i
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING (PjBL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA KELAS IV SDN MERUYA
UTARA 05 JAKARTA BARAT
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiah dan Keguruan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Disusun Oleh:
Nur Azizah NIM. 11190183000037
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1444 H/2023 M
LEMBAR PENGESAHAN BIMBINGAN SKRIPSI
Skripsi yang berjudul Pengaruh Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa Kelas IV SDN Meruya Utara 05 Jakarta Barat disusun oleh Nur Azizah, NIM 11190183000037, Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah yang berhak untuk diujikan pada sidang munaqasah sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh fakultas.
Jakarta, 23 Juni 2023
Yang mengesahkan,
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa Kelas IV SDN Meruya Utara 05 Jakarta Barat”. Disusun oleh Nur Azizah, NIM 11190183000037, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah dinyatakan lulus dalam Ujian Munaqasah pada tanggal 11 Juli 2023 dihadapan dewan penguji. Karena ini, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd) dalam bidang Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).
Bojongsari, 17 Juli 2023
SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH
ABSTRAK
Nur Azizah (11190183000037). “Pengaruh Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa Kelas IV SDN Meruya Utara 05 Jakarta Barat”. Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Fakultas Ilmu Tarbiah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Juni 2023.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran project based learning terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa kelas IV SD pada materi Bangun Datar Segi Banyak. Penelitian ini dilakukan di SDN Meruya Utara 05 Jakarta Barat, Tahun Pelajaran 2022/2023. Metode penelitian yang digunakan ialah quasi eksperimen dengan nonequivalent Control Group Design. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes kemampuan berpikir kreatif matematis. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang diajar dengan model Project Based Learning lebih tinggi dari pada siswa yang diajar dengan model pembelajaran problem based learning. Indikator kemampuan berpikir kreatif matematis yang diukur dengan menggunakan model pembelajaran project based learning, ialah kemampuan berpikir luwes sebesar 9,07%, kemampuan berpikir lancar sebesar 8,40%, dan kemampuan berpikir original sebesar 10,72%. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan 𝑡𝑎𝑟𝑎𝑓 𝑠𝑖𝑔𝑛𝑖𝑓𝑖𝑘𝑎𝑛𝑠𝑖 𝛼 5% . Dari hasil pengujian hipotesis diperoleh nilai 𝑠𝑖𝑔 𝑝𝑜𝑠𝑡 − 𝑡𝑒𝑠𝑡 0,000 < 0,05 artinya 𝐻0 ditolak dan 𝐻1 diterima. Sehingga dapat dinyatakan terdapat pengaruh dalam penggunaan model pembelajaran project based learning terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa. Dengan demikian dapat disimpulkan melalui penerapan model pembelajaran project based learning (PjBL) dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa kelas IV SDN Meruya Utara 05 Jakarta Barat.
Kata Kunci: model pembelajaran, project based learning, berpikir kreatif matematis.
ABSTRACT
Nur Azizah (11190183000037). "The Effect of Project Based Learning Model (PjBL) on Mathematical Creative Thinking Ability of Grade IV Students of SDN Meruya Utara 05 West Jakarta". Thesis, Department of Madrasah Ibtidaiyah Teacher Education, Faculty of Tarbiah and Keguruan Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, June 2023.
The purpose of this study was to determine the effect of project-based learning model on mathematical creative thinking ability of fourth grade elementary school students on the material of square flat buildings. This research was conducted at SDN Meruya Utara 05 West Jakarta, 2022/2023 academic year. The research method used was quasi experiment with nonequivalent control group design. The research instrument used was the mathematical creative thinking ability test. The results revealed that the mathematical creative thinking ability of students taught with the Project Based Learning model was higher than that of students taught with the problem-based learning model. Indicators of mathematical creative thinking skills measured using the project-based learning model are flexible thinking skills of 9.07%, fluent thinking skills of 8.40%, and original thinking skills of 10.72%. Hypothesis testing was carried out using a significance level of α 5%. From the results of hypothesis testing, the post-test sig value is 0.000 <0.05, meaning that 𝐻0 is rejected and 𝐻1 is accepted. So it can be stated that there is an influence in the use of project-based learning models on students' mathematical creative thinking skills. This it can be concluded that through the application of project-based learning (PjBL) learning model can improve the mathematical creative thinking ability of fourth grade students of SDN Meruya Utara 05 West Jakarta.
Keywords: learning model, project based learning, thinking mathematical creativity.
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian skripsi yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Project Based Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa Kelas IV SDN Meruya Utara 05 Jakarta Barat”.
Penyusunan penelitian skripsi ini tidak akan terlaksana tanpa adanya bantuan, dukungan serta kerja sama dari berbagai pihak yang terlibat. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada:
1. Prof. Asep Saepudin Jahar, M.A, Ph.d, selaku Rektor Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Siti Nurul Azkiyah, M.Sc., Ph.D, selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiah dan Keguruan.
3. Dr. Dindin Ridwanudin, M.Pd, selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah.
4. Tri Suryaningsih, M.Pd, selaku Sekretaris Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah
5. Fatkhul Arifin, M.Pd selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan, saran, pengarahan serta motivasi sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini
6. Ibu dan Bapak Dosen FITK UIN Jakarta khususnya Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah yang telah membekali dan memberikan ilmunya selama perkuliahan berlangsung
7. Suwandi, M.Pd B, selaku kepala sekolah SDN Meruya Utara 05 Jakarta Barat yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melaksanakan penelitian di sekolah
8. Juhri, M.Pd, selaku koordinator guru pamong yang telah membantu penulis dalam melaksanakan penelitian
9. Siti Mukholifah, S.Pd dan Nurfitryani, S.Pd, selaku guru kelas IV-A dan IV-B yang telah memberikan kesempatan penulis dalam melakukan penelitian
10. Guru beserta staff SDN Meruya Utara 05 Jakarta Barat, yang telah membantu penulis dalam melaksanakan penelitian
11. Siswa-siswi SDN Meruya Utara 05 Jakarta Barat, yang telah ikut serta membantu penulis dalam terlaksananya penelitian ini
12. Ibu Nur Hasanah dan Bapak Machpud selaku orang tua penulis yang selalu memberikan support terbaik berupa doa, motivasi, dan materi sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik
13. Arini Nur Maulidya selaku teman sebangku semasa MAN hingga saat ini yang telah menemani penulis sampai tahap ini.
14. Rekan-rekan mahasiswa angkatan 2019 yang selalu memberikan dukungan dan motivasinya
15. Teman-teman seperjuangan bimbingan Yosi, Silka, Rahma, Inda, Rika, dan Jami yang selalu memberikan dukungan dan menyemangati sehingga skripsi ini dapat selesai secara bersama- sama.
