PENGARUH WAKTU TANAM SORGUM DALAM SISTEM TUMPANGSARI DENGAN SINGKONG PADA VIGOR DAYA SIMPAN
BENIH SORGUM (Sorghum bicolor [L.] Moench)
(SKRIPSI)
Oleh
MUHAMMAD NAUFAL NPM 1614121164
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG 2022
2
ABSTRAK
PENGARUH WAKTU TANAM SORGUM DALAM SISTEM TUMPANGSARI DENGAN SINGKONG PADA VIGOR DAYA SIMPAN
BENIH SORGUM (Sorghum bicolor [L.] Moench)
Oleh
MUHAMMAD NAUFAL
Sistem tanam tumpangsari menjadi solusi pilihan yang mampu mengatasi masalah keterbatasan lahan dalam pengembangan sorgum di Indonesia. Kompetisi antar jenis tanaman, termasuk akibat beda waktu tanam, harus dapat diatasi dan diantisipasi dengan penerapan teknik budidaya yang tepat, terutama pengaruhnya pada mutu benih sorgum yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu tanam sorgum pada sistem tumpangsari dengan singkong pada vigor daya simpan benih sorgum. Percobaan ini menggunakan rancangan lingkungan strip plot dengan tiga ulangan dalam tiga blok. Rancangan perlakuan adalah faktorial dengan faktor utama adalah waktu tanam sorgum dan faktor kedua adalah genotipe sorgum.
Waktu tanam terdiri dari tanam bersamaan dengan singkong (s1) dan lebih lambat dua minggu (s2) setelah singkong. Faktor kedua adalah lima genotipe sorgum, yaitu: Suri, P/I-150-21-A-CYMIT, UPCA, Talaga Bodas, dan Super-1. Vigor daya simpan benih dalam ruang ber-AC dengan suhu 18 ± 1,4 oC selama 24 bulan diamati setiap 8 bulan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa vigor daya simpan benih sorgum selama 24 bulan penyimpanan dari benih sorgum yang dipanen dari tumpangsari singkong-
3
sorgum dengan waktu tanam bersamaan lebih tinggi daripada yang waktu tanamnya mundur dua minggu setelah singkong. Perbedaan vigor daya simpan tersebut
disebabkan oleh vigor awalnya bukan karena adanya perbedaan laju kemunduran benih selama periode penyimpanan selama 24 bulan. Laju kemunduran benih selama periode simpan 24 bulan tidak nyata, baik antar lot benih waktu tanam maupun antar lot genotipe.
Kata kunci: Genotipe, Sorgum, Tumpangsari, Waktu tanam.
4
PENGARUH WAKTU TANAM SORGUM DALAM SISTEM TUMPANGSARI DENGAN SINGKONG PADA VIGOR DAYA SIMPAN
BENIH SORGUM (Sorghum bicolor [L.] Moench)
Oleh
Muhammad Naufal
Skripsi
Sebagai Salah Satu Mencapai Gelar SARJANA PERTANIAN
Pada
Jurusan Agroteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Lampung
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG 2022
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Meulaboh, pada tanggal 01 November 1996 dari pasangan Bapak Muhammad Fuad dan Ibu Eka Silvaningsih sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar pada tahun 2008 di SD Swasta Pertiwi Medan. Pada tahun 2011, penulis menyelesaikan pendidikan
menengah pertama di SMP Swasta Harapan 2 Medan. Pada tahun 2014, penulis menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas di SMA Harapan 1 Medan. Pada tahun yang sama, penulis diterima di Program Sekolah Vokasi D3 Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Ujian Tertulis Mandiri di program Teknologi dan
Manajemen Produksi Perkebunan (TMP). Pada tahun 2017, Penulis menyelesaikan masa kuliahnya di Sekolah Vokasi IPB dan memperoleh gelar Ahli Madya (Amd.) dibidang perkebunan.
Penulis melanjutkan pendidikan sarjananya di jurusan Agroteknologi Fakultas
Pertanian Universitas Lampung pada tahun 2018 melalui jalur Alih Program. Penulis menjalani perkuliahan hingga dinyatakan lulus ujian skripsi pada tanggal 22
September 2022.
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Pengaruh Beda Waktu Tanam Sorgum Dalam Sistem Tumpangsari Dengan Singkong Pada Vigor Daya Simpan Benih Lima Varietas Sorgum (Sorghum bicolor [l.] moench).
Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan Gelar Sarjana pada Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Penulis mengucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini, terutama kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si., selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
2. Ibu Prof. Dr. Sri Yusnaini, M.Si., selaku Ketua Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
3. Ibu Dr. Ir. Nyimas Sa’diyah, M.P., selaku dosen pembimbing akademik atas segala bimbingan, motivasi, dan pengarahan yang telah diberikan kepada penulis.
4. Bapak Dr. Ir. Eko Pramono, M.S., selaku dosen pembimbing pertama yang telah memberikan pengarahan, bimbingan, saran dan motivasi kepada penulis.
5. Bapak Prof. Dr. Ir. Muhammad Kamal, M.Sc., selaku dosen pembimbing kedua atas segala masukan yang diberikan kepada penulis.
6. Bapak Dr. Ir. Syamsoel Hadi, M.Sc., selaku dosen pembahas atas segala masukan yang diberikan kepada penulis.
7. Segenap Bapak dan Ibu dosen serta staf asministrasi dan laboratorium atas ilmu pengetahuan, wawasan dan batuan kepada penulis.
8. Kedua orang tua saya Bapak Fuad dan Ibu Eka, serta keluarga yang tak
pernah berhenti memberikan doa serta dukungan baik moril maupun materiil kepada penulis.
9. Dhara Saraswati, Raka Fariz, Rafi Muhammad, Teuku Mufadzal, Karny Permata, Syahanda, Anggota kelompok penelitian benih 2018, Teman-teman TMC dan Kos Pak Syaiful atas dukungan yang diberikan kepada penulis 10. Teman-teman Mahasiswa AGT. Serta teman-teman seperjuangan saat
penelitian atas kebersamaan dan dukungan yang diberikan kepada penulis.
Penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membantu untuk perbaikan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang
membutuhkannya.
