i
PENGGUNAAN KARYA MONTASE PADA KETERAMPILAN BERBICARA SISWA KELAS V DI SD INPRES BALABURU KABUPATEN GOWA
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memeroleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh
Nur Aniah Sentani Waris 10540 9740 15
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2020
ii Scanned with CamScanner
iii Scanned with CamScanner
iv Scanned with CamScanner
v Scanned with CamScanner
vi
MOTO DAN PERSEMBAHAN
“Lama memang, tapi itu caranya. Semua harus dilewati seperti anak tangga. Satu-persatu, jangan lompat-lompat karena kalau melompat kemungkinan terplesetnya tinggi”. (Chairul Tanjung)
Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda Namun jangan dijadikan penghalang tuk menggapai cita–cita Teruslah belajar dan belajar dari pengalaman Karena pengalaman adalah guru yang paling berharga
Kupersembahkan karya sederhana ini sebagai ungkapan rasa cinta dan banggaku sebagai seorang anak atas segala pengorbanan dan kasih sayang ibundaku dan ayahandaku, saudara-saudariku, serta keluargaku yang senantiasa mendoakanku.
Dan sahabat yang selalu setia menemani saat suka maupun duka.
vii ABSTRAK
NUR ANIAH SENTANI WARIS, 2019. Penggunaan Karya Montase pada Keterampilan Berbicara Siswa Kelas V Sd Inpres Balaburu Kabupaten Gowa.
Skripsi, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I A Rahman Rahim dan pembimbing II Kaharuddin.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan karya montase pada keterampilan berbicara siswa kelas V di SD Inpres Balaburu Kabupaten Gowa.
Teknik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara yang menggunakan instrumen penelitian berupa pedoman observasi sesuai dengan penilaian yang berlaku dengan menggunakan data obseravasi yang dapat dilihat dari aspek afektif dalam proses penggunaan karya montase dan sikap social siswa selama dikelas menunjukkan bahwa antar siswa saling membantu dan aspek kognitif yang dinilai dari hasil rekaman video yang menunjukkan bagaimana siswa bercerita tentang karya yang telah dia buat hasil dari imajinasinya sendiri, dari segi observasi aspek kognitif tentang bagaimana keterampilan para siswa dalam menggunakan alat dan bahan yang ada menunjukkan bahwa siswa terlihat mahir dalam menggunakannya serta dapat membantu siswa lain yang kesusahan dan wawancarayang dilakukan bersama siswa dan guru yang menunjukkan sebab dari kurangnya minat siswa dalam keterampilan berbicara. Analisis data dilakukan dengan menelaah hasil reduksi, penyajian dan penarikan kesimpulan.
Dari hasil penelitian dapat disimpukan bahwa karya montase sendiri bisa membantu siswa untuk memperlihatkan keterampilan berbicara, terlebih untuk berbicara di depan kelas agar siswa lebih percaya diri dihadapan teman-temannya.
Karya montase yang penulis jadikan acuan terhadap keterampilan berbicara siswa tentunya masih belum sempurna. Maka dari itu hal ini harus di kembangkan lagi guna menggugurkan kebiasaan-kebiasaan lama dalam proses pembelajaran yang selama ini dilakukan oleh siswa yang membuat mereka jenuh ataupun tidak bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran yang berlangsung. Dengan demikian penggunaan karya montase berpengaruh terhadap keterampilan berbicara siswa kelas V SD Inpres Balaburu Kabupaten Gowa.
Kata kunci: Montase, Berbicara, Afektif, Kognitif, Psikomotorik
viii
KATA PENGANTAR
Segala pujian hanyalah bagi Allah Swt yang telah memberikan curahan kasih sayang, rahmat dan karunia, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Penggunaan Karya Montase pada Keterampilan Berbicara Siswa Kelas V di SD Inpres Balaburu Kabupaten Gowa” ini dengan tepat waktu walaupun dengan keterbatasan pengetahuan, waktu, tenaga dan sebagainya yang dimiliki penulis.
Tak lupa pula penulis memgirimkan salawat dan salam atas junjungan nabi Muhammad saw., Rasul Allah Swt yang telah membawa kita dari alam kegelapan ke alam terang benderang dengan segala dakwahnya yang sarat dengan petunjuk dan nasihat agama.
Penyusunan skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada program studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Dalam penyusunan, banyak hambatan dan rintangan yang dihadapi penulis.
Namun berkat rahmat-Nya dan bantuan dari berbagai pihak, baik yang bersifat material maupun nonmaterial, sehingga skripsi ini dapat terwujud seperti yang ada di tangan pembaca saat ini.
ix
Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada yang teristimewa kepada orang tua Ayahanda Alm. Waris Tabalolo dan Ibunda Masriah yang telah melahirkan penulis, serta kepada keluarga besar Tabalolo membimbing dan memberikan dukungan baik moral maupun materi sejak kecil sampai sekarang sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Teman-teman Yanti Sri Rahayu, Fitriani Hasim, Sri Dayanti, Sulfiani, Nurhikmah yang selalu memberi dukungan atau menemani baik suka maupun duka.
Begitu pula penghargaan dan ucapan terima kasih disampaikan dengan hormat kepada ; (1) Dr. A. Rahman Rahim, M.Hum. pembimbing I (2) Kaharuddin, S.Pd., M.Pd., Ph.D. pembimbing II yang telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk memberi waktu serta ilmu pengetahuan dengan penuh bijaksana sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Serta ucapan terima kasih kepada (3) Prof. Dr. H. Abd Rahman Rahim, S.E.,M.M. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, (4) Erwin Akib,S.Pd,M.Pd.,Ph.D. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar , (5) Aliem Bahri, S.PD.,M.Pd. Ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar serta Bapak dan Ibu dosen jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang memberikan ilmu pengetahuan yang tidak ternilai dengan materi selama penulis menempuh studi di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga penulis ucapkan kepada kepala sekolah SD Inpres Balaburu Kabupaten Gowa Maddatuang, S.Pd. yang telah
x
memberikan izin penelitian kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini sertaSitti Halumah S.Pd yang selalu membimbing pada saat penelitian di kelas.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini, masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi sempurnanya skripsi ini.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Makassar, Januari 2020
Penulis
xi DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
SURAT PERNYATAAN ... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Manfaat Penelitian ... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka ... 7
xii
1. Konsep Montase dalam Pembelajaran ... 7
2. Tinjauan Keterampilan Berbicara ... 13
3. Hakikat Pendidikan Bahasa Indonesia di SD... 18
B. Kerangka Pikir ... 22
C. Kajian Relevan ... 25
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian... 27
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 28
C. Fokus Penelitian ... 28
D. Informan Penelitian ... 29
E. Jenis dan Sumber Data ... 30
F. Instrumen Penelitian ... 30
G. Teknik Pengumpulan Data ... 32
H. Teknik Analisi Data ... 34
I. Teknik Keabsahan Data ... 39
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi ... 41
B. Hasil Penelitian ... 46
C. Pembahasan... 73
xiii BAB V PENUTUP
A. Simpulan ... 86 B. Saran ... 87 DAFTAR PUSTAKA ... 89 LAMPIRAN-LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1 Pedoman Observasi Penilaian Keterampilan Berbicara Siswa ... 31 3.2 Pedoman Wawncara dengan Guru ... 32 3.3 Pedoman Wawancara dengan Siswa ... 32
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1 Gambar Kerangka Berpikir... 24 4.1 Gambar Proses Pemilihan Montase ... 46
xvi
DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN I-II : Instrumen Wawncara
LAMPIRAN III : Instrument Observasi LAMPIRAN IV : Hasil Karya Montase Siswa LAMPIRAN V : Dokumentasi
LAMPIRAN VI : Persuratan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Menurut Harris (Tarigan, 2008:1,86) keterampilan berbahasa mempunyai empat komponen, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan tersebut saling berkaitan. Biasanya anak-anak pada mulanya mempelajari bahasa dengan cara menyimak selanjutnya berbicara, setelah itu baru membaca dan menulis. Menyimakdan berbicara merupakan kaitan komunikasi dua arah secara langsung, yang merupakan komunikasi tatap muka atau face to face communication Brooks (Tarigan 2008). Namun ada juga yang berpendapat bahwa berbicara setara dengan ketiga keterampilan lain (menyimak, membaca, menulis) dan keempatnya saling berinteraksi satu samalain.
