PROPOSAL
KHUSNUL KHATIMAH
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS JURUSAN SOSIAL EKONOMI
PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS TADULAKO
PALU 2024
i
Fakultas Pertanian Universitas Tadulako
Oleh KHUSNUL KHATIMAH
E 321 20 046
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS JURUSAN SOSIAL EKONOMI
PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2024
Nama :
Sambuk :
Program Studi :
Jurusan :
Fakultas :
Universitas :
Khusnul Khatimah E 321 20 046 Agribisnis
Sosial Ekonomi Pertanian Pertanian
Tadulako
Palu, Juni 2024
Menyetujui,
Pembimbing Utama
Dr.
Ir. Yulianti Kalaba, SP., MP NIP. 19780714200312 2 001
Pembimbing Anggota
Muh Fahruddin Nurdin. SP., MP NIP.19920131201903 1 012
Disahkan Oleh:
an. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Tadulako ub. Koordinator Program StudiAgribisnis
SWT, karena berkat limpahan rahmat dan karunianyalah sehingga proposal penelitian yang berjudul “Analisis Daya Saing Komoditi Bawang Merah Kabupaten Sigi ” dapat tersusun sebagai syarat penyelesaian studi strata satu (S1) Fakultas Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Program Studi Agribisnis Universitas Tadulako.
Penulis menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar besarnya kepada dosen pembimbing Ibu Dr. Yulianti Kalaba, SP, MP selaku dosen Pembimbing Utama dan bapak Muh. Fahruddin Nurdin SP., MP selaku Dosen Pembimbing Anggota yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan dan pengarahan sampai terselesainya proposal ini. Serta semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, terima kasih atas bantuan, nasehat dan dorongan dalam penulisan proposal ini. Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan proposal ini. Penulis berharap semoga proposal ini dapat menjadi salah satu bahan referensi atau tambahan ilmu pengetahuan dan bermanfaaat bagi pihak-pihak yang memerlukan.
Palu, Juni 2024
Penulis
iv
HALAMAN SAMPUL i
HALAMAN JUDUL ii
HALAMAN PENGESAHAN iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vii
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 11
1.3 Tujuan Penelitian ... 11
1.4 Manfaat Penelitian ... 11
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu ... 12
2.2 Landasan Teori ... 15
2.2.1 Usahatani Bawang Merah... 15
2.2.2 Biaya dan Pendapatan Usahatani... 15
2.2.3 Teori Keunggulan Kompetitif... 18
2.2.4 Teori Keunggulan Komperatif... 19
2.2.5 Konsep Daya Saing ... 20
2.2.6 Teori Policy Analysis Matriks (PAM) ... 20
III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian... 26
3.2 Teknik Penentuan Sampel... 26
3.3 Jenis dan Sumber Data... 26
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 27
3.5 Teknik Analisis Data ... 27
3.6 Konsep Operasional ... 29
3.7 Definisi Operasional ... 31 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
v
1. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas di Provinsi Sulawesi
Tengah, 2018-2022 ... 4 2. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Bawang Merah di
Provinsi Sulawesi Tengah Menurut Kabupaten/Kota, 2022... 5 3. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Sigi Atas Dasar
Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Juta), 2019-2023 ... 7 4. Distribusi Presentase Produk Domestik Regional Bruto
Kabupaten Sigi Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan
usaha (Persen), 2019-2023 ... 8 5. Matrix Analisis Kebiajkan (Policy Matrix Analisys ... 28
vi
1. Bagan Alir Penelitian ... 25
vii
Hortikultura sebagai salah satu sub sektor pertanian yang memiliki keunggulan untuk di kembangkan. Pengembangan komoditas holtikultura menjadi salah satu upaya peningkatan kesejahtaran masyarakat (Zulkarnain, 2014).
Puslitbang holtikutura menyatakan salah satu komoditas holtikultura yang perlu mendapat perhatian untuk di kembangkan adalah komoditi bawang merah (Zakaria dkk, 2015).
Analisis merupakan kegiatan yang meliputi beberapa aktivitas. Aktivitas- aktivitas tersebut berupa membedakan, mengurai, dan memilah untuk dapat dimasukan kedalam kelompok tertentu untuk di kategorikan dengan tujuan tertentu kemudian dicari kaitannya lalu ditafsirkan maknanya. Menurut kamus besar bahasa Indonesia Analisis adalah penguraian suatu pokok dan memperoleh pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan. Menurut Nana Sudjana (2016) menyatakan analisis adalah usaha memilah suatu integritas menjadi unsur – unsur atau bagian – bagian sehingga jelas susunannya.
Daya saing adalah kemampuan perusahaan, industri, daerah, negara, atau antar daerah yang menghasilkan faktor pendapatan dan faktor pekerjaan yang relatif lebih tinggi dan berkesinambungan untuk menghadapi persaingan internasional.
Oleh karena itu, dalam konteks Kabupaten/Kota sebagai seebuah organisasi, daya saing diartikan sbagai kemampuan Kabupaten/Kota untuk mengembangkan kemampuan ekonomi sosial wilayahnya guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayahnya. Daya saing adalah konsep perbandingan
1
kemampuan Dan kinerja perusahaan, sub sektor atau negara untuk menjual dan memasok barang atau jasa yang diberikan dalam pasar. Daya saing sebuah negara dapat dicapai dari akumulasi daya saing strategis setiap perusahaan.. proses penciptaan nilai tambah (value added creation) berada pada lingkup perusahan.
Daya saing merupakan hal yang sangat penting bagi suatu komoditas atau industri agar dapat bertahan diera pasar bebas saat ini. Komoditas yang mempunyai peran strategis bagi suatu bangsa apabila tidak memiliki daya saing yang baik, maka pemenuhannya akan bergantung pada impor dari negara lain yang memiliki daya saing yang lebih baik. Walaupun saat ini merupakan era pasar bebas dunia, tidak sedikit pemerintahan suatu negara melakukan campur tangan atau intervensi dalam mewujudkan daya saing suatu komoditas bertujuan untuk melindungi petani produsen. Suatu komoditas dapat memiliki daya saing di pasar karena adanya dukungan (campur tangan) kebijakan pemerintah, meskipun komoditas tersebut tidak memiliki daya saing (Saptana, 2010). Pemerintah melalui kebijakannya diharapkan dapat membantu petani produsen dalam menghadapi lingkungan yang semakin kompetitif.
Komoditas merupakan barang atau produk yang dapat diperjual belikan guna memperoleeh keuntungan. Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa konoditas adalah sekumpulan benda yang memiliki wujud kasat mata yang dapat disimpan hingga jangka waktu tertentu untuk di tukar dengan produk lain yang setara dengan jenis maupun harganya. Para ahli mengungkapkan bahwa konsep komoditas merupakan benda yang memiliki wujud serta mudah diperdagangakan, bisa dipindah tangankan, bisa disimpan dalam jangka waktu tertentu, serta bisa
ditukar dengan produk lain sejenis. Mutu dari barang komoditas tersebut menyesuaikan dengan standar perdagangan internasional.Misalnya seperti kopi,gandum,beras,karet,jagung,dan lain sebagainya. Disamping itu, produk dari komoditas tak sekedar mencakup kebutuhan sehari-hari seperti sembako.
Bawang merah (Allium ascalonicum L.) adalah salah satu tanaman holtikultura yang termasuk pada tanaman semusim serta memiliki umbi berlapis.