Bandar Lampung, 22 September 2022
Muhammad Naufal
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR GAMBAR ... iii
DAFTAR TABEL ... v
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan Penelitian ... 4
1.3 Kerangka Pemikiran ... 5
1.4 Hipotesis ... 7
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1 Sorgum (Sorgum bicolor [L.] Moench) ... 8
2.2 Produktivitas Sorgum ... 9
2.3 Ubi Kayu ... 9
2.4 Tumpang Sari ... 10
2.5 Viabilitas Dan Vigor Benih ... 11
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN ... 13
3.1 Tempat dan Waktu ... 13
3.2 Bahan dan Alat... 13
3.3 Rancangan Percobaan dan Analisis Data... 14
3.4 Pelaksanaan Penelitian... 15
3.4.1 Persiapan Benih ... 15
ii
3.4.2 Persiapan Lahan Pertanaman ... 16
3.4.3 Penanaman ... 16
3.4.4 Penentuan tanaman sampel... 16
3.4.5 Pemeliharaan ... 17
3.4.6 Pemanenan ... 17
3.4.7 Pengukuran kadar air benih ... 17
3.4.8 Pengemasan benih sorgum ... 18
3.4.9 Penyimpanan benih ... 18
3.5 Pengukuran Vigor Benih ... 18
3.5.1 Persen Kecambah Normal Total ( PKNT )... 18
3.5.2 Kecepatan Perkecambahan ( KP ) ... 19
3.5.3 Persen Kecambah Normal Kuat ( PKNK ) ... 19
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 20
4.1 Hasil Penelitian ... 20
4.1.1 Pengaruh waktu tanam sorgum dalam sistem tumpangsari sorgum- singkong pada viabilitas lima genotipe sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench.). ... 21
4.1.2 Vigor daya simpan 24 bulan benih lima genotipe sorgum hasil tumpangsari dengan singkong ... 22
4.2 Pembahasan ... 29
4.2.1 Pengaruh waktu tanam sorgum pada sistem tumpangsari sorgum- singkong terhadap viabilitas benih sorgum ... 29
4.2.2 Vigor daya simpan benih sorgum yang diperoleh dari perlakuan tumpangsari dengan waktu tanam bersamaan dan dua minggu setelah singkong ... 30
V. SIMPULAN ... 35
5.1 Simpulan ... 35
5.2 Saran ... 35
DAFTAR PUSTAKA ... 36
LAMPIRAN ... 40
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Petak perlakuan pada penelitian ... 14 2. Grafik Vigor Daya Simpan Benih Sorgum yang Dipanen dari
Tumpangsari Sorgum-Singkong dengan waktu tanam bersamaan diukur
dengan persentase kecambah normal total (KNT) ... 23 3. Grafik vigor daya simpan benih sorgum yang dipanen dari tumpangsari
sorgum-singkong dengan waktu tanam bersamaan diukur dengan
persentase kecepatan perkecambahan (KP) ... 23 4. Grafik Vigor Daya Simpan Benih Sorgum yang Dipanen dari
Tumpangsari Sorgum-Singkong dengan waktu tanam bersamaan diukur
dengan persentase kecambah normal kuat (KNK) ... 24 5. Grafik Vigor Daya Simpan Benih Sorgum yang Dipanen dari
Tumpangsari Sorgum-Singkong dengan waktu tanam dua minggu setelah singkong diukur dengan persentase kecambah normal kuat
(KNK) ... 25 6. Grafik Vigor Daya Simpan Benih Sorgum yang Dipanen dari
Tumpangsari Sorgum-Singkong dengan waktu tanam dua minggu setelah singkong diukur dengan persentase Kecepatan perkecambahan
(KP) ... 25 7. Grafik Vigor Daya Simpan Benih Sorgum yang Dipanen dari
Tumpangsari Sorgum-Singkong dengan waktu tanam dua minggu setelah singkong diukur dengan persentase Kecepatan perkecambahan
(KP) ... 26 8. Grafik pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) dan 2 minggu (s2) sorgum
pada sistem tumpangsari dengan sorgum pada Kecambah normal total
(KNT) genotipe Suri ... 65 9. Grafik pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) dan 2 minggu (s2) sorgum
pada sistem tumpangsari dengan sorgum pada Kecambah normal total
(KNT) genotipe CIMMYT ... 65 10. Grafik pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) dan 2 minggu (s2) sorgum
pada sistem tumpangsari dengan sorgum pada Kecambah normal total
iv
(KNT) genotipe UPCA ... 66
11. Grafik pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) dan 2 minggu (s2) sorgum pada sistem tumpangsari dengan sorgum pada Kecambah normal total (KNT) genotipe Talaga Bodas ... 66
12. Grafik pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) dan 2 minggu (s2) sorgum pada sistem tumpangsari dengan sorgum pada Kecambah normal total (KNT) genotipe Super-1 ... 67
13. Grafik pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) dan 2 minggu (s2) sorgum pada sistem tumpangsari dengan sorgum pada Kecepatan Perkecambahna (KP) genotipe Suri ... 67
14. Grafik pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) dan 2 minggu (s2) sorgum pada sistem tumpangsari dengan sorgum pada Kecepatan Perkecambahan (KP) genotipe CIMMYT ... 68
15. Grafik pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) dan 2 minggu (s2) sorgum pada sistem tumpangsari dengan sorgum pada Kecepatan Perkecambahna (KP) genotipe UPCA ... 68
16. Grafik pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) dan 2 minggu (s2) sorgum pada sistem tumpangsari dengan sorgum pada Kecepatan Perkecambahna (KP) genotipe Talaga Bodas ... 69
17. Grafik pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) dan 2 minggu (s2) sorgum pada sistem tumpangsari dengan sorgum pada Kecepatan Perkecambahna (KP) genotipe Super-1 ... 69
18. Grafik pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) dan 2 minggu (s2) sorgum pada sistem tumpangsari dengan sorgum pada Kecambah normal kuat (KNK) genotipe Suri ... 70
19. Grafik pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) dan 2 minggu (s2) sorgum pada sistem tumpangsari dengan sorgum pada Kecambah normal kuat (KNK) genotipe CIMMYT ... 70
20. Grafik pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) dan 2 minggu (s2) sorgum pada sistem tumpangsari dengan sorgum pada Kecambah normal kuat (KNK) genotipe UPCA ... 71
21. Grafik pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) dan 2 minggu (s2) sorgum genotipe Talaga Bodas ... 71
22. Grafik pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) dan 2 minggu (s2) sorgum genotipe Super-1 ... 72
23. Transformasi data pengamatan Kecepatan Perkecambahan (KP) s1 ... 72
24. Transformasi data pengamatan Kecepatan Perkecambahan (KP) s2 ... 73
25. Transformasi data pengamatan Kecambah Normal Kuat (KNK) s1 ... 73
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Ringkasan analisis ragam pengaruh genotipe pada viabilitas benih sorgum dalam tumpangsari singkong-sorgum (Sorghum bicolor [L.]
Moench.) ... 20 2. Pengaruh waktu tanam sorgum dalam sistem tumpangsari dengan
singkong pada vigor daya simpan lima genotipe sorgum (Sorghum
bicolor [L.] Moench.) ... 21 3. Persamaan garis vigor daya simpan (VDS) benih sorgum yang dipanen
dari tumpangsari sorgum-singkong dengan waktu tanam bersamaan (s1)
selama 24 bulan yang dihitung dengan variabel KNT, KP, dan KNK ... 22 4. Persamaan garis vigor daya simpan (VDS) benih sorgum yang dipanen
dari tumpangsari sorgum-singkong dengan waktu tanam lambat dua minggu (s₂) selama 24 bulan yang dihitung dengan variabel KNT, KP,
dan KNK ... 24 5. Uji regresi Kecambah Normal Total (KNT) benih sorgum perlakuan
tumpangsari singkong-sorgum dengan waktu tanam sorgum berbeda ... 27 6. Uji regresi Kecepatan Perkecambahan (KP) benih sorgum hasil
tumpangsari singkong-sorgum dengan waktu tanam sorgum berbeda ... 27 7. Uji regresi Kecambah Normal Kuat (KNK) benih sorgum hasil
tumpangsari singkong-sorgum dengan waktu tanam berbeda ... 28 8. Rata-rata Persen kecambah abnormal dan benih tidak berkecambah hasil
perlakuan tumpangsari sorgum-singkong ... 28 9. Uji Tukey untuk nonadditivitas ragam pengaruh waktu tanam 0 minggu
(s1) sorgum dalam sistem tumpangsari dengan singkong terhadap
kecambah normal total (KNT) ... 41 10. Uji Tukey untuk nonadditivitas ragam pengaruh waktu tanam 0 minggu
(s1) sorgum dalam sistem tumpangsari dengan singkong terhadap
kecepatan perkecmbahan (KP)... 41
vi
11. Uji Tukey untuk nonadditivitas ragam pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum dalam sistem tumpangsari dengan singkong terhadap
kecambah normal kuat (KNK) ... 41 12. Uji Tukey untuk nonadditivitas ragam pengaruh waktu tanam 2 minggu
(s2) sorgum dalam sistem tumpangsari dengan singkong terhadap
kecambah normal total (KNT) ... 42 13. Uji Tukey untuk nonadditivitas ragam pengaruh waktu tanam 2 minggu
(s2) sorgum dalam sistem tumpangsari dengan singkong terhadap
kecepatan perkecmbahan (KP)... 42 14. Uji Tukey untuk nonadditivitas ragam pengaruh waktu tanam 2 minggu
(s2) sorgum dalam sistem tumpangsari dengan singkong terhadap
