SKRIPSI
PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA TERHADAP AKHLAK ANAK DI DESA AJI MURNI JAYA
KABUPATEN TULANG BAWANG
Oleh:
WAHYU SAPUTRI NPM. 1399881
Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan : Pendidikan Agama Islam (PAI)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO LAMPUNG
1439 H/ 2018 M
SKRIPSI
PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA TERHADAP AKHLAK ANAK DI DESA AJI MURNI JAYA
KABUPATEN TULANG BAWANG
Diajukan untuk Memenuhi Tugas dan Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Serjana Pendidikan (S.Pd) pada
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro Oleh:
WAHYU SAPUTRI NPM. 1399881
Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan : Pendidikan Agama Islam (PAI)
Pembimbing I : Dra. Hj. Haiatin Chasanatin, MA Pembimbing II :Dr. Sri Andri Astuti, M.Ag
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO LAMPUNG
1439 H/ 2018 M
ABSTRAK
PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA TERHADAP AKHLAK ANAK DI DESA AJI MURNI JAYA
KABUPATEN TULANG BAWANG Oleh :
WAHYU SAPUTRI
Keberhasilan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga (orang tua), anggota masyarakat dan pemerintah. Pemerintah dan masyarakat menyediakan tempat untuk belajar yaitu sekolah. Sekolah menampung siswa-siswinya dari berbagai macam latar belakang tingkat pendidikan orang tua yang berbeda-beda.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apakah ada pengaruh tingkat pendidikan orang tua terhadap akhlak anak di Desa Aji Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang ?”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui “Untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan orang tua terhadap akhlak anak di Desa Aji Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang tahun 2016”.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan Angket, metode angket digunakan untuk mendapatkan data utama yang berkaitan dengan tingkat pendidikan orang tua terhadap akhlak anak di Desa Aji Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang Dokumentasi, teknik ini digunakan peneliti untuk mengambil data dari dokumentasi desa, yaitu sejarah desa, tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan masyarakat, mata pencaharian masyarakat.
Hasil analisis data diketahui bahwa terdapat pengaruh yang positif antara tingkat pendidikan orang tua terhadap akhlak anak di Desa Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang. Berdasarkan tabel distribusi frekuensi tentang pengaruh tingkat pendidikan orang tua dapat diketahui Dengan demikian dapat dipahami pengaruh tingkat pendidikan orang tua dapat dikatakan baik. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diperoleh harga Chi kuadrat (2) hitung lebih besar dari pada Chi kuadrat (2) tabel, baik pada taraf signifikasi 1% (13,277) maupun pada taraf signifikansi 5% (9,488). Dengan demikian hipotesis yang penulis ajukan dapat diterima yaitu yang berarti ada pengaruh tingkat pendidikan orangtua terhadap akhlak anak di Desa Aji Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang. Kemudian hipotesis nihil (Ho) ditolak.
MOTTO
Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasullullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21) 1
1. Departemen Agama RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, (Bandung: CV. Diponegoro, 2012), h. 336.
PERSEMBAHAN
Keberhasila ini dengan penuh rasa syukur peneliti persembahkan kepada :
1. Kedua orang tua ku, Ayahanda (Sukirman) dan Ibunda (Sumirah) tercinta yang telah memberikan kasih sayang, dorongan moriil maupun imateriil, do‟a tulus yang tiada henti-hentinya dan segalanya yang tak mungkin dapat dibalas oleh penulis, yang selalu menjadi pengobar semangat bagi penulis dalam menyelesaikan studi ini, yang selalu menjadi GURU terbaik dalam hidup penulis. Terimakasih dalam keputus asaan penulis Bapak Ibu tetap menjadi pendorong dan penyemangat yang tiada henti bagi penulis. Semoga ada surga yang kelak menjadi balasan bagi kasih sayang, cinta dan pengorbanan Bapak dan Ibu. Aamin.
2. Kakakku tersayang yang memberiku semangat agar tercapai cita-citaku, serta keluarga besarku yang selalu mendo‟akanku dan menantikan keberhasilanku 3. Teman-teman angkatan 2013 (Trimurdianti, Ayu, Risma, Damai, Atun, Dewi,
Sinta, Vera dan Kholifah) terimakasih atas semua dukungan dan bantuannya.
4. Teruntuk (Triwibowo) yang telah menyemangatiku dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Almamater tercinta Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL DEPAN ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
PERSETUJUAN ... iii
PENGESAHAN ... iv
ABSTRAK ... v
ORISINILITAS PENELITIAN ... vi
MOTTO ... vii
PERSEMBAHAN ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... x
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identivikasi Masalah ... 7
C. Batasan Masalah ... 7
D. Rumusan Masalah ... 8
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8
F. Penelitian Relevan ... 9
BAB II LANDASAN TEORI
A. Akhlak Anak ... 12
1. Pengertian akhlak ... 12
2. Dasar Akhlak ... 13
3. Macam-Macam Akhlak ... 14
4. Pengertian Anak ... 17
5. Batasan Usia Anak ... 20
6. Karakteristik Anak ... 21
B. Tingkat Pendidikan Orang Tua ... 22
1. Pengertian Tingkat Pendidikan Orang Tua ... 22
2. Tingkat Pendidikan ... 23
C. Pengaruh Tingkat Pendidikan Orang Tua terhadap Akhlak Anak ... 26
D. Kerangka Konseptual Penelitian ... 29
E. Hipotesis Penelitian ... 30
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Rancangan Penelitian ... 31
B. Variabel dan Definisi Operasional Variabel ... 33
C. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel ... 35
D. Teknik Pengumpulan Data ... 38
E. Instrumen Penelitian... 41
F. Teknik Analisis Data ... 43 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Temuan Umum ... 46
1. Deskripsi Lokasi Penelitian... 46
a. Sejarah Berdirinya Kampung ... 46
b. Letak Geografis Desa Aji Murni Jaya ... 46
c. Struktur Desa Aji Murni Jaya ... 47
d. Keadaan Penduduk desa Aji Murni Jaya ... 48
2. Deskripsi Data Hasil Penelitian ... 49
a. Akhlak Anak di Desa Aji Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang ... 49
b. Data Tentang Pengaruh Tingkat Pendidikan Orang Tua ... 58
B. Temuan Khusus ... 62
C. Pembahasan ... 66
D. Keterbatasan Penelitian ... 67
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 68
B. Saran-saran ... 68 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Kisi-kisi instrumen Variabel Penelitian Tentang Tingkat Pendidikan
Orang tua dan akhlak anak ... 41
2. Data hasil angket tentang akhlak anak di Desa Aji Murni Jaya
Kabupaten Tulang Bawang ... 50 3. Distribusi Frekuensi Hasil Angket Tentang akhlak anak di Desa Aji
Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang ... 57
4. Rakapitulasi berdasarkan Tingkat Pendidikan Orangtua... 58 5. Frekuensi tingkat pendidikan orang tua ... 61 6. Distribusi frekuensi antara tingkat pendidikan orang tua terhadap
akhlak anak di Desa Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang ... 62 7. Tabel kerja untuk mencari harga chi kuadrat ... 62
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman
1. Paradigma ... 29 2. Struktur Organisasi Desa Aji Murni Jaya ... 47
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Formulir Konsultasi Bimbingan ... 72
2. APD (Alat Pengumpul Data) ... 82
3. Surat Keterangan Bebas Pustaka ... 87
4. Surat Keterangan Bebas Prodi ... 88
5. Surat Bimbingan Skripsi ... 89
6. Surat Pra Survey ... 90
7. Surat Balasan Pra Survey ... 91
8. Surat Keterangan Penelitian ... 92
9. Surat Tugas Research ... 93
10. Surat Izin Research ... 94
11. Dokmentasi ... 95
12. Riwayat Hidup ... 97
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Anak pada dasarnya sudah mempunyai potensi dasar (fitrah) sebagai kecerendungan untuk berbuat baik. Perbuatan baik tersebut tidak serta merta datang begitu saja, harus ada orang lain yang kemudian memberikan pengajaran atau mengajari anak agar anak dapat mempunyai perilaku yang baik. Orang tualah yang selanjutnya menjadi penanggung jawab mengajarkan atau mengajari agar anak dapat mempunyai perilaku yang baik tersebut.
