Artikel Analisis unit cost dan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menggunakan hemodialisis di RSUD Tebet Tahun 2015. Analisis unit cost dan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menggunakan hemodialisis di RSUD Tebet. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran unit cost dan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Tebet tahun 2015.
Biaya dihitung berdasarkan sudut pandang rumah sakit, kemudian disiapkan alat pengukuran kualitas hidup penyakit ginjal kronis (dialysis health-related quality of life) dan jalur klinis hemodialisis di RSUD Tebet. Alat kualitas hidup memuat 13 atribut untuk mengukur pelayanan dan preferensi waktu (peningkatan tahun hidup) pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis.
Pengaruh Kepemimpinan Manajemen Rumah Sakit Dalam Iklim Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Sentra Medika Cibinong
Pengaruh manajemen rumah sakit terhadap iklim keselamatan pasien di RS Sentra Medika Cibinong.
Tahun 2013
Idealisasi pengaruh merupakan faktor manajemen yang mempunyai pengaruh paling besar terhadap iklim keselamatan pasien di RS Sentra Medika Cibinong. Pertimbangan individu tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap iklim keselamatan pasien di RS Sentra Medika Cibinong. Terdapat hubungan yang signifikan antara pengaruh ideal dan motivasi inspiratif (indikator kepemimpinan manajemen rumah sakit) terhadap iklim keselamatan pasien rumah sakit.
Terdapat hubungan yang tidak signifikan antara stimulasi intelektual dan pertimbangan individu terhadap iklim keselamatan pasien. Faktor manajemen yang paling dominan dalam iklim keselamatan pasien di RS Sentra Medika Cibinong adalah Idealisasi Pengaruh.
Analisis Sistem Penyelenggaraan Rekam Medis di Instalasi Rekam Medis RS “X” Tangerang Periode April-Mei 2015
Penyelenggaraan Rekam Medis
Penyelenggaraan rekam medis pada suatu fasilitas kesehatan merupakan salah satu indikator mutu pelayanan pada institusi tersebut. Oleh karena itu, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan menilai perlu diatur tata cara penyelenggaraan kearsipan dalam peraturan menteri kesehatan, agar pedomannya jelas. Isi rekam medis pada prinsipnya adalah milik pasien, sedangkan rekam medis (secara fisik) adalah milik rumah sakit atau institusi kesehatan.
Berkas rekam medis milik institusi pelayanan kesehatan harus disimpan minimal 5 tahun terhitung sejak tanggal terakhir pasien meminta pengobatan. Untuk itu dibentuk Unit Rekam Medis di setiap institusi pelayanan kesehatan yang mempunyai tugas mengelola dan menyimpan rekam medis di institusi tersebut.
Analisis Pendekatan Sistem
- Pendidikan
- Pelatihan
- Pengetahuan tentang SOP
- Sosialisasi SOP
- Ruang Penyimpanan Berkas
- Kelengkapan Rekam Medis
- Ketepatan Waktu Penyediaan Berkas Rekam Medis
Luaran yang akan penulis amati dan analisa adalah kelengkapan rekam medis dan ketepatan waktu penyampaian rekam medis. Populasi penelitian terdiri dari seluruh rekam medis pasien lama yang kembali ke poliklinik rawat jalan rumah sakit. Kegiatan pelatihan yang melibatkan petugas rekam medis, baik secara internal maupun eksternal, masih kurang.
Pengumpulan rekam medis rawat jalan belum pernah dilakukan secara menyeluruh di bagian rekam medis RS “X” Tangerang. Dari pemeriksaan diketahui 22 berkas kesehatan hilang dan 15 berkas belum ditemukan. Kelengkapan rekam medis rawat jalan di RS “X” Tangerang (Tabel 4) yang diperoleh dari 116 rekam medis adalah 55,2%.
Kepala unit rekam medis memperkirakan standar waktu penyediaan berkas rekam medis kurang dari 3 menit. Pelatihan petugas rekam medis sesuai dengan kompetensi yang ditentukan rumah sakit dan rumah sakit mendukung pendidikan berkelanjutan. Proses penyusunan terkait pemeriksaan kelengkapan berkas rekam medis rawat jalan tidak dilakukan karena tidak ada permintaan dari pihak rumah sakit.
