BAB I PENDAHULUAN
B. Kajian Teori
3. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Menanamkan Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural
Karena kita pasti membutuhkan orang lain begitupun orang lain akan membutuhkan kita.
Keempat, ajaran Islam memberikan perhatian yang amat besar terhadap urusan sosial.37 Karena ini termasuk dalam hubungan hablum minan nas.
Dari keempat ciri-ciri tersebut. Pendidikan multikultural dalam pendidikan agama Islam sangatlah penting. Karena, selain hubungan manusia dengan Allah terdapat juga hubungan manusia dengan manusia.
Hubungan manusia dengan sesama manusia hubungan horizontal dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini didasari karena pada hakikatnya manusia itu saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya.
3. Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Menanamkan
menghormati sifat dasar, keyakinan, dan perilaku yang dimiliki oleh orang lain.
Dalam literatur agama Islam, toleransi disebut dengan tasamuh yang dipahami sebagai sifat atau sikap menghargai, membiarkan, atau membolehkan pendirian (pandangan) orang lain yang bertentangan dengan pandangan kita.
Secara metodologis, toleransi adalah penerimaan terhadap yang tampak sampai kepalsuannya tersingkap38. Toleransi relevan dengan epistimologi. Ia juga relevan dengan etika, yaitu sebagai prinsip menerima apa yang dikehendaki sampai ketidaklayakannya tersingkap. Dan toleransi adalah keyakinan bahwa keanekaragaman agama terjadi karena sejarah dengan semua faktor yang memengaruhinya, baik kondisi ruang, waktu, prasangka, keinginan, dan kepentingannya yang berbeda antara satu agama dengan agama lainnya.
Sementara pemahaman manusia sangat terbatas dan tidak mampu mencapai hakikat dari ayat-ayat dalam kitab suci masing- masing agama.39 Manusia hanya dapat menafsirkan ayat-ayat suci yang ada.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tasamuh berarti suatu sikap yang melarang adanya deskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat. Di
38 Ngainun Naim dan Ahmad Syauqi, Pendidikan Multikultural: Konsep dan Aplikasi (Jakarta: Ar- Ruzz Media, 2008), 77
39 Sulalah, Pendidkan Multikultural (Malang: UIN-Maliki Press, 2012),63
sini dimaksudkan bahwa penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya.
2. Menciptakan Kedamaian
Untuk mengembangkan prinsip demokrasi, kesetaraan, dan keadilan juga diperlukan orientasi hidup yang universal. Diantara orientasi hidup yang universal tersebut adalah kedamaian.40 Orientasi kemanusiaan dalam pendidikan agama Islam berbasis multikultural dapat diapahami sebagai nilai yang menempatkan peningkatan pengembangan manusia, keberadaanya, dan martabatnya sebagai pemikiran dan tindakan manusia yang tertinggi.
Orientasi kemanusiaan dalam pendidikan Islam agama berbasis multikultural ini relevan dengan konsep Islam Hablum Min Al-Nas. 41Menempatkan manusia pada dua posisi. Pertama adalah bahwa manusia merupakan makhluk terbaik di muka bumi ini. Posisi kedua, adalah manusia harus tunduk kepada hukum Allah yang dikenal dengan kesatuan kemanusiaan. Kedua posisi manusia tersebut melahirkan doktrin Islam tentang pentingnya memelihara kelansungan hidup manusia.
Kedamaian merupakan cita-cita semua orang yang hidup di tengah-tengah masyarakat yang heterogen. Dalam perspektif
40 Aly, Pendidikan Islam Multikultural, 114
41 Ibid, 115
Islam, orientasi kedamaian ini kompatibel dengan doktrin Islam tentang as-salam.
Doktrin ini, menurut Maulana Wahiduddin Khan yang dkutip dalam bukunya Abdullah Aly, mengandung pengertian bahwa Islam menawarkan visi hidup yang harmonis dan damai di tengah-tengah kelompok masyarakat yang beragam42. Dengan mengutip Quran Surat An-Nahl ayat 16.