16. Teman-teman keluarga dino yaitu Ulul, Sasa, Rara, Ijeh, Lis, Aida, Sela, Abel, Icha dan Rihah yang selalu menemani penulis selama dibangku perkulihan.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan serta banyak kekurangan dan kesalahan baik dari segi tata bahasa, maupun materi yang disajikan. Dengan demikian, penulis sangat berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Jakarta, Juni 2023 Penulis
Nur Azizah
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN BIMBINGAN SKRIPSI ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH ... iv
ABSTRAK ... v
ABSTRACT ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR BAGAN ... xv
DAFTAR GRAFIK ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah... 4
C. Batasan Masalah ... 5
D. Rumusan Masalah ... 5
E. Tujuan Penelitian ... 5
F. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS ... 8
A. Deskripsi Teoritik ... 8
1. Hakikat dan Pembelajaran Matematika ... 8
2. Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis ... 12
3. Model Pembelajaran Project Based Learning ... 18
B. Hasil Penelitian Relevan ... 28
C. Kerangka Berpikir ... 30
D. Hipotesis Penelitian ... 32
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 33
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 33
B. Metode dan Desain Penelitian ... 34
1. Metode Penelitian ... 34
2. Desain Penelitian ... 34
C. Populasi dan Sampel ... 35
1. Populasi ... 35
2. Sampel ... 36
D. Teknik Pengumpulan Data ... 36
E. Instrumen Penelitian ... 37
1. Variabel Penelitian ... 37
2. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian ... 39
F. Uji Instrumen Penelitian ... 41
1. Uji Validitas ... 41
2. Uji Reliabilitas ... 42
3. Uji Taraf Kesukaran ... 43
4. Uji Daya Beda ... 44
G. Teknik Analisis Data ... 45
1. Analisis Data Deskriptif... 46
2. Analisis Data Statistik Inferensial... 46
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 49
A. Deskripsi Data ... 49
B. Pengujian Hipotesis ... 52
1. Uji Deskriptif ... 52
2. Uji Prasyarat Analisis... 56
3. Hasil Pengujian Hipotesis ... 58
C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 59
D. Keterbatasan Penelitian ... 66
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 68
A. Kesimpulan ... 68
B. Saran ... 68
C. Implikasi Penelitian ... 69
DAFTAR PUSTAKA ... 71
LAMPIRAN ... 79
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Indikator Kreativitas dan Perilaku Siswa ... 15
Tabel 2. 2 Indikator Kemampuan Berpikir Kreatif ... 16
Tabel 2. 3 Indikator Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis ... 18
Tabel 2. 4 Tabel Langkah Pembelajaran Project Based Learning ... 26
Tabel 3. 1 Agenda Penyusunan Proposal Penelitian ... 33
Tabel 3. 2 Desain Penelitian Nonequivalent Only Control Group Design ... 35
Tabel 3. 3 Kisi-Kisi Instrumen Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis ... 39
Tabel 3. 4 Pedoman Penskoran Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis ... 40
Tabel 3. 5 Uji Validitas ... 41
Tabel 3. 6 Kriteria Koefisien Reliabilitas ... 42
Tabel 3. 7 Uji Reliabilitas ... 43
Tabel 3. 8 Indeks Taraf Kesukaran ... 43
Tabel 3. 9 Uji Daya Sukar ... 44
Tabel 3. 10 Indeks Daya Pembeda ... 44
Tabel 3. 11 Uji Daya Beda Soal ... 45
Tabel 4. 1 Data Hasil KBKM Kelas Eksperimen ... 52
Tabel 4. 2 Hasil KBKM Kelas Kontrol ... 53
Tabel 4. 3 Perbandingan KBKM Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 53
Tabel 4. 4 Perbandingan Indikator KBKM Kelas Eksperimen dan Kontrol ... 55
Tabel 4. 5 Hasil Uji Normalitas ... 57
Tabel 4. 6 Hasil Uji Homogenitas ... 58
Tabel 4. 7 Hasil Uji Hipotesis ... 59
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Modul Ajar Kurikulum Merdeka Kelas Eksperimen (IV-A) ... 80
Lampiran 2 Modul Ajar Kurikulum Merdeka Kelas Kontrol (IV-B) ... 95
Lampiran 3 Desain Pembelajaran Kelas Eksperimen ... 106
Lampiran 4 Desain Pembelajaran Kelas Kontrol... 107
Lampiran 5 LKPD Kelas Eksperimen Dan Kontrol ... 109
Lampiran 6 Kisi-Kisi Instrumen Uji Coba ... 111
Lampiran 7 Pedoman Penskoran Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis ... 112
Lampiran 8 Instrumen Tes Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis ... 113
Lampiran 9 Kunci Jawaban Soal Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis ... 115
Lampiran 10 Uji Validitas Soal ... 117
Lampiran 11 Uji Daya Sukar, Uji Daya Pembeda, Uji Reliabilitas Soal ... 120
Lampiran 12 Instrumen Soal Pre-test dan Post-test ... 122
Lampiran 13 Nilai Pre-test Kelas Eksperimen ... 124
Lampiran 14 Nilai Pre-test Kelas Kontrol ... 125
Lampiran 15 Hasil Post-Test Kelas Eksperimen ... 126
Lampiran 16 Hasil Post-Test Kelas Kontrol ... 127
Lampiran 17 Uji Deskriptive ... 128
Lampiran 18 Uji Normalitas, Homogenitas, dan Independent Sample T-Test ... 129
Lampiran 19 Dokumentasi Uji Coba Soal dan Pre-test ... 130
Lampiran 20 Dokumentasi Perlakuan Kelas Eksperimen ... 131
Lampiran 21 Dokumentasi Perlakuan Kelas Kontrol ... 132
Lampiran 22 Surat Bimbingan Skripsi ... 134
Lampiran 23 Surat Tugas Validator Penelitian ... 135
Lampiran 24 Lembar Validasi Soal Penelitian ... 136
Lampiran 25 Surat Permohonan Izin Penelitian ... 138
Lampiran 26 Surat Keteragan Izin Penelitian ... 139
Lampiran 27 Uji Referensi ... 140
Lampiran 28 Hasil Turnitin ... 155
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4. 1 Kegiatan Project Siswa Kelas Eksperimen ... 61 Gambar 4. 2 Kegiatan Persentasi Hasil Project Siswa Kelas Eksperimen ... 62
Gambar 4. 3 (a) Jawaban Kemampuan Berpikir Luwes Kelas Eksperimen (b) Jawaban Kemampuan Berpikir Luwes Kelas Eksperimen .... 63
Gambar 4. 4 (a) Jawaban Kemampuan Berpikir Lancar Kelas Eksperimen (b) Jawaban Kemampuan Berpikir Lancar Kelas Kontrol ... 64
Gambar 4. 5 (a) Jawaban Kemampuan Berpikir Original Kelas Eksperimen (b) Jawaban Kemampuan Berpikir Original Kelas Kontrol ... 65
DAFTAR BAGAN
Bagan 2. 1 Langkah-Langkah Model Pembelajaran Project Based Learning ... 26 Bagan 2. 2 Kerangka Berpikir Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis ... 31
DAFTAR GRAFIK
Grafik 4. 1 Perbandingan Nilai Rata-Rata Kelas ... 54 Grafik 4. 2 Diagram Perbandingan Indikator KBKM ... 56
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan bekal awal dalam meningkatkan kualitas manusia dari berbagai aspek kehidupan sehingga manusia dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dalam kehidupan bermasyarakat. UUD Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 menerangkan bahwa, Pendidikan ialah sebuah bentuk usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam menciptakan suasana belajar selama proses pembelajaran berlangsung sehingga siswa dapat terlibat aktif dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya.1
Matematika ialah salah satu mata pelajaran yang dipelajari oleh siswa mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Matematika penting dipelajari karena dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, seperti kemampuan berpikir logis, kritis, sistematis, kreatif, analitis, dan bekerjasama2, selain itu dalam pengaplikasiannya matematika bermanfaat dalam menyelesaikan permasalahan di kehidupan nyata.3
Salah satu kemampuan yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran matematika ialah kemampuan berpikir kreatif. Kemampuan berpikir kreatif merupakan kemampuan seseorang dalam menganalisis permasalahan dari berbagai sudut pandang yang kemudian diselesaikan dengan cara matematis sehingga terciptanya ide-ide kreatif. Dengan melalui kemampuan berpikir kreatif siswa dapat mengamati suatu permasalahan dengan berbagai sudut pandang yang kemudian dikaitkan dengan pengetahuan yang dimilikinya sehingga tercipta ide-ide baru dalam
1 “UUD RI No. 20 Tentang Sistem Pendidikan Nasional,” n.d., https://luk.staff.ugm.ac.id/atur/UU20-2003Sisdiknas.pdf.
