• Tidak ada hasil yang ditemukan

Satuan Acara Penyuluhan Pencegahan Skabies

N/A
N/A
farah kedua

Academic year: 2024

Membagikan "Satuan Acara Penyuluhan Pencegahan Skabies"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

SATUAN ACARA PENYULUHAN PENCEGAHAN SKABIES

Dosen Pendamping Lapangan: Made Suandika S.Kep.,Ns.,M.Kep.,Ph.D

Disusun Oleh:

Farah Rizkiaturrahma 200106054

KELOMPOK 3 KKN LANGGONGSARI UNIVERSITAS HARAPAN BANGSA

PURWOKERTO 2024

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

SATUAN ACARA PENYULUHAN PENCEGAHAN SKABIES

Penanggungjawab Kegiatan Ketua KKN Kelompok 3

Farah Rizkiaturrahma

200106054 Ocha Pranata

200106118

Mengetahui,

Dosen Pembimbing Lapangan 1 Dosen Pembimbing Lapangan 2

Made Suandika, S.Kep., Ns., M.Kep., Ph.D apt. Fauziah, M.Sc

NIK. 109802130683 NIK. 118771222083

(3)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN...2

DAFTAR ISI...3

SATUAN ACARA PENYULUHAN...4

A. Latar Belakang...4

B. Tujuan...4

C. Pelaksanaan Kegiatan...5

LAMPIRAN MATERI...8

1. Pengertian Skabies...8

2. Penyebab Skabies...8

3. Tanda dan Gejala Skabies...9

4. Komplikasi Skabies...9

5. Penatalaksanaan Skabies...9

DAFTAR PUSTAKA...10

BERITA ACARA PELAKSANAAN PENGABDIAN MASYARAKAT...11

DAFTAR HADIR PENGABDIAN MASYARAKAT...12

(4)

SATUAN ACARA PENYULUHAN SKABIES

A. Latar Belakang

Scabies menurut WHO merupakan suatu penyakit signifikan bagi kesehatan masyarakat karena merupakan kontributor yang substansial bagi morbiditas dan mortalitas global. Prevalensi scabies di seluruh dunia dilaporkan sekitar 300 juta kasus pertahunnya.

Penyakit scabies disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei akan berkembang pesat jika kondisi lingkungan buruk dan tidak didukung dengan perilaku hidup bersih dan sehat oleh santri. Sarcoptes scabiei menyebabkan rasa gatal pada bagian kulit seperti sela jari, siku, selangkangan. Skabies banyak menyerang pada orang yang hidup dengan kondisi personal hygiene di bawah standar atau buruk, sosial ekonomi rendah, kepadatan penduduk, dan perkembangan demografik serta ekologik.

Pondok pesantren mempunyai kegiatan yang sangat padat, baik kegiatan formal atau non formal, maka dengan adanya kegiatan yang padat sehingga santri pondok pesantren kurang memperhatikan kebersihan diri dan kebersihan lingkungan serta hunian yang padat merupakan faktor terjadinya santri terkena penyakit skabies.

Skabies seringkali diabaikan karena tidak mengancam jiwa sehingga prioritas penanganannya rendah. Akan tetapi, penyakit ini dapat menjadi kronis dan berat serta menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Lesi pada skabies menimbulkan rasa tidak nyaman karena sangat gatal sehingga penderita seringkali menggaruk dan mengakibatkan infeksi sekunder

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Setelah diberikan penyuluhan mengenai skabies, diharapkan peserta mampu memahami scabies dan cara pencegahannya.

2. Tujuan Khusus

Setelah diberikan penyuluhan para santri Pondok pesantren Nurul Huda Bulakan dapat:

a) Menjelaskan pengertian skabies

(5)

b) Memahami penyebab skabies c) Memahami tanda dan gejala scabies d) Mengetahui komplikasi dari skabies e) Menjelaskan penatalaksanaan dari skabies C. Pelaksanaan Kegiatan

1. Pokok Bahasan : Skabies

2. Sasaran dan Target : Santri Pondok Pesantren Nurul Huda Bulakan

3. Metode : Ceramah dan tanya jawab

4. Media dan Alat : Leaflet

5. Waktu : Jumat, 16 Februari 2024

6. Waktu : 11.00 – 12.00

7. Durasi : 20 menit

8. Tempat : Ruang kelas pondok pesantren Nurul Huda Bulakan

9. Pelaksana : Farah Rizkiaturrahma

10. Setting Tempat

11. Kegiatan Penyuluhan

No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan sasaran 1. 3 Menit Pembukaan

 Salam pembuka

 Memperkenalkan diri

 Menjelaskan tujuan penyuluhan

 Melakukan apersepsi

1. Menjawab salam 2. Memperhatikan 3. Memperhatikan 4. Memperhatikan 2. 10 menit Pelaksanaan

Ceramah Menyimak

KETERANGAN:

1. Presenter

2. Santri

(6)

1. Pengertian skabies 2. Penyebab skabies

3. Tanda dan gejala skabies 4. Komplikasi skabies 5. Penatalaksanaan skabies 3. 5 menit Evaluasi

 Memberikan kesempatan untuk bertanya

 Meminta audience menjelaskan ulang mengenai materi tentang skabies

Bertanya dan mendengar jawaban

Menjelaskan materi

4. 2 menit Terminasi

 Mengucapkan terima kasih atas perhatian yang diberikan

 Mengucapkan salam

1. Memperhatikan 2.

2. Menjawab salam

12. Evaluasi

a. Evaluasi Struktur

1) Persiapan media yang akan digunakan 2) Persiapan tempat yang akan digunakan 3) Kontrak waktu

4) Persiapan SAP b. Evaluasi Proses

1) Selama penyuluhan peserta memperhatikan penjelasan yang disampaikan 2) Selama penyuluhan peserta aktif bertanya tentang penjelasan yang

disampaikan.

3) Selama penyuluhan peserta aktif menjawab pertanyaan yang diajukan.

c. Evaluasi Hasil Akhir

Memberi pertanyaan pada peserta, dengan daftar pertanyaan:

1) Apa itu skabies dan apa penyebab nya?

2) Apa saja tanda dan gejala skabies?

3) Bagaimana penatalaksanaan dari skabies?

Kata Kunci

:

(7)

1. Skabies merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit yang paling sering terjadi. Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi Sarcoptes scabei var. Hominis. Skabies yang juga dikenal dengan nama the itch, gudik, budukan, gatal agogo ini sangat mudah menular

2. Timbulnya rasa gatal-gatal pada kulit yang terkena, terutama pada malam hari (pruritus noktura) sehingga mengganggu ketenangan tidur. Yang kedua bintik-bintik merah pada kulit (rash).

3. Penatalaksanaan umum meliputi edukasi, berupa:

 Mandi dengan air hangat dan keringkan badan

 Pengobatan skabisid topikal yang dioleskan di seluruh kulit, kecuali wajah, sebaiknya dilakukan pada malam hari sebelum tidur. Pilihan obat untuk skabies adalah Permethrin krim 5%, Krotamiton losio atau krim 10%, Sulfur presipitatum 5%-10%, Benzyl Benzoate 25%, Lindane losio 1 %, dan Ivermektin oral;

 Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan;

 Ganti pakaian, handuk, sprei yang digunakan, dan selalu cuci dengan teratur, bila perlu direndam dengan air panas, karena tungau akan mati pada suhu 130o C;

 Hindari penggunaan pakaian, handuk, sprei bersama anggota keluarga

 Segera bersihkan skabisid dan tidak boleh mengulangi penggunaan skabisid yang berlebihan setelah seminggu sampai dengan 4 minggu yang akan datang

4.

(8)

LAMPIRAN MATERI SKABIES

1. Pengertian Skabies

Skabies merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit yang paling sering terjadi. Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi Sarcoptes scabei var. Hominis. Skabies yang juga dikenal dengan nama the itch, gudik, budukan, gatal agogo ini sangat mudah menular. Penularan skabies bisa terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung misalnya ibu yang menggendong anaknya yang menderita skabies atau penderita yang bergandengan tangan dengan teman-temannya. Secara tidak langsung misalnya melalui tempat tidur, handuk, pakaian dan lain-lain. Penyakit skabies ini sangat mudah sekali menular dan sangat gatal terutama pada malam hari. Lokasi dari skabies biasanya ada di ketiak, sekitar pusar, genital, bokong, pergelangan tangan bagian volar, sela-sela jari tangan, siku flexor, telapak tangan dan telapak kaki.

2. Penyebab Skabies

Skabies ditularkan oleh kutu betina, melalui kontak fisik yang erat. Penularan dapat melalui pakaian dalam, handuk, seprei, tempat tidur dan perabot rumah.

Jarang terjadi kutu dapat hidup di luar kulit hanya 2-3 hari. Kutu ini dapat membuat lubang-lubang dibawah permukaan kulit, biasanya disela-sela antara jari dan pergelangan tangan atau dibagian depan siku dan sekitar alat-alat kelamin dan sangat gatal. Penderita akan mempunyai keinginan utnuk menggaruk-garuk terus bintil-bintil itu setiap waktu, dan bila kuku jari cukup panjang maka kuku itu dapat menyebabkan luka. Maka garukan dari kuku kotor tersebut akan menyebabkan infeksi kulit, selanjutnya akan timbul gelembung-gelembung kecil seperti gudik atau bisul.

Sarcoptes scabiei mudah menular karena kontak kulit yang sering terjadi, terutama bila tinggal di tempat tinggal yang sama. Tingkat prevalensi skabies lebih tinggi pada anak-anak atau usia muda, penghuni rumah jompo, penghuni fasilitas kesehatan jangka panjang, penghuni sekolah berasrama, penghuni tempat lain yang keadaannya ramai, orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah,

(9)

dan pendapatan keluarga yang rendah. Selain itu, pasien dengan presepsi sensori yang menurun seperti pada orang yang menderita kusta, orang dengan imunokompromais, dan orang berusia tua memiliki risiko tersendiri untuk penyakit kulit ini.

3. Tanda dan Gejala Skabies

Gejala klinis akibat tungau skabies ini adalah timbulnya rasa gatal-gatal pada kulit yang terkena, terutama pada malam hari (pruritus noktura) sehingga mengganggu ketenangan tidur. Rasa gatal timbul akibat dari reaksi alergi terhadap eksresi dan sekresi yang keluar dari tubuh tungau, biasanya gejala ini muncul satu bulan setelah serangan tungau didahului dengan munculnya bintik-bintik merah pada kulit (rash).

4. Komplikasi Skabies

Jika tidak ditangani, skabies dapat menyebabkan infeksi sekunder berupa kerusakan pada epidermis dan dapat memudahkan terjadinya infeksi oleh bakteri Streptococcus pyogenes (Group A Streptococcus [GAS]) atau Staphylococcus aureus). Kedua bakteri tersebut dapat menyebabkan infeksi lokal pada jaringan, seperti impetigo, selulitis, dan abses, serta dapat menyebar melalui aliran darah dan sistem limfatik. Pada kasus skabies berkrusta, dapat terjadi limfadenitis dan sepsis. Infeksi kulit oleh GAS juga dapat menyebabkan komplikasi akhir berupa glomerulonefritis pasca-streptokokus yang dapat berkembang menjadi gangguan ginjal kronis.

5. Penatalaksanaan Skabies

Penatalaksanaan umum meliputi edukasi, berupa:

a. Mandi dengan air hangat dan keringkan badan

b. Pengobatan skabisid topikal yang dioleskan di seluruh kulit, kecuali wajah, sebaiknya dilakukan pada malam hari sebelum tidur. Pilihan obat untuk skabies adalah Permethrin krim 5%, Krotamiton losio atau krim 10%, Sulfur presipitatum 5%-10%, Benzyl Benzoate 25%, Lindane losio 1 %, dan Ivermektin oral;

c. Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan;

(10)

d. Ganti pakaian, handuk, sprei yang digunakan, dan selalu cuci dengan teratur, bila perlu direndam dengan air panas, karena tungau akan mati pada suhu 130o C;

e. Hindari penggunaan pakaian, handuk, sprei bersama anggota keluarga serumah;

f. Setelah periode waktu yang dianjurkan, segera bersihkan skabisid dan tidak boleh mengulangi penggunaan skabisid yang berlebihan setelah seminggu sampai dengan 4 minggu yang akan datang; dan

g. Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan yang sama dan ikut menjaga kebersihan.

