• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

B. Kajian Teori

2. Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural

a. Pengertian Pendidikan Agama Islam berbasis multikultural 1) Pengertian pendidikan agama Islam

Sebelum mengkaji tentang pengertian pendidikan agama Islam peneliti akan terlebih memaparkan tentang dasar pendidikan agama Islam, yaitu dalam Al-Qur’an, surat Asy- Syura ayat 52 yang berbunyi :25

 























































Artinya : “dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”.

25Al-Qur’an, 26:52

Dari ayat tersebut dapat diketahui, bahwa pendidikan dalam Islam pun juga mendapatkan posisi dalam Al-Qur’an serta memiliki kedudukan yang penting.

Pendidikan dalam istilah Islam sering kali disebut dengan Ta’dib, Ta’lim, dan Tarbiyah. Ketiga istilah tersebut memiliki kemiripian makna yaitu sama-sama agar memiliki suatu ilmu dengan tingkah laku yang juga baik.26

Pendidikan agama Islam menurut Hamka dalam karyanya Abuddin Nata, dengan singkat mengatakan pendidikan agama Islam adalah agama yang diturunkan Tuhan dengan perantaraan Rasul-rasulnya, ia memberi pimpinan bagi manusia di dalam usahanya memberi nilai hidupmya sendiri.27

Dari uraian pengertian pendidikan agama Islam yang telah dikemukakan beberapa tokoh dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud pengertian pendidikan agama Islam dalam penelitian ini adalah pendidikan yang mengandung nilai-nilai Islam dan berlandaskan pada Al-Qur’an dan Al-Hadist sebgaiamana yang telah diajarakan oleh Rasulullah kepada umat Islam.

Islam sendiri mempunyai arti bahwa Islam merupakan agama samawi (langit) yang diturunkan oleh Allh SWT melalui

26 A. Yasin Fatah, Dimensi-Dimensi Pendidikan Islam (Malang: UIN-Malang Press, 2008) 19

27 Nata, Sosiologi Pendidikan Islam, 133

utusannya Rasulullah yaitu Nabi Muhammad saw, yang ajaran- ajarannya terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an dan sunah dalam bentuk perintah-perintah, larangan-larangan dan petunjuk guna kebaikan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

2) Pengertian Multikultural

Kata “Multikultural” merupakan kata sifat yang dalam bahasa Inggris dari dua kata, yaitu “multi” dan culture” Secara umum, kata “multi” berarti banyak, ragam, dan aneka.

Sedangkan kata “culture” dalam bahasa Inggris memiliki beberapa makna, yaitu kebudayaan, kesopanan, dan pemeliharaan. Kata multikultural dalam tulisan ini diartikan sebagai keragaman budaya sebagai bentuk dari keragaman latar belakang seseorang.

Secara terminologi definisi multikultural sangat beragam rumusnya. Dari sekian banyak rumusan para pakar tentang definisi pedidikan multikultural dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) kategori, yaitu :28 1) Definisi dibangun berdasarkan prinsip demokrasi, kesetaraan, dan keadilan; serta 2) Definisi yang dibangun berdasarkan sikap sosial, yaitu: pengakuan, penerimaan, dan penghargaan.

Multikultural secara sederhana dapat dirumuskan sebagai sistem nilai atau kebijakan yang menghargai keragaman dalam

28 Abdullah Aly, Pendidikan Islam Multikultural di Pesantren (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), 104-105

suatu masyarakat yang didasarkan pada kesediaan untuk menerima dan menghargai kelompok lain yang berbeda suku, etnik, gender maupun agama.29

Dengan demikian, setiap individu merasa dihargai sekaligus merasa bertanggung jawab untuk hidup bersama komunitasnya. Pengingkaran suatu masyarakat terhadap kebutuhan untuk diakui (politics of recognition).

Dari beberapa definisi yang dipaparkan di atas , maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa multikultural merupakan mengakui adanya keberagaman etnik dan budaya masyarakat suatu bangsa. Dan memperhatikan akan nilai-nilai kemanusiaan dengan menjunjung tinggi nilai keadilan, kesetaraan dalam kesederajatan , dan tidak deskriminatis terhadap suatu budaya, ras, suku maupun agama lain. Dalam arti tidak membeda-bedakan status sosial, yang kaya dengan yang miskin, anak kota dengan anak pinggiran serta dalam perbedaan keyakinan.

