• Tidak ada hasil yang ditemukan

sistem sosial, kultural, dan kepribadian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "sistem sosial, kultural, dan kepribadian"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

252 | Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

SISTEM SOSIAL, KULTURAL, DAN KEPRIBADIAN DALAM NOVEL EDENSOR KARYA ANDREA HIRATA

(SOCIAL, CULTURAL, AND PERSONALITY SYSTEM IN THE EDENSOR NOVEL BY ANDREA HIRATA)

Gesit Aprianto

MTsN 2 Tapin, Jl. PGA, Rantau, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan e-mail [email protected]

Abstract

Social, Cultural, and Personality System in the “Edensor” Novel by Andrea Hirata. This study discusses the social, cultural, and personality systems found in the “Edensor” novel.

This research is a qualitative research with a literary anthropological approach. The object of this research is a novel entitled "Edensor" by Andrea Hirata and focuses on social systems, cultural systems, and personality systems. The data used in this study are all texts in the novel

"Edensor" which contain social, cultural, and personality systems. The data obtained were analyzed using the theory developed by Tallcot Parson. Based on the analysis, it can be seen that in Andrea Hirata's Edensor novel there are social systems, cultural systems, and personality systems. The social systems found include community subsystems, fiduciary systems, government systems, and economic systems. The cultural systems found include the norms subsystem, activity subsystem, and work subsystem. The personality system found includes motivation and needs.

Key words: social system, cultural system, personality system, literary anthropology, Talcott Parsons' theory

Abstrak

Sistem Sosial, Kultural, dan Kepribadian dalam Novel “Edensor” karya Andrea Hirata.

Penelitian ini membahas sistem sosial, budaya, dan kepribadian yang terdapat pada novel

“Edensor”. Penelitian ini berupa penelitian kualitatif dengan pendekatan antropologi sastra.

Objek dari penelitian ini adalah novel berjudul “Edensor” karya Andrea Hirata dan berfokus pada sistem sosial, sistem kultural, dan sistem kepribadian. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua teks dalam novel “Edensor” yang mengandung sistem sosial, budaya, dan kepribadian. Data-data yang diperoleh dianilisis menggunakan teori yang dikembangkan oleh Tallcot Parson. Berdasarkan analisis yang dilakukan, dapat diketahui bahwa di dalam novel Edensor karya Andrea Hirata terdapat sistem sosial, sistem kultural, dan sistem kepribadian. Sistem sosial yang ditemukan meliputi subsistem komunitas kemasyarakatan, sistem fiduciary, sistem pemerintahan, dan sistem ekonomi. Sistem kultural yang ditemukan meliputi subsistem norma, subsistem aktivitas, dan subsistem karya. Sistem kepribadian yang ditemukan meliputi motivasi dan kebutuhan.

Kata-kata Kunci: sistem sosial, sistem kultural, sistem kepribadian, antropologi sastra, teori Talcott Parsons

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya Vol 12, No 2, Oktober 2022 ISSN 2089-0117 (Print) Page 252 - 263 ISSN 2580-5932 (Online)

(2)

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya| 253

PENDAHULUAN

Rafiek (2011, hlm. 49) menyatakan bahwa sebagai makhluk berbudaya, manusia memiliki kebutuhan kejiwaan yang di antaranya berupa hiburan dan kesenian. Hiburan digunakan untuk menghilangkan kebosanan. Kesenian digunakan sebagai sarana menghaluskan perasaan. Salah satu bentuk kesenian yang dapat dijadikan hiburan adalah seni sastra.

Endraswara (2013, hlm. 3-4) mengemukakan bahwa budaya dalam sastra merupakan perwujudan dari kehidupan penulisnya. Penulis karya sastra tentu akan mengambil pemikiran- pemikiran yang berlaku di masyarakat lingkungannya.

Andrea Hirata adalah salah satu penulis novel Indonesia yang karya-karyanya berhasil menduduki predikat best seller. Novel pertama yang memopulerkan namanya adalah Laskar Pelangi. Novel ini dikemas dengan pendekatan budaya. Laskar Pelangi berhasil menjadi novel Indonesia yang diterbitkan di 23 negara menggunakan bahasa di negara tersebut.

Laskar Pelangi adalah novel bersambung berkonsep tetralogi. Novel ini terdiri dari empat jilid. Jilid kedua diberi judul Sang Pemimpi, jilid ketiga diberi judul Edensor, dan jilid terakhir diberi judul Maryamah Karpov. Jilid kedua sampai keempat berhasil meraih predikat best seller menyusul kesuksesan Laskar Pelangi.

Hal yang menarik dari novel Edensor adalah pendekatan budaya yang digunakan oleh Andrea Hirata. Berbeda dari jilid pertama, kedua, dan keempat, novel ini menggunakan latar di Pulau Belitung dan negara-negara di Eropa. Ketika dilakukan survei terhadap keempat jilid tersebut, novel Edensor mengangkat banyak unsur budaya dari Indonesia dan Eropa, sedangkan tiga jilid lainnya hanya mengangkat unsur budaya di Indonesia.

