PENDAHULUAN
Konteks Penelitian
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa menciptakan budaya keagamaan di sekolah merupakan upaya untuk menginternalisasikan nilai-nilai agama pada diri siswa. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa budaya keagamaan di sekolah merupakan suatu proses penanaman sikap dan nilai-nilai keagamaan pada diri siswa. Sekolah ini luar biasa karena ingin membentuk karakter siswa dengan menanamkan nilai-nilai keagamaan dengan menerapkan budaya keagamaan di sekolah.
Fokus Penelitian
Judul Penelitian: Penerapan Budaya Religius dalam Perkembangan Mental Mahasiswa D-III Kebidanan di Akademi Kebidanan Sakinah Pasuruan. Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait dengan judul “Strategi Guru PAI Dalam Pembentukan Budaya Beragama di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan”. Bagaimana strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan budaya beragama melalui kebiasaan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan.
Tujuan Penelitian
Strategi guru pendidikan agama Islam dalam membentuk budaya keagamaan melalui orientasi di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan. Bagaimana strategi guru PAI dalam membentuk budaya keagamaan melalui orientasi di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan. Bagaimana strategi guru PAI dalam membentuk budaya keagamaan melalui keteladanan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan.
Manfaat Penelitian
Definisi Istilah
Pengertian istilah memuat makna istilah-istilah penting yang menjadi fokus perhatian peneliti dalam judul penelitian. Dalam hal ini tujuannya adalah untuk menghindari kesalahpahaman terhadap istilah yang dimaksudkan oleh peneliti. Setiap sekolah tentunya mempunyai keinginan untuk mengembangkan budaya yang baik, suatu budaya terbentuk dari suatu kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus.
Sistematika Pembahasan
Bab ini membahas tentang metode penelitian yang meliputi pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif kualitatif, lokasi penelitian di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan, sumber data, metode pengumpulan data dan keabsahan data melalui penelusuran sistematis dan pengumpulan data yang diperoleh melalui observasi, wawancara. dan dokumentasi. , serta diskusi sistematis. Bab ini memuat hasil penelitian atau konteks penelitian, tujuan penelitian, penyajian data, analisis dan pembahasan temuan. Kesimpulan merupakan subbab yang berkaitan dengan jawaban rumusan masalah yang telah didefinisikan pada bab pertama.
KAJIAN PUSTAKA
Penelitian Terdahulu
Bedanya, peneliti ini lebih fokus pada pengembangan budaya keagamaan melalui keteladanan guru di lingkungan SDN 2 Tonatan. Bedanya para peneliti tersebut lebih fokus pada kontribusi budaya keagamaan terhadap perkembangan mental mahasiswa D-III Kebidanan Sakinah Pasuruan. Bedanya para peneliti ini lebih fokus pada upaya guru PAI dalam membangun budaya keagamaan dan.
Kajian Teori
Budaya religius adalah seperangkat nilai keagamaan atau nilai keagamaan (religiusitas) yang menjadi landasan berperilaku dan menjadi kebiasaan sehari-hari. Budaya keagamaan di sekolah juga dapat menjadi cara berpikir dan bertindak warga sekolah yang dilandasi oleh nilai-nilai agama. 44 Asmaun Sahlan, Menciptakan Budaya Religius di Sekolah (Upaya Pengembangan PAI dari Teori ke Tindakan), (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), hal, 83.
49 Asmaun Sahlan, Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah (Upaya Mengembangkan PAI dari Teori ke Aksi), (Malang: UIN-MALIKI PRESS sangat dominan dalam mengimplementasikan perubahan. Mewujudkan budaya religius merupakan wujud pengembangan pendidikan agama Islam di sekolah yang selama ini terbukti meningkatkan kerohanian siswa.
METODE PENELITIAN
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Lokasi Penelitian
Dengan demikian, budaya peserta didik terbentuk, dibentuk tidak hanya untuk memenuhi bidang kecerdasannya, tetapi juga untuk memenuhi karakternya. Oleh karena itu, peneliti ingin memahami dan menggali lebih dalam hal-hal yang dapat dijadikan referensi dan contoh dalam membentuk budaya positif pada siswa.
Subyek Penelitian
Alasan penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan karena sekolah tersebut berlatar belakang sekolah dasar namun menerapkan budaya keagamaan yang dalam hal ini adalah agama Islam. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber pertama, baik melalui observasi maupun wawancara dengan informan. Dapat dikatakan bahwa data primer hanya diperoleh dari wawancara terhadap narasumber dan pengamatan langsung di lapangan.
Sebagai wakil kepala kurikulum c. Apakah Yuda Astriyanto, S.Pd. dan Muf seeul Maghfiroh, M.Pd. sebagai guru Pendidikan Agama Islam. Data sekunder merupakan data yang diperoleh sebagai penunjang data primer berupa observasi, dokumentasi dan berbagai referensi yang menjelaskan implementasi budaya religius dalam pembentukan karakter siswa di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan. Kepala Sekolah dapat memberikan informasi strategi pembentukan budaya religius di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan 2. Dra.
Narasumber kurikulum dapat memberikan peneliti informasi yang lebih detail dan relevan mengenai strategi pembentukan budaya keagamaan di sekolah SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan. Afkarina b) Siswa kelas IX. Begitu pula salah satu indikator pada tahap evaluasi adalah apakah kebijakan yang diambil sudah sesuai dengan kebutuhan belajar siswa di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan.
Teknik Pengumpulan Data
Oleh karena itu peneliti memilih beberapa informan yaitu Bapak Akhmad Ponali sebagai Kepala Sekolah, Ibu Anna Widya Andayani sebagai Kepala Bidang Kurikulum, Bapak Made Yudha Astrianta sebagai Kepala Bidang Kesiswaan, Guru PAI dan Siswa.
Analisis Data
Setelah peneliti memperoleh data hasil wawancara, peneliti memilah dan menganalisis data yang diperoleh. Sesuai dengan pernyataan di atas, peneliti akan menyajikan data yang dikumpulkan dalam bentuk narasi deskriptif. Data yang disