TAHUN 2017
SKRIPSI
Diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Jurusan Pendidikan Islam
Program Studi Pendidikan Agama Islam
Oleh:
JAMILAH NIM. 084 131 121
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
2017
kasih dan setiap perjuangan tetesan keringat untuk aku anakmu.
Untuk Suami (Rizky Novianto) sudah nerima segala keluh kesah dan mensupport semua kegiatan yang ku lakukan
Adikku (Aliyatul Ilmi dan M. Khoirul Anam) yang senantiasa memberikan inspirasi dan keceriaan disetiap waktuku, disetiap jeda ambisi-ambisiku Prodi Pendidikan Agama Islam yang banyak memberikan gambaran dan
pengalaman sistem pendidikan.
Untuk teman-teman kost yang tiada henti selalu memberikan semangat dari awal sampai akhir perkuliahan
Untuk keluarga KOPMA yang telah banyak memberikan ilmu kewirausahaan Untuk teman-teman kelas A3 sebuah kebahagiaan mengenal kalian.
rahmat, taufik serta hidayah-nya kepada kami sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas skripsi yang berjudul “Peran Tokoh Agama Islam dalam Menanamkan Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari 2017”.
Sholawat serta salam tetap tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, yang telah diutus untuk menunjukkan jalan yang benar sebagai rahmat seluruh alam yaitu melalui ajaran agama Islam.
Dalam penulisan skripsi ini tentunya tidak terlepas dari partisipasi berbagai pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian. Oleh karena itu, saya ucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE. MM selaku Rektor IAIN Jember atas penyediaan sarana dan prasarananya sehingga penulis bisa merampungkan studi di IAIN Jember.
2. Bapak Dr. Abdullah, M.H.I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) yang bekerja keras semoga dapat menghimpun dan memanfaatkan semua potensi demi kemajuan fakultas.
3. Bapak Dr. H. Mundir, M.Pd selaku Ketua Jurusan Kependidikan Islam atas segala ilmu yang telah diberikan.
4. Bapak Drs. H. Mursalim, M. Ag selaku Ketua Prgram Studi Pendidikan Agama Islam atas bimbingannya.
7. Bapak Ahmad Choiri selaku Kepala Desa Sukoreno atas segala informasinya.
8. Segenap Tokoh – tokoh Agama dan masyarakat Desa Sukoreno yang turut membantu peneliti dalam memperoleh data.
Akhir kata semoga apa yang menjadi amal dari kalian dapat bermanfaat baik bagi khasanah keilmuan, maupun pembaca, utamanya bagi peneliti sendiri.
Penyulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran yang membangun demi perbaikan skripsi ini yang nantinya dapat bermanfaat.
Jember, 08 Agustus 2017
Jamilah NIM. 084 131 121
Bangsa Indonesia terdiri dari masyarakat yang majemuk dari segi suku, budaya, adat-istiadat maupun agama. Untuk membangun persatuan dalam masyarakat yang beragam seperti Indonesia, dibutuhkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural. Inisiatif yang diprakarsai oleh masyarakat sendiripun terbilang rendah. Masi banyak masyarakat yang tidak mengerti akan keberagaman yang ada. Mungkin saja bisa ditingkatkan melalui penguatan dari para tokoh agama Islam yang ada di lingkungan masyarakat Sukoreno. Dimana tokoh agama Islam merupakan tokoh dalam komunitas umat beragama baik memimpin ataupun tidak memimpin ormas keagamaan diakui dan dihormati oleh masyarakat setempat sebagai panutan.
Fokus penelitian dalam skripsi ini adalah: 1. Bagaimana peran dan fungsi tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural dalam kehidupan masyarakat di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari 2017? 2. Bagaimana persepsi tokoh agama Islam tentang pendidikan agama Islam di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari 2017 ? 3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari 2017
?
Tujuan penelitian ini adalah mendeskrisikan peran tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari 2017.
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dan jenis fenomenologi, penentuan subjek penelitian menggunakan informan diantaranya:
Kepala Desa, Tokoh Agama Islam, dan Masyarakat. Metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dari data yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Dan utnuk menecek keabsahan data digunakan triangulasi sumber dan metode.
Dari hasil penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa (1) Peran dan fungsi tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural dalam kehidupan masyarakat diantaranya yaitu sebagai motivator, instruktif, dan partisipasi. (2) Persepsi tokoh agama Islam tentang pendidikan agama Islam berbasis multikulutral yaitu dikenal dengan istilah toleransi dalam Islam. Dimana dalam toleransi ini kita saling menghormati, menghargai dan membiarkan orang lain untuk menganut kepercayaannya masing- masing. (3). Faktor pendukung dan penghambat dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural: a. Faktor pendukung meliputi: sikap tasamuh, dan menciptakan kedamaian. b. Faktor penghambat meliputi: adanya aliran baru, dan ekslusifisme.
PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Fokus Penelitian ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 7
E. Definisi Istilah ... 8
F. Sistematika Pembahasan ... 10
BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu ... 12
B. Kajian Teori ... 16
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 36
B. Lokasi Penelitian ... 37
C. Subjek Penelitian ... 37
D. Teknik Pengumpulan Data ... 38
E. Analisa Data ... 42
B. Penyajian Data dan Analisis ... 52 C. Pembahasan Temuan ... 72 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 80 B. Saran ... 81
DAFTAR PUSTAKA ... 82 LAMPIRAN-LAMPIRAN
2.1 Persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu ... 15
4.1 Luas wilayah Desa Sukoreno ... 49
4.2 Batas-batas wilayah Desa Sukoreno ... 51
3. Pedoman Penelitian
4. Struktur Organisasi Desa Sukoreno
5. Foto-foto Kegiatan Masyarakat Desa Sukoreno 6. Surat Permohonan Penelitian
7. Jurnal Penelitian 8. Surat Selesai Penelitian 9. Biodata Peneliti
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Bangsa Indonesia terdiri dari masyarakat majemuk, dari segi suku, budaya, adat-istiadat maupun agama. Kemajemukan tersebut, apabila dikelola dengan baik, akan menjadi aset atau modal sosial untuk memperkuat kerukunan, persatuan dan kesatuan serta kebesaran bangsa. Namun jika tidak dikoelola dengan baik, maka kemajemukan potensial menjadi bencana, rentan bagi kemungkinan timbulnya disharmoni dan perpecahan kalangan masyarakat.
Masyarakat merupakan lingkungan pendidikan yang ketiga setelah lingkungan pendidikan keluarga dan sekolah.1 Sesuai dalam undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pasal 13 ayat 1 dengan jelas menyebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.2 Di dalam suatu masyarakat mudah sekali dijumpai keanekaragaman suku, agama, ras, adat istiadat, dan budaya. Keanekaragaman tersebut merupakan rahmat dari Allah SWT.