Tanaman ini memiliki akar serabut. Daunnya berbentuk slindeer. Yang memiliki rogga di dalamnya Tanaman bawang merah merupakan salah satu tanaman semusim (annual). Yang termasuk dalam family Liliaceae. Tanaman tersebut merupakan sayuran rempah yang meskipun bukan asli dari Indonesia, tetapi penggunaannya sebagai bumbu penyedap masakan sungguh lekat dengan lidah orang Indonesia. Selain untuk bahan penyedap makanan, bawang merah memiliki manfaat lainnya, yaitu sebagai sumber vitamin B dan C, protein, lemak, dan karbohidrat yang sangat diperlukan oleh tubuh.
Bawang merah adalah komoditas hortikultura yang tergolong sayuran Sayuran rempah ini banyak dibutuhkan. terutama sebagai pelengkap bumbu masakan, untuk menambah cita rasa dan kenikmatan makanan. Tanaman bawang in i membentuk umbi, umbi tersebut dapat membentuk tunas baru, tumbuh dan membentuk umbi kembali. Karena sifat pertumbuhannya yang demikian, maka dari satu umbi dapat membentuk rumpun tanaman yang berasal dari peranakan umbi tersebut (Fatmawaty, 2015).
Salah satu produk hortikultura yang menjadi andalan Indonesia adalah tanaman bawang merah. Kebutuhan masyarakat terhadap bawang merah terus
meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan daya belinya. Agar kebutuhan dapat selalu terpenuhi maka harus di imbangi dengan jumlah produksinya (Rahayu, E dan VA 2004).
Menurut data Badan Pusat Statistik Sulawesi Tengah Kabupaten Sigi merupakan salah satu penghasil bawang merah. Kabupaten Sigi Permintaan terhadap bawang merah yang terus meningkat membuktikan bahwa bawang merah memiliki potensi yang sangat baik. Potensi ini didukung juga oleh tidak adanya bahan pengganti, baik yang sintesis maupun alami. Namun masalah yang sering dihadapi oleh bawang merah adalah fluktuasi harga yang tidak menentu dan Terjadinya keterbatasan air dapat disebabkan oleh rendahnya curah hujan terutama pada awal musim kemarau dan akhir musim hujan. Hal ini dikarenakan permintaan bawang merah yang cenderung merata sepanjang tahun sementara produksi bawang merah bersifat musiman (Mawardi, 2016).
Tabel 1. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Bawang Merah di Provinsi Sulawesi Tengah, 2018-2022
No Tahun Luas Panen
(Ha)
Produksi (Ton)
Produktivitas (Ton/Ha)
1 2018 445 1.223 2,77
2 2019 405 1.307 3,22
3 2020 315 1.205 3,82
4 2021 340 1.474 4,33
5 2022 739 2.955 3,99
Jumlah 2.244 8.164 18,13
Rata-rata 448,8 1.6328 90,65
Sumber : Badan Pusat Statistik Sulawesi Tengah, 2023
Berdasarkan Tabel 1 menunjukan luas panen, produksi dan produktivitas bawang merah 2018 – 2022. Pada tahun 2020 - 2022 produksi bawang merah mengalami kenaikan tiap tahun pada tahun 2020 menjadi 1.205 ton dan pada tahun 2021 menjadi 1.474 ton dan pada tahun 2022 mengalami kenaikan yang cukup signifikan mengalami kenaikan yang cukup signifikan menjadi 2.955 ton .
Dengan demikian terjadinya fluktuasi produksi disebabkan oleh adanya peningkatan dan penurunan panen tiap tahun, gangguan hama dan penyakit yang menyerang bawang dan terjadinya perubahan harga pada input dan sarana produksi.
Kabupaten sigi yang memiliki sumber daya alam yang sangat potensial untuk mengembangkan tanaman pangan dan holtikultura, hal ini dimanfaatkan oleh Sebagian besar masyarakatnya yang menaruh harapan hidupnya disektor pertanian.
Kabupaten sigi juga merupakan salah satu daerah pengembangan produksi bawang merah di Sulawesi Tengah. Hal ini dapat terlihat dari luas panen yang cukup besar.
Perkembangan luas panen, produksi dan produktivitas bawang merah di Kabupaten sigi dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2.Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Bawang Merah di Provinsi Sulawesi Tengah Menurut Kabupaten/Kota, 2022
No Kabupaten/Kota Luas Panen Produksi Produktivitas
(ha) (ton) (ton/ha)
1 Banggai Kepulauan 16 286 17,875
2 Banggai 26 838 32,230
3 Morowali 14 589 42,071
4 Poso 111 5.628 50,702
5 Donggala 43 593 13,790
6 Tolitoli 26 52 2
7 Buol 5 225 45
8 Parigi Moutong 117 11.319 96,743
9 Tojo Una-Una 18 329 18,277
10 Sigi 306 9.056 29,594
11 Banggai Laut 1 2 2
12 Morowali Utara 5 10 2
13 Palu 51 5.613 110,058
Jumlah 739 34.538 411,391
Rata-rata 691,923 2.656 31,645
Sumber : Badan Pusat Statistik Sulawesi Tengah, dalam Angka 2023
Berdasarkan Tabel 2 menunjukkan bahwa Kabupaten Sigi merupakan salah satu daerah yang memiliki luas panen yang tinggi dengan luasn panen sebesar 306 ha, produksi sebesar 9.056 ton dan produktivitas sebesar 29,594 ton/ha. Data tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Sigi merupakan Kabupaten dengan luas lahan yang cukup dan tingkat produksi yang tinggi. Secara signifikan Kabupaten Sigi memiliki potensi yang cukup besar untuk menjadi salah satu sentra produksi di Provinsi Sulawesi Tengah.
Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu daerah dalam suatu periode tertentu adalah data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) baik kata dasar harga berlaku dalam bentuk juta (rupiah) dan panen. PDRB yang pada dasarnya merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah tertentu atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir (neto) yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. PDRB atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi, terlihat pada tabel 3 dan 4 bisa dilihat pada lampiran.
Tabel 3 dan Tabel 4 dapat dilihat bahwa sektor pertanian mendominasi terhadap perekonomian Kabupaten Sigi. PDRB pada sektor pertanian di Kabupaten Sigi pada tahun 2019 sebesar 3.764,23 juta yaitu 41,92% dari total PDRB di Kabupaten Sigi. Kemudian tahun 2020 sebesar 3.813,62 juta yaitu 42,24% dari total PDRB Kabupaten Sigi. Pada tahun 2021 sebesar 3.991,65 juta yaitu 41,03%
mengalami penurunan dalam bentuk persen. Sedangkan pada tahun 2022 jutru mengalami peningkatan yang cukup tinggi 4.374, 76 juta yaitu 41,27% total PDRB.
Di tahun 2023 kembali mengalami penurunan dalam bentuk persen menjadi 4.686,01 juta yaitu 41,20% dari total PDRB.
Kabupaten Sigi merupakan salah satu Kabupaten penghasil pangan di Sulawesi Tengah, oleh karena itu, produktivitas tanaman pangan tersebut perlu ditingkatkan agar dapat digunakan sebagai penopang kebutuhan pangan di Sulawesi Tengah. Dalam upaya peningkatan perekonomian Kabupaten Sigi dapat dilakukan suatu strategi pengembangan perekonomian yang berbasis sektor pertanian. Hal ini dikarenakan sektor pertanian merupakan sektor yang paling besar memberikan kontribusi terhadap PDRB Kabupaten Sigi.