Kepala instalasi rekam medis menyusun rencana pelatihan rumah sakit dan kegiatan pelatihan internal bagi petugas rekam medis (misalnya pelatihan coding). Perlu dilakukan evaluasi secara berkala mengenai standar waktu penyediaan berkas rekam medis sesuai dengan kondisi rumah sakit saat ini (sekarang ruang rekam medis, jumlah petugas rekam medis terbatas) 12. Analisis Sistem Rekam Medis Rawat Jalan di Unit Rekam Medis Unit Rekam Medis RSU Bhakti Yudha Depok pada tahun 2013.
Kelengkapan Resume Medis dan Kesesuaian Penulisan Diagnosis Berdasarkan ICD-10 Sebelum dan Sesudah JKN di RSU Bahteramas
- Rekam Medis
- Resume Medis
- Diagnosis
- ICD-10
Diagnosa yang dicantumkan dalam berkas medis dilengkapi secara lengkap dan jelas sesuai petunjuk pada ICD-10. Pembiayaan, rekam medis yang akurat dan rinci mencatat semua pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pasien. Hasil survei (Grafik 2) menunjukkan bahwa dokter yang mengisi rekam medis adalah dokter spesialis, dan hasil wawancara menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara spesialisasi pendidikan dokter dengan kelengkapan data medis. CV medis dan kelayakan penulisan diagnosis berdasarkan ICD-10, pelatihan.
Salah satunya adalah kelengkapan kelengkapan rekam medis, termasuk CV medis pasien, yang mencerminkan kualitas pelayanan yang diberikan di rumah sakit. Pelatihan yang disasar dalam penelitian ini adalah pelatihan pengisian rekam medis termasuk CV medis dan ICD-10 bagi dokter spesialis. Pelatihan ini diberikan di RSU Bahteramas maupun pelatihan di luar rumah sakit. Masih rendahnya kualitas rekam medis khususnya kelengkapan CV medis dan kesesuaian penulisan diagnosa disebabkan belum adanya kebijakan yang mengatur kelengkapan CV medis. Yang ada saat ini adalah SOP rekam medis masih kurang tersosialisasikan dan kurang mendapat dukungan dari pimpinan.
Saat ini, yang ada hanyalah permintaan pengisian rekam medis termasuk CV medis setelah pasien pulang, yang diserahkan saat rapat atau dengan surat permohonan dari direktur rumah sakit. Tingkat kelengkapan CV medis dan kesesuaian penulisan diagnosa berdasarkan ICD-10 sebelum dan sesudah JKN masih di bawah standar pelayanan minimal rekam medis. Pelatihan jurnalis termasuk resume medis dan ICD-10 belum pernah diberikan kepada dokter dan petugas pencatatan.
Penilaian kelengkapan rekam medis termasuk ringkasan medis dilakukan oleh Unit Rekam Medis baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Meningkatkan peran pimpinan rumah sakit dan komite medis untuk memfasilitasi pelaksanaan pelatihan penyegaran rekam medis dan ICD-10. Terkait dengan Unit Rekam Medis, perlu dilakukan perbaikan penilaian rekam medis baik secara kuantitatif maupun kualitatif untuk menjamin keakuratan data kelengkapan rekam medis termasuk ringkasan medis dan kesesuaian diagnosis tertulis.
Analisis Implementasi Kebijakan Dokter Spesialis Jaga On Site Di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang
- Sumberdaya a. Sumberdaya manusia
- Disposisi a. Sikap pelaksana
- Struktur birokrasi a. SPO
- Sumber Daya Manusia
- Fasilitas
- Anggaran
- Informasi dan Kewenangan
Analisis Implementasi Kebijakan Dokter Spesialis Lokasi di IGD RSUD Dr. Sebagian besar dokter spesialis yang berada di IGD mengeluhkan konsumsi yang tidak menyenangkan dan membosankan. SPO dokter spesialis di lokasi belum terinci dengan baik dan masih berupa direktori layanan di IGD.
