PROSES AKULTURASI ANGGOTA GARNIDA DALAM MENGENAL BUDAYA SUNDA
Oleh :
Nizar Fazar Muharram
Fakultas Ekonomi dan Ilmu Komunikasi Universitas BSI Bandung
ABSTRAK
Akulturasi pada dasarnya merupakan proses dimana seseorang menerima suatu kebudayaan asing masuk ke dalam kebudayaannya sendiri dan menjadikan budaya tersebut masuk dalam kebiasaan hidupnya sehari-hari tanpa menyebabkan kultur dari kebudayaannya hilang atau hancur dalam kesehariannya, akulturasi dapat dikatakan berhasil jika kebudayaan tersebut masuk dalam kebiasaannya walaupun orang tersebut kembali ke tempat dia berasal. Tujuan dari konteks penelitian ini adalah untuk menganalisa proses akulturasi yang terjadi di organisasi anggota sanggar seni sunda (GARNIDA) POLTEKKESOS Bandung dalam mengenal kebudayaan sunda melalui kejadian dan fakta yang ada dalam peristiwa saat ini, bagaimana proses akulturasi itu terjadi dan apa saja hasil dari akulturasi yang di dapat ketika para anggota GARNIDA hidup dan tinggal di lingkungan budaya sunda khususnya di Bandung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yaitu dengan meneliti status sekelompok manusia, objek, suatu kondisi, sistem pemikiran atau peristiwa pada masa sekarang. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa proses akulturasi terjadi pada beberapa anggota GARNIDA yang berasal dari luar kebudayaan sunda melalui kejadian yang terjadi pada saat ia mempelajari kebudayaan sunda itu. Sehingga kebiasaan yang ada dalam kebudayaan sunda terbawa ketika mereka kembali ke tempat asal mereka masing-masing.
Kata Kunci : Akulturasi, Deskriptif, Kebudayaan Sunda
ABSTACT
Basically acculturation is a process by which a person accepts a foreign culture into his own culture and makes that culture into his daily life habits without causing the culture of his culture to disappear or be destroyed in his daily life, acculturation can be said to be successful if the culture enters into his habit even though the person returns to his place of origin. The purpose of this research context is to analyze the process of acculturation that occurs in Sundanese art studio members organizations (GARNIDA) POLTEKKESOS Bandung in recognizing Sundanese culture through events and facts that exist in current events, how the acculturation process occurs and what are the results of the acculturation obtained when the members of the Sundanese art studio (GARNIDA) live and live in the Sundanese cultural environment.
This study uses a qualitative research method with a descriptive approach that examines the status of a group of people, objects, conditions, systems of thought or events at the present time. The results of this study indicate that the acculturation process occurs in some members of the Sundanese art studio (GARNIDA) POLTEKKESOS Bandung who come from outside Sundanese culture through events that occur when he learns the Sundanese culture. So that the habits that exist in Sundanese culture carry over when they return to their original place.
Keywords: Acculturation, Descriptive, Sundanese Culture
2
PENDAHULUAN
Akulturasi atau Acculturation adalah suatu proses sosial yang timbul ketika sekelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu akhirnya lambat laun dapat diterima ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaannya sendiri. Proses akulturasi tersebut dapat dilihat dalam beberapa seni budaya yang hingga kini masih hidup dan berkembang dalam kesenian sunda khususnya di komunitas Sanggar Seni Sunda (GARNIDA) POTEKKESOS Bandung yang bertempat dijalan Ir. H. Djuanda No.367, Dago, Bandung.
Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau penerasan langsung dengan kultur lain.
Kultur mereka sendiri dipengaruhi oleh kultur budaya lain. Berangsur-angsur, nilai-nilai, cara berperilaku serta kepercayaan dari kultur budaya asing akan menjadi bagian dari kultur mereka sendiri. Pada waktu yang sama, kultur budaya asing juga akan ikut berubah.