Oleh karena itu keempat keterampilan tersebut harus diajarkan secara bersamaan. Iskandar wasid dan Sunendar (2008) menjelaskan keterampilan berbicara merupakan keterampilan memproduksi sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak. Sama halnya dengan keterampilan menyimak, keterampilan berbicara juga salah satu factor penting dalam menyampaikan informasi. Kemampuan orang yang berbicara sangat berpengaruh terhadap informasi yang diterima oleh pendengar.
Maulani (2014) mengatakan anak yang ingin mengambil bagian atau ingin diterima oleh kelompok maka dituntut untuk memiliki keterampilan berbicara, karena itu merupakan syarat penting dalam bergaul. Maulani juga menambahkan
2
kemampuan berbicara yang baik merupakan modal utama bagi anak untuk menjadi seorang yang dihargai di lingkungan tempat ia berada.
Dari sekian banyak pemaparan tentang berbicara itu sendiri, dapat dikatakan bahwa keterampilan berbicara adalah aktivitas yang dilakukan untuk berkomunikasi sehingga dapat menghasilkan arah komunikasi yang jelas. Dan bagaimanakah cara menunjukkan keterampilan berbicara, salah satunya cara dengan berinteraksi dengan teman sebaya serta memberanikan diri untuk tampil di depan kelas jika guru memberikan tugas. Melalui serangkaian cara di atas dapat dikatan jika keterampilan berbicara dapat membina hubungan sosial antar siswa dan juga guru serta mengajarkan siswa agar lebih percaya diri.
Namun fenomena di lapangan yaitu di SD Inpres Balaburu Kabupaten Gowa, yang jika ditinjau dari letak geografis dimana sekolah ini berada di kelurahan Kalase‟rena yang mempunyai 2 sekolah, dan juga faktor keragaman latar belakang pekerjaan orangtua siswa di SD Inpres Balaburu yang mayoritas adalah petani membuat para siswa di sekolah tersebut mempunyai karakter yang berbeda pula, maka dari itu guru harus lebih ekstra dalam merangsang anak untuk mengkomunikasikan dan menyampiakan pendapat maupun ide (berbicara) saat pembelajaran berlangsung, ketika siswa tidak mempunyai ide untuk disampaikan, untuk itu diperlukan cara untuk melatih anak memunculkan ide, yang kemudian ide tersebut diaplikasikan dalam bentuk perbuatan ataupun mengungkapkannya kepada teman-teman.
3
Hal ini yang menyebabkan banyak siswa yang masih kurang dalam penguasaan keterampilan berbicara, padahal berbicara merupakan faktor penting dalam berkomunikasi. Lain daripada itu, juga disebabkan oleh kurangnya media, metode, model, dan teknik mengajar yang diaplikasikan. Di antara beberapa cara untuk merangsang munculnya keterampilan berbicara anak adalah dengan melatih anak untuk memunculkan ide ialah dengan menggunakan media gambar. Selama ini anak lebih banyak terlibat dalam kegiatan mewarnai gambar atau teknik kolase menempeli gambar dengan guntingan kertas-kertas kecil, namun jarang sekali guru meminta siswa untuk menceritakan kembali apa yang telah dikerjakanknnya, atau menceritakan kembali isi dan pesan dari gambar- gambar tersebut.
Teknik menempel gambar sering disebut juga dengan montase ini telah memberikan beberapa penelitian, menurut Gunawan (2007) dari beberapa penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa suatu informasi dapat diserap yaitu sebesar 90% dari apa yang didengar, dilihat, didiskusikan dan dilakukan dengan karya montase ini sendiri diharapkan akan mampu melatih daya khayal anak melahirkan ide dalam menempatkan gambar-gambar yang mereka gunting. Hal ini diperkuat denga peneliyian yang juga telah dilakukan Pertama adalah penelitian yang dilakukan oleh Fuad.Z, Helminsyah, dan Aprian.S (2017) dengan judul “Pengembangan Model Pembelajaran Montase Kreatif dengan Teknik Lihat, Gunting, Tempel, dan Ceritakan (LGTC) untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa kelas IV SD-ITAl Azhar Banda Aceh”. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan menunjukkan terjadi peningkatan keterampilan
4
berbicara siswa SD-ITAl Azhar Banda Aceh. Kemudain penelitian Kedua adalah penelitian yang dilakukan oleh Dyah Lestari (2015) dengan Judul “Meningkatkan Kemampuan Bercerita Melalui Kegiatan Montase Dengan Media LAKAS Pada Anak Kelompok B TK Taman Indira Kecamatan Pare Kabupaten Kediri.” hasil dari penelitian yan telah dilakukan bahwa ada peningkatan terhadap kemampuan bercerita melalui kegiatan montase dengan media LAKAS pada anak kelompok B TK Taman Indira Kecamatan Pare Kabupaten Kediri dari mulai tahap pra tindakan, siklus I,II dan III.
Namun pada saat di lapangan ternyata penggunaan karya montase masih dianggap tabu oleh sebagian guru dikarenakan karya montase ini juga kurang dikenal oleh kalangan umum, terlebih jika berhubungan dengan jenjang pendidikan Sekolah Dasar karena bentuk karyanya masih mempunyai kemiripan dengan karya seni mozaik dan juga kolase. Sehingga jenis karya ini dianggap sebagai salah satu dari jenis karya tersebut. Padahal jika ditelusuri lebih dalam karya montase sendiri ini merupakan media yang cocok untuk mengembangkan kreativitas dan ide anak. Karena mereka tidak hanya bercerita dengan melihat gambar yang sudah ada seperti pada proses bercerita menggunakan gambar seri, tetapi mereka membuat cerita mereka sendiri kemudian membagikannya kepada teman- teman mereka.
Kenyataan bahwa guru mengalami kesulitan dalam menstimulasi dan mengembangkan keterampilan berbicara anak usia sekolah dasar,untuk itu peneliti tertarik melakukan penelitian tentang seberapa baik peran sebuah karya montase
5
yang diketahui guru untuk mengembangkan kreativitas anak dalam meningkatkan keterampilan berbicaranya. Adapun judul penelitian berdasarkan uraian diatas adalah “Penggunaan Karya Montase pada Keterampilan Berbicara Siswa Kelas V di SD Inpres Balaburu Kabupaten Gowa”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang sebelumnya, maka permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah “Apakah penggunaan karya montase efektif pada keterampilan berbicara siswa kelas V di SD Inpres Balaburu Kabupaten Gowa”
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui “Penggunaan karya montase pada keterampilan berbicara siswa kelas V di SD Inpres Balaburu Kabupaten Gowa?”