Artinya :” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan
hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang- orang yang mendapat petunjuk”.43
Berdasarkan ayat tersebut, seorang musuh merupakan sosok yang potensial untuk bisa menjadi teman. Karena itu, seseorang tidak memiliki wewenang untuk memanggil orang lain
42 Ibid, 117
43 Al-Quran, 16:125
sebagai orang kafir, ketika seorang Muslim melihat non muslim sebagai yang berbeda. Atas dasar ini, ia merekomendasikan agar visi Islam tentang hidup harmonis dan damai dapat terwujud dalam masyarakat yang beragam, diperlukan sosialisasi pemahaman bahwa semua orang sangat potensial menjadi sekutu, yakni sekutu dalam menentang kezaliman, ketidakadilan, dan kemungkaran.
b. Faktor penghambat tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural
Selain faktor pendukung terdapat pula faktor penghambat yang kerap kelai terjadi di kehidupan sosial, yang dapat , menggangu keserasian dan integrasi masyarakat, yaitu :
1) Masuknya aliran baru
Hal ini ditakutkan, jika dengan datangnya aliran baru dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi jauh menyimpang dari doktrin dasar kebenaran suatu agama, yang dapat menimbulkan kerawanan44. Baik pada hubungan interen suatu agama maupun hubungan antar umat beragama, biasanya bersifat ekslusif dan mengajukan klaim-klaim kebenaran terhadap pendirian atau paham-paham keagamaan yang dianutnya secara berlebih-lebihan.
2) Ekslusifisme
44 Aminuddin. Aliaras wahid, moh rofiq, Membangun Karakter dan Kepribadian Melalui Pendidikan Agama Islam (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), 149.
Ekslusifisme, dalam pengertian ekslusifitas ajaran, pemahaman, sikap, dan perilaku keagamaan yang menjadi salah satu penghambat berkembangnya kerjasama umat beragama.45 Karena ekslusifisme menjadikan setiap pemeluk agama selalu bertindak tertutup, dan menutup diri.
Sikap ini merupakan tindakan atas dasar agama yang berpijak pada pola penafsiran terhadap ajaran keagamaan yang sempit, serta ketakutan masyarakat akan agama lain merasuk pada masyarakat sehingga akan mempengaruhi tingkat keimanan terhadap agama yang dianutnya. Keraguan, ketakutan akibat pemahaman agama yang tidak integral tentu akan berpengaruh, sehingga lebarnya jurang pemisah atas dasar kelompok agama yang terdapat dalam masyarakat yang semestinya bersatu padu menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan yang terjadi.
45 Akhsanul Khalikin, Ekslusifisme Beragama, 2
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai obyek instrumen kunci, tekhnik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari generalisasinya.46
Tujuan dari penelitian ini nantinya berusaha untuk menjelaskan pengalaman-pengalaman apa yang dialami seseorang dalam kehidupan ini, termasuk interaksinya dengan orang lain.
Jenis penelitian menggunakan jenis penelitian fenomenologis.
Fenomenologis yaitu mendeskripsikan pemaknaan umum dari sejumlah individu terhadap pengalaman hidup mereka terkait dengan konsep atau fenomena.47 Karena mengingat bahwa Desa Sukoreno tersebut merupakan Desa yang Multiculture. Dari hal tersebut peneliti mencoba memahami suatu permasalahan dengan detail melaui berbicara lansung dengan individu yang mengalami fenomena dan meminta individu mengumpulkan cerita tanpa diganggu oleh dugaan sementara peneliti, dan apa yang peneliti baca dalam literatur Dari hal ini peneliti ingin mendeskripsikan fenomena masyarakat yang ada di Desa Sukoreno. Deskripsi ini terdiri dari apa dan bagaimana yang
46Sugiono, 2016, Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta), 9
47John W Creswel, 2015, Penelitian Kualitatif dan Desain Riset (Yogyakarta: Raja Grafindo Pers),105
35
dialami tokoh agama Islam dalam menanamkan pendidikan agama Islam berbasis multikultural terhadap masyarakat yang beragam.