Penerapan kebijakan dokter spesialis di tanah air melibatkan banyak instalasi dan bidang dalam fungsi pengawasannya. Namun, ketidaklengkapan dokumen yang ada tidak menghalangi implementasi kebijakan dokter spesialis di dalam negeri. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa proses transmisi komunikasi kebijakan kepada dokter spesialis di tanah air belum optimal.
Keberhasilan transfer informasi kebijakan dari dokter spesialis di tempat juga dipengaruhi oleh variabel disposisi yaitu sikap pelaksana kebijakan. Kelancaran pembayaran insentif akan semakin mendorong sikap positif mereka terhadap penerapan kebijakan dokter spesialis lapangan. Keberhasilan penerapan kebijakan program dokter spesialis di lapangan memerlukan informasi SPO yang jelas dan rinci sehingga dapat dipahami oleh dokter.
Oleh karena itu, keberhasilan implementasi kebijakan program spesialis di lapangan memerlukan pemenuhan beberapa upaya di atas. Semua faktor di atas dapat mempengaruhi keberhasilan implementasi kebijakan dokter spesialis di unit gawat darurat. Implementasi kebijakan dokter spesialis lapangan di Unit Gawat Darurat RSMH Palembang telah diterapkan sejak Februari 2014.
Analisis Konsep Lean Thinking Pelayanan Laboratorium pada Pasien UGD Rs Masmitra Bekasi
Ide dasar dari pemikiran lean adalah untuk menciptakan nilai dan menghilangkan pemborosan dengan mengidentifikasi aktivitas yang bernilai tambah dan tidak bernilai tambah dalam suatu aliran nilai (Graban, 2012). Dari uraian di atas maka langkah alternatif dasar pertama dalam upaya peningkatan mutu pelayanan laboratorium di RS Masmitra adalah dengan melakukan analisa lebih mendalam terhadap proses pemeriksaan laboratorium yang dibatasi hanya pada pasien di Unit Gawat Darurat saja, karena layanan gawat darurat mempunyai aspek tertentu yaitu resiko kelangsungan hidup seseorang Alasan lainnya adalah Unit Gawat Darurat (IGD) merupakan pintu gerbang menuju rumah sakit dimana baik buruknya pelayanan unit ini akan memberikan gambaran keseluruhan terhadap pelayanan yang diberikan rumah sakit tersebut. Value stream merupakan perjalanan pasien dari awal sampai akhir secara terpadu, tidak hanya terfokus pada satu unit pelayanan saja, misalnya pada pelayanan di IGD, menggambarkan proses pelayanan pasien mulai dari pasien datang hingga pasien melakukan pembayaran dan pulang. menutup. (Graban, 2012).
Howanitz (2005) menjelaskan terdapat tiga fase kritis dalam fase pemeriksaan laboratorium, yaitu fase pra analitis, analitis, dan pasca analitis. Untuk metode analisisnya, peneliti membuat current state value stream map (CS VSM) dan diagram alir lintas fungsi, mengumpulkan data melalui observasi, dilengkapi dengan perhitungan waktu dan jarak, mencari akar permasalahan dan menganalisis permasalahan menggunakan diagram tulang ikan, perbaikan ide yang direncanakan, perancangan saran perbaikan dengan membuat Future State Value Stream Mapping (FS VSM), membuat. Current State Value Stream Mapping (CS VSM) pada penelitian ini terdiri dari 4 tahapan proses dimulai dari pelanggan atau pasien yang akan menjalani pemeriksaan laboratorium yang ditunjukkan pada tahapan Proses 2 hingga Proses 4.
