musik di SMP Negeri Aceh Tamiang.

Selanjutnya penulis melanjutkan kembali Pendidikan S2 di Prodi Penciptaan dan pengkajian Universitas Sumatera Utara dan menyelesaikan Pendidikan pada tahun 2024.

Kemudian pada di tahun yang sama, yaitu tahun 2024 penulis melanjutkan Kembali Pendidikan S3 di Prodi Pendidikan Seni pada Universitas Negeri Semarang.

(25)
(26)

Referensi

Dokumen terkait

Pemerintah Kabupaten Gayo Lues memasukkan Tari Saman ke dalam kurikulum sekolah, membentuk satu grup Saman binaan serta menjadi fasilitator terhadap peningkatan pembangunan

Dengan ini menyatakan, bahwa skripsi saya yang berjudul Peran Komunikasi Antarpribadi dalam Membangun Kekompakan Gerak Penari pada Tari Saman (Studi pada Penari

pada saat komunikasi kelompok, menyampaikan pesan tentang tari Saman yang sebelumnya tidak disampaikan pada saat komunikasi kelompok, menyampaikan pesan tentang

Pakaian yang dipakai penari saat Tari Saman adalah pakaian adat Kerawang Gayo yaitu. pakaian yang sesuai syariat agama Islam menutup aurat, yang menunjukan

Rengum adalah dengungan sebelum masuk pada gerakan pertama dalam Tari Saman “emmmmmm” yang kemudian di ikuti dengan syair redet itu biasanya dinyanyikan oleh satu orang yaitu

Disetiap komponen kondisi fisik sangatlah penting untuk dilatih pada tari untuk meningkatkan kemampuan gerak fisik dalam tari saman, ada beberapa komponen fisik, menurut Nala

Tarian Tradisional : Tari Seudati, Tari Saman, Tari Ranup Lam Puan, Tari Meuseukat, Tari Kipah Sikarang Aceh, Tari Aceh Gempar, Tari Mulia Ratep Aceh, Tari Rapai Geleng Aceh,

Tari Saman biasanya ditampilkan tidak menggunakan iringan alat musik, akan tetapi menggunakan suara dari para penari dan tepuk tangan mereka yang biasanya