SKRIPSI
Oleh :
WARDATUL JANNAH NIM. 084 121 137
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
Februari 2017
DI SMPN 3 BANGSALSARI TAHUN PELAJARAN 2016/2017.
SKRIPSI
diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd)
pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam Program Studi Pendidikan Agama Islam
WARDATUL JANNAH NIM. 084 121 137
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
Februari 2017
Artinya : ” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang- orang yang mendapat petunjuk”. ( An-Nahl 16:125).1
1 Al-Qur’an, Al-Hidayah Al-Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid Kode Angka (Banten : KLAIM) 16:125
perjuangan dan pengorbanan yang tiada pernah henti dan terima kasih atas segala untaian doa dalam setiap sujudmu.
2. Untuk Kakak dan Adik-adikku, terima kasih atas motivasi dan kasih sayangnya.
3. Seluruh Dosen (IAIN) Institut Agama Islam Negeri Jember, terutama Bapak As’ari, M.Pd.I selaku Dosen pembimbing yang rela dan sabar membimbing dan mengarahkan diriku hingga skripsi ini selesai.
4. Teman-teman kelas F (seperjuangan) terimakasih atas kebersamaannya selama ini kalian semua adalah penyemangat dalam hidupku.
5. Almamater tercinta IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Jember.
serta hidayah kepada penulis.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada junjungan nabi besar Muhammad saw, para sahabat serta para pengikutnya hingga akhir zaman.
Dengan terselesainya sikripsi ini penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dorongan bagi penulis sejak awal sampai akhir penulisan sikripsi ini Ucapan terima kasih tersebut penulis tujukan kepada yang terhormat :
1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM selaku Rektor IAIN Jember, yang telah memberikan mootivasi dan dalam penyusunan skripsi ini.
2. Dr. KH. Abdullah, S. Ag. MH.I selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan yang telah memberikan masukan dalam penyusunan skripsi ini.
3. Dr. H. Mundir, M.Pd selaku ketua Jurusan Pendidikan Islam yang telah memberikan arahan dalam penyusunan skripsi ini.
4. H. Mursalim, M.Ag selaku ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan skripsi ini.
5. As’ari M.Pd.I, M.Ed selaku pembimbing yang telah banyak memberikan doa dan bimbingan demi kelancaran penyusunan skripsi ini.
7. Bapak dan ibu guru SMPN 3 Bangsalsari yang telah membekali ilmu pengetahuan kepada penulis.
8. Seluruh siswa kelas VIII A SMPN 3 Bangsalsari yang telah yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam penelitian demi kelancaran penyusunan skripsi ini.
9. Semua pihak yang telah membantu penulis baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian skripsi ini.
Selanjutnya penulis mengucapkan mudah-mudahan beliau semua mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT atas segala budi baiknya yang beliau berikan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa sikripsi ini jauh dari sempurna. Untuk itu lah maka penulis berharap kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca untuk sempurnanya skripsi ini.
Akhirnya tidak ada yang penulis harapkan kembali kecuali ridho Allah SWT. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Amin
Jember, 16 Februari 2017
Wardatul Jannah
Mata Pelajaran endidikan Agama Islam (PAI) di SMPN 3 Bangsalsari Tahun Pelajaran 2016/2017.
Pendidikan keagamaaan merupakan bagian terpadu yang dimuat dalam kurikulum pendidikan maupun melekat pada setiap mata pelajaran sebagai bagian dari pendidikan nilai. Oleh karena itu, nilai-nilai agama akan selalu memberikan corak kepada pendidikan nasional.
Penelitian ini berusaha mengungkapkan permasalahan tentang pokok masalahnya, yaitu “Apakah dengan implementasi Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas VIII A pada mata pelajaran PAI di SMPN 3 Bangsalsari?.” Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini yaitu untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan hasil belajar siswa pada implementasi Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas VIII A pada mata pelajaran PAI di SMPN 3 Bangsalsari.
Selanjutnya penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang didukung dengan data kuantitatif dan jenis penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas. (PTK). Sumber datanya adalah informan yang mengetahui tentang penelitian ini, diantaranya adalah Guru PAI serta perwakilan murid kelas VIII Adi SMPN 3 Bangsalsari. Metode penelitian menggunakan beberapa metode yaitu observasi, wawancara tidak terstruktur, dokumentasi dan tes. Untuk menganalisa data menggunakan kualitatif deskriptif di dukung dengan data kuantitatif ketuntasan secara klasikal, penyajian data dan penarikan kesimpulan dan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber.
Berdasarkan analisis data, dapat disimpulkan bahwa Metode Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran PAI materiSejarah Nabi Muhammad Saw.
Peningkatan hasil belajar peserta didik dapat dilihat dari nilai rata-rata hasil peserta didik dan presentase ketuntasan belajar peserta didik secara klasikal. Pada pra siklus nilai rata-rata peserta didik adalah 70,29 dengan presentase ketuntasan belajar sebesar 39,28 (39)%. Sedangkan pada siklus I nilai rata-rata peserta didik 76,21 dengan presentase ketuntasan belajar mencapai 71,42 (71)%, pada siklus II nilai rata-rata peserta didik adalah 81,39 dengan presentase ketuntasan sebesar 92,85 (93)%. Hasil tersebut menunjukan bahwa metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) tersebut dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas VIII A pada mata pelajaran PAI di SMPN 3 Bangsalsari.
