• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sarbel Skenario 1

N/A
N/A
aidah skripsi

Academic year: 2025

Membagikan "Sarbel Skenario 1"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

CATATAN BELAJAR MANDIRI A-idah Shalihah

Skenario 1 blok 14 Sasaran belajar

1. Menjelaskan definisi ukuran frekuensi penyakit

Ukuran frekuensi penyakit adalah besarnya masalah kesehatan yang ada pada sekelompok manusia. Ukuran frekuensi penyakit juga bisa diartikan sebagai ukuran yang digunakan untuk mengukur penyakit, cacat ataupun kematian pada populasi.

Ukuran frekuensi merupakan dasar dari epidemiologi deskriptif. Ukuran frekuensi penyakit merupakan kuantifikasi dari kejadian penyakit, dengan menghitung individu yang terinfeksi, yang sakit dan yang meninggal. Ukuran ini menunjukkan kekerapan timbulnya penyakit atau suatu kejadian pada populasi yang diamati. Pengukuran ini juga disebut sebagai ukuran kejadian penyakit.

Nangi MG, Yanti F, Lestari SA. 2019. Dasar Epidemiologi. Sleman: Deepublish.

Penentuan besarnya masalah dapat dilakukan dengan 2 langkah. Pertama, menentukan masalah kesehatan yang akan diamati dan telah dipastikan akan diteliti. Kedua, melakukan pengukuran atas masalah yang ditemukan tersebut. Segala sesuatu yang diperoleh merupakan fakta. Ukuran frekuensi penyakit merefleksikan besar kejadian penyakit (morbiditas) atau kematian karena penyakit (mortalitas) dalam suatu populasi dan biasanya diukur sebagai suatu rate atau proporsi. Ukuran frekuensi penyakit dibagi menjadi: (1) Insidens, (2) Prevalens dan (3) mortalitas Nangi MG, Yanti F, Lestari SA.

2019. Dasar Epidemiologi. Sleman: Deepublish.

Istilah frekuensi diambil dari Bahasa Inggris ‘frequency’ yang berarti ukuran jumlah atau bisa juga diartikan tingkat keseringan. Arti istilah ini kemudian bervariasi tergantung pada konteks apa yang digunakan, namun tetap dengan kata kunci.

Frekuensi masalah kesehatan menunjukkan kepada besarnya masalah kesehatan yang terdapat pada kelompok manusia/masyarakat dapat mengetahui frekuensi suatu masalah kesehatan dengan tepat ada dua hal pokok yang harus dilakukan yakni menemukan masalah kesehatan yang dimaksud untuk kemudian dilanjutkan dengan melakukan pengukuran atas masalah kesehatan yang ditemukan tersebut. Ukuran frekuensi penyakit adalah ukuran yang harus memperhitungkan :

1. Jumlah orang yang sakit

2. Besarnya populasi yang menghasilkan orang yang sakit 3. Periode waktu peristiwa terjadi

Ukuran frekuensi penyakit merupakan kuantifikasi kejadian penyakit, dengan mengitung individu yang terinfeksi, yang sakit dan yang meninggal. Ukuran frekuensi penyakit merefleksikan besar kejadian penyakit (morbiditas) atau kematian karena penyakit (mortalitas) dalam suatu populasi. Biasanya diukur sebagai suatu rate atau proporsi. Kesepakatan kecil tentang arti umumnya yang digunakan kata-kata untuk frekuensi. Jenis ukuran frekuensi penyakit:

1. Insidens (Incidence) 2. Prevalens (Prevalence) 3. Mortalitas (Mortality)

Lister, I. N. E., Novalinda, C., & Girsang, E. 2022. Buku Ajar Dasar Epidemiologi.

(2)

Publish Buku UNPRI Press ISBN.

2. Menjelaskan tujuan ukuran frekuensi penyakit

Tujuan pengukuran frekuensi penyakit yaitu Mengetahui keadaan

kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat yang mana bermanfaat bagi perencana dan pelaksana program kesehatan masyarakat dalam mengalokasikan sumber daya yang ada dengan tepat pada populasi tertentu, dan diperlukan petugas kesehatan untuk menangani masalah kesehatan

Syalfina AD, Mail E, Anggreni D. 2017. Buku Ajar Kesehatan Masyarakat Untuk Kebidanan. kekata. Surakarta

Sangat banyak manfaat dan tujuan dari menganalisis seperti yang disebutkan 1. Menyatakan banyaknya kasus yang di diagnosis.