Novel Edensor yang ditulis Andrea Hirata banyak mendeskripsikan aspek-aspek sosial budaya yang ada di Indonesia dan beberapa negara di Benua Eropa. Adegan-adegan di dalam novel tersebut diakuinya sebagai pengalaman pribadi ketika mendapat beasiswa kuliah di Prancis. Pada masa libur kuliah, dia bersama sepupunya berkeliling Eropa untuk mengenal lebih dekat kehidupan sosial di negara-negara Eropa.

Pengalaman Andrea Hirata dalam mengenal kehidupan sosial di Eropa menarik untuk diajarkan kepada para siswa di sekolah, khususnya di jenjang SMA. Para siswa tidak perlu pergi ke Eropa hanya untuk mengetahui kehidupan sosial dan budaya di sana karena novel ini sudah mendeskripsikannya dengan jelas dan menarik. Namun, novel ini masih menggunakan beberapa kalimat yang sulit dimengerti. Analisis yang dilakukan pada penelitian ini akan mempermudah siswa dan guru untuk memahami pendeskripsian dalam novel ini karena disajikan dalam kalimat yang efektif dan sederhana.

Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan tambahan untuk para guru bahasa Indonesia di SMK dan SMA untuk mengajarkan kesastraan. Adegan-adegan yang sudah ditelaah pada hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi siswa. Namun, peran guru tetap diperlukan di kelas untuk melakukan proses diskusi mengenai beberapa adegan di dalam novel.

Ada beberapa penelitian yang membahas novel Edensor karya Andrea Hirata. Penelitian tersebut dibuat oleh Iswanto (2011), Ritauddinz (2011), dan Mailarisa (2017). Iswanto (2011) dalam tesisnya menyimpulkan bahwa novel Edensor memuat akhlak kepada Allah yang meliputi ibadah, zikir, doa, dan ketaatan pada ajaran agama. Selain itu ditemukan juga akhlak terhadap diri sendiri yang melipuiti sabar, ikhlas, optimis, mencintai ilmu, dan mandiri. Akhlak kepada lingkungan juga ditemukan, yaitu memakmurkan masjid dan menjaga kelestarian alam.

Ritauddinz (2011) dalam tesisnya menyimpulkan bahwa sudut pandang di dalam novel Edensor dapat digunakan untuk mengungkap unsur-unsur lain di dalam cerita. Sudut pandang meliputi kedalaman atau tingkat ketajaman pandangan, keluasan pandangan, serta ujaran. Unsur-

(3)

254 | Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

unsur yang dapat diungkap oleh sudut pandang meliputi konflik batin dan sosial, latar tempat dan waktu, sifat tokoh, serta peristiwa.

Mailarisa (2017) menyimpulkan bahwa di dalam novel Edensor terdapat unsur id, ego, dan superego. Di dalam novel ini terdapat 31 unsur id, 75 unsur ego, dan 23 unsur superego. Selain itu, artikel yang membahas aspek budaya juga ditemukan di dalam jurnal Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat.

Penelitian tersebut dibuat oleh Mahmudi (2013), Wulandari (2016), serta Adawiyah dan Munsi (2018).

Mahmudi (2013) menyimpulkan bahwa di dalam dongeng suku Dayak Bakumpai terdapat nilai-nilai budaya. Nilai-nilai tersebut meliputi nilai-nilai budaya dari kehidupan manusia, nilai- nilai budaya tentang sudut pandang manusia terhadap alam, nilai-nilai budaya tentang hubungan manusia satu sama lain. Yang paling dominan adalah nilai-nilai tentang hubungan manusia satu sama lain, terutama dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Wulandari (2016) menyimpulkan bahwa terdapat nilai budaya di dalam naskah kesenian mamanda. Kesenian mamanda merupakan kesenian teater tradisional dari Banjarmasin. Nilai budaya yang ditemukan meliputi ketaatan terhadap Tuhan Yang Maha esa, nilai budaya yang berkaitan dengan tata kelakuan di lingkungan keluarga dan masyarakat Banjar, serta nilai budaya yang berkaitan dengan penggunaan bahasa daerah.

Adawiyah dan Munsi (2018) menyimpulkan bahwa terdapat nilai-nilai budaya dalam tembang-tembang Sunda. Nilai-nilai budaya yang ditemukan berkaitan dengan ajaran agama, hubungan manusia dengan alam, cerita tokoh, dan pelajaran hidup.

Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini mencoba menggunakan teori yang berbeda tentang kehidupan sosial dan budaya untuk menganalisis novel Edensor karangan Andrea Hirata. Penelitian ini menggunakan teori dari Talcott Parsons tentang aspek-aspek sosial budaya yang memengaruhi sistem tindakan, yaitu sistem sosial, sistem kultural, dan sistem kepribadian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sistem sosial, sistem kultural, dan sistem kepribadian yang terdapat pada novel Edensor karya Andrea Hirata.

TINJAUAN PUSTAKA

Parsons (dalam Susilo, 2008) mengartikan sistem sosial sebagai kumpulan individu yang saling berinteraksi di dalam lingkungan tertentu. Para individu tersebut melakukan pekerjaan yang sama untuk mencapai kebutuhan mereka. Namun, ada juga yang melakukan pekerjaan berbeda.

Dalam melakukan interaksi, para individu memiliki perannya masing-masing. Parsons (dalam Ritzer, 2007) menyatakan bahwa sistem masyarakat termasuk dalam sistem sosial. Dia membagi sistem masyarakat menjadi empat subsistem, yaitu sistem ekonomi, sistem pemerintahan, sistem fiduciary (pengasuhan atau pendidikan), dan sistem komunitas kemasyarakatan.