PENGESAHAN ... iii
MOTTO... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL . ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah .. ... 7
C. Rumusan Masalah ... 8
D. Tujuan Penelitian ... 8
E. Cara Pemecahan Masalah ... 8
F. Manfaat Penelitian ... ... 9
G. Fungsi Batasan ... 10
H. Hipotesis Tindakan ... 12
I. Sistematika Pembahasan ... 12
1. Metode Pembelajaran ... 17
2. Hakikat Student Teams Achievement Divisions (STAD) ... 17
3. Hakikat Hasil Belajar Siswa ... 22
4. Hakikat Pendidikan Agama Islam ... 33
5. Implementasi Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa ... 35
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 37
B. Peran dan Kehadiran Peneliti dilapangan ... 38
C. Lokasi Penelitian ... 38
D. Kolaborator ... . 39
E. Persiapan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ... 39
F. Subjek Penelitian ... 40
G. Sumber Data dan Jenis Data ... 40
H. Rancangan Penelitian ... 40
I. Teknik Pengumpulan Data ... 49
1. Observasi ... 49
2. Wawancara ... 50
3. Dokumentasi ... 51
4. Tes ... 51
M. Prosedur Penelitian ... 49
BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS A. Latar Belakang Obyek Penelitian ... 58
B. Hasil Penelitian ... 63
C. Temuan ... 82
D. Pembahasan ... 83
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 86
B. Saran-saran ... 86 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
4.1 Penentuan kriteria ketuntasan minimal 64
4.2 Hasil belajar siswa pra siklus 65
4.3 Ketuntasan belajar PAI Pra Siklus 66
4.4 Hasil tes belajar siklus I 71
4.5 Ketuntasan belajar PAI siklus 1 73
4.6 Hasil tes belajar siklus II 79
4.7 Ketuntasan belajar PAI siklus II 80
Lampiran 3 Pedoman Observasi Lampiran 4 Nama-Nama Kelompok Lampiran 5 Hasil Belajar Siswa Pra Siklus
Lampiran 6 Keadaan Ruang/Gedung Sarana & Prasarana Lampiran 7 RPP Siklus I
Lampiran 8 Handaout Siklus I Lampiran 9 Soal Kuis Siklus I Lampiran 10 Soal Tes Siklus I
Lampiran 11 Lembar Obsevasi Kegiatan Guru Siklus I Lampiran 12 Lembar Observasi Kegiatan Siswa Siklus I Lampiran 13 RPP Siklus II
Lampiran 14 Handaout Siklus II Lampiran 15 Soal Kuis Siklus II Lampiran 16 Soal Tes Siklus II
Lampiran 17 Lembar Obsevasi Kegiatan Guru Siklus II Lampiran 18 Lembar Observasi Kegiatan Siswa Siklus II Lampiran 19 Jurnal Kegiatan
Lampiran 20 Denah Lokasi SMPN 3 Bangsalsari Lampiran 21 Dokumentasi
Lampiran 22 Pernyataan Keaslian Tulisan Lampiran 23 Surat Izin Penelitian
Lampiran 24 Surat Keterangan Selesai Penelitian Lampiran 25 Biodata Peneliti
Pendidikan berasal dari kata didik. Kata didik mendapatkan awalan
“me” sehingga menjadi “mendidik”, berarti memelihara dan memberi latihan.
Proses dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya sebuah pengajaran, tuntunan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Kemudian pengertian pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui usaha pengajaran dan pelatian.
Dalam bahasa Inggris pendidikan adalah education dan kata education berasal dari kata educate berarti memberi peningkatan (to elicit, to give rise to), dan mengembangkan (to evolve, to devolep). Namun, education dalam pengertian yang sempit berarti perbuatan atau proses perbuatan untuk memperoleh pengetahuan (McLoad, 1989). Sedangkan pendidikan dalam arti yang luas dapat diartikan sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga individu memperoleh pengetahuan dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan.2
Pendidikan memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa dan menjadi cermin kepribadian masyarakat. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Sebagaimana tertera dalam
2 Haryu Islamudin, Psikologi Pendidikan (Jember : Stain Jember Press, 2012), 3.
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peadaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.3
Semua usaha pemerintah tersebut hendaknya didukung dan ditindaklanjuti oleh semua pihak yang terkait. Pemerintah daerah dan satuan pendidikan mempunyai komitmen yang kuat untuk memajukan pendidikan antara lain dengan cara membina tenaga pendidik lebih intensif dan terus- menerus. Dadang Suhardan mengatakan bahwa, usaha apapun yang telah dilakukan pemerintah mengawasi jalannya pendidikan untuk mendongkrak mutu bila tidak ditindak lanjuti dengan pembinaan gurunya, tidak akan berdampak nyata pada kegiatan layanan belajar dikelas. Kegiatan pembinaan guru merupakan bagian yang tak mungkin dipisahkan dalam setiap usaha peningkatan mutu pembelajaran 4. Sebagaimana Allah SWT berfirman pada Q.S An-Nisa’ (4:9) yaitu :
3 UU RI, No 20 (SISDIKNAS) Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta: Sinar Grafika, 20014), 3.
4 Dadang Suhardan , Supervisi Profesional : Layanan Dalam Meningkatkan Mutu Pengajaran di Era Otonomi Daerah. (Bandung : Alfabeta, 2010), 12.
Artinya: "Dan hendaklah takut kepada Allah SWT orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan mereka).
Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” ( An- Nisa’ 4:9)5
Berdasar ayat tersebut, upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui jalur pendidikan agama Islam adalah sangat penting.
Pelajaran PAI adalah usaha untuk memperkuat iman dan ketakwaan terhadap tuhan yang maha esa, sesuai dengan ajaran islam, bersikap inklusif, rasional dan filosofis dalam rangka menghormati orang lain dalam hubungan kerukunan dan kerjasama antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional (Undang-undang N0. 2 Tahun 1989).6
Sejak adanya kehidupan, sejak itu pula guru telah melaksanakan pembelajaran, dan memang hal tersebut merupakan tugas dan tanggung jawabnya yang pertama dan utama.7 Guru membantu peserta didik yang sedang berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya, membentuk kompetensi dan memahami standar yang dipelajarinya untuk meningkatkan mutu peserta didik.
5 Al-Qur’an, Al-Hidayah Al-Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid Kode Angka (Banten : KLAIM) 4:9.
6 Aminuddin, Aliaras Wahid, Moh. Rofiq, Membangun Karakter dan Kepribadian melalui Pendidikan Agama Islam (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), 1.
7 E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2013), 38.
Dalam sistem pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Bangsalsari, guru merupakan salah satu aktor (pelaku) yang sangat berperan dalam menentukan keberhasilan mencapai tujuan pendidikan dan pembelajaran. Salah satunya adalah pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, yakni mata pelajaran yang mengajarkan siswa untuk pada suri tauladan dan sikap jiwa untuk lebih bijaksana.
Namun mata pelajaran Pendidikan Agama Islam bagi siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Bangsalsari ternyata masih belum dapat dijadikan sebagai bagian bekal untuk diterapkan dalam kehidupannya. Padahal seharusnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang telah disampaikan guru dikelas harus bisa diambil hikmahnya untuk pemecahan masalah yang terjadi pada masa sekarang atau pada masa yang akan datang.