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis
a. Mendeskripsikan tentang penggunaan karya montase pada keterampilan berbicara terlebih siswa kelas V di SD Inpres Balaburu.
b. Sebagai dasar atau acuan untuk penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis a. Bagi siswa
6
Memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan ide yang ada dalam pikirannya sehingga mampu mebuat sebuah karya yang menarik dan juga dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa.
b. Bagi guru
Meningkatkan pemahaman bagi guru mengenaicara mengembangkan ide siswa agar dapat lebih percaya diri dalam berbicara menggunakan media an menarik.
c. Bagi sekolah
Dapat dijadikan sebagai bahan informasi bagi lembaga pendidikan dalam usaha mengembangkan ide siswa agar dapat lebih percaya diri dalam proses pembelajaran.
7 BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS A. Kajian Pustaka
1) Konsep Montase dalam Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran merupakan bagian yang paling penting dalam implementasi kurikulum. Untuk mengetahui efektifitas dan efisiensi pembelajaran, dapat diketahui melalu kegiatan pembelajaran. Untuk itu dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran tersebut seperti seorang pengajar megetahui bagaimana membuat kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Karya montase sendiri inipun yang diharapkan mampu melatih daya khayal anak, melahirkan ide dalam menempatkan gambar-gambar yang mereka gunting sehingga membantu mereka menghasilkan karya yang akan menjadi sarana untuk meningkatkan keterampilan berbicara. Adapun prinsip pembelajaran yang tercakup dalam karya montase ini seperti: 1) prinsip perhatian atau motivasi, dimana perhatian merupakan langkah awal untuk menarik minat sehingga timbulah sebuah motivasi, diharpkan dengan karya montase perhtian anak dapat terpaku kepada berbagai macam gambar yang tersedia sehingga memacu motivasinya agar dapat mengembangkan ide yang ada di pikirannya. 2) prinisp keaktifan, dimana seseorang melakukan kegiatan secara sadar untuk mengubah suatu perilaku yang dapat berupa kegiatan fisik atau pskikis, seperti kegiatan fisik dimana kita bisa melihat anak saat melakukan proses berlatih dalam kegiatan mendengar dan berbicara sesuai hasil karyanya, sedangkan kegiatan psikis misalnya menggunakan kemampuan pengetahuan anak
8
tersebut untuk mengelurakan ide tentang bagaimana dia akan mebuat karya montase. 3) keterlibatan langsung /pengalaman, dimana pembelajaran yang baik itu adalah pembelajaran yang langsung sesuai apa dilihat, dimana dalam karya montase ini anak tidak hanya melihat hasil jadi dari gambar tersebut seperti halnya gambar berseri, tetapi sang anak beperan langsung dalam tahap pembuatan karya montase mulai dari mecari sendiri konsep, proses pengguntingan, pengeleman dan terakhir proses presentasi dengan cara bercerita di depan temna- temannya.
a) Pengeritan Berkarya
Karya seni dihasilkan oleh seniman melalui suatu cara yang rahasia dan misterius. Karya itu ada atau hadir dan mepunyai tenaga untuk menciptakan atmosfer spiritual, dan dari sudut pandang bagian dalam ini seseorang dapat menilai apakah karya iu adalah karya seni yang baik atau jelek. Karya itu mempunyai suatu kekuatan yang pasti nyata dan dengan tujuan tertentu, baik dalam kehidupan material maupun spiritualnya. (Sukarman,2007:102).
Berkarya artinya mengerjakan suatu pekerjaan sampai menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi semua orang, karya tersebut dapat berupa benda, jasa atau hal lainnya. Menghargai hasil karya orang lain berarti kita menghargai orang yang berkarya itu, begitu juga sebaliknya mencelanya berarti kita mencela yang menciptakan
Berkarya adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu berupa hasil pekerjaan. Berkarya sangat erat hubungana dengan kerja keras. Kerja keras
9
menunjukkan bahwa seseorang mempunyai keinginan untuk memperoleh hasil secara baik dan efektif. Orang yang demikian bertujuan agar hari ini (sekarang) harus lebih baik daripada hari kemarin.
b) Seni Montase
Montase Karya montase sangat identik dengan guntingan gambar atau biasa juga disebut sebagai karya gunting tempel (cut and paste). Montase berasal dari bahasa Inggris (montage) artinya menempel. Pada awal kehadirannya dikenal dalam seni fotografi yang kemudian berpengaruh pada cara karya seni dengan menghasilkan kreasi tema- tema baru yang unik.
Montase merupakan sebuah karya yang dibuat dengan cara memotong objek-objek gambar dari berbagai sumber kemudian ditempelkan pada suatu bidang sehingga menjadi satu kesatuan karya dan tema (Susanto,2012). Guntingan gambar artinya gambar yang sudah ada atau sudah tercetak pada media cetak seperti foto, koran, majalah, buku dan sebagainya digunting hingga terlepas dari lembaran-lembaran aslinya. Gambar-gambar yang banyak tersedia dari berbagai sumber tersebut dipilih dan hanya digunting yang sesuai dengan objek yang dikehendaki, menurut tema yang dibuat (Muharrar, 2013:44).
Pengertian montase, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah:
Komposisi gambar yang dihasilkan dari percampuran unsur dari beberapa sumber (Depdiknas: 2001: 754). Karya montase dihasilkan dari beberapa gambar yang sudah jadi dengan gambar yang sudah jadi lainnya. Gambar rumah dari majalah kemudian dipotong yang hanya diambil gambar rumahnya saja kemudian
10
ditempelkan pada permukaan alas gambar. Ini merupakan salah satu contoh sederhana dari karya montase.
Menurut Sunaryo (2010:59) montase merupakan karya lukisan rekatan yang dibuat dengan cara menyusun guntingan-guntingan gambar sehingga menciptakan kesatuan bentuk yang baru. Dengan demikian untuk membuat montase dibutuhkan sejumlah gambar dari media cetak yang dapat digunting dan ditempel. Adapun media cetak yang dapat digunakan untuk membuat montase antara lain: koran, majalah, buku, tabloid, kalender, dan lain sebagainya. Pada dasarnya dalam pembuatan montase ada dua cara, yakni rekatan di atas dan rekatan di bawah.
Pada cara rekatan di atas, rekatan pada bidang tempel dimulai dari memilih bidang-bidang warna yang luas dan polos, atau jika bergambar dipilih yang sederhana dan tidak rumit. Bidang-bidang tempelan yang luas atau bergambar sederhana ini diperlukan sebagai dasar atau latar belakang lukisan.Selanjutnya di atas latar ini dapat disusun dan direkatkan guntingan- guntingan gambar yang lebih kecil untuk mewujudkan kesatuan bentuk dan tema.Pada rekatan bawah, disusun terlebih dahulu guntingan-guntingan gambar yang dipilih dan kemudian direkatkan pada bidang tempel.Setelah itu susunan ditindih dan ditempeli guntingan gambar yang luas, yang pada beberapa bagiannya telah dilubangi (Sunaryo, 2010:59).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa montase adalah suatu teknik menggambar/atau melukis dengan memanfaatkan bentuk-bentuk yag teah ada sebelumnya dan menjadi sebuah karya yang
11
dihasilkan dari mengeposisikan beberapa gambar yang sudah jadi dengan gambar yang sudah jadi lainnyasehingga menjadisatukesatuan karya ilustrasi
c) Fungsi Montase
Lihat, gunting, tempel, dan ceritakan merupakan bagian dari teknik montase. Montase akan melatih daya khayal anak melahirkan ide dalam menempatkan gambar-gambar yang mereka gunting. Adapun fungsi dari montase, sebagai berikut:
1. Fungsi praktis, yaitu fungsi pada benda sehari–hari, karya tersebut dapat digunakan sebagai bahan dekorasi.
2. Fungsi edukatif, yaitu dapat membantu mengembangkan daya pikir, daya serap, emosi, estetika, dan kreativitas
3. Fungsi ekspresi, yaitu dengan menggunakan berbagai bahan dan tekstur dapat membantu melejitkan ekspresi.
4. Fungsi psikhologis, yaitu dengan menuangkan ide, emosi yang menimbulkan rasa puas dan kesenangan sehingga dapat mengurangi beban psikhologis.