Akulturasi dipahami sebagai fenomena yang akan terjadi dimana ketika kelompok-kelompok individu yang memiliki budaya berbeda terlibat dalam kontak yang terjadi secara langsung dan disertai perubahan terus
menerus dan sejalan pola-pola budaya asal dari kedua kelompok tersebut.
Untuk dapat mengasilkan akulturasi yang baik diperlukan adanya proses sosial. Proses sosial yang terjadi dalam kehidupan ditandai oleh dinamika komunikasi. Hal ini jelas terjadi pada seluruh umat manusia di dunia, mereka benar-benar menyadari bahwa semua kebutuhan hidupnya hanya dapat terpenuhi jika berkomunikasi dengan orang lain. Karena itu berhasil berkomunikasi secara efektif maka seluruh kebutuhannya dapat dicapai.
Setiap hari, kita pasti selalu berkomunikasi, kita saling bertukar informasi dan pengalaman, kita berdiskusi dan berdialog Panjang tentang sesuatu hal untuk mencari keputusan dan hasil yang diinginkan bersama.
Banyaknya orang yang mengenal kesenian sunda di jawa barat ini khusunya di bandung membuat orang-orang belajar tentang kesenian sunda, bukan hanya pribumi tetapi orang-orang di luar budaya sunda pun banyak yang mempelajari kesenian sunda tersebut, seperti di Sanggar Seni Sunda (GARNIDA) POLTEKKESOS Bandung.
Sanggar Seni Sunda
(GARNIDA) POLTEKKESOS
Bandung merupakan oraganisasi kesenian sunda yang dimana organisasi tersebut sudah mempunyai beberapa prestasi di seni sunda dan sering
3 mengisi acara-acara khususnya di daerah Bandung. Melalui organisasi ini lah para anggota dari luar kebudayaan sunda belajar mengenal budaya sunda.
Garnida POLTEKKESOS Bandung telah memiliki 30 angkatan dimana disetiap angkatan terebut banyak diisi anggota dari berbagai daerah, ada yang berasal dari Jawa Tengah, Riau, Ambon maupun Papua.
Banyaknya anggota dari luar budaya sunda di GARNIDA POLTEKKESOS Bandung membuat organisasi ini mempunyai berbagai macam jenis budaya dan etnis.
Walaupun proses yang di jalani tidak mudah untuk mereka mempelajari kesenian sunda, seperti, calung, angklung degung, tari jaipongan dan lain sebagainya tetapi dalam mepelajari kesenian sunda ini lah para anggota GARNIDA bisa mengenal budaya sunda dan ini pun merupakan cara mereka tetap bertahan hidup di lingkungan kebudayaan sunda.
Proses akulturasi yang terjadi di Sanggar Seni Sunda (GARNIDA) POLTEKKESOS Bandung dalam mengenal budaya sunda membuat peneliti tertarik untuk mengetahui masalah apa saja yang terjadi pada proses akulturasi dalam mengenal kebudayaan sunda melalui organisasi tersebut, dan bagaimana komunikasi yang dijalani selama mereka menetap di lingkungan budaya asing, sehingga mereka terbiasa menerima kebudayaan asing tersebut menjadi bagian dari
kehidupan mereka khususnya dalam hal kesenian.
Proses akulturasi tidak lepas dari komunikasi yang di jalani oleh setiap individu dalam mengenal suatu kebudayaan baru. Proses aklturasi pun akan mengalami masalah jika individu tersebut tidak bisa berkomunikasi baik dengan individu dari kebudayaan lain.
Komunikasi yang terjadi dalam setiap anggota akan memberikan dampak yang besar pada keberhasilan individu dalam proses berakulturasi untuk mengenal kebudayaan sunda.
Komunikasi antar budaya pun di bangun untuk mempersatukan perbedaan dalam setiap budaya para anggota GARNIDA. Komunikasi antar budaya merupakan komunikasi yang terjalin dalam suatu kelompok yang dimana di dalamnya terdapat banyak budaya yang berbeda bisa dari ras, etnik ataupun suku budayanya.
Sanggar Seni Sunda POLTEKESOS
Sanggar Seni Sunda
(GARNIDA) POLTEKKESOS
Bandung merupakan sebuah organisasi mahasiswa atau unit kegiatan mahasiswa yang ada di Politeknik Kesejahteraan Sosial atau sekarang yang bernama Pliteknik Kesejahteraan Sosial Bandung, dimana organisasi ini bergerak di bidang kesenian khususnya kesenian sunda.
4 GARNIDA sendiri berdiri sejak 6 Januari 1988 di Bandung, dengan seni garapan berupa kesenian tradisional sunda dan kesenian inovasi baru dari hasil kreativitas anggota sanggar seni sunda. Keanggotaan GARNIDA POLTEKKESOS Bandung saat ini sudah ada 30 angkatan. Keanggotaan terbagi menjadi 3 kategori. 1. Anggota resmi, 2. Anggota luar biasa 3. Anggota kehormatan.
GARNIDA berdiri dengan 6 garapan diantaranya : Musik Kolaborasi, Tari, Degung, Calung, Upacara Adat dan Longser. GARNIDA Memiliki Suluk atau moto yaitu “Moal Boga Lamun Teu Miboga” yang berarti kita tidak akan memiliki jika tidak merasa memiliki. GARNIDA merupakan organisasi yang sangat menerapkan rasa kekeluargaan hingga tidak ada perbedaan antara senior dan junior maupun anggota dari kebudayaan sunda dan diluar kebudayaan sunda.
METODE
Peneliti menggunakan jenis metodologi kualitatif karena peneliti menganggap permasalahan yang diangkat cukup kompleks dan patut untuk diteliti secara lebih mendalam. Demi memperoleh data, peneliti melakukan wawancara langsung dengan informan. Peneliti mengamati, mencatat, dan menggali sumber yang erat hubungannya dengan permasalahan yang diangkat. Peneliti bermaksud untuk memahami proses
akulturasi dalam mengenal kebudayaan sunda melalui seni tari sunda secara lebih mendalam. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan informasi sedalam mungkin pada latar yang alami sehingga data yang duperoleh benar- benar sesuai tanpa rekayasa.
Pendekatan filosofis dan aplikasi metode dalam rangka penelitian kualitatif dimaksudkan untuk memproduksi ilmu-ilmu “lunak”
seperti sosiologi dan antropologi.
Penelitian kualitatif berangkat dari ilmu-ilmu perilaku dan ilmu social.
Esensinya adalah sebagai sebuah metode pemahaman atas keunikan, dinamika dan hakikat holistic dari kehadiran manusia dan interaksinya dengan lingkungan, peneliti kualitatif percaya bahwa “kebenaran” adalah dinamis dan dapat ditentukan hanya melalui penelaah terhadap orang-orang dalam interaksinya dengan situasi kesejarahan. Berikut definisi metode kualitatif sebagai berikut.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dimana peneliti meneliti permasalahan secara mendalam dan mencari informasi sebanyak mungkin dengan metode pengumpulan data yang terdapat dalam penelitian kualitatif. Permasalahan yang akan dikaji oleh peneliti merupakan masalah yang bersifat social dan dinamis. Oleh karena itu, peneliti memilih menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menentukan prosedur mencari, mengumpulkan, mengelola dan menganalisis data hasil
5 penelitian tersebut. Meleong, dalam oktaviani, (2017 :06)
Ada pula definisi lain untuk memperkuat dalam definisi diatas yaitu :
Penelitian kualitatif menekankan sifat realita yang terbangun secara social, hubungan era tantara peneliti dengan subjek yang di teliti dan penekanan pada makna situasi penyelidikan.
(Denzin, dalam Hidayat 2015 : 298) Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan informasi sedalam mungkin pada latar yang dialami sehingga data yang diperoleh benar-benar sesuai tanpa rekayasa.