Usulan perbaikan ini adalah sistem informasi antar unit yang komprehensif dan terintegrasi, khususnya dalam hal ini hasil pemeriksaan laboratorium yang dapat diakses langsung oleh unit terkait, usulan penambahan tenaga administrasi di unit laboratorium. Dari value stream pada tabel 4, total aktivitas pemeriksaan kalium sebanyak 22 aktivitas, 20 aktivitas proses yang dikategorikan sebagai nilai tambah, aktivitas tersebut terdiri dari 11 aktivitas pra-analisis, 7 aktivitas analitis dan 4 aktivitas pasca-analitis, dan 2 aktivitas. dikategorikan tidak ada nilai tambah. Selanjutnya peneliti mencoba membuat value stream future state map (FS VSM) dengan jumlah aktivitas yang lebih sedikit pada setiap prosesnya (Gambar 6).
Setelah dibuat future state value stream map, total aktivitas pada proses pemeriksaan kalium sebanyak 22 aktivitas, yang terdiri dari 11 aktivitas pra analitis, 8 proses analitis, dan 3 proses pasca analitis, dengan total waktu proses 43 menit dan 1 K&A% dari 96%. Peta value stream keadaan terkini yang telah dibuat sebaiknya diteruskan ke unit yang sesuai dan tidak boleh dilanjutkan. Misalnya, SOP pemeriksaan laboratorium pasien di IGD direvisi. Hal lainnya adalah lemari sampel diberi tanda ER agar pemeriksaan dapat segera dilihat dan dilakukan, petunjuk pengambilan darah ditempel di dekat gerobak peralatan (Kanban atau Manajemen Visual) telah dibentuk tim proses mengeluarkan darah dan eksternal serta eksternal. pelatihan.internal.
Analisis Budaya Organisasi dan Budaya Keselamatan Pasien Sebagai Langkah Pengembangan Keselamatan Pasien di RSIA Budi Kemuliaan
Analisis budaya organisasi dan budaya keselamatan pasien sebagai langkah pengembangan keselamatan pasien di RSIA Budi Kemuliaan.
Tahun 2014
Keselamatan pasien menjadi inti kualitas pelayanan di RSIA Budi Kemuliaan untuk meningkatkan diri dan menjawab tantangan tersebut. Tampak adanya budaya keselamatan pasien di RSIA Budi Kemuliaan, terbukti dengan adanya beberapa laporan kejadian keselamatan pasien kepada Tim KPRS Budi Kemuliaan. Mengkaji budaya keselamatan pasien merupakan langkah awal yang sangat penting dalam menerapkan perubahan untuk meningkatkan keselamatan pasien.
Penilaian terhadap budaya organisasi diperlukan dalam rangka melakukan perubahan yang mendorong upaya peningkatan keselamatan pasien. Tujuan umum penelitian ini adalah menganalisis budaya keselamatan pasien dan budaya organisasi di RSIA Buda Kemuliaan guna menentukan langkah-langkah pengembangan keselamatan pasien. Penelitian bertujuan untuk menyusun rencana pengembangan budaya keselamatan pasien berdasarkan hasil analisis budaya organisasi dan budaya keselamatan pasien.
Berdasarkan tujuan penelitian, maka penelitian ini merupakan penelitian eksploratif untuk mengukur budaya keselamatan pasien dan mengidentifikasi profil budaya organisasi. Ditemukan bahwa dimensi budaya keselamatan pasien yang termasuk dalam kategori budaya baik adalah kolaborasi dalam unit (91,67% persepsi positif). Pada sesi pertama peneliti menjelaskan hasil pengukuran budaya keselamatan pasien dan budaya organisasi yang telah dilakukan.
Budaya organisasi merupakan faktor paling mendasar yang dapat menggerakkan suatu organisasi menuju budaya keselamatan pasien yang lebih baik. Dimensi terkuat dari budaya keselamatan pasien adalah kolaborasi dalam unit, dan yang terlemah adalah respons staf dan non-punitif. Tentang Staf Farmasi: Kolaborasi dalam unit, Pembelajaran Organisasi dan Peningkatan Berkelanjutan, Dukungan Manajemen Rumah Sakit untuk Keselamatan Pasien.
Kami Menyediakan Forum Pelatihan Untuk Anda
Bersama kami, mari beraktualisasi!”