Sebagai mana firman Allah SWT didalalm Al-Qur‟an yaitu pada QS:Luqman ayat 17-18 yang berbunyi :
Artinya :“Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting. Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan dibumi dengan angkuh, sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri”.1
Firman Allah dalam Surat Luqman di atas memberikan penjelasan bahwa orang tua wajib menyuruh anaknya untuk melakukan shalat. Dan
1.QS. Luqman (31) : 17-18.
dengan seruan orang tua tersebut kepada anaknya bahwa orang tua telah memberikan pendidikan akhlak terhadap anaknya. Dan juga manusia tidak boleh mempunyai sikap yang sombong. Karena Allah tidak menyukai perilaku tersebut.
Pendidikan paling utama dan pertama adalah pendidikan keluarga.
Oleh karena itu orang tua sebagai subyek pendidikan dalam keluarga harus mampu meletakkan dasar-dasar kepribadian sejak dini. Utamanya adalah dasar-dasar pendidikan agama. Karena pendidikan usia dini anak lebih peka terhadap pengaruh dari pendidikannya.
Akhlak adalah setiap tindakan dan perilaku manusia dalam tinjauan baik dan buruk. Akhlak yang baik adalah akhlak yang sesuai dengan norma dan etika. Akhlak yang buruk adalah akhlak yang menentang kebaikan dari nilai-nilai norma dan etika. Untuk dapat berprilaku dengan akhlak yang baik, maka diperlukan upaya pendidikan sejak awal, dari lingkungan yang terkecil yaitu keluarga. Orang tua adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak, termasuk dalam mendidik akhlak anak. Keluarga merupakan lembaga sosial pertama yang dikenal oleh anak, dan dalam keluarga ini dapat ditanamkan sikap-sikap yang dapat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya.
Dalam pembentukan akhlak anak dari orangtua sangat diperlukan karena akhlak anak tidak bisa sempurna kecuali jika diarahkan, dibina dan di bimbing dari segala aspeknya. Aspek-aspek pendidikan agama islam dari orangtua meliputi : ”aspek aqidah, aspek ibadah, aspek akhlak dan aspek sosial masyarakat”.2
2 Zakiah Daradjat, Metode Khusus Pengajaran Agama Islam, Bumi Akasara, Jakarta, 2004, h. 59
Untuk membentuk akhlak anak, tentunya tidak dilepaskan pada kebiasaan orang tua dan pembiasaan pada anak secara rutin, continew dan selalu terkontrol. Kebiasaan-kebiasaan orang tua sebagai teladan bagi pembiasaan dan tingkah laku pada anak maka kebiasaan yang bersifat edukatif yang diulang-ulang dalam melakukannya akan membentuk akhlakul karimah pada anak. Misalnya membiasakan mengucap Basmalah, Hamdalah, Astaghfirullah, dan ucapan-ucapan lain pada tempatnya. Sebagaimana bila kita makan, berjalan dengan orang tua, cara bertamu dan lain sebagainya.
Dengan demikian akhlakul karimah yang diharapkan dapat tumbuh dalam akhlak keseharian.
Penanaman akhlak yang baik harus dimulai sedini mungkin, masa anak-anak khususnya anak usia 7-12 tahun adalah masa yang paling tepat untuk menanamkan akhlak, pada masa ini kecerendungan anak untuk mendapatkan pengarahan itu jauh lebih mudah dibandingkan dengan anak yang sudah memasuki masa dewasa. Dikatakan mudah karena pada masa anak-anak setiap perbuatan yang dilakukan oleh orang dewasa cenderung diikuti, seorang anak tidak peduli apakah perbuatan yang ditirunya baik atau tidak.
Pendidikan yang dilaksanakan dilingkungan keluarga maka orang tualah yang berperan utama dan tanggung jawab atas pendidikan anak, seperti diungkapkan oleh Zakiah Daradjat, “orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka karena dari merekalah anak mula-mula
menerima pendidikan”.3 Maka dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam lingkungan keluarga. Pendidikan yang wajib ditanamkan oleh orang tua didalam keluarga setelah pendidikan tauhid adalah pendidikan akhlak, sebab akhlak mempunyai kedudukan yang penting bagi manusia akhlak merupakan fungsionalisasi agama.
Pendidikan dinilai memiliki peran penting, dalam upaya menanamkan rasa keagamaan pada seorang anak. Kemudian melalui pendidikan pula dilakukan pembentukan sikap keagamaan tersebut. Pendidikan orang tua merupakan pendidikan dasar bagi akhlak anak, karena secara kodrat Orang tua diberikan anugerah oleh Tuhan pencipta berupa naluri Orang tua. Orang tua mempunyai tanggung jawab untuk memelihara, mengawasi, dan membimbing anaknya.
Pendidikan merupakan proses yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Dengan pendidikan ini diharapkan terbentuk manusia yang mampu membangun bangsa sendiri, baik secara lahir maupun batin yang dapat menyesuaikan diri secara aktif dalam kehidupan. Di dalam pendidikan mempunyai beberapa jenjang atau tingkatan yang harus ditempuh oleh setiap manusia dari taman kanak-kanak sampai pada perguruan tinggi.
Terutama orang tua yang merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak- anak mereka.
Keberhasilan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga (orang tua), anggota masyarakat dan pemerintah. Pemerintah dan
3 Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h..35.
masyarakat menyediakan tempat untuk belajar yaitu sekolah. Sekolah menampung siswa-siswinya dari berbagai macam latar belakang tingkat pendidikan orang tua yang berbeda-beda. Pada umumnya, anak yang berasal dari keluarga yang tingkat pendidikan orang tuanya tinggi misalnya orang tua yang telah menempuh strata I (sarjana) akan lebih banyak mendapatkan pengarahan dan bimbingan yang baik dari orang tua mereka. Karena dengan tingkat pendidikan orang tua yang tinggi, maka akan lebih banyak mendapatkan pengalaman dalam mendidik anak. Anak-anak yang berlatar belakang keluarga yang tingkat pendidikan orang tuanya rendah, kurang mendapat bimbingan dan pengarahan yang cukup dari orang tua mereka.
Karena orang tua lebih memusatkan perhatiannya pada bagaimana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Penduduk di Desa Aji Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang memiliki berbagai macam tingkat pendidikan akhir orang tua mulai dari orang tua yang tidak tamat SD hingga tamatan perguruan tinggi. Dengan berbedanya tingkat pendidikan orang tua tersebut maka berbeda pula dalam memberikan bimbingan atau pendidikan terhadap anak-anaknya. Adapun benar atau tidaknya asumsi yang penulis lakukan, maka penulis melakukan prasurvey sesuai dengan melihat tingkat pendidikan orang tua.