kecambah normal kuat (KNK) ... 42 15. Uji normalitas ragam pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum
dalam sistem tumpangsari dengan singkong terhadap kecambah normal
total (KNT) ... 43 16. Uji normalitas ragam (transformasi) pengaruh waktu tanam 0 minggu
(s1) sorgum dalam sistem tumpangsari dengan singkong terhadap
kecepatan perkecambahan (KP) ... 43 17. Uji normalitas ragam (transformasi) pengaruh waktu tanam 0 minggu
(s1) sorgum dalam sistem tumpangsari dengan singkong terhadap
kecambah normal kuat (KNK) ... 44 18. Uji normalitas ragam pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum
dalam sistem tumpangsari dengan singkong terhadap kecambah normal
total (KNT) ... 44 19. Uji normalitas ragam (transformasi) pengaruh waktu tanam 2 minggu
(s2) sorgum dalam sistem tumpangsari dengan singkong terhadap
kecepatan perkecambahan (KP) ... 45 20. Uji normalitas ragam pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum
dalam sistem tumpangsari dengan singkong terhadap kecambah normal
kuat (KNK) ... 45 21. Transformasi data Kecepatan Perkecambahan (KP) benih perlakuan
waktu tanam 0 minggu (s1) (Johnson Transformation). ... 46 22. Transformasi data Kecambah Normal Kuat (KNK) perlakuan waktu
tanam 0 minggu (s1) (Box-Cox Transformation) ... 46 23. Transformasi data Kecpatan Perkecambahan (KP) benih perlakuan
waktu tanam sorgum 2 minggu (s2) (Box-Cox transformation) ... 47 24. Analisis ragam pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum dalam
sistem tumpangsari dengan singkong terhadap kecambah normal total
(KNT) ... 47
vii
25. Analisis ragam pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum dalam sistem tumpangsari dengan singkong terhadap kecepatan
perkecambahan (KP) ... 48 26. Analisis ragam pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum dalam
sistem tumpangsari dengan singkong terhadap kecambah normal kuat
(KNK) ... 48 27. Analisis ragam pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum dalam
sistem tumpangsari dengan singkong terhadap kecambah normal total
(KNT) ... 48 28. Analisis ragam pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum dalam
sistem tumpangsari dengan singkong terhadap kecepatan
perkecambahan (KP) ... 49 29. Analisis ragam pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum dalam
sistem tumpangsari dengan singkong terhadap kecambah normal kuat
(KNK) ... 49 30. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal total (KNT)
genotipe Suri. ... 49 31. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal total (KNT)
genotipe CIMMYT. ... 50 32. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal total (KNT)
genotipe UPCA. ... 50 33. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal total (KNT)
genotipe Talaga Bodas. ... 51 34. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal total (KNT)
genotipe Super1 ... 51 35. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal total (KNT)
genotipe Suri. ... 52 36. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal total (KNT)
genotipe CIMMYT ... 52 37. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal total (KNT)
genotipe UPCA. ... 53
viii
38. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum pada sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal total (KNT)
genotipe Talaga Bodas. ... 53 39. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal total (KNT)
genotipe Super-1 ... 54 40. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecepatan perkecambahan
(KP) genotipe Suri ... 54 41. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecepatan perkecambahan
(KP) genotipe CIMMYT ... 55 42. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecepatan perkecambahan
(KP) genotipe UPCA ... 55 43. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecepatan perkecambahan
(KP) genotipe Talaga Bodas ... 56 44. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecepatan perkecambahan
(KP) genotipe Super-1 ... 56 45. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecepatan perkecambahan
(KP) genotipe Suri ... 57 46. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecepatan perkecambahan
(KP) genotipe CIMMYT ... 57 47. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecepatan perkecambahan
(KP) genotipe UPCA ... 58 48. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecepatan perkecambahan
(KP) genotipe Talaga Bodas ... 58 49. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecepatan perkecambahan
(KP) genotipe Super-1 ... 59 50. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal kuat (KNK)
genotipe Suri ... 59
ix
51. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum pada sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal kuat (KNK)
genotipe CIMMYT ... 60 52. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal kuat (KNK)
genotipe UPCA ... 60 53. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal kuat (KNK)
genotipe Talaga Bodas ... 61 54. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 0 minggu (s1) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal kuat (KNK)
genotipe Super-1 ... 61 55. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal kuat (KNK)
genotipe Suri ... 62 56. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal kuat
(KNK)genotipe CIMMYT ... 62 57. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal kuat
(KNK)genotipe UPCA ... 63 58. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal kuat
(KNK)genotipe Talaga Bodas ... 63 59. Analisis regresi pengaruh waktu tanam 2 minggu (s2) sorgum pada
sistem tumpangsari dengan sorgum pada kecambah normal kuat (KNK)
genotipe Super-1 ... 64
35
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sorgum (Sorghum bicolor L.) merupakan salah satu jenis tanaman serealia dengan potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia, karena mempunyai daerah adaptasi yang luas dan toleran terhadap kekeringan, genangan air, dapat berproduksi pada lahan marginal, serta relatif tahan terhadap gangguan hama/ penyakit (Sirappa, 2003).
Pengembangan jenis tanaman potensial seperti sorgum dapat mendukung
keberhasilan program ketahanan pangan sebagai pemenuhan nutrisi makro dan mikro seperti karbohidrat, protein, kalsium, mineral dan vitamin yang tidak kalah jika dibandingkan dengan beras dan jagung (Human, 2011).
Menurut Kementrian Pertanian Indonesia (2020) sorgum sudah mulai dibudidayakan di Indonesia sejak tahun 1970, hingga saat ini tercatat sekitar limabelas ribu hektar lahan sorgum yang tersebar di Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Pengembangan sorgum di Indonesia mulai dilakukan untuk mendukung program diversifikasi pangan dari Kementrian Pertanian yang diharapkan dapat menjadi alternatif bahan pangan dan sumber nutrisi yang mampu bersaing dengan beras dan jagung (Human, 2011).
Pengembangan sorgum memerlukan ketersediaan benih bermutu. Benih bermutu dapat disediakan melalui produksi benih dan penyimpanan benih bermutu. Produksi benih dapat memenuhi kebutuhan benih dengan vigor tinggi dalam jumlah besar, sedangkan penyimpanan benih menyebabkan penurunan viabilitas benih sehingga
2
sangat dibutuhkan penyediaan benih yang memiliki vigor awal tinggi sehingga memiliki vigor daya simpan yang tinggi pula. Vigor awal adalah vigor benih saat dipanen hingga sebelum penyimpanan benih. Vigor awal benih sangat dipengaruhi oleh lingkungan pertumbuhan tanaman dan genotipe tanaman yang diproduksi benihnya. Vigor daya simpan merupakan vigor benih selama periode penyimpanan benih (Sadjad, 1993) yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan di dalam ruang simpan serta faktor genetik benih itu sendiri.
Pengembangan sorgum juga menghadapi masalah keterbatasan lahan. Pertanaman tumpangsari menjadi salah satu pilihan dalam pengembangan sorgum. Pencarian jenis tanaman yang dapat ditumpangsari dengan sorgum juga masih harus dilakukan baik melalui penelitian maupun uji daya hasil. Tanaman singkong menjadi salah satu pilihan untuk ditumpangsari dengan sorgum. Produktivitas benih, vigor awal, dan daya simpan benih sorgum yang dipanen dari tumpangsari dengan singkong menunjukkan hasil yang lebih tinggi, lebih rendah atau sama dengan hasil pertanaman monokultur hal ini dipengaruhi oleh genotipe sorgum pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Pramono (2020).