2 Arfika Riestyan Rachmantika and Wardono, “Peran Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Pembelajaran Matematika Dengan Pemecahan Masalah,” Prosiding Seminar Nasional Matematika 2, no. 1 (2019): 441.
3 Safia Tarteer and Islam Ismail, Asim, “INVESTIGATING THE POSSIBLE REASONS BEYOND STUDENTS’ LOW ACHIEVEMENT IN MATHEMATICS IN THE TAWJIHI EXAM:
A CASE STUDY,” British Journal of Education 9, no. 1 (2020): 1–4.
menyelesaikan persoalan matematika.4 Dan seseorang yang memiliki kemampuan berpikir kreatif ialah seseorang yang mampu memberikan ide baru dari setiap permasalahan yang dihadapi, sehingga ia mampu menghadapi tantangan dalam kehidupan nyata. Namun, jika seseorang tidak memiliki kemampuan berpikir kreatif ia cenderung menjadi pribadi yang mudah menyerah dan tidak pernah merasa puas.5
Hal ini, sangat penting bagi sekolah untuk melatih siswanya dalam mengembangkan kemampuan berpikir kreatif matematis agar dapat menyelesaikan suatu permasalah dengan baik. Permendikbud Tahun 2016 menyebutkan, dalam setiap satuan pendidikan kegiatan proses pembelajaran harus diselenggarakan secara interaktif, menyenangkan, inspiratif, menantang, sehingga siswa termotivasi dan ikut berperan aktif selama pembelajaran, selain itu guru juga memfasilitasi siswa dalam mengembangkan kreatifitas sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya.6 Dengan melatih kemampuan berpikir kreatif matematis akan memberikan peluang siswa dalam mengasah bakat dan minatnya serta memberikan kepuasan siswa dalam mencapai keberhasilan.
Namun, pada kenyataanya, masih banyak sekolah yang belum melatih siswanya dalam mengembangkan kemampuan berpikir kreatif matematis, hal ini dibuktikan pada hasil survey study Trend Internasional Mathematics and Science Study (TIMSS) dari tahun ke tahun yang menunjukkan rata-rata skor prestasi matematika siswa sekolah dasar Indonesia berada di bawah rata-rata atau terbilang rendah. Pada tahun 2019 lalu Indonesia berada pada peringkat ke 45 dari 48 negara dengan perolehan skor 397 yang artinya secara signifikan skor rata-rata matematika di Indonesia masih di bawah rata-rata dari skor Internasional yaitu 500. Selain itu hanya 2% siswa Indonesia yang dapat mengerjakan
4 Ika Pratiwi, Aam Amaliyah, and Candra Puspita Rini, “Analisis Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Di Kelas Iv Mi Al-Kamil Kota Tangerang,” Berajah Journal 2, no. 1 (2021): 1–5, https://doi.org/10.47353/bj.v2i1.43.
5 Putu Suardipa, “Kajian Creative Thinking Matematis Dalam Inovasi Pembelajaran,”
Purwadita: Jurnal Agama Dan Budaya 3, no. 2 (2019): 15–22.
6 Permendikbud, “Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2016 Tentang Standar Isi Pendidikan Dasar Dan Menengah,” 5 Internatinal Science § (2016).
soal dengan kategori high and advance, yang dimana untuk menyelesaikan soal tersebut membutuhkan kemampuan berpikir kreatif.7
Dan pada hasil survey PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2018 membuktikan bahwa Indonesia berada pada posisi ke 73 dari 79 negara dengan scor 379.8 Artinya, rata-rata siswa sekolah dasar di Indonesia masih kesulitan dalam menyelesaikan atau memahami permasalahan matematika. Permasalahan ini disebabkan karena sistem pendidikan di Indonesia masih menggunakan sistem pembelajaran yang sifatnya menghafal. Padahal sistem pembelajaran tersebut kurang efektif bagi siswa, seharusnya dalam pembelajaran menggunakan sistem yang bersifat menganalisis, menggabungkan, dan mengevaluasi permasalahan agar siswa dapat berpikir kreatif dalam memecahkan suatu permasalahan.9
Berdasarkan hasil observasi pada bulan September 2022, rata-rata siswa kelas IV di SDN Meruya Utara 05 Jakarta Barat belum mampu menyelesaikan soal matematika dengan berpikir secara kreatif matematis, dimana mereka cenderung berpatokan pada cara atau langkah yang diberikan oleh guru, kemudian mereka juga kesulitan dalam mengerjakan soal uraian, dan mereka juga masih kesulitan dalam menyelesaikan soal yang berbeda dari yang dicontohkan oleh gurunya.
Oleh karena itu, upaya yang dapat dilakukan sekolah ialah dengan menerapkan model pembelajaran yang efektif salah satunya seperti, model pembelajaran Project Based Learning (PjBL). Model pembelajaran project based learning (PjBL) merupakan model pembelajaran inovatif yang lebih berpusat kepada siswa sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilitator
7 Ina V.S. Mullis et al., Timss 2019 International Results in Mathematics and Science Timss
& Pirl, International Association for the Evaluation of Educational Achievement, 2019, https://www.iea.nl/sites/default/files/2021-01/TIMSS 2019-International-Results-in-Mathematics- and-Science.pdf.
8 OECD PISA, PISA 2018 Assessment and Analytical Framework, OECD Publishing, 2019, https://doi.org/10.1787/b25efab8-en.
9 Sri Munthe, Rahmadewi, “KESULITAN PROSES BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH KELAS X DI SMA NEGERI 1 NA. IX-X LABUHANBATU UTARA,” no. February (2021): 6.
dan motivator saja. Dalam model pembelajaran ini memberikan peluang kepada siswa dalam menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan kerja project sehingga secara tidak langsung siswa dilatih untuk berpikir kreatif matematis.10
Salah satu karakteristik yang harus dimiliki dalam model pembelajaran project based learning menurut Klein yaitu “requires the use of creative thinking, critical thinking, and information skills to investigate, draw” yang artinya dalam menggunakan model pembelajaran ini membutuhkan kreativitas dalam berpikir, berpikir kritis, mampu dalam menyelidiki dan menggambarkan suatu informasi. Sehingga dalam penerapannya dapat mendorong siswa untuk berpikir kreatif, kritis, dan analitis. Selain itu juga, penggunaan model pembelajaran ini memberikan peluang kepada siswa untuk meningkatkan kreativitas dalam kerja kelompok maka setiap siswa dapat saling mendukung dan memunculkan ide-ide baru yang dapat menyelesaikan permasalahan project.11
Dengan demikian, berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa Kelas IV SDN MERUYA UTARA 05 Jakarta Barat”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka permasalahan penelitian ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Kemampuan berpikir kreatif matematis siswa rendah ditandai dengan siswa kesulitan ketika diberi soal yang berbeda dari yang dicontohkan gurunya.
10 Ni Made Risa Kusadi, I Putu Sriartha, and I Wayan Kertih, “Model Pembelajaran Project Based Learning Terhadap Keterampilan Sosial Dan Berpikir Kreatif,” Thinking Skills and Creativity Journal 3, no. 1 (2020): 18–27, https://doi.org/10.23887/tscj.v3i1.24661.
11 M.Pd.I Muhammad Faturrohman, MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF Alternatif Desain Pembelajaran Yang Menyenangkan (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2015).
2. Pembelajaran matematika masih belum terlaksana dengan baik karena proses pembelajaran bersifat teacher centered.
3. Siswa kurang dilatih untuk menyelesaikan masalah berbentuk soal uraian.
C. Batasan Masalah
Agar pembahasan dapat focus dan dapat mencapai apa yang diinginkan maka permasalahan penelitian ini dibatasi pada:
1. Pembelajaran matematika masih berpusat pada guru, sehingga dalam penelitian ini dibatasi pada penggunaan model pembelajaran project based learning yang dapat membuat siswa aktif selama proses pembelajaran.
