Tren peraturan perundang-undangan nasional mengenai keberadaan dan hak masyarakat adat atas sumber daya alam di Indonesia. Bagian ini membahas perkembangan peraturan perundang-undangan nasional mengenai pengaturan keberadaan dan hak masyarakat adat atas sumber daya alam.
Pasal 28I ayat (3) UUD 1945
Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 mengamanatkan bahwa pengakuan dan penghormatan terhadap keberadaan dan hak masyarakat adat diatur dalam undang-undang. Pasal 28I ayat (3) UUD 1945 juga mensyaratkan keberadaan dan hak masyarakat hukum adat sepanjang sesuai dengan perkembangan zaman.
Pasal 32 ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945
Pasal 32 ayat (1)
Pasal 32 ayat (2)
Pemerintahan daerah
Undang-undang ini memberikan penekanan yang lebih besar pada pendekatan pemerintah dengan menjadikan kesatuan-kesatuan negara adat sebagai bagian integral dari sistem pemerintahan nasional. Undang-undang ini juga mengatur tentang pemilihan kepala desa atau nama lain masyarakat desa.
Hak Asasi Manusia
Sebelumnya, pada masa Orde Baru, isu HAM menjadi salah satu isu utama yang banyak mendapat perhatian, termasuk isu hak-hak masyarakat adat. Undang-Undang Hak Asasi Manusia menjamin perlindungan terhadap keberadaan dan hak masyarakat adat sebagai bagian dari hak asasi manusia yang wajib dihormati, dilindungi, dan dipenuhi oleh negara.
Legislasi di bidang sumber daya alam
- Inisiatif yang sedang berlangsung
- Rancangan peraturan pemerintah tentang pengelolaan hutan adat
- Rancangan kebijakan tentang pengakuan keberadaan, hak dan kearifan lokal masyarakat adat berdasarkan UU perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
- Inisiatif RUU Komunitas Adat Terpencil oleh Kementerian Sosial
- Inisiatif RUU Komunitas Adat Terpencil oleh DPR
- Pidato presiden tentang RUU Masyarakat Adat
- RUU Perlindungan Kesatuan Masyarakat Hukum Adat oleh DPD
- Inisiatif Ratifikasi Konvensi ILO 169
- Trend rumusan pengaturan keberadaan dan hak‐hak masyarakat adat atas sumber daya alam
Undang-Undang Kehutanan yang baru ini berupaya untuk memperbaiki Undang-Undang Kehutanan yang lama, yang mengabaikan keberadaan dan hak masyarakat adat atas hutan. Undang-Undang Kehutanan yang baru mengakui keberadaan hutan adat, yaitu kawasan hutan yang dikuasai dan dikelola oleh masyarakat adat. Undang-undang ini juga mendelegasikan aturan tambahan mengenai pengukuhan keberadaan masyarakat adat melalui peraturan pemerintah.
Selain UU Kehutanan, juga terdapat Surat Edaran Menteri Kehutanan yang mengatur tentang keberadaan dan hak masyarakat adat atas hutan. Jadi, mudah dipahami bahwa rumusan peraturan sudah mulai mengikuti tren norma konstitusi yang mengatur tentang keberadaan dan hak masyarakat adat. Pengertian masyarakat adat yang disebutkan dalam undang-undang ini sesuai dengan pengertian masyarakat adat yang dirumuskan oleh Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).
Meski telah mengatur dengan baik pembagian peran antar tingkat pemerintahan, namun undang-undang ini belum memberikan terobosan dalam penguatan hak-hak masyarakat adat. Pasca peraturan ini, belum ada lagi inisiatif pemerintah di bidang pertahanan untuk mendorong pengakuan terhadap keberadaan dan hak masyarakat adat atas tanah. Jadi tidak ada kolom khusus di Komnas HAM periode 2007-2012 yang membahas tentang hak-hak masyarakat adat.
Tren perumusan pengaturan keberadaan dan hak masyarakat adat atas sumber daya alam.
Istilah dan kriteria masyarakat adat
Secara garis besar, terdapat tiga istilah dalam peraturan perundang-undangan bagi masyarakat adat, yaitu masyarakat adat, masyarakat hukum adat, dan masyarakat adat terpencil. UUD 1945, UU Pemerintahan Daerah, dan UU Hak Asasi Manusia tidak memperjelas definisi tersebut, namun memberikan sejumlah batasan mengenai pengakuan terhadap keberadaan dan hak masyarakat adat. Namun salah satu peraturannya menggunakan istilah penduduk asli, seperti dalam Undang-Undang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Kepulauan.