5. Fungsi sosial, yaitu dapat menyediakan lapangan pekerjaan dengan banyaknya karya yang dimiliki diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan dengan modal kreativitas.
d) Langkah-langkah dan bahan membuat montase
Gambar rumah dari majalah kemudian dipotong yang hanya diambil gambar rumahnya saja kemudian ditempelkan pada permukaan alas gambar. Ini merupakan salah satu contoh sederhana dari karya montase. Montase dua dimensi
12
dianggap seperti karya lukisan karena materialnya terdiri dari gambar-gambar yang sudah jadi hanya karena dipotong-potong lalu dipadukan sehingga menjadi satu kesatuan karya ilustrasi. Montase disamping dibuat dua dimensi juga tiga dimensi, montase tiga dimensi berbentuk setting.
Adapun langkah-langkah dan prosedur dalam pembuatan montase, yaitu:
1. Sediakan alat dan bahan: Majalah, koran, gambar-gambar yang akan dijadikan montase, gunting, lem, buku gambar sebagai tempat menempelkan gambar.
2. Kemudian hal yang dilakukan adalah menentukan tema montase yang akan kita buat.
3. Setelah mendapatkan tema barulah kita mencari gambar- gambar yang diperlukan dalam membuat montase sesuai dengan tema yang ditentukan.
4. Potonglah gambar-gambar atau reproduksi potret dari majalah, poster, kalender atau lainnya mengikuti kontur gambar/potret tersebut. Gambar yang dipotong mungkin hanya bagian tertentu saja.
5. Susunlah hasil guntingan tadi berdasarkan kreasi masing-masing, pada kertas gambar yang sudah disediakan. Susunan gambar tadi akan menghasilkan suatu susunan bentuk yang baru, dan kadang-kadang aneh, lucu, dan fantastik. Penyusunannya menggunakan lem.
6. Untuk memberikan kesan gambar yang artistik dan fantastik, gambar montase ini bisa dilengkapi dengan goresan spidol warna, atau pulasan cat air pada bagian tertentu yang dianggap perlu.
13
e) Kelebihan dan kekurangan
Pada perkembangannya montase yang semula terbatas pada karya dua dimensi sekarang telah merambah kepada karya tiga dimensi. Karya montase ini juga kurang dikenal oleh kalangan umum, karena bentuk karyanya masih mempunyai kemiripan dengan seni lukis, seni kriya, seni patung. Sehingga jenis karya ini dianggap sebagai salah satu dari jenis karya tersebut. Maka dari itu pada dasarnya teknik montase memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari montase adalah membuat seseorang lebih kreatif dan imajinatif dalam menciptakan karya seni, dan dengan montase dapat membantu seseorang untuk membuat ilustrasi suatu keadaan, serta dapat memanfaatkan alatan bahan yang ada disekitar kita. Selain kelebihan teknik montase juga memiliki suatu kelemahan yaitu dalam penyususnan gambar kerap susah memadukan gambar yang satu dengan yang lainnya, agar bisa menjadi cerita baru, dan tata letak gambar sulit ditentukan, agar bisa dilihat bagus dan sempurna. Walaupun dmikian tetap teknik montase sangat bagus untuk diterapkan pada anak SD, karena pembuatannya yang tidak terlalu sulit dan dapat membantu mengembangkan kreativitas imajinasi siswa.
2) Tinjauan Keterampilan Berbicara a. Hakekat berbicara
Iskandar wassid (2014: 241) menyatakan “Keterampilan berbicara pada hakikatnya merupakan keterampilan mereproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan perasaan, dan keinginan pada orang lain.”
14
Menurut Tarigan (2015:16) menyatakan bahwa “Berbicara adalah kemampuan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.” Dengan demikian, berbicara tidak sekedar pengucapan bunyi-bunyi atau kata-kata.
Berbicara adalah suatu cara dan juga alat untuk mengomunikasikan gagasan- gagasan yang disusun serta dikembangkan.
Manusia sebagai makhluk sosial selalu hidup dalam kelompok, anggota dalam kelompok tersebut selalu terjadi interaksi. Untuk berinteraksi manusia memerlukan alat seperti yang telah disebutkan, yaitu bahasa. Dalam berinteraksi (berkomunikasi) yang menggunakan bahasa tersebut dapat dilaksanakan secara lisan maupun tertulis. Untuk berkomunikasi secara lisan dengan efektif diperlukan kemampuan menyimak dan berbicara. Berbicara secara umum dapat diartikan sebagai suatu penyampaian maksud bisa berupa gagasan, pikiran, isi hati seseorang kepada orang lain. Pengertian secara khusus banyak dikemukakan oleh para pakar.
Berbicara merupakan perwujudan komukasi secara lisan Munir (2015:10). Komunikasi secara lisan sering dilakukan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai tujuan.
Brooks (Tarigan, 2015: 17-18) mengemukakan beberapa prinsip umum yang mendasari kegiatan berbicara, yaitu, (10) Membutuhkan paling sedikit dua orang, (2) Mempergunakan suatu sandi linguistik yang dipahami bersama, (3) Menerima atau mengakui suatu daerah referensi umum., (4) Merupakan suatu pertukaran antara partisipan, (5) Menghubungkan setiap pembicara
15
dengan yang lainnya dan kepada lingkungannya dengan segera, (6) Berhubungan atau berkaitan dengan masa kini, (7) Hanya melibatkan aparat atau perlengkapan yang berhubungan dengan suara/bunyi bahasa dan pendengaran (vocal and auditory apparatus).
Berbicara dapat berlangsung dalam situasi, suasana, lingkungan tertentu dan lingkungan formal, pembicara dituntut secara formal pula. Misalnya berpidato, berdiskusi, ceramah, wawancara (interview), dan bercerita.
Sebaliknya, dalam situasi dan suasana informal seperti banyak dilaksanakan manusia dalam kehidupan sehari-hari, pembicara berbicara santai (tidak formal), misalnya dalam tukar-menukar pengalaman, percakapan di jalan dan sebagainya.
Berdasarkan uraian mengenai hakekat berbicara, dapat disimpulkan bahwa berbicara merupakan salah satu keterampilan dalam aspek bahasa yang sangat penting sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan lawan bicara.
Keterampilan berbicara ini perlu distimulus melalui kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kosakata yang dimiliki anak.
b. Tujuan Berbicara
Tarigan (2015:16) menyatakan “Tujuan utama berbicara dari adalah untuk berkomunikasi.” Agar dapat menyampaikan pikiran, gagasan, perasaan dan kemauan secara efektif seyogyanya pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan. Dia harus mampu mengevaluasi efek komunikasi terhadap (para) pendengarnya dan harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari segala situasi pembicaraan, baik secara umum maupun perorangan.