2. Kemampuan berpikir kreatif matematis siswa masih rendah, sehingga dalam penelitian ini dibatasi oleh kemampuan berpikir kreatif matematis pada materi bangun datar segi banyak.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini “Apakah model pembelajaran Project Based Learning (PJBL) dapat berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa kelas IV SDN Meruya Utara 05 Jakarta Barat?”.
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini ialah untuk menguji pengaruh model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis siswa kelas IV SDN Meruya Utara 05 Jakarta Barat.
F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk dijadikan sebagai sumber informasi dalam menjawab berbagai permasalahan yang terjadi selama proses pembelajaran terutama dalam
meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa kelas IV Sekolah Dasar dalam mata pelajaran matematika materi bangun datar segi banyak. Selain itu, penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai sumber referensi dalam merancang desain pembelajara dengan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL). Dan peneliti juga berharap dengan menerapkan model pembelajaran ini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis, dalam penelitian ini dapat bermanfaat untuk:
a. Bagi guru
Bagi guru penelitian ini diharapkan dapat membantu guru dalam mengembangkan model pembelajaran yang lebih menarik, agar siswa menjadi lebih aktif selama proses pembelajaran berlangsung, selain itu, dapat mengindetifikasi kesulitan belajar yang dialami siswa selama pembelajaran serta dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam menyelesaikan persoalan matematika.
b. Bagi siswa
Bagi siswa penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan semangat dan motivasi belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran karena dalam model pembelajaran project based learning ini dikemas secara menarik. Selain itu, model pembelajaran PjBL ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang menarik dan bermakna.
c. Bagi peneliti
Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman dalam mengelola pembelajaran matematika sehingga dapat meningkatkan kemampuan mengajar dan memberikan pengetahuan dalam mengatasi kesulitan siswa dalam menyelesaikan persoalan matematika. Selain itu, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi dalam menggunakan model pembelajaran project based learning (PjBL).
8
BAB II
KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoritik
1. Hakikat dan Pembelajaran Matematika a. Hakikat Matematika
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) hakikat artinya inti atau dasar.12 Untuk mengkaji dasar matematika dapat dilihat dari segi arti, bahasa, dan fungsi.13 Bila dilihat dari segi bahasa, kata Matematika berasal dari bahasa latin yaitu
“manthanein atau mathema” yang berarti belajar atau hal yang dipelajari, dan dalam bahasa Belanda matematika disebut dengan
“wiskunde” yang artinya ilmu pasti yang berkaitan dengan penalaran.14 Sedangkan dilihat dari fungsinya, Hudojo mengungkapkan matematika ialah ilmu yang dapat mengembangkan cara berfikir.15
Jadi, hakikat matematika ialah ilmu dasar yang mempelajari bahasa numerik berupa bilangan, simbol, ruang dan bersifat abstrak. Sehingga untuk mempelajari matematika membutuhkan penalaran.
b. Pembelajaran Matematika
1) Definisi Pembelajaran Matematika
Hudoyono dalam Erna mengungkapkan matematika merupakan ilmu pengetahuan yang dapat melatih penalaran manusia untuk dapat berfikir secara logis dan sistematis dalam menyelesaikan permasalahan serta membuat keputusan.
12 Kementerian Kebudayaan, Pendidikan, “KBBI Daring,” Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2016, https://kbbi.kemdikbud.go.id/.
13 Febrilia Anjarsari, Metode Pembelajaran Matematika Inovatif, ed. Doni Ibrahim, Marsa, Septu, Universitas Hamanwadi Press, Cetakan Pe (Lombok Timur, NTB: Universitas Hamzanwadi Press, 2017).
14 Koko Martono et al., Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran MATEMATIKA SEKOLAH MENENGAH UMUM, ed. Boediono et al., Edisi Pert (Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pendidikan Nasional, 2001).
15 Anjarsari, Metode Pembelajaran Matematika Inovatif.
Sedangkan menurut Heruman, matematika merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang dalam berfikir dengan menggunakan logika dan bernalar.16
Selain itu Rosmaiyadi mengungkapkan, matematika merupakan suatu bentuk disiplin ilmu yang memiliki ciri khas tersendiri dimana dalam penyajian materinya bersifat sistematik, deduktif, aksiomatik 17 serta memiliki konsep abstrak sehingga sulit untuk dipahami dan dipelajari secara langsung. Oleh karena itu, pembelajaran matematika memiliki peranan paling penting dalam meningkatkan kemampuan berpikir.18 Susanto dalam Lilis mengungkapkan, pembelajaran matematika merupakan bentuk proses belajar mengajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa serta meningkatkan kemampuan mengkonstruksi atau membangun pengetahuan baru guna meningkatkan penguasaan materi.19
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa, definisi matematika merupakan pembelajaran yang dijadikan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa sehingga siswa mampu menyelesaikan permasalahan yang dimilikinya.
2) Karakteristik Pembelajaran Matematika
Mata pelajaran matematika merupakan mata pelajaran berbeda dari mata pelajaran lainnya, oleh karena itu, Soedjadi dalam Susanah menyampaikan bahwa dalam mata pelajaran
16 Erna Yayuk, “Pembelajaran Matematika SD,” Universitas Muhamadiyah Malang, 2019.
17 Rosmaiyadi Rosmaiyadi, “Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa Dalam Learning Cycle 7E Berdasarkan Gaya Belajar,” AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika 6, no. 1 (2017): 12, https://doi.org/10.24127/ajpm.v6i1.722.
18 Alexandra, Gita, and Novisita Ratu, “Profile Of Mathematcal Critical Thinking Skills Junior High School Students With Graded Response Models,” Jurnal Pendidikan Matematika 7, no. 1 (2018): 103–12.
19 Lilis Sulastri, “Model Kooperatif Jigsaw Dalam Pembelajaran Matematika,” Cahaya Gani Recovery, 2022.
matematika memiliki karakteristik atau ciri tersendiri, seperti, 1) memiliki objek kajian yang abstrak, 2) bertumpu pada kesepakatan, 3) berpola pikir deduktif, 4) memiliki simbol yang kosong dari arti, 5) memperhatikan semesta pembicaraan, 6) memperlihatkan semesta pembicaraan, dan 6) konsisten dalam sistemnya.20
Dari beberapa ciri atau karakteristik pembelajaran matematika, yang menjadi ciri utamanya ialah bernalar deduktif yaitu suatu konsep kebenaran yang diperoleh dari hasil berpikir logis dan bernalar dari kebenaran sebelumnya. Karena pada dasarnya pembelajaran matematika diawali dengan pemahaman konsep secara induktif dengan melalui pengalaman maupun peristiwa yang nyata.
3) Tujuan Pembelajaran Matematika
Berdasarkan Permendikbud No. 36 Tahun 2018 tentang tujuan pembelajaran matematika siswa pada jenjang sekolah dasar dan menengah, setiap siswa harus memiliki kemampuan penalaran dalam menganalisis suatu permasalahan kemudian menuliskan hasil penyelesaian masalah tersebut ke dalam bentuk angka, tulisan, diagram, tabel dan lain sebagainya dengan jelas.21
Sedangkan tujuan pembelajaran matematika menurut Hudojo, digolongkan menjadi dua yaitu:22
1) Bersifat formal yaitu lebih menekankan siswa dalam menyusun penalaran dan membentuk kepribadian
2) Bersifat material yaitu lebih menekankan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menerapkan matematika.
