• Tidak ada hasil yang ditemukan

SSt.,LA - Research and Publication - Unissula

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "SSt.,LA - Research and Publication - Unissula"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

Problem Yuridis Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung dan Serentak Berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2015. Di beberapa daerah, pemilihan kepala daerah secara langsung diwarnai dengan beragam konflik, mulai pendaftaran calon kepala daerah dan. Ada ratusal pemilihan kepala daerah secara langsung yang harus diselenggarakan, yang berarti memerlukan biaya tinggi.

Karena pemilihan kepala daerah dilakukan dengan perwakilan, maka tidak diperlukan pengaturan mengenai penyelesaian sengketa hasil pemilihan kepala daerah. Salah satu penerapan UUD 1945 hasil amandemen ada-lah diselenggarakannya pemilihan kepala daerah secara langsung oleh rakyat. Penyelenggaraan pemilihan kepala daerah secara langsung yang dilakukan secara terus menerus sesuai dengan jumlah kepala daerah yang harus dipilih.

Pemilihan kepala daerah secara laangsung dan serentak akan menimbulkan persoalan berkaitan dengan penyelenggaraannya dan mekanisme penyelesaian sengketa hasil penghitungan suaranya. Penyelenggaraan pemilihan kepala daerah secara langsung yang telah dilaksanakan selama ini terdapat permasalahan yang memrlukan perbaikan secara mendasar. Pemilihan Kepala Daerah diatur dengan undang-undang tersendiri dan sesuai dengan ketentuan Pasal 228 Undang-Undang Dasar Negara.

Berikut ini adalah pengisian jabatan kepala daerah menurut undang-undang yang pernah berlaku dan masih berlaku di Indonesia.

Undang-Undang 1945 Nomor 1 tentang Peraturan Mengenai Kedudukan Komite Nasional Daerah

Undang-Undang yang dibentuk tersebut adalah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota, dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2Ol4 pada akhirnya dicabut dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undalg Nomor 1 Tahun 2074, yang kemudian disetuju oleh DPR. Dari berbagai Undang- Undang yang mengatur mengenai pemerintahan daerah dan pemiiihan kepala daerah tersebut di atas, ketentuan mengenai pengisian jabatan kepala daerah pengaturannya berbeda-beda.

Dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia sebelum tahun 2005 kepala daerah dan wakil kepala daerah tidak dipilih oleh rakJrat secara langsung, tetapi dipilih secara perwakilan oleh DPRD. Dasar pertimbangan dibentuknya Undang- Undang ini adalah : bahwa sebelumnya diadakan pemilihan umum perlu diadakan aturan buat sementara waktu untuk menetapkan kedudukan Komite Nasional Indonesia Daerah. 1 Tahun 1945 tidak mengatur mengenai pengisian jabatan kepala daerah, tetapi mengatur tentang keberadaan Komite Nasional Indonesia Daerah.

Kepala Daerah yang dimaksudkan dalam Penjelasan Undang-Undang 1945 Nomor 1 adalah Residen, Bupati atau Kepala kota.

Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang 1945 Nomor 1 menentukan bahwa Komite Nasional Daerah menjadi Badan

Undang-Undang ltomor 18 tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah

Nomor 18 Tahun i965 adalah bahwa berhubung dengan

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah

Untuk pengangkatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah tidak dilakukan secara bersamaan, tetapi dilakukan secara. Berumur sekurang-kurang 35 (tiga puluh lima) tahun bagi Kepala Daerah Tingkat I dan 30 (tiga puluh) tahun bagi Kepala Daerah Tingkat II. Calon Kepala Daerah Tingkat II diajukan oleh Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah kepada Menter dalam Negeri.

DPRD dapat memberikan suaranya kepada satu pasangaan calon Kepaia Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dari pasangan calon. Baik pemilihan kepala daerah secara langsung atau dengan cara lain, yang terpenting prinsip dasarnya adaiah demokratis. Pasangan caion kepaia daerah dan wakil kepala daerah diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik.

Perubahan ini berkaitan dengan adanya calon perseorangan bagi pasangan calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, dan berkaitan pula dengan. Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah secara langsung oleh ra\rat merupakan salah satu. Hal ini bisa dilihat antara lain dari menurunnya tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan kepala daerah.