Metode yang digunakan untuk mempermudah penelitian ini lebih diarahkan kepada metode studi fenomenologi. Fenomenologi menggambarkan tentang pengalaman sadar individu yang sama. Dalam hal ini adalah pengalaman para anggota organisasi sanggar seni sunda POLTEKKESOS Bandung.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Proses Pengenalan Budaya Sunda di GARNIDA
Kebudayaan sunda merupakan salah satu kebudayaan yang memiliki hal menarik diantaranya ada dalam karakternya, bahasanya ataupun keseniannya. Banyak orang-orang yang berasumsi jika kebudayaan sunda
adalah kebudayaan yang ramah, sopan, santun dan bersih. Hal menjadi pandangan jika kebudayaan sunda adalah salah satu kebudyaan yang baik dan unik yang ada di negara Indonesia.
Bandung adalah kota yang sangat kental akan kebudayaan sunda yang ada, dimulai dari keseniannya, bahasanya ataupun adatnya. Banyak orang yang akhirnya memilih Bandung untuk menjadi tempat kedua dalam persinggahannya. Asumsi-asumsi tentang kebudayaan sunda itu tidak lepas dari komunikasi yang terjalin antara beberapa orang yang pernah datang ke bandung untuk sesekali dan saling menceritakan bagaimana kebudayaan sunda itu.
Dalam hal ini hubungan antara budaya dan komunikasi penting untuk dipahami agar dapat memahami kebudayaan sunda. Melalui komunikasi tersebutlah suatu kebudayaan bisa dikenal oleh setiap orang, orang-orang saling memberi informasi satu sama lain bagaimana karakter kebudayaan tersebut dan bagaimana ciri dari kebudayaan sunda ini. Sehingga mereka memiliki pandangan yang baik tentang kebudyaan sunda ini.
Menurut Rahmat dan Mulyana dalam bukunya yang berjudul komunikasi antar budaya (2015) bahwa hubungan antara budaya dan komunikasi itu bersifat timbal balik, keduanya saling mempengaruhi, yang menyebabkan orang-orang tertarik
6 untuk mengenal apa kebudayaan sunda dan bagaimana kebudayaan tersebut.
Sehingga banyak para migran yang datang ke bandung untuk mengenal lebih dalam kebudayaan sunda itu.
Sanggar seni sunda POLTEKESOS Bandung mempunyai tujuan untuk mengenalkan kebudayaan sunda melalui kesenian sunda yang ada, para anggota yang ada di organisasi tersebut pun bermacam-macam dari berbagai daerah dan budaya. Mereka juga punya tujuan masing-masing untuk masuk ke organisasi ini. Baik karena mempunyai kemampuan dalam seninya dan karena ingin mengenal kebudayaan sunda melalui seni ini ataupun karena ingin memiliki tantangan baru.
Dalam beberapa kegiatan yang di lakukan GARNIDA POLTEKESOS Bandung dalam memperkenalkan kebudayaan sunda melalui kesenian sunda kepada setiap orang dengan kebudayaan yang berbeda yaitu langsung memberikan pengalaman dan praktik, merasakan apa yang ada di dalam kebudayaan sunda tersebut dan berkomunikasi secara pribadi dengan salah-satu teman mereka dari kebudayaan sunda.
Dalam hal ini komunikasi antar pribadi mepengaruhi sikap Anggota GARNIDA untuk mengenal kebudayaan sunda tersebut. Dalam buku Pengantar Ilmu Komunikasi dijelaskan bahwa faktor-faktor yang
mepengaruhi komunikasi antar pribadi tersebut terdapat 8 hal yang perlu diperhatikan. Menurut Josep De Vito (2013) dalam komunikasi ini terdapat beberapa elemen penting diantaranya sumber dan penerima. Dalam sebuah interaksi yang dilakukan beberapa anggota GARNIDA baik dua atau lebih mereka saling bertukar informasi tentang kebudayaan sunda agar para pendatang dapat mengenal kebudayaan sunda tersebut. Menurut De Vito kedua elemen penting yaitu sumber dan penerima itu tidak dapat dihilangkan, karena dua hal tersebut merupakan komponen wajib dalam melakukan komunikasi yang efektif. Sehingga elemen ini masuk dalam teori De Vito.