Ketahanan benih sorgum dalam masa penyimpanan yang rendah, Ketersediaan varietas yang disenangi petani masih kurang dan penyediaan benih belum memenuhi lima tepat (jenis, jumlah, mutu, waktu, dan tempat) masih menjadi permasalahan yang harus diselesaikan. Selain itu pelaksanaan program diversifikasi pangan yang dilaksanakan di Indonesia juga mengalami kendala besarnya alih fungsi lahan
pertanian menjadi bukan pertanian. Masih banyaknya lahan kering tadah hujan yang tersedia di wilayah timur Indonesia menjadi salah satu potensi yang dapat mengatasi kendala alih fungsi lahan pertanian yang terjadi saat ini (Subagio dan Aqil, 2013).
Oleh karena itu optimalisasi produktivitas lahan menjadi prioritas dalam
pengembangan budidaya pertanian. Salah satu bentuknya adalah dengan penerapan pola tanam tumpangsari.
3
Budidaya sorgum di Indonesia umumnya dilakukan secara monokultur, namun saat ini sistem tersebut kurang memungkinkan untuk dilakukan sehingga mendorong sorgum untuk dikembangkan dengan pola pertanaman lain yaitu tumpangsari.
Keuntungan yang dapat diperoleh dari penerapan pola tanam tumpangsari adalah kemampuan untuk memperoleh hasil lebih dari satu komoditas pada satu areal
pertanaman (Warsana, 2009). Salah satu kombinasi tumpangsari yang baik dilakukan pada tanaman sorgum yaitu tumpangsari sorgum singkong. Hal ini disebabkan oleh jarak tanam singkong yang cukup lebar sehingga memungkinkan untuk ditanamani sorgum diantara dua baris singkong. Perbedaan habitus antara sorgum dan singkong juga menjadi faktor yang mempengaruhi keberhasilan sistem tumpangsari, dimana Umur panen sorgum berkisar antara 3-4 bulan sedangkan singkong 8-12 bulan sehingga pertumbuhan kedua tanaman tersebut tidak akan terganggu apabila kondisi lingkungan pertanaman baik (Yuliasari et al., 2014).
Dampak penerapan sistem tumpangsari sorgum singkong terhadap viabilitas benih akan berbeda antar varietas sorgum, hal ini dikarenakan perbedaan susunan genetik setiap varietas. Menurut Patola dan Siful (2017), sistem pertanaman tumpangsari dengan pola yang sesuai akan mengoptimalkan penggunaan lahan dan meningkatkan produksi dari suatu lahan. Pengaturan waktu tanam dan penggunaan varietas sorgum yang tepat merupakan faktor penting dalam penerapan sistem pertanaman
tumpangsari. Kedua faktor tersebut akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan dan viabilitas tanaman. Pada penelitian ini digunakan lima varietas sorgum yaitu Suri, P/I 150-21-A CYMIT, Talaga Bodas, UPCA dan Super 1.
Menurut Suhartanto (2013) vigor daya simpan merupakan suatu parameter vigor benih yang menunjukkan kemampuan benih untuk disimpan dalam keadan
suboptimum. Benih yang memiliki vigor daya simpan tinggi mampu disimpan untuk periode simpan yang normal dalam keadaan suboptimum dan akan lebih panjang daya simpannya jika dalam keadaan ruang simpan yang optimum. Oleh sebab itu maka penentuan metode produksi benih menjadi sangat penting untuk menghasilkan
4
benih dengan vigor daya simpan (VDS) yang tinggi.
Berdasarkan hasi penelitian terdahulu diketahui bahwa sebanyak 21 genotipe sorgum menunjukkan daya simpan (DS) benih yang sama antara benih hasil panen
pertanaman monokultur dan tumpangsari setelah penyimpanan didalam ruang berAC.
Menurut Pramono (2020) daya simpan (DS) sangat dipengaruhi oleh interaksi antara lingkungan tumbuh dari sistem pertanaman yang digunakan dan genotipe. Sehingga penanaman dengan metode tumpangsari yang dikombinasikan dengan waktu tanam menjadi perlu dilakukan sebagai penelitian untuk melihat apakah ada pengaruh yang berbeda setelah dilakukan penyimpanan di ruang ber-AC hingga 24 bulan.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan beberapa masalah sebagai berikut :
1. Apakah ada perbedaan vigor daya simpan pada benih sorgum yang dipanen dari sistem pertanaman tumpangsari yang ditanam bersamaan dan ditanam dua minggu setelah singkong?
2. Apakah ada perbedaan vigor daya simpan pada lima genotipe sorgum yang dipanen dari sistem pertanaman tumpangsari yang ditanam bersamaan dan dua minggu setelah singkong?
3. Apakah terdapat pengaruh interaksi antara beda waktu tanam pada sistem tumpangsari dengan genotipe sorgum terhadap vigor daya simpan?
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui pengaruh waktu tanam bersamaan dan dua minggu setelah singkong pada tumpangsari singkong-sorgum terhadap vigor daya simpan benih sorgum.
2. Mengetahui pengaruh genotipe sorgum pada benih yang dipanen dari sistem pertanaman tumpangsari dengan waktu tanam yang berbeda.
5
3. Mengetahui interkasi yang terjadi pada benih yang dipanen dari sistem pertanaman tumpangsari dengan waktu tanam yang berbeda.
1.3 Kerangka Pemikiran
Peningkatan jumlah penduduk sejalan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap sumber bahan pangan utama seperti beras. Namun pemenuhan kebutuhan bahan pangan pokok dari beras belum dapat terpenuhi akibat berkurangnya produktivitas dan luas lahan pertanian di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh alih fungsi lahan menjadi non pertanian seperti pemukiman, pertokoan dan sebagainya (Suwarto, 2005). Penurunan luas lahan tidak hanya menyebabkan menurunnya produksi pertanian untuk bahan pangan, tetapi juga menimbulkan permasalahan terhadap produksi bahan pertanian non pangan seperti benih.
Pemanfaatan sumber bahan pangan alternatif dan sistem tanam yang mampu
mengoptimalkan produktivitas lahan diperlukan dalam upaya pemenuhan kebutuhan bahan pangan. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan
membudidayakan sorgum secara tumpangsari. Cara ini dapat dilakukan bukan hanya untuk memproduksi bahan pangan tetapi juga dapat dilakukan dalam upaya
memproduksi benih bermutu. Penentuan jenis tanaman yang akan ditumpangsarikan dengan sorgum sangat penting karena dapat mempengaruhi keberhasilan sistem tumpangsari.
Jenis tanaman yang sesuai untuk ditumpangsarikan dengan sorgum salah satunya adalah singkong karena perbedaan habitus dan jarak tanam pada singkong yang lebar sehingga penanaman sorgum dapat dilakukan diantara baris singkong. Singkong merupakan tanaman yang banyak dibudiayakan di provinsi lampung. Oleh karena itu tumpangsari sorgum dengan singkong memungkinkan untuk dilaksanan. Menurut Kamal (2011) salah satu keunggulan sistem tumpangsari sorgum dan singkong adalah produktifitas lahan per satuan lahan akan meningkat karena produksi tanaman
singkong dan mendapat tambahan produksi sorgum.
6
Penentuan waktu tanam merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan sistem tanam tumpangsari. Oleh karena itu penelitian untuk mengetahui pengaruh waktu tanam terhadap sistem tumpangsari perlu untuk dilakukan. Pada penelitian ini akan dilakukan penanaman sorgum dan singkong secara tumpangsari dengan waktu tanam yang berbeda. Waktu tanam yang dilakukan adalah bersamaan dan dua minggu setelah penanaman singkong. Beda waktu tanam dilakukan karena ketersedian benih yang sulit sehingga memunculkan kemungkinan penanaman sorgum terhambat. Benih yang dihasilkan dari sistem tumpangsari sorgum dan singkong dengan beda waktu tanam diharapkan memiliki mutu benih yang sama dengan benih yang dihasilkan dari tumpangsari sorgum dan singkong yang ditanam secara bersamaan. Penanaman tumpangsari dengan beda waktu tanam berpengaruh terhadap produktivitas tanaman dikarenakan adanya persaingan cahaya dan faktor tumbuh lainnya (Poespodarsono, 1996).