16
Gorys Keraf (Slamet 2012:37), menyatakan bahwa tujuan berbicara yaitu, (1) Mendorong pembicara untukmemberi semangat, membangkitkan kegairahan serta menunjukkan rasa hormat dan pengabdian, (2) Meyakinkan: pembicara berusaha mempengaruhi keyakinan atau sikap mental/intelektual kepada para pendengar, (3) Berbuat/bertindak: reaksi fisik dari pendengar dengan harapan agar pendengar terbangkitkan emosinya, (4) Memberitahukan: pembicara berusaha menguraikan atau menyampaikan sesuatu kepada pendengar dengan harapan agar pendengar mengetahui tentang suatu hal, pengetahuan dan sebagainya, (5) Menyenangkan: pembicara bermaksud menggembirakan, menghibur pendengar agar terlepas dari kerutinan yang dialami oleh pendengar.
Sejalan dengan pendapat diatas, Tarigan (Munir, 2015:12), menyatakan bahwa tujuan berbicara meliputi: (1) menghibur, (2) menginformasikan, (3) menstimuli, (4) meyakinkan, dan (5) menggerakkan. Tarigan (2015:17) menyatakan “Pada dasarnya berbicara mempunyai tiga maksud umum, yaitu: (1) memberitahukan dan melaporkan (to Inform); (2) menjamu dan menghibur (to entertain); dan (3) membujuk, mengajak, mendesak dan meyakinkan (to persuade).
c. Aspek-aspek Keterampilan Berbicara
Burhan (Ahmad, 2013) menyatakan ada beberapa aspek yang dinilai pada saat anak berbicara diantaranya sebagai berikut:
a. Pelafalan
17
Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat dapat mengalihkan perahatian pendengar.
b. Intonasi
Kesesuaian intonasi merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara dan merupakan faktor penentu. Walaupun masalah yang dibicarakan kurang menarik, dengan penempatan intonasi yang sesuai dengan masalahnya menjadi menarik. Penempatan Intonasi yang tepat merupakan daya tarik tersendiri dalam kegiatan berbicara, bahkan merupakan salah satu faktor penentu dalam keefektifan berbicara.
c. Pilihan kata (diksi)
Pilihan kata (diksi) hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran.
Pendengar akan lebih terangsang dan lebih paham, kalau kata-kata yang digunakan sudah dikenal oleh pendengar.
d. Kelancaran
Seorang pembicara yang lancar berbicara memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraannya. Seringkali kita dengar pembicara berbicara terputus-putus, bahkan antara bagian-bagian yang terputus itu disecara harus memiliki volume suara yang jelas sehingga suara yang dihasilkan dapat dipahami dengan jelas oleh pendengar kemudian disertai dengan pelafalan yang jelas.
18
3) Hakikat pendidikan bahasa Indonesia di SD
Pendidikan bahasa indonesia merupakan salah satu mata pelajran disemua dijenjang pendidikan, termasuk disekolah dasar (SD). Bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran dipendidikan formal karena Bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang penting dalam kehidupan Bangsa Indoneia.Bahasa Indonesia merupakan Bahasa Nasional dan Bahasa Persatuan yang berperan besar dalam kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara, maupun secara individual. Dalam proses bahasa, guru harus memperhatikan beberapa faktor agar pelajaran bahasa dapat berjalan dengan baik. Menurut Resmini (2009) faktor yang harus diperhatikan secara cermat yaitu: tujuan pembelajaran, guru, materi ajar, metode dan faktor lingkungan. Selain itu pembelajaran Bahasa Indonesia harus juga berlandasan pada landasan pembelajaran Bahasa Indonesia.Pembelajaran Bahasa Indonesia ditelusuri melalui landasan formal berupa kurikulum.
Menurut Nurcahyani (2009) Bahasa Indonesia sebagai bahan pengajaran secara garis beras terdiri atas tiga komponen, yaitu, (1) kebahasaan, (2) kemampuan berbahasa dan (3) kesastraan. Komponen kebahasaan terdiri atas dua aspek, yaitu (1) struktur kebahasaan yang meliputi fonologi, morfologi, sintaksis, semantic, kewacanaan, dan (2) kosakata. Kemampuan berbahasa terdiri atas empat aspek, yaitu (1) kemampuan mendengar/menyimak, (2) kemampuan membaca (kedua kemampuan ini bersifat reseptif), (3) kemampuan berbicara dan (4) kemampuan menulis (kedua kemampuan terkahir ini bersifat produktif).
Dalam praktik komunikasi yang nyata keempat keterampilan tersebut tidak berdiri sendiri melainkan merupakan perpaduan dari keempatnya.
19
Bahasa adalah salah satu alat komunikasi, melalui bahasa, manusia dapat saling berkomunikasi, saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual. Oleh karena itu, belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Pembelajaran diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pembelajaran dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tertulis, ini sesuai pendapat (Resmini: 2006) yang mengemukakan bahwa, Pembelajaran Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai sebuah pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam komunikasi dengan bahasa baik lisan maupun tulis.
Menurut Mulyasa (dalam Ikhwantoro: 2013, 27) Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi.
Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya oranglain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Lebih lanjut Mulyasa mengemukakan pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis.
a. Fungsi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Sesuai dengan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara, maka fungsi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia menurut
20
Depdiknas (Ikhwantoro: 2013:28) yaitu, (1) sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa,(2) sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia dalam rangka polestar ian dan pengembangan budaya, (3) sarana peningkatan dan keterampilan bahasa Indonesia untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, (4) sarana penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik untuk, (5) berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah.
Dengan demikian, fungsi bahasa Indonesia yaitu menyangkut pengembangan sikap, logika, dan keterampilan. Dan jika ditinjau dari sudut psikologis, maka fungsi Bahasa Indonesia yaitu mempercepat proses sosialisasi diri dan alat untuk pernyataan diri. Artinya pada suatu saat tertentu akan terlayani kebutuhan hidupnya.
b. Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia
Tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia di SD bagi siswa adalah untuk mengembangkan keterampilan berbahasa Indonesia sesuai dengan keterampilan kebutuhan, dan minatnya, sedangkan bagi guru adalah untuk mengembangkan potensi bahasa Indonesia siswa, serta lebih mandiri dalam menentukan bahan ajar kebahasaan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan siswa BSNP (2006).
Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah diharapkan membantu siswa mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut dan
21
menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya.
Menurut Depdiknas (dalam Ikhwantoro: 2013, 30) tujuan khusus dari mata pelajaran Bahasa Indonesia yaitu, (1) siswa mampu mengungkapkan gagasan, pendapat, pengalaman dan pesan secara lisan dan tertulis, (2) siswa mampu mengungkapkan perasaan secara lisan dan tertulis secara jelas, (3) siswa mampu menyampaikan informasi secara lisan dan tertulis sesuai dengan konteks dan keadaan, (4) siswa mampu memanfaatkan unsur-unsur kebahasaan karya sastra dalam berbicara dan menulis.
Dari penjelasan tersebut maka tujuan pembelajaran bahasa Indonesia dapat dirumuskan menjadi empat bagian, yaitu, (1) Lulusan SD diharapkan mampu menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, (2) Lulusan SD diharapkan dapat menghayati bahasa dan sastra Indonesia, (3) Penggunaan bahasa harus sesuai dengan situasi dan tujuan berbahasa, (4) Pengajaran disesuaikan dengan tingkat pengalaman siswa SD.
c. Ruang Lingkup Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD
Mata pelajaran Bahasa Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran Bahasa yang menyatakan bahwa belajar bahasa Indonesia adalah belajar menggunakan bahasa yang baik dan benar. Selain itu, pembelajaran bahasa adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran keterampilan. Selain pembelajaran keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis).