Parsons (dalam Ritzer, 2007) menyatakan bahwa sistem kultural menjadi sistem utama yang mengikat sistem tindakan. Sistem kultural juga dikenal dengan nama sistem budaya. Di dalam sistem sosial, sistem kultural diwujudkan dalam bentuk norma dan nilai. Di dalam sistem kepribadian, sistem kultural merupakan hasil akumulasi dari karakter para individu yang tinggal di suatu daerah. Sistem kultural juga memiliki peran tersendiri dalam bentuk simbol-simbol budaya. Hoenigman (dalam Koentjaraningrat, 2009, hlm. 217) menyatakan kebudayaan memiliki tiga wujud. Wujud tersebut meliputi: 1) ide, gagasan, nilai, norma, dan peraturan; 2) aktivitas dan tindakan berpola; serta 3) benda-benda hasil karya manusia.

(4)

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya| 255 Parsons (dalam Ritzer, 2007) meyatakan bahwa sistem kepribadian meliputi motivasi dan kebutuhan yang memengaruhi perilaku seseorang. Motivasi merupakan dorongan bagi seseorang untuk melakukan tindakan. Kebutuhan hidup meliputi cinta dan kasih sayang, keinginan untuk diakui, keinginan untuk memiliki jabatan yang tinggi, serta kebutuhan lain untuk bertahan hidup.

Motivasi dan kebutuhan dalam diri seseorang berbeda-beda. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh pengalaman dan jumlah interaksi seseorang dengan lingkungannya.

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologi sastra. Pendekatan tersebut difokuskan pada analisis sistem sosial, kultural, dan kepribadian yang terdapat pada novel Edensor karya Andrea Hirata. Penelitian ini tergolong dalam jenis kualitatif. Penelitian ini berfokus pada proses penjabaran sistem sosial, kultural, dan kepribadian di dalam novel Edensor secara deskriptif.

Sumber data dalam penelitian ini adalah novel berjudul Edensor karangan Andrea Hirata yang diterbitkan tahun 2008 oleh PT Bentang Pustaka. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah semua teks dalam novel Edensor yang mengandung sistem sosial, sistem kultural, dan sistem kepribadian.

Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik studi dokumenter. Teknik ini dilakukan dengan langkah membaca novel secara cermat, kemudian menggolongkan data sesuai dengan rumusan masalah.

Proses analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik analisis konten atau analisis isi.

Krippendorff (2004, hlm. 86) menyatakan bahwa teknik analisis isi dapat digunakan pada penelitian kualitatif.

Pada teknik analisis konten, data diambil berdasarkan rumusan masalah. Kemudian, data berupa kutipan novel digolongkan berdasarkan jenisnya. Setelah itu, peneliti menyiapkan bahan pustaka untuk menganalisis data yang sudah digolongkan. Bahan pustaka yang dimaksud dapat berasal dari buku-buku sosiologi dan antropologi, ensiklopedia budaya daring, serta kesaksian penduduk Indonesia di negara-negara Eropa yang dapat ditemukan di beberapa saluran siaran youtube.com. Setelah ditemukan kecocokan antara data dan bahan pustaka, data tersebut dideskripsikan sesuai dengan golongannya. Setelah semua data selesai dideskripsikan, ditarik simpulan yang merangkum deskripsi semua data dari sistem sosial, kultural, dan kepribadian.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Sistem Sosial dalam Novel Edensor Karya Andrea Hirata A. Status Seseorang sebagai Penentu Keputusan di Tempat Kerja

Menurut Parsons (dalam Ritzer, 2007), status atau peran seseorang di dalam kehidupan sosial merupakan hal yang mendasari sistem sosial. Interaksi sosial di dalam kehidupan membutuhkan seseorang berstatus tinggi untuk memimpin orang-orang yang berstatus lebih rendah. Hal ini dilakukan agar koordinasi di dalam kehidupan bisa berjalan secara teratur.

Orang-orang berstatus tinggi akan lebih didengar ketika memimpin.

(5)

256 | Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

Di sebuah tempat kerja, terdapat tingkatan status. Pemimpin instansi memiliki status yang lebih tinggi daripada karyawan. Hal itu membuat semua perintahnya akan didengar, sehingga sistem kerja yang sudah dirancang bisa berjalan dengan baik.

Status seseorang sebagai penentu keputusan di tempat kerja bisa dilihat di novel Edensor pada kutipan berikut.

“Erika Ingeborg, nama perempuan itu, sekretaris Dr. Woodward. Benar sangkaku, ia seorang Skandinavia, Finlandia tepatnya. Ia tak begitu ramah, tapi jelas ia peduli, dan seperti Skandinavian umumnya: ia tampak cerdas dan efisien. Erika membawa kami ke kantor Dr. Michaella Woodward, pengambil keputusan terakhir beasiswa Uni Eropa” (Hirata, 2008, hlm. 69).

Kutipan tersebut menceritakan seorang wanita yang memegang kuasa penuh untuk menentukan seorang mahasiswa bisa mendapatkan beasiswa atau tidak dari Uni Eropa.

Dengan status jabatannya yang tinggi, dia bisa mengatur sistem pemberian beasiswa kepada mahasiswa yang ingin kuliah di Eropa. Para pekerja yang dipimpinnya tinggal menjalankan perintah agar sistem yang sudah dirancang bisa berjalan dengan baik.

B. Kelas Sosial Perempuan di India

Parsons (dalam Ritzer, 2007) menyatakan bahwa status atau peran individu menjadi hal paling dasar di dalam sistem sosial. Orang-orang yang memiliki status tinggi di dalam kehidupan sosial memiliki peran untuk mengatur sistem agar dapat berjalan dengan baik.

Aufiya (2019, January 8), orang Indonesia yang sudah lima tahun tinggal di India, menjelaskan bahwa status sosial laki-laki di India lebih tinggi dari perempuan. Laki-laki mendominasi peran hampir di seluruh aspek kehidupan. Di kota New Delhi, para petugas kebersihan, pedagang, dan pelayan restoran adalah laki-laki. Bahkan, orang yang menjual pakaian perempuan adalah laki-laki.

Aufiya (2019, January 8) juga menjelaskan bahwa sebagian besar warga India lebih bahagia memiliki anak laki-laki. Pada proses pernikahan, pihak yang harus membayar mahar adalah perempuan. Jika si perempuan berasal dari keluarga miskin, orang tuanya harus bekerja sangat keras untuk mengumpulkan mahar. Bahkan, di India ada larangan memeriksa jenis kelamin kandungan dengan USG. Hal ini dilakukan karena ada risiko bayi akan dibunuh jika jenis kelaminnya diketahui sebagai perempuan.

Keberadaan kelas sosial perempuan di India pada novel Edensor dapat kita lihat pada kutipan berikut ini.

“’Indah sekali, Sahabatku ....’

MVRC Manooj mekar.

‘Tapi kudengar perempuan sering dianggap remeh di negerimu, ya?’

Wajah MVRC Manooj kaku.

‘Jadi, begini saja, akan kupertimbangkan tawaranmu kalau perempuan dihargai sama seperti pria di sana, oke?’

Laki-laki Punjab itu menggeleng empat kali” (Hirata, 2008, hlm. 118).

Kutipan tersebut menceritakan seorang wanita Jerman yang tidak bersedia menjadi kekasih dari laki-laki India. Wanita itu tidak ingin menjadi kekasih si laki-laki India karena takut

(6)

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya| 257 tidak dihargai. Ketakutan itu muncul karena menurut pengetahuan si wanita, di India wanita tidak mendapat kesetaraan hak.

C. Mobil Ferrari sebagai Penanda Kelas Sosial

Ferrari merupakan perusahaan mobil balap dari negara Italia. Perusahaan ini didirikan oleh Enzo Ferrari pada tahun 1929.

Mobil ini menjadi penanda kelas sosial tinggi karena harganya yang mahal. Eri (2015, October 21), dalam saluran youtube resmi majalah Oto Driver Indonesia, menyatakan bahwa harga mobil Ferrari tipe F-12 Berlinetta di antara 13 sampai dengan 14 milyar rupiah. Pajak STNK dari mobil ini yang harus dibayar setiap tahun adalah 172 juta rupiah.

Penandaan kelas sosial termasuk dalam sistem sosial pada subsistem komunitas kemasyarakatan. Di dalam komunitas kemasyarakatan terdapat kelas-kelas sosial. Orang- orang yang berada pada kelas sosial tinggi biasanya menunjukkan kelasnya dengan kepemilikan barang mewah. Mobil Ferrari merupakan salah satu barang mewah yang dapat dijadikan penanda kekayaan seseorang. Hal inilah yang membuat kepemilikan mobil Ferrari dimasukkan ke subsistem komunitas kemasyarakatan pada sistem sosial.

Keberadaan mobil Ferrari sebagai penanda kelas sosial pada novel Edensor dapat kita lihat pada kutipan berikut ini.

“Ia manis seperti madu dan barus saja melompat dari Ferrari merah marun. Pintu mobilnya dibukakan oleh pria Afro-Amerika berjas lengkap dengan dasi serasi. Wajah pria itu menunjukkan kesediaan sepenuh hati mengumpankan tubuhnya sendiri pada peluru, jika ada penggemar obsesif menembak majikannya” (Hirata, 2008, hlm. 255).

Kutipan tersebut menceritakan seorang wanita kaya yang memiliki mobil Ferrari. Saat ia turun dari mobil, seorang pegawai kantor berjas dan dasi membukakan pintu mobil untuknya. Dengan kutipan ini penulis novel menggambarkan orang kaya dengan kepemilikan mobil mewah serta dilayani oleh anak buah yang menggunakan seragam kerja yang mewah pula.

4.1.2 Sistem Kultural dalam Novel Edensor Karya Andrea Hirata

A. Budaya Tempel Pipi Tiga Kali di Belanda

Menurut Parsons (dalam Ritzer, 2007), sistem kultural atau budaya menjadi hal yang menentukan bentuk tindakan masyarakat. Hal ini terjadi karena budaya mengandung norma dan nilai yang harus ditaati dalam menjalani kehidupan.

Masyarakat asli Belanda memiliki tradisi memberi salam dengan cara menempelkan pipi sebanyak tiga kali, yaitu pipi kanan, kiri, dan kanan lagi. Salam ini dilakukan pada situasi yang tidak formal. Biasanya dilakukan untuk membangun suasana akrab.

