See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/375449995
SEJARAH ORANG TIONGHOA DI SUMATERA UTARA
Chapter · September 2023
CITATIONS
0
READS
262
3 authors:
Budi Agustono
University of Sumatera Utara Medan Indonesia 33PUBLICATIONS 43CITATIONS
SEE PROFILE
Junaidi Nasution University of Sumatera Utara 14PUBLICATIONS 14CITATIONS
SEE PROFILE
Kiki Maulana Affandi University of Sumatera Utara 11PUBLICATIONS 8CITATIONS
SEE PROFILE
SEJARAH ORANG TIONGHOA
DI NUSANTARA
Tim Editor Ketua :
Prof.Dr.Nina Herlina M.S.
Anggota :
Dr. R. Tuty Nur Mutia, M.Hum.
Dr. Miftahul Falah, M.Hum.
SEJARAH ORANG TIONGHOA DI NUSANTARA
Tim Editor Ketua :
Prof.Dr.Nina Herlina M.S.
Anggota :
Dr. R. Tuty Nur Mutia, M.Hum.
Dr. Miftahul Falah, M.Hum.
Prof.Dr.Nina Herlina M.S.; Prof. Budi Agustono; Muhammad Rasyidin, M.A.; Dr. T. Kasa Rullah Adha; Junaidi, M.A.; Kiki Maulana Affandi, M.A.; Dr. Wannofri Samry, M.Hum. &
Risa Junita, M.Hum.; Dr. Wilaela, M.Ag.; Dr. Miftahul Falah, M.Hum.; Fadly Rahman, M.A.;
Ayu Septiani, M.Hum.; Tanti R. Skober, M.Hum.; Budimansyah, M. Hum.; Dr. R. Tuty Nur Mutia, M.Hum.; Dr. Didik Pradjoko, M.A.; Dr. Farida R Wargadalem, M.Hum.; Dr. Alamsyah, M.Hum. Dr. Sri Margana, M.Phil.; Siti Utami Dewi Ningrum, S.S., M.A. Shinta Devi Ika Santhi Rahayu, S.S, M.A.; Dr. Zulkifli, M.A.; Dr. Ivan Robert Bernadus Kaunang, M.Hum.;
Hendri Gunawan, M.Hum.; Fatma Saudo, S.Pd., M.A.; Dr. Basrin Melamba, M.A.; Dr.
Suriadi Mappangara, M.Hum.; Dr. Nahdia Nur, M.Hum.; Dr. Nur Aida Kubangun, M.Pd.;
Rina Pusparani, S.S., M.Hum.; Johan Pattiasina, S.Pd., M.A.; Efilina Kissiya, S.Pd., M.Hum.
ISBN : 9786020782829 Penerbit :
Cetakan I, September 2023
Map Plus
Jl. Terusan Riung Saluyu A3 Kota Bandung - Jawa Barat Tim Penulis :
Sejarah Orang Tionghoa di Nusantara
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iii Prof.Dr.Nina Herlina M.S.
DAFTAR ISI ... v BAB 1 : PENDAHULUAN ... 1 Prof.Dr.Nina Herlina M.S.
BAB 2 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI ACEH ... 7 Prof. Budi Agustono; Muhammad Rasyidin, M.A.;
Dr. T. Kasa Rullah Adha
BAB 3 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI SUMATERA UTARA ...17 Prof. Budi Agustono; Junaidi, M.A.; Kiki Maulana Affandi, M.A.
BAB 4 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI SUMATERA BARAT ...33 Dr. Wannofri Samry, M.Hum. & Risa Junita, M.Hum.
BAB 5 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI RIAU ...53 Dr. Wilaela, M.Ag
Bab 6 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI KEPULAUAN RIAU ...65 Dr. Wilaela, M.Ag.
BAB 7 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI JAMBI ...77 Dr. Wilaela, M.Ag. ...
BAB 8 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI BENGKULU ...87 Dr. Miftahul Falah, M.Hum.; Fadly Rahman, M.A.; Ayu Septiani, M.Hum.;
Tanti R. Skober, M.Hum.; Budimansyah, M. Hum.
BAB 9 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI SUMATERA SELATAN ...99 Dr. Farida R Wargadalem, M.Hum.
BAB 10 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI BANGKA BELITUNG ...111 Dr. Wilaela, M.Ag.
BAB 11 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI LAMPUNG ...123 Dr. Miftahul Falah, M.Hum.; Fadly Rahman, M.A.; Ayu Septiani, M.Hum.;
Tanti R. Skober, M.Hum.; Budimansyah, M. Hum.
BAB 12 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI BANTEN ...139 Dr. Miftahul Falah, M.Hum.; Fadly Rahman, M.A.; Ayu Septiani, M.Hum.;
Tanti R. Skober, M.Hum.; Budimansyah, M. Hum.
BAB 13 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI DKI JAKARTA ...161 Dr. R. Tuty Nur Mutia, M.Hum. & Dr. Didik Pradjoko, M. A.