Benih yang diperoleh dari sistem tanam tumpangsari ini akan disimpan dan digunakan pada periode tanam selanjutnya setelah periode penyimpanan tertentu.
Mutu benih yang diproduksi dari sistem tanam tumpangsari dengan beda waktu tanam akan mempengaruhi viabilitas dan vigor daya simpan. Benih dengan viabilitas yang tinggi memiliki daya simpan yang lebih lama. Sebaliknya benih yang telah menunjukkan penurunan viabilitas, daya simpannya menurun atau mengalami kemunduran mutu (Hasbianto 2012).
Varietas yang akan digunakan pada penelitian ini adalah Suri, P/I 150-21-A CYMIT, Talaga Bodas, UPCA dan Super 1. Varietas berbeda akan memunculkan respon yang berbeda terhadap perlakuan tumpang sari dengan beda waktu tanam dan periode penyimpanan setelah benih dipanen. Oleh karena itu hasil yang akan diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi terhadap masalah keterbatasan lahan pertanian akibat alih fungsi lahan dari pertanian menjadi non-pertanian melalui pemanfaatan sistem tanam tumpangsari, serta menambahkan informasi mengenai kegiatan produksi benih bermutu melalui sistem tanam tumpangsari.
7
1.4 Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran yang telah dikemukakan diperoleh hipotesis sebagai berikut :
1. Vigor daya simpan benih sorgum yang diperoleh dari sistem tumpangsari yang ditanam bersamaan dan dua minggu setelah singkong tidak mengalami
perbedaan.
2. Vigor daya simpan lima genotipe sorgum dari masing masing waktu tanam pada sistem tumpangsari tidak mengalami perbedaan
3. Vigor benih sorgum dipengaruhi interaksi antara genotipe sorgum dan beda waktu tanam tumpang sari.
8
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sorgum (Sorgum bicolor [L.] Moench)
Sorgum termasuk tanaman serealia semusim. Dalam klasifikasi tanaman, sorgum termasuk dalam kelas monocotyledoneae, famili poaceae, subfamili panicoideae dan genus andropogon (Rukmana dan Oesman, 2001). Menurut Metcalfe dan Elkins (1980) dan Carter et al. (1989) bentuk tanaman, model pertumbuhan, dan tampilan secara umum tanaman sorgum mirip seperti tanaman jagung atau serealia lainnya. Dogget (1970) dan House (1981) menguraikan, biji sorgum kurang lebih berbentuk bola dengan ujung tumpul. Sistem perakaran sorgum terdiri dari akar-akar primer dan sekunder yang panjangnya hampir dua kali panjang akar jagung pada tahap pertumbuhan yang sama (Miller, 1916) sehingga merupakan faktor utama penyebab toleransi sorgum terhadap kekeringan.
Menurut Dogget (1970), toleransi sorgum terhadap kekeringan disebabkan karena pada endodermis akar sorgum terdapat endapan silika yang berfungsi mencegah kerusakan akar pada kondisi kekeringan.
Tanaman sorgum dapat tumbuh di daerah tropis maupun sub tropis dari dataran rendah hingga dataran tinggi yang mencapai ketinggian 1500 m dpl
(Rismunandar, 1989). Apabila tanaman sorgum ditanam pada daerah dengan ketinggian >500 m dpl tanaman sorgum akan terhambat pertumbuhannya dan memiliki umur yang panjang. Menurut Kramer dan Ross (1970), sorgum dapat bertahan pada kondisi panas lebih baik dibandingkan tanaman lainnya seperti jagung, namun suhu yang terlalu tinggi dapat menurunkan produksi biji. Curah hujan yang diperlukan berkisar 375-425 mm/musim tanam dan tanaman sorgum
9
dapat beradaptasi dengan baik pada tanah yang sering tergenang air pada saat turun hujan apabila sistem perakarannya sudah kuat. Beti et al. (1990) menambahkan tanaman ini mampu beradaptasi dengan baik pada tanah yang sedikit masam (pH 5) hingga sedikit basa (pH 7,5).
2.2 Produktivitas Sorgum
Perkembangan luas panen tanaman sorgum sejak tahun 2005 hingga 2011 terdapat penurunan, tetapi terjadi peningkatan untuk produktivitas dan produksi (Direktorat Budidaya Serealia, 2013). Selama periode tujuh tahun, luas panen mengalami penurunan rata-rata 1,5% per tahun. Luas panen yang dicapai pada tahun 2011 masih lebih rendah dibandingkan tahun 2005. Peningkatan luas panen terjadi mulai tahun 2009 hingga 2011 yang mencapai lebih dari 20% per tahun. Hal ini akan terus meningkat dengan perkembangan tanaman sorgum yang diusahakan oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai pangan, pakan dan energi alternatif.
2.3 Ubi Kayu
Ubi kayu merupakan tanaman pangan yang berasal dari benua Amerika berupa perdu, memiliki nama lain singkong, kasepe dan dalam Bahasa Inggris cassava.
Umbi singkong dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbohidrat dan daunnya dikonsumsi sebagai sayuran. Di Indonesia, singkong menjadi bahan pangan pokok setelah beras dan jagung (Lidiasari et al., 2006). Singkong (Manihot esculenta Crantz sin), termasuk dalam Kingdom Plantae atau tumbuh-tumbuhan, Divisi Spermathophyta atau tumbuhan berbiji, Sub divisi Angiospermeae atau berbiji tertutup, Kelas Dicotyledoneae atau biji berkeping dua, Ordo
Euphorbiales, Family Euphorbiaceae, Genus Manihot, dan Spesies Manihot esculenta Pohl dan Manihot esculenta Crantz sin (Bappenas, 2009).
10
Tanaman ubi kayu merupakan ubi atau akar pohon yang panjang dengan rata-rata diameternya adalah 2-3 cm dan panjang sekitar 50-80 cm, tergantung dari jenis atau varietas ubi kayu yang ditanam. Ubi kayu tidak memiliki periode matang pada umbi yang jelas karena umbinya terus membesar. Akibatnya, periode panen dapat beragam sehingga menghasilkan ubi kayu yang sifat fisik dan kimia yang berbeda. Sifat fisik dan kimia dalam pati pada tanaman ubi kayu seperti bentuk dan ukuran granula, kandungan komponen non pati, dan kandungan amilosa.
Singkong memiliki umbi atau akar pohon yang panjang dengan diameter dan tinggi batang yang beragam tergantung dari varietasnya. Daging umbinya berwarna putih kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan disimpan lama meskipun di dalam lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan
keluarnya warna biru gelap akibat terbentuknya asam sianida (HCN) yang bersifat racun bagi manusia.
2.4 Tumpang Sari
Tumpang sari adalah pola penanaman antara dua jenis tanaman atau lebih di lahan dan waktu yang bersamaan dengan tujuan utama untuk meningkatkan viabilitas per satuan luas lahan. Apabila dua jenis tanaman yang berbeda tumbuh secara bersamaan maka akan terjadi interaksi, sehingga masing-masing tanaman harus memiliki ruang yang cukup untuk memaksimalkan kerjasama dan meminimalkan kompetisi. Dengan demikian dalam sistem tumpang sari perlu dipertimbangkan berbagai hal seperti pengaturan jarak tanam, populasi tanaman, umur panen tiap tanaman, dan arsitektura tanaman (Suwarto et al., 2005).
Menurunnya hasil tanaman yang dikombinasikan dalam sistem tumpang sari karena adanya kompetisi (yakni suatu proses partisi sumberdaya lingkungan yang dalam keadaan kurang disebabkan oleh kebutuhan yang serentak dari
individuindividu yang mengurangi pertumbuhan dan kapasitas produksinya) diantara tanaman yang ditumpang sarikan. Untuk itu teknologi tumpang sari yang
11
dikembangkan harus selalu mengacu kepada minimalisasi kompetisi terhadap berbagai faktor tumbuh, baik kompetisi antara jenis tanaman yang sama (intra- spesific competition), kompetisi antara bagian tanaman (inter-plant competition), dan kompetisi antara spesies tanaman yang berbeda (inter-spesific competition) (Kadekoh, 2007).