Hubungan baik dengan masyarakat diperlukan karena tidak ada seorangpun yang dapat hidup tanpa bantuan masyarakat. Lagi pula, hidup
1 Novan Ardy Wiyani, Ilmu Pendidikan Islam Rancang Bangun Konsep Pendidikan Monokotomik-Holistik (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), 87.
2 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Tim Permata Press), 10
bermasyarakat sudah merupakan fitrah manusia. Dijelaskan dalam QS Al- Hujurat ayat 13:3
Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat:13)
Tidak dapat dipungkiri bahwa, Islam sangat menjungjung tinggi akan nilai-nilai kebersamaan dan keberagaman sebagaimana bunyi ayat al-qur’an surat al-hujarat ayat 13 diatas. Manusia diciptakan dengan beragam keyakinan, suku bangsa dan lainnya tiada lain adalah untuk saling mengenal, memahami dan menghargai akan adanya perbedaan tersebut, menyadari bahwa keberagaman merupakan sebuah keniscayaan yang patut disyukuri dan dilestarikan.
Menurut Zainul Abbas dalam bukunya Imran Masyadi menegaskan bahwa Islam sama sekali tidak menafikan agama-agama yang ada.4 Islam mengakui eksistensi agama lain dan tidak menolak nilai-nilai ajarannya.
3 Departemen Agama RI. Mushaf Al-quran A-Kafi (Bandung: Diponegoro, 2011 ), 49:13
4 Imran Mashadi.” Reformasi PAI di Era Multikultural”.dalam, Pendidikan Agama Islam dalam perspektif multikulturalisme, Abdul Aziz Albone (Jakarta: BPPA, 2009), 28
Kebebasan beragama dan rispek terhadap agama dan kepercayaan orang lain adalah murni ajaran agama Islam dan merupakan sesuatu yang penting bagi masyarakat yan majemuk. Dengan demikian umat Islam diperintahkan untuk senantiasa berprilaku baik dan menegakkan keadilan meskipun keada umat agama lain. Tidak ada alasan bagi umat Islam untuk berlaku zhalim dan diskriminatif terhadap non muslim.
Jika dilihat dari arti Pendidikan multikultural merupakan pendidikan untuk people of colour.5 Artinya, pendidikan mutikultural ingin mengeksplorasi perbedaan sebagai keniscayaan (anugrah Tuhan/Sunnatullah).
Sedangkan arti pendidikan agama islam berbasis multikultural merupakan pendidikan yang melihat perbedaan, suku, agama, dan ras merupakan bagian dari skenario, dan rekayasa penciptanya satu paket dengan ragam ciptaan alam raya.6
Dalam kehidupan sehari-hari termasuk di Desa Sukoreno tidak di pungkiri lagi terdapat banyak perbedaan di dalam kehidupan kita. Hal itu adalah suatu yang lumrah dalam kehidupan bermasyarakat. Contoh perbedaan tersebut antara lain dari agama, suku, ras sampai dengan budaya yang biasa kita sebut dengan multikultural. Perbedaan tersebut memang tidak bisa di hilangkan karena merupakan suatu yang sudah sewajarnya. Yang harus menjadi fokus utama sebenarnya bukanlah perbedaan tersebut namun bagaimana kita seharusnya menyikapi perbedaan tersebut
5 Choirul Mahfud, Pendidikan Multikultural (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), 176.
6 Abuddin Nata, Sosiologi Pendidikan Islam(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), 255
Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari merupakan salah satu kawasan Desa yang Multikultur dengan berbagai macam agama (Islam, Kristen, dan Hindu,), berbagai macam budaya, suku, dan ras. Menurut hasil wawancara nama Sukoreno diambil dari nama Suko (senang), Reno (Keberagaman). Jadi, senang dengan keberagaman.7
Menurut hasil pengamatan awal di Desa Sukoreno bukan hanya tradisi Islam seperti bulan maulid nabi, muharram, suro , dll yang masih aktif berkembang dalam masyarakat tersebut, namun tradisi dalam agama Kristen dan Hindu pun masih kental. Misalnya, agama Kristen perayaan hari Natal masih terus berlansung sampai sekarang walaupun berada dalam lingkup masyarakat yang berbeda keyakinan. Selanjutya, agama Hindu kegiatan keagamaan masih terus aktif menghiasi kehidupan masyarakat Sukoreno sendiri seperti ogoh-ogoh dan yang paling fenomenal bahwa perayaan seperti ini justru menjadi tontonan bagi segenap warga sekitar karena rasa keingintahuan mereka terhadap kegiatan keagamaan yang dilakukan penganut kepercayaan lain.
Peran tokoh agama Islam sangat dibutuhkan dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural kepada masyarakat. Agar mereka bisa saling memahami antar kelompok dan masih dalam lingkup ajaran agama Islam.
Pada studi pendahuluan peneliti melihat yang terjadi di masyarakat di Desa Sukoreno khususnya umat muslim banyak yang tidak memahani arti dari
7 Wardoyo, Wawancara, Sukoreno, 24 November 2016
pendidikan agama Islam berbasis multikultural. Banyak masalah-masalah yang terjadi di masyarakat karena perbedaan yang ada tidak bisa diterima oleh kelompok yang satu dengan kelompok lainnya.8
Maka dari itu, menjadi keharusan bagi kita bersama untuk memikirkan upaya pemecahan konflik tersebut, termasuk pihak yang ikut berperan dalam hal ini yaitu para tokoh agama di kalangan masyarakat. Sudah selayaknya berperan dalam menyelesaikan masalah konflik yang terjadi di kalangan masyarakat termasuk pendidikan agama Islam berbasis multikultural.
Inisiatif yang diprakarsai oleh masyarakat sendiripun terbilang rendah, inisiatif masyarakat akan tumbuh ketika diberi stimulus barulah mereka akan meresponnya. Masi banyak masyarakat yang tidak mengerti akan keberagaman yang ada. Mungkin saja bisa ditingkatkan melalui penguatan dari para tokoh agama Islam seperti kyai, ustadz, dan guru agama yang ada di lingkungan masyarakat Sukoreno.
Dimana tokoh agama Islam merupakan tokoh dalam komunitas umat beragama Islam baik menjadi pemimpin atau tidak dalam kegiatan keagamaan yang kedudukanya diakui oleh masyarakat, doa dan nasihatnya selalu diharapkan.
Tokoh agama Islam cenderung mempunyai kedekatan ikatan emosional dengan masyarakat, maka dari itu tokoh agama Islam diharapkan mampu untuk menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural.
8 Observasi, Sukoreno, 3 Januari 2017
Berangkat dari fenomena tersebut, peneliti mencoba untuk memfokuskan arah penelitian dengan merumuskan judul penelitian“ Peran Tokoh Agama Islam Dalam Menanamkan Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikutural Di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari 2017”.