BAB 14 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI JAWA BARAT ...181 Dr. Miftahul Falah, M.Hum.; Fadly Rahman, M.A.; Ayu Septiani, M.Hum.;
BAB 15 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI JAWA TENGAH ...225 Dr. Alamsyah, M.Hum.
BAB 16 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI YOGYAKARTA ...243 Dr. Sri Margana, M.Phil. dan Siti Utami Dewi Ningrum, S.S., M.A.
BAB 17 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI JAWA TIMUR ...275 Shinta Devi Ika Santhi Rahayu, S.S, M.A.
BAB 18 : SEJARAH ORANG TIONGHOA BALI ...291 Dr. Sri Margana, M.Phil.
BAB 19 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI NUSA TENGGARA BARAT (NTB) DAN SEJARAH ORANG TIONGHOA DI NUSA
TENGGARA TIMUR (NTT) ...305 Dr. Miftahul Falah, M.Hum.; Fadly Rahman, M.A.; Ayu Septiani, M.Hum.;
Tanti R. Skober, M.Hum.; Budimansyah, M. Hum.
BAB 20 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI KALIMANTAN ...321 Dr. Zulkifli, M.A.
BAB 21 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI SULAWESI UTARA DAN GORONTALO ...339 Dr. Ivan Robert Bernadus Kaunang dan Hendri Gunawan, M.Hum.
BAB 22 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI SULAWESI TENGAH DAN SULAWESI TENGGARA ...365 Fatma Saudo, S.Pd., M.A. dan Dr. Basrin Melamba, M. A.
BAB 23 : SEJARAH ORANG TIONGHOA DI SULAWESI SELATAN DAN SULAWESI BARAT ...389 Dr. Suriadi Mappangara, M.Hum, dan Dr. Nahdia Nur, M.Hum.
BAB 24 : SEJARAH ORANGTIONGHOA MALUKU, MALUKU UTARA DAN PAPUA ...405 Dr. Nur Aida Kubangun,M.Pd.; Rina Pusparani, S.S. M.Hum.;
Johan Pattiasina, S.Pd.,M.A.; Efilina Kissiya,S.Pd.,M.Hum.
BAB 3
SEJARAH ORANG TIONGHOA DI SUMATERA UTARA
Prof. Budi Agustono; Junaidi, M.A.; Kiki Maulana Affandi, M.A.1 1. Awal Kedatangan
Keberadaan orang Tionghoa di Nusantara telah berlangsung sejak lama, diduga telah berkontak dengan masyarakat lokal sejak awal abad masehi. Migrasi dan kontak ini terjadi karena aktivitas perdagangan dan hubungan pelayaran orang Tionghoa ke Nusantara. Di Sumatera bagian Utara, aktivitas orang Tionghoa dapat ditelusuri pada penemuan dan peninggalan arkeologi di Labuhan Deli, Kotacina dan Delitua, Pusat Kerajaan Haru. Di wilayah ini ditemukan tinggalan permukiman Tionghoa yang diperkirakan telah ada sejak tahun 600-700 masehi (Hamdani, 2012:
21-22).
Dalam perkembangannya, orang Tionghoa tersebar dan bermukim di sekitar bandar pesisir pantai Sumatera Utara. Di pantai Barat Sumatera Utara, Orang Tionghoa sudah terlacak sejak penghujung abad ke-16.
Selain penduduk yang sudah lama bermukim di pantai barat Sumatera, mereka juga datang dari Banten, Jawa, Penang dan Singapura. Pada pertengahan abad ke-19, penduduk Tionghoa di Pantai Barat Sumatera diperkirakan berjumlah 13.000 jiwa. Orang Tionghoa yang menjadi saudagar ini banyak dijumpai di kota-kota pantai seperti Barus dan Sibolga (Asnan, 2006: 46-47 & 119-122).
Berbeda dengan pantai barat Sumatera, keberadaan orang Tionghoa di Sumatera Timur dapat terlacak ketika petualang Inggris, John Anderson menyusuri wilayah Pantai Timur Sumatera pada 1823. Dalam catatannya, Labuhan Deli dihuni oleh pedagang Tionghoa yang bermukim sejumlah 20 orang yang berasal dari Semenanjung Malaya. Mereka menetap dan membuka kedai dan toko di Labuhan Deli. Selain itu, pedagang perantara
1 Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara
Bab 3 : Sejarah Orang Tionghoa di Sumatera Utara
Tionghoa yang bermukim di sepanjang bandar pelabuhan pesisir pantai timur Sumatera seperti Tanjungbalai telah berinteraksi dan berdagang dengan pedagang lokal dan pedagang dari luar Sumatera. Orang Tionghoa ini menguasai perdagangan dan mengendalikan kegiatan ekonomi di selat Malaka (Anderson, 1826).