Pemilihan jenis tanaman sisipan yang tepat mempengaruhi pola tanam tumpang sari. Selain memanfaatkan lahan kosong di sela-sela tanaman utama, pola
tumpang sari juga mempunyai beberapa keuntungan lain diantaranya lebih efisien dalam penggunaan tenaga kerja, pemanfaatan lahan, penyerapan sinar matahari, dan populasi tanaman dapat diatur sesuai dengan jarak tanam yang dikehendaki.
Keuntungan lain adalah tumpang sari mempunyai peluang produksi lebih besar dan apabila satu jenis tanaman yang diusahakan mengalami kegagalan dapat dipanen tanaman alternatif, dapat menekan serangan OPT, dan menstabilkan kesuburan tanah (Sarman, 2001).
2.5 Viabilitas Dan Vigor Benih
Viabilitas merupakan kemampuan benih untuk hidup, tumbuh dan berkembang.
Viabilitas benih adalah daya hidup benih yang dapat diindikasikan oleh
pertumbuhannya ataupun gejala metabolismenya yang mencakup viabilitas total, viabilitas potensial dan vigor. Menurut Sadjad (1993) pengujian viabilitas benih bertujuan untuk mengetahui semua benih yang hidup baik dorman maupun tidak dorman sehingga dapat menggambarkan daya hidup benih. Viabilitas benih menurun seiring berjalannya waktu. ISTA (2008) mendefinisikan vigor sebagai sekumpulan sifat yang dimiliki benih yang menentukan tingkat potensi aktivitas dan performa benih atau lot benih selama perkecambahan dan menculnya kecambah. Vigor benih dibagi menjadi dua, yaitu vigor kekuatan tumbuh dan vigor daya simpan.
Menurut Copeland dan McDonald (2001) terdapat faktor-faktor yang
mempengaruhi vigor benih antara lain kondisi lingkungan selama perkembangan
12
benih, kondisi genetik benih, dan lingkungan penyimpanan. Faktor genetik meliputi tingkat kekerasan benih, vigor tanaman induk, daya tahan terhadap kerusakan mekanik dan komposisi kimia benih. Sedangkan faktor lingkungan selama perkembangan benih meliputi kelembaban, kesuburan tanah dan pemanenan benih.
13
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilakukan di Desa Karang Endah, Kecamatan Jati Agung,
Kabupaten Lampung Selatan (5,28◦ LS 105,27◦ BT) dengan ketinggian 82,3 m dpl dan di Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian,
Universitas Lampung. Waktu penelitian dilaksanakan pada Januari 2019 sampai dengan Juli 2021 di Universitas Lampung.
3.2 Bahan dan Alat
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah pembajak tanah, cangkul, golok, tali rafia, meteran gulung, knapsack sprayer, plastik, pisau, seed blower, seed counter, timbangan digital, straples, alat pengecambah benih tipe IPB 71-2A, alat pengukur Daya Hantar Listrik (DHL), moisture tester.
Bahan-bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah benih sorgum genotipe Suri, P/I 150-21-A CYMIT , Talaga Bodas, UPCA dan Super-1,
singkong varietas UJ-3/Thailand, pestisida, pupuk Urea, pupuk TSP, pupuk KCL, label, aquadest, kertas merang, plastik zip ukuran 6x10 cm, KNO3, kertas CD, karet gelang, plastik putih.
14
3.3 Rancangan Percobaan dan Analisis Data
Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan perlakuan faktorial 2x4 yang diacak secara lengkap dalam petak berjalur atau Strip Plot dengan tiga kelompok teracak. Petak utama yaitu perbedaan waktu tanam nol minggu (s1) dan dua minggu (s2) pada pertanaman tumpang sari. Anak petak yaitu varietas sorgum yang terdiri dari lima genotipe yaitu Suri (g1), P/I 150-21-A CYMIT (g2), UPCA-S1 (g3), Talaga Bodas (g4) dan Super-1 (g5) yang diacak pada setiap blok.
s1 s2 s2 s1 s1 s2
g4 s1g4 s2g4 g2 s2g2 s1g2 g1 s1g1 s2g1 g1 s1g1 s2g1 g3 s2g3 s1g3 g5 s1g5 s2g5
g3 s1g3 s2g3 g4 s2g4 s1g4 g2 s1g2 s2g2
g5 s1g5 s2g5 g1 s2g1 s1g1 g4 s1g4 s2g4 g2 s1g2 s2g2 g5 s1g5 s2g5 g3 s2g3 s1g3
I II III
Keterangan:
s1 = waktu tanam sorgum bersamaan dengan singkong s2 = waktu tanam sorgum dua minggu setelah singkong
g1 = Suri g2 = P/I 150-21-A CYMIT
g3 = UPCA g4 = Talaga Bodas
g5 = Super-1
Gambar 1. Petak perlakuan pada penelitian
Analisis ragam data pengaruh lama simpan pada vigor daya simpan benih selama 24 bulan dalam ruang ber-AC dari lima genotipe sorgum dilakukan menggunakan Program Minitab versi 17. Analisis vigor daya simpan menggunakan Microsof Excel. Vigor daya simpan selama 24 bulan dalam ruang simpan tersebut diamati setiap 8 bulan. Analisis data menggunakan Uji Bartlett untuk menguji
homogenitas ragam antar perlakuan, dan dilanjutkan dengan Uji Tukey untuk nonaditivitas data, kemudian dilakukan pemisahan nilai tengah perlakuan dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%, kemudian dilakukan Uji-F sebagai:
15
dengan G = D – (E)²/C; Σ xi²; ; ; ; ; ; i = {1, 2, …, n}; n = pasangan data (X,Y) adalah 4, dan k = banyaknya garis linear yang dibandingkan.
Nilai F-hitung ini untuk mengetahui laju kemunduran benih dari lima genotipe sorgum selama penyimpanan 24 bulan dalam ruang bersuhu AC (18±1,4 oC).
Vigor daya simpan benih sorgum setiap genotipe yang dipanen dari tumpangsari sorgum-singkong dengan waktu tanam bersamaan (s₁) dan benih yang yang dipanen dari tumpangsari dengan waktu tanam sorgum lebih lambat dua minggu (s₂) digunakan Uji-t sebagai berikut.
,
dengan b₁ adalah slop garis vigor daya simpan benih sorgum yang dipanen dari TS sorgum-singkong yang ditanaman bersamaan dan b₂ slop garis vigor daya simpan benih sorgum yang dipanen dari TS sorgum-singkong yang ditanam bersamaan lebih lambar dua minggu. Nilai Sp² adalah simpangan baku gabungan yang dengan rumus berikut:
₁ ₂ ₁ ₂
3.4 Pelaksanaan Penelitian
3.4.1 Persiapan Benih
Benih sorgum yang akan digunakan pada penelitian ini berasal dari koleksi benih milik Laboratorium benih dan pemuliaan Fakultas Pertanian Universitas
Lampung. Genotipe yang digunakan adalahSuri, P/I 150-21-A CYMIT, UPCA, Talaga Bodas dan Super-1. Benih tersebut dibersihkan dengan alat seed blower dan dilakukan uji daya kecambah sebelum dilakukan penanaman dilapangan.
16
3.4.2 Persiapan Lahan Pertanaman
Persiapan lahan diawali dengan pembersihan tanaman pisang yang berda di lahan.