Hal ini disebabkan karena adanya anggapan bahwa belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) hanya mendengarkan sebuah cerita dan bahasanya yang sangat sulit dipahami sehingga para siswa banyak yang tidak perduli terhadap Pendidikan Agama Islam (PAI)
Selain permasalahan ini, rendahnya siswa untuk berdiskusi/bekerja sama antar sesama teman pada waktu kegiatan pembelajaran PAI juga harus segera dipecahkan. Hal ini terlihat pada saat guru setelah selesai menyampaikan materi pelajaran dan guru memberikan kesempatan untuk mendiskusikan terhadap apa yang mereka tidak pahami. Namun para siswa
SMPN 3 Bangsalsari hanya diam dan ramai tidak mendengarkan penjelasan yang disampaikan gurunya. 8
Minimnya semangat siswa mengikuti pembelajaran PAI juga bisa dilihat pada saat kegiatan pembelajaran dikelas, banyak siswa yang ramai, bicara dengan temannya, ada yang tidur-tiduran bahkan ada yang keluar masuk kelas pada waktu kegiatan pembelajaran berlangsung. Semua informasi tersebut peneliti dapatkan dari guru mata pelajaran PAI. Belum Nampak sikap siswa yang bisa berfikir kritis, kreatif, dan mampu bekerja sama. Hal ini sangat membingungkan dan membuat guru menjadi malas untuk mengajar siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Bangsalsari.
Setelah dievaluasi dan di analisa, salah satu penyebab dari kelas yang tidak kondusif adalah karena kegiatan pembelajaran PAI pada siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Bangsalsari masih menggunakan metode pembelajaran yang konvensional, yaitu hanya ceramah dalam menyampaikan materi pelajaran, banyak memberikan catatan,dan banyak memberikan tugas yang membebani para siswa.
Melihat realitas seperti ini, guru dituntut untuk melakukan sebuah usaha perbaikan dan pembenahan dalam mengatasi masalah tersebut agar tidak berkepanjangan yang akan mengakibatkan gagalnya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Untuk itu, maka guru menerapkan salah satu metode pembelajaran aktif (active learning) untuk mengatasi permasalahan pembelajaran PAI pada siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN)
8 Observasi, Bangsalsari, 23 Juni 2016
3 Bangsalsari. Adapun metode yang digunakan adalah Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD).
Dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat terkait pemilihan materi dan metode, tujuan dan evaluasi pendidikan. Sebagaimana Allah SWT.,berfirman di dalam Q. S. An-Nahl (16:125):
Artinya : ” Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. ( An-Nahl 16:125).9
Secara tersirat ayat tersebut sangat berkaitan dengan kegiatan pembelajaran. Kata ud’u dalam konteks pendidikan merupakan upaya mengajak,menyeru, memerintah orang (peserta didik) untuk melakukan sesuatu atau mempelajari sesuatu. 10 Kata bi al-hikmah, al-maw’izah, dan mujadalah merupakan metode atau strategi pembelajaran yang dapat guru gunakan dalam kegiatan pembelajaran.11
9 Al-Qur’an, Al-Hidayah Al-Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid Kode Angka (Banten : KLAIM) 16:125
10 A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam ( Malang : UIN Press, 2008),44.
11 A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam , 46.
Dipilihnya metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) karena merupakan alternative yang dapat guru gunakan dalam upaya meningkatkan motivasi, prestasi dan hasil belajar siswa. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat menjadikan suasana kelas tampak lebih kondusif dan siswa lebih berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa akan saling bekerja sama dalam menyelesaikan tugas, mereka akan saling berdiskusi dan yang terpenting adalah mereka akan terlatih menghargai perbedaan sehingga tampak suasana pembelajaran yang demokratis. Dengan suasana kelas yang demokratis, yang saling membelajarkan memberi kesempatan peluang lebih besar dalam memberdayakan potensi siswa secara maksimal sehingga terwujud kualitas proses dan hasil belajar siswa.
Dari paparan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “ IMPLEMENTASI METODE STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII A PADA MATA PELAJARAN PAI DI SMPN 3 BANGSALSARI TAHUN PELAJARAN 2016/2017.”
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah, dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut :
1. Pembelajaran pendidikan agama islam dikelas masih berjalan monoton.
2. Metode yang digunakan oleh guru bersifat konvensional
3. Proses pembelajaran masih banyak yang terfokus pada guru, siswa masih kurang aktif dalam pembelajaran.
4. Peran serta siswa masih belum menyeluruh sehingga prestasi belajar juga cenderung kurang maksimal.
5. Pencapaian hasil belajar yang rendah/minim dikarenakan pemilihan metode pembelajaran yang kurang tepat.
C. Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan dikaji yaitu: Apakah dengan Implementasi Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) dapat Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII A Pada Mata Pelajaran PAI di SMPN 3 Bangsalsari Tahun Pelajaran 2016/2017.
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu kepada masalah-masalah yang telah dirumuskan sebelumnya.12
Berdasarkan pertanyaan penelitian tindakan kelas yang terdapat dalam rumusan masalah di atas, maka peneliti ini bertujuan: untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan hasil belajar siswa pada implementasi Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD).
E. Cara Pemecahan Masalah
Metode pemecahan masalah yang digunakan dalam PTK ini, yaitu Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) dengan metode pembelajaran ini diharapkan Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran PAI.
12STAIN Jember, Pedoman Karya Ilmiyah ( Jember : STAIN Jember PRESS, 2014 ), 45.
F. Manfaat Penelitian 1. Bagi Lembaga
a. Dari hasil penelitian diharapkan dapat memberikan umpan balik terhadap pengelola Lembaga SMPN 3 Bangsalsari bagi Kepala Sekolah.
b. Diharapkan bisa dijadikan bahan pertimbangan dan landasan bagi usaha memberikan kemampuan-kemampuan yang nantinya akan diberikan kepada guru pendidikan agama Islam dalam menjalankan proses kegiatan belajar mengajar.
2. Bagi Peneliti
a. Menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman tentang penulisan karya ilmiah sebagai bekal awal untuk mengadakan penelitian lain dimasa mendatang.
b. Memberika wawasan integral dan komprehensif terhadap disiplin ilmu yang ditekuni.
3. Bagi Siswa
Pembelajaran menjadi menarik terhadap pembelajaran PAI sehingga kreatifitas siswa semakin berkembang.
4. Bagi Sekolah
Bisa menjadi acuan untuk meningkatkan peran guru dalam proses belajar mengajar sehingga dapat meningkatkan perkembangan siswa secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikan yang ingin di capai.
5. Bagi Peneliti Lain
Hasil PTK ini dapat menjadi bahan refleksi untuk melakukan PTK lebih lanjut pada setting, kelas, subyek dan lokasi waktu yang berbeda, sehingga Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) dapat dibuktikan secara empiris.
G. Fungsi Batasan
1. Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD).
a. Metode Secara umum diartikan sebagai cara melakukan sesuatu.