Tabel 3 dan Tabel 4 dapat dilihat bahwa sektor pertanian mendominasi terhadap perekonomian Kabupaten Sigi. PDRB pada sektor pertanian di Kabupaten Sigi pada tahun 2019 sebesar 3.764,23 juta yaitu 41,92% dari total PDRB di Kabupaten Sigi. Kemudian tahun 2020 sebesar 3.813,62 juta yaitu 42,24% dari total PDRB Kabupaten Sigi. Pada tahun 2021 sebesar 3.991,65 juta yaitu 41,03%
mengalami penurunan dalam bentuk persen. Sedangkan pada tahun 2022 jutru mengalami peningkatan yang cukup tinggi 4.374, 76 juta yaitu 41,27% total PDRB.
Di tahun 2023 kembali mengalami penurunan dalam bentuk persen menjadi 4.686,01 juta yaitu 41,20% dari total PDRB.
Berdasarkan hasil observasi di Kabupaten Sigi ada beberapa kendala yaitu.
harga privat adalah harga rill yang diterima oleh petani bawang merah dalam penjualan hasil produksinya atau tingkat harga yang dibayar petani. harga sosial adalah harga yang mengambarkan harga yang sesungguhnya baik harga input maupun harga output ataupun Harga bayangan adalah harga ekonomi rill yang diberkan kepada barang dan jasa setelah disesuaikan secara tepat dengan
menghilangkan instrument pasar yang menyimpang dan memasukan dampak sosial dari barang atau jasa tersebut. Melihat hal tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Analisis Daya Saing Komoditi Bawang Merah di Kabupaten Sigi”
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan maka masalah yang dapat dirumuskan adalah bagaimana Analisis daya saing Komoditi Bawang Merah Di Sigi Kabupaten Sigi.
1.3 Tujuan penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah di jelaskan, maka tujuan dalam proposal penelitian ini adalah untuk mengetahui Analisis daya saing Komoditi Bawang Merah Di Kabupaten Sigi.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi petani Bawang Merah, sebagai pertimbangan untuk meningkatkan produksi bawang merah yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.
2. Bagi pemerintah, sebagai bahan berita bagi pemerintah buat memutuskan langkah dan kebijakan yang bisa mendukung peningkatan daya saing bawang merah.
Penelitian yang dilakukan oleh Aldila (2016) dengan judul “Daya Saing Bawang Merah Di Wilayah Sentra Produksi Di Indonesia” dengan menggunakan metode Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha tani bawang merah di Cirebon, Brebes dan Tegal menguntungkan secara finansial tetapi tidak menguntungkan secara ekonomi. Hasil analisis daya saing usaha tani bawang merah di Cirebon, Brebes dan Tegal menunjukkan usaha tani bawang merah tidak memiliki keunggulan komparatif tetapi masih memiliki keunggulan kompetitif. Dampak kebijakan pemerintah terhadap output menunjukkan adanya proteksi pemerintah terhadap harga bawang merah. Sementara itu, kebijakan pemerintah terkait input masih bersifat disinsentif kepada petani. In put lebih mahal dari seharusnya Secara simultan kebijakan pemerintah terhadap input dan output mendukung terhadap produksi bawang merah di Cirebon.
Penelitian yang di lakukan oleh Novianto (2012) dengan judul “Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Kentang di Kabupaten Wonosobo” dengan menggunakan metode Policy Analysis Matrix (PAM) menunjukkan hasil bahwa berdasarkan hasil analisis PAM diketahui nilai RasioBiaya Privat (PCR) di Desa Sigedang lebih rendah daripada nilai PCR di Desa Dieng. Artinya, komoditas kentang di Desa Sigedang memiliki keunggulan kompetitif yang lebih besar dari usahatani kentang di Desa Dieng. Sedangkannilai Rasio Biaya Sumberdaya Domestik (DRC) di Desa Sigedang sebesar 0,76 lebih kecil dari
9
pada nilai DRC di Desa Dieng yakni sebesar 0,84. Hal ini mengindikasikan bahwa komoditas kentang di Desa Sigedang memiliki keunggulankomparatif yang lebih besar bila dibandingkan dengan Desa Dieng.
Penelitian yang dilakukan oleh Aryanto (2009) dengan judul “Analisis Daya Saing Usahatani Jagung Di Kabupaten Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara” dengan menggunakan metode Policy Analysis Matrix (PAM). baik secara finansial maupun ekonomi, terlihat dari profitabilitas privat (D) > 1 dan profitabilitas sosial (H) > 1 serta memiliki RC-ratio yang lebih besar dari satu.
Usahatani jagung di Kabupaten Bolaang Mongondow masih memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif serta dianggap masih mampu membiayai input domestiknya, walaupun memiliki kecenderungan menurun jika tidak diimbangi dengan harga jual produk yang memadai. Kebijakan-kebijakan pemerintah daerah untuk usahatani jagung masih belum menunjukkan keberpihakan yang menguntungkan para petani kecil dan kelangsungan hidup usahataninya. analisis sensitivitas menunjukkan kebijakan yang dapat diambil pemerintah daerah pada usahatani jagung di Bolaang Mongondow adalah dengan menurunkan harga pupuk sebesar 10 % dan menaikkan harga output sebesar 30% (skenario ke-9).
Penelitian yang dilakukan oleh Muhaimin (2013) dengan judul
“Keunggulan Komparatif Dan Dampak Kebijakan Subsidi Input Output Terhadap Pengembangan Komoditas Kedelai di Kabupaten Pasuruan” dengan menggunakan metode Policy Analysis Matrix (PAM). Daya saing usahatani kedelai perspektif keunggulan komparatif nilai DRCR pada sistem intensif adalah 0,803 dan pada s istem konvensional 0,908. Hal ini mengindikasikan setiap
menghemat US$ 1,00memberikan US$ 0,803 dan US$ 0,908. Hal ini dikarenakan penggunaan input tradeable pada sistem budidaya intensif lebih efisien yaitu aplikasi pupuk, pestisidadan benih usahatani lebih sedikit. Kebijkakan pemerintah berkaitan dengan output (NPCO) pada sistem budaya intensif dan konvensional bernilai 1,102 dan intensif 1,245. Kebijkakan pemerintah berkaitan dengan input (NPCI) pada sistem budaya intensif dan konvensional bernilai 1,03 dan intensif 1,006. Kebijkakan pemerintah berkaitan dengan input-output (PC) pada sistem budaya intensif dan konvensional bernilai 1,177 dan intensif 6,304. Sedangkan nilai (EPC) pada sistem budaya intensif dan konvensional bernilai 1,12 dan intensif 1,30.
Nilai SRP = nol berarti pemerintah tidak memberikan subsidi pada biaya produksi usahatani kedelai.
Penelitian yang dilakukan oleh Kustiari. (2010). Dengan judul “Analisis Daya Saing Komoditas Kedelai Menurut Agro Eksistem” dengan menggunakan metode Policy Analysis Matrix (PAM). Penelitian ini menyimpulkan bahwa berdasar keunggulan kompetitif dan komparatif menunjukkan bahwa usahatani yang dikelola di seluruh agrosistem lebih menguntungkan dari kedelai impor.
Kegiatan usahatani kedelai pada lahan sawah irigasi, sawah tadah hujan, dan lahan kering/tegalan, berdasar analisis PAM menunjukkan keuntungan yang positif serta memiliki keunggulan daya saing komoditas pada tingkat kemprtitinya maupun komparatifnya secara memadai, sehingga layak Dikembangkan.
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Usahatani Bawang Merah
Menurut Soekartawi (2006), ilmu pertanian diartikan menjadi ilmu yang mempelajari bagaimana seorang mengalokasikan asal daya yang terdapat secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi dalam waktu tertentu. Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan komoditi hortikulturayang tergolong sayuran rempah. Sayuran rempah ini banyak dibutuhkan terutama sebagai pelengkap bumbu masakan guna menambah cita rasa dan kenikmatan masakan. Selain sebagai bumbu masak, bawang merah dapat juga digunakan sebagai obat tradisional yang banyak bermanfaat untuk kesehatan. Bawang merah tergolong komoditi yang mempunyai nilai jual tinggi dipasaran. Daerah sentra produksi dan pengusahaan bawang merah perlu ditingkatkan mengingat permintaan konsumen dari waktu kewaktu terus meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan daya belinya. Mengingat kebutuhan terhadap bawang merah yang kian terus meningkat, maka usaha ini memberikan prospek yang cerah(Estu, 2007).
2.2.2 Biaya dan Pendapatan Usahatani 1. Biaya
Biaya usahatani merupakan nilai penggunaan sarana produksi dan lain-lain yang dibebankan pada produk bersangkutan.Selain biaya tunai yang dikeluarkan ada pula biaya yang diperhitungkan yaitu nilai pemakaian barang dan jasa yang dihasilkan dari usaha itu sendiri. Biaya
yang diperhitungkan digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani kalau modal dan nilai kerjakeluarga diperhitungkan (Hermanto dan Ferdiansyah 2004). Biaya produksi dapat didefenisikan sebagai semua pengeluaran yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor- faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang digunakan untuk menciptakan barang-barang yang produksi tersebut, (Sukirno, 2002). Biaya produksi dalam usahatani dapat dibedakan berdasarkan:
1. Berdasarkan jumlah output yang dihasilkan terdiri dari:
a) Biaya tetap adalah biaya yang besar kecilnya tidak tergantung pada besarnya kecilnya produksi, misalnya: pajak tanah, sewa tanah, penyusutan bangunan pertanian, dan bunga pinjaman.
b) Biaya variabel adalah biaya yang berhubungan langsung dengan produksi, misalnya: pengeluaran untuk benih, pupuk, obat-obatan, dan biaya tenaga kerja.
2. Berdasarkan biaya yang langsung dikeluarkan dan diperhitungkan terdiri dari: Biaya tunai adalah biaya tetap dan biaya variabel yang dibayar tunai. Biaya tetap misalnya: pajak tanah dan bunga pinjaman, sedangkan biaya variable misalnya pengeluaran untuk benih, pupuk, obat-obatan, dan tenaga kerja luar keluarga. Biaya tunai ini berguna untuk melihat pengalokasian modal yang dimiliki petani. Biaya tidak tunai (diperhitungkan) adalah biaya penyusutan alat- alat pertanian, sewa lahan milik sendiri (biaya tetap), dan tenaga kerja dalam keluarga (biaya variabel). Penerimaan usahatani adalah suatu nilai produk total dalam jangka waktu tertentu, baik untuk dijual maupun u ntuk dikonsumsi
sendiri.penerimaan ini mencakup semua produk yang dijual, konsumsi rumah tangga petani, untuk pembayaran dan untuk disimpan.
Penerimaan usahatani dalam penelitian ini adalah nilai produk diperoleh dari produk total dikali dengan harga jual ditingkat petani. Biaya dalam kegiatan usahatani oleh petani ditujukan untuk menghasilkan pendapatan yang tinggi bagi usahatani yang dikerjakan. Dengan mengeluarkan biaya, maka petani mengeluarkan biaya maka petani mengharapkan pendapatan yang setinggi- tingginya melalui tingkat produksi yang tinggi. biaya produksi dapat didefinisikan sebagai semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksi perusahaan tersebut (Rumagit, dkk.
2011).
1. Pendapatan
Pendapatan usahatani adalah keuntungan yang diperoleh petani dengan mengurangkan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi dengan penerimaan usahatani.Tujuan utama dari analisis pendapatan adalah menggambarkan keadaan sekarang suatu kegiatan usaha dan menggambarkan keadaan yang datang dari perencanaan dan tindakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani adalah luas usahatani efesiensi kerja dan efesiensi produk. Luas usahatani yang sempit dapat mengakibatkan produksi persatuan luas yang tidak dapat dicapai.
Sementara efisien kerja dan efisien produksi yang tinggi menyebabkan pendapatan petani semakin tinggi. (Al Hariz 2007).
Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan total atau total revenue (TR) dengan biaya total cost (TC). Penerimaan usahatani adalah hasil dari jumlah hasil produksi (output) dengan harga jual output.biaya usahatani diklasifikasikan menjadi dua yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost) (Soekartawi, 2002).
Biaya tetap umumnya relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Jadi besarnya biaya ini tidak tergantung pada besar kecilnya produksi yang diperoleh, sedangkan biaya variabel dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi yang diperolehnya, yang termasuk biaya variabel adalah sewa tanah, pajak, alat-alat pertanian, iuran irigasi, dan lainnya atau bisa dikatakan sebagai biaya input produksi. Pendapatan usahatani yang diterima seorang petani dalam satu tahun berbeda dengan pendapatan yang diterima petani lainnya.perbedaan pendapatan ini dipengaruhi oleh beberapa factor.Faktor ini ada yang masih dapat diubah dalam batasan- batasan kemampuan petani dan ada faktor yang tidak dapat diubah yaitu iklim dan tanah. (Al Hariz 2007).
2.2.3 Teori Keunggulan Kompetitif
Keunggulan kompetitif merupakan kemampuan untuk memasok barang dan jasa pada waktu, tempat dan bentuk yang diinginkan oleh konsumen. Barang dan jas a tersebut dipasarkan di pasar domestik maupun internasional dengan harga yang sama atau lebih baik dari yang ditawarkan pesaing. Keunggulan kompetitif merupakan indikator efisiensi suatu komoditas secara privat dimana didasarkan
pada harga pasar komoditi tersebut atau nilai uang yang berlaku saat itu disuatu negara (Pearso n, et al, Keunggulan kompetitif dapat dicapai dan dipertahankan dengan cara meningkatkan produktivitas sumberdaya yang digunakan. Apabila suatu komoditas tidak memiliki keunggulan kompetitif, maka hal ini berarti bahwa di negara penghasil komoditas tersebut terjadi sitorsi pasar atau terdapat hambatan yang merugikan produsen (Pearson, et al, 2005).
2.2.4 Teori Keunggulan Komparatif
Teori ini menyatakan bahwa keunggulan komparatif timbul karena adanya perbedaan teknologi antar negara. Hal ini berarti bahwa berlangsungnya perdagangan internasional merupakan akibat adanya perbedaan produktivitas antar negara (Basri, 2010). Keunggulan komparatif merupakan suatu konsep yang diterapkan suatu negara untuk membandingkan beragam aktivitas produksi dan perdagangan di dalam negeri terhadap perdagangan dunia.
Biaya produksinya dinyatakan dalam nilai sosial, dan harga komoditas diukur pada tingkat harga di pelabuhan yang berarti juga berupa biaya sosial.
Indikator keunggulan komparatif digunakan untuk mengetahui apakah suatu Negara memiliki keunggulan ekonomi untuk memperluas produksi dan perdagangan suatu komoditas (Sayekti dan Zamzami, 2011).
Keunggulan komparatif merupakan ukuran normatif, yaitu mengukur daya saing pada kondisi pasar persaingan bebas dan tanpa distorsi. Negara yang mempunyai opportunity cost relatif rendah akan lebih efisien dan mempunyai keunggulan komparatif, karena negara tersebut mempunyai keunggulan dalam mengalokasikan biaya jika dibandingkan dengan produsen lainnya, dan mereka akan kompetitif secara internasional.
2.2.5 Konsep Daya Saing
Daya saing juga didefenisikan sebagai kemampuan suatu sektor, industri, atau perusahaan untuk bersaing dengan sukses untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan dalam lingkungan global selama biaya imbangannya lebih rendah dari penerimaan sumber daya yang digunakan (Esterhizen, 2008). Pendekatan yang sering digunakan untuk mengukur daya saing suatu komoditi adalah tingkat keuntungan yang dihasilkan dan efisiensi dalam pengusahaan komoditas tersebut.
Keuntungan dapat dilihat dari dua sisi, yakni keuntungan pberdarivat dan keuntungan sosial. Sementara itu, efisiensi pengusahaan komoditas dapat dilihat dari dua indikator yaitu keunggulan komparatif dan kompetitif (Novianto,2012) 2.2.6 Teori Policy Analysis Matrix (PAM)
Policy Analysis Matrix (PAM) atau Matriks Analisis Kebijakan merupakan Model analisis yang digunakan untuk menganalisis keunggulan komparatif (analisis ekonomi) dan keunggulan kompetitif (analisis financial) terhadap suatu komoditi. Menurut Scott Pearson (2005), terdapat tiga tujuan dari analisis PAM, yaitu :
1. Menghitung tingkat keuntungan privat sebuah ukuran daya saing usahatani pada tingkat harga pasar atau harga aktual.
2. Menghitung tingkat keuntungan sosial sebuah usahatani yang dihasilkan dengan menilai output dan biaya pada tingkat harga efisiensi (social opportunity cost).
3. Menghitung transfer effect, sebagai dampak dari sebuah kebijakan.Dengan membandingkan pendapatan dan biaya, untuk selanjutnya dinamakan sebagai budget sebelum dan sesudah penerapan kebijakan.
Hasil analisis PAM dapat digunakan untuk mengetahui apakah suatu negara memiliki daya saing yang tinggi atau rendah dalam suatu sistem produksi komoditi dilihat dari teknologi dan wilayah tertentu, serta bagaimana suatu kebijakan dapat memperbaiki daya saing tersebut melalui penciptaan efisiensi usaha dan pertumbuhan pendapatan. Selain digunakan untuk mengukur daya saing suatu komoditas, PAM juga dapat melihat sejauh mana dampak kebijakan harga input, kebijakan harga output, atau kombinasi keduanya yang dilakukan pemerintah terhadap produsen.
PAM merupakan alat analisis yang digunakan untuk mengetahui efisiensi ekonomi dan besarnya insentif atau intervensi dalam berbagai aktivitas usahatani secara keseluruhan dan sistem penelitian ini PAM menyusun matrix yang berisi informasi biaya pendapatan dan keuntungan privat serta sosial usahatani Bawang Merah pada kabupaten dengan produksi tertinggi.
1. Profitabilitas dan Daya saing
Profitabilitas uashatani dilihat dari keuntungan privat dan keuntungan social. Daya saing usahatani dapat dilihat melalui keunggulan kompetitif dan komparatifnya.
a. Keuntungan privat dan keunggulan kompetitif didasarkan pada biaya dan pendapatan privat dalam perekonomian actual. Keunggulan kompetitif dapat dihitung melalui keuntunggan privat dan indicator Private Cost Ratio (PCR).
b. Keuntunggan privat merupakan keuntunggan sebenarnya diperoleh petani.
Keuntunggan privat dihitung berdasarkan harga privat. Keuntunggan
privat dalam tabel PAM disimbolkan dengan D. Indikatornya apabila D positif, berarti usahatani memperoleh keuntungan atau profit atas biaya normal dalam kondisi terdapat kebijakan pemerintah. Hal ini mempunyai implikasi bahwa komoditi tersebut mampu ekspansi, kecuali apabila sumberdaya terbatas atau adanya komoditi alternatif yang lebih menguntungkan. Apabila D negative, usahatani tersebut tidak memperoleh profit atas biaya normal yang artinya bahwa usahatani belum mampu ekspansi.
c. Private cost ratio (PCR) menunjukkan penggunaan sumberdaya domestik untuk menghasilkan nilai tambah usahatani. Indikator PCR didapat dari biaya privat input non tradeable usahatani dibandingkan pendapatan privat domestik dikurangi biaya input tradeable privat. PCR dapat dihitung dari notasi dalam tabel PAM = C/(A-B) Indikatornya adalah apabila PCR < 1, usahatani yang diteliti memiliki keunggulan kompetitif PCR > 1, sistem input tradeable yang diteliti tidak memiliki keunggulan kompetitif.
PCR = 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑖𝑛𝑝𝑢𝑡 𝑡𝑟𝑒𝑎𝑑𝑎𝑏𝑙𝑒 𝑝𝑟𝑖𝑣𝑎𝑡𝑒 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑝𝑟𝑖𝑣𝑎𝑡𝑒 𝑖𝑛𝑝𝑢𝑡 𝑝𝑟𝑖𝑣𝑎𝑡
. Keuntungan social dan keuntungan komparatif didasarkan pada biaya dan pendapatan social, Oleh karena itu keuntungan sosial dan keunggulan kompetitif mencerminkan efisiensi usahatani. Keuntungan sosial dan keunggulan komparatif dapat dihitung melalui keuntunggan sosial dan indikator Domestic Resource Cost Ratio (DRCR). Keuntunggan sosial merupakan keuntungan yang seharusnya diterima petani apabila tidak ada kebijakan pemerintah dan kegagalan pasar. Keuntungan sosial pada tabel PAM
disimbolkan dengan H. Indiktornya adalah apabila H positif, usahatani tetap menguntungkan meski tidak ada kebijakan pemerintah. Apabila H negative, berarti usahatani tidak menguntungkan dan tidak mampu bersaing tanpa kebijakan pemerintah.
e. Indikator yang menggambarkan rasio penggunaan faktor domestik yaitu Domestic Resource Cost Ratio (DRCR) dilihat dari nilai Domestic Resource Cost (DRC)yang dihitung dari identitas G/(E-F
DCR = 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑖𝑛𝑝𝑢𝑡 𝑁𝑜𝑛 𝑡𝑟𝑒𝑎𝑑𝑎𝑏𝑙𝑒 𝑝𝑟𝑖𝑣𝑎𝑡𝑒
𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑠𝑜𝑐𝑖𝑎𝑙−𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑖𝑛𝑝𝑢𝑡 𝑡𝑟𝑎𝑑𝑎𝑏𝑙𝑒 𝑠𝑜𝑐𝑖𝑎𝑙
Pada tabel PAM. Indikatornya apabila DRC < 1, usahatani mempunyai keuggulan komparatif. Apabila DRC > 1, usahatani tidak mempunyai keunggulan komparatif.
1. Analisis Kebijakan
Analisis kebijakan pemerintah yang mempengaruhi usahatani padi, terdiri kebijakan input kebijakan output serta kebijakan input output.
a. Kebijakan output dapat dilihat dari indikator Output Transfer (OT) dan Nominal Protection Coefficient On Output (NPCO) Kedua kebijakan output ini berasal dari notasi penerimaan privat dan sosial (A & E) pada tabel PAM.
kebijakan Output terdiri dari :
1. Output Transfer dihitung dari selisih penerimaan privat dan penerimaan sosial (OT=A-E) Indikatornya apabila OT positif, menunjukkan terdapat transfer kepada usahatani sehingga surplus usahatani maningkat. Sebaliknya OT negative, adanya transfer kepada konsumen sehingga surplus konsumen meningkat.
2. Nominal Protection Coefficient On Output (NPCO) dihitung dari perbandingan identitas penerimaan privat dengan penerimaan sosial (A/E) pada tabel PAM.Indikatornya apabila NPCO > 1, kebijakan telah mampu memproteksi usahatani atau produsen komoditas. Apabila NPCO < 1 kebijakan belum mampu memproteksi usahatani atau produsen komoditas.
a. Kebijakan Input terdiri dari kebijakan Input Transfer (IT),Nominal Protection Coefficient On Input (NPCI) &Transfer Facktor (TF).
b. Input Transfer (IT) dihitung dari selisih notasi biaya input privat tradeable dan notasi biaya input sosial tradeable (B-F). Indikatornya apabila IT positif, menunjukkan terdapat transfer dari petani ke produsen input tradeable.
Apabila IT negatif menunjukkan terdapat transfer dari produsen input tradeablekepada petani.
c. Protection Coeffisien on Tradeable Input (NPCI) dihitung dari perbandingan notasi biaya input privat tradeabledan notasi biaya input sosial tradeable(B/F).
Indikatornya apabila NPCI<1, berarti kebijakan bersifat protektif terhadap usahatani yaitu konsumen input tradeableberupa subsidi terhadap input tradeable. Apabila NPCI>1, kebijakan tidak protektif terhadap usahatani atau tidak ada kebijakan subsidi terhadap input tradeable.
d. Transfer Faktor (TF) dihitung dari selisi notasi biaya input non tradeable privat dan input non tradeable sosial pada tabel PAM (CG). Indikatornya apabila TF positif, berarti terdapat transfer dari petani produsen kepada produsen input non tradeable begitu pula sebaliknya. Transfer faktor juga
2.3 Bagan Alir Penelitian
Gambar 1. Bagan Alir Penelitian Analisis Daya Saing Komoditi Bawang Merah Lokal Kabupaten Sigi
Penelitian ini akan dilaksanakan di Kabupaten Sigi, Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Sigi, lokasi penelitian ini ditentukan secara sengaja (Purposive) dengan pertimbangan Kabupaten Sigi merupakan salah satu daerah penghasil bawang merah terbesar di Provinsi Sulawesi Tengah. Bisa dilihat pada tabel 1 dan 2. Peneltian ini dilakukan pada bulan Juli sampai september 2024.
3.2 Jenis dan Sumber Data Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekan kuantitatif. Sektor analisis adalah penilaian terhadap kondisi ekonomi dan keuangan serta prospek suatu sektor perekonomian. Analisis sektor berfungsi untuk memberikan penilaian kepada investor tentang seberapa baik kinerja perusahaan di sektor tersebut. Data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain nilai ekspor bawang merah yang bersumber dari instansi-instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tengah, Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sigi, dan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah. Jenis data adalah data sekunder yaitu series dengan periode 3 tahun terakhir tahun 2020 sampai 2023.
3.3 Jenis Dan Sumber Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung melalui observasi, maupun wawancara. Data primer yang dibutuhkan antara lain identitas
23
responden termasuk hasil wawancara responden.
2. Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari berbagai sumber atau instansi terkait dengan judul penelitian.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian yaitu:
1. Observasi, yaitu pengumpulan data yang di peroleh melalui pengamatan secara langsung terhadap petani-petani di Desa Bolupontu Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Sigi
2. Wawancara, yaitu kumpulan data yang diperoleh melalui wawancara dengan para petani di Desa Bolupontu Kecamatan Sigi Biromaru Kabupaten Sigi
3. Dokumentasi, Pengumpulan data dengan mengkutip dan mencatat sumber- sumber informasi dari pustaka-pustaka maupun instansi-instansi yang terkait dengan penelitian ini.
3.5 Teknik Analisis Data
pBerdasarkan tujuan yang ingin dicapai dari penelitian maka metode Analisis yang digunakan adalah alat analisis PAM yaitu matrix yang berfungsi untuk mengetahui daya saing suatu komoditi serta dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditi tersebut,lebih jelasnya di uraikan sebagai berikut:
Tabel 5. Matrix Analisis Kebijakan (Policy Matrix Analisys)
Keterangan Penerimaan Output
Biaya
Keuntungan Input
Tradea b
Input Nontradeable
Privasi A B C D
Sosial E F G H
Divergengsi I J K L
Sumber : Monke dan Pearson, 2005 Keterangan :
A = Pendapatan privat,
B = Biaya Privat untuk Input tradable, C = Biaya Privat untuk input non tradable, D = keuntungan Privat,
Analisis PAM dapat di gunakan dengan berbagai komoditi serta berbagai wilayah, tipe usaha dan teknologi perhitungan analisis PAM adalah perhitungan yang sistematis dan menyeluruh dimana input yang digunakan berdasarkan kategori harga private dan sosial , efisiensi serta besarnya intervensi pemerintah pada produsen , konsumen, dan pedagang perantara.
1) Keunggulan Komperatif (DRC) dan Keunggulan Kompetitif (PCR)
Mengukur dan menentukan keunggulan komperatif suatu komoditi yang di produksi di suatu daerah denganb mengunakan indikator domestic resource cost ratio (DRCR). DRCR adalah analisis rasio antara biaya sumber daya domestik dan nilai tambah yang diperoleh berdasarkan harga sosial . jika nilai DRC <1 Maka dapat disimpulkan bahwa komoditi yang dikembangkan memiliki keunggulan komperatif, artinya sumber daya domestik yang harus di korbankan untuk menghemat atau memperoleh devisa dari kegiatan tersebut lebih kecil dari sumberdaya domestik yang tersedia dikorbankan oleh sistem ekonomi wilayah secara keseluruhan. Sehingga apabila DCR semakin mendekati nol menunjukan keunggulan komperatif yang semakin tinggi , oleh karena itu daerah yang memiliki nilai DRC lebih kecil di bandingkan dengan daerah lainnya artinya komoditi yang di
jika nilai DRC > 1, maka komoditi yang di kembangakan tidak memiliki keunggulan komperatif .
Analog dengan konsep DRCR, maka private cost ratio (PCR) dapat digunakan sebagai indikator keunggulan kompetitif . Pengertian keunggulan kompetitif dalam hal ini adalah biaya imbangan private yang dikeluarkan yang dikeluarkan guna memperoleh satu unit devisa . Dalam hal ini semua biaya dan penerimaan di hitung berdasarkan harga yang berlaku ( Prevailing price ) . Nilai PCR <1, maka komoditi yang dikembangkan tersebut memiliki keunggulan komperatif dan begitu pula sebaliknya ( Aliyatillah, 2009)
2) Dampak Kebijakan Pemerintah
Dampak Kebijakan Pemerintah dapat dibagi menjadi tiga kebijakan sebagai Berikut:
a. Kebijkan output
Campur tangan pemerintah dapat terlihat dari besarnya Output Transfer (OT) yang menunjukan besarnya perbedaan penerimaan usahatani yang benar-benar diterima oleh petani dengan penerimana yang menggunakan harga sosial jika nilai output transfer > 0 mengandung arti produsen menerima harga rill yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga sosialnya. Sedangkan Nominal efektif merupakan rasio antara penerimaan yang dihitung berdasarkan harga privat dengan penerimaan yang dihitung berdasarkan harga NPCO dapat digunakan untuk melihat apakah suatu komoditi diproteksi atau tidak. Bila NPCO < 1, berarti konsumen dan produsen dalam negri menerima harga yang lebih murah dari sesungguhnya.
b. Kebijakan input
F = Biaya sosial untuk input tradable,
G = Biaya sosial untuk input non tradable (faktor domestik), H = Keuntungan Sosial,
I = Tingkat divergesi revenue,
J = Tingkat divergensi biaya input revenue,
K = Tingkat divergensi biaya input non tradable (faktor domestik), L = Dampak total dari seluruh divergensi.