Hubungan orang Tionghoa yang bermukim di pesisir pantai timur Sumatera adalah sebagai pedagang perantara dengan penduduk pedalaman. Pedagang Tionghoa ini membawa berbagai komoditas yang berasal dari Semenanjung seperti garam, candu, kain, senjata, dan perkakas logam. Adapun komoditas dari pedalaman yang ditukar dengan barang-barang di atas adalah tembakau, kopi, lada, emas, madu, rotan, gambir, lilin, beras dan kelapa. (Pelzer, 1985: 29).
Migrasi dan mobilitas orang Tionghoa ke Sumatera Utara terjadi secara masif sejak dibukanya industri perkebunan di Sumatera Timur (Thee, 1977: 2-4). Pembukaan perkebunan ini diawali oleh kedatangan J.
Nienhuys, seorang pedagang Belanda yang menanam komoditi tembakau di Deli, Sumatera Timur. Dia menjalin kerjasama dengan penguasa lokal yaitu Sultan Deli untuk menyewa lahan sebagai tanah konsesi perkebunan.
Persoalan kemudian datang karena penduduk setempat tidak mau bekerja di perkebunan. Penyebabnya adalah penduduk setempat tidak mau bekerja pada perkebunan (Devi, 2004: 65-68). Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Nienhuys mendatangkan 120 orang Tionghoa dari Penang, Semenanjung Malaya yang biasa disebut sebagai Lau Keh untuk bekerja di perkebunan tembakau miliknya. Inilah awal masuknya orang Tionghoa secara masif ke Sumatera Timur (Bool, 1903: 7-8).
Perekrutan tenaga kerja Tionghoa dari Semenanjung Malaya tidak berlangsung lama karena pada 1881 Pemerintah Protektorat Inggris membatasi dan melarang kegiatan ini. Hal ini disebabkan dari banyaknya laporan dan berita tentang praktik kerja yang buruk, kekejaman serta tindakan kesewenang-wenangan pengusaha perkebunan terhadap tenaga kerja perkebunan (Devi, 2004). Setelah adanya pembatasan dan pelarangan ini, pengusaha perkebunan bersama dengan perwakilan pemerintah
Sejarah Orang Tionghoa di Nusantara
kolonial Belanda mencari tenaga kerja perkebunan ke wilayah asal di Tiongkok Selatan. Dari sini migrasi besar-besaran penduduk Tiongkok Selatan ke Sumatera Timur berlangsung sejak akhir abad ke-19.
Begitu besarnya migrasi orang Tionghoa ke Sumatera Timur menyebabkan perubahan demografi secara signifikan pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Menurut Jan Breman, pada akhir abad ke-19, orang Tionghoa yang terdaftar secara resmi sebagai tenaga kerja perkebunan berjumlah 87.938 orang (Breman, 1997: 62), sedangkan pada 1930 jumlah orang Tionghoa yang ada di Sumatera Timur baik sebagai tenaga kerja perkebunan maupun orang Tionghoa bebas yang tinggal di kota adalah 192.822 jiwa (Hamdani, 2012: 88).
Keberadaan orang Tionghoa di Sumatera Timur terutama sebagai tenaga kerja di perkebunan memperlihatkan jumlah yang besar dengan keragaman etnis atau suku Tionghoa. Mengingat sebagian besar orang Tionghoa yang bermigrasi berasal dari Tiongkok Selatan maka hal tersebut dapat menjadi representasi orang Tionghoa yang datang ke Sumatera Timur. Daerah Tiongkok Selatan tempat asal orang Tionghoa tersebut adalah Amoy, Fukien, Fu Chow, Hainan, Hunan, Kwang Tung, Kwangsi, dan Swatow. Adapun orang Tionghoa tersebut memiliki beragam etnik di antaranya yaitu Choachow, Hainan, Hailam, Hailokhongs, Hakka (Khek), Hokkien, Hock, Luchius, Kanton, Macao, Teochew (Hamdani, 2012: 51-52).
Kedatangan Buruh Tionghoa di Pelabuhan Belawan, 1903
Sumber: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/
item/784014
Bab 3 : Sejarah Orang Tionghoa di Sumatera Utara
2. Dinamika Politik
Meskipun orang Tionghoa di Sumatera Timur didominasi oleh tenaga kerja perkebunan, namun sejak awal abad ke-20 orang Tionghoa terus bertumbuh membanjiri kota besar di Sumatera Timur terutama Medan. Kota Medan pada masa itu merupakan pusat ekonomi dan industri perkebunan. Orang Tionghoa yang menetap di wilayah ini dikategorikan mapan dan berada pada posisi tawar yang kuat dalam dominasi pemerintahan kolonial Belanda di Medan (Pelly, 1984: 50-51).
Setelah awal abad ke-20, orang Tionghoa yang bermukim di perkotaan terus bertumbuh hingga lebih dari setengah jumlah penduduk bumiputra di perkotaan. Berikut adalah tabel perbandingan jumlah penduduk bumiputra dengan Tionghoa di lima kota besar di Sumatera Timur.