Berdasarkan hasil survey dan wawancara dengan orang tua anak di Desa Aji Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang pada tanggal 08 Desember 2016 di peroleh keterangan bahwa salah satu faktor yang dapat berpengaruh terhadap akhlak anak ialah pendidikan yang diberikan orang tua dan juga
tingkat pendidikan orang tua sebagai pendukungnya.4 Akan tetapi tidak semua anak yang berasal dari orang tua yang berpendidikan tinggi mampu menunjukkan akhlak yang baik, jika dibandingkan anak yang berasal dari orang tua yang berpendidikan rendah. Dan banyak anak yang berasal dari orang tua yang berpendidikan rendah anak mampu menunjukkan akhlak yang baik, hal ini ditunjukkan dari wawancara dengan anak yang berasal dari pendidikan orangtuanya tinggi menunjukkan kurang bersyukur, mempunyai sifat angkuh dan mempunyai sifat riya.5
Kedua orangtualah sebagai pendidik pertama dan utama dalam setiap keluarga, dan bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan akhlak anak, sehingga menjadi anak yang taat bertaqwa kepada Allah SWT. Berbakti kepada orang tuanya, berguna bagi agama, Nusa dan Bangsa. Disinilah orang tua dituntut agar melaksanakan kewajibannya dan perannya seoptimal mungkin untuk mendidik anaknya demi mendapatkan akhlak yang optimal.
Adapun urgensi penelitian yang penulis lakukan adalah untuk mengetahui Pengaruh Tingkat Pendidikan Orang Tua Terhadap Akhlak Anak Di Desa Aji Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan analisa dan uraian pada latar belakang masalah diatas, dapat penulis identifikasi pokok permasalahan yang ada dalam penelitian ini antara lain:
4. Wawancara penulis dengan bapak Suherman Warga di Desa Aji Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang tanggal 08 Desember 2016 PUKUL 13.30-14.30 di Kediaman Bapak Suherman.
5 Wawancara dengan sidik selaku anak dari orangtua yang berpendidikan tinggi di Desa Aji Murni Jaya pada tanggal 8 Desember 2016
1. Tingkat pendidikan orangtua yang beranekaragam tapi yang tergolong sedang, nenengah dan atas di Desa Aji Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang
2. Masih banyak anak yang akhlaknya kurang baik seperti melawan orang tua dan tidak menghiraukan arahan orang tua
C. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas, maka untuk menghindari permaslahan perlu adanya pembatasana masalah.
Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Tingkat pendidikan orangtua yang dimaksud adalah orangtua yang menempuh pendidikan formal
2. Akhlak anak kurang sabar, kurang bersyukur dan kurang jujur.
D. Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan bentuk pertanyaan yang dapat memandu peneliti untuk mengumpulkan data dilapangan.6
Berdasarkan uraian latar belakang dari penelitian ini maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: “Apakah ada pengaruh tingkat pendidikan orang tua terhadap akhlak anak di Desa Aji Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang ?”.
6.Sugiyono, Metodologi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Cet.11, (Bandung: Alfabeta, 2010), h. 288.
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah:
“Untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan orang tua terhadap akhlak anak di Desa Aji Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang”.
2. Manfaat Penelitian
a. Bagi orang tua untuk senantiasa meningkatkan bimbingan akhlak dirumah kepada anaknya sehingga hasil yang akan dicapai anak akan mendapatkan akhlak yang baik.
b. Bagi anak untuk memberikan pemahaman bahwa memiliki akhlak yang baik adalah sangat diperlukan
c. Sebagai khasanah keilmuan untuk peneliti dalam menambah keilmuan tentang pengaruh tingkat pendidikan orang tua terhadap akhlak anak.
F. Penelitian Relevan
Penelitian Relevan berisi tentang uraian mengenal hasil penelitian terdahulu tentang persoalan yang akan dikaji. Peneliti mengemukakan dan menunjukkan dengan tegas bahwa masalah yang akan dibahas belum pernah diteliti atau berbeda dengan penelitian sebelumnya.7
Setelah dilakukan penelusuran pustaka sebatas pengetahuan peneliti, terhadap karya ilmiah (skripsi) di perpustakaan IAIN Metro. Peneliti menemukan beberapa dan penelitian di ataranya:
7 STAIN Metro, Pedoman Penulisan Skripsi Karya Ilmiah Edisi Revisi, (Metro: STAIN Jurai Siwo Metro, 2013) h, 27
1. Nafisa yang berjudul pengaruh ekonomi dan tingkat pendidikaan orang tua terhadap motivasi anak melanjutkan pendidikan ketingkat SMA di Kelurahan Hadimulyo Barat Kota Metro tahun 2016. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa ekonomi yang rendah dan tingkat pendidikan orang tua yang rendah akan memberikan motivasi yang kurang terhadap anak untuk melanjutkan ketingkat SMA. Tetapi dengan ekonomi yang baik dan juga tingkat pendidikan orang tua yang lebih tinggi maka akan memberikan motivasi atau dukungan yang lebih untuk anak melanjutkan ketingkat SMA.8
2. Nurul Hidayati dengan judul pengaruh tingkat pendidikan orang tua dan lingkungan terhadap jiwa keagamaan siswa di SDN 02 Bumi Restu Kecamatan Abung Surakarta Kabupaten Lampung Utara tahun 2012/2013.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa tingkat pendidikan sangatlah penting untuk menunjang semangat. Seperti halnya tingkat pendidikan orang tua yang diteliti oleh Nurul Hidayati sangat berpengaruh terhadap pembentukan jiwa anak. Karena biasanya tingkat pendidikan orang tua tinggi maka anaknya pun akan di sekolahkan kejenjang yang lebih tinggi dengan berdasarkan pengalaman-pengalaman orang tua tersebut.
3. Arif Budi Siswanto dengan judul peran orang tua terhadap akhlak anak dalam perspektif pendidikan Islam di Desa Ogan Lima kecamatan Abung Barat Kabupaten Lampung Utara tahun 2014. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pendidikan utama yaitu dari orang tua, dengan
8Nafisa, Pengaruh Ekonomi dan Tingkat Pendidikan Orang Tua Terhadap Motivasi Anak Melanjutkan Pendidikan Ketingkat SMA, Skripsi, (Metro: Skripsi, STAIN Jurai Siwo Metro, 2016).
pendidikan baik yang diberikan orang tua maka akhlak anak pun akan baik, begitupun sebaliknya.9
Berdasarkan penelitian ketiga di atas nampaknya ada sedikit persamaan dengan penelitian yang akan penulis lakukan, dimana penelitian ke-1 dan ke-2 membahas tentang tingkat pendidikan orang tua. Dan penelitian ke-3 meneliti tentang akhlak anak, akan tetapi disamping ada persamaan dengan penelitian diatas, ada perbedaan yang nyata antara penelitian sebelumnya dengan penelitian yang akan teliti. Perbedaan tersebut terletak pada penelitian yang membahas obyek dan subyek yang berbeda dari masing- masing penelitian sebelumnya. Subyek dari penelitian ke-1, ke-2 meneliti disuatu lembaga sekolah yaitu siswa SMA dan SD, subyek penelitian ke-3 meneliti dilembaga desa yaitu masyarakat. Subyek yang ke-3 memiliki persamaan dengan subyek penelitian yang penulis lakukan. Sedangkan obyek penelitian ke-1 yaitu motivasi anak, penelitian ke-2 yaitu jiwa keagamaan siswa, dan penelitian ke-3 akhlak anak yang memiliki persamaan dengan penelitian yang penulis lakukan. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa penelitian penulis yang berjudul “pengaruh tingkat pendidikan orang tua terhadap akhlak anak di Desa Aji Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang”
sepengetahuan penulis belum pernah diteliti sebelumnya.