2. Menggambarkan tingkat keberhasilan program pemberantasan penyakit.

3. Penyusunan perencanaan pelayanan kesehatan, misal: obat, tenaga, ruangan.

4. Menyatakan banyaknya kasus yang didiagnosis prevalensi.

5. Mengukur angka kejadian penyakit.

6. Digunakan untuk menyelidiki sebab akibat dalam penelitian epidemiologi.

7. Perbandingan antara berbagai populasi dengan pemaparan yg berbeda.

8. Untuk mengukur besarnya risiko determinan tertentu.

9. Menggambarkan tingkat keberhasilan program pemberantasan penyakit.

10. Penyusunan perencanaan pelayanan kesehatan, misal: obat, tenaga,ruangan.

Ryadi, A. L. Dasar-dasar epidemiologi. 2011 Tujuan frekuensi penyakit :

● Digunakan untuk menyelidiki sebab akibat dalam penelitian epidemiologi.

● Perbandingan antara berbagai populasi dengan pemaparan yg berbeda.

● Untuk mengukur besarnya risiko determinan tertentu.

● Menggambarkan tingkat keberhasilan program pemberantasan penyakit.

● Penyusunan perencanaan pelayanan kesehatan, misal: obat, tenaga,ruangan.

Tiga ukuran hasil atau frekuensi kesehatan yang paling umum adalah

risiko, rate, dan prevalensi. Tingkat kejadian dan proporsi prevalensi gejala dan penyakit pada populasi umum merupakan indikator penting dari status

kesehatan suatu populasi. Ukuran epidemiologi frekuensi penyakit ini adalah dasar untuk memantau penyakit, merumuskan dan mengevaluasi kebijakan layanan kesehatan, dan melakukan penelitian ilmiah. Pengukuran frekuensi penyakit yang tepat sangat penting agar peneliti dapat mendeskripsikannya secara akurat distribusi kesehatan dan penyakit, untuk menilai hubungan dengan faktor penyebab yang diduga, dan pada akhirnya mengembangkan intervensi yang berdampak pada faktor pendorong tersebut guna meningkatkan jumlah penduduk sehat.

Spronk I, et al. 2019). Calculating incidence rates and prevalence proportions: not as simple as it seems. BMS Public Health.19(1)

Morrison CN, et al. The Unknown Denominator Problem in Population Studies of Disease Frequency.Spat Spatiotemporal Epidemiol. 35: 1-18

(3)

3. Menjelaskan jenis ukuran frekuensi penyakit

Ukuran frekuensi penyakit merefleksikan besar kejadian penyakit (morbiditas) atau kematian karena penyakit (mortalitas) dalam suatu populasi dan biasanya diukur sebagai suatu rate atau proporsi. Ukuran frekuensi penyakit dibagi menjadi: (1) Insidens, (2) Prevalens dan (3) mortalitas Nangi MG, Yanti F, Lestari SA. 2019. Dasar Epidemiologi. Sleman: Deepublish.

Rokhmayanti, Sofiana L, Nuraisyah F, Nurfita D, Asidik AH. Surveilans Kesehatan Masyarakat. 2020. Yogyakarta

4. Menjelaskan morbiditas ukuran frekuensi penyakit

Morbiditas (kesakitan) merupakan derajat sakit, cedera, atau gangguan pada populasi. Morbiditas biasanya dinyatakan dalam angka prevalensi atau insidensi yang umum atau spesifik. Angka kesakitan atau yang biasa disebut dengan morbiditas adalah angka yang menunjukkan derajat sakit, cedera atau gangguan pada suatu populasi. Morbiditas juga merupakan suatu penyimpangan dari status sehat dan sejahtera atau keberadaan suatu kondisi sakit.

Morbiditas mengacu pada angka kesakitan, yaitu jumlah orang yang sakit dibandingkan dengan jumlah populasi ukuran atau angka morbiditas adalah jumlah penderita yang dicatat selama 1 tahun per 1000 jumlah penduduk pertengahan tahun. Angka ini dapat digunakan untuk

(4)

menggambarkan keadaan kesehatan secara umum, mengetahui keberhasilan program-program pemberantasan penyakit, dan sanitasi lingkungan serta memperoleh gambaran pengetahuan penduduk terhadap pelayanan kesehatan tertentu yang sering kali merupakan kelompok yang sehat atau kelompok yang berisiko.

Sari LM, Nashrullah D, Qoyum NIF. 2023. Epidemiologi. Sumatra Barat: Penerbit Insan Cendekia Mandiri.

5. Menjelaskan rate morbiditas (IR, PR, AR,

Rate adalah suatu ukuran frekuensi yang mana suatu peristiwa terjadi dalam populasi yang ditetapkan dalam suatu periode waktu tertentu. Karena rate menyajikan frekuensi penyakit berdasarkan besar populasi, maka rate dapat digunakan untuk mengukur besarnya masalah kesehatan (lebih besar atau lebih kecil) diantara tempat yang berbeda, waktu yang berbeda dan diantara kelompok yang berbeda dimana masing-masing tempat, waktu dan kelompok berasal dari populasi yang berbeda. Sehingga rate merupakan suatu ukuran risiko.

Veronika, E. & Ayu, I.M. 2019. Dasar-Dasar Epidemiologi Ukuran Frekuensi.

Universitas Esa Unggul.

a. Insidensi rate

Insidensi (I) adalah angka kasus baru dari suatu penyakit dari populasi yang beresiko selama periode waktu tertentu. MAnfaat mengetahui angka insiden adalah

untuk mengetahui masalah kesehatan yang dihadapi, resiko untuk terkena masalah yang dihadapi, serta untuk mengetahui beban tugas yang harus diselenggarakan oleh suatu fasilitas pelayanan kesehatan baik untuk pencegahannya ataupun penanggulangannya. Angka Insidence Rate (IR) adalah merupakan gambaran tentang frekuensi terjadinya kasus baru suatu penyakit dalam periode waktu tertentu

seperti bulan atau tahun (Irma, I. and AF, S.M., 2021).

Angka insidensi (incidence rate) adalah jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada jangka waktu tertentu (umumnya satu baru tahun) dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut pada

pertengahan tahun jangka waktu yang bersangkutan dalam persen.

(5)

b. Prevalensi rate

Prevalensi adalah gambaran frekuansi penderita lama dan baru yang ditemukan dalam waktu tertentu di sekelompok masyarakat tertentu.Pada perhitungan angka Prevalensi, digunakan jumlah seluruh penduduk tanpa memperhitungkan orang/penduduk yang Kebal atau Penduduk dengan Risiko (Population at Risk).

Contoh kasus:

Jumlah penduduk Kecamatan A pada tanggal 1 Oktober 2019

adalah 1.000 orang. Dari laporan puskesmas setempat diperoleh data mengenai kejadian Malaria selama satu tahun (Januari-Desember 2019) sebesar 50 orang kasus baru dan 150 orang kasus lama. Total keseluruhan sebesar 200 orang.

Rumus:

Angka prevalensi periode= 200 / 1.000 X100% = 20%. Artinya

prevalensi kejadian Malaria di Kecamatan A selama tahun 2019 adalah 20%.

c. Attack rate

Dalam konteks epidemiologi, "attack rate" mengacu pada proporsi individu yang terkena penyakit tertentu dalam suatu populasi pada periode waktu tertentu. Misalnya, jika ada suatu wabah flu di suatu daerah, attack rate dapat dihitung dengan membagi jumlah orang yang terinfeksi flu dengan total populasi pada periode waktu tersebut. Ini membantu untuk mengukur sejauh mana penyakit menyebar dalam suatu komunitas.

Secondary Attack Rate

Angka serangan sekunder (secondary attack rate) adalah angka

yang mencerminkan insidensi suatu enyakit infeksi pada suatu populasi yang relatif tertutup, sehingga diasumbiskan semua anggota populasi mengalami kotak apabila ada sumber infeksi (kasus primer) dalam populasi tersebut.

Sebagai contoh populasi tertutup misalnya: suatu keluarga, kelas, dan sebagainya. Kasus primer, individu yang merupakan seumber infeksi, tidak dimasukan baik dalam numerator maupun denominator. secondary attact rate diperoleh dengan melihat terjadinya kasus baru (kasus sekunder) dibandingkan semua anggota populasi yang secaa teoritis mengalami kontak dengan kasus primer

(6)

Haryono, H., dkk. 2021. Pengantar Epidemiologi. Edisi Pertama. Yogyakarta:

Poltekkes Jogja Press.

d. sc

6. Menjelaskan rasio morbiditas

Rasio merupakan satu angka (numerator/ pembilang) dibagi dengan angka lain (denominator/ penyebut). Berdasarkan definisi ini maka proporsi maupun rate merupakan bentuk ratio. Tetapi Rasio merupakan numerator dan denominator tidak saling berhubungan atau pembilangnya bukan merupakan bagian dari penyebutnya.