3.6 Konsep Operasional
1. Responden dalam penelitian ini adalah petani bawang merah varietas Lembah palu adalah orang yang melakukan kegiatan usaha tani bawang merah varietas Lemah palu di desa maku kabupaten sigi 2. Daya saing usahatani bawang merah varietas. Lembah Palu adalah
kemampuan usahatani bawang merah varietas lembah palu di desa maku Kabupaten Sigi. mempertahankan perolehan laba dan pangsa pasar sehingga produsen dapat memperoleh keuntungan dari usahatani tersebut, yang dianalisa berdasarkan keunggulan komperatif dan keunggulan kompetitif.
3. Keunggulan kompetitif adalah indikator yang menunjukan bahwa komoditi yang dihasilkan memiliki efisiensi secara finansial dan kemampuan suatu komoditi membiayai faktor domestik pada harga privat.
4. Keunggulan Komperatif adalah indikator yang menunjukan bahwa komoditi yang dihasilkan mempunyai daya saing jika ditinjau dari segi pemanfaatan sumberdsya domestik yang digunakan.
5. Harga privat adalah harga rill yang diterima oleh petani dalam satuan rupiah
6. Harga sosial atau harga bayangan adalah harga yang terjadi dalam perekonomian pada keadaan persaingan sempurna
7. Keuntungan sosial adalah Keuntungan yang diterima berdasarkan harga – harga dasar ( harga yang seharusnya diterima oleh petani)dalam satuan rupiah.
8. Produksi adalah hasil bawang merah varietas lembah palu yang di peroleh petani pada saat musim tanam terakhir dalam satuan kg 9. Luas lahan adalah luas tanah yang diolah untuk kegiatan usahatani
bawang merah varietas Lembah Palu. Satuan ukuran luas lahan adalah Hektar (Ha).
10. Transfer input Adalah selisih antara biaya input yang dapat di di perdagankan pada harga sosial.
11. Transfer Faktor adalah nilai yang menunjukan perbedaan harga privat dengan harga sosialnya yang diterima produsen untuk pembayaran faktor – faktor produksi yang tidak di perdagankan.
12. Transfer bersuh adalah selisih antara keuntungan bersih yang benar - benar di terima produsen ( privat) dengan keuntungan bersih sosialnya.
13. Rasio biaya private adalah total biaya non tradable usahatani bawang merah varietas Lembah Palu harga privat dibagi pengurangan dari penerimaan usahatani terhadap total biaya tradable harga private.
14. Rasio biaya sumberdaya domestik adalah perbandingan total biaya non tradable usahatani bawang merah varietas Lembah Palu pada harga sosial dibagi pengurangan dari penerimaan usahatani terhadap total biaya tradable pada harga sosial.
15. Koefisien proteksi output nominal adalah perbandingan penerimaan usahatani bawang merah varietas Lembah palu pada harga privat dan sosial.
16. Koefisien proteksi input nominal adalah perbandingan total biaya tradable pada harga privat dengan total biaya tradable pada harga sosial.
17. Koefesien proteksi efektif adalah perbandingan penerimaan usahatani bawang merah varietas Lembah palu pada harga privat di kurangi total biaya tradable pada harga privat terhadap penerimaaan usahatani bawang merah varietas Lembah palu pada harga sosial dikurangi total biaya tradable bawang merah varietas Lembah palu pada harga sosial.
18. Koefisien keuntungan adalah perbandigan keuntungan yang benar- benar di terima produsen dengan keuntungan sosialnya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Letak Geografis dan Potensi Alam
Desa Maku terletak di kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, indonesia.
Secara geografis, desa ini berada di daratan tinggi de 4.1.2 keadan penduduk
Penduduk adalah salah satu komponen penting yang menunjang pembangunan daerah termasuk pelaksanaan kegiatan dalam bidang pertanian yang ada di daerah tempat penduduk tersebut bermukim. Jumlah pendudkndalam suatu daerah berpengaruh terhadap tingkat produksi hasil pertanian, sehingga penduduklah yang menentukan kesejahtraan pada lingkungan mereka sendiri baik dari segi pendapatan maupun sosial. Keberadaan penduduk dan pertambahannya di tentukan oleh angka kelahiran yang besar dari pada angka kematian.
Desa maku memiliki penduduk yang beragam adat maupun budaya karena daerah tersebut merupakan wilayah transmigrasi dari beberapa suku di indonesia, diantaranya suku jawa, bugis, kaili, dan beberapa suku lainnya. Penduduk daerah merupakan potensi yang terbesar dalam kegiatan pembangunan daerah khususnya bidang pertanian. Olehnya keadaan suatu penduduk dalam beraktivitas terutama yang berada di desa maku juga berpengaruh pada produktivitasnya pembangunan.
Keadaan penduduk tersebut meliputi, jumlah penduduk berdasarkan usia,jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dan jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian.
4.1.3.1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin
Jumlah penduduk desa maku berdasarkan profil singkat desa maku 2022...
Tabel 6. Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur dan jenis Kelamin di Desa Maku Kecamataan sigi,2022
4.1.3.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencarian
Mata pencaharian yang ada dimasyarakat umumnya bervariasi. Mata pencaharian yang dipilih di dasari pada kemampuan dan keahlian yang dimiliki serta lahan pekerjaan yang tersedia pada lingkungan daerah tempat tinggal. Keadaan penduduk berdasarkan mata pencaharian terlihat pada Tabel 6.
Tabel 7. Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Maku Kecamatan Sigi ,2022
4.2 Karasteristik Responden
Kegiatan usahatani yang di lakukan di desa maku berkaitan dengan karateristik yang dimiliki oleh petani. Berdasarkan hasil wawancara, karateristik responden meliputi umur, pengalaman berusahatani, tingkat pendidikan serta jumlah tanggungan keluarga dari responden.
4.2.1 Umur
Umur pada manusia dapat mempengaruhi kinerja dalam beraktivitas karena brtkaitan dengan kemampuan fisik bekerja maupun berpikir saat mengambil
keputusan. Karateristik responden berdasarkan umur untuk petani bawang merah lembah palu dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8 Identitas Responden Berdasarkan Umur di Kecamatan Sigi 2022
DAFTAR PUSTAKA
Al Hariz. (2007). Pendapatan Usahatani Padi Sawah Menurut Luas dan Status Kepemilikan Lahan di Desa caracak Kecamatan Leuwilang Kabupaten Bogor Jawa Barat. Institusi Pertanian Bogor: Bogor.
Al Hariz. (2007). Pendapatan Usahatani Padi Sawah Menurut Luas dan Status Kepemilikan Lahan di Desa caracak Kecamatan Leuwilang Kabupaten Bogor Jawa Barat. Institusi Pertanian Bogor.
Aldila, Haris F. (2016). Daya Saing Bawang Merah di Wilayah Sentra Produksi di Indonesia. [Tesis]. Bogor. Institur Pertanian Bogor.
Basri, (2010). Dasar-Dasar Ekonomi Internasional: Pengenalan dan Aplikasi Metode Kuantitatif. Kencana. Jakarta.