Kemampuan memecahkan masalah matematika dapat digunakan dalam pelajaran lainnya maupun dalam
20 Susanah, “Matematika Dan Pendidikan Matematika,” Universitas Terbuka, 2021, 2–44.
21 Permendikbud, “Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 36 Tahun 2018 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 59 Tahun 2014,”
Permendikbud, 2018, 1–12.
22 Yuliana Susanti, “Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Media Berhitung Di Sekolah Dasar Dalam Meningkatkan Pemahaman Siswa,” EDISI : Jurnal Edukasi Dan Sains 2, no. 3 (2020): 435–48.
memecahkan masalah yang berkaian dengan kehidupan nyata seperti, kemampuan berpikir kritis, sistematis, logis, objectif, disiplin, dan jujur dalam menyelesaikan permasalahan.
Dengan ini tujuan dari pembelajaran matematika ialah untuk menekankan kemampuan siswa dalam menyelesaikan permasalahan dengan cara bernalar, berpikir kritis, kreatif, logis, objectif, disiplin, dan jujur.
3) Materi Pembelajaran Bangun Datar Segi Banyak
Materi pelajaran bangun datar ialah materi pelajaran yang mempelajari bagian-bagian dari bangun datar yang dibatasi oleh garis lurus ataupun lengkung. Jadi, definisi dari bangun datar ialah sebuah bangun rata yang memiliki dua dimensi yaitu panjang dan lebar tetapi tidak memiliki tinggi dan tebal.23 Namun bangun datar mempunyai macam, sifat, dan rumusnya masing- masing.
Terdapat empat macam kelompok bangun datar yaitu, kubus, balok, prisma dan limas. Keempat bangun datar tersebut memiliki karakteristik dan ciri-cirinya tersendiri.24
Sedangkan segi banyak ialah bangun datar tertutup yang dibentuk oleh titik dan dibatasi dengan garis lurus. Titik-titik tersebut biasa disebut dengan titik sudut dan garis lurus disebut dengan sisi. Banyak sudut segi banyak sama juga dengan banyak sisi pada segi banyak. Segi banyak terbagi menjadi dua yaitu segi banyak beraturan dan tidak beraturan.25
Segi banyak beraturan ialah segi banyak yang mempunyai sisi yang sama panjang dan titik sudut yang sama besar, contohnya persegi, segitiga sama sisi, segi enam dan lain
23 SARAH SRI RAHAYU, “Analisis Proses Pembelajaran Matematika Pada Materi Garis Dan Sudut,” Jurnal Ilmu Pendidikan Indonesia 8, no. 3 (2020): 147–52, https://doi.org/10.31957/jipi.v8i3.1338.
24 Femmi Febriayanti and Aloysius Prastowo, ENSIKLOPEDIA MATEMATIKA, Cetakan pe (Lestari Kinatarma, 2014).
25 Tim Tunas Karya Guru and Rumiyati, Pasti Bisa Matematika Untuk SD/MI Kelas IV, ed.
Dwi Hajar, Rahmayuni (Jakarta: Penerbit Duta, 2017).
sebagainya. Segi banyak tidak beraturan ialah segi banyak yang panjang sisi dan titik sudutnya tidak sama besar, contohnya seperti trapesium, layang-layang dan lain sebagainya.26
2. Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis
Berpikir merupakan suatu kemampuan alamiah yang dimiliki oleh setiap manusia sebagai bentuk penghargaan dari Tuhan Yang Maha Esa. Dengan kemampuan berpikir manusia memperoleh kedudukan yang mulia di sisi Tuhan sehingga dapat dibedakan dengan makhluk-makhluk ciptaan Tuhan lainnya.
a. Definisi Berpikir Kreatif Matematis
Berpikir merupakan suatu bentuk aktivitas pribadi manusia yang disebabkan dari sebuah penemuan sehingga menghasilkan tujuan. Melalui berpikir manusia akan mencari sebuah pemahaman untuk menyelesaikan suatu permasalahan sehingga dapat membuat keputusan.27 Terdapat beberapa kemampuan penting dalam berpikir di era abad 21 yaitu, berpikir kritis dan pemecahan masalah, komunikasi, kolaboratif, dan kreativitas atau biasa dikenal dengan 4C.28 Salah satu kemampuan yang perlu dikembangkan oleh siswa ialah kemampuan berpikir kreatif. Kemampuan berpikir kreatif sangat dibutuhkan oleh siswa untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi.
Krulik dan Rudnik mengatakan, kemampuan berpikir kreatif merupakan salah satu kemampuan tingkat tinggi seseorang dalam berpikir yang dimulai dari ingatan atau mengingat (redcall), berpikir secara mendasar (basic thingking), berpikir kritis (critical thingking) dan berpikir kreatif (creative
26 Guru and Rumiyati.
27 Maulana, “Konsep Dasar Matematika Dan Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis- Kreatif,” in Pembelajaran Matematika, ed. Riana Irawati, Cetakan ke (Sumedang: UPI Sumedang Press, 2017), 12–18.
28 Slamet Widodo and Rizky Kusuma Wardani, “Mengajarkan Keterampilan Abad 21 4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, Creativity and Innovation) Di Sekolah Dasar,” MODELING: Jurnal Program Studi PGMI 7, no. 2 (2020): 187, https://doi.org/https://doi.org/10.36835/modeling.v7i2.665.
thingking).29 Selain itu, Munandar mengungkapkan berpikir kreatif marupakan kemampuan berpikir seseorang dalam menemukan banyak jawaban atau ide terhadap suatu permasalahan.30 Kemudian Wright mengungkapkan kemampuan berpikir kreatif merupakan proses berpikir dalam mengolah ide- ide baru dan asli yang melibatkan proses berpikir divergen.31 Dan Hylock mengatakan, kemampuan berpikir kreatif seseorang dapat ditunjukkan dengan keluwesan (flexibilitas).32
Kemampuan berpikir kreatif matematis merupakan kemampuan yang terdiri dari empat aspek, yang pertema fluency (kelancaran) kemampuan yang ditunjukkan oleh siswa dalam memberikan banyak ide untuk menyelesaikan masalah matematika dengan tepat, kedua flexibility (keluwesan) kemampuan yang ditunjukkan siswa dalam memecahkan masalah dengan menggunakan cara lain, ketiga originality (keaslian) kemampuan yang ditunjukkan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika dengan caranya sendiri, keempat elaboration (kerincian) kemampuan yang ditunjukkan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika dengan cara terperinci.33
Tall menambahkan kemampuan berpikir kreatif matematis digunakan untuk memecahkan masalah dengan menggunakan penalaran deduktif yang berhubungan dengan konsep sehingga terintegrasi dalam pokok penting matematika.34 Untuk itu Rusman menjelaskan, seharusnya guru menggunakan
29 Stephen Krulik and Jesse A. Rudnick, Problem Solving: A Handbook for Elementary School Teachers., Africa’s Potential for the Ecological Intensification of Agriculture, 1988.
30 Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat / Utami Munandar, Cet. 2 (Jakarta: Rineka Cipta, 2004).
31 Susan Wright, Understanding Creativity In Early Childhood: Meaning-Making and Children′s Drawings (Singapore: Sage Publication, Ltd, 2010).
32 DEREK W. HAYLOCK, “Mathematical Creativity in Schoolchildren,” The Journal of Creative Behavior 21, no. 1 (1987): 48–59, https://doi.org/10.1002/j.2162-6057.1987.tb00452.x.
33 Umi Muti’ah, St Budi Waluya, and Mulyono, “Membangun Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Dengan Model Pembelajaran Creative Problem Solving ( CPS ) Dengan Strategi Scaffolding,” Seminar Nasional Pascasarjana 2019, 2019, 889–93.