Berdasarkan beberapa penelitian yang relevan tersebut, maka penelitian ini lebih memfokuskan pada bagian tertentu yaitu tentang pengaruh tingkat pendidikan orang tua terhadap pembentukan akhlak anak.Tingkat
9 Arif Budi Siswanto, Peran orang tua terhadap akhlak anak dalam perspektif pendidikan Islam, Skripsi, (Metro: Skripsi, STAIN Jurai Siwo Metro 2013).
pendidikan yang dimaksud adalah jenjang pendidikan yang dimiliki oleh orang tua. Tingkat pendidikan ini selanjutnya akan mengarahkan agar mempunyai akhlak yang mulia.
BAB II
LANDASAN TEORITIK
A. Akhlak Anak
1. Pengertian akhlak
Menurut bahasa (etimologi) perkataan akhlak ialah bentuk jamak dari khuluq (khuluqun) yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabi‟at.1 Kata seperti itu tidak ditemukan dalam Al-Qur‟an. Yang ditemukan hanyalah bentuk tinggal kata tersebut yaitu khuluq yang tercantum dalam Al-Qur‟an surat Al-Qalam ayat 4. Ayat tersebut dinilai sebagai pengangkatan Nabi Muhammad Saw sebagai Rasul,
Artinya : “sesungguhnya engkau (Muhammad) berada diatas budi pekerti yang agung” (QS Al-Qalam : 4).2
Abu Ahmadi dan Noor Salimi menjelaskan bahwa “akhlak secara kebahasan bisa baik atau buruk tergantung tata nilai yang dipakai sebagai landasannya, meskipun secara sosiologis di Indonesia kata akhlak sudah mengandung konotasi baik, jadi orang yang berakhlak berarti orang yang berakhlak baik.3
1. M.Yatimin Abdullah, Studi Ahlak dalam Perspektif Al-Qur‟an, (Jakarta: Amzah, 2007), h. 2.
2. QS. Al-Qalam (68): 4.
3. Abu Ahmadi dan Noor Salimi, Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h.198
Akhlak merupakan tabiat atau sifat seseorang, yakni keadaan jiwa yang telah terlatih sehingga dalam jiwa tersebut benar-benar telah melekat sifat-sifat yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dan spontan, tanpa dipikirkan dan di angan-angan lagi.
Maksud perbuatan yang dilahirkan dengan mudah tanpa berfikir lagi disini adalah bukan berarti bahwa perbuatan tersebut dilakukan dengan tidak sengaja atau tidak di kehendaki. Jadi perbuatan-perbuatan yang dilakukan itu benar-benar sudah merupakan kehendak yang besar ingin melakukan sesuatu tindakan atau "azimah", yakni kemauan yang kuat tentang suatu perbuatan".4
Perbuatan itu memang sengaja dikehendaki adanya hanya saja karena keadaan yang demikian itu dilakukan secara kontinyu, sehingga sudah menjadi adat/kebiasaan untuk melakukannya dan karenanya timbullah perbuatan itu dengan mudah tanpa berfikir lagi.
Sedangkan pembentukan akhlak itu sendiri pada dasarnya menurut sebagian ahli akhlak tidak perlu dibentuk, namun demikian adapula pendapat yang mengatakan bahwa akhlak merupakan hasil dari pendidikan, latihan, pembinaan dan perjuangan keras dan sungguh- sungguh.5 Ibnu Maskawih, Ibnu Sina, Al-Ghazali dan lain-lain termasuk hasil usaha (muktasabah). Imam Al-Ghazali misalnya mengatakan Seandainya akhlak itu tidak dapat menerima perubahan maka batallah
4 HA. Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: CV. Pustaka Setia, 2002), h. 189
5 Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Cet 4, Rajawali Pres, Jakarta, 2002, h. 154
fungsi wasiat, nasihat dan pendidikan dan tidak ada pula fungsinya hadits Nabi yang mengatakan perbaikan akhlak kamu sekalian.6
Pendapat yang mengatakan bahwa akhlak itu tidak perlu dibentuk, beralasan bahwa karena akhlak adalah instinct (garizah) yang dibawa manusia sejak lahir. Bagi golongan ini bahwa masalah akhlak adalah pembawaan dari manusia itu sendiri yaitu kecenderungan kepada kebaikan atau fitrah yang ada pada diri manusia dan dapat juga berupa katahati atau intuisi yang selalu cenderung kepada kebenaran. Dengan pandangan seperti ini maka aklah akan tumbuh dengan sendirinya walaupun tanpa dibentuk atau diusahakan (ghair muktasabah).7
Berdasarkan pada pendapat di atas penulis mengambil pendapat yang kedua yaitu akhlak merupakan hasil dari pendidikan, latihan dan perjuangan keras dan sungguh-sungguh dalam kata lain akhlak itu perlu dibentuk, tidak terbentuk dengan sendirinya, ini juga berdasar pada kenyataan di lapangan usaha-usaha pembinaan akhlak melalui berbagai lembaga pendidikan dan melalui berbagai macam metode terus dikembangkan. Ini menunjukkan bahwa akhlak memang perlu dibina dan pembinaan ini ternyata membawa hasil berupa terbentuknya pribadi- pribadi muslim yang berakhlak mulia, ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dengan demikian pembentukan akhlak dapat diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh dalam rangka membentuk anak dengan menggunakan sarana pendidikan dan pembinaan yang terprogram dengan
6 Ibid, h. 155
7 Ibid, h. 154
baik dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan konsisten.
Pendidikan akhlak Islam berarti juga menumbuhkan personalitas (kepribadian) dan menanamkan tanggung jawab.8
Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa akhlak merupakan hasil usaha dalam mendidik dan melatih dengan sungguh- sungguh terhadap berbagai potensi rohaniah yang terdapat dalam diri manusia. Jika program pendidikan dan pembinaan itu dirancang dengan baik, sistematik dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, maka akan menghasilkan anak-anak atau orang-orang yang baik akhlaknya disinilah letak peran dan fungsi lembaga pendidikan.
2. Dasar Akhlak
Dalam hal inilah, tasawuf, pada awal pembentukannaya adalah manifestasi akhlak atau keagamaan. Moral keagamaan ini banyak disinggung dalam Al-Qur‟an dan As-Sunnah. Dengan demikian sumber pertama tasawuf adalah ajaran-ajaran Islam, sebab tasawuf ditimba dari Al-Qur‟an, As-Sunnah, dan amalan-amalan serta ucapan para sahabat.
Amalan serta ucapan para sahabat tentu saja tidak keluar dari ruang lingkup Al-Qur‟an dan As-Sunnah. Dengan begitu, justru dua sumber utama tasawuf adalah Al-Qur‟an dan As-Sunnah itu sendiri.9 Adapun dasar-dasar akhlak dalam Al-Qur‟an diantaranya adalah:
8 Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur‟an, Cet.1, (Jakarta: Amzah, 2007), h. 22
9. Solihin, Ilmu Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), h. 17-18.
Qur‟an surat shad ayat 46 :
Artinya :“sesungguhnya kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi Yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat” (QS. Shad : 46).10
Qur‟an surat al-ahzab ayat 21 :
Artinya :“sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasullullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”
(QS. Al-Ahzab:21) 11
Dasar akhlak islamiah terkandung didalam risalah yang dibawa oleh Rasullullah SAW. Risalah itu bersumberkan Al-Qur‟an dan As sunnah yang diwujudkan oleh perbuatan dan cara hidup Rasullullah sendiri. Perilaku dan cara hidup Rasullullah itu menjadi panutan dan contoh teladan untuk umat manusia agar berbuat baik.