(11)
(12)
(13)

DAFTAR PUSTAKA

Aminah P, Sibero HT, dan Ratna MG. Hubungan tingkat pengetahuan dengan kejadian skabies. J Majority. 2015;5(4):54- 59.

Audhah NA, Umniyati SR, dan Siswati AS. Scabies risk factor on students of islamic boarding school (study at darul hijrah islamic boarding school, cindai alus village, martapura subdistrict, banjar district, south kalimantan). J Buski. 2012;1(4):14- 22.

Karthieyan K. Treatment in scabies: newer perspectives. Postgraduate Med J. 2005;81:7-11.

Nugraheni, DN. 2008. Pengaruh Sikap Tentang Kebersihan Diri Terhadap Timbulnya Skabies (Gudik) Pada Santriwati Di Pondok Pesantren AlMuayyad Surakarta. Skripsi yang diterbitkan. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Surakarta.

Sutanto I, Ismid IS, Sjarifuddin PK, dan Sungkar S. Parasitologi kedokteran edisi keempat.

Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2008.

(14)

KEGIATAN PENYULUHAN SKABIES KEPADA SANTRI

Menerangkan bahwa pada hari ini, telah dilaksanakan Kegiatan penyuluhan skabies pada santri Pondok pesantresn Nurul Huda Bulakan, Dusun II, Langgongsari Kec. Cilongok., Kabupaten Banyumas, dengan keterangan:

Hari : Tanggal : Jam : Tempat : Materi : Jumlah peserta yang hadir : Jumlah peserta yang tidak hadir : Kejadian yang penting selama pelaksanaan kegiatan :

Demikian berita acara ini dibuat dengan sesungguhnya dan sebenar-benarnya untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

.………., ... Februari 2024 Penanggungjawab Penyuluhan

………..

(15)

DAFTAR HADIR PENYULUHAN SKABIES PADA SANTRI PONDOK PESANTREN NURUL HUDA BULAKAN

DESA LANGGONGSARI KECAMATAN CILONGOK TAHUN 2024 Tgl : 16 Februari 2024

Jam : 11.00 – 12.00 WIB

Tempat : Ruang kelas pondok pesantren Nurul Huda Bulakan Agenda :

NO NAMA LENGKAP TANDA TANGAN

1 1

2 2

3 3

4 4

5 5

6 6

7 7

8 8

9 9

10 10

11 11

12 12

13 13

14 14

15 15

(16)

16 16

17 17

18 18

19 19

20 20

21 21

22 22

23 23

24 24

25 25

Penanggungjawab

Farah Rizkiaturrahma

Referensi

Dokumen terkait

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN SANTRI TENTANG PHBS DAN PERAN USTADZ DALAM MENCEGAH PENYAKIT SKABIES. DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN

Setelah kegiatan penyuluhan, ibu dapat memahami apa yang dimaksud Setelah kegiatan penyuluhan, ibu dapat memahami apa yang dimaksud dengan PMT, persyaratan jenis

Nilai T statistik yang di dapatkan dalam menggambarkan hubungan antara promosi kesehatan terhadap pencegahan penyakit skabies di Puskesmas Bojongloa Kabupaten Garut Tahun 2015

TIU : Setelah mengikuti penyuluhan ini siswi kelas 3 SMP Yayasan Perguruan Sisingamangaraja diharapkan akan dapat menerapkan Kesehatan Reproduksi (Menstruasi) sesuai dengan

Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan agar peserta atau klien dapat mengetahui tentang penyakit diabetes, mengetahui mengenai senam kaki diabetikum, memahami

Sebelum dilakukan transfer inovasi cara pencegahan dan pengobatan penyakit skabies dan cacing dilakukan wawancara terhadap masing-masing anggota kelompok meliputi: data demografi

Dimana kegiatan pengabdian masyarakat hendak dilakukan, memberi dukungan dalam kegiatan ini dengan memudahkan koordinasi pengadaan kegiatan penyuluhan tentang “Edukasi Kebutuhan Gizi

Laporan kegiatan KKN mahasiswa Universitas Harapan Bangsa mengenai penyuluhan hipertensi dan diet pada riwayat hipertensi di Desa Langgongsari, Kecamatan