34 David Tall, Advance Mathematical Thinkingg, ed. H Germany Bielefeld, Bauersfeld et al., Kluwer Acadeic Publishers, vol. 5 (New York: Kluwer Academic Publishers, 1991).
metode, strategi dan model pembelajaran yang bervariasi agar siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif.35
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kreatif matematis merupakan kemampuan seseorang dalam menemukan dan menyelesaikan permasalahan matematika dengan cara baru yang bersifat terbuka, mudah, fleksibel dan dapat diterima.
b. Ciri-Ciri Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis
Guilford dalam Munandar mengemukakan, untuk mengetahui tingkat kemampuan berpikir kreatif seseorang, diperlukan penilaian yang meliputi empat kriteria berpikir kreatif, seperti:36
1) Kelancaran (fluency), berpikir merupakan kemampuan untuk menghasilkan banyak ide dari pemikiran seseorang. Hal ini dapat dilihat dari siswa yang mampu memberikan banyak jawaban, mengajukan pertanyaan, lancar mengemukakan gagasan, ketika diberikan tugas lebih cepat selesai dari siswa lainnya dan peka terhadap kesalahan.
2) Keluwesan (flexibility), merupakan kemampuan dalam memberikan ide dan mampu melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam memikirkan cara yang berbeda dalam menyelesaikan permasalahan, mampu memahami gambar, cerita atau permasalahan dengan menerapkan konsep yang berbeda, dan mampu mengubah arah berpikir secara spontan.
3) Keaslian (originality), merupakan kemampuan dalam melahirkan gagasan baru dan unik dengan memikirkan cara yang luar biasa. Hal ini dapat dilihat melalui siswa mampu melahirkan hal-hal baru yang tidak pernah terfikirkan oleh
35 Ikhsan Faturohman and Ekasatya Aldila Afriansyah, “Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa Melalui Creative Problem Solving,” Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika 9, no. 1 (2020): 107–18, https://doi.org/10.31980/mosharafa.v9i1.562.
36 Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat / Utami Munandar.
orang lain, menanyakan cara yang lama kemudian memikirkan cara baru, serta memiliki pemikiran yang berbeda dari yang lain.
4) Kerincian (elaborasi), merupakan kemampuan dalam menambahkan gagasan, memperinci secara detail dari suatu objek sehingga menjadi luas dan menarik. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam mencari arti yang lebih mendalam terhadap jawaban dalam pemecahan suatu permasalahan dengan melakukan langkah-langkah yang terperinci, sehingga dapat dikembangkan gagasannya agar menjadi lebih kuat.
c. Indikator Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis
Indikator berpikir kreatif merupakan bentuk pengukuran yang digunakan dalam penelitian untuk mengukur tingkat keberhasilan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa dalam pembelajaran matematika.37 Untuk menilai kemampuan berpikir kreatif siswa, William dalam Killen mengungkapkan terdapat delapan perilaku yang ditunjukkan siswa dalam berkemampuan berpikir kreatif, yaitu:38
Tabel 2. 1 Indikator Kreativitas dan Perilaku Siswa No. Aspek Kreativitas Perilaku Siswa
1. Kelancaran (fluency) Kemampuan seseorang dalam menghasilkan ide atau produk 2. Keluwesan (flexibility) Kemampuan untuk memperoleh
pendekatan yang berbeda, membangun ide, mengambil jalan pikirannya dan mengadopsi situasi
37 Tatag Siswono, Eko, Yuli, Pembelajaran Matematika : Berbasis Pengajuan Dan Pemecahan Masalah, ed. Nita M, Nur (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2018).
38 Roy Killen and O’Toole Mitch, “Efective Teaching Strategies Lesson From Ressearch and Practice,” in Strategies Lesson, Edition 8 (Australia: Cengage Learning Australia, South Melbourne, 2013).
baru.
3. Keaslian (originality) Kemampuan untuk membangun ide yang tidak biasa dan mengubah cara dari yang nyata.
4. Kebaruan (elaboration) Kemampuan untuk
mengembangkan ide baru.
5. Risk taking Kemandirian dalam menyatakan kesalahan sendiri dan mempertahankan idenya sendiri.
6. Complexity Kemampuan dalam mencari jalan keluar dan menyelidiki masalah yang rumit.
7. Curiosity Keinginan bermain dengan ide dengan membuka situasi teka-teki dan mempertimbangkan sesuatu yang misteri.
8. Imagination Kekuatan untuk memvisualisasi dan membangun mental gambar dan maraihnya di lingkungan nyata.
Dan Munandar mengidentifikasikan terdapat empat indikator kemampuan berpikir kreatif, yaitu:39
Tabel 2. 2 Indikator Kemampuan Berpikir Kreatif
Aspek Perilaku
Kelancaran: kemampuan siswa dalam memberikan ide, jawaban, penyelesaian masalah dan memberikan banyak cara dalam melakukan banyak hal tidak hanya memikirkan satu jawaban saja.
Mengajukan banyak pertanyaan
Menjawab pertanyaan yang diajukan
Memiliki banyak ide
Lancar mengungkapkan ide
39 Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat / Utami Munandar.
Bekerja lebih cepat dari orang lain
Mampu melihat kesalahan dan kelemahan suatu objek.
Keluwesan: kemampuan seseorang dalam menghasilkan ide yang bervariasi sehingga dapat melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda dan dapat mencari solusi yang berbeda juga serta mampu mengubah cara dalam pemikirian.
Menggunakan cara yang berbeda terhadap suatu objek
Menafsirkan gambar dan permasalahan yang berbeda
Mempertimbangkan ide orang lain
Selalu bertentangan dengan orang lain dalam menyampaikan ide
Memikirkan banyak cara dalam menyelesaikan masalah
Orisinil: kemampuan seseorang dalam mengungkapkan ide yang unik dan mengkombinasikan dengan berbagai unsur yang tak lazim.
Memikirkan masalah yang tidak terpikirkan oleh orang lain
Mempertanyakan cara-cara yang lama dan memikirkan cara yang baru
Memilih cara berpikir yang lain dari pada yang lain
Mencari pendekatan yang
bauru setelah
mendengarkan ide
Bekerja untuk
menyelesaikan yang baru
Lebih senang mensintesa
daripada menganalisis.
Elaboratif: kemampuan seseorang dalam menentukan patokan penilaian sendiri, mengambil keputusan terhadap situasi yang tidak hanya mencetuskan tetapi melaksanakannya juga dan bijaksana dalam mengambil tindakan.
Menganalisis masalah
Memiliki alasan yang rasional dalam mengambil keputusan
Memberikan pertimbangan atas dasar sudut pandang sendiri
Mengungkapkan pendapat sendiri terhadap suatu hal.
Berdasarkan pendapat para ahli yang telah dijelaskan di atas, dengan ini untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif matematis siswa peneliti menyusunnya menjadi tiga indikator yang dipetik dari Munandar, yaitu:
Tabel 2. 3 Indikator Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis
Aspek Indikator
Berpikir lancar (fluency) Siswa dapat memberikan lebih dari satu gagasan jika ada pertanyaan atau soal.
Berpikir luwes (flexibility) Siswa mampu menuliskan lebih dari satu solusi atau cara penyelesaian terhadap suatu masalah.
Berpikir Original (originality) Siswa mampu menuliskan ide baru yang tidak biasa dalam menyelesaikan suatu masalah.