B. Fokus Penelitian
Fokus penelitian harus disusun secara singkat, jelas, tegas, spesifik yang dituangkan dalam bentuk kalimat tanya.9 Berdasarkan latar belakang peneliti, fokus penelitiannya yaitu:
1. Bagaimana peran dan fungsi tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural dalam kehidupan masyarakat di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari 2017?
2. Bagaimana persepsi tokoh agama Islam tentang pendidikan agama Islam berbasis multikultural di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari 2017 ? 3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat tokoh agama Islam dalam
menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari 2017 ?
C. Tujuan
Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang dituju dalam melakukan penelitian.10 Penelitian ini memiliki rumusan tujuan sebagai berikut :
9 M. Toha Anggono, Materi Pokok Metode Penelitian (Jakarta: Universitas Terbuka, 2011), 122
10Tim penyusun IAIN Jember, Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah IAIN Jember, (IAIN Press:
Jember, 2017), 45.
1. Mendeskripsikan peran dan fungsi tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural dalam kehidupan masyarakat di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari 2017.
2. Mendeskripsikan persepsi tokoh agama Islam tentang pendidikan agama Islam di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari 2017 .
3. Mendeskripsikan apa saja faktor pendukung dan penghambat tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari 2017 .
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian berisi tentang kontribusi apa yang diberikan setelah selesai melakukan penelitian. Kegunaan dapat berupa kegunaan yang bersifat teoristis dan praktis. Seperti kegunaan bagi penulis, instansi dan masyarakat secara keseluruhan.11
Adanya penelitian dapat memberikan manfaat apabila dapat digunakan oleh semua pihak. Adapun manfaat yang diharapkan penelitian ini sebagai berikut:
1) Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan umat muslim dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural di kehidupan sehari-hari.
2) Manfaat Praktis 1. Bagi Peneliti
11 Ibid., 46.
a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah keilmuan tentang Penanaman Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural dalam kehidupan sehari-hari.
b. Hasil penelitian ini digunakan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana strata satu (S1) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu keguruan Program Studi Pendidikan Agama Islam di IAIN Jember.
2. Bagi Desa Sukoreno
a. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan suatu bahan informasi dan sebagai bahan masukan dalam meningkatkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural.
b. Selain itu tentunya juga bermanfaat bagi tokoh agama Islam itu sendiri karena dapat membimbing masyarakat untuk menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural dalam kehidupan sehari-hari.
3. Bagi IAIN Jember
Penelitian ini diharapkan dapat menambah kontribusi dalam menambah wawasan pengetahuan tentang Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural dan penerapannya di lingkungan IAIN Jember serta menambah koleksi literatur/referensi di perpustakaan.
E. Definisi Istilah
Definisi istilah berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti di dalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak
terjadi kesalahpahaman terhadap makna istilah sebagaimana dimaksud oleh peneliti.12 Hal-hal yang perlu ditegaskan dalam judul penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Tokoh Agama
Tokoh agama adalah tokoh komunitas umat beragama baik yang memimpin ormas keagamaan maupun tidak memimpin ormas keagmaan yang diakui dan dihormati oleh masyarakat setempat sebagai panutan.
Tokoh agama Islam dalam penelitian ini yaitu kyai, ustadz, dan guru agama.
2. Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural
Pendidikan agama Islam berbasis multikultural merupakan pendidikan yang berdasarkan ajaran agama Islam.
Dari beberapa istilah yang dijabarkan, dapat disimpulkan bahwa peran tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural yaitu tokoh dalam komunitas umat muslim yang mengajarkan pendidikan agama Islam yang dikaitkan pada keragaman yang dimiliki oleh masyarakat dari latar belakang suku, etnis, bahasa, dan agama yang berbeda, agar tercipta lingkungan yang berprinsip pada demokrasi, kesetaraan dan sikap toleransi masyarakat ditengah keragaman masyarakat yang ada di Desa Sukoreno.
F. Sistematika Pembahasan
12Ibid., 45.
Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup.13Untuk mempermudah dalam pemahaman isi, maka peneliti disini menguraikan bab- bab agar memberikan kemudahan, pemahaman dalam pembahasan ini.
Sistematikanya adalah sebagai berikut :
BAB I merupakan bagian pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah dan sistematika pembahasan.
BAB II kajian kepustakaan, pada bagian ini berisi tentang ringkasan kajian terdahulu yang memeliki relevansi dengan penelitian yang akan dilakukan pada saat ini memuat tentang kajian teori.
BAB III merupakan bab yang membahas tentang metode penelitian yang terdiri dari, pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subyek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data dan tahap- tahap penelitian.
BAB IV merupakan bab yang membahas tentang penyajian data dan analisis yang terdiri dari gambaran obyek penelitian, penyajian data dan analisis serta pembahasan temuan.
BAB V merupakan bab tentang penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran-saran. Fungsi bab ini adalah memperoleh suatu gambaran dari hasil penelitian berupa kesimpulan. Sedangkan saran-saran dapat membantu saran yang bersifat konstruktif yang terkait dengan penelitian.
13 Tim Penyusun, Pedoman penulisan, 48.
Penelitian terdahulu adalah upaya peneliti untuk mencari perbandingan dan selanjutnya untuk menemukan inspirasai baru untuk penelitian selanjutnya. Di samping itu kajian terdahulu membantu penelitian dalam memposisikan penelitian serta menunjukan orisinalitas dari penelitian. Kajian yang mempunyai relasi atau ketertarikan dengan kajian ini anatara lain:
1. Yunia Muhtar dewi, Mahasiswa IAIN Jember 2016 skripsi dengan judul “ Peran Tokoh Agama dalam Meningkatkan Harmoni Antara Umat Islam dan Hindu di Kandang Tepus Senduru Lumajang 2016.”14
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis etnografi. Sementara hasil penelitiannya. 1) Peran tokoh agama dalam meningkatkan kerukunan umat Islam dan Hindu di Kandang Tepus. 2) peran tokoh agama dalam meningkatkan toleransi antara umat Islam dan Hindu di Desa Kandang Tepus diantaranya adalah peran sosial dan keagamaan meliputi ajakan kepada masyarakat untuk bersikap damai dan tidak mendoktrin kepada siapapun untuk tokoh agama Hindu. 3) media pendidikan yang digunakan tokoh agama dalam meningkatkan anatara umat Islam dan Hindu di Desa Kandang Tepus meliputi media televisi, melalui kegiatan yasinan, pengajian, dan muslimatan untuk tokoh agama Islam.
14Yunia Muhtar Dewi, Peran Tokoh Agama dalam Meningkatkan Harmoni Antara Umat Islam dan Hindu di Kandang Tepus Senduro Lumajang 2016, (IAIN Jember: Tidak diterbitkan, 2016)
2. Shofiyana Rahmana, Mahasiswa IAIN Jember 2015 skripsi dengan judul
“Implementasi Pendidikan Multikultural dalam Membina Hubungan Sosial Antar Warga Sekolah Di SMP Negeri 2 Tempurejo Jember Tahun Pelajaran 2015/2016”.15
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif Deskriptif.
Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumenter. Analisis data dilakukan dengan memberikan makna terhadap data yang berhasil dikumpulkan dan dari makna itulah ditarik kesimpulan bahwa pendidikan multikultural adalah pendidikan yang menanggapi perbedaan, pendidikan multikultural senantiasa menciptakan struktur dan proses di mana setiap kebudayaan bisa melakukan ekspresi dan dengan budaya beberapa penerapan kegiatan atau metode yang telah diterapkan dapat meningkatkan sosialisasi siswa antar warga sekolah di SMP Negeri 2 Tempurejo-Jember.
3. Mahrus Sadikin, Mahasiswa IAIN Jember 2013 skripsi dengan judul “ Implementasi Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 5 Jember Tahun Pelajaran 2012/2013.”16
Penelitian ini merupakan penelitian Kualitatif Deskriptif, pengumpulam data melalui observasi, interview, dan dokumentasi.
Analisis yang digunakan melalui reduksi data, penyajian data, dan
15 Shofiyana Rahmana, Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Membina Hubungan Sosial Antar Warga Sekolah Di SMP Negeri 2 Tempurejo tahun Pelajaran 2015/2016,(IAIN Jember:
Tidak diterbitkan, 2016)
16 Mahrus Sadikin, 2013, Implemetasi Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 5 Jember Tahun Pelajaran 2012/2013 (IAIN Jember: Tidak diterbitkan)
penarikan kesimpulan. Dan untuk mengecek keabsahan data digunakan triangulasi. Kesimpulan dari penelitian Mahrus Sadikin yaitu pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam berbasis multikultural berjalan seperti biasanya dan telah sesuai dengan apa telah direncanakan oleh GPAI yang ada, dan siswa yang beragam non muslim tadi ternyta lebih memilih ikut di dalam kelas dari pada harus meninggalkan kelas meskipun sudah ada kebijakan ia boleh keluar.
Persamaaan penelitian ini dengan Yunia Muhtar Dewi tentang sama-sama meneliti tentang tokoh agama dan lokasi penelitiannya di masyarakat. Sedangkan perbedaannya pada penelitian yang dilakukan oleh yunia Muhtar Dewi lebih kepada semua tokoh agama baik muslim maupun non muslim dan lebih mengarah kepada kerukunaan pada masyarakat, dan dalam penelitian ini mengaraah kepada tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis mulikultural.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Shofiyana Rahmana, sama-sama menggunakan metode Kualitatif dan membahasa tentang multikultural atau adanya sikap toleransi antar kelompok. Sedangkan, perbedaannya terdapat pada tempat penelitian.
Penelitian Shofiyana Rahmana, berada di lingkungan lembaga sekolah yang memfokuskan pelaksaan pendidikan multikultural terhadap peserta didik agar mereka bisa menghargai perbedaaan antar siswa. Sedangkan, penelitian ini berada di lingkungan masyarakat yang memfokuskan penerapan pendidikan agama Islam berbasis multikultural oleh tokoh
agama Islam terhadap masyarakat untuk mencegah terjadinya konflik antar kelompok .
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Mahrus Sadikin terletak pada penanaman pendidikan agama islam berbasis multikultural. Sedangkan perbedaannya terletak pada lokasi di Sekolah dan subjek penelitiannya pada siswa, dan dalam penelitian ini mengarah pada bagaimana peran dan fungsi , persepsi, faktor pendukung dan penghambat dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Sedangkan letak persamaan dari ketiga penelitian tersebut dengan penelitian ini ialah sama-sama menggunakan pendekatan kualitatif. Dalam pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Dengan demikian ditinjau dari penelitian terdahulu, peneliti ingin lebih mengembangkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural untuk diterapkan di masyarakat tentang peran tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural di Desa belum pernah dilakukan.
Tabel 2.1
Persamaan dan perbedaan penelitian terdahulu N
O Nama Tahun Judul Persamaan Perbedaan
1 yunia Mahrus Dewi
2016 Peran Tokoh Agama dalam meningkatkan Harmoni Umat Islam dan Hindu di
Persamaan penelitian ini dengan
penelitian yang dilakukan oleh Yunia Mahrus
perbedaan terletak pada tokoh agama
Islam dan
Hindu, sedangkan
Kandang Tepus Senduro Lumajang
dewi sama – sama meneliti tentang peran tokoh agama di masyarakat
penelitian ini hanya tokoh agama Islam Saja.
2 Shofiyana Rahmana
2016 Implementasi Pendidikan Multikultural dalam
Membina Hubungan Sosial Antar Warga Sekolah
Di SMP
Negeri 2 Tempurejo Jember Tahun Pelajaran 2015/2016
penelitian kualitatif, sama- sama
memfokuskan kepada
pendidikan multikultural
perbedaannya terletak pada lokasi
penelitian, sebjek penelitian : siswa
3 Mahrus Sadikin
2013 Implemetasi Pendidikan Agama Islam berbasis
multikultural di sekolah Menengah Kejuruan Negeri 5 Jember tahun Pelajaran 2012/2013.
persamaan penelitian ini dengan
penelitian yang dilakukan
Mahrus Sadikin sama-sama memfokuskan pendidikan agama Islam berbasis
multikultural
perbedaannya dalam penelitian ini menanamkan pendidikan agama Islam dalam
kehidupan masyarakat sehari-hari, sedangkan Mahrus Sadikin mengimplement asikan kepada siswadi sekolah.
B. Kajian Teori
Dalam kajian teori ini dibahas: peran tokoh agama Islam, konsep pendidikan agama Islam, Peran tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural, yakni sebagai berikut :
1. `Tokoh Agama Islam
a. Pengertian tokoh agama Islam
Tokoh agama merupakan orang-orang yang menjalankan fungsi – fungsi kepemimpinan agama.17 yaitu memimpin dan mengarahkan para pemeluk agama khususnya agama Islam bukan hanya kepada keimanan (teologi), ibadah, ritual dan sebagainya, tetapi juga dalam urusan-urusan yang bersifat keduniaan. Secara individual dan kolektif mereka dikenal dengan julukan ulama, kyai, dan ustadz ( guru agama).
Visi, orientasi dan kebahagiaan tokoh agama Islam atau dapat juga disebut sebagai guru di masyarakat hanya satu yaitu membangun peradapan dengan cara memajukan dan mensejahterakan masyarakat melalui peningkatan kualitas fisik, panca indera, akal pikiran, sosial, seni, moral dan spiritual18. Kebahagiaan baginya apabila dapat melaksanakan peran dan fungsinya memajukan masyarakat.