Kemudian dilakukan penyemprotan herbisida pada lahan untuk membantu
mengendalikan gulma rumput dan daun lebar. Lahan yang akan digunakan untuk penelitian dilakukan pengolahan tanah menggunakan bajak sedalam 30 cm dan dilakukan penghalusan tanah menggunakan garu. Setelah pengolahan tanah selesai dibentuk blok percobaan dengan lebar 16 m dan dilakukan pemasangan label pada baris tanaman untuk menandai genotipe yang ditanam pada garis tersebut. Kemudian lahan didiamkan selama tiga hari sebelum dilakukan penanaman.
3.4.3 Penanaman
Penanaman tumpang sari singkong sorgum menggunakan jarak tanam,
a)singkong 60x80cm (antar baris 80 cm dalam baris 60 cm), dan b) Pada setiap dua baris singkong, ditanam saru baris sorgum dengan jarak tanam dalam baris 15cm. Waktu penanaman sorgum dilakukan sesuai dengan pengacakan yang telah dilakukan. Untuk perlakuan waktu tanam sorgum bersamaan dengan singkong (s1) singkong dan sorgum ditanam pada hari yang sama. Untuk perlakuan waktu tanam dua minggu (s2) sorgum ditanam dua minggu setelah penanaman singkong.
3.4.4 Penentuan tanaman sampel
Penentuan tanaman sampel pada sorgum dilakukan dengan memilih tiga lubang tanam dalam baris secara acak dimana terdapat dua tanaman pada setiap lubang sehingga diperoleh enam tanaman sampel pada tiap baris sorgum. Sedangkan penentuan tanaman sampel pada singkong dilakukan dengan memilih secara acak satu tanaman dalam baris. Setiap tanaman sampel ditandai dengan menggunakan pita berwarna.
17
3.4.5 Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman sorgum yang dilakukan berupa pengendalian hama, pengendalian gulma, dan pengaplikasian pupuk. Pengendalian gulma dilakukan secara manual dengan penyiangan menggunakan cangkul setiap 2 minggu sekali.
Pengaplikasian pupuk dilakukan sebanyak dua kali pada saat tanaman berumur empat minggu setelah tanam dan umur tujuh minggu setelah tanam.
pengaplikasian pupuk dilakukan dengan menggunakan lubang tugal. Pupuk yang digunakan merupakan pupuk tunggal Urea, TSP dan KCL dengan dosis masing masing 200 kg/ha, 100 kg/ha dan 100 kg/ha.
3.4.6 Pemanenan
Pemanenan sorgum dilakukan pada saat tanaman telah mencapai umur panen yang sesuai dengan genotipe sorgum, Panen benih dilakukan pada umur 100-105 HST untuk genotipe Suri, 87-99 HST untuk P/I 150-21-A CYMIT, 92-104 HST untuk Talaga Bodas, 93-105 HST untuk UPCA-S1 dan 93-105 HST untuk Super- 1. Pemanenan ini dilakukan dengan cara memotong malai sorgum pada
pangkalnya. Malai yang telah dipanen kemudian dijemur dibawah terik matahari hingga kadar air benih turun hingga maksimal 10% sebelum dilakukan perontokan dan pembersihan dengan menggunakan seed blower.
3.4.7 Pengukuran kadar air benih
Pengukuran kadar air benih dilakukan dengan metode tidak langsung
menggunakan alat seed moisture tester tipe GMK-308. Pengukuran kadar air benih ini dilakukan pada sampel yang diambil dari setiap jenis genotipe sorgum.
Pada pengujian kadar air digunakan lima butir benih sorgum yang dimasukkan kedalam alat seed moisture tester.
18
3.4.8 Pengemasan benih sorgum
Pengemasan setiap jenis genotipe sorgum yang telah dipanen dilakukan dengan menggunakan plastik ziplock. Sebelum dilakukan pengemasan benih harus memenuhi syarat kadar air maksimal 10% dan bersih dari kontaminan. Setelah dilakukan pengemasan benih disusun berdasarkan genotipenya kemudian dimasukkan ke ruang penyimpanan benih.
3.4.9 Penyimpanan benih
Benih sorgum yang telah dikemas dalam kantung plastik ziplock, kemudian di simpan pada ruang penyimpanan benih suhu rendah (± 18oC). Penyimpanan benih dilakukan selama 24 bulan dengan rentang pengamatan 0, 8, 16 dan 24 bulan.
3.5 Pengukuran Vigor Benih
3.5.1 Persen Kecambah Normal Total ( PKNT )
Persen kecambah normal total merupakan jumlah kecambah normal yang dihitung mulai hari ke dua sampai hari ke lima pada uji pengecambahan. kecambah
normal memiliki ciri-ciri yaitu sudah memiliki plumula dan radikula sepanjang minimum 2 cm. Persentase kecambah normal total dihitung dengan
menggunakan rumus yaitu:
Persentase
Keterangan:
KNT = Kecambah Normal Total
∑KN = Jumlah Kecambah Normal
19
3.5.2 Kecepatan Perkecambahan ( KP )
Kecepatan perkecambahan merupakan kecepatan benih berkembang menjadi kecambah normal saat dilakukan Uji Kecepatan Perkecambahan (UKP).
Kecepatan perkecambahan diperoleh dari penghitungan kecambah normal sejak hari ke dua hingga hari ke lima pengujian, yang dinyatakan dalam persen. . Kecepatan perkecambahan ditentukan menggunakan rumus sebagai berikut:
₁
₁ ₂
₂ Keterangan:
KP = Kecepatan Perkecambahan
%KN = Persen Kecambah Normal (%)
d1-d5 = Jumlah Hari Setelah Pengecambahan (HSP)
3.5.3 Persen Kecambah Normal Kuat ( PKNK )
Persen kecambah normal kuat merupakan total jumlah kecambah yang tumbuh dengan normal dari komponen embrio utama berupa akar dan tajuk tetapi
dicirikan dengan ukuran plumula dan radikula yang lebih panjang. Pengamatan terhadap jumlah kecambah normal kuat dilakukan setelah 5 hari benih
dikecambahkan dengan metode Uji Kertas Digulung (UKD). Persen kecambah normal kuat ditentukan menggunakan rumus sebagai berikut:
Persentase KNK =
x100%
Keterangan:
KNK = Kecambah Normal Kuat
∑KNK = Jumlah Kecambah Normal Kuat
35
V. SIMPULAN
5.1 Simpulan
1. Vigor daya simpan benih yang dipanen dari tumpangsari sorgum-singkong dengan waktu tanam sorgum bersamaan lebih tinggi dibandingkan benih hasil tumpangsari dengan waktu tanam sorgum mundur dua minggu.
2. Laju kemunduran vigor daya simpan setiap varietas sorgum selama periode pemyimpanan selama 24 bulan yang dipanen dari tumpangsari singkong- sorgum dengan waktu tanam bersamaan tidak berbeda dengan yang dipanen dengan waktu tanam sorgum mundur dua minggu, tetapi memiliki perbedaan vigor awal.
3. Perbedaan vigor daya simpan benih disebabkan perbedaan vigor awal benih yang dihasilkan bukan karena adanya perbedaan laju kemunduran. Tidak ada pengaruh interaksi antara genotipe sorgum yang digunakan dengan waktu tanam dalam tumpangsari.
5.2 Saran
Pemilihan genotipe sorgum yang relatif tahan terhadap persaingan dilapangan dalam sistem tumpangsari sangat penting untuk memaksimalkan kualitas benih yang dihasilkan. Penanaman sorgum yang mundur hingga dua minggu dalam tumpangsari sebaiknya dihindari agar tidak terjadi penurunan vigor benih akibat persaingan dilapangan.
DAFTAR PUSTAKA
Afriansyah, M., Ermawati., Pramono, E. dan Nurmiaty, Y. 2021. Viabilitas Benih Dan Vigor Kecambah Empat Genotipe Sorgum (Sorgum bicolor [L.]
Moench) Pasca Penyimpanan 16 Bulan. Jurnal Agrotek Tropika. 9(1) : 129 – 136.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional [Bappenas]. 2009. Budidaya Singkong. http://www.smallcrab.com/forex/500-budidaya-singkong. [19 Nov 2009]. Diakses pada tanggal 20 maret 2022.
