SATUAN ACARA PENYULUHAN KESEHATAN MENTAL REMAJA
A. Latar Belakang
Kesehatan mental memiliki arti penting dalam kehidupan seseorang, dengan mental yang sehat maka seseorang dapat melakukan aktifitas sebagai mahluk hidup (UGM, 2021). Menurut WHO diperkirakan satu dari tujuh (14%) anak berusia 10-19 tahun mengalami kondisi kesehatan mental, namun sebagian besar kondisi tersebut tidak dikenali dan tidak diobati (World Health Organization, 2024).
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mengungkapkan bahwa 1 dari 3 remaja di Indonesia memiliki masalah kesehatan mental, dengan 1 dari 20 remaja melaporkan merasa lebih depresi, cemas, kesepian, dan kesulitan berkonsentrasi dibandingkan sebelum pandemi COVID-19, menunjukkan bahwa 2% penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mengalami masalah kesehatan jiwa (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2023).
Pada tahun 2022, data Dinas Kesehatan Kota Padang mencatat 1.884 kasus gangguan jiwa pada rentang usia 15–59 tahun (Adhyka et al., 2023).
Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa 8,2% penduduk Sumatera Barat mengalami depresi, dengan prevalensi kasus depresi pada remaja di Kota Padang mencapai 4.547 kasus. Angka-angka ini menempatkan Sumatera Barat pada peringkat ketujuh nasional dalam hal peningkatan kasus kesehatan mental. Dengan populasi remaja mencapai 970.993 orang, perhatian serius
terhadap kesehatan mental remaja di Sumatera Barat menjadi sangat penting (Dinas Kesehatan Kota Padang, 2024).
Kesehatan mental adalah dimensi kehidupan yang sangat penting, karena dengan kesehatan mental, kehidupan akan berjalan dengan baik dan wajar.
Sehat mental secara umum dapat diartikan sebagai kondisi mental yang normal dan memiliki motivasi untuk hidup secara berkualitas (laras dengan nilai-nilai agama dan budaya), baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun sisi kehidupan lainnya. Oleh karena itu, kesehatan mental menjadi salah satu hal penting bagi kelangsungan hidup manusia, agar dapat berkomunikasi, sosialisasi, dan mendapatkan interaksi yang baik dengan orang lain, dalam lingkup hal yang paling kecil yakni diri sendiri sampai pada dalam lingkup bermasyarakat. Kesehatan mental menjadi salah satu dari tujuan pembangunan global yang masuk dalam SDGs (Stutainable Development Goals). Hal ini dikarenakan kenaikan gangguan kondisi mental dan penyelahgunaan zat terlarang dalam beberapa dekade terakhir menjadi penyumbang beban penyakit global dalam hal depresi dan kecemasan yang menyebabkan disabilitas (Adhyka et al., 2023).
Kesehatan mental merupakan kondisi dimana individu memiliki kesejahteraan yang tampak dari dirinya yang mampu menyadari potensinya sendiri, memiliki kemampuan untuk mengatasi tekanan hidup normal pada berbagai situasi dalam kehidupan, mampu bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta mampu memberikan kontribusinya kepada lingkumganya. Memgenali bahwa kesehatan merupakan kondisi yang
seimbang antara diri sendiri, orang lain dan lingkungan membantu masyarakat dan individu memahami bagaimana menjaga dan meningkatkannya (Ariantini et al., 2024).
Kesehatan mental adalah keadaan sejahtera mental yang memungkinkan seseorang mengatasi tekanan hidup, belajar dengan baik, bekerja dengan baik, serta berkontribusi pada komunitasnya. Kesehatan mental merupakan komponen yang menyatu dengan kesehatan, karena seseorang dinyatakan sehat bila keadaannya baik secara fisik, jiwa, maupun sosial, dan bukan terbebas dari penyakit untuk memungkinkan hidup produktif (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2023).
Kesehatan mental remaja dapat mempengaruhi masa depan remaja itu sendiri sebagai individu, dan berdampak pada keluarga hingga masyarakat.
Untuk mengetahui kesehatan mental remaja, penting untuk melihat faktor dalam diri remaja itu sendiri, keluarga, dan lingkungan. Faktor dalam diri remaja seperti faktor genetik, emosional, dan kesehatan fisik lainnya. Faktor keluarga meliputi pola asuh orang tua serta kedekatan anak terhadap orang tua, kurangya komunikasi antara remaja dan orang tua (Ariantini et al., 2024).
Hasil penelitian ini mengidentifikasi beberapa faktor yang mempengaruhi kesehatan mental pada remaja. Tiga faktor utama yang ditemukan adalah pola asuh orang tua, rasa syukur, dan jenis kelamin. Pola asuh otoriter dan permisif yang diterapkan oleh orang tua berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental remaja, di mana anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini cenderung mengalami masalah emosional. Selain itu, rasa syukur memiliki pengaruh
positif terhadap kesehatan mental, di mana remaja yang memiliki tingkat rasa syukur tinggi cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik dibandingkan mereka yang kurang bersyukur. Faktor lainnya adalah jenis kelamin, di mana remaja perempuan ditemukan lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental dibandingkan laki-laki (Supini et al., 2024).
Kesehatan mental harus dijaga dan dirawat semaksimal mungkin agar tidak terjadi gangguan mental. Jika kesehatan mental terganggu maka akan membuat kehidupan menjadi kurang nyaman, seperti gampang stres, lelah, dan bosan. Seseorang yang bisa dikatakan atau dikategorikan sehat secara mental apabila orang tersebut terhindar atau tidak mengalami gejala-gejala gangguan jiwa atau neurosis dan penyakit jiwa atau psikosis (Talitha, 2021).
DAFTAR PUSTAKA
Adhyka, N., Aisyah, I. K., & Yurizal, B. (2023). Analisis Kesehatan Mental Remaja Berdasarkan Global School Based Student Health Survey (GSHS) Siswa di Pesantren Modern. Jurnal Pembangunan Nagari, 8(2), 198–209.
https://doi.org/10.30559/jpn.v8i2.439
Ariantini, N. S., Solehah, E. L., & Saputra, I. K. D. A. (2024). Penyuluhan Kesehatan Mental Di Kalangan Remaja Di SMP Negeri 1 Banjar Buleleng.
Jompa Abdi: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 3(2), 22–28.
https://doi.org/10.57218/jompaabdi.v3i2.1067
Dinas Kesehatan Kota Padang. (2024). Profil Kesehatan Kota Padang Tahun 2023 Edisi 2024.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Fact Sheet Kesehatan Jiwa Remaja Tahun 2023. Ski 2023.
https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/hasil-ski-2023/
Supini, P., Gandakusumah, A. R. P., Asyifa, N., Auliya, Z. N., & Ismail, D. R.
(2024). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental pada Remaja.
JERUMI: Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary, 2(1), 166–172. https://doi.org/10.57235/jerumi.v2i1.1760
Talitha, T. (2021) Apa Itu Kesehatan Mental & Pentingnya Kesehatan Mental, Gramedia Blog
World Health Organization. (2024). Mental health of adolescents.
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health?
utm_source=chatgpt.com
Yusmansyah, S. L., & Mayasari, S. (2018). Bentuk dan Faktor Penyebab Perilaku Bullying Forms and Factors Causing Bullying Behavior. Jurnal
Bimbingan Dan Konseling Terapan, 3(1), 22–36.