Masyarakat adat didefinisikan sebagai kelompok masyarakat pesisir yang telah bermukim di wilayah geografis tertentu secara turun-temurun karena adanya ikatan dengan asal usul leluhur, ikatan yang kuat terhadap sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil, serta adanya sistem nilai yang menentukan institusi ekonomi dan politik. , sosial , dan hukum. Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai undang-undang final yang berkaitan dengan pengakuan keberadaan dan hak masyarakat adat memberikan definisi yang sejalan dengan rumusan definisi masyarakat adat dalam Undang-Undang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan. Namun UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup kembali menggunakan istilah masyarakat hukum adat, bukan istilah masyarakat adat.
Meski tidak memuat banyak persyaratan pengakuan, namun bukan berarti pengakuan terhadap keberadaan dan hak masyarakat adat dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup lebih mudah dilaksanakan. Argumentasi yang selalu dikemukakan dalam penggunaan istilah masyarakat hukum adat adalah karena konstitusi jelas-jelas menyebutkan istilah tersebut, bukan istilah masyarakat adat.
Hak masyarakat adat yang diatur
Keberadaan masyarakat adat, kearifan lokal dan hak masyarakat adat dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Hingga saat ini belum ada penjelasan yang memadai untuk menjelaskan apa saja yang termasuk dalam hak tradisional masyarakat adat. UU Pemerintahan Daerah hanya sekedar menyalin rumusan hak masyarakat adat dalam UUD tanpa penjelasan.
Sementara UU Hak Asasi Manusia mengakui dan melindungi hak-hak masyarakat adat mengenai kekhasannya, identitas budayanya termasuk hak atas tanah adat masyarakat adat. Dan Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mengatur hak masyarakat adat dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup serta kearifan lokal. Peraturan mengenai hak masyarakat adat atas sumber daya alam masih bersifat umum dan abstrak.
Masih terdapat kesan adanya pembatasan terhadap hak-hak masyarakat adat, sehingga inisiatif legislasi hanya menyalin hak-hak masyarakat adat yang ada pada peraturan yang lebih tinggi. Sementara itu, RUU Perlindungan Kesatuan Masyarakat Hukum Adat DPD membagi hak kesatuan masyarakat hukum adat menjadi hak kolektif dan hak perseorangan.
Kewajiban‐kewajiban negara terhadap masyarakat adat
UU Perkebunan tidak mengatur secara rinci tanggung jawab negara dalam melindungi keberadaan dan memajukan hak-hak masyarakat adat. Pemerintah menetapkan kebijakan mengenai tata cara pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat, kearifan lokal, dan hak masyarakat hukum adat dalam kaitannya dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Pemerintah provinsi menetapkan kebijakan mengenai tata cara pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat, kearifan lokal, dan hak-hak masyarakat hukum adat dalam kaitannya dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Pemerintah Kabupaten/Kota menerapkan kebijakan mengenai tata cara pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat, kearifan lokal, dan hak-hak masyarakat hukum adat dalam kaitannya dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Berbeda dengan UU di atas, UU Kehutanan mengurangi kewajiban pemerintah dalam memenuhi hak masyarakat adat atas hutan. Selain itu, Kementerian Kehutanan mempunyai kewenangan untuk menetapkan status hutan adat, dan pemerintah daerah membuat peraturan daerah yang mengukuhkan masyarakat adat.
Pemerintah dan pemerintah provinsi menetapkan kebijakan mengenai tata cara pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat, kearifan lokal, dan hak-hak masyarakat hukum adat dalam kaitannya dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Tanggung jawab negara terhadap perlindungan, pemajuan dan pemenuhan hak-hak masyarakat adat tidak diatur secara jelas dalam serangkaian peraturan perundang-undangan.
Proses dan bentuk pengakuan hukum
Dilihat dari beberapa peraturan perundang-undangan, tanggung jawab negara masih bersifat sangat umum dan tidak menjelaskan secara rinci apa saja kewajiban minimum negara dalam memenuhi hak masyarakat adat atas sumber daya alam. Hanya saja tingkatannya berbeda, yaitu satu tingkat didasarkan pada hak individu, sedangkan bagi masyarakat adat yang mendasar adalah hak komunal. Konsep ini pada dasarnya memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk menyatakan dirinya sebagai masyarakat adat atau tidak dengan mengkaji dan menegaskan kriteria undang-undang.
Peraturan daerah disusun dengan memperhatikan hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli hukum adat, aspirasi masyarakat setempat dan tokoh masyarakat adat di daerah yang bersangkutan, serta badan atau pihak lain yang terkait. Bentuk pengakuan hukum atas hak-hak masyarakat adat dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil diberikan dalam bentuk Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP-3). Kepala daerah yang menyetujui pelantikan tersebut menyerahkan rancangan peraturan daerah tentang pengukuhan masyarakat adat kepada DPRD.