Jadi jelaslah bahwa dasar yang harus diterapkan manusia dalam kehidupannya sehari-hari dalam bertingkah laku, dan bertindak terhadap sesamanya haruslah berdasarkan Al-Qur‟an dan hadits agar manusia dapat
10. QS. Shaad (38) : 46.
11. QS. Al-Ahzab (33) : 21
lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta. Tujuan akhlak sendiri ialah sesuatu yang dikehendaki agar menjadi individu yang baik dikalangan umat manusia maupun dihadapan tuhannya. Tujuan yang hendak dicapai dari akhlak itu sendiri adalah tentunya untuk menciptakan suatu kebiasaan atau tabiat yang baik, sehingga mampu memperoleh kebahagiaan didunia maupun diakhirat kelak.
3. Macam-Macam Akhlak
Secara garis besar, ada dua penggolongan akhlak yaitu : a. Akhlak mahmudah (akhlah baik)
b. Akhlah mazmudah (akhlak buruk)12
1) Akhlak mahmudah adalah segala macam sikap dan tingkah laku yang baik atau terpuji. Akhlak mahmudah meliputi
1. Al-amanah 2. Al-afwu 3. Al-shidiq 4. Al-wafa‟
5. Al-adl 6. Al-ifafah 7. Al-haya 8. Al-syaja‟ah 9. Al-quwwah 10. Al-shabru 11. Ar-rahman 12. Al-islah 13. As-shaka‟u 14. At-ta‟awan 15. Al-ikha 16. Adl-dhiyafah 17. Al-dliyafah 18. Al-khusuyu‟
19. Al-ikhsan
Jujur, setia Pema‟af Benar
Menepati janji Adil
Memelihara kesucian diri Malu
Berani Kuat Sabar
Kasih sayang Damai Murah hati Tolong menolong Persaudaraan Hormat
Menghormati tamu
Menundukkan diri pada allah Berbuat baik
12 M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak Dalam Prespektif Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 2003), h. 13-14
20. Al-mur‟ah 21. An-nadhafah 22. Ar-sholihin 23. Al-qona‟ah 24. As-sakinahy 25. Al-tawadhu‟
26. Ar-rifqu
Berbudi tingi
Memelihara kebersihan badan Cenderung kepada kebaikan Merasa cukup
Tenang Rendah hati Lemah lembut 13
Berdasarkan kutipan-kutipan Akhlak tersebut penulis hanya mengambil sebagian akhlak mahmudah yang penulis anggap sudah dapat mewakili untuk mendapatkan data tentang akhlak peserta didik. Akhlak mahmudah yang dipilih adalah lemah lembut patuh dan taat, disiplin, jujur dan amanah.
2) Akhlak Mazmumah
Akhlak Mazmumah adalah akhlak yang buruk yang harus dihindari dan dijauhi oleh setiap orang, sifat tercela dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu "maksiat lahir dan maksiat batin".14 Maksiat lahir yaitu segala sifat tercela oleh anggota lahir seperti tangan, mulut, mata dan lain-lain. Sedangkan maksiat batin adalah segala sifat yang tercela yang diperbuat oleh anggota batin seperti hati, dengan kata lain bahwa segala perbuatan maksiat itu akan berakibat kesengsaraan bagi dirinya dan masyarakat akhlak madzmumah meliputi :
1. An-aniah 2. Al-baqyu 3. Al-bakhlu 4. Al-bunton 5. Al-khamsu 6. Al-khianat 7. Dhulmun 8. Al-jubnu
Egoistik Lacur Kikir Dusta
Minum khamer Khianat
Aniaya Pengecut
13 Ibid, h. 13-14
14 Asmaran AS, Pengantar Study Akhlak, (Jakarta: Rajawali Press, 2002), h. 189
9. Al-tawkhisy 10. Al-qhadab 11. Al-qhosysyu 12. Al-qibah 13. Al-namimah 14. Al-ghurur 15. Al-hasad 16. Al-higdu 17. Al-ifsad 18. Al-istikbar 19. Al-kufron 20. Qatlunafsi 21. Arriba 22. Arriya 23. As sum‟ah 24. As sikriyah 25. At tabzir 26. Al-ajalah
Berbuat dosa besar Amarah
Curang Pengumpat Mengadu domba Menipu daya Menipu Dendam
Berbuat kerusakan Sombong
Mengingkari nikmat Membunuh
Makan riba Ingin dipuji
Ingin didengar kelebihannya Megolok-olok
Boros
Tergopoh-gopoh15
Berdasarkan kutipan di atas akhlak-akhlak mahmudah tersebut peneliti hanya akan mengambil sebagian akhlak mazmumah yang peneliti anggap sudah dapat mewakili untuk mendapatkan data tentang akhlak anak. Akhlak madzmumah yang dipilih adalah tidak sopan membantah, malas, bohong dan khianat.
Rosihon Anwar menjelaskan bahwa dalam menentukan macam- macam akhlak terpuji, para pakar muslim umumnya merujuk pada ketentuan Al-Qur‟an dan Al-Hadis. Ini tentunya seiring dengan konsep baik dan buruk daam pandangan Islam sebagaimana telah dipaparkan.
Sifat-sifat terpuji tersebut adalah sebagai berikut:
a. Sabar
Sabar adalah menahan diri dari dorongan hawa nafsu demi menggapai keridaan Tuhannya dan menggantinya dengan bersungguh-sungguh menjalani cobaan-cobaan Allah Swt terhadapnya. Sabar dapat didefinisikan pula dengan tahan menderita dan menerima cobaan dengan hati rida serta menyerahkan diri kepada Allah Swt setelah berusaha.
15 M. Yatimin Abdulah, Studi Akhlak., h. 15.
b. Syukur
Bentuk syukur terhadap nikmat yang Allah Swt berikan tersebut adalah jalan mempergunakan nikmat Allah Swt itu dengan sebaik-baiknya. Adapun karunia yang diberikan oleh Allah Swt harus kita manfaatkan dan kita pelhara, seperti pancaindra, harta benda, ilmu pengetahuan, dan sebagainya.
Apabila kita sudah mensyukuri karunia Allah Swt itu berarti kita telah bersyukur kepada-Nya sebagai penciptanya.
Bertambah banyak kita bersyukur, betambah banyak pula nikmat yang akan kita terima.
c. Menunaikan amanah
Amanah adalah suatu sifat dan sikap pribadi yang setia, tulus hati, dan jujur dalam melaksanakan sesuatu yang dipercayakan kepadanya, berupa benda, rahasia, ataupun tugas kewajiban.