3. Model Pembelajaran Project Based Learning
Kegiatan proses belajar mangajar merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran. Setiap guru harus mampu mengkondisikan kelas dengan membuat pembelajaran menjadi bermakna. Dalam ilmu
keguruan yaitu pedagogik banyak hal yang dilakukan untuk mengelola kelas salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat.
a. Definisi Model Pembelajaran Project Based Learning
Zaenal dan Murtadlo mengungkapkan model pembelajaran merupakan sebuah konsep pembelajaran yang memiliki sistem dan organisasi agar terwujudnya tujuan pembelajaran yang baik. Dan Ngalimun berpendapat, model pembelajaran merupakan suatu perencanaaan pola pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.40
Jadi, model pembelajaran merupakan suatu perencanaan konsep pola pembelajaran yang memiliki sistem yang dapat digunakan sebagai pedoman pembelajaran sebelum proses belajar mengajar dimulai sehingga terwujudnya tujuan pembelajaran.
Model pembelajaran project based learning (PjBL) merupakan sebuah model pembelajaran yang pertama kali dikenalkan oleh John Dewey pada tahun 1916 dalam bukunya yang berjudul learning by doing (belajar sambil melakukan). John Dewey mengungkapkan hendaknya siswa terlibat aktif selama proses pembelajaran berlangsung, yang dimana setiap siswa tidak hanya melakukan saja melainkan melakukan penanaman gagasan pada saat melakukan. Dengan diberikannya pengalaman secara langsung materi yang diajarkan akan lebih mengena dan membekas.41
Kemudian pendapat John Dewey dikembangkan oleh salah satu muridnya yaitu, Kilpatrick dalam essainya yang
40 Ahmad Hidayat, “Menulis Narasi Kreatif Dengan Model Project Based Learning Dan Musik Instrumental Teori Dan Praktik Di Sekolah Dasar,” in Model Pembelajaran (Yogyakarta:
DEEPUBLISH (Grup Penerbitan CV BUDI UTAMA), 2021), 18–20.
41 Ali Mustadi, “Landasan Pendidikan Sekolah Dasar,” in Model Pembelajaran (Yogyakarta: UNY Press, 2020), 44–45.
berjudul the project method, ia mengungkapkan dengan menggunakan metode project dapat memberikan kebebasan siswa dalam belajar sehingga motivasi belajar siswa meningkat. Dan ia percaya bahwa siswa yang tidak diberi kebebasan dalam belajar serta diberi tugas sekolah akan membuat siswa merasa bosan, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai dengan baik.42
Selain itu, The George Lucas Education and Dopplet tahun 2005 memaparkan, model pembelajaran yang dirancang dengan menjadikan permasalahan sebagai bahan utama dimana untuk memahaminya siswa perlu melakukan sebuah penyelidikan dengan cara bereksplorasi, menilai, menginterpretasi, mengsintesis dan mendapatkan informasi guna menghasilkan sebuah jawaban.43
Dan Boud dan Felleti mengungkapkan project based learning merupakan model pembelajaran berbasis project yang menjadikan permasalahan sebagai stimulus sehingga dapat berfokus pada aktivitas belajar siswa. Blumendfeld menambahkan, model pembelajaran ini dapat menggunakan pendekatan komprehensif yang dirancang agar siswa dapat melakukan riset terhadap permasalahan yang nyata.44
Peran guru dalam model pembelajaran ini ialah hanya sebagai fasilitator yang membantu, membimbing serta membina siswa agar mempunyai keterampilan yang dapat menerapkan dan memanfaatkan pengetahuan yang pernah diterimanya dalam persoalan yang dihadapi. Dengan ini siswa dikatakan belajar
42 John Lamer, John Mergendoller, and Suzie Boss, Setting the Standard for Project Based Learning (USA: ASCD Alexandria, 2015).
43 Foundation Educational Lucas George, “Project-Based Learning (PBL),” in Project- Based Learning Is a Dynamic Classroom Approach in Which Students Actively Explore Real- World Problems and Challenges and Acquire Transferable Knowledge. (Edutopia, 2005), https://www.edutopia.org/project-based-learning.
44 Natalina Simaremare, Juni Agus; Sihombing, Lisbet Novianti; Sirait, Jumaria; Purba,
“Penerapan Metode Project Based Learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa Pada Mata Kuliah Pendidikan Bahasa Indonesia Kelas Tinggi” 03, no. 02 (2022): 82–98.
secara mandiri, aktif, dan menyenangkan sehingga tidak ada lagi belajar membosankan.45
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, model pembelajaran project based learning merupakan model pembelajaran yang menuntut siswa untuk aktif selama proses pembelajaran berlangsung dan menjadikan permasalahan dan pengalaman sebagai bahan utama dalam pembelajaran agar siswa dapat bereksplorasi dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan materi yang diajarkan akan lebih melekat.
b. Teori Belajar Model Pembelajaran Project Based Learning Dalam buku John Dewey yang berjudul learning by doing (belajar sambil melakukan) artinya model pembelajaran project based learning sangat signifikan dengan teori belajar konstruktive, dimana dalam teori belajar ini siswa melakukan belajar dengan cara menemukan.46 Jadi, setiap siswa diberikan kebebasan oleh gurunya dalam mencari pengetahuan, kompetensi dan segala hal yang dibutuhkan untuk mengembangkan dirinya secara aktif dan mandiri dengan ini guru hanya memberikan fasilitas tersebut kepada siswanya.
Vygotsky mengungkapkan, sebaiknya kegiatan belajar siswa lebih ditekankan pada interaksi sosial baik secara fisik maupun konteks sosial dan budayanya.47 Kemudian Karli mengungkapkan, pembelajaran kontruktivisme merupakan proses pembelajaran yang diawali dengan permasalahan kognitif yang dibangun dengan melalui pengalaman berdasarkan hasil interaksi dengan lingkungannya. Selain itu, Abruscato menyampaikan,
45 Yugga Tri Surahman and Endang Fauziati, “Maksimalisasi Kualitas Belajar Peserta Didik Menggunakan Metode Learning By Doing Pragmatisme By John Dewey,” Jurnal Papeda: Jurnal
Publikasi Pendidikan Dasar 3, no. 2 (2021): 137–44,
https://doi.org/10.36232/jurnalpendidikandasar.v3i2.1209.
46 Halim Simatupang, “Strategi Belajar Mengajar Abad Ke‐21,” in Cv.Cipta Media Edukasi, Cetakan Pe (Surabaya: CV Media Edukasi, 2019), Pustaka Media Guru.
47 Simatupang. hlm. 39
belajar merupakan proses membangun atau mengkonstruksi pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.48 Pengetahuan sebelumnya yang dimiliki siswa diperoleh dari pengetahuan baru atau pengetahuan selanjutnya yang terbentuk dari hasil pikirannya sendiri.
Dan Suparno menambahkan, untuk membentuk pengetahuan siswa dituntut agar terlibat aktif dalam lingkungannya, baik bergerak dalam ruang, berinteraksi dengan objek, mengamati dan meneliti serta berfikir agar perkembangan pengetahuan dan struktur terjadi.49
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, teori belajar konstruktivisme merupakan teori belajar yang dibentuk melalui pengalaman hasil interaksi dengan lingkungannya kemudian dibangun atau dikonstruksi dengan pengetahuan baru dan pengetahuan sebelumnya.
c. Karakteristik Model Pembelajaran Project Based Learning Setiap model pembelajaran memiliki karakteristik atau cirinya masing-masing, termasuk juga pada model pembelajaran project based learning. Kemendikbud memaparkan terdapat tujuh ciri atau karakteristik pada model pembelajaran ini, yaitu:50
1) Siswa diajukan permasalahan atau tantangan yang kompleks
2) Siswa merancang proses untuk menyelesaikan suatu permasalahan dengan melakukan penyelidikan
3) Siswa mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang dimilikinya dan menerapkannya pada saat melakukan pengerjaan penyelesaian project
48 Irfan Dwi Cahyanto and Mega Nur Prabawati, “Kontruktivisme Dalam Pembelajaran Matematika,” Prosiding Seminar Nasional & Call For Papers Program Studi Magister Pendidikan Matematika Universitas Siliwangi, 2019, 274–80.
49 Cahyanto and Prabawati.
50 Ibnu Mahtumi, Ine Purnamaningsih, Rahayu, and Tedi Purbangkara, “Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning),” in Model Pembelajaran (Sidoarjo: Uwais Inspirasi Indonesia, 2019), 32.
4) Siswa bekerjasama dan berdiskusi secara kelompok dengan didampingi oleh guru
5) Siswa mempraktekkan keterampilan yang dimilikinya seperti cara mengelola waktu, menjadi pribadi yang bertanggung jawab, menunjukkan keterampilan pribadi, dan belajar melalui pengalaman untuk membekali siswa di masa yang akan datang.
6) Siswa melakukan refleksi terhadap kegiatan yang telah dijalankan.
7) Guru melakukan evaluasi terhadap project yang dibuat siswa.
Berdasarkan penjelasan di atas, bahwasannya karakteristik model pembelajaran project based learning merupakan salah satu model pembelajaran yang memiliki kombinasi terbaik karena karakteristik model pembelajaran ini mencangkup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dimulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, penilaian terhadap produk yang dihasilkan. Pendapat ini juga telah disepakati oleh Zaenal dan Murtadlo, mereka mengungkapkan bahwasannya memang benar karakteristik model pembelajaran ini berbeda dari yang lain dan mereka juga membagi menjadi lima karakteristik pada model pembelajaran ini, yaitu:51
1) Sentral (Centrality), dalam model pembelajaran ini hasil project yang menjadi pusat utama dalam pembelajaran.
2) Pertanyaan pengemudi (Driving Question), dalam model pembelajaran ini bentuk project lebih berfokus pada pertanyaan atau permasalahan sehingga siswa diarahkan untuk mencari solusi dengan konsep pengetahuan yang sesuai.
51 Hidayat, “Menulis Narasi Kreatif Dengan Model Project Based Learning Dan Musik Instrumental Teori Dan Praktik Di Sekolah Dasar.” Hlm. 21
3) Investigasi konstruktif (Constructive investigation), pada model ini project yang dihasilkan siswa dibangun atau dibuat melalui pengetahuan dengan melakukan investigasi secara mandiri dan guru hanya sebagai pembimbing saja.
4) Otonomi (autonomy), model pembelajaran ini berpusat pada siswa sehingga siswa sendiri lah yang memecahkan masalah dari masalah yang sedang dibahas.
5) Realistik (realism), dalam model pembelajaran ini kegiatan siswa berfokus pada pekerjaan dan situasi yang sebenarnya sehingga aktivitas dalam model ini terintegrasi dengan tugas autentik dan menghasilkan tugas yang professional.
Berdasakan pemaparan di atas, karakteristik model pembelajaran project based learning dapat digabungkan menjadi lima, yaitu:
1) Pusat pembelajaran berupa bentuk project
2) Menggunakan permasalahan yang berhubungan dengan materi dan dunia nyata yang dapat dijadikan sebagai sumber berpikir siswa dalam mencari solusi
3) Kegiatan proses pembelajaran berpusat pada siswa
4) Kegiatan dilakukan dapat secara berkelompok maupun individu yang setiap siswanya memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan sebuah rancangan project
5) Adanya proses aktivitas, refleksi dan evaluasi yang dilakukan secara berkala.
d. Tujuan Model Pembelajaran Project Based Learning
Setiap model pembelajaran tentunya memiliki tujuan dalam penerapannya. Adapun tujuan model pembelajaran project based learning (PjBL) menurut Saefudin, ialah:52
1) Untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru 2) Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam
memecahkan masalah
3) Dapat membuat siswa menjadi lebih aktif dan kreatif dalam memecahkan masalah yang kompleks dengan hasil proyek atau produk nyata baik berupa barang ataupun jasa
4) Dapat mengembangkan dan meningkatkan keterampilan siswa dalam mengelola bahan, sumber, dan alat untuk menyelesaikan tugas
5) Dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam berkolaborasi bersama teman sekelompoknya dalam melakukan kegiatan berbentuk proyek.
e. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Project Based Learning
Secara umum setiap langkah pembelajaran harus dilakukan dengan berurutan dan sesuai dengan tahapan demi tahapan, seperti gambar kerangka di bawah ini:53
a.
52 Asis Saefuddin and Ika Berdiati, Pembelajaran Efektif, ed. Adriyani Kamsyach, Cetakan pe (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014).
53 HM Musfiqon and Nurdyansyah, PENDEKATAN PEMBELAJARAN SAINTIFIK, ed.
Nurdyansyah, Nizamia Learning Center, Cetakan pe, vol. 4 (Sidoarjo: Nizamia Learnig Center, 2015).
1 Menentukan pertanyaan mendasar
2 Menyusun perencanaan proyek
3
Menyusun jadwal
4 Monitoring 6
Evaluasi pengalaman
5 Menguji hasil
b.
Bagan 2. 1 Langkah-Langkah Model Pembelajaran Project Based Learning Berdasarkan gambar langkah pembelajaran di atas, dapat dijelaskan bahwa langkah pembelajaran pada model pembelajaran ini, yaitu:54
Tabel 2. 4 Tabel Langkah Pembelajaran Project Based Learning Langkah
Kerja
Aktivitas Guru Aktivitas Siswa
Pertanyaan Mendasar
Guru menyampaikan topik
pembelajaran dengan
mengajukan pertanyaan mendasar cara memecahkan masalah
Siswa mengajukan
pertanyaan mendasar tentang apa yang harus dilakukan siswa terhadap topik permasalahan yang dihadapi Mendesain
atau merencanakan
produk
Guru memastikan siswa duduk secara perkelompok dengan memilih dan mengetahui prosedur pembuatan produk yang akan dihasilkan
Siswa berdiskusi secara
berkelompok untuk
menyusun sebuah rencana pembuatan project guna pemecahan masalah dengan melalui pembagian tugas, persiapan alat dan bahan serta media dan sumber yang dibutuhkan.
54 Abdur Rahman, “Project Based Learning Sebagai Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Dan Keterampilan Sains Peserta Didik,” in Model Pembelajaran (Jakarta: NEM, 2022), 11.
Menyusun jadwal pembuatan
Guru bersama siswa membuat kesepakatan bersama tentang deadline jadwal pembuatan project.
Siswa menyusun jadwal deadline penyelesaian project dengan memperhatikan batas waktu yang telah disepakati bersama.
Monitoring Guru memantau keaktifan siswa selama pelaksanaan pembuatan project, memantau hasil realisasi perkembangan project, dan membimbing siswa jika ada yang mengalami kesulitan.
Siswa membuat project sesuai dengan jadwal yang telah disepakati, mencatat
setiap tahapan,
mendiskusikan bersama guru setiap permasalahan yang muncul selama penyelesaian project.
Menguji Hasil Guru berdiskusi tentang perkembangan project dengan memantau keterlibatan siswa guna mengukur ketercapaian standar
Siswa berdiskusi kelayakan project yang telah dibuat kemudian membuat laporan project untuk dipersentasikan di depan kelas.
Evaluasi Guru membimbing siswa selama proses persentasi project, menanggapi hasil, dan guru bersama siswa melakukan refleksi atau kesimpulan
Setiap kelompok siswa melakukan persentasi project, dan kelompok siswa lainnya memberikan tanggapan, guru bersama siswa menyimpulkan hasil project yang dibuat.
f. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Project Based Learning
Setiap model pembelajaran tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penerapannya, hal ini juga terjadi pada model pembelajaran project based learning, Adapun kelebihan dan kekurangan yang dimiliki pada model pembelajaran ini, yaitu:
1) Kelebihan Model Pembelajaran Project Based Learning