Ini yang membedakannya dengan proporsi.

Ciri-ciri :

1. Numerator bukan bagian dari denominator (pembilang bukan bagian dari penyebut)

2. Memiliki nilai 0 sampai dengan tak terhingga ( ∞ ).

Contoh : Dalam suatu KLB penyakit tifus, jumlah penderita laki-laki sebanyak 30 orang dan jumlah penderita perempuan adalah 15 orang. Maka rasio penderita laki-laki : perempuan adalah = 30 : 15 = 2 : 1. Catatan :

1. Numerator dan denominator dapat merupakan kategori yang berbeda dari suatu variabel yang sama. Contohnya : perbandingan laki-laki dengan perempuan dimana laki-laki dan perempuan merupakan variabel jenis kelamin dengan kategori yang berbeda. Variabel umur maka kategorinya bisa 20-29 tahun dan 30-39 tahun.

2. Tetapi ada juga bentuk yang lain dimana numerator dan denominator berasal dari variabel yang berbeda. Contoh : jumlah rumah sakit di Jakarta (numerator) dibandingkan jumlah penduduk yang tinggal di Jakarta (denominator)

Eko Budiarto. 2023. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: EGC.

7. Menjelaskan proporsi morbiditas

Proporsi merupakan suatu pecahan (fraksi) dimana numerator (pembilang) adalah bagian dari denominator (penyebut). Atau dengan perkataan lain, proporsi merupakan perbandingan sebagian terhadap keseluruhan. Proporsi merupakan salah satu bentuk dari rasio. Proporsi digunakan untuk melihat komposisi suatu variabel dalam populasinya. Proporsi dapat dalam bentuk desimal, pecahan atau persentase (%). Ciri proporsi :

● Tidak mempunyai satuan (dimensi), karena satuan dari pembilang dan

(7)

penyebutnya sama, sehingga saling meniadakan.

● Nilainya antara 0 sampai 1

Proporsi merupakan sebagian dari keseluruhan. Misalnya 100 merupakan

bagian dari 250. Baik persentase, pecahan maupun desimal merupakan bentuk dari proporsi. Bisa dipakai salah satu saja. Nilai 0,4 berada diantara 0 s.d 1. Numerator dan denominator memiliki dimensi yang sama yaitu orang sehingga dianggap tidak memiliki dimensi (Eko Budiarto. 2023; Sutrisno B. 2020).

Eko Budiarto. 2023. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: EGC.

Sutrisno, B. 2020. Pengantar Metode Epidemiologi. Jakarta: Dian Rakyat.

8. Menjelaskan mortalitas ukuran frekuensi penyakit

Angka kematian berkaitan dengan jumlah kematian yang disebabkan oleh peristiwa kesehatan yang diselidiki. Kematian atau mortalitas merupakan salah satu dari tiga komponen proses demografi yang berpengaruh terhadap struktur penduduk, dua komponen yang lainnya adalah kelahiran (fertilitas) dan mobilitas penduduk (Mantra, 2000). Menurut Utomo (1985) kematian dapat diartikan sebagai peristiwa hilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen, yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup. Menurut PBB dan WHO, kematian adalah hilangnya semua tanda- tanda kehidupan secara permanen yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup.

Stillbirth dan keguguran tidak termasuk dalam pengertian kematian. Perubahan jumlah kematian (naik turunnya) di tiap daerah tidaklah sama, tergantung pada berbagai macam faktor keadaan. Besar kecilnya tingkat kematian ini dapat merupakan petunjuk atau indikator bagi tingkat kesehatan dan tingkat kehidupan penduduk di suatu wilayah. (Bonaraja Purba et al., 2023). Konsep-konsep lain yang terkait dengan pengertian mortalitas adalah:

(8)

1. Neo-natal death adalah kematian yang terjadi pada bayi yang belum berumur satu bulan.

2. Lahir mati (still birth) atau yang sering disebut kematian janin (fetal death) adalah kematian sebelum dikeluarkannya secara lengkap bayi dari ibunya pada saat

dilahirkan tanpa melihat lamanya dalam kandungan.