Secara khusus, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara atau pola yang khas dalam memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan. Kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analisis yang dilakukan, lahirlah pemahaman tentang kedudukan metode sebagai alat motivasi ekstrinsik, sebagai strategi pengajaran, dan sebagai alat untuk mencapai tujuan.13
b. Student Teams Achievement Divisions (STAD) merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif. STAD merupakan model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok kecil dengan anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen,
13 Syaiful Bahri Djamarah, Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar ( Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010 ), 72.
diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan kelompok.
2. Hasil Belajar Siswa
a. Hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Aspek perubahan itu mengacu kepada taksonomi tujuan pengajaran yang dikembangkan oleh Bloom, Simpson dan Harraw mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.14
b. Siswa atau murid adalah salah satu komponen dalam pengajaran, disamping faktor guru, tujuan, dan metode pengajaran. Sebagai salah satu komponen maka dapat dikatakan bahwa murid adalah komponen yang terpenting diantara komponen yang lainya. Oleh karena itu murid sebagai unsur penentu dalam proses belajar mengajar tanpa adanya murid, sesungguhnya tidak akan terjadi pengajaran.
3. Pendidikan Agama Islam (PAI).
PAI adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani ajaran agama islam, dibarengi dengan tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan umat beragama, hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.15
Dalam pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian yang digunakan oleh peneliti tentang metode Student Teams Achievement
14 Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2014), 45.
15 Zulaichah Ahmad, Perencanaan Pembelajaran ( Jakarta : Madania Center Press, 2008 ), 16.
Divisions (STAD) dalam hasil belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
H. Hipotesis Tindakan
Dari rumusan masalah dan cara memecahkan masalah, peneliti dapat rumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut: Dengan diterapkan Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran PAI.
I. Sistematika Pembahasan
Bab I, Pendahuluan dalam bab ini berisi tentang pendahuluan yang menggambarkan bentuk isi yang dijabarkan dalam : latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, cara pemecahan masalah, manfaat penelitian, fungsi batasan , hipotesis tindakan dan sistematika pembahasan.
Bab II, kajian kepustakaan dalam bab ini berisi tentang penelitian terdahulu dan teori-teori yang berkaitan dengan Implementasi Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII A Pada Mata Pelajaran PAI. Masalah tersebut di bahas dengan maksud memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai teori dasar masalah yang menjadi pandangan dalam penelitian ini.
Bab III, metode penelitian dalam bab ini menguraikan secara rinci bukti-bukti yang diperoleh dan merupakan perencanaan prosedur penelitian, sehingga yang penting dikemukakan adalah : pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, persiapan penelitian tindakan kelas, subjek penelitian,
sumber dan jenis data, rancangan penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data dan prosedur penelitian.
Bab IV, hasil dan pembahasan penelitian, dalam bab ini merupakan deskripsi hasil penelitian tindakan kelas tentang pelaksanaan peelitian, pencapaian siswa melalui beberapa siklus yang telah direncanakan oleh peneliti.
Bab V, penutup dalam bab ini berisi tentang kesimpulan dari seluruh masalah yang telah dibahas sebagai jawaban atas pokok masalah, yang kemudian disertakan saran-saran yang diharapkan menjadi masukan sebagai tindak lanjut dari penelitian ini.
A. Penelitian Terdahulu
1. Penelitian yang dilakukan oleh Kharisma Rahmawati dengan judul
“Penerapan Metode Cooperative Learning tipe STAD sebagai Upaya Meningkatkan Minat dan Partisipasi Siswa dalam Pembelajaran Aqidah Kelas VIII A SMP Muhammadiyah Imogiri.” Dari hasil persentase angket siswa yang diperkuat dengan lembar observasi. bahwa minat siswa telah mencapai 65,80% (kategori sedang) pada siklus I, sedangkan pada siklus II mencapai 77,20% (kategori tinggi), yang berarti terjadi peningkatan sebesar 11,4%. Pada hasil penghitungan lembar observasi, pada siklus I minat siswa mencapai 61,11% (kategori sedang), pada siklus II mencapai 73,61%
(kategori tinggi). Sedangkan partisipasi siswa dari hasil penghitungan angket siklus I menyebutkan bahwa partisipasi siswa mencapai 65,62%
(kategori sedang), sedangkan pada siklus II mencapai 76,40% (kategori tinggi). Hal ini berarti terjadi peningkatan sebesar 10,78%. Selain itu dapat juga dilihat dari hasil penghitungan lembar observasi yang dilakukan selama 4 kali berturut-turut. Pada siklus I mencapai 62,94% (kategori sedang), pada siklus II mencapai 72,22% (kualifikasi tinggi).16
Adapun Persamaan peneliti tersebut dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah sama-sama menggunakan Metode Student Team
16 Kharisma Rahmawati. Penerapan Metode Cooperative Learning tipe STAD sebagai Upaya Meningkatkan Minat dan Partisipasi Siswa dalam Pembelajaran Aqidah Kelas VIII A SMP Muhammadiyah Imogiri Tahun Pelajaran 2009/2010. Skripsi, Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2010.
Achievement Division. Sedangkan perbedaannya dari peneliti diatas dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah pada teknik pengumpulan datanya dan variabelnya. Peneliti diatas teknik pengumpulan datanya menggunakan angket, dan variabel yang digunakan minat dan partisipasi siswa sedangkan pada peneliti yang akan dilakukan teknik pengumpulan datanya menggunakan observasi, interview, dokumentasi, dan tes, dan variabel yang digunkan adalah hasil belajar siswa.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Suroto dengan judul “Menggunakan Metode Student Team Achievement Division Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar PAI Pokok Bahasan Zakat Siswa Kelas 6 SD Gedong 03 Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang.” Dari hasil penelitian menunjukan bahwa: dengan menggunakan Metode STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VI SDN Gedong 03 mengenai prestasi belajar siswa pada materi zakat pada mata pelajaran PAI.
Berdasarkan dari peningkatan prestasi belajar siswa yang dilihat dari nilai rata-rata kelas yang semakin meningkat dari siklus I hingga siklus III adalah 58,6; 64,5; dan 75,9. Hasil test formatif menunjukkan bahwa di akhir siklus III telah 90,91% siswa yang memiliki pemahaman tinggi terhadap materi kewajiban zakat.17
Adapun Persamaan peneliti tersebut dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah sama-sama menggunakan Metode Student Team
17 Suroto. Menggunakan Metode Student Team Achievement Division Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Pai Pokok Bahasan Zakat Siswa Kelas 6 Sd Gedong 03 Kecamatan Banyubiru Kabupaten SemarangTahun Pelajaran 2010/2011. Skripsi, Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga. 2011.