Tabel 1: Perbandingan Jumlah Penduduk Bumiputra dan Tionghoa di Kota Sumatera Utara, 1930
Kota
Penduduk
Total Bumiputera Tionghoa
Medan 41.270 27.287 76.584
Pematangsiantar 9.711 4.964 15.328
Tebingtinggi 8.377 4.844 14.026
Binjai 4.740 3.860 9.176
Tanjungbalai 3.299 3.162 6.823
Total Keseluruhan 67.397 44.117 121.937
Sumber: Anthony Reid, Perjuangan Rakyat, Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera, Jakarta: Sinar Harapan, 1987, hlm. 108.
Sejarah Orang Tionghoa di Nusantara
Pertumbuhan orang Tionghoa di Sumatera Utara yang pesat membutuhkan sosok atau tokoh pemimpin di dalam masyarakatnya.
Di dalam tatanan masyarakat yang dibentuk oleh kolonial Belanda, masyarakat Tionghoa dipimpin oleh tokoh atau Kepala Orang Tionghoa (Hoofden der Chinezen) yang diberikan jabatan militer yaitu Mayor, Kapten, Letnan dan terakhir yaitu Wijkmeester. Cara ini dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk mengontrol masyarakat Tionghoa.
Para kepala dan pemimpin masyarakat Tionghoa ini memiliki kekuasaan administratif dan yudisial dalam masyarakat Tionghoa. Biasanya mereka adalah pedagang kaya yang juga diberikan akses kekuasaan dan ekonomi oleh pemerintah untuk mengutip pajak, menjual atau monopoli opium dan perdagangan garam, rumah judi, minuman keras, dan rumah gadai.
Selain itu, Kepala Orang Tionghoa ini memiliki kontak langsung dengan masyarakat Tionghoa. Segala urusan yang berkaitan dengan masyarakat Tionghoa seperti keluhan, keributan dan masalah lainnya diselesaikan oleh Kepala Orang Tionghoa tersebut.
Berikut ini tokoh Tionghoa yang menjadi Letnan Tionghoa di Medan dimulai dari Oen Ghan The (28 Februari 1881); Tjong Yong Hian (22 Juni Pengangkatan Kapten Tjong Yong Hian & Letnan Tjong A Fie di Medan, 1893
Sumber:https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/810093
Bab 3 : Sejarah Orang Tionghoa di Sumatera Utara
1884 – Tituler, kemudian pada 29 Maret 1888); Tjong A Fie (24 Maret 1893); So Po Tjoan (22 September 1896); Lioe En Kon (23 April 1905);
Liong Soei Tim (26 Januari 1912); Hsu Hua Chang (18 Februari 1931;
dan Oei Han Tiong (28 Februari 1931). Sementara itu terdapat 4 tokoh Tionghoa yang menjadi Kapten Tionghoa di Medan dimulai dari Tjioe Tjoe Jen (28 Februari 1881); Tjong Yong Hian (24 Maret 1893); Tjong A Fie (1898 – Tituler, kemudian 23 April 1905); Lioe En Kon (26 Januari 1912), sedangkan tokoh Tionghoa yang menjadi Mayor Tionghoa di Medan ada 3 orang yaitu Tjong Yong Hian (23 April 1905); Tjong A Fie (22 November 1911) dan Khoe Tjin Tek (10 November 1922).
3. Perekonomian
Menjelang akhir kekuasaan kolonial Belanda di Sumatera Timur, masyarakat Tionghoa mencapai puncak perkembangan perdagangannya di perkotaan. Di perkotaan, seperti digambarkan pada tabel di atas, jumlah orang Tionghoa lebih dari setengah jumlah penduduk bumiputra.
Rekayasa konflik rasisme yang diterapkan oleh kolonial Belanda menyebabkan tidak adanya gejolak sosial perkotaan antara penduduk bumiputra dengan Tionghoa. Situasi menjadi berbeda ketika terjadi pergantian rezim dari kolonial Belanda ke pendudukan Jepang dan revolusi Indonesia.
Pada masa pendudukan Jepang, pedagang dan entrepreneur Tionghoa yang menguasai perdagangan secara otomatis dibatasi akibat dari kebijakan ekonomi yang diberlakukan oleh Jepang di Sumatera Timur.
Kebijakan ekonomi yang diberlakukan di antaranya barang dari luar negeri dilarang masuk sehingga barang-barang keperluan hidup hilang dari pasaran. Hal ini membuat setiap daerah harus mencukupi segala kebutuhannya sendiri. Mayoritas orang Tionghoa yang pedagang hampir tidak dapat melakukan usahanya lagi. Politik ekonomi Jepang ini menyebabkan lumpuhnya kegiatan perdagangan Tionghoa (Pelly, 1984:
51). Selain dalam bidang ekonomi dan perdagangan, orang Tionghoa juga mendapat perlakuan yang buruk, tidak hanya dari penguasa
Sejarah Orang Tionghoa di Nusantara
Jepang yakni tentara dan polisi, tetapi juga dari kaum bumiputera atas
“persetujuan” Jepang. Berbagai penjarahan kerap dialami oleh orang Tionghoa di Medan, Sumatera Timur (Hamdani, 2012).