Pelaksanaan amanat dengan baik disebut al-amin yang berarti dapat dipercaya, jujur, setia, aman.
d. Benar atau jujur
Maksud akhlak terpuji ini adalah berlaku benar dan jujur, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan. Benar dalam perkatan adalah mengatakan keadaan yang sebenarnya, tidak mengada-ngada, dan tidak pula menyembunyikannya.
e. Menepati janji
Dalam Islam, janji merupakan utang. Utang harus dibayar (ditepati). Kalau kita mengadakan suatu perjanjian pada hari tertentu, kita harus menunaikannya tepat pada waktunya. Janji mengandung tanggung jawab. Apabila tidak kita penuhi atau tidak kita tunaikan, dalam pandangan Allah Swt, kita termasuk orang yang berdosa, adapun dalam pandangan manusia, mungkin kita tidak dipercaya lagi, danggap remeh, dan sebagainya. Akhirnya, kita merasa canggung bergaul, merasa rendah diri, jiwa gelisah, dan tidak tenang.16
Berdasarkan kutipan diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa akhlak terpuji adalah akhlak yang baik, yang diantara akhlak-akhlak tersebut adalah sifat positif didalam diri seseorang. Sedangkan menurut Yatimin Abdullah sifat-sifat buruk dalam kehidupan manusia tergambar dari perkataan dan perbuatannya. Sifat-sifat buruk itu secara umum adalah sebagai berikut:
16. Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), h. 89-104.
a. Sifat dengki
Dengki ialah rasa benci dalam hati terhadap kenikmatan orang lain dan disertai maksud agar nikmat itu hilang atau berpindah kepadanya. Dengki termasuk penyakit hati dan merupakan sifat tercela, hukumnya haram, karena dapat merugikan orang lain.
b. Sifat iri hati
Kata menurut bahasa (etimologi) artinya merasa kurang senang melihat kelebihan orang lain, kurang senang melihat orang lain beruntung, cemburu dengan keberuntungan orang, tidak rela apabila orang lain mendapatkan nikmat dan kebahagiaan.
c. Sifat angkuh (sombong)
Sombong, yaitu menganggap dirinya lebih dari yang lain sehingga ia berusaha menutupi dan tidak mau mengakui kekurangan dirinya, selalu merasa lebih besar, lebh kaya, lebih pintar, lebih dihormati, lebih mulia dan lebih beruntung dari yang lain.
d. Sifat riya
Riya ialah amal yang dikerjakan dengan niat tidak ikhlas, variasinya bisa bermacam-macam. Amal itu sengaja dikerjakan dengan maksud ingin dipuji ornag lain. Riya yaitu bermal kebaikan karena didasarkan inginmendapatkan pujan orang lain, aga dipercaya orang lain, agar dicintai orang lain, karena ingin dilihat oleh orang lain.17
Akhlak tercela adalah akhlak yang tidak melaksanakan kewajiban- kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Dan seseorang yang memiliki akhlak tercela ini adalah termasuk orang yang telah merugi. Dari kedua kutipan di atas, akhlak terbagi menjadi dua yaitu akhlak terpuji dan akhlak tercela. Akhlak terpuji yaitu sabar, syukur, menunaikan amanah, benar atau jujur, dan menepati janji. Sedangkan akhlak tercela yaitu dengki, iri hati, angkuh (sombong), dan riya.
Dan sifat-sifat yang penulis akan teliti yaitu sabar, syukur, menunaikan amanah, benar atau jujur, dan menepati janji, dengki, iri hati, angkuh (sombong), dan riya.
17. M.Yatimin Abdullah, Studi Ahlak, h. 62-68.
4. Pengertian Anak
Anak merupakan amanah Allah SWT. Yang harus dijaga dan dibina. Hatinya yang suci merupakan permata yang sangat mahal harganya. Ia membutuhkan pemeliharaan, penjagaan, kasih sayang, dan perhatian. Cara memeliharanya dengan pendidikan akhlak yang baik. Oleh karena itu, orang tua memegang faktor kunci yang bisa menjadikan anak tumbuh dengan jiwa islami, sebagaimana sabda Rasullullah, “Telah menyampaikan kepada kami Abi Zib‟in dari Az-Zuhri dari Abi Salamah bin Abdirrahman dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, „Bersabda Rasullullah SAW, “setiap anak dilahirkan di atas fitrahnya maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi”.
Dari hadis ini dapat dipahami, begitu pentingnya peran orang tua dalam membentuk kepribadian anak pada masa yang akan datang. Dalam Al-Quran surat Luqman ayat 16 :
Artinya : “(Luqman berkata), „Wahai anakku ! sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau bumi, nisaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah mahahalus, mahateliti”. (Q.S. Luqman [31] : 16)
Dari ayat tersebut dapat diambil hikmahnya bahwa orang tua hendaknya memerhatikan anak dari segi Muraqabah Allah SWT, yakni dengan menjadikan anak merasa bahwa Allah selamanya mendengar bisikan dan pembiaraannya, melihat setiap gerak-geriknya serta mengetahui yang dirahasiakan dan disembunyikan.18
Anak merupakan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa wajib dilindungi dan dijaga kehormatan, martabat dan harga dirinya secara wajar, baik secara hukum, ekonomi, politik, sosial, maupun budaya tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan. Dalam sejumlah ayat al- Qur‟an ditegaskan bahwa anak adalah:
Artinya: “…dan kami membantu dengan harta kekayaan dan anak, dan kami jadikan kamu kelompok yang benar”.(QS. Al Isra‟: 6).19
Anak adalah manusia atau orang yang belum dewasa, anak adalah anugerah dari Allah SWT sekaligus titipan atau amanah bagi orang tua yang harus dijaga, dimana orang tua juga memiliki tanggung jawab kepada anaknya dalam berbagai hal, baik pemeliharaan, pendidikan, dan juga akhlak anak.
Seara umum dikatakan adalah seorang yang dilahirkan dari perkawinan antara seorang perempuan dengan seorang laki-laki dengan
18. Dindin Jamaluddin, Paradigma Pendidikan Anak dalam Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 2013), h. 37-38.
19. Mufidah Ch, Psikologi Keluarga Islam Berwawasan Gender, (Malang: UIN-Malang, 2008), h. 299-300.
tidak menyangkut bahwa seseorang yang dilahirkan oleh wanita meskipun tidak pernah melakukan pernikahantetap dikatakan anak.20 Menurut UU RI No.21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang Pasal 1 angka 5 “anak adalah seseorang yang masih dalam kandungan”.
Dalam sudut pandang yang dibangun oleh Agama khususnya dalam hal ini adalah Agama Islam, anak merupakan makhluk yang dhaif dan mulia, yang keberadaannya adalah kewenangan dari kehendak Allah SWT dengan melalui proses peniptaan.21 Oleh karena anak mempunyai kehidupan yang mulia dalam pandangan Islam, maka anak harus diperlakukan seara manusia seperti diberi nafkah baik lahir maupun batin, sehingga kelak anak tersebut tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia seperti bertanggung jawab dalam mensosialisasikan dirinya untuk menapai kebutuhan hidupnya dimasa mendatang.
Dari berbagai pendapat diatas maka dapat dipahami bahwa anak adalah makhluk iptaan Allah yang harus diakui keberadaannya, dilindungi, dan juga diberikan pendidikan agar kelak anak tersebut mempunyai akhlak yang baik.
5. Batasan Usia Anak
Anak dilahirkan dengan membawa fitrah yang seimbang dan sehat.
Kedua orang tuanya yang memberikan agama kepada mereka. Demikian
20. Andi Lesmana, “Definisi Anak”, dalam http:andibooks.wordspress.om/dcefinisi-anak/
di unduh pada 25 Juli 2017.
21 Ibid
pula anak dapat terpengaruh sifat-sifat yang buruk.22 Islam memandang anak sebagai amanah yang harus dijaga kefitrahannya melalui pendidikan dan keteladanan dari orangtua dan lingkungan sekitarnya. Karakter anak sebagai peniru dan pecontoh berbagai tindakan di luar dirinya seringkali rentan dengan pengaruh negatife dari luar.