Huetter (2020, February 26) menjelaskan bahwa salam tempel pipi ini dilakukan warga Belanda untuk menyapa atau mengucapkan selamat tinggal kepada teman atau keluarga.

Biasanya salam dengan cara ini dilakukan oleh wanita dan wanita atau pria dan wanita.

Sesama pria tidak melakukan hal ini. Sesama pria akan memberikan salam dengan cara berjabat tangan.

(7)

258 | Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

Hoenigman (dalam Koentjaraningrat, 2009, hlm. 217) menyatakan kebudayaan memiliki tiga wujud. Wujud tersebut meliputi: 1) ide, gagasan, nilai, norma, dan peraturan;

2) aktivitas dan tindakan berpola; serta 3) benda-benda hasil karya manusia. Budaya menempelkan pipi tiga kali di Belanda termasuk dalam sistem kultural pada subsistem aktivitas. Kegiatan mengucapkan salam dengan cara menempelkan pipi sebanyak tiga kali dilakukan oleh orang tua di Belanda pada zaman dulu. Hal ini diteruskan bertahun-tahun oleh generasi penerus sehingga menjadi sebuah budaya. Namun kebiasaan ini tidak menjadi sebuah kewajiban sehingga tidak dikategorikan sebagai norma. Hal inilah yang membuat budaya menempelkan pipi tiga kali di Belanda dimasukkan ke subsistem aktivitas pada sistem kultural.

Budaya menempelkan pipi tiga kali di Belanda dapat ditemukan di novel Edensor pada kutipan “Dialah Famke Somers. Kami bersalaman. Ia memberi tempelan pipi tiga kali khas Belanda: kanan, kiri, kanan lagi, cukup menyenangkan” (Hirata, 2008, hlm. 178). Kutipan tersebut menceritakan tokoh Famke Somers yang merupakan warga negara Belanda memberikan salam khas Belanda kepada tokoh utama. Salam khas Belanda tersebut berupa proses menempelkan pipi sebanyak tiga kali di pipi lawan bicara. Pertama, pipi kanan ditempelkan ke pipi kanan. Kedua, pipi kiri ditempelkan ke pipi kiri. Ketiga, pipi kanan ditempelkan lagi ke pipi kanan.

B. Warga Belgia Menggunakan Bahasa Belanda dan Prancis

Di Kerajaan Belgia, terdapat tiga bahasa resmi yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tiga bahasa itu adalah bahasa Belanda, Prancis, dan Jerman.

Penggunaan tiga bahasa ini terbagi menjadi beberapa wilayah di Belgia. Hidayat dan Abdurrasyid (2006) menyatakan bahwa mayoritas penduduk berbahasa Prancis terletak di Belgia bagian selatan. Wilayah tersebut dikenal dengan nama Wallonia. Mayoritas penduduk berbahasa Belanda terletak di Belgia bagian Utara. Wilayah ini dikenal dengan nama Flanders. Penduduk berbahasa Jerman terletak di Wallonia bagian timur.

Hoenigman (dalam Koentjaraningrat, 2009, hlm. 217) menyatakan kebudayaan memiliki tiga wujud. Wujud tersebut meliputi: 1) ide, gagasan, nilai, norma, dan peraturan;

2) aktivitas dan tindakan berpola; serta 3) benda-benda hasil karya manusia.

Penggunaan bahasa termasuk dalam sistem kultural pada subsistem aktivitas. Penggunaan bahasa di sebuah negara termasuk kegiatan masyarakat yang menjadi budaya selama bertahun-tahun. Kegiatan tersebut dimulai oleh orang tua di zaman dulu dan diteruskan oleh para generasi penerus. Hal inilah yang membuat penggunaan bahasa Belanda dan Prancis oleh warga Belgia dimasukkan ke subsistem aktivitas pada sistem kultural.

Budaya penggunaan bahasa Belanda dan Prancis di Belgia dapat ditemukan di novel Edensor pada kutipan berikut ini.

“Kereta meluncur melintasi Utrecht dan Dordrecht, terus melaju ke luar Belanda lewat Breda, langsung ke kota kecil di pinggir Belgia, yaitu Brugge. Di sanalah akomodasi kami. Dari penduduk Belgia yang separuh berbahasa Belanda separuh Prancis, Brugge lebih Belanda” (Hirata, 2008, hlm. 57).

Kutipan tersebut menceritakan tokoh utama yang melakukan perjalanan ke kota Brugge di pinggiran negara Belgia. Di kota tersebut tokoh utama menemukan bahwa penduduk Belgia

(8)

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya| 259 lebih banyak menggunakan bahasa Belanda, tetapi tetap ada penduduk Belgia yang berbahasa Prancis.

C. Makam Orang Bunuh Diri yang Dipisah dari Makam Biasa

Sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menyatakan bahwa orang yang melakukan bunuh diri akan disiksa dengan kekal di neraka jahanam. Basalamah (2017, May 7) menjelaskan bahwa orang yang meninggal karena bunuh diri akan disiksa di akhirat dengan benda yang digunakannya untuk bunuh diri. Jika seseorang membunuh dirinya dengan pisau, dia akan menusuk dirinya terus-menerus di neraka jahanam dengan pisau tersebut.

Pulau Belitung didominasi oleh masyarakat beragama Islam. Karena bunuh diri merupakan dosa besar di dalam ajaran Islam, masyarakat Pulau Belitung sangat membenci orang yang melakukan bunuh diri. Hal ini membuat masyarakat Pulau Belitung memakamkan orang yang mati bunuh diri di tempat yang terpisah dari orang-orang yang meninggal secara wajar.

Hoenigman (dalam Koentjaraningrat, 2009, hlm. 217) menyatakan kebudayaan memiliki tiga wujud. Wujud tersebut meliputi: 1) ide, gagasan, nilai, norma, dan peraturan;

2) aktivitas dan tindakan berpola; serta 3) benda-benda hasil karya manusia. Pemisahan makam orang yang bunuh diri termasuk dalam sistem kultural pada subsistem gagasan (norma). Sebuah norma terbentuk di sebuah daerah karena ada gagasan dari para masyarakat pendahulu di daerah tersebut. Para masyarakat pendahulu di Pulau Belitung sebagian besar beragama Islam. Mereka tentu meyakini bahwa bunuh diri merupakan dosa besar, sehingga pelakunya layak diberi hukuman di dunia. Hukuman itu diberikan dalam bentuk pemisahan makam mereka dari makam orang-orang yang meninggal secara wajar. Gagasan ini diwariskan kepada generasi penerus mereka dalam bentuk norma. Generasi penerus menjalankan norma tersebut bertahun-tahun sehingga menjadi budaya. Hal inilah yang membuat pemisahan makam orang bunuh diri di Pulau Belitung dimasukkan ke subsistem gagasan pada sistem kultural.

Pemisahan makam orang bunuh diri dengan makam biasa bisa dilihat di novel Edensor pada kutipan berikut ini.

“Usungan digotong. Pemikulnya menggerutu. Seperti hidup mereka yang terbuang, kuburan para pembunuh diri itu pun dipisahkan, dikucilkan nun di sana, dekat rawa- rawa nifah, tempat gulma bergumpal-gumpal disarangi biawak. Aku diam terpancang seperti nisan-nisan kayu sekunyit yang didesaki ilalang” (Hirata, 2008, hlm. 12).

Kutipan tersebut menceritakan masyarakat Pulau Belitung sedang menguburkan jenazah orang yang bunuh diri. Para pemikul keranda jenazah terlihat tidak senang mengantarkan jenazah tersebut. Jenazah tersebut dimakamkam di tempat yang terpisah jauh dari makam biasa. Makam orang bunuh diri itu ditempatkan di dekat rawa-rawa yang penuh dengan pohon nipah dan gulma yang biasanya menjadi sarang biawak.

4.1.3 Sistem Kepribadian dalam Novel Edensor Karya Andrea Hirata

(9)

260 | Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya A. Motivasi dalam Bentuk Nasihat dari Guru

Juhji (2016, hlm. 57) menjelaskan bahwa salah satu peran guru adalah sebagai pemberi motivasi. Motivasi dari seorang guru bisa membuat prestasi para siswanya meningkat, baik di bidang pendidikan maupun di luar pendidikan. Dalam memberikan motivasi kepada siswanya, guru harus menjadi pribadi yang kreatif dan menyenangkan.

Di dalam novel Edensor, ada tokoh Pak Balia. Beliau adalah guru sastra yang mengajar tokoh Ikal di SMA. Pribadi beliau yang menyenangkan membuat para siswa menyenangi beliau. Pak Balia adalah guru yang sering memberi motivasi kepada para siswanya, terutama dalam hal menuntut ilmu sampai ke jenjang yang tinggi.

Dalam suatu adegan di novel ini, Pak Balia menyampaikan pesan yang membangkitkan semangat para siswanya. Beliau berpesan agar mereka menuntut ilmu sampai ke Universitas Sorbonne di Prancis. Pesan inilah yang menjadi motivasi bagi tokoh Ikal untuk mendapatkan beasiswa kuliah di Universitas Sorbonne, Prancis. Nasihat Pak Balia yang menjadi motivasi bagi tokoh Ikal dapat dilihat pada kutipan berikut ini.

“’Murid-muridku, berkelanalah, jelajahi Eropa, jamah Afrika, temukan mozaik nasibmu di pelosok-pelosok dunia. Tuntut ilmu sampai ke Sorbonne di Prancis, saksikan karya-karya besar Antoni Gaudi di Spanyol’

Kalimat itu adalah letupan pertama angan-angan yang menggelisahkan kami sepanjang waktu. Pungguk merindukan bulan! Tapi kepribadian Arai membuatku selalu berada di puncak Everest semangatku” (Hirata, 2008, hlm. 34).

B. Kebutuhan Menduduki Jabatan

Maslow (dalam Iskandar, 2016, hlm. 27-28) menjelaskan bahwa manusia memiliki lima tingkat kebutuhan. Tingkat pertama berupa kebutuhan fisik, tingkat kedua berupa kebutuhan rasa aman, tingkat ketiga berupa kebutuhan kasih sayang, tingkat keempat kebutuhan berupa penghargaan, dan tingkat kelima kebutuhan berupa aktualisasi diri.

Pada tingkat keempat, manusia memiliki kebutuhan berupa penghargaan. Hal yang tercakup dalam tingkat kebutuhan ini adalah pencapaian prestasi, jabatan, serta status sosial.

Pada masa 1980-an, mesin ATM belum beredar di Indonesia. Mahasiswa perantauan menerima uang kiriman orang tuanya lewat kantor pos. Orang tua mereka akan mengirim surat wesel kepada sang anak lewat kantor pos. Sang anak harus datang ke kantor pos untuk menguangkan surat wesel tersebut dengan persetujuan petugas pos.

Di dalam novel Edensor, diceritakan bahwa tokoh Ikal pernah bekerja sebagai karyawan kantor pos Bogor. Pangkatnya saat itu adalah pengatur muda pos. Dia memiliki wewenang untuk mencairkan wesel dengan nilai maksimal Rp 150.000. Wewenang tersebut membuat tokoh Ikal merasakan kenikmatan memiliki jabatan yang menentukan kepentingan orang. Hal ini tergolong kebutuhan manusia dalam kategori kebutuhan akan penghargaan, sesuai yang dijelaskan oleh teori Maslow. Kebutuhan manusia tentang penghargaan dapat dilihat pada kutipanSaat menghujam cap itu aku dilanda perasaan menjadi orang penting, dirasuki sindrom kekuasaan. Oh, Power is sweet. Sekarang aku paham kenapa orang gila kuasa” (Hirata, 2008, hlm. 41).

(10)

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya| 261 4.2 Pembahasan

Penelitian yang menggunakan objek novel Edensor pernah dilakukan oleh Iswanto dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tesisnya yang berjudul Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Novel “Edensor” Karya Andrea Hirata dan Relevansinya dengan Pendidikan Agama Islam dibuat pada tahun 2011. Dari Iswanto (2011) ditemukan bahwa novel Edensor memuat akhlak kepada Allah yang meliputi ibadah, zikir, doa, dan ketaatan pada ajaran agama. Selain itu ditemukan juga akhlak terhadap diri sendiri yang melipuiti sabar, ikhlas, optimis, mencintai ilmu, dan mandiri. Akhlak kepada lingkungan juga ditemukan, yaitu memakmurkan masjid dan menjaga kelestarian alam.

Penelitian selanjutnya yang menggunakan novel Edensor sebagai objek dilakukan oleh Ritauddinz dari Universitas Negeri Semarang. Tesisnya berjudul Sudut Pandang dalam Novel

“Edensor” Karya Andrea Hirata juga dibuat pada tahun 2011. Dari Ritauddinz (2011) didapatkan bahwa sudut pandang dapat digunakan untuk mengungkap unsur-unsur lain di dalam cerita. Sudut pandang meliputi kedalaman atau tingkat ketajaman pandangan, keluasan pandangan, serta ujaran. Unsur-unsur yang dapat diungkap oleh sudut pandang meliputi konflik batin dan sosial, latar tempat dan waktu, sifat tokoh, serta peristiwa.

Penelitian selanjutnya yang menggunakan objek novel Edensor dibuat oleh Mailarisa pada tahun 2017. Artikel ini dimuat pada jurnal elektronik milik Universitas Maritim Raja Ali Haji di Tanjung Pinang Kepulauan Riau. Artikel ini berjudul Analisis Psikologi Tokoh Utama Novel “Edensor”Karya Andrea Hirata.

Dari Mailarisa (2017) ditemukan bahwa di dalam novel Edensor terdapat 31 unsur id, 75 unsur ego, dan 23 unsur superego. Id merupakan sistem kepribadian dasar yang dibawa manusia sejak bayi. Id meliputi rasa lapar, haus, rasa ingin buang air, dan semua rasa alamiah dalam diri manusia. Ego merupakan cara manusia dalam memenuhi id. Superego merupakan aspek moral yang didapatkan manusia dari kehidupan sosial. Dengan superego, manusia akan melakukan egonya sesuai dengan norma-norma yang berlaku di lingkungan hidupnya.

Penelitian yang dilakukan oleh penulis memiliki perbedaan dengan penelitian terdahulu yang sudah dijelaskan di beberapa paragraf sebelumnya. Hal itu terjadi karena penulis menggunakan teori dasar yang berbeda dengan penelitian-penelitian tersebut.

Penelitian-penelitian tersebut membahas nilai pendidikan di dalam novel, sudut pandang cerita, serta analisis psikologi yang meliputi id, ego, dan superego. Berbeda dengan hal tersebut, penulis menemukan aspek-aspek kehidupan yang berkaitan dengan sistem sosial, sistem kultural, serta sistem kepribadian yang didasarkan pada pendapat Talcott Parsons.

Semua adegan di dalam novel yang berkaitan sistem sosial, sistem kultural, dan sistem kepribadian dikumpulkan oleh penulis. Setelah itu, semua adegan tersebut dicocokkan dengan referensi untuk membuktikan kebenarannya di dunia nyata. Jika memang adegan tersebut cocok dengan referensi, kejadian tersebut dijabarkan secara rinci agar pembaca bisa mendapat pengetahuan yang lebih luas.

KESIMPULAN

Di dalam novel Edensor karya Andrea Hirata terdapat sistem sosial, sistem kultural, dan sistem kepribadian. Ketiga sistem tersebut didapatkan dari adegan yang berlatar tempat di Indonesia dan di Eropa.