Dalam masa revolusi, orang Tionghoa di Medan berada dalam posisi yang dilematis. Hal ini terlihat dari suasana yang lengang di Chinese Wijk (Pecinan), Kesawan, Medan. Tidak ada toko Tionghoa yang buka pada pusat permukiman Tionghoa di Medan pada awal kemerdekaan.
Hubungan yang “mesra” antara Tionghoa dengan kolonial Belanda pada rezim sebelumnya menimbulkan kecurigaan bagi kelompok republik karena adanya berita akan hadirnya kembali Belanda ke Sumatera Timur.
Ketidakstabilan situasi dan kegentingan masa revolusi mengakibatkan terjadinya kerusuhan anti Tionghoa di berbagai tempat. Kekerasan dan kerusuhan ini mendorong golongan muda Tionghoa untuk membentuk pasukan bersenjata pelindung keamanan, bernama Pao An Tui, yang dapat membela jiwa dan hak milik orang Tionghoa terhadap serangan laskar Indonesia. Di sisi lain memberikan kesan bagi orang Indonesia bahwa orang Tionghoa sedang mempersenjatai diri dalam menyokong kehadiran Belanda pada masa revolusi (Van der Veer, 2013).
Persoalan orang Tionghoa sejak awal kemerdekaan terus berlanjut hingga tahun 1960-an. Masalah lainnya yang dihadapi oleh orang Tionghoa adalah kewarganegaraan. Setelah penyerahan kedaulatan tahun 1949, orang Tionghoa yang mempunyai kewarganegaraan Indonesia berdasarkan undang-undang Indonesia juga dianggap sebagai warga negara Tiongkok berdasarkan undang-undang Tiongkok (Coppel, 1994:
55-56). Persoalan dwi kewarganegaraan ini yang menimbulkan asimilasi di kalangan orang Tionghoa di Indonesia dan semakin mengeras sejak rezim Orde Baru berkuasa.
Masa awal formasi Orde Baru menjalin hubungan dengan Tionghoa berkait dengan kepentingan ekonomi dalam upaya konsolidasi kekuasaan sehingga sebagian kelompok Tionghoa memperoleh privilese ekonomi. Bersamaan dengan itu, pemerintah melakukan proteksi politik terhadap orang Tionghoa sehingga secara perlahan dapat menguasai dan
Bab 3 : Sejarah Orang Tionghoa di Sumatera Utara
memonopoli bisnis besar dan imperium bisnis. Maka munculah istilah cukong, taipan dan konglomerat kesohor di republik ini (Agustono, 2010). Namun, secara bersamaan rezim Orde Baru sejak dekade 1970-an juga melakukan politik diskriminasi terhadap orang Tionghoa. Orang Tionghoa hanya dianggap sebagai economic animal. Bentuk diskriminasi politik dilakukan dengan manipulasi dan sentimen anti Tionghoa yang sering dijadikan kambing hitam dalam setiap gejolak sosial, pengerasan sentimen pribumi dan bukan pribumi, melarang pemakaian aksara Tionghoa, serta membatasi akses Tionghoa di luar bidang ekonomi, misalnya batasan dalam memasuki sekolah dan perguruan tinggi negeri (Agustono, 2009).
Tumbangnya rezim Orde Baru pada 1998 memberikan dampak besar bagi Tionghoa di Sumatera Utara. Orang Tionghoa secara berangsur diperbolehkan menampilkan simbol, identitas dan budayanya di depan khalayak publik. Pasca reformasi, Orang Tionghoa menerbitkan surat kabar dengan aksara Tionghoa, memakai busana dan fashion Tionghoa, tumbuhnya kursus bahasa mandarin, dinyanyikannya lagu mandarin dan munculnya tarian dan kesenian Barongsai serta pengakuan Imlek sebagai hari libur nasional. Kebebasan pasca reformasi telah membuka ruang politik, sosial, dan budaya bagi orang Tionghoa dalam mendefinisikan kembali identitas dan simbol budayanya. Konstruksi definisi simbol dan identitas budaya ini menguatkan identitas Tionghoa sebagai kelompok etnik yang tidak bisa dipisahkan dari peran negara. Melalui peran negara orang Tionghoa berhasil dalam mengonstruksi identitas dan dapat diterima publik secara luas (Agustono, 2010).