Berkaitan dengan fase-fase perkembangan anak dalam menjalani kehidupannya, dalam hal ini terdapat beberapa pendapat para ahli psikologi perkembangan tentang batasan dan klasifikasi umur anak.
Aristoteles sebagaimana dijelaskan oleh Agoes Soejanto menggambarkan perkembangan anak sejak lahir sampai dewasa dalam tiga periode :
0,0 - 7,0 - masa anak kecil - masa bermain 7,0 - 14,0 - masa anak – masa belajar
14,0 - 21,0 - masa pubertas – masa menuju dewasa.23 Sedangkan Montesori sebagaimana dikutip oleh Agoes Soejanto menggambarkan perkembangan anak dalam empat fase, yaitu
0,0 - 7,0 - disebut periode penerimaan dan pengaturan luar indera
7,0 - 12,0 - disebut periode rencana abstrak, pada masa ini anak mulai mengenal kesusilaan
12,0 -18,0 - disebut penemuan diri dan kepekaan masa sosial.
18,0 - …. - disebut periode mempertahankan diri terhadap perbuatan-perbuatan negatife.24
Berdasarkan bebrapa tahap perkembangan anak sebagaimana diuraikan di atas, maka akan menjadi acuan peneliti dalam penelitian ini
22.syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2006), h. 10.
23. Agoes Soejanto, Psikologi Perkembangan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2005), h. 54.
24. Ibid, h.55
adalah anak yang tengah menjalani fase perkembangan antara usia 7,0 sampai dengan 12,0 tahun. Pertimbangan peneliti dalam hal ini dikarenakan pada fase tersebut anak mulai dapat memahami konsep- konsep yang bersifat abstrak, terutama yang berkaitan dengan konsep ke- Tuhanan. Selain itu pada fase ini anak mulai mengenal norma kesusialaan dan tata karma.
6. Karakteristik Anak
Karakteristik anak dan tingkah polanya memang sering kali tidak bisa ditolak tetapi terkadang juga sangat sulit untuk dipahami dan dimengerti oleh orang-orang disekitarnya.
Pada usia sekolah dasar, anak sudah (6-12 tahun) anak sudah dapat mereaksi rangsanagan imtelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif. Pada sekolah dasar, anak sudah dapat mengikuti pertautan tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini anak sudah dapat memahami alasan yang mendasari suatu peraturan. Disamping itu, anak sudah dapat mengasosiasikan setiap bentuk perilaku dengan konsep benar-salah atau baik-buruk.
Misalnya, dia memandang atau menilai bahwa perbuatan nakal, berdusta, dan tidak hormat kepada orangtua merupakan suatu yang salah atau buruk. Sedangkan perbuatan jujur, adil, dan sikap hormat kepada orangtua dan guru merupakan suatu yang benar atau baik.25
Jadi pada usia mulai 7 tahun, anak sudah bisa menerima apa-apa yang diberikan orang dewasa atau orang tua, maka mendidik dan mengasuh anak dalam hal pembentukan kepribadian wajib diberikan pada anak usia 7 sampai 12 tahun agar anak memiliki kepribadian yang baik, terutama dalam keagamaannya.
25. Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan. h. 178-182.
B. Tingkat Pendidikan Orang Tua
1. Pengertian Tingkat Pendidikan Orang Tua
Dalam kamus Umum Bahasa Indonesia, tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan yang dialami dalam suatu lembaga formal maupun (informal). Sedangkan orang tua diartikan ayah-ibu kandung.26 Tingkat pendidikan sering disebut sebagai jenjang pendidikan. Menurut Fuad Ihsan, Jenjang pendidikan adalah tahap pendidikan yang berkelanjutan, yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tingkat kerumitan bahan pengajaran dan cara menyajikan bahan pengajaran.27
Adapun tingkat pendidikan orang tua yang dimaksud disini adalah jenjang pendidikan formal yang dialami orang tua yaitu tingkat
pendidikan dasar (lulusan SD/MI dan SMP/MTS), tingkat pendidikan menengah (SMA/MA/SMK atau lainnya yang sederajat) dan tingkat pendidikan tinggi (perguruan tinggi, diploma atau sarjana), jenjang pendidikan informal dan jenjang pendidikan non formal.
2. Tingkat Pendidikan
Berdasarkan Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 dalam Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana, sebagai berikut :
1) Jenjang pendidikan Dasar
Jenjang pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah, yaitu jenjang dari SD/MI yang ditempuh selama 6 tahun. Dan sekolah lanjut tingkat pertama (SLTP) yang ditempuh selama 3 tahun. Dengan demikian jenjang pendidikan dasar ditempuh selama 9 tahun.
26. Tim penyusun kamus pusat bahasa, KBBI, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hal. 802
27. Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), h. 22
2) Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.
Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dari pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) adalah bentuk lain yang sederajat.
3) Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan Diploma, Sarjan, dan Dokter yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Perguruan tinggi dapat berbentuk akademik, politeknik, sekolah tinggi, institute dan universitas.28
Menurut Fuad Ihsan tingkat pendidikan atau jenjang pendidikan sekolah terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi:
a. Pendidikan dasar
Taman kanak-kanak merupakan lembaga pendidikan prasekolah yang mempunyai masa program belajar paling lamatiga tahun, menjelang anak umur 7 tahun dan merupakan satu kesatuan. Pertumbuhan dasar seorang anak selama umur pra sekolah (1-6 tahun) amat menentukan perkembangan lebih lanjut. Dalam pada itu perluasan dan penyebaran taman kanak- kanak perlu dilaksanakan oleh masyarakat sebagai suatu gerakan nasional. Perlu pula ditekankan bahwa pendidikan anak-anak pada usia tersebut terutama adalah tanggung jawab keluarga.
b. Pendidikan menengah
Pendidikan menengah terdiri dari sekolah menengah umum dan sekolah menengah kejuruan, sekolah menengah umum diselenggarakan dengan masa program belajar 3 tahun.sekolah menengah umum terdiri dari sekolah menengah tingkat pertama (SMTP) dan sekolah menengah tingkat atas (SMTA).
Khusus di SMTA menginjak tahun ke 2 diadakan penjurusan.
c. Pendidikan tinggi
Pendidikan tinggi mempunyai tujuan majemuk, dalam rangka kebutuhan masyarakat yang beraneka ragam, dan menampung calon mahasiswa yang minat dan kemampuannya berbeda- beda karena itu perguruan tinggi di Indonesia disusun dalam
28 Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana, Konsep Strategi Pembelajaran, (Bandung: PT.
Rafika Aditama, 2012). h. 212-213
struktur multi strata. Setiap universitas / perguruan tinggi, akademik, membuka program sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan dimasyarakat dengan lama studi yang berbeda- beda. 29
Menurut UU Nomor 20 Tahun 2004, jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
a. Penddikan dasar, terdiri dari Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTS).
b. Pendidikan menengah terdiri dari Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah Aliyah (MA), dan Seklah Menengah kejuruan (SMK) atau Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).
c. Pendidikan tinggi terdiri dari akademi, institute, Sekolah Tinggi, dan Universitas.30
Jenjang lembaga pendidikan formal:
Pendidikan Tinggi
Umum SMTA
Pendidikan menengah Kejuruan
SMTP Umum
Kejuruan SD
Pendidikan dasar
TK.31
Berdasarkan kutipan di atas dapat dipahami bahwa tingkat pendidikan dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia mencakup pendidikan dasar, di dalam pendidikan dasar terbagi manjadi dua jenis
29. Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, h. 23-29..
30. Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), h.
53.
31. Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2015), h.