Sistem sosial yang ditemukan di dalam novel terdiri dari subsistem fiduciary, subsistem ekonomi, subsistem pemerintahan, dan subsistem komunitas kemasyarakatan. Sistem kultural

(11)

262 | Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya

yang ditemukan di dalam novel terdiri dari subistem karya, subsistem aktivitas, dan subsistem norma. Sistem kepribadian yang ditemukan di dalam novel terdiri dari motivasi dan kebutuhan.

DAFTAR RUJUKAN

Adawiyah, A. & Munsi, M. F. (2018). Mengeksplorasi Nilai-Nilai Budaya Tembang Sunda Cianjuran. Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya, 8(1), 132-143. DOI:

http://dx.doi.org/10.20527/jbsp.v8i1.4818.

Aufiya, A. M. (2019, January 8). Menikahi Pria India? Perbedaan Status Perempuan di India &

Indonesia [Video file]. Retrieved April 8, 2020 from https://www.youtube.com/watch?v=2GtUL1rc84Q&t=4s.

Basalamah, S. R. (2017, May 7). Ceramah Singkat: Lebih Buruk daripada Bunuh Diri - Ustadz Dr.

Syafiq Riza Basalamah, M.A. [Video file]. Retrieved May 1, 2020 from https://www.youtube.com/watch?v=Uea_IcsE3L0.

Endraswara, S. (2013). Metodologi Penelitian Antropologi Sastra. Ombak.

Eri, F. (2015, October 21). Ferrari F12 Berlinetta 2015 Review Indonesia [Video file]. Retrieved May 15, 2019 from https://www.youtube.com/watch?v=-JLl5qIki9M

Hidayat, A. F. & Abdurrasyid. (2006). Ensiklopedi Negara-Negara di Dunia. Pustaka Setia.

Hirata, A. (2008). Edensor. Bentang.

Huetter, A. (2020, February 26). Hey Dutchies, what’s up with the three kisses?. Dutch Review

Magazine. Retrieved April 30, 2020 from

https://dutchreview.com/culture/dutchness/dutchies-three-kisses/

Iskandar. (2016). Implementasi Teori Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow terhadap Peningkatan Kinerja Pustakawan. Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan Khizanah Al-Hikmah, 4(1), 24-34.https://doi.org/10.24252/kah.v4i1a2.

Iswanto. (2011). Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Novel “Edensor” Karya Andrea Hirata dan Relevansinya dengan Pendidikan Agama Islam. (Tesis tidak diterbitkan). UIN Sunan Kalijaga.

Juhji. (2016). Peran Guru dalam Pendidikan. Studia Didaktika, 10(1), 52-62.

http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/studiadidaktika/article/view/73/75.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Rineka Cipta.

Krippendorff, K. (2004). Content Analysis: An Introductions to its Methodology (Second Edition). Sage Publication.

(12)

Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya| 263 Mahmudi. (2013). Nilai Budaya dalam Dongeng Bakumpai. Jurnal Bahasa, Sastra dan

Pembelajarannya, 3(1), 61-77.DOI: http://dx.doi.org/10.20527/jbsp.v3i1.4485.

Mailarisa, S. N. Y. (2017). Analisis Psikologi Tokoh Utama Novel Edensor Karya Andrea Hirata.

E-Jurnal UMRAH. Retrieved April 4, 2019 from http://jurnal.umrah.ac.id/archives/6570#

Rafiek, M. (2011). Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Aswaja Pressindo.

Ritauddinz, A. A. (2011). Sudut Pandang dalam Novel “Edensor” Karya Andrea Hirata. (Tesis tidak diterbitkan). Universitas Negeri Semarang.

Ritzer, G. (2007). Teori Sosiologi Modern. Kencana.

Susilo, R. K. D. (2008). 20 Tokoh Sosiologi Modern. Ar Rozz Media.

Wulandari, N. I. (2016). Nilai Budaya Banjar pada Naskah Mamanda. Jurnal Bahasa, Sastra dan Pembelajarannya, 6(1), 103-114. DOI: http://dx.doi.org/10.20527/jbsp.v6i1.3743.

Referensi

Dokumen terkait

sastra mengenai aspek sosial yang terkandung dalam novel Padang Bulan. karya

Tesis dengan judul Kajian Kode Kultural Semiotika Roland Barthes, Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata, dan Relevansinya dengan Pembelajaran Bahasa

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan jenis-jenis konjungsi subordinatif waktu dan konsesif pada novel Edensor karya Andrea Hirata, mendeskripsikan

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan struktur yang membangun novel Edensor karya Andrea Hirata yang meliputi tema, alur, penokohan, dan latar;

ANALISIS ASPEK SOSIAL DALAM NOVEL PADANG BULAN KARYA ANDREA

Nilai-Nilai Akhlak Dalam Novel Edensor Karya Andrea Hirata Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Agama Islam.. Yogyakarta: UIN SUNAN

bentuk dan perilaku hedonisme yang ada pada novel Edensor karya Andrea Hirata.. Teknik pengkajian data dilakukan dengan analisis deskriptif

Berdasarkan hasil penelitian dan unsur-unsur psikologis tokoh utama novel Edensor karya Andrea Hirata, maka unsur psikologi Id atau aspek biologis terdapat 31,