Selama ini proses interaksi yang terjadi di sanggar seni sunda POLTEKESOS Bandung yaitu melalui cara mencoba berkomunikasi dengan karakter kebudayaannya masing-masing untuk menyatukan setiap pendapat dalam satu tema yang sama. Dalam hal ini juga komunikasi antar budaya terjadi dalam organisasi tersebut yaitu komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda baik dari ras, suku, etnis maupun latar belakang sosial di sanggar seni sunda POLTEKESOS Bandung. Analisis Proses Pembelajaran dalam Mengenal Budaya Sunda
Proses dalam mempelajari suatu kebudayaan baru tidaklah mudah, dalam hal ini butuh berbulan-bulan untuk mencapai kata berhasil dalam
7 mempelajari kebudayaan baru, dan tidak semua kebudayaan baru itu dapat diterima oleh masing-masing individu.
Keberhasilan seseorang dalam menerima kebudayaan asing masuk kedalam kebiasaannya diukur dari hasil yang di dapat. Seperti yang di katakan oleh Koentjaraningrat bahwa untuk bisa tetap bertahan hidup diperlukan komunikasi yang efektif dengan sekitar, dalam proses pembelajaran untuk mendapatkan komunikasi yang efektif diperlukan adaptasi yang sangat cepat agar kita bisa terbiasa dengan lingkungan di sekitar kita.
Selain itu menurut Suster Callista Roy (1969) mengatakan jika di dalam suatu adaptasi ada beberapa urutan elemen dan jika di kaitkan dengan penelitian ini maka elemen yang sesuai dengan penelitian ini yaitu lingkungan dalam penggambaran yang dimaksud lingkungan adalah suatu kondisi yang di dalamnya dapat mempengaruhi suatu keadaan, dan juga dapat mempengaruhi perkembangan serta perilaku manusia,
Dalam hal ini sangat jelas jika lingkungan yang ada di GARNIDA mempengaruhi semua keadaan serta perkembangan dan juga perilaku anggota garnida yang datang dari luar kebudayaan sunda. Hal itu juga yang mempengaruhi adaptasi budaya yang ada di dalam penelitian ini.
Tanpa adanya adaptasi budaya para anggota GARNIDA yang dari luar
kebudayaan sunda tersebut mungkin tidak akan bertahan hidup dan memiliki mental yang kuat agar tetap berada di kebudayaan sunda ini. Dalam hal ini mereka yang dari kebudayaan luar sunda mencoba beradaptasi mengikuti semua kebiasaan yang ada di kebudayaan sunda ini dan mengikuti semua kegiatan yang ada di GARNIDA POLTEKESOS Bandung tersebut melalui gaya bicaranya masing-masing.
Gaya bicara tersebut bermacam-macam ada yang dengan logat jawanya ada juga dengan logat indonesia timurnya, dengan gaya bicaranya masing-masing mereka dapat berkomunikasi dalam mempelajari kebudayaan sunda ini.
Ellingsworth mengemukakan dalam teori adaptasi antar budaya, bahwa adaptasi dalam interkultural terkait antara lain dengan unsur adaptasi dalam gaya komunikasi.
Dengan menggunakan gaya komunikasi dalam setiap anggota mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada di kebudayaan sunda baik dari perilaku ataupun bahasa yang di gunakan baik verbal maupun nonverbal. Para anggota GARNIDA mengatakan jika mereka harus menyesuaikan bahasanya dengan orang sunda agar komunikasi mereka berjalan dengan lancar dan mereka mengetahui maksud dari perkataan orang sunda.
Hal berkaitan dengan teori adaptasi yang dikemukakan oleh Gudykunst dan Kim bahwa adaptasi dapat terjadi dalam dimensi kognitif dan dimensi itu
8 terjadi dengan penyesuaian bahasa verbal dan nonverbal.