Dari penjelasan diatas penulis dapat mengartikan tokoh agama Islam adalah seseorang yang dapat menjadi penggerak perubahan dalam komunitas keagmaaan yang menyebarluaskan kemampuan yang dimilikinya atas dasar panggilan hati nuraninya, agama yang diyakininya, untuk membangun pola hidup masyarakat yang lebih baik sesuai syariat Islam.
17Asep Syaefullah, 2007, Merukunkan Umat Beragama, (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu), 212
18 Nata, Sosiologi Pendidikan Islam, 121-122
b. Pemahaman tokoh agama Islam mengenai pendidikan agama Islam berbasis Multikultural
Dalam kamus umum bahasa Indonesia kata “paham”
diartikan sebagai mengerti, tahu benar, pandai sesuatu hal.19 Kata
“paham” diberi awalan “pe” dan akhiran “an” menjadi pemahaman dan mempunyai pengertian mengetahui tentang sesuatu. Pemahaman merupakan proses berpikir dan belajar. Dikatakan demikian karena untuk menuju ke arah pemahaman perlu diikuti dengan aktifitas belajar dan berfikir.
Pemahaman juga diartikan sebagai tingakatan kemampuan seseorang dalam memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya20. Seseorang yang paham sesuatu tidak hanya hapal secara verbal, tetapi mengerti akan konsep atau fakta dari sesuatu tersebut. Dengan demikian seseorang yang paham terhadap sesuatu maka operasional ia dapat membedakan, mengubah, mempersiapkan, menyajikan, mengatur, menginterpretasikan, menjelaskan, mendemonstrasikan, memberi contoh, memperkirakan, menentukan, dan mengambil keputusan.
Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berpikir yang setingkat yang lebih tinggi dari ingatan dan hafalan.
19 Poeewadarminta WJS. Kamus UmumnBahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka ) 279
20 Abdul Aziz, Pandangan Pemuka Agama Tentang Ekslusifisme Beragama Di Indonesia (Jakarta;
Puslitbang Kehiduban Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama RI, 2013), 11
Dengan pengetahuan, seseorang belum tentu memahami sesuatu yang dimaksud secara mendalam, hanya sekedar mengetahui tanpa bisa menangkap makna dan arti dari sesuatu yang dipelajari.
Sedangkan dengan pemahaman, seseorang tidak hanya dapat menjelaskan sesuatu yang diyakininya tetapi juga mempunyai kemampuan untuk menangkap makna.
Pendidikan Agama Islam berbasis Multikultural adalah pendidikan yang berorientasi pada realitas persoalan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia dan umat manusia secara keseluruhan.
Yakni pendidikan untuk merespon dinamika masyarakat Islam khususnya dalam interaksi sosial dan antar agama.21
Berdasarkan uraian diatas, maka pemahaman tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis Multikultural yaitu kemampuan seseorang atau tokoh dalam komunitas agama Islam, menjadi panutan bagi masyarakat untuk menangkap makna dan arti tentang pendidikan agama Islam berbasis multikultural, dapat menjelaskan serta menguraikan isi pokok dari pendidikan agama Islam berbasis multikultural yakni dengan cara memberikan arahan, dan membolehkan mereka yang yang berbeda agama, keyakinan, dan pemahaman keagamaan untuk hidup bersama-sama dalam masyarakat.
21 Ali Maksum, Pluralisme dan Multikultural Paradigma Baru Pendidikan Agama Islam di Indonesia (Malang: Aditya Media Publishing, 2011), 229
c. Fungsi Tokoh Agama Islam
Tokoh agama Islam yaitu tokoh dalam komunitas keagamaan yang memahami tentang agama ajaran-ajaran Islam yang bisa memberikan arahan ataupun bimbingan kepada masyarakat setempat. Adapun fungsi tokoh agama Islam dapat dijabarkan sebagai berikut :
1) Motivator
Motivasi adalah sebuah konsep yang digunakan untuk menjelaskan inisiasi, arah dan intensitas perilaku individu22. Motivasi merupakan kekuatan yang mendorong seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan, kekuatan ini dirangsang oleh adanya berbagai macam kebutuhan, seperti 1) keinginan yang hendak dipenuhi, 2) tingkah laku, 3) tujuan, dan 4) umpan balik, sebenarnya dalam konsep motivasi terkandung tiga konsep penting, yaitu : tujuan, pengetahuan, dan proses- proses metakognitif.
Tujuan merupakan spesifikasi yang berorientasi masa depan tentang apa yang diinginkan seseorang, sedangkan pengetahuan berkaitan dengan mengetahui tentang bagaimana membuat tujuan tercapai.
Dalam kaitannya dengan tingkah laku motivasi tersebut penting untuk dibicarakan dalam rangka mengetahui apa yang
22 Nyanyu Khodijah. Psikologi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo, 2016), 150
sebenarnya latar belakang suatu tingkah laku yang dikerjakan seseorang. Disini peranan motivasi itu sangat besar artinya dalam membimbing dan mengarahkan seseorang terhadap tingkah laku.
Namun demikian ada motivasi tertentu yang sebenarnya timbul dalam diri manusia karena terbukanya hati manusia.
Disini tokoh Agama Islam ibarat sebagai pemandu terhadap orang yang ingin mendapatkan keselamatan, sebagai tokoh agama Islam juga merupakan petunjuk jalan yang baik, oleh karenanya kedudukannya yang dimiliki oleh seseorang tokoh ditengah-tengah masyarakat sangat tinggi dan bagi seorang tokoh juga harus mampu menjadi pelopor yang selalu diteladani oleh masyarakat, maka dari itu seseorang tokoh agama Islam harus mampu memberi motivasi dan sebagai agen pembaharuan terhadap masyarakat untuk saling menerima antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya.
Dengan adanya seseorang motivator yang sifatnya memberikan suatu semangat terhadap masyarakat seperti semangat membaur, saling tolong menolong antar sesama, berkomunikasi dengan baik, tangung jawab dalam tingkah laku jujur tidak sombong dan sederetan lain budi pekerti yang luhur merupakan sesuatu yang kuat untuk mempersatukan masyarakat di dalam sebuah desa.
2) Instruktif
Instruktif yaitu memberikan perintah yang bersifat komunikatif23, agar dilaksanakan menjadi kegiatan dan harus dimengerti oleh yang menerima perintah. Karena fungsi ini bersifat komunikasi satu arah. Untuk kita diperlukan kemampuan dalam mewujudkan fungsi instruktif.
Tokoh agama Islam Merupakan pemimpin dalam komunitas keagamaan yang harus menetapkan apa, bagaimana, bilamana dan dimana sutau perintah dilaksanakan. Dalam hal ini pemimpin atau tokoh agama Islam dalam memutuskan suatu perkara juga mempertimbangkan masukan-masukan dari umatnya..
3) Partisipasi
Fungsi ini tidak sekedar bersifat komunikasi dua arah, tetapi juga merupakan perwujudan hubungan manusiawi (Hablum minannas) yang kompleks.24
Seorang tokoh agama Islam yang merupakan pemimpin dalam komunitas agamanya, berusaha mengaktifkan setiap anggotanya atau masyarakat sehingga terdorong untuk melakukan komunikasi yang bisa menjadi peluang terjadinya pertukaran informasi, pendapat, gagasan, pandangan dan lain- lain.
23 Hadari Nawawi, Kepemimpinan Menurut Islam ( Yogyakarta: Gajah Mada university Press, 2001), 141
24 Ibid, 151
Partisipasi ini bisa berbentuk musyawarah, yang memungkinkan anggotanya bisa berpartisipasi aktif dalam pertukaran informasi.
2. Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam berbasis multikultural 1) Pengertian pendidikan agama Islam
Sebelum mengkaji tentang pengertian pendidikan agama Islam peneliti akan terlebih memaparkan tentang dasar pendidikan agama Islam, yaitu dalam Al-Qur’an, surat Asy- Syura ayat 52 yang berbunyi :25
Artinya : “dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”.
25Al-Qur’an, 26:52
Dari ayat tersebut dapat diketahui, bahwa pendidikan dalam Islam pun juga mendapatkan posisi dalam Al-Qur’an serta memiliki kedudukan yang penting.
Pendidikan dalam istilah Islam sering kali disebut dengan Ta’dib, Ta’lim, dan Tarbiyah. Ketiga istilah tersebut memiliki kemiripian makna yaitu sama-sama agar memiliki suatu ilmu dengan tingkah laku yang juga baik.26
Pendidikan agama Islam menurut Hamka dalam karyanya Abuddin Nata, dengan singkat mengatakan pendidikan agama Islam adalah agama yang diturunkan Tuhan dengan perantaraan Rasul-rasulnya, ia memberi pimpinan bagi manusia di dalam usahanya memberi nilai hidupmya sendiri.27
Dari uraian pengertian pendidikan agama Islam yang telah dikemukakan beberapa tokoh dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud pengertian pendidikan agama Islam dalam penelitian ini adalah pendidikan yang mengandung nilai-nilai Islam dan berlandaskan pada Al-Qur’an dan Al-Hadist sebgaiamana yang telah diajarakan oleh Rasulullah kepada umat Islam.
Islam sendiri mempunyai arti bahwa Islam merupakan agama samawi (langit) yang diturunkan oleh Allh SWT melalui
26 A. Yasin Fatah, Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam (Malang: UIN-Malang Press, 2008) 19
27 Nata, Sosiologi Pendidikan Islam, 133
utusannya Rasulullah yaitu Nabi Muhammad saw, yang ajaran- ajarannya terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an dan sunah dalam bentuk perintah-perintah, larangan-larangan dan petunjuk guna kebaikan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
2) Pengertian Multikultural
Kata “Multikultural” merupakan kata sifat yang dalam bahasa Inggris dari dua kata, yaitu “multi” dan culture” Secara umum, kata “multi” berarti banyak, ragam, dan aneka.
Sedangkan kata “culture” dalam bahasa Inggris memiliki beberapa makna, yaitu kebudayaan, kesopanan, dan pemeliharaan. Kata multikultural dalam tulisan ini diartikan sebagai keragaman budaya sebagai bentuk dari keragaman latar belakang seseorang.
Secara terminologi definisi multikultural sangat beragam rumusnya. Dari sekian banyak rumusan para pakar tentang definisi pedidikan multikultural dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) kategori, yaitu :28 1) Definisi dibangun berdasarkan prinsip demokrasi, kesetaraan, dan keadilan; serta 2) Definisi yang dibangun berdasarkan sikap sosial, yaitu: pengakuan, penerimaan, dan penghargaan.
Multikultural secara sederhana dapat dirumuskan sebagai sistem nilai atau kebijakan yang menghargai keragaman dalam
28 Abdullah Aly, Pendidikan Islam Multikultural di Pesantren (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), 104-105
suatu masyarakat yang didasarkan pada kesediaan untuk menerima dan menghargai kelompok lain yang berbeda suku, etnik, gender maupun agama.29
Dengan demikian, setiap individu merasa dihargai sekaligus merasa bertanggung jawab untuk hidup bersama komunitasnya. Pengingkaran suatu masyarakat terhadap kebutuhan untuk diakui (politics of recognition).
Dari beberapa definisi yang dipaparkan di atas , maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa multikultural merupakan mengakui adanya keberagaman etnik dan budaya masyarakat suatu bangsa. Dan memperhatikan akan nilai-nilai kemanusiaan dengan menjunjung tinggi nilai keadilan, kesetaraan dalam kesederajatan , dan tidak deskriminatis terhadap suatu budaya, ras, suku maupun agama lain. Dalam arti tidak membeda-bedakan status sosial, yang kaya dengan yang miskin, anak kota dengan anak pinggiran serta dalam perbedaan keyakinan.
3) Pengertian pendidikan agama Islam berbasis multikultural
Pendidikan agama Islam berbasis multikultural memiliki makna “Penyelenggaraan atau pelaksanaan yang mempertimbangkan segala bentuk keragaman dan perbedaan
29 Nata, Sosiologi Pendidikan Islam, 236
budaya, baik secara vertikal dan horizontal”.30 Hal ini mengingatkan pada pola pemahaman agama yang “kedisinian”
dan “kekinian” dalam memahami dan melaksanakan ajarannya.
Menurut Maslikhah dalam bukunya Abuddin Nata, Pendidikan agama Islam berbasis multikultural yaitu pendidikan yang melihat perbedaan suku, agama dan ras merupakan bagian dari skenario dan rekayasa penciptanya, satu paket dengan ragam ciptaan alam raya31. Disamping itu pula merupakan konsekuensi penciptanya atas manusia sebagai “makhluk nalar” atau yang di dalam Al-Qur’an, disebutnya sebagai “ahsanu taqwim” (sebaik- baik ciptaan). Dengan kata lain, ragam perbedaan tersebut merupakan fasilitas ekstra eksklusif yang Tuhan sediakan bagi hamba-Nya yang bernama manusia.
Dari beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam merupakan pendidikan yang bercirikan Islam memperlajari tentang masyarakat yang beragam, dimana kita harus menghargai perbedaan yang ada dan tetap berlandaskan pada agama Islam.
b. Nilai Multikultural dalam Pendidikan Agama Islam
Jika ditelusuri dalam ajaran agama Islam substansi pendidikan multikultural menghendaki pengakuan dan
30 Imran Siregar, Pendidikan Agama Islam dalam Perspektif Multikulturalisme, (Jakarta: Saadah Cipta Mandiri, 2009), 60
31 Nata, Sosiologi Pendidikan Islam, 255
penghormatan terhadap orang lain yang berbeda ras, suku, bahasa, adat istiadat, bahkan agama sekalipun.