Achievement Division. Sedangkan perbedaannya dari peneliti diatas dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah pada Variabelnya.
Peneliti diatas menggunakan variabel prestasi belajar sedangkan pada peneliti yang akan dilakukan variabelnya menggunakan hasil belajar siswa.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Afiatun Nisa dengan judul “Efektivitas Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) Terhadap Hasil Belajar IPS Sejarah Siswa Kelas VII Di SMP N 10 Semarang Tahun Pelajaran 2012/2013.” Dari hasil penelitian yang dilakukan Afiatun Nisa Hasil penelitian menunjukkan bahwa: setelah dianalisis data dengan menggunakan uji statistik diperoleh thitung = 14,00 >
ttabel = 2,038 dengan taraf signifikasi a = 5%. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Division) dapat mengembangkan pengetahuan baik dari aspek afektif maupun aspek psikomotorik siswa.18
Adapun Persamaan peneliti tersebut dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah sama-sama menggunakan Metode Student Team Achievement Division dan sama-sama menggunakan variabel hasil belajar.
. Sedangkan perbedaannya dari peneliti diatas dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah pada pendekatan penelitiannya. Peneliti diatas menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif sedangkan pada peneliti
18 Afiatun Nisa . Efektivitas Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) Terhadap Hasil Belajar IPS Sejarah Siswa Kelas VII Di SMP N 10 Semarang Tahun Pelajaran 2012/2013. Skripsi, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri
Semarang 2010.
yang akan dilakukan pendekatan penelitiannya menggunakan pendekatan kualitatif dan didukung dengan data kuantitatif.
B. Kajian Teori
1. Hakikat Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD).
a. Metode
Secara umum metode diartikan sebagai cara melakukan sesuatu. Secara khusus, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara atau pola yang khas dalam memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan. Kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analisis yang dilakukan, lahirlah pemahaman tentang kedudukan metode sebagai alat motivasi ekstrinsik, sebagai strategi pengajaran, dan sebagai alat untuk mencapai tujuan.19
b. Student Teams Achievement Divisions (STAD).
Student Teams Achievement Divisions (STAD) dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di universitas John Hopkin.20 Metode yang dikembangkan oleh Slavin ini melibatkan kompetisi antar kelompok. siswa dikelompokkan secara beragam berdasarkan kemampuan, ras, dan etnis. Pertama-tama, siswa mempelajari materi bersama dengan teman-teman satu kelompoknya, kemudian mereka diuji secara individual melalui kuis-kuis.21
19 Syaiful Bahri Djamarah, Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, 72.
20 Umiarso & Imam Gojali, Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan ( Jogjakarta:
IRCiSoD, 2010 ), 255.
21 Miftahul Huda, Cooperative Learning ( Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2011), 116.
Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif.
1) Langkah-langkah Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD).22 Adapun langkah-langkah Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) sebagai berikut : a) Membentuk kelompok yang anggotanya sebanyak 4 orang
secara heterogen (campuran menurut perestasi, jenis kelamin, suku, dan lain-lain).
b) Guru menyajikan pelajaran.
c) Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya yang tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
d) Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
e) Memberi evaluasi.
f) Kesimpulan.
2) Student Teams Achievement Divisions (STAD) terdiri atas lima komponen utama, yaitu:23
22 Zainal Aqib, Model-model,Media, dan Strategi Pembelajaran Konstekstual (Inovatif ) (Bandung: CV. Yrama Widya, 2013 ), 20.
a) Persentasi kelas, pada tahap ini perlu ditekankan : mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok, menekankan bahwa belajar adalah memahami makna, dan bukan hafalan, memberikan umpan balik sesering mungkin untuk mengontrol pemahaman siswa, memberikan penjelasan mengapa jawaban pertanyaan itu benar atau salah, dan beralih kepada materi selanjutnya apabila siswa telah memahami permasalahan yang ada.
b) Tim / Tahap kerja Kelompok. Tim yang terdiri dari 4 atau 5 siswa mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras dan etnisitas. Pada tahap ini setiap siswa diberi lembar tugas yang akan di pelajari.
Dalam kerja kelompok siswa saling berbagi tugas. Guru sebagai fasilitator dan motivator. Hasil kerja kelompok ini dikumpulkan.
c) Kuis / Tahap Tes Individu, diadakan pada akhir pertemuan kedua dan ketiga, kira-kira sepuluh menit, untuk mengetahui yang telah dipelajari secara individu, selama mereka bekerja dalam kelompok. Siswa tidak boleh saling membantu dalam mengerjakan kuis.
23 Tukiran Taniredja, Efi Miftah F, Sri Harmianto, Model-model Pembelajaran Inovatif dan Efektif ( Bandung: CV. Alfabeta, 2014 ) 65.
d) Tahap Perhitungan Skor Kemajuan Individu.
e) Slavin memberikan pedoman pemberian skor perkembangan individu sebagai berikut :
Skor Kuis Poin Kemajuan Lebih dari 10 poin dibawah skor awal 5
10-1 poin dibawah skor awal 10 Skor awal sampai 10 poin diatas skor
awal
20 Lebih dari 10 poin diatas skor awal 30 Kertas jawaban sempurna (terlepas
dari skor awal)
30
f. Tahap Pemberian / Rekognisi Tim 3) Kelebihan dan kelemahan metode STAD.24
Adapun Kelebihan dan kelemahan metode STAD Menurut Soewarso dalam Mulyati (2007: 30-31). Metode STAD mempunyai kelebihan antara lain:
a) Membantu siswa mempelajari isi materi pelajaran yang sedang dibahas.
b) Adanya anggota kelompok lain yang menghindari kemungkinan siswa mendapat nilai rendah.
c) Menjadikan siswa mampu belajar berdebat, belajar mendengarkan pendapat orang lain, dan mencatat hal-hal yang bermanfaat untuk kepentingan bersama-sama.
24 http//www.google.co.id/search?hl=ISO-8859-1&q=kelebihan+kekurangan+metode STAD.pdf, Rabu, 13 Oktober 2016.
d) Menghasilkan pencapaian belajar siswa yang tinggi menambah harga diri siswa dan memperbaiki hubungan dengan teman sebaya.
e) Hadiah atau penghargaan yang diberikan akan memberikan dorongan bagi siswa untuk mencapai hasil yang lebih tinggi.
f) Siswa yang lambat berfikir dapat dibantu untuk menambah ilmu pengetahuan.
g) Pembentukan kelompok-kelompok kecil memudahkan guru untuk memonitor siswa dalam belajar bekerja sama.
Sedangkan kelemahan metode STAD Menurut Slavin dalam Mulyati (2007: 32) mempunyai kelemahan sebagai berikut:
a) Apabila guru terlena tidak mengingatkan siswa agar selalu menggunakan keterampilan-keterampilan kooperatif dalam kelompok maka dinamika kelompok akan tampak macet.
b) Apabila jumlah kelompok tidak diperhatikan, yaitu kurang dari empat, misalnya tiga, maka seorang anggota akan cenderung menarik diri dan kurang aktif saat berdiskusi dan apabila kelompok lebih dari lima maka kemungkinan ada yang tidak mendapatkan tugas
sehingga hanya membonceng dalam penyelesaian tugas.
c) Apabila ketua kelompok tidak dapat mengatasi konflik- konflik yang timbul secara konstruktif, maka kerja kelompok akan kurang efektif.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode STAD mempunyai kelebihan yaitu dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mempelajari materi pelajaran.
Sedangkan kelemahan metode STAD yaitu bila dalam penerapan metode siswa tidak dipantau secara teliti akan mengurangi keefektifan metode tersebut.
2. Hakikat Tentang Hasil Belajar a. Pengertian Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Aspek perubahan itu mengacu kepada taksonomi tujuan pengajaran yang dikembangkan oleh Bloom, Simpson dan Harraw mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.25 Hasil belajar di tinjau dari beberapa aspek, antara lain:
1) Ranah Kognitif.26
a) Pengertian Ranah Kognitif
25 Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2014), 45.
26 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2001), 21.
Secara leksikal, istilah cognitife berasal dari kata cognition yang padanannya adalah knowing, berarti mengetahui.
Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman,aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
1) Tipe Hasil Belajar Pengetahuan
Istilah pengetahuan dimaksudkan sebagai terjemahan dari kata knowledge dalam Taksonomi Bloom. Sekalipun demikian, maknanya tidak sepenuhnya tepat sebab dalam istilah tersebut termasuk pula pengetahuan faktual di samping pengetahuan hafalan atau untuk diingat seperti rumus, batasan, definisi, istilah, pasal dalam undang-undang, nama- nama tokoh, nama-nama kota. Tipe hasil belajar pengetahuan termasuk kognitif tingkat rendah yang paling rendah. Namun, tipe hasil belajar ini menjadi prasarat bagi tipe hasil belajar berikutnya.
2) Tipe Hasil Belajar Aplikasi
Aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi kongkret atau situasi khusus. Abstraksi tersebut mungkin berupa ide, teori, atau petunjuk teknis.
3) Tipe Hasil Belajar Analisis
Tipe hasil belajar Analisis Analisis adalah usaha memilah suatu integritas menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian sehingga jelas susunannya. Analisis merupakan kecakapan yang kompleks, yang memanfaatkan kecakapan dari ketiga tipe sebelumnya.
Dengan analisis diharapkan seseorang mempunyai pemahaman yang komprehensif dan dapat memilahkan integritas menjadi bagian-bagian yang tetap terpadu, untuk beberapa hal memahami prosesnya, untuk hal lain memahami cara bekerjanya, untuk hal lain lagi memahami sistematikanya. Bila kecakapan analisis telah dapat berkembang pada seseorang, maka ia akan dapat mengaplikasikannya pada situasi baru secara kreatif.
4) Tipe Hasil Belajar Sintesis
Berpikir sintesis merupakan salah satu terminal untuk menjadikan orang lebih kreatif. Berpikir kreatif merupakan salah satu hasil yang hendak dicapai dalam pendidikan.
Kecakapan sintesis dapat diklasifikasikan kedalam beberapa tipe.
a) Kecakapan sintesis yang pertama adalah kemampuan menemukan hubungan yang unik.
Artinya menemukan hubungan antara unit-unit yang tak berarti dengan menambahkan satu unsur tertentu, unit-unit tak berharga menjadi sangat berharga.
b) Kecakapan sintesis yang kedua adalah kemampuan menyususn rencana atau langkah-langkah operasi dari suatu tugas atau problem yang diketengahkan.
c) Kecakapan sintesis yang ketiga adalah kemampuan mengabstraksikan sejumlah besar gejala, data, dan hasil observasi menjadi terarah, proporsional, hipotesis, skema, model, atau bentu-bentuk lain.
5) Tipe Hasil Belajar Evaluasi
Evaluasi adalah pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan, metode, materil, dll.
Mengembangkan kemampuan evaluasi penting bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Mampu memberikan evaluasi tentang kebijakan mengenai kesempatan belajar, kesempatan kerja, dapat mengembangkan partisipasi serta tanggung jawabnya sebagai warga negara. Mengembangkan kemampuan
evaluasi yang dilandasi pemahaman, aplikasi, analisis, dan sintesis akan mempertinggi mutu evaluasinya.
b) Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif berdasarkan aliran Nativisme, Empirisme, dan Konvergensi disimpulkan bahwa ada dua faktor : faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang ada dalam diri siswa sedangkan eksternal hal-hal yang datang / di luar diri manusia yang meliputi lingkungan.
2) Ranah Afektif.
a) Pengertian Ranah Afektif
Ranah afektif adalah sesuatu yang berhubungan dengan perasaan individual siswa dalam menerapkan hasil belajar yang telah diperoleh dalam proses belajar mengajar dengan landasan nilai yang menjadi sistem nilai dalam hidup peserta didik untuk mewujudkan idealitas materi pelajaran.27 Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiaannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial.
27 Umiarso & Imam Gojali, Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan ( Jogjakarta:
IRCiSoD, 2010 ), 251.
Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban/reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi. 28
(1) Receving/attending, yakni semacam kepekaan dalam menerima rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dll.
(2) Responding atau jawaban, yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulasi yang datang dari luar.
(3) Valuing (penilaian) berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus tadi. Dalam evaluasi ini di dalamnya kesediaan menerima nilai, latar belakang atau pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan terhadap nilai tersebut.
(4) Organisasi yakni pengembangan daei nilai ke dalam satu sistem organisasi, termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan, dan prioritas nilai yang dimilikinya.
(5) Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.
28 Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar , 22.
3) Ranah Psikomotorik.
Hasil belajar psikomotoris tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Ada enam tingkatan keterampilan, yakni :
a) Gerakan Refleks (keterampilan pada gerakan yang tidak sadar)
b) Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar
c) Kemampuan perseptual, termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan auditif, motoris, dan lain-lain
d) Kemampuan di bidang fisik, misalnya, kekuatan, keharmonisan, dan ketepatan.
e) Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks.
f) Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non- decursive seperti gerakan ekspresif dan interpretatif.