163.
yaitu Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD), sedangkan pada tingkat pendidikan menengah terbagi atas SMTP dan SMTA, kemudian meningkat pada jenjang pendidikan keatas pada tingkat Pendidikan Tinggi. Dari semua jenjang pendidikan baik menengah maupun pendidikan tinggi yang semuanya mempunyai tujuan yang sama yaitu untuk mengembangkan potensi anak agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
C. Pengaruh Tingkat Pendidikan Orang Tua terhadap Akhlak Anak
Tingkat pendidikan terdiri dari dua kata, yaitu tingkat dan pendidikan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tingkat mempunyai arti susunan yang berlapis-lapis atau berlenggek-lenggek.32 Tingkat pendidikan sering disebut sebagai jenjang pendidikan. Menurut Fuad Ihsan, “Jenjang pendidikan adalah tahap pendidikan yang berkelanjutan, yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tingkat kerumitan bahan pengajaran dan cara menyajikan bahan pengajaran”.33
Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan.
Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Orang tua ibu dan ayah memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya.34
32Departemen Pendidikan Nasional, Op.Cit., h.1469
33 Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2003), h.22
34. Zakiah Daradjat, dkk. Ilmu Pendidikan, h. 35.
Peranan orang tua sangat berpengaruh dalam mendidik anak-anaknya, terutama di dalam pendidikan agama Islam. Anak merupakan bagian dari masyarakat yang dipundaknya terpikul beban pembangunan pada masa mendatang, dan sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, orang tua harus lebih memperhatikan, membimbing, dan mendidik dengan baik, sehingga tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat.35
Berdasarkan kutipan-kutipan di atas dapat dipahami bahwa orangtua merupakan pendidikan pertama bagi anak-anaknya, orangtua mempunyai kontribusi sangat besar terhadap pendidikan anak, oleh sebab itu orangtua harus benar-benar memperhatikan perkembangan anaknya, orangtua harus bisa mendidik dan membimbingnya dengan baik.
Menurut perspektif Islam, pendidikan anak adalah proses mendidik, mengasuh, dan melatih jasmani dan rohani mereka yang dilakukan orang tua sebagai tanggung jawabnya terhadap anak dengan berlandaskan nilai baik dan terpuji yang bersumber dari Al-Qur‟an dan Sunnah. Dalam Islam sistem pendidikan keluarga ini dipandang sebagai penentu masa depan anak. Sampai- sampai diibaratkan bahwa surga neraka anak tergantung terhadap orang tuanya.36
Berdasarkan kutipan di atas dapat penulis pahami bahwa orang tua memiliki tanggung jawab mengasuh dan mendidik anak-anaknya dengan berlandaskan Islam, karena pada dasarnya anak di lahirkan dalam keadaan
35. Dindin Jamaluddin, Paradigma Pendidikan Anak dalam Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2013), h. 135-136.
36M. Nippan Abdul Halim, Anak Sholeh Dambaan Keluarga, (Yogyakarta: Mirna Pustaka, 2003), h. 87.
yang fitrah dan peran orang tua sebagai pendidikan yang pertama yang menentukan terhapan pendidikan anaknya.
Orang tua haruslah mengajarkan nilai dengan berpegang teguh pada akhlak yang baik semenjak anak masih kecil, dan orang tua harus senantiasa mengajarkan, mempraktikkan serta mengawasi agar anak senantiasa berakhlak yang baik, ada beberapa kewajiban serta peran keluarga dalam hal ini adalah orang tua terhadap pendidikan akhlak anak yaitu :
1. Memberi contoh kepada anak dalam berakhlak mulia. Sebab orang tua yang tidak berhasil menguasai dirinya tentulah tidak sanggup meyakinkan anak-anaknya untuk memegang akhlak yang diajarkannya, maka sebagai orang tua harus terlebih dahulu mengajarkan pada dirinya sendiri tentang akhlak yang baik sehingga bar bisa memberikan contoh pada anak-anaknya.
2. Menyediakan kesempatan kepada anak untuk mempraktikkan akhlak mulia, dalam keadaan bagaimanapun sebagai orang tua akan mudah saja ditiru oleh anak-anaknya, dan gurupun sebagai wakil orang tua merupakan orang tua yang akrab bagi anak.
3. Memberi tanggung jawab sesuai dengan perkembangan anak. Pada awalnya orang tua harus memberikan pengertian dulu, setelah itu baru diberikan suatu kepercayaan pada anak itu sendiri.
4. Mengawasi dan mengarahkan anak agar selektivitas dalam bergaul.
Orang tua tetap memberikan perhatian kepada anak-anak, dimana dan kapanpun orang tua harus selalu mengawasi dan mengarahkan anak.37
Hal tersebut diatas harus mampu dilakukan oleh orang tua agar anak- anaknya yang menjadi tanggung jawabnya memiliki akhlak yang baik dan mulia serta dengan bekal akhlak yang baik tersebutlah anak anak mampu untuk berinteraksi dengan siapapun, lingkungan maupun tempat bermainnya.
Islam pada dasarnya telah mendudukkan bahwa orang tua sangat berperan
37. Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), h. 278, h. 272-273.
besar terhadap anaknya. Baik buruk pribadi dan perilaku anak sangat bergantung kepada orang tuanya.
D. Kerangka Konseptual Penelitian
Pokok dalam penelitian ini mengetahui akhlak anak dari tingkat pendidikan orang tua. Melalui tingkat pendidikan orang tua maka akhlak anak akan diketahui. pemberian reward kepada anak tujuan untuk menumbuhkan motivasi dan motivasi akan hasilnya baik. Akhlak anak ke tingkat pendidikan orangtua. Melalui tingkat pendidikan orangtua akhlak anak diketahui.
Akhlak anak diketahui dari tingkat pendidikan orang tua. Tetapi ada pengecualian bahwa tidak semua orang tua yang menempuh pendidikan tinggi maka akhlak baik, ataupun sebaliknya orangtua yang menempuh pendidikan rendah akhlak anak buruk.
Adapun paradigma dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1 Paradigma
Tingkat Pendidikan
Orang Tua
PT
SMA
SMP
SD
Akhlak Anak
Baik
Cukup
Kurang
H I P O T E S I S
Berdasarkan paradigma di atas dapat dipahami bahwa tingkat pendidikan orang tua berpengaruh terhadap akhlak anak. Apabila tingkat pendidikan orang tua tinggi maka akhlak anak baik, sedangkan apabila tingkat pendidikan orang tua yang menengah maka akhlak anaknya cukup, dan apabila tingkat pendidikan orang tua yang dasar maka akhlak anaknya kurang.
Tetapi tetap perlu diingat bahwa tetap saja ada pengecualian. Bahwa tidak semua orang tua yang menempuh pendidikan tinggi maka akhlak baik, ataupun sebaliknya orang tua yang menempuh pendidikan rendah akhlak anak buruk.
E. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah untuk mengetahui sesuatu yang pada tingkatan tertentu dipercayai sebagai sesuatu yang benar.38 Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat penulis jelaskan bahwa hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara, ia bisa ditolak jika faktanya menyangkal dan diterima jika faktanya mendukung. Maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :
Ha : Ada pengaruh antara tingkat pendidikan orang tua terhadap akhlak anak di Desa Aji Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang.
Ho : Tidak ada pengaruh antara tingkat pendidikan orang tua terhadap akhlak anak di Desa Aji Murni Jaya Kabupaten Tulang Bawang.
38. W. Gulo, Metodelogi Penelitian, (Jakarta: Grafindo, 2002), h.56.