Secara dogmatis, multikultural dalam ajaran pendidikan agama Islam dapat dilihat dari beberapa hal :32 Pertama. Manusia memiliki kedudukan yang sama di sisi Allah, yang membedakannya adalah kualitas ketakwaannya. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:33
Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Sementara kualitas ketakwaan seseorang itu bersifat abstrak, hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Tidak ada hak untuk seseorang memvonis atau mengklaim agama orang lain yang tidak benar. Tidak ada pula hak seseorang untuk menentukan bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Adanya paradigma seperti ini yang
32 Imran Siregar, Multikulturalisme, 223
33 Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an A-Kafi, 49;13
akan berimplikasi kepada sikap menghormati dan menolong sesama manusia. Perbedaan yang terjadi ini disebabkan oleh suku, bahasa, adat-istiadat, dan kepercayaan.
Kedua, Umat Islam diperintahkan untuk senantiasa berbuat baik dan menegaskan keadilann meskipun kepada non muslim.
Dijelaskan dalam QS. Al-Mumtahanah ayat 8:34
Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.”
Tidak ada alasan bagi Umat Islam untuk berlaku zhalim atau besikap sewenang-wenang terhadap non muslim. Walaupun secara aqidah jelas berbeda.
Ketiga, Islam mengajarkan bahwa seseorang yang berhubungan baik secara vertikal ataupun horizontal akan terhindar
34 Ibid, 60;8
dari kehinaan. 35 Seabagaimana dijelaskan dalam QS. Ali Imron ayat 112. :36
Artinya:” mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu, karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”
Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa manusia ditegaskan untuk menjalin hubungan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
35 Imam Siregar, Multikulturalisme, 224
36 Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an A-Kafi 3;112
Karena kita pasti membutuhkan orang lain begitupun orang lain akan membutuhkan kita.
Keempat, ajaran Islam memberikan perhatian yang amat besar terhadap urusan sosial.37 Karena ini termasuk dalam hubungan hablum minan nas.
Dari keempat ciri-ciri tersebut. Pendidikan multikultural dalam pendidikan agama Islam sangatlah penting. Karena, selain hubungan manusia dengan Allah terdapat juga hubungan manusia dengan manusia.
Hubungan manusia dengan sesama manusia hubungan horizontal dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini didasari karena pada hakikatnya manusia itu saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya.
3. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Menanamkan Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural
a. Faktor pendukung
Adapun beberapa faktor pendukung dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural yaitu sebagai berikut : 1. Sikap Tasamuh
Tasamuh berasal dari bahasa Arab yang artinya toleransi dan kemurahan hati. Adapun toleransi adalah kemampuan untuk
37Imam Siregar, Multikulturalisme, 225
menghormati sifat dasar, keyakinan, dan perilaku yang dimiliki oleh orang lain.
Dalam literatur agama Islam, toleransi disebut dengan tasamuh yang dipahami sebagai sifat atau sikap menghargai, membiarkan, atau membolehkan pendirian (pandangan) orang lain yang bertentangan dengan pandangan kita.
Secara metodologis, toleransi adalah penerimaan terhadap yang tampak sampai kepalsuannya tersingkap38. Toleransi relevan dengan epistimologi. Ia juga relevan dengan etika, yaitu sebagai prinsip menerima apa yang dikehendaki sampai ketidaklayakannya tersingkap. Dan toleransi adalah keyakinan bahwa keanekaragaman agama terjadi karena sejarah dengan semua faktor yang memengaruhinya, baik kondisi ruang, waktu, prasangka, keinginan, dan kepentingannya yang berbeda antara satu agama dengan agama lainnya.
Sementara pemahaman manusia sangat terbatas dan tidak mampu mencapai hakikat dari ayat-ayat dalam kitab suci masing- masing agama.39 Manusia hanya dapat menafsirkan ayat-ayat suci yang ada.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tasamuh berarti suatu sikap yang melarang adanya deskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat. Di
38 Ngainun Naim dan Ahmad Syauqi, Pendidikan Multikultural: Konsep dan Aplikasi (Jakarta: Ar- Ruzz Media, 2008), 77
39 Sulalah, Pendidkan Multikultural (Malang: UIN-Maliki Press, 2012),63
sini dimaksudkan bahwa penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya.
2. Menciptakan Kedamaian
Untuk mengembangkan prinsip demokrasi, kesetaraan, dan keadilan juga diperlukan orientasi hidup yang universal. Diantara orientasi hidup yang universal tersebut adalah kedamaian.40 Orientasi kemanusiaan dalam pendidikan agama Islam berbasis multikultural dapat diapahami sebagai nilai yang menempatkan peningkatan pengembangan manusia, keberadaanya, dan martabatnya sebagai pemikiran dan tindakan manusia yang tertinggi.
Orientasi kemanusiaan dalam pendidikan Islam agama berbasis multikultural ini relevan dengan konsep Islam Hablum Min Al-Nas. 41Menempatkan manusia pada dua posisi. Pertama adalah bahwa manusia merupakan makhluk terbaik di muka bumi ini. Posisi kedua, adalah manusia harus tunduk kepada hukum Allah yang dikenal dengan kesatuan kemanusiaan. Kedua posisi manusia tersebut melahirkan doktrin Islam tentang pentingnya memelihara kelansungan hidup manusia.
Kedamaian merupakan cita-cita semua orang yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang heterogen. Dalam perspektif
40 Aly, Pendidikan Islam Multikultural, 114
41 Ibid, 115
Islam, orientasi kedamaian ini kompatibel dengan doktrin Islam tentang as-salam.
Doktrin ini, menurut Maulana Wahiduddin Khan yang dkutip dalam bukunya Abdullah Aly, mengandung pengertian bahwa Islam menawarkan visi hidup yang harmonis dan damai di tengah-tengah kelompok masyarakat yang beragam42. Dengan mengutip Quran Surat An-Nahl ayat 16.
Artinya :” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan
hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang- orang yang mendapat petunjuk”.43
Berdasarkan ayat tersebut, seorang musuh merupakan sosok yang potensial untuk bisa menjadi teman. Karena itu, seseorang tidak memiliki wewenang untuk memanggil orang lain
42 Ibid, 117
43 Al-Quran, 16:125
sebagai orang kafir, ketika seorang Muslim melihat non muslim sebagai yang berbeda. Atas dasar ini, ia merekomendasikan agar visi Islam tentang hidup harmonis dan damai dapat terwujud dalam masyarakat yang beragam, diperlukan sosialisasi pemahaman bahwa semua orang sangat potensial menjadi sekutu, yakni sekutu dalam menentang kezaliman, ketidakadilan, dan kemungkaran.
b. Faktor penghambat tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural
Selain faktor pendukung terdapat pula faktor penghambat yang kerap kelai terjadi di kehidupan sosial, yang dapat , menggangu keserasian dan integrasi masyarakat, yaitu :
1) Masuknya aliran baru
Hal ini ditakutkan, jika dengan datangnya aliran baru dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi jauh menyimpang dari doktrin dasar kebenaran suatu agama, yang dapat menimbulkan kerawanan44. Baik pada hubungan interen suatu agama maupun hubungan antar umat beragama, biasanya bersifat ekslusif dan mengajukan klaim-klaim kebenaran terhadap pendirian atau paham-paham keagamaan yang dianutnya secara berlebih-lebihan.