22
B. Kerangka Pikir
Keterampilan berbahasa yang mencakup aspek seperti (mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis) merupakan factor yang penting dalam berbahasa Indonesia.Terlebih aspek keterampilan berbicara, namun tak sedikit juga yang masih takut untuk mengekspresikan atau mengeluarkan keterampilan dan juga kemampuan mereka seperti dalam hal keterampilan berbicara dimana masih terdapat banyak siswa terlebih di kelas tinggi yang masih malu untuk berbicara baik disaat mereka sedang bermain dengan teman sebayanya atau bahkan disaat pembelajaran sedang berlangsung. Maka dari itu guru harus banyak berpikir tentang bagaimana caranya agar siswa dapat mengeskpresikan keterampilan berbicaranya. Salah satunya dengan cara menggunakan media disaat pembelajaran, pada biasanya guru hanya memakai media yang telah ada seperti halnya media gambar berseri untuk meningkatkan keterampilan anak. Tapi tak jarang juga anak merasa bosan dengan media tersebut dikarenakan mereka harus berpikir sesuai apa yang telah ada. Maka dari itu peneliti ingin memberikan alternatif untuk membangun keterampilan belajar siswa terlebih dalam keterampilan berbicara menggunakan sebuah karya montase, yaitu karya yang dihasilkan dari beberapa gambar yang sudah jadi dengan gambar yang sudah jadi lainnya dengan cara lihat, gunting, tempel, dan ceritakan yang merupakan bagian dari teknik montase.
Mengapa montase? Sebab ini akan melatih daya khayal anak untuk melahirkan ide dalam menempatkan gambar-gambar yang mereka gunting.
Setelah itu guru dapat memberitahukan kepada siswa unuk memceritakan hasil
23
dari karya montase tersebut, disinilah guru dapat melihat proses penggunaan dan pengaplikasian keterampian siswa dalam berbicara ataupun pada saat mengerjakan tugas karya montase tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut, maka sebagai landasan berpikir bahwa dengan menggunakan karya montase sebagai salah satu proses untuk mengetahui keterampilan berbicara siswa kelas V SD Inpres Balaburu Kabupaten Gowa. Untuk mempermudah pemahaman terhadap penelitian ini dapat dilihat dalam skema kerangka pikir berikut ini:
24
Bagan 2.1 Bagan Kerangka Pikir
Afektif Psikomotrik
SD Inpres Balaburu
Keterampilan Berbahasa Indonesia
Hasil dan Temuan Penggunaan Karya Montase
Kognitif
Menyimak Membaca Menulis Berbicara
25
C. Penelitian yang Relevan
Bebeberapa penelitian yang relevan dengan judul penelitian yang telah di lakukan untuk mengetahui efektivitas karya montase terhadap peningkatan keterampilan berbicara dan kerjasama pada mata pelajaran bahasa indonesia adalah sebagai berikut:
Pertama adalah penelitian yang dilakukan oleh Fuad.Z, Helminsyah, danAprian.S (2017) dengan judul “Pengembangan Model Pembelajaran Montase Kreatif dengan Teknik Lihat, Gunting, Tempel, dan Ceritakan (LGTC) untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa kelas IV SD-ITAl Azhar Banda Aceh”. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan menunjukkan terjadi peningkatan keterampilan berbicara siswa SD-ITAl Azhar BandaAceh.
Kedua adalah penelitian yang dilakukan oleh Dyah Lestari (2015) dengan Judul “Meningkatkan Kemampuan Bercerita Melalui Kegiatan Montase Dengan Media LAKAS Pada Anak Kelompok B TK Taman Indira Kecamatan Pare Kabupaten Kediri.” hasil dari penelitian yan telah dilakukan bahwa ada peningkatan terhadap kemampuan bercerita melalui kegiatan montase dengan media LAKAS pada anak kelompok B TK Taman Indira Kecamatan Pare Kabupaten Kediri dari mulai tahap pra tindakan, siklus I,II dan III.
Berdasarkan beberapa penelitian diatas terdapat beberapa penelitian yang mempunyai variabel yang sama dengan variabel yang akan dipakai oleh peneliti saat ini, seperti penggunaan karya montase, dan keterampilan berbicara, yang mempunyai hasil yang berpengaruh terhadap beberapa hasil dari penelitian diatas.
Pada kesempatan ini peneliti akan mencoba melakukan penelitian tentang
26
Penggunaan karya montase pada keterampilan berbicara siswa kelas V di SD Inpres Balaburu Kabupaten Gowa.
27 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Metode penelitian merupakan cara yang digunakan untuk mengolah data secara ilmiah dari sumber data utama maupun kedua untuk mencapai tujuan.
Melalui penggunaan metode penelitian diharapkan proses penelitian menjadi sistematis, tepat dan mencapai tujuan penelitian. Metode penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang memberikan gambaran mendalam tentang suatu hal.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah (Moleong 2007: 6).
Penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek atau subjek yang diteliti dengan apa adanya dengan tujuan menggambarkan sistematika fakta dan karakerstik objek yang diteliti secara tepat (Sukardi, 2013: 157).
Data yang akan digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif.
Sugiyono (2014: 6) menyatakan data kualitatif adalah data yang berbentuk kata kalimat, gerak tubuh, ekspresi wajah, bagan, gambar dan foto. Data yang diperoleh berupa data tulisan yang diperoleh melalui studi kepustakaan, dan data
28
lisan yang diperoleh melalui wawancara dengan informan dan responden dan hasil pengamatan yang dituangkan dalam bentuk tulisan.
Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang lebih mendalam tentang penggunaan karya montase terhadap ketarmpilan berbicara siswa kelas V. Informasi yang diperoleh sesuai dengan data yang peneliti dapatkan di lapangan. Data diolah, selanjutnya peneliti menarik kesimpulan mengenai penggunaan karya montase terhadap ketarmpilan berbicara siswa kelas V SD Inpres Balaburu Kabupaten Gowa.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Waktu penelitian selama kurang lebih 2 bulan sesudah seminar proposal, lokasi penelitian berada di SD Inpres Balaburu, kelurahan Kalase‟rena, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa. Data yang diperoleh dengan mengadakan penelitian pada siswa kelas V di SD Inpres Balaburu Kabupaten Gowa.
C. Fokus Penelitian
Dalam penelitian ini dapat memfokuskan masalah terlebih dahulu supaya tidak terjadi perluasana permasalahan yang nantinya tidak sesuai dengan tujuan penelitian ini maka peneliti memfokuskan untuk meneliti proses penggunaan karya montase pada ketarmpilan berbicara siswa terlebih bagi siswa kelas V SD D. Informan Penelitian
Penelitian kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari hasil penelitiannya. Subjek penelitian yang telah tercermin dalam fokus penelitian
29
tidak ditentukan secara sengaja. Subjek penelitian menjadi informan yang akan memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama proses penelitian.
Informan penelitian adalah sesuatu baik orang, benda ataupun lembaga (organisasi), yang sifat keadaanya diteliti, (Sukandarumidi,2002: 65).
Menurut Hendarsono dalam Suyanto (2005: 171-172), informan penelitian ini meliputi tiga macam yaitu:
1. Informan kunci (key informan), yaitu mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian. Dalam hal ini guru kelas yang mempunyai tanggung jawab untuk mengajar di dalam kelas.
2. Informan utama, yaitu mereka yang terlibat secara langsung dalam interaksi/pembelajaran yang diteliti. Informan utama dalam penelitian ini adalah siswa kelas V yang akan diteliti tentang peningkatan keterampilan belajar mereka menggunakan karya montase.
3. Informan tambahan, yaitu mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang diteliti. Informan tambahan adalah tenaga pendidik di sekolah tersebut
Berdasarkan uraian di atas, maka informan ditentukan dengan teknik purposive yaitu penentuan informan tidak didasarkan pedoman atau berdasarkan perwakilan populasi, namun berdasarkan kedalaman informasi yang dibutuhkan, yaitu dengan menem ukan informan kunci yang kemudian akan dilanjutkan dengan informan lainnya dengan tujuan mengembangkan dan mencari informasi sebanyak-banyaknya yang berhubungan dengan masalah penelitian.
30
E. Jenis dan Sumber Data
Dalam penelitian ini, data yang akan diperoleh dari dua sumber yaitu:
1. Data primer
Data yang diperoleh langsung dari informan dengan memakai teknik pengumpulan data berupa interview (wawancara).Informan adalah orang-orang yang betul paham atau pelaku yang terlibat langsung dengan permasalahan penelitian. Informan yang dipilih adalah yang dianggap relevan dalam memberikan informasi. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah guru dan juga siswa kelas V SD Inpres Balaburu Kabupaten Gowa.
2. Data sekunder
Data yang diperoleh dari dokumen–dokumen, catatan–catatan, materi–
materi, serta literature lainnya yang relevan dalam melengkapi data primer penelitian.
F. Instrumen Penelitian
Kualitas hasil penelitian salah satunya dipengaruhi oleh kualitas instrumen penelitian. Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto,2013: 203). Berhubungan instrumen penelitian kualitatif adalah peneliti itu sendiri, maka peneliti turun ke lapangan untuk menghimpun sebanyak mungkin data, dengan membawa alat bantu yang diperlukan antara lain: pedoman wawancara, pedoman observasi, alat perekam serta kamera.
31
Tabel 3.1 Pedoman observasi penilaian keterampilan berbicara
No Ranah Aspek Yang dinilai
1 Afektif Senang bercerita tentang kisah dari karya montase yang ada
Mengungkapkan perasaan melalui karya
Mengapresiasi hasil seni temannya
Keberanian
Pengungkapan materi wicara
2 Kognitif Dapat membuat gagasan cerita dengan kosakata sendiri
Membuat karya dengan ide sendiri
Menceritakan kembali dengan intonasi yang baik
Tekanan
Ucapan
Psikomotorik Terampil dalam membuat karya seni montase
Percaya diri tampil di depan kelas untuk bercerita
Menampilkan ekspresi yang berbeda saat bercerita
Keahlian siswa menggunakan alat dan bahan yang tersedia
32
Tabel 3.2 Pedoman Wawancara dengan Guru
No Pertayaan
1. Menurut ibu bagaimana antusias murid belajar di kelas?
2. Bagaimana cara ibu membuat para siswa agar memberanikan diri dalam proses belajar terutama saat siswa diminta ke depan kelas?
3. Apakah ibu pernah melihat bagaimana atau apa hal yang disukai para siswa saat belajar?
4. Bagaimana pendapat ibu tentang metode yang akan coba saya gunakan dalam penelitian saya ini setelah saya menjelaskannya ke ibu?
5. Bagaimana tanggapan ibu setelah saya memperkenalkan karya montase ini kepada siswa?
Tabel 3.3 Instrumen Wawancara dengan Siswa
No Pertanyaan
1. Bagaimana perasaan adek kalau belajar di dalam kelas?
2. Apa adek pernah ke depan kelas untuk bercerita?
3. Apa yang akan adek pilih antara belajar atau membuat karya seni?
4. Bagaimana menurut adek dengan karya montase yang sudah ibu jelaskan, adek berminat untuk membuatnya?
G. Teknik Pengeumpulan Data
Pengumpulan data merupakan hal yang penting dalam suatu penelitian, karena berguna untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian.
Sugiyono (2015:63) menjelaskan bahwa dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi berperan serta (participant observation), wawancara mendalam (in depth interview), dan data dokumentasi.
1. Observasi
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data observasi partisipatif pasif untuk mengamati pelaksanaan keterampilan pada pembelajaran Bahasa Indonesia kelas V di SD Inpres Balaburu, Kabupaten Gowa. Observasi ini
33
bertujuan untuk mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan pelaksanaan penggunaan karya montase gina meningkatkan keterampilan berbicara siswa serta respon siswa terhadap penggunaan karya montase guna mengetahui keterampilan berbicara siswa siswa kelas V SD Inpres Balaburu Kabupaten Gowa.
2. Wawancara
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data wawancara semi terstruktur agar data yang diperoleh lebih mendalam dan bermakna. Wawancara ini ditujukan kepada guru dan siswa kelas V di SD Inpres Balaburu Kabupaten Gowa.Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh data-data mengenai pelaksanaan penggunaan karya montase guna mengetahui keterampilan berbicara siswa kelas V SD Inpres Balaburu Kabupaten Gowa.
3. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bias berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Hasil penelitian dari observasi dan wawancara akan lebih kredibel/dapat dipercaya apabila didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada.
Studi dokumentasi dalam penelitian ini dilakukan untuk memperoleh data mengenai pelaksanaan penggunaan karya montase untuk menetahui keterampilan berbicara siswa kelas V SD Inpres Balaburu Kabupaten Gowa. Berupa foto, hasil wawancara, dan karya montase yang telah dibuat siswa.
34
H. Teknik analisis data
Sugiyono (2015:89) menerangkan tentang pengertian analisis data, analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Nasution (Sugiyono, 2015:90) menjelaskan bahwa analisis data dilakukan sebelum memasuki lapangan, dilanjutkan selama memasuki lapangan, dan sesudah memasuki lapangan.
a) Analisis sebelum di lapangan
Pada tahap analisis data sebelum di lapangan dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau data sekunder yang akan dijadikan sebagai fokus peneitian. Fokus penelitian ini masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti masuk ke lapangan.
b) Analisis selama di lapangan
Analisis data di lapangan berlangsung pada saat proses pengumpulan data berlangsung dan setelah pengumpulan data pada jangka waktu tertentu. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara bersamaan dengan proses pengumpulan data, proses analisis yang dilakukan merupakan suatu proses yang panjang. Data dari hasil wawancara dan observasi yang diperoleh kemudian dicatat dan dikumpulkan sehingga menjadi sebuah catatan lapangan.
35
Bagan 3.1 Langkah-langkah Analis Data (Kaharuddin, 2015)
Penjelasan tentang model interaktif analisis data Miles dan berman sebagai berikut:
1. Pengumpulan Data
Peneliti mengumpulkan data sebanyak mungkin tanpa batasan fokus penelitian, data yang terkumpul dalam jumlah banyak nantinya akan membuat penelitian berkembang dan bisa saja malah terjadi perubahan fokus penelitian.
2. Reduksi Data
Data yang diperoleh peneliti dari lapangan jumlahnya sangat banyak, mencakupi data yang memiliki relevansi dengan fokus penelitian maupun
Tema-tema Data
Membaca Berulang-ulang Transkripsi Data
Pengumpulan Data
Kategori Data
Hasil Reduksi Data
Demonstrasi Tingkat Kepercayaan dan Keabsahan Data
Tahap Kejenuhan Data
Laporan
Organisasi Data
36
yang tidak berhubung sama sekali. Data yang ada kemudian direduksi atau dirangkum, ditujukan pada hal-hal pokok dan diarahkan ada hal pokok yang memiliki korelasi dengan penelitian. Dalam mereduksi data, penelitiberpedoman pada tujuan yang akan dicapai dan fokus penelitian agar data dapat terpilah sesuai kebutuhan analisis.
3. Penyajian Data
Kelanjutan dari reduksi data adalah mendisplaykan data dalam bentuk yang mudah dimengerti. Dalam penelitian kuantitatif data dapat disajikan dalam bentuk tabel, grafik, pictogram dan sejenisnya, sedangkan dalam penelitian kualitatif penyajian data dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Dengan mendisplaykan data, akan memudahkan memahami apa yang terjadi dengan gamblang dan jelas.
4. Kesimpulan/Verifikasi
Langkah terakhir dalam analisis kualitatif menurut Miles and Huberman dalam Sugiyono (2014: 343) adalah adalah menarik kesimpulan dan memberikan verifikasi, kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada maupun sudah ada namun belum diteliti. Proses di atas membentuk pola dan urutan pelaksanaan penelitian, jadi harus dilakukan secara runut dan teratur, jika tidak maka proses penelitian akan terganggu.
Keempat komponen tersebut saling mempengaruhi dan terkait. Pertama- tama peneliti melakukan pengumpulan data dilapangan, karena data yang diperoleh banyak maka peneliti melakukan reduksi data. Data direduksi kemudian
37
menghasilkan data yang pantas disajikan dalam sebuah laporan penelitian dan kemudian dari situ maka peneliti akan menarik kesimpulan dari penelitian yang telah didapat.
Berdasarkan uraian tentang analisis data, maka peneliti uraikan analisis hasil wawancara dan dokumen dalam penelitian ini. Analisis data hasil wawancara dan dokumen dalam penelitian ini dilakukan langkah-langkah berikut:
1. Reduksi Data
Langkah awal dalam menganalisis data ialah mereduksi data yang telah dikumpulkan. Peneliti mereduksi hasil catatan lapangan yang belum bermakna dan kompleks. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan (Sugiyono,2014: 336). Lebih lanjut kegiatan ini adalah menyeleksi, memfokuskan, menyederhanakan, dan mengabstraksikan serta mentransformasikan data mentah yang ditulis pada catatan lapangan yang dibarengi dengan perekaman (recorder). Tahap reduksi data dalam penelitian ini meliputi: (1) Merangkum hasil wawancara dan dokumentasi yang telah dilakukan sebelumnya; (2) Memilah hasil wawancara dan dokumentasi yang sesuai dengan kebutuhan penelitian. Artinya, data yang tidak perlu dapat direduksi. (3) Hasil wawancara dan dokumentasi yang tersisa disederhanakan menjadi susunan bahasa yang baik, kemudian ditransformasikan ke dalam catatan.
38
2. Penyajian data
Langkah selanjutnya setelah mereduksi data yaitu penyajian data.
Penyajian data merupakan sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya (Sugiyono, 2014: 339).Penyajian data dalam penelitian ini meliputi menyajikan hasil wawancara yang telah direkam melalui recorder dan telah disalin dalam bentuk tulisan.Dari hasil penyajian data, baik dari wawancara, dokumen, maupun observasi dilakukan analisis.Selanjutnya, disimpulkan bahwa ada data temuan dari ketiga data terebut, sehingga mampu menjawab permasalahan dalam penelitian ini.
3. Penarikan Kesimpuan/Verivikasi
Langkah yang dilakukan setelah penyajian data yakni menarik kesimpulan atau verifikasi. Verifikasi merupakan sebagian dari suatu kegiatan dari konfigurasi yang utuh sehingga mampu menjawab pertanyaan penelitian dan tujuan penelitian. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Akan tetapi, apabila kesimpulan dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel (Sugiyono, 2014: 343). Berdasarkan
39
pengertian tersebut, penarikan kesimpulan dalam penelitian ini akan dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari wawancara, dokumen, dan observasi.
I. Teknik Keabsahan Data
Dalam setiap pelaksanaan penelitian, data yang terkumpul tentunya tidak semuanya valid dan kredibel. Untuk itu dalam menguji tingkat kredibilitas dan keabsahan data, peneliti menggunakan teknik triangulasi, yaitu dengan cara mengecek data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu.
1. Triangulasi Sumber, untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Data yang telah dianalisis sehingga mengahasilkan kesimpulan kemudian dimintakan kesepakatan dengan sumber data.
2. Triangulasi Teknik, untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk memastikan kebenaran data, bila data yang dihasilkan berbeda, peneliti kemudian melakukan diskusi lebih lanjut dengan sumber data.
3. Triangulasi Waktu, untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara melakukan teknik wawancara, observasi atau teknik lain kepada sumber data dalam situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan kepastian datanya.
40 BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI, HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi
Pada gambaran umum penelitian ini, peneliti menjelaskan secara singkat dan spesifik terkait lokasi penelitiannya, seperti Sejarah Lokasi Penelitian, Keadaan Geografis, Keadaan Sosial Budaya dan Kondisi Pendidikan.
1. Sejarah Lokasi Penelitian
SD Inpres Balaburu adalah salah satu sekolah dasar yang berada di wilayah kecamatan bontonompo, kabupaten gowa, provinsi Sulawesi selatan.
Sekolah ini berdiri sejak tahun 1979. Sekolah ini dinamakan SD balaburu pada awalnya karena letaknya yang berada di desa balaburu. Pada awalnya sekolah ini dipenuhi oleh beberapa anak tentara yang pernah tinggal di desa balaburu yang menjadi hombes asrama tentara, bersama dengan para warga asli desa tersebut dan dibantu oleh masyarakat SD Balaburu dapat mendirikan gedung yang cukup layak, bangunan sekolah menghadap ke selatan memiliki halaman yang cukup luas dengan tenaga pendidik ada yang berstatus pegawai negeri sipil dan ada juga guru honorer. Kemudian mengalami perubahan menjadi SD Inpres Balaburu samoai sekarang, berkat kerjasama pemerintah dan juga warga akhirnya gedung yang dimiliki SD Inpres Balaburu terdiri dari 6 ruang kelas, 1 ruang kantor guru, 1 ruang Perpustakan. Jumlah siswa SD Inpres Balaburu pada tahun ajaran 2019/2020 berjumlah 110, dengan perincian yang siswa laki-laki sebanyak 57 orang sedangkan siswa perempuan sebanyak 45 orang. Sekarang ini SD Inpres
41
Balaburu, didukung oleh 10 tenaga pengajar yang terdiri dari 1 orang kepala sekolah, 6 guru kelas, 2 orang guru PAI (Agama Islam), dan ditambah 1 orang penjaga sekolah. Bebrapa tenaga pengajar yang ada adalah memiliki pengalaman yang cukup lama dalam mengajar.
Visi dan misi Sekolah SD Inpres Balaburu menjadi fokus orientasi terhadap seluruh sistem dan program pendidikan di SD Inpres Balaburu adalah sebagai berikut:
1. Visi
Bangkit meraih prestasi yang tinggi dilandasi iman dan takwa serta berbudi luhur
2. Misi
a. Mewujudukan penyelenggaran pendidikan yang professional, adil dan berimbang antara IPTEK
b. Mewujudkan keluaran pendidikan yang bermutu dan menghasilkan prestasi akademik dan non akademik
c. Mewujdkan sikap siswa madiri, didiplin dan bertanggung jawab, meraih prestasi terbaik
d. Mewujudkan perilaku berbudi pekerti luhur, rapi dan indah didasari iman dan taqwa
e. Mewujudkan good government dalam sistem pengelolaan yang transparan, responsive, partisipatif, dan akuntabel dengan pihak-pihak pemangku kepentingan (stakeholders) terkait.