3) Pengertian pendidikan agama Islam berbasis multikultural

Pendidikan agama Islam berbasis multikultural memiliki makna “Penyelenggaraan atau pelaksanaan yang mempertimbangkan segala bentuk keragaman dan perbedaan

29 Nata, Sosiologi Pendidikan Islam, 236

budaya, baik secara vertikal dan horizontal”.30 Hal ini mengingatkan pada pola pemahaman agama yang “kedisinian”

dan “kekinian” dalam memahami dan melaksanakan ajarannya.

Menurut Maslikhah dalam bukunya Abuddin Nata, Pendidikan agama Islam berbasis multikultural yaitu pendidikan yang melihat perbedaan suku, agama dan ras merupakan bagian dari skenario dan rekayasa penciptanya, satu paket dengan ragam ciptaan alam raya31. Disamping itu pula merupakan konsekuensi penciptanya atas manusia sebagai “makhluk nalar” atau yang di dalam Al-Qur’an, disebutnya sebagai “ahsanu taqwim” (sebaik- baik ciptaan). Dengan kata lain, ragam perbedaan tersebut merupakan fasilitas ekstra eksklusif yang Tuhan sediakan bagi hamba-Nya yang bernama manusia.

Dari beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam merupakan pendidikan yang bercirikan Islam memperlajari tentang masyarakat yang beragam, dimana kita harus menghargai perbedaan yang ada dan tetap berlandaskan pada agama Islam.

b. Nilai Multikultural dalam Pendidikan Agama Islam

Jika ditelusuri dalam ajaran agama Islam substansi pendidikan multikultural menghendaki pengakuan dan

30 Imran Siregar, Pendidikan Agama Islam dalam Perspektif Multikulturalisme, (Jakarta: Saadah Cipta Mandiri, 2009), 60

31 Nata, Sosiologi Pendidikan Islam, 255

penghormatan terhadap orang lain yang berbeda ras, suku, bahasa, adat istiadat, bahkan agama sekalipun.

Secara dogmatis, multikultural dalam ajaran pendidikan agama Islam dapat dilihat dari beberapa hal :32 Pertama. Manusia memiliki kedudukan yang sama di sisi Allah, yang membedakannya adalah kualitas ketakwaannya. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:33











































Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Sementara kualitas ketakwaan seseorang itu bersifat abstrak, hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Tidak ada hak untuk seseorang memvonis atau mengklaim agama orang lain yang tidak benar. Tidak ada pula hak seseorang untuk menentukan bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Adanya paradigma seperti ini yang

32 Imran Siregar, Multikulturalisme, 223

33 Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an A-Kafi, 49;13

akan berimplikasi kepada sikap menghormati dan menolong sesama manusia. Perbedaan yang terjadi ini disebabkan oleh suku, bahasa, adat-istiadat, dan kepercayaan.

Kedua, Umat Islam diperintahkan untuk senantiasa berbuat baik dan menegaskan keadilann meskipun kepada non muslim.

Dijelaskan dalam QS. Al-Mumtahanah ayat 8:34

 











































Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu.

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.”

Tidak ada alasan bagi Umat Islam untuk berlaku zhalim atau besikap sewenang-wenang terhadap non muslim. Walaupun secara aqidah jelas berbeda.

Ketiga, Islam mengajarkan bahwa seseorang yang berhubungan baik secara vertikal ataupun horizontal akan terhindar

34 Ibid, 60;8

dari kehinaan. 35 Seabagaimana dijelaskan dalam QS. Ali Imron ayat 112. :36

 







































































Artinya:” mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu, karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”

Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa manusia ditegaskan untuk menjalin hubungan kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.

35 Imam Siregar, Multikulturalisme, 224

36 Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an A-Kafi 3;112

Karena kita pasti membutuhkan orang lain begitupun orang lain akan membutuhkan kita.

Keempat, ajaran Islam memberikan perhatian yang amat besar terhadap urusan sosial.37 Karena ini termasuk dalam hubungan hablum minan nas.

Dari keempat ciri-ciri tersebut. Pendidikan multikultural dalam pendidikan agama Islam sangatlah penting. Karena, selain hubungan manusia dengan Allah terdapat juga hubungan manusia dengan manusia.

Hubungan manusia dengan sesama manusia hubungan horizontal dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini didasari karena pada hakikatnya manusia itu saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya.

3. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Menanamkan