4. Sosial-Budaya
Masyarakat Tionghoa di Kota Medan menerima gelombang modernisasi kota yang terjadi salah satunya dengan hiburan masyarakat urban. Menonton bioskop juga dilakukan oleh masyarakat Tionghoa kota. Pada dekade pertama dan kedua abad ke- 20, dibangun gedung bioskop di Kota Medan. Hiburan masyarakat urban ini mendorong
Sejarah Orang Tionghoa di Nusantara
masyarakat kota yang tersegregasi antara masing-masing kelas dan etnik menonton bioskop (Agustono, et.al., 2022). Sebuah bioskop dinamai nama dari putra Tjong Yong Hian yaitu Tjong Koen Tat memperlihatkan perkembangan modernitas komunitas masyarakat Tionghoa di Medan.
Masyarakat Tionghoa perkotaan tinggal di permukiman yang disebut Chinese Wijk. Setelah Indonesia merdeka, daerah yang dikenal sebagai kampung Tionghoa di Medan di antaranya yaitu Kesawan, Pasar Ikan, Kampung Baru, Glugur, Pulo Brayan, Labuhan, Belawan, Titipapan, dan Sunggal. Rumah-rumah Tionghoa ini berciri khas petak, permanen dan bertingkat dua. Lantai dasar difungsikan sebagai toko dan loteng atau bagian atas sebagai tempat tinggal. Sementara bagian dinding biasanya menyatu dengan dinding rumah di sebelahnya. Bangunan rumah berjajar mengikuti alur jalan utama kota. Rumah-rumah toko ini berhadapan dengan rumah toko yang ada di seberangnya. Jalanan Chinese Wijk ini diberi nama khas Tionghoa yaitu Kapitenstraat (Jalan Kapiten), Bioskop Tjong Koen Tat di Kota Medan, 1924
Sumber: https://storiesfromdeli.com/2021/01/26/tjomg-koeng-tat/
Bab 3 : Sejarah Orang Tionghoa di Sumatera Utara
Cantonstraat (Jalan Kanton), dan Hakkastraat (Jalan Hakka) (Hamdani, 2012: 94).
Nuansa Tionghoa biasanya terlihat begitu kental dalam rumah dan permukiman Tionghoa. Chinese Wijk di dalam kota biasanya dilengkapi gerbang besar, yang di dalamnya dihiasi dengan tulisan beraksara Tionghoa. Selain itu, terdapat pula patung-patung naga, singa penjaga, lampion kertas, dan hiasan lainnya. Hiasan dan ornamen ini bernuansa warna merah berciri khas Tionghoa. Permukiman kampung Tionghoa ini ditandai dengan ciri khas dari rumahnya. Permukiman Tionghoa dapat ditandai dengan simbol dan peribadatan ajaran Konghucu jika tidak berada di pinggir jalan atau berciri rumah kedai. Bentuk lain dari rumah Tionghoa adalah rumah bangsal yang memanjang. Rumah-rumah ini biasanya ditempati oleh masyarakat Tionghoa miskin dan pekerja upahan (Hamdani, 2012: 94-97).
Permukiman Tionghoa di Kota Medan tersebar tidak hanya berada di pusat kota sebagai sentra ekonomi. Permukiman Tionghoa yang berada di pinggiran kota dan berbatasan dengan perkebunan atau kampung
Gerbang Kesawan sebagai Pintu Masuk Chineese Wijk, 1923
Sumber: https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/765801
Sejarah Orang Tionghoa di Nusantara
bumiputra banyak ditinggali oleh penduduk Tionghoa yang miskin.
Kawasan Lau A Yok yang terletak di dekat Sukaramai dan perkebunan Medan Estate merupakan kawasan rawan kriminal bagi penduduk bumiputra sejak rezim kolonial Belanda (Hamdani, 2012: 95-97). Saat ini kawasan Lau A Yok menjadi pusat permukiman Pecinan yang dikenal dengan kawasan Asia Mega Mas.
5. Tokoh Terkemuka
Sepanjang perjalanan sejarah, tokoh Tionghoa di Sumatera Utara berkontribusi dalam pembangunan dan beragam peran lainnya sejak masa kolonial Belanda hingga saat ini. Sejak masa kolonial Belanda di Kota Medan, dua bersaudara Tjong Yong Hian dan Tjong A Fie mewakili representasi Tionghoa sukses dan berjasa dalam keberadaan Tionghoa di Sumatera Utara. Tjong Yong Hian dan Tjong A Fie termasuk dari golongan Tionghoa bebas entrepreuner yang tidak terikat dalam struktur masyarakat tenaga kerja perkebunan. Terdapat perbedaan mendasar antara Tionghoa sebagai buruh perkebunan dan Tionghoa bebas.
Tionghoa sebagai tenaga kerja umumnya cenderung susah untuk lepas dari struktur perkebunan. Sementara Tionghoa bebas, lebih suka berkecimpung dalam bidang ekonomi perkotaan, baik bekerja sebagai pedagang, penjaga toko, penjaja barang atau mengabdikan diri kepada wijkmeester sebagai pegawai pada salah satu unit usaha yang dimiliki pengusaha Tionghoa (Hamdani, 2012: 47-48).
a. Tjong Yong Hian
Tjong Yong Hian adalah contoh taipan Tionghoa yang sukses di Kota Medan. Tiba di Medan pada 1870 ketika wilayah Sumatera Timur berada pada masa berkembangnya perkebunan, Tjong Yong Hian memanfaatkan momentum tersebut. Perkembangan perkebunan yang pesat membuat ia menjadi saudagar besar pada masanya. Bersama dengan pemilik modal Eropa, ia meletakkan fondasi pembangunan Kota Medan.
dengan kemampuan berbisnisnya, Tjong Yong Hian berhasil mengubah
Bab 3 : Sejarah Orang Tionghoa di Sumatera Utara
wilayah Medan yang dulunya kampung menjadi kota yang modern dan kosmopolit (Agustono dan Dewi, 2016: 124-125).
Tjong Yong Hian tidak hanya dikenal sebagai saudagar besar yang sukses tetapi juga pluralis sejati. Pergumulannya dengan berbagai masyarakat Medan yang plural sehingga ia memiliki akses untuk bergaul dengan orang dengan berbagai latar belakang sosial. Hubungannya sangat baik dengan pemerintah kolonial, kesultanan Deli dan juga masyarakat komunitas Tionghoa dan lainnya. Beberapa hal yang dilakukan dalam upaya untuk menciptakan komunikasi budaya antara satu kelompok etnik dengan etnik lainnya adalah dengan aktivitas sosial dan budaya.
Ia mendirikan rumah sakit, panti asuhan, pemakaman, tempat ibadah, membantu dalam pendirian Mesjid Gang Bengkok dan Mesjid Raya (Agustono dan Dewi, 2016: 125).
b. Tjong A Fie
Setelah Tjong Yong Hian sukses di Medan, ia mengajak adiknya yang baru berusia 19 tahun mencari peruntungan di wilayah ini pada 1879.
Tjong Yong Hian dan Tjong A Fie
Sumber: Collectie KITLV 3999; Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen
Sejarah Orang Tionghoa di Nusantara
Ia adalah Tjong A Fie. Dengan tekad yang kuat Tjong A Fie berusaha tanpa bergantung dari kakaknya. Dalam beberapa waktu ia bekerja sebagai pekerja serabutan, pelayan toko, penagih utang, hingga tenaga pembukuan. Karakter dan sifatnya yang mandiri, pandai bergaul, memiliki jiwa pemimpin serta sering melerai perselisihan di antara orang Tionghoa atau dengan pemerintah kolonial membuat ia ditunjuk sebagai pengawas kuli Cina di perkebunan (Junaidi, et.al: 2023). Selain itu, ia juga fasih berbahasa Melayu sehingga memudahkannya menjalin hubungan dan membangun pergaulan sosial dengan siapa saja terutama dengan pejabat kolonial, pemilik modal, dan Sultan Deli (Agustono dan Dewi, 2016: 126).
Di dalam kehidupan sosialnya, sosok Tjong A Fie memiliki sifat-sifat dermawan, rendah hati, tegas dan disiplin. Selain dermawan, Tjong A Fie sangat dikenal dengan sifat egaliter, tidak melihat asal-usul bangsa, ras, dan agama dalam membantu. Beberapa hal yang menunjukkan aktivitas filantropis adalah menyumbang pembangunan Mesjid Kesultanan Deli.
Selain itu, bagi masyarakat Tionghoa, ia mendirikan klenteng, rumah
dr. Sofyan Tan
Sumber:
https://www.dpr.go.id/blog/
profil/id/1330
persemayaman, dan menyediakan tanah perkuburan.
Aktivitas sosialnya juga dibuktikan dengan membangun rumah sakit lepra di Sicanang bagi warga yang sakit serta membantu pembangunan tempat ibadah lainnya seperti gereja dan kuil Hindu. Berbagai aktivitas dan partisipasi sosialnya membuat ia dilantik menjadi anggota Gemeenteraad Kota Medan pada 1911 dan menjadi penasihat pemerintah untuk urusan Tionghoa (Buiskool, 2019).
c. dr. Sofyan Tan
Selain tokoh Tionghoa yang berperan sejak masa kolonial Belanda, tokoh Tionghoa kontemporer yang berperan dalam kemajemukan dan perjuangan anti diskriminasi Tionghoa dapat disebutkan adalah Sofyan
Bab 3 : Sejarah Orang Tionghoa di Sumatera Utara
Tan. Saat ini, Sofyan Tan merupakan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Sejak rezim Orde Baru tumbang, Sofyan Tan muncul sebagai ikon tokoh muda Tionghoa yang mampu merajut kebersamaan kalangan Tionghoa yang tumbuh pasca Orde Baru runtuh. Sofyan Tan mencalonkan diri sebagai Wakil Walikota Medan pada pemilihan kepala daerah Kota Medan pada 2010. Pencalonannya menggemparkan khalayak politik lokal, namun juga menciptakan situasi menarik tentang gelombang akses politik Tionghoa yang sebelum rezim Orde Baru tumbang dikebiri dan membesar setelah Reformasi 1998.
