• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor pendukung dan penghambat peran tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural di Desa

BAB I PENDAHULUAN

B. Penyajian Data dan Analisis

3. Faktor pendukung dan penghambat peran tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural di Desa

mengerti arti dari pendidikan agama Islam berbasis multikultural yang beliau ketahui dengan istilah toleransi dalam Islam. Dimana dalam toleransi ini kita saling menghormati, menghargai dan membiarkan orang lain untuk menganut kepercayaannya masing-masing. Dimana kita memeluk agama sesuai dengan keyakinan kita masing-masing, dikarenakan Desa Sukoreno memiliki keragaman agama yang dianutnya.

3. Faktor pendukung dan penghambat peran tokoh agama Islam dalam

yang multi agama ini menurut saya sangat sulit. Karena apa banyaknya agama dan kepercayaan baik intern maupun antar kelompok. Dari gang 1 samapi gang 3 ini berdempet – dempetan agama Islam, Hindu, dan Katholik. Iya itu toleransi memang yang harus djalankan. Seperti ketika hari Nyepi semua lampu di gang ini dimatikan, yang muslim yang nerima saja toh ini hanya sekali dalam setahun, jadi biarkan saja biar mereka bisa menjalani ibadahnya dengan tenang”82

Dan ditambahkan oleh bapak Salim selaku tokoh agama Islam di Kandang Rejo. Berikut petikan wawancara bersama bapak Salim :

“ Faktor pendukungnya itu toleransi itu yang ditonjolkan dalam masyarakat ini sehingga tidak ada gejolak-gejolak atau hal-hal yang tidak diinginkan. Mungkin itu kelebihan dari Sukoreno. Semua agama disini ada, jadi di pancasila no satu itu ada dijalankan di Sukoreno ini, ketuhanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.”83

Dari beberapa pendapat para tokoh agama Islam jika yang menjadi faktor pendukung dalam menanamkan pendidikan agama Islam di Desa Sukoreno ini adanya sikap toleransi. Hal ini dikuatkan oleh hasil observasi peneliti yang diperoleh dari bulan Mei sampai Juli.84 Mayarakat Desa Sukoreno saling memahami antar kelompok baik kelompok minoritas maupun kelompok mayoritas. Hal ini bisa dilihat dalam keseharian masyarakat Desa Sukoreno mereka saling menghormati satu sama lainnya tanpa pandang agama. Misal bersilaturrahmi ketika hari raya Idul Fitri.

82 H. Suaib Azizi, wawancara, Sukoreno, 24Juli 2017

83 Salim, wawancara, Sukoreno, 23 Juli 2017

84 Observasi, Sukoreno, Juli 2017

Umat non muslimpun ikut merayakannya dengan membeli kue buat lebaran.

Selain sikap tasamuh dan menciptakan kedamaian peneliti menemukan faktor lain sebagai faktor pendukung dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural, yaitu kerja sama para tokoh agama Islam. Seperti yang sudah dijelaskan dalam fokus pertama yakni peran dan fungsi tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural di Desa Sukoreno. Dalam rekaman wawancara sudah di jelaskan bahwa tokoh agama sangat berperan dan ikut andil ketika ada suatu persoalan yang muncul. Semua tokoh-tokoh berkumpul dan musyawarah mengambil jalan keluarnya.

Setelah peneliti mendapat data dan informasi, kemudian untuk mengecek keabsahan data peneliti mancari data berupa wawancara dari masyarakat di Desa Sukoreno. Berikut petikan wawancara mengenai keadaan dan kondisi Desa Sukoreno bersama Ibu Sulastri.85 “Nggeh, teng mriki boten enek nopo-nopo, damai semua bisa menghargai, tidak ada masalah dalam hubungan interaksi sehari-hari ini.”

Dan diperkuat oleh hasil observasi peneliti,86 bahwa faktor pendukung untuk menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural melalui sikap tasamuh dan mencitakan kedamaian,

85 Sulastri, Wawancara, Sukoreno, 27 Juli 2017

86 Observasi, Sukoreno, 25 Juli 2017

Hal ini bisa dilihat dalam kehidupan masyarakat di Desa Sukoreno, Interaksi dalam kesehariannya tidak ada masalah, mereka bisa hidup bersama dalam keanearagaman.

b. Faktor penghambat

Dari hasil pengamatan peneliti yang di dapatkan dari hasil wawancara, dan observasi terdapat beberapa yang menjadi faktor pendukung, diantaranya sebagai berikut.

1. Masuknya aliran baru

Bagi tokoh agama Islam dengan adanya aliran atau kepercayaan baru masuk ke Desa Sukoreno ini sangat dikhawatirkan oleh para tokoh agama Islam karena bisa mempengaruhi pada keyakinan masyarakat awam, yang ilmu agama Islamnya masi berkurang. Berikut petikan wawancara yang peneliti peroleh dengan bapak Musholli selaku tokoh agama Islam sekaligus menjadi kepala sekolah di MI Miftahul Huda Sukoreno.

“Memang ada aliran baru dan menurut saya ini bisa jadi berpengaruh terhadap masyarakat awam. Aliran ini “Sapto Dharmo” yang semua agama bisa masuk ke dalam aliran ini.

Kalo agamanya dalam ya aman-aman saja, tapi bagi orang yang masih awam ini dikhawatirkan bisa salah dalam pemahamannya pada keyakinan agamanya, nanti di anggap sama saja walau cara sholatnya berbeda. Kalau Tuhannya satu ya satu, ubudiyahnya berdasarkan Al-Qur’an dan hadist karena kebetulan saya disini Ahli Sunnah Wal Jamaah.”

Kemudian ditambahkan lagi dari bapak Suaib Azizi selaku Ketua ranting NU di Desa Sukoreno.

“ loh iya menjadi pengaruh menurut saya. Dengan masuknya aliran baru disini. Kemarin pernah ada aliran

“Sapto Darmo” yang artinya pokok ileng, dadi masio gak sholat iku gapoo, kepercayaan ini kabeh agomo mlebu, ada kristen, Katholik,Hindu, dan Islam, lah nanti kalo ini dibiarkan ini kan jadi masalah buat orang awam yang masih rendah agamanya, kalo buat orang yang kuat agamanya ya tidak jadi masalah. Sempat juga aliran ini mau membuat tempat peribadatan di gang 6 semua materialnya sudh lengkap, surat ijin sudah lengkap, tinggal tanda tangan Desa.

Ini untuk para tokoh agama Islam tidak setuju karena apa?

Dikhawatirkan anak cucu kita mengikuti jika belum mengimanai Islam secara mendalam. Akhirnya berdasarkan musyawarah bersama para tokoh baik tempat peribadatan Sapto Darmo ini tidak jadi dibangun. Kemudian ada lagi aliran baru entah aliran apa yang meminta ijin kepada saya untuk meminjam musholla sebagai tempat i’tikaf yang aliran ini pusatnya dari Jogja.”87

Hal ini juga diperkuat oleh Bapak Salim, bahwa :

“ untuk hambatan kalo masalah lain-lain itu disini tidak ada, Cuma ada hambatan ketika masuknya aliran Sapto Dharmo, ini aliran yang semua agama bisa masuk, yang hanya pokok ingat, waktu adzan meski tidak sholat yang penting itu ingat pada Tuhannya itulah aliran Sapto dharmo. Ini sanagt dikhawatirkan oleh para tokoh agama takut untuk orang- orang awam ini mengikutinya, dan bisa salah dalam pemahamannya.88

Dari Hasil wawancara kepada para tokoh agama Islam, masuknya aliran-aliran agama baru ini memberikan pengaruh besar terhadap umat Islam. Dan yang lebih dikhawatirkan lagi, apabila masyarakat awam mengikuti aliran agama baru ini, sebab hal ini bisa menjadikan mereka salah dalam pemahamannya.

Selain dari tokoh agama Islam, masyarakatpun ikut khawatir akan adanya aliran baru. Dilihat dari realita di lapangan masi

87 Suaib Azizi, Wawancara, Sukoreno, 24 Juli 2017

88 Salim, Wawancara, Sukoreno, 23 Juli 2014

banyak masyarakat awam. Seperti yang di ungkapkan oleh Ibu Ruqayyah:89

“Disini ada liran baru yang sempat menjadi konflik di dalam masyarakat sini, aliran itu berasal dari Jogja yang semua agama bisa masuk. Sampai sekarang masi tetap berjalan aliran tersebut, berkumpulnya tiyap hari munggu. Ini menjadi terhambatnya hubungan dalam masyarakat.”

Hasil informasi dari masyarakat bahwa aliran baru bisa menjadi terhambatnya hubungan dalam sosial masyarakat, selain itu juga banyak masyarakat awam dikhawatirkan untuk salah dalam pemahaman tersebut.

2. Ekslusifisme

Dalam kehidupan masyarakat termasuk di Desa Sukoreno yang berbeda agama ini sering terjadi sikap ekslusifisme (sikap tertutup) terhadap masyarakat lainnya, sehingga memiliki kecenderungan dan dampak terhadap bentuk komunikasi dan interaksi pada masyarakat sekitar. Hal ini seperti yang telah diungkapkan oleh bapak Salim, sebagai berikut :

“menganggap agamanya paling benar itu memang benar, akan tetapi jika berlebihan itu bisa mengakibatkan fatal bisa menimbulkan perpecahan. Dengan keyakinan yang diimani seseorang bisa memperkuat agamanya dan memperkuat ajaran kitab sucinya dengan benar.”

Begitu halnya yang diungkapkan oleh bapak Suaib Azizi, sebagai berikut :

“Sikap ekslusifisme merupakan hal yang wajar terjadi di lingkungan masyarakat yang berbeda agamanya, karena

89 Ruqayyah, wawancara, Sukoreno, 27 Juli 2017

setiap agama pasti mempunyai ajaran yang sakral begitu juga dengan ajaran Islam itu sendiri. Jika ada masyarakat yang tertutup itu memang wajar akan tetapi bisa jadi masalah jika terlalu tertutup bisa menjadi penghambat untuk menjalankan sikap tasamuh. Karena di Dsea Sukoreno memang terdapat beberapa agama jadi kita harus bisa terbuka, seperti itu.”90

Dengan adanya sikap ekslusifisme ini memang wajar dan bisa saja terjadi di Masyarakat yang berbeda agama, karena mereka masing-masing memiliki kitab suci yang dianutnya menurut kepercayaannya masing-masing.