2) Ekslusifisme
44 Aminuddin. Aliaras wahid, moh rofiq, Membangun Karakter dan Kepribadian Melalui Pendidikan Agama Islam (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), 149.
Ekslusifisme, dalam pengertian ekslusifitas ajaran, pemahaman, sikap, dan perilaku keagamaan yang menjadi salah satu penghambat berkembangnya kerjasama umat beragama.45 Karena ekslusifisme menjadikan setiap pemeluk agama selalu bertindak tertutup, dan menutup diri.
Sikap ini merupakan tindakan atas dasar agama yang berpijak pada pola penafsiran terhadap ajaran keagamaan yang sempit, serta ketakutan masyarakat akan agama lain merasuk pada masyarakat sehingga akan mempengaruhi tingkat keimanan terhadap agama yang dianutnya. Keraguan, ketakutan akibat pemahaman agama yang tidak integral tentu akan berpengaruh, sehingga lebarnya jurang pemisah atas dasar kelompok agama yang terdapat dalam masyarakat yang semestinya bersatu padu menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan yang terjadi.
45 Akhsanul Khalikin, Ekslusifisme Beragama, 2
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai obyek instrumen kunci, tekhnik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari generalisasinya.46
Tujuan dari penelitian ini nantinya berusaha untuk menjelaskan pengalaman-pengalaman apa yang dialami seseorang dalam kehidupan ini, termasuk interaksinya dengan orang lain.
Jenis penelitian menggunakan jenis penelitian fenomenologis.
Fenomenologis yaitu mendeskripsikan pemaknaan umum dari sejumlah individu terhadap pengalaman hidup mereka terkait dengan konsep atau fenomena.47 Karena mengingat bahwa Desa Sukoreno tersebut merupakan Desa yang Multiculture. Dari hal tersebut peneliti mencoba memahami suatu permasalahan dengan detail melaui berbicara lansung dengan individu yang mengalami fenomena dan meminta individu mengumpulkan cerita tanpa diganggu oleh dugaan sementara peneliti, dan apa yang peneliti baca dalam literatur Dari hal ini peneliti ingin mendeskripsikan fenomena masyarakat yang ada di Desa Sukoreno. Deskripsi ini terdiri dari apa dan bagaimana yang
46Sugiono, 2016, Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta), 9
47John W Creswel, 2015, Penelitian Kualitatif dan Desain Riset (Yogyakarta: Raja Grafindo Pers),105
35
dialami tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural terhadap masyarakat yang beragam.
B. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian menunjukkan di mana penelitian tersebut dilakukan.48 Adapun lokasi penelitian ini tempatnya di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari. Penentuan lokasi ini berdasarkan suatu pertimbangan yaitu Desa Sukoreno yaitu berangkat dari masyarakat multireligius yakni Islam, Kristen, dan Hindu yang ada di Desa Sukoreno merupakan salah satu desa yang unik dikarenakan dalam 1 desa terdiri dari berbagai macam agama, dimana semua adat dan kepercayaan mereka sangat kental dan cukup aktif dalam merayakannya walau di lingkungan yang beragam. Maka keberadaanya dapat mempengaruhi terjadinya konflik dan perpecahan baik dalam kelompok ataupun antar kelompok. Kondisi masyarakat multireligius yang ada di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari ini menjadii daya ketertarikan peneliti untuk melakukan penelitian mengenai Peran Tokoh Agama Islam dalam Menanamkan Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari 2017.
C. Subyek Penelitian
Subjek penelitian ini didasarkan pada upaya pencarian data individu- individu yang mengalami fenomena tersebut. Data hasil penelitian diperoleh dari subjek dan informan yang representative sesuai dengan tema “ Peran
48Tim Penyusun, Pedoman, 48.
Tokoh Agama Islam dalam Menanamkan Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari 2017.”
Kemudian tekhnik untuk mempermudah penelitian ini serta mendapat sumber yang kompeten dengan system penelitian ini, peneliti menggunakan tekhnik pengambilan sumber data secara berantai.49 Hal ini dilakukan karena dari data individu yang mengalami fenomena tersebut kurang memuaskan, maka mencari individu yang mengalami fenomena yang sama untuk digunakan sebagai sumber data. Dengan demikian jumlah sumber data akan menjadi semakin besar, seperti bola salju yang menggelinding, lama-lama menjadi besar.
Dalam penelitian ini informan atau subjek yang terlibat dan mengetahui permasalahan yang diteliti diantaranya:
1. Kepala Desa, merupakan orang yang terkemuka dan sangat berpengaruh karena mempunyai fungsi dan peran penting dalam masyarakat Sukoreno.
2. Tokoh Agama Islam , merupakan tokoh dalam komunitas agama Islam seperti kyai, ustadz, dan guru agama.
3. Masyarakat, merupakan sekelompok orang yang mempunyai perhatian dan peran dalam pendidikan di Desa Sukoreno.
D. Tekhnik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan
49 Djam’an Satori, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2014), 48
data. Tanpa mengetahui metode pengumpulan data maka penelitian tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standart data yang ditetapkan.
1. Observasi
Observasi adalah pengamatan terhadap suatu objek yang diteliti baik secara lansung maupun tidak lansung. Untuk memperoleh data yang harus dikumpulkan dalam penelitian.50
Dalam kegiatan yang akan diteliti ini peneliti menggunakan metode observasi non pastisipatif, artinya peneliti tidak terlibat hanya sebagai pengamat independen51. Adapun data yang diperoleh dari observasi yaitu:
peran tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural di Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari.
2. Wawancara
Wawancara merupakan interaksi komunikasi atau percakapan antara pewawancara (interviewer) dan terwawancara (interviewee) dengan maksud menghimpun informasi dari interviewee.52
Wawancara dalam penelitian ini menggunakan wawancara tak berstruktur karena peneliti berusaha mendapatkan informasi yang lebih mendalam tentang responden. Dalam hal ini peneliti tidak menyiapkan alternatif-alternatif jawab sehingga informan lebih bebas menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peneliti. Hal ini dilakukan agar peneliti dapat memperoleh data yang valid dengan suasana yang santai.
50 Ibid, 105
51 Ibid, 117
52 Ibid, 129