Sofyan Tan membangun jejaring dan modal sosial kuat dengan berbagai kelompok tanpa membedakan suku, agama, dan daerah.
Perlawanan Sofyan Tan dalam diskriminasi terhadap Tionghoa dilakukan dengan melakukan dialog antar agama dan etnik, mendorong usaha kecil, berkecimpung dalam organisasi non pemerintah (ornop) dan organisasi kepemudaan, serta mendirikan sekolah pembauran. Kegiatan Sofyan Tan ini telah menyemaikan benih pengakuan atas perbedaan dan keberagaman atau disebut pula pandangan multikulturalisme. Pergaulan yang luas membuat citra sosial dan politiknya menguat sehingga Sofyan Tan berkecimpung masuk ke dalam partai politik (Agustono, 2019).
Munculnya Sofyan Tan sebagai tokoh Tionghoa dalam kancah politik lokal Medan merupakan gejala yang menarik dalam format politik lokal yang dalam batas tertentu berhasil mengalahkan stereotip diskriminasi dalam komunitas masyarakat Tionghoa. Sementara itu pasca runtuhnya rezim Orde Baru pun masih jamak terjadi praktik diskriminasi di kalangan orang Tionghoa, namun Sofyan Tan tanpa lelah menyuarakan semangat anti diskriminasi yang tentunya membutuhkan waktu panjang agar lenyap dalam negara Indonesia ini (Agustono, 2009).
Sejarah Orang Tionghoa di Nusantara
DAFTAR SUMBER
Agustono, B. (2009). Sofyan Tan ‘Tionghoa Wakil Walikota’. Waspada.
Senin, 21 Desember 2009.
Agustono, B. (2010). Tionghoa Pasca Orde Baru. Waspada. Rabu, 24 Nopember 2010.
Agustono B. dan Dewi, H. (2016). Tjong Bersaudara Pembangun Kota Medan. dalam Leo Suryadinata (ed.) Tionghoa dalam Keindonesiaan Peran dan Kontribusi Bagi Pembangunan Bangsa. Jakarta: Yayasan Nabil.
Agustono, B., Junaidi, dan Affandi, K.M. (2022). Urban entertainment:
Cinemas in the city of Medan, 1909-1930s. Cogent Arts & Humanities, 9:1, 1-16. https://doi.org/10.1080/23311983.2022.2031685
Anderson, J. (1826). Mission to the East Coast of Sumatra 1823. Edinburgh – London: William Blackwood – T. Cadell.
Asnan, G. (2006). Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera. Jogyakarta:
Penerbit Ombak..
Breman, J. (1997). Menjinakkan Sang Kuli: Politik Kolonial, Tuan Kebun, dan Kuli di Sumatra Timur pada Awal Abad Ke-20. Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti.
Bool, H.J. (1903). De Chineesche Immigratie Naar Deli. Utrecht: Oostkust van Sumatra Instituut.
Buiskool, D.A. (2019). Prominent Chinese During the Rise of a Colonial City Medan 1890-1942 [Unpublished Dissertation]. Utrecht University.
Coppel, C.A. (1994). Tionghoa Indonesia dalam Krisis, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan..
Devi, T.K. (2004). Poenale Sanctie: Studi Tentang Globalisasi Ekonomi dan Perubahan Hukum di Sumatera Timur (1870-1950). Medan: Program Pasca Sarjana USU.
Bab 3 : Sejarah Orang Tionghoa di Sumatera Utara
Hamdani, N. (2012). Komunitas Cina di Medan Dalam Lintasan Tiga Kekuasaan 1930-1960. Jakarta: LIPI Press.
https://digitalcollections.universiteitleiden.nl/view/item/765801; 784014;
810093
Junaidi, Maler, W. dan Affandi, K.M. (2023). Rumah Tjong A Fie dan Gedung Warenhuis sebagai Bangunan Warisan Sejarah. dalam I Wayan Putra Yasa, et.al (eds.) Strategi Penguatan Nilai-Nilai Kearifan Lokal di Era Surplus Informasi (hlm. 152-168) Klaten: Penerbit Lakeisha, 2023.
Pelzer, K.J. (1985). Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria di Sumatra Timur 1863-1947. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Pelly, U. dkk. (1984). Sejarah Sosial Daerah Sumatera Utara Kotamadya Medan, Jakarta: Depdikbud.
Reid, A. (1987). Perjuangan Rakyat, Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera. Jakarta: Sinar Harapan.
Thee, K.W. (1977). Plantation Agriculture and Export Growth: An Economic History of East Sumatra, 1863-1942. Jakarta: LEKNAS-LIPI.
Van der Veer, A. (2013). The Pao An Tui in Medan A Chinese Security Force in Dutch Occupied Indonesia, 1945-1948 [Unpublished Thesis] Utrecht University.