Estu, R. dan Nur, B.V.A. 2007.”Bawang Merah”. Studi Dalam: Respon Pemberian Kapur Dolomit dan Pupuk Organik Granule Moderen Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Pada Tanah Berpasir. Jakarta : Penebar Swadaya.
Fatmawaty, A. A., Ritawati, S., Said, L. N. 2015. Pengaruh Pemotongan Umbi Dan Pemberian Beberapa Dosis Pupuk NPK Majemuk Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.). Jurnal Agrologia. 4 (2) : 69 – 77
Jakarta. Rumagit, dkk. 2011. Pendapatan Usahatani bawang merah di Desa Kanonang II Kecamatan Kawangkoan.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. 397 hal.
Kustiari, R. (2010). Analisis Daya Saing Komoditas Kedelai Menurut Agro Ekosistem: Kasus di Tiga Provinsi di Indonesia.
Marsha, D,N., Aini, N., dan Sumarni, T., (2014), Pengaruh Frekuensi dan Volume Pemberian Air pada Pertumbuhan Tanaman Crotalaria mucronata Desv, Jurnal Produksi Tanaman 2:673-678
Mawardi, N. K. 2016. Analisis Daya Saing Komoditas Bawang Merah di Daerah Sentra Produksi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Monke, E.A., dan Pearson. 2005. The Policy Analysis Matrix Pada Pertanian Muhaimin. 2013. Keunggulan Komparatif dan Dampak Kebijakan Subsidi Input
Output terhadap Pengembangan Komoditas Kedelai (Glycine Max) di Kabupaten Pasuruan.
Muis, A., Indradewa, D., & Widada, J. (2013). Pengaruh inokulasi mikoriza arbuskular terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai (Glycine max (L.) Merrill) pada berbagai interval penyiraman.
Novianto, J. (2012). Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Kentang di Kabupaten Wonosobo (Kasus: Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah).
Novianto. 2012. Analisis Daya Saing dan Dampak Kebijakan Pemerintah Terhadap Komoditas Kentang di Kabupaten Wonosobo Jawa Barat.
Pearson, et al. (2005). Aplikasi Policy Analysis Matrix Pada Pertanian Indonesia.
Pearson, Scott, Carl, Dan Sjaiful. 2005. Aplikasi Policy Analysis Matrix Pada Pertanian Indonesia. Yayasan Obor. Jakarta.
Rahayu, E. dan V. A. 2004. Bawang Merah. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rahayu, E. dan V. A. Nur Berlian. 2004. Bawang Merah. Penebar Swadaya.
Sayekti, & Zamzami, (2011). Analisis Keunggulan Komparatif dan Kompetitif Jeruk Siam di Sentra Produksi.
Soekartawi, 2006. Analisis Usahatani. Jakarta.
Soekartawi. 2002. Prinsip Dasar Manajemen Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian Teori dan Aplikasinya, Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Penerbit Alfabeta.
Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Suriani, N. 2012. Bawang Bawa Untung. Budidaya Bawang Merah dan Bawang Merah. Cahaya Atma Pustaka. Yogjakarta
Trisnawati, 2018. Metode Penelitian Kuantitatif Analisis isi dan Analisis data Sekunder.
LAMPIRAN
Tabel 3. Produk domestik regional bruto kabupaten sigi atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha (juta rupiah), 2019-2023
Pengolahan
Pengelolaan
E Sampah,
Limbah dan Daur Ulang
9,63 10,15 12,24 12,76 13,70
F Konstruksi 1.216,38 1.191,04 1.219,69 1.404,03 1.501,24 Perdagangan
Besar dan Eceran;
G Reparasi 1.117,87
Mobil dan Sepeda Motor
1.130,23 1.247,06 1.427,11 1.554,55
Transportasi
H dan 168,21
Pergudangan
125,72 134,78 157,11 174,59 Penyediaan
I Akomodasi 37,98 40,28 45,07 50,79 55,94
dan Makan
Kategori Uraian 2019 2020 2021 2022 2023
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
Pertanian,
A Kehutanan,
3.764,23 3.813,62 3.99,65 4.374,76 4.686,01 dan
Perikanan Pertambanga
B n dan 409,83
Penggalian
366,10 388,02 429,87 468,67
C Industri
178,50 182,44 208,79 220,35 229,10 Pengadaan
D Listrik dan 0,74
Gas Pengadaan Air,
0,77 0,80 0,87 0,94
Minum
Pendidikan
REGIONAL
MIGAS Informasi
J dan 183,28
Komunikasi
197,85 216,55 226,20 241,31 Jasa
K Keuangan 249,07
dan Asuransi
276,95 327,07 343,33 349,60
L Real Estate 215,69 229,84 254,72 280,19 315,43
M,N Jasa
11,90 11,78 12,41 13,46 14,88
Perusahaan Administrasi Pemerintaha
O n dan 762,47
Jaminan Sosial Wajib
775,39 854,15 884,17 951,32
P Jasa
441,43 459,73 512,49 528,88 549,64 Jasa
Kesehatan
Q dan 151,09
Kegiatan Sosial
155,38 163,96 174,87 188,21
R,S,T,U Jasa Lainnya 60,71 61,87 66,97 70,58 77,49 PRODUK
DOMESTIK
8.979,02 BRUTO
9.029,08 9.728,38 10.600,73 11.327,64
PRODUK DOMESTIK REGIONAL
8.979,02 9.029,08 9.728,38 10.600,73 11.327,64 BRUTO
TANPA
Tabel 4. Distribusi presentase produk domestik regional bruto kabupaten sigi atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha (persen), 2019-2023
Kategori Uraian 2019 2020 2021 2022 2023
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
A
Pertanian,
Kehutanan, 41,92 42,24 41,03 41,27 41,20 dan Perikanan
B
Pertambangan
dan 4,56 4,05 3,99 4,06 4,12
Penggalian
C Industri
Pengolahan Pengadaan
1,99 2,02 2,15 2,08 2,01
D Listrik dan 0,01
Gas
0,01 0,01 0,01 0,01
Pengadaan Air,
E Pengelolaan
0,11 0,11 0,13 0,12 0,12
Sampah, Limbah dan Daur Ulang
F Konstruksi 13,55 13,19 13,28 13,24 13,20
Perdagangan Besar dan
G Eceran;
12,45 12,52 12,82 13,47 13,67
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Transportasi
H dan 1,87
Pergudangan
1,39 1,39 1,48 1,54
Penyediaan
I Akomodasi
0,42 0,45 0,46 0,48 0,49
dan Makan Minum
J Informasi dan Komunikasi Jasa
2,04 2,19 2,23 2,13 2,12
Perusahaan
dan Jaminan
Pendidikan
dan Kegiatan
REGIONAL
BRUTO TANPA MIGAS
K Keuangan 2,77
dan Asuransi
3,07 3,36 3,24 3,07
L Real Estate 2,40 2,55 2,62 2,64 2,77
M,N Jasa
0,13 0,13 0,13 0,13 0,13
Administrasi
O Pemerintahan
8,49 Sosial Wajib
8,59 8,78 8,34 8,36
P Jasa
4,92 5,09 5,27 4,99 4,83
Jasa
Q Kesehatan
1,68 Sosial
1,72 1,69 1,65 1,65
R,S,T,U Jasa Lainnya 0,68 0,69 0,69 0,67 0,68 PRODUK
DOMESTIK
100.00 BRUTO
100.00 100.00 100.00 100.00
PRODUK DOMESTIK REGIONAL
100.00 100.00 100.00 100.00 100.00