Dalam menyesuaikan diri dalam dalam organisasi GARNIDA dari luar kebudayaan sunda untuk mempelajari kebudayaan sunda para anggota mencoba berinteraksi dalam sebuah komunikasi agar proses pembelajaran kebudayaan sunda tersebut dapat di pahami oleh para anggota GARNIDA. Mereka juga harus bisa merespon komunikasi yang dilakukan dengan para anggota GARNIDA yang dari berbeda kebudayan agar hubungan antar anggota tetap baik dan terjaga. Dalam teori akomodasi komunikasi diungkapkan oleh Howard Giles bahwa seseorang mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri, memodifikasi dan mengatur orang lain agar bisa merespons komunikasi.
Setiap proses yang di lakukan pasti akan ada kesulitan yang di hadapi, banyak hal sulit yang mereka alami, baik dari bahasa saat berkomunikasi melalui bahasa sunda ataupun nama- nama yang ada dalam adat sunda tersebut. Bagi para anggota GARNIDA dari luar pulau jawa seperti Informan F3 terasa sekali perbedaan kebudayaan yang ia alami dari segi makanan cara berpakaian, berucap dan saling menghargai satu sama lain. Tetapi untuk orang-orang yang di dalam pulau jawa ini perbedaan tidak terasa signifikan hanya saja dari bahasa dan karakter setiap kebudayaannya ataupun
karakter kesenian yang ada di setiap budayanya. Dalam memahami kebudayaan sunda mereka mengalamami beberapa hambatan diantaranya culture shock yaitu mereka tidak terbiasa dengan budaya dan bahasa yang ada di lingkungan sunda ini, mereka terkadang pusing dan stress dengan yang terjadi ketika mereka mendengarkan seseorang berbahasa sunda. Ada beberapa tingkatan stress dari setiap orang yang berbeda budaya, dan yang sangat terasa yaitu stress yang di alami oleh kebudayaan di luar jawa seperti riau, papua maupun ambon, hal ini dikarenakan perbedaan geografis yang ada seperti orang-orang di timur sana sangat berbeda sekali kebudayaannya dengan yang ada di budaya sunda ini. Para pendatang dari luar jawa mengaku sangat terbebani oleh perbedaan budaya , Bahasa dan kebiasaan yang mereka alami ketika mereka datang ke daerah kebudayaan sunda. Berbeda dengan pendatang dari daerah jawa tengah tingkatan stress yang mereka alami hanya sebatas perbedaan beberapa Bahasa dan budaya tetapi sikap dan kebiasaan dari kedua kebudayaan tersebut tidak terlalu signifikan perbedaannya, sehingga mereka yang dari jawa tengah lebih cepat untuk memahami setiap Bahasa dan kebiasaan yang ada di kebudayaan sunda. Ada beberapa teori yang sesuai dengan yang mereka alami, yaitu bahwa tingkat stres yang terjadi pada seseorang karena perbedaan kebudayaannya hal itu dihubungkan
9 dengan perubahan yang ditandai oleh penurunan mental dan fisik.
Melalui sanggar seni sunda ini para anggota dari luar kebudayaan sunda akan mengalami proses pembelajaran dengan langsung mempelajari dari orang-orang sekitar dan kejadian-kejadian yang ada, baik dengan cara bertanya langsung kepada para anggota garnida yang merupakan orang asli dari kebudayaan sunda atau belajar dengan mendengarkan apa yang di jelaskan oleh pembina dalam organisasi tersebut. Melalui organisasi inilah mereka mencoba terbiasa dengan kebudayaan sunda dan belajar untuk meningkatkan mental mereka agar tetap tinggal di kebudayaan sunda ini..