3. Post neonatal adalah kematian anak yang berumur antara satu bulan sampai dengan kurang dari satu tahun.

4. Infant death (kematian bayi) adalah kematian anak sebelum mencapai umur satu tahun.

Bonaraja et all. 2023

9. Menjelaskan jenis mortalitas dan turunannya a. Case fatality rate/CFR

Adalah jumlah seluruh kematian akibat satu penyebab dalam jangka waktu tertentu dibagi jumlah seluruh penderita pada waktu yang sama dalam persen. CFR berguna untuk memperoleh gambaran tentang distribusi penyakit dan tingkat kematian penyakit tertentu. Rumus menghitung CFR adalah sebagai berikut:

b. Angka kematian bayi Infant mortality Rate / IMR

Angka kematian bayi (Infant Mortality Rate / IMR) adalah jumlah seluruh kematian bayi (usia di bawah 1 tahun) pada satu jangka waktu (umumnya 1 tahun) di bagi jumlah seluruh kelahiran hidup. Rumusnya adalah sebagai berikut:

c. Angka kematian neonatal

Merupakan jumlah kematian bayi usia dibawah 28 hari hari pada jangka waktu (1 tahun) dibagi jumlah kelahiran hidup pada tahun yang sama. Tinggi rendahnya angka kematian neonatal dapat digunakan untuk mengetahui: tinggi rendahnya usaha perawatan postnatal, program imunisasi, pertolongan persalinan, penyakit ISPA. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

d. Angka kematian perinatal

Angka kematian perinatal (perinatal mortality rate) adalah jumlah kematian bayi usia 1 minggu (7 hari) dalam satu tahun dibagi jumlah kelahiran hidup pada tahun yang sama. Angka kematian perinatal berguna untuk menggambarkan kesehatan ibu hamil dan bayi. Faktor

(9)

yang mempengaruhi tinggi rendahnya angka kematian perinatal adalah:

banyaknya kasus BBLR, status gixi ibu dan bayi, keadaan sosial ekonomi, penyakit infeksi terutama ISPA, pertolongan persalinan.

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

e. Angka kematian ibu

Angka kematian ibu (maternal mortality rate/ MMR) adaalah jumlah kematian ibu akibat kehamilan, persalinan, dan nifas dalam satu tahun dibagi jumlah kelahiran hidup pada tahun yang sama. Tinggi rendahnya angka kematian ibu berkaitan dengan: sosial ekonomi, kesehatan ibu sebelum hamil, bersalin dan nifas, dan pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil, pertolongan persalinan dan perawatan masa nifas Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut

Lister E, Girsang E dan Novalinda C. 2022. Dasar Epidemiologi. UnpriPress

Referensi

Dokumen terkait

Proses rekursif Kalman Filter untuk peramalan jumlah penduduk sehat dan penderita penyakit TB dilakukan dengan menggunakan hasil prediksi jumlah penduduk yang sehat

penyakit TBC BTA Jumlah penderita baru TBC BTA (+) yang Ditemukan dan diobati di satu wil. Di sati wil. Kerja pd kurun wkt tertentu --- x 100 % Jumlah seluruh balita gizi

Diagnosis klinis penyakit ini sering tidak tepat, karena gejala kilinis yang khas pada demam tifoid tidak ditemukan atau gejala yang sama dapat juga ditemukan pada

Penyakit ini timbul karena adanya pembentukan purin yang berlebihan. Sebagai hasil metabolisme purin yang abnormal ini, penderita memperlihatkan kelakuan yang abnormal, yakni

perhitungannya sama dgn perhitungan angka insidensi yaitu pembilangnya (Numerator) adalah jumlah mereka yang mati pada periode waktu tertentu yang menimpa sekelompok penduduk,

1 Menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular dan tidak menular 1 Menurunkan Incidence rate penyakit DBD menjadi 195/100.000 penduduk 1 1 Incidence rate

AMI (Annual Malaria Incidence) Jumlah penderita malaria klinis Jumlah penduduk X 1.000 KEGUNAAN : untuk mengetahui incidence malaria klinis pada satu daerah

Penggunaan antibiotik yang kurang rasional juga dapat menyebabkan resistensi terhadap bakteri penyebab penyakit ini.2 Penyakit ini sangat sulit dikenali karena angka insidensi yang