Hanya UU Kehutanan yang merumuskan pengaturan tentang proses pengakuan hukum terhadap keberadaan dan hak masyarakat adat, khususnya dalam penyusunan peraturan daerah tentang pengakuan keberadaan masyarakat adat. Kedua peraturan ini didasarkan pada asumsi bahwa masyarakat adat sudah ada dan tidak perlu lagi melakukan penelitian khusus karena sudah banyak penelitian yang membuktikan hal tersebut.
Penyelesaian sengketa dan posisi peradilan adat
Meskipun hampir semua orang setuju bahwa harus ada penelitian multipihak untuk mengidentifikasi masyarakat adat, namun pada praktiknya tidak selalu demikian. Misalnya dalam proses pembentukan Peraturan Daerah Kabupaten Lebak Nomor 32 Tahun 2001 tentang Perlindungan Hak Adat Masyarakat Baduy dan Peraturan Daerah Sumatera Barat Nomor 6 Tahun 2008 tentang pemanfaatan tanah Ulyat. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat beberapa ketentuan perundang-undangan yang mengatur proses pengakuan hukum masyarakat adat, namun yang lebih menentukan adalah kemauan politik pemerintah.
UU Pemda tidak mengatur mekanisme penyelesaian sengketa terkait pengakuan keberadaan dan hak. Hukum Kehutanan Penyelesaian sengketa di bidang kehutanan dapat dilakukan melalui pengadilan atau di luar pengadilan, berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa. Penyelesaian perselisihan mengenai pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dilakukan melalui pengadilan dan/atau di luar pengadilan.
RUU ini merancang keberadaan peradilan adat sebagai lembaga penyelesaian perkara perdata dan keluarga dalam satuan masyarakat adat. Rumusannya tidak mengatur penyelesaian sengketa yang timbul akibat pengukuhan keberadaan masyarakat hukum adat.
FPIC atau pengambilan keputusan atas proyek pembangunan
- Kelembagaan yang mengurusi masyarakat adat
- Penutup
Permasalahan lain terkait pengakuan hukum terhadap masyarakat adat adalah permasalahan kelembagaan. Dalam mengeluarkan norma konstitusi, serangkaian undang-undang terkait sumber daya alam mengatur keberadaan dan hak masyarakat adat. Artinya lembaga pengelola sumber daya alam juga peduli terhadap eksistensi dan keberadaan masyarakat adat.
Hal ini berlanjut setelah dilakukan amandemen konstitusi yang menetapkan aturan mengenai keberadaan dan hak masyarakat adat. Sektoralisme berarti bahwa banyak badan yang berurusan dengan masyarakat adat menggunakan pendekatan yang berbeda dan parsial ketika memandang keberadaan dan hak-hak masyarakat adat. Sejauh ini belum ada kejelasan lembaga yang paling kompeten terkait pengakuan keberadaan dan hak masyarakat adat.
Hal ini diperlukan untuk mengembangkan kebijakan yang lebih jelas dan mudah diterapkan guna melindungi dan memajukan hak-hak masyarakat adat atas sumber daya alam. Martua Sirait, Kajian Kebijakan Hak Masyarakat Adat di Indonesia: Refleksi Kebijakan dalam Otonomi Daerah (2001).
Kertas Kerja EPISTEMA
EPISTEMA INSTITUTE merupakan lembaga penelitian dan pengelolaan pengetahuan di bidang hukum, masyarakat dan lingkungan hidup yang didirikan oleh Yayasan Epistema pada bulan September 2010. Pendirian pusat pembelajaran hukum, masyarakat dan lingkungan hidup untuk mendukung gerakan menuju terbentuknya lembaga hukum nasional sistem yang berdasarkan nilai, demokrasi, keadilan sosial dan lingkungan, serta pluralisme budaya. Learning Circles for Social and Environmental Justice atau Lingkaran Pembelajaran untuk Keadilan Sosial dan Lingkungan (LeSSON-JUSTICE).
Penelitian Interdisipliner tentang Hak Masyarakat atas Penghidupan Lebih Baik, Tradisi Sosial yang Berkeadilan dan Lingkungan Berkelanjutan atau Penelitian Interdisipliner tentang Hak Masyarakat atas Penghidupan Lebih Baik, Tradisi Sosial yang Berkeadilan dan Lingkungan Berkelanjutan (IN-CREASE). Pusat Data dan Sumber Daya Keadilan Sosial dan Lingkungan atau Resource Center for Social and Environmental Justice (RE-SOURCE).
Struktur organisasi dan personel