SIMPULAN
Berdasarkan temuan pada penelitian dilapangan dan Analisa telah dilakukan, bahwa kesenian bisa dijadikan sebuah proses untuk mengenal suatu kebudayaan baru dan menjadikan sebuah kebudayaan itu masuk kedalam kebiasaan kita sehari- hari, walaupun GARNIDA POLTEKESOS Bandung memiliki anggota yang beranekaragam budaya organisasi ini mampu menyatukan visi misi melalui komunikasi antar budaya yang ada dalam setiap individunya.
dari proses pengenalan budaya sunda yaitu tidaklah sulit, tidak butuh waktu lama bagi para anggota GARNIDA untuk mengenal kebudayaan sunda melalui kesenian
yang ada di organisasi tersebut, walaupun ada perbedaan dari jenis kesenian tiap daerah tetapi dengan mengenal kesenian sunda para anggota belajar mengenal kebudayaan sunda.
DAFTAR PUSTAKA
A. Referensi Buku
Cangara, Hafied. 2006. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Fachrul. Zikri 2015. Teori-teori Komunikasi. Bogor : Ghalia Indonesia
Gundykunst, William & Young Yun Kim. 2003. Communication with Strangers. New York: Mc.
Graw Hill International
Koentjaraningrat, 1980. Pengantar Ilmu Antropologi. UIP: Jakarta Hal 135
Koentjaraningrat. 1982. Manusia dan Kebudayaan Indonesia.
Djambatan: Jakarta Halaman 146
Liliweri, Alo. 2007. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara
Meleong, Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
10 Morissan. 2013. Teori Komunikasi.
Jakarta: PT. Kencana
Mulyana, Deddy. 2005. Komunikasi Antar Budaya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Mulyana, Deddy. 2015. Komunikasi Lintas Budaya. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya
Nardy, Hasyim. 2012. Persatuan Dua Budaya. Jakarta: Permana Offset Pelly, Usman 2013. Urbanisasi dan
Adaptasi. Medan : Universitas Negeri Medan (UNIMED) Press Riduwan dan Sunarto. 2010. Pengantar
Statistika (Untuk Penelitian:
Pendidikan, Sosial, Komunikasi, Ekonomi dan Bisnis). Bandung:
Alfabeta
Rusliana, Iyus. 1994. Pendidikan Seni Tari. Bandung: Angkasa
Sihabudin, Ahmad. 2013. Komunikasi Antar Budaya. Jakarta. Bumi Aksara
B. Referensi Jurnal dan Skripsi Astuti, Tri. 2017. Akulturasi Budaya Mahasiswa Dalam Pergaulan Sosial di Kampus ( Studi Kasus Pada Mahasiswa PGSD UPP Tegal FIP UNES) Semarang. Vol. 8 No. 1 Tahun 2017 Deng, Santino Adem. 2017. South Sudanese Youth Acculturation and
Intergenerational Challenges.
Melbourne.
Fitriyani, Annisa. 2015 Peran Keluarga Dalam Mengembangkan Nilai Budaya Sunda (Studi Deskriptif terhadap keluarga Sunda di Komplek Perum Riung Bandung)., Banudung Rafieyan, Vahied. 2014. Language Leaners’ Acculturation Attitudes.
Malaysia.Vol.7 No.1, 2014
Rodzik, Ali Abdul. 2008. Akulturasi Budaya Betawi Dengan Tionghoa (Studi Komunikasi Antarbudaya pada Kesenian Gambang Kromong di Perkampungan Budaya Betawi, Kelurahan Srengseng Sawah). Jakarta Romli, H. Khomsahrial. 2015.
Akulturasi dan Asimilasi Dalam Konteks Interaksi Antar Etnik.
Lampung. Vol. 8 No.1 Tahun 2015.
Serena, Gabriella Acculturation Variety of Sundanesse and Modern Architecture at Selasar Sunaryo Art Space in Bandung. Bandung Vol. 3 No.
2 Tahun 2019
Soemaryatmi. 2012. Dampak Akulurasi Budaya Pada Kesenian Rakyat.
Surakata Vol.22 No.1
Susanti. Santi. 2017. Menyatukan Perbedaan Melalui Seni Budaya Sunda. Sumedang. Vol. 10 No.2 tahun 2017