6 Redaksi, Manakib dan Masyayikh Profil Pondok Tremas Islamic College Pacitan (Pacitan: Pondok Tremas Islamic College, 2015), 94. Sesuai dengan namanya, Pondok Tremas Islamic College terletak di desa Tremas, kecamatan Arjosari, kabupaten Pacitan. 7Luqman Haris dan Muhammad Muadzin, Profil Perguruan Tinggi Islam Pondok Tremas Pacitan (Pacitan: Majlis Ma'arif Press, 2008), 7.
Perguruan Tinggi Islam Pondok Tremas”.28 Perguruan berarti tempat belajar dan tidak menggunakan istilah yang sering digunakan yaitu pesantren.
Fase Kemajuan
Maka semasa remaja, beliau melanjutkan pelajaran di Pondok Lasem, Rembang, di bawah bimbingan KH. tidak bersalah. Di dalamnya terdapat berbagai macam kitab yang meliputi fiqh, adab, tarikh, hadis\ dan terdapat juga majalah terbitan dalam dan luar negeri seperti Penyebar Semangat (Surabaya), majalah al-Fata (Mesir) dan sebagainya. . 32.
Fase Kemunduran
Kedua orang inilah yang kemudian menggantikan kakak laki-lakinya dalam pembangunan dan kebangkitan Pondok Tremas yang sudah hampir lima tahun tidak aktif. Sedangkan faktor eksternal yang menjadi pemicu semangat kebangkitan Pondok Tremasa antara lain adalah dorongan dari para alumni Pondok Tremasa, yaitu mereka yang berhasil menjadi ulama di beberapa pesantren.
Bidang Sarana Fisik
Madrasah ini terletak di depan masjid sekarang, depan asrama putra dan sebelah utara jalan raya. Madrasah ini terletak di sebelah barat masjid atau di depan asrama putri sedikit ke arah selatan. Namun pada masa Kyai Hamid, madrasah ini sudah tidak aktif lagi.. pada masa Kyai Habib Dimyathy dan tokoh lainnya, madrasah ini di dirikan kembali dan diberi nama Madrasah Salafiyah. e) Madrasah Salafiyah Tingkat Masa>'i Putri Tsanawiyah yang berdiri pada tahun 1954 dengan nama Madrasah Bana>t, kemudian berubah menjadi Madrasah Mu'allima>t.
Jenjang kelas pada Madrasah ini terdiri dari Kelas Isti'da>d, Kelas I, II dan III. f) Madrasah Tingkat Salafiyah Tsanawiyah S{aba>h}i Putra didirikan oleh Kyai Habib pada tahun 1952. Awalnya Madrasah ini bernama Madrasah Salafiyah S{aba>h}i, kemudian berganti nama menjadi Madrasah Mu' allimi>n Pertama. Dalam perkembangannya kemudian kini berubah menjadi Madrasah Salafiyah Tsanawiyah S{aba>h}i tingkat putra yang terdiri atas kelas Isti'da>d, I, II dan III. g) Madrasah Salafiyah Aliyah Tingkat S{aba>h}i Putra, didirikan pada tahun 1952 dengan nama Madrasah Aliyah S}aba>h}i kemudian berubah menjadi Madrasah Mu'allimi>n Atas dan sekarang disebut Madrasah Salafiyah Aliyah Tingkat S{aba >h}i Nak.
Jenjangnya terdiri dari kelas I, II dan III. h) Madrasah Selefiya Aliyah S{aba>h}i Tingkat Putri, dibangun bersamaan dengan Madrasah Selefiyah Tsanawiyah Masa>i Tingkat Putri yaitu pada tahun 1954. Mula-mula disebut Madrasah Bana>t, kemudian diubah pada tahun Madrasah Mu’allima>t dan kini berubah menjadi Madrasah Salafi Aliyah S{aba>h}i putri dengan masa jabatan tiga tahun yaitu kelas I, II dan III. Pengajian tersebut antara lain wetonan, sorogan, takhassus, bah}tsul Masa>'il, taqra>r, serta pengajian yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan.
Bidang Kegiatan Organisasi Pondok dan Daerah
Pelaksanaannya diserahkan kepada kelas I Madrasah Aliyah putra dan dilakukan setiap hari setelah zuhur sampai 'Ashar. Setiap tahunnya, Pramuka Pondok Tremas selalu mengadakan perkemahan dengan misi dakwah dan bakti sosial ke daerah. Tanggung jawab kegiatan kepramukaan dialihkan kepada kelas III Madrasah Tsanawiyah dan pelatihan dilaksanakan setiap hari Kamis setelah jam pelajaran.
Cabang olah raga yang dikembangkan di Pondok Tremas antara lain sepak bola, bola voli, tenis meja, bulu tangkis, dan sepak takraw. Kegiatan ini dilaksanakan seminggu sekali, setiap malam jumat Maghrib yang dihadiri oleh para santri dan masyarakat sekitar. Hasyim Ihsan, sistem pendidikan di Pondok Tremas sama dengan periode sebelumnya yaitu adanya pembagian kerja antar putra-putranya.
Sebagai tokoh masyarakat yang tergolong muda, Gus Fuad dan Gus Luqman memiliki jiwa tanggap dan motivasi terhadap kemajuan dan perkembangan Pondok Tremas. Langkah awal mengawali periode ini adalah perbaikan fasilitas fisik berupa renovasi Masjid Pondok Tremas. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah terwujudnya status “Pondok Pesantren” yang diperoleh Pondok Tremas berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor: DJ.II/DT.II.II/507/ 2006.
Struktur Kepengurusan Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan
Selain pembangunan fisik pondok pesantren, langkah strategis yang juga dilakukan adalah pembaharuan kurikulum, yang mengingat perkembangan zaman sangat dinamis, relevan sebagai upaya menjaga kualitas santri yang sedang menuntut ilmu, khususnya. siswa yang telah menyelesaikan pendidikannya. studi. BENDA SEKRETARIS MAJELIS MA'A
Sistem Pendidikan di Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan
Sedangkan pendidikan nonformal adalah suatu sistem pendidikan yang praktiknya dilakukan oleh siswa di luar kegiatan sekolah. Selain pendidikan formal dan nonformal, terdapat pula pendidikan organisasi dan keterampilan di Perguruan Tinggi Islam Pondok Tremas Pacitan. Bagi mahasiswa yang menyukai keterampilan, Perguruan Tinggi Islam Pondok Tremas telah membuka Lembaga Vokasi.
SMK Pondok Tremas merupakan pilot project atau model pendidikan vokasi oleh Kementerian Agama di Indonesia. 49 Bah}tsul mesa>il adalah kegiatan mendiskusikan materi pembelajaran atau permasalahan yang berkaitan dengan hukum agama (fiqh), yang bertujuan agar siswa mahir dalam memecahkan masalah dengan menggunakan bahan diskusi dan buku sebagai dasarnya. Sistem ini sudah lama digunakan di Pondok Tremas dan penerapannya dikhususkan bagi siswa tingkat Aliyah.
Tah}assus berlangsung pada sore hari dan diperuntukkan terpisah bagi santri putra dan putri yang menginap di asrama. 51 Takror mempunyai arti pengulangan yang artinya mengulangi pelajaran yang telah kita terima di kelas agar apa yang telah kita terima dapat kita ingat, pahami dan ingat. Status Asa>tidz dan Santri di Pondok Tremas, Perguruan Tinggi Islam Pondok Tremas Pacitan saat ini mempunyai anggota sebanyak 123 orang.
Keadaan Asa>tidz dan Santri Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan Perguruan Islam Pondok Tremas saat ini memiliki 123 orang anggota
Deskripsi Data Khusus
Konstruk Sosial Religius Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan merupakan salah satu pondok
Setiap kali bertemu atau berpapasan, siswa bahkan siswa SMA berperilaku patuh dan tidak berani mengangkat kepala. Santri selalu berperilaku sopan, ta’zim dan andhap asor ketika berhadapan dengan mereka, karena kedudukan asa>tidz dipandang sebagai kaki tangan kyai. Interaksi antara kyai - kyai, kyai - asa>tidz, kyai - santri, asa>tidz - asa>tidz, asa>tidz - santri, santri - santri dan pesantren - komunitas.
Apa yang diungkapkan oleh beberapa santri ini selaras dengan apa yang diharapkan dari Perguruan Tinggi Islam Pondok Tremas Pacitan, seperti yang diungkapkan oleh Ustadzah Fatimatuz Zahroh antara lain, “Kami berharap para santri mempunyai akhlak yang baik, santri mempunyai rasa hormat terhadap orang yang lebih tua dan terhadap teman sejawat serta adik kelasnya. 64. Agar kegiatan di Perguruan Tinggi Islam Pondok Tremas dapat terus berjalan dan nilai-nilai yang dikembangkan dapat optimal, diperlukan upaya dari berbagai pihak terutama dari Asa>tidz, karena beliau adalah sosok yang sangat dekat dengan .. Demikianlah dapat dikatakan asa>tidz adalah seorang kyai di asrama yang bertujuan untuk mendidik santrinya menjadi santri yang benar dan cerdas, seperti yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Shohih berikut ini.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Sekretariat berkoordinasi dengan Asa>tidz dan memberikan motivasi serta ajakan untuk mengoptimalkan kegiatan asrama dan pondok pesantren. Kyai juga memberikan bimbingan kepada Asa>tidz mengenai hal-hal tertentu, sebagaimana seorang ayah membimbing anaknya, meskipun mereka jarang bertemu. Mungkin kalau Asa>tidz memang butuh solusi, ada masalah di asrama atau kantor, angkat masalah tersebut dan minta solusinya.
Kepemimpinan Kolektif dalam Pengambilan Kebijakan di Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan
Ketiga kyai inilah yang merupakan tokoh utama yang memimpin Pondok Tremas Pacitan saat ini. Oleh karena itu, kepemimpinan di Perguruan Tinggi Islam Pondok Tremas Pacitan tidak lagi bersifat individual, namun sampai saat ini sudah menerapkan kepemimpinan kolektif. Dari keterangan yang diungkapkan Gus Mamuk dan Gus Achid di atas, diketahui bahwa pengurus Pondok Tremas Pacitan terdiri dari Pengurus, Mustasyar, Pimpinan Umum, Sekretaris Jenderal, Bendahara Umum, Majelis Ma'arif, Syu' u>n Ma 'hadiyah, dan Syu'u>n An-Nasya>t}a>t}.
Pernyataan di atas juga didukung oleh Ustadzah Fatimatuz Zahroh, salah satu pengajar di Perguruan Tinggi Islam Pondok Tremas. Sebagai pengambil keputusan, kyai Pondok Tremas Pacitan akan turun tangan jika ada permasalahan. Namun semua permasalahan yang muncul di lingkungan Pondok Tremas tidak ia selesaikan sendiri.
Berdasarkan keterangan Gus Luqman, Perguruan Tinggi Islam Pacitan Pondok Trema mempunyai agenda besar yaitu KonBes atau Konferensi Besar yang diadakan setiap lima tahun sekali. Dalam pertemuan tersebut, para pengurus tidak hanya menggelar silaturahmi keluarga dan mendoakan para sesepuh saja, namun di sini mereka secara intensif berdiskusi tentang perkembangan Pondok Tremas ke depan. Di Pondok Tremas ada yang namanya Majelis Ma'arif dan ada juga bagian ma'hadiyah.
Karena segala masukan, pendapat maupun kritik sangat bermanfaat agar Pondok Tremas menjadi lebih baik kedepannya.93. Tanggapan kyai Pondok Tremas terhadap permasalahan yang muncul adalah dengan bersikap bijaksana dan penuh pertimbangan sebelum mengambil keputusan yang tepat.
Strategi Pengambilan Kebijakan oleh Kepemimpinan Kolektif Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan
Aspirasi yang berasal dari unsur paling bawah di pesantren yaitu para santri dilakukan dengan cara sharing kepada teman sekamar yang lebih tua atau pembimbingnya masing-masing di asrama.102 Ada juga yang langsung melalui ustadz ustadz,103 lalu semua usulan yang diajukan diakomodasi. Sekretariat ini menjadi jembatan antara Asa>tidz sebagai wakil santri dengan kyai yang mengasuh Pondok Tremas Pacitan. Asatidz mewakili mahasiswa, lalu asatidz meneruskannya ke sekretariat, lalu sekretariat ke mereka.
Sebelumnya kita ke panitia asrama, panitia asrama, para siswa, panitia asrama menampungnya, kemudian panitia tidak bisa memberikan solusi, konselor, konselor tidak bisa memberikan solusi, maka keselamatan diutamakan. Namun ketika pimpinan senior masing-masing pesantren atau madrasah mengalami keterpurukan atau permasalahan, barulah pimpinan atau pengasuh tersebut berkonsultasi dengan pemangku kepentingan dari lembaganya masing-masing. Kalau asa>tidz bisa memutuskan, laporkan saja ke kyai saat perundingan evaluasi.
Namun apabila tidak dapat diselesaikan maka keputusan diserahkan sepenuhnya kepada Majelis Kyai. Tidak semua Asa>tidz diikutsertakan dalam rapat, kecuali jika rapat itu menyangkut seluruh Asa>tidz. Segala informasi yang masuk, baik dari santri, wali santri, masyarakat, alumni dan Asa>tidz, bahkan dari Kyai sendiri, diungkapkan dalam diskusi.