Beti, Y. A., Ispandi, A. dan Sudaryono. 1990. Sorgum. Monografi balai penelitian tanaman Malang No. 5. Malang.
Carter, P. R. Hicks, D. R. Oplinger, E. S. Doll, J. D. Bundy, L. G. Schuler, R. T. & Holmes, B. J. 1989. Sorghum-Grain (Milo),
http://corn.agronomy.wisc.edu/Crops/SorghumGrain.aspx. Diakses pada tanggal 26 juni 2022.
Copeland L.O. dan McDonald M.B. 2001. Seed Science and Technology 4th edition. Kluwer Academic Publisher. London.
Direktorat Budidaya Serealia. 2013. Kebijakan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dalam Pengembangan Komoditas Jagung, Sorgum dan Gandum.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan. Kementan RI. Jakarta.
Dogget, H. 1970. Sorghum. Longman, London.
Hakim, F.A. 2017. Pengaruh Genotipe pada Produksi dan Mutu Benih Sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench) Pascasimpan 3 dan 9 Bulan. Skripsi. Universitas Lampung. Lampung. 31 hlm.
Hamim, H., R. Larasati dan Kamal, M. 2012. Analisis komponen hasil sorgum yang ditanam tumpangsari dengan ubi kayu dan waktu tanam berbeda. Prosiding Simposium dan Seminar Bersama PERAGI - PERHORTI - PERIPI - HIGI Mendukung Kedaulatan Pangan dan Energi yang Berkelanjutan. Bogor, 1-2 Mei 2012. Hlm 91-94.
Hasbianto, A. 2012. Pemodelan Penyimpanan Benih Kedelai pada Sistem Penyimpanan Terbuka. Tesis. Institut Pertanian Bogor.
37
House, L. R. 1981. The sorghum plant. Growth stages and morphology’ dalam A guide to sorghum breeding, hal. 16-31. ICRISAT, Patancheru P.O. 502 324. India.
Human S. 2011. Riset & Pengembangan Sorgum dan Gandum Untuk
Ketahanan Pangan. Jakarta : Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).
International Seed Testing Association [ISTA]. 2008. Seed Science and Technology. International Rules for Seed Testing. Zurich: International Seed Testing Association.
Kadekoh. 2007. Komponen dan hasil kacang tanah berbeda jarak tanam dalam sistem tumpangsari dengan jagung yang didefoliasi pada musim kemarau dan musim hujan. J. Agroland. 14(1): 11-17.
Kamal, M. 2011. Kajian Sinergi Pemanfaatan Cahaya dan Nitrogen Dalam Produksi Tanaman Pangan. Pidato ilmiah dalam rangkapengukuhan guru besar dalam bidang ilmutanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
Penerbit Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Kementrian Pertanian Republik Indonesia. 2020. 2020 Kita Dorong Sorgum Jadi Pangan Alternatif .https://www.pertanian.go.id/home/. Diakses pada tanggal 1 januari 2022.
Kramer, N. W. dan Ross, M. W. 1970. Cultivation of Grain Sorghum in united states. In Wall, J. S. & Ross, M. W. (Eds). Sorghum Production and Utilization. AVI Publishing Co. Inc. USA.
Lidiasari, E., Merynda, I. S. dan Friska, S. 2006. Pengaruh Perbedaan Suhu Pengeringan Tepung Tapai Ubi Kayu terhadap Mutu Fisik dan Kimia yang Dihasilkan. J. Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia. 8(2): 141-146.
https://ejournal.unib.ac.id/index.php/JIPI/article/view/4762. Diakses 27 juni 2020.
Metcalfe, D. S. dan Elkins, D. M. 1980. Crop Production: Principles and Practises. Macmillan Publishing co. Inc. NewYork.
Miller, E. C. 1916. Comparative study of the root systems and leaf area of corn and the sorghum’, J. Agric. 6 : 311-332.
Moyo, R., E., Ndlovu, N., Moyo. dan Maphosa M. 2015. Physiological
parameters of seed vigour in ex situ stored sorghum germplasm.. J. Cereals oilseeds.(6) 6: 31-38.
Patola, E., dan Saiful, B. 2017. Studi Untuk Menetapkan Sistem Tumpangsari Kubis Dan Gandum Yang Paling Sesuai. Riset Fair. 2017.
Poespodarsono, S. 1996. Pola tanam tumpangsari dan pengolahannya. Lembaga penerbitan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.
38
Pramono, E., Kamal, M., Susilo, F.X., Timotiwu, P.B. 2019a. Produktivitas dan Vigor Awal Benih Berbagai Genotipe Sorgum dari Pertanaman Monokultur dan Tumpangsari Sorgum-Singkong. Jurnal of Tropical Upland Resources.
20 (20).
Pramono, E. 2020. Kajian Genotipe, Sistem Pertanaman, Produktivitas,
Viabilitas Potensial, Hama Sitofilus (Sitophilus sp.) dan Daya Simpan Benih Sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench). Disertasi. Fakultas Pertaanian.
Universitas Lampung. Bandar Lampung. 354 hlm. Tidak dipublikasikan.
Pramono, E., Kamal, M., Setiawan, K., & Tantia, M.A. 2019b. Pengaruh Lama Simpan dan Suhu Ruang Penyimpanan Pada Kemunduran dan Vigor Benih Sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench.) Varietas Samurai-1. J. Agrotek Tropika, 7(3), 383 – 389.
Pramono. E. Hubungan Dinamik Karakter Fisik dan Kimia Benih Berbagai Genotipe Sorgum (Sorghum bicolor [L.] Moench.). Seminar Nasional Perhorti. 2019
Rahmawati, A., Kamal, M., Sunyoto. 2014. Respon Beberapa Genotipe Sorgum (Sorghumbicolor [L.] Moench.) Terhadap Sistem Tumpangsari dengan Ubi Kayu (Madihot esculenta Crantz.). J. Agrotek Tropika. 2(1)’25-29.
Rismunandar. 1989. Sorgum tanaman serba guna. Sinar baru. Bandung. 62 hal.
Rukmana, H dan Y. Oesman. 2001. Usaha tani sorgum. Kanisius. Jakarta. 40 hal.
Sadjad, S. 1993. Dari Benih Kepada Benih. Jakarta: PT. Gramedia
Sarman, S. 2001. Kajian tentang Kompetisi Tanaman dalam Sistem Tumpangsari Di Lahan Kering. Jurnal Agronomi. 5.
Sirappa, M. P . 2003. Prospek Pengembangan Sorgum di Indonesia Sebagai Komoditas Alternatif Untuk Pangan, Pakan, dan Industri. Jurnal Litbang Pertanian, 22: 133-140.
Subagio, H., Aqil, M. 2013. Pengembangan Produksi Sorgum Di Indonesia.
Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian. Jakarta: Balai Penelitian Tanaman Serealia.
Suhartanto, M.R. 2013. Teknologi pengolahan dan penyimpanan benih. Dalam Elviana, (ed.). Dasar Ilmu dan Teknologi Benih. IPB Press. Bogor.
Suwarto, Yahya, S., Handoko, Chozin, M.A., 2005. Kompetisi Tanaman Jagung dan Ubi Kayu dalam Sistem Tumpangsari. Bul. Agron, 33 (2): 1 ± 7.
Warsana. 2009. Introduksi Teknologi Tumpang Sari Jagung dan Kacang Tanah.
Penebar Swadaya. Jakarta.
39
Yuliasari, R., Kamal, M., Sunyoto. 2014. Distribusi Bahan Kering Sorgum (Shorgum bicolor (L.) Moench) Yang Ditumpangsarikan Dengan Ubikayu (Manihot esculenta Crantz.). J. Agrotek Tropika. Vol. 2(1): 61 – 64