Gagne mengungkapkan ada lima penampilan- penampilan yang dapat diamati sebagai hasil-hasil belajar:29 1) Keterampilan intelektual yaitu Kemampuan
mempresentasikan konsep dan lambang. Ketrampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengategorisasi, kemampuan analitis-sintesis fakta-konsep dan
29 Ratna Wilis Dahar, Teori-Teori Belajar & Pembelajaran ( Jakarta: Aerlangga, 2006 ), 117.
mengembangkan prinsip-prinsip keilmuan.
Ketrampilan intelektual merupakan kemampuan melakukan aktivitas kognitif bersifat khas.
2) Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri.
Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
3) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.
Sikap merupakan kemampuan menginternalisasi nilai- nilai. Sikap merupakan kemampuan menjadikan nilai- nilai sebagai standar perilaku.
4) Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Kemampuan merespons secara spesifik terhadap rangsangan spesifik. Kemampuan tersebut tidak memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah maupun penerapan aturan.
5) Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
Dalam proses belajar mengajar pada hasil belajar diatas, tipe hasil belajar kognitif lebih dominan dibandingkan hasil belajar afektif dan psikomotorik.
Karena ranah kognitif berkaitan dengan kemampuan para siswa dalam menguasai isi bahan pengajaran.
Hasil belajar dapat dilihat dari hasil ulangan harian, (tes formatif), nilai ulangan tengah semester (sub tes sumatif), dan ulangan semester (tes sumatif). Dalam penelitian tindakan ini yang dimaksud hasil belajar siswa adalah hasil nilai ulangan harian yang diperoleh dari siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Ulangan harian ini terdiri dari seperangkat soal yang harus dijawab oleh peserta didik dan tugas-tugas terstruktur yang berkaitan dengan koonsep yang sedang dibahas. Tujuan ulangan harian adalah untuk memperbaiki model dan pembelajaran serta sebagai pertimbangan dalam memberikan nilai bagi peserta didik.30
b. Macam-macam tes sebagai alat penelitian hasil belajar 1) Tes uraian
Tes uraian adalah pertanyaan yang menuntut siswa menjawabnya dalam bentuk menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan, dan
30 Iskandar, Penelitian Tindakan Kelas (Jakarta: GP Press Group, 2012), 128.
bentuk lain yang sejenis dengan tuntutan pertanyaan dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri. Bentuk tes uraian dibedakan mnejadi uraian bebas dan uraian terbatas.31
2) Tes objektif a) Jawab singkat
Bentuk soal jawaban singkat merupakan soal yang mneghendaki jawaban dalam bentuk kata, bilangan, kalimat, atau simbol dan jawabannya hanya dapat di nilai benar atau salah. Ada bentuk soal jawaban singkat yaitu bentuk pertanyaan langsung dan bentuk pertanyaan tidak lengkap.
b) Pilihan ganda
Tes pilihan ganda adalah suatu tes yang menyediakan tiga sampai lima jawaban atau pilihan tetapi hanya satu yang paling benar atau paling baik dari pada pilihan yang lain.
Dalam pengertian tersebut dapat juga dikatakan hanya satu yang paling salah atau yang paling jelas. Soal dapat berupa pertanyaan, pernyataan, kaliamat tidak sempurna, dan kalimat perintah, peserta tes hanya memilih diantara jawaban yang disediakan.32
31 Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, 35.
32 Moh. Sahlan, Evaluasi Pembelajaran, (Jember: STAIN Jember Press, 2013), 67.
c. Faktor-fator yang mempengaruhi Hasil Belajar33
Slameto (2003:54) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu faktor yang ada pada diri siswa itu sendiri yang meliputi : 1) Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa.
Yang termasuk kedalam faktor ini adalah :
a) Faktor biologis yang meliputi kesehatan, gizi, pendengaran, dan penglihatan. Jika salah satu faktor biologis terganggu, hal itu akan mempengaruhi hasil belajar.
b) Faktor psikologis, yang meliputi intelegensi, minat dan motivasi, serta perhatian ingatan berpikir.
c) Faktor kelelahan yang meliputi kelelahan jasmani dan rohani. Kelelahan jasmani ditandai dengan lemah tubuh, lapar, haus, dan mengantuk. Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu akan hilang.
2) Faktor Eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa, yang termasuk kedalam faktor eksternal adalah :
a) Faktor Keluarga
33 www.asikbelajar.com/2015/05/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-hasil.html., Sabtu, 12 Nopember 2016.
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa : cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga, dan keadaan ekonomi keluarga.
b) Faktor Sekolah.
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar, kurikulum,relasi guru dengan siswa dan lain sebagainya.
c) Faktor Masyarakat
Masyarakat sangat berpengaruh terhadap belajar siswa karena keberadannya siswa dalam masyarakat.
Seperti pengaruh dari teman bergaul siswa dan kehidupan masyarakat disekitar siswa juga berpengaruh terhadap belajar siswa.
3. Hakikat Pendidikan Agama Islam (PAI).
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI).
PAI adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani ajaran agama islam, dibarengi dengan tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan umat beragama, hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.34
34 Ahmad, Perencanaan Pembelajaran, 16.
b. Tujuan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Tujuan pendidikan Agama Islam adalah membina manusia agar menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, baik secara individual maupun secara komunal dan sebagai umat seluruhnya.35 c. Karakteristik Pendidikan Agama Islam (PAI)
1) PAI merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran dasar yang terdapat dalam agama islam. Ajaran- ajaran dasar tersebut terdapat dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.
2) Prinsip-prinsip dasar PAI tertuang dalam tiga kerangka dasar islam, yaitu akidah, syari’ah, dan akhlak. Akidah merupakan penjabaran dari konsep iman, syari’ah merupakan penjabaran dari konsep islam dan akhlak merupakan penjabaran dari konsep ihsan.
3) Mata pelajaran PAI tidak hanya mengantarkan pserta didik untuk menguasai berbagai ajaran islam, tetapi yang terpenting adalah bagaimana peserta didik dapat mengamalkan ajaran- ajaran itu kedalam kehidupan sehari-hari.
4) Tujuan diberikannya mata pelajaran PAI adalah membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT.
5) Tujuan akhir dari mata pelajaran PAI adalah terbentuknya peserta didik yang memiliki akhlak mulia.36
35 Aat Syafaat, Sohari Sahrani, Muslih, Peranan Pendidikan Agama Islam Dalam Mencegah Kenakalan Remaja (Juvenile Deliquency) ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008 ), 34.
36 Ahmad, Perencanaan Pembelajaran, 18-19.
4. Implementasi Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) Dalam Meningkatkan Hasil Belajar.
Implementasi Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) merupakan salah satu penerapan metode yang dilakukan oleh guru untuk mengaktifkan peserta didik dalam meningkatkan kreativitas siswa, bekerja sama sesama teman pada proses pembelajaran didalam kelas berlangsung pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). STAD merupakan model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok kecil dengan anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen, diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan kelompok.
Langkah-langkah metode STAD adalah: Membentuk kelompok yang anggotanya 4-5 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dan lain-lain), Guru menyajikan pelajaran, Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggotanya yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota anggota dalam kelompok itu mengerti, Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu, Memberi evaluasi dan kesimpulan.37
37 Zainal, Model-model, Media, dan Strategi Pembelajaran Konstekstual (Inovatif). 20.
Metode ini dikembangkan untuk melatih siswa memiliki dua bentuk tanggung jawab belajar, yaitu belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar. Dan kelebihan metode STAD ini adalah Membantu siswa mempelajari isi materi pelajaran yang sedang dibahas, Adanya anggota kelompok lain yang menghindari kemungkinan siswa mendapat nilai rendah, Menjadikan siswa mampu belajar berdebat, belajar mendengarkan pendapat orang lain, dan mencatat hal-hal yang bermanfaat untuk kepentingan bersama-sama, Menghasilkan pencapaian belajar siswa yang tinggi menambah harga diri siswa dan memperbaiki hubungan dengan teman sebaya, Hadiah atau penghargaan yang diberikan akan memberikan dorongan bagi siswa untuk mencapai hasil yang lebih tinggi, Siswa yang lambat berfikir dapat dibantu untuk menambah ilmu pengetahuan, Pembentukan kelompok-kelompok kecil memudahkan guru untuk memonitor siswa dalam belajar bekerja sama.
design) tertentu. Rancangan ini menggambarkan prosedur atau langkah- langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data dan kondisi arti apa data dikumpulkan, dan dengan cara bagaimana data tersebut dihimpun dan diolah.38 Berikut ini adalah rincian dari metode penelitian yang digunakan oleh peneliti:
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif yaitu penelitian yang dinyatakan dalam bentuk verbal yang didukung dengan data kuantitatif.
Penelitian ini berusaha mengungkapkan makna dari suatu pembelajaran dengan Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD), maka yang dimaksud adalah peningkatan hasil belajar siswa naik dalam suatu kelompok atau kelas.
Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh pendidik didalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri. Tujuannya adalah untuk memperbaiki kinerjanya sebagai pendidik, sehingga hasil belajar peserta didik menjadi meningkat dan, secara sistem, mutu pendidikan pada satuan pendidikan juga meningkat.39
38 Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Tindakan (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), 52.
39Saur Tampubolon, Penelitian Tindakan Kelas (Jakarta: Erlangga, 2014), 19.
B. Peran dan Kehadiran Peneliti dilapangan
Dalam penelitian ini peneliti berperan sebagai guru, dan kehadiran peneliti dilapangan mutlak diperlukan, karena peneliti bertindak sebagai (1) perencana tindakan, (2) pemberi tindakan, (3) pengumpul data (4) penganalisis data, (5) pelapor hasil penelitian.
C. Lokasi Penelitian 1. Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilaksanakan dikelas VIII A SMPN 3 Bangsalsari untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Untuk menentukan tempat penelitian ini, digunakan metode purposive sampling area, artinya daerah dengan sengaja dipilih berdasarkan tujuan dan pertimbangan tertentu.40 Penelitian ini dilakukan di SMPN 3 Bangsalsari dengan alasan sebagai berikut:
1) Guru-guru relatif sudah sarjana, mengikuti Undang-undang republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen.
2) Sarana dan prasarana cukup untuk digunakan sebagai kegiatan sekolah.
2. Waktu Penelitian
Penelitian tindakan kelas (PTK) ini akan dilaksanakan pada awal tahun ajaran baru 2016/2017, yaitu bulan juli sampai bulan September 2016.
40Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (Bandung: PT Alfabeta, 2012), 219.
3. Siklus PTK
Penelitian tindakan kelas (PTK) dilakukan melalui dua siklus untuk melihat peningkatan hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) melalui Metode Student Teams Achievement Divisions (STAD).
D. Kolaborator
Kolaborator adalah orang yang bekerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti atasan, sejawat, atau kolega untuk meminimalisir subjektifitas peneliti.
Kerjasama sama ini diharapkan dapat memberikan informasi dan kontribusi yang baik sehingga dapat tercapai tujuan dari penelitian ini. Yang menjadi kolaborator disini adalah guru atau pendidik di madrasah tempat penelitian dilaksanakan.
Berikut ini data kolaborator :
1. Nama : M. Shofi Muslim, S.Pd.I
2. Jabatan : Guru Mata Pelajaran PAI SMPN 3 Bangsalsari.
E. Persiapan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Persiapan sebelum Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan akan dibuat instrumen yang akan digunakan untuk memberikan perlakuan dalam PTK yaitu:
1. Silabus
2. RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) 3. Lembar kerja siswa (LKS)
4. Handout
5. Lembar observasi siswa 6. Lembar observasi guru
7. Daftar kelompok diskusi yang dibuat secara heterogen 8. Alat evaluasi berupa tes objektif.
F. Subyek Penelitian
Dalam penelitian Subyek yang dipilih dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah seluruh siswa kelas VIII A tahun pelajaran 2016/2017, yang berjumlah 28 siswa yang terdiri 20 siswi dan 8 siswa.
G. Sumber Data dan Jenis Data
Menurut Lofland dalam Moleong sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.41 Sumber data dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan siswa kelas VIII A di SMPN 3 Bangsalsari.
Jenis data yang diperoleh dari penelitian ini adalah kualitatif yang menggambarkan peningkatan hasil belajar siswa dan keaktifan peserta didik dengan menggunakan metode Student Teams Achievement Divisions (STAD) sedangkan data kuantitatif untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran pada siklus I dan siklus II.
H. Rancangan Penelitian
Desain merupakan pengembangan model PTK dari Kemmis dan M.Taggrat. Adapun model PTK dimaksud menggambarkan adanya empat langkah (dan pengulangannya), yang disajikan dalan bagan berikut ini :42
41Lexi J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), 157.
42 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik ( Jakarta: Rineka Cipta, 2013), 137.