Penurunan ini sejalan dengan menurunnya keyakinan masyarakat terhadap kemampuan kepala daerah hasil pemilihan kepala daerah langsung. Masalah penggantian kepala daerah yang berhenti atau mengundurkan diri, belum diatur pula dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. Jika termasuk dalam rezim pemilu, maka ada beberapa pasal dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2OO4 yang harus diamandemen berkaitan dengan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah.

Demikian pula mengenai penyelesaian sengketa hasil penghitungan suaranya, jika di dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahuo 2OO4 mengatur penyelesaian sengketa hasii penghitungan suara pemiiihan Kepala Daerah dan. Wakil Kepala Daerah ada pada Mahkamah Agung, maka di dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 penyelesaiaan sengketa hasil penghitungan suara pemilihan umum Kepa1a Daerah dan Wakil Kepala Daerah menjadi kewenangal Mahkamah Konstitusi. Mengundurkan diri sejak pendaftaran bagi kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang masih menduduki jabatannya.

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2Ol4 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan trIalikota

Sudah dibentuk Undang-Undang tersendiri yang mengatur pemilihan kepala daerah yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2O14. Undang-Undang Nomor I Tahun 2O15 menentukan bahwa pemilihan kepala daerah diiakukan setiap lima tahun sekali secara. Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung dan serentak diselenggarakan tanggal 9 Desember 2015' Berbagaipersoalanmunculberkaitandenganpenyelenggaraanpemilihan.

Hal ni menunjukkan bahwa pengaturan di dalam Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah belum dapat mengakomodir penyelenggaraan pemilihan Kepala Daerah secara langsung dan serentak'. Walikota mensyaratkan terselenggaranya pemilihan kepala daerah j ika diikuti oleh sekurang-kurangnya dua pasangan ca1on. Pemilihan Kepala daerah serentak juga berpotensi menimbulkan persoalan hukum berkaitan dengan penyelesaian sengketa penetapan hasil pemilihan kepaia daerah.

2015, bahwa penyelesaian perselisihan penetapan perolehan suara hasil pemilihan Kepala Daerah tidak lagi dilakukan oleh Pengadilan Tinggi, akan tetapi akan dibentuk badan peradilan khusus. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak mengatur apakah kepala daerah dan wakil kepala daerah. Pemiiihan kepala daerah secara demokratis yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak membuka peluang untuk pengangkatan kepala daerah.

Penyeienggaraan pemilihan kepala daerah dalam sistem ketatanegaraan Indonesia tidak harus diselenggarakan secara

Hasyim Asy ari, Membangun Budaga Konsensus dalam Hlkada, makalah dalam Sarasehan "Mencari Figur Gubernur yang Ideal dan Antisipasi Konflik Pemiiu Gubernur Jawa Tengah" Program Pasca Sarjana Magister (S2) Ilmu Hukum dan Forum Doktor Universitas islam Sultan Agung Semarang, 8 Maret 2008. Hukum Tata Negara dan Hlar-Hlar Demokrasi, Serpihan Pemikiran Hukum, Media dan IIAM, Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Jakarta, 2006. Prihatmoko, Pemilihan Kepala Doerah Langsung, Filosofi, Sis/em don Problema Penerapan di Indonesia, Kerjasama Penerbit Pustaka Pelajar Yoryakarta dan Lembaga Penelitian, Pengembangal dal.

Laica Marzuki, Berjalan-jalan di Ranah Hulcum, Sekretariat jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, Jakarta, 2006. Administrasi Sarjana (S I ) Fak Hukum Unissula 2014-sekarang Fak Hukum Unissula 2014-sekaran Hukurn Tata Negara Sar;ana (S I. 2015 Problem Yuridis Pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah Secara langsung dan Serentak Berdasarkan Undang'Undang Nomcr I Tahun 2015.

200'7 Siaran Dialog lnteraktif Radio PTDI UNISSA 205 "Kewenangan Mahkamah Konstitusi menurut UUD Negara Repuliik Indonesia Tahun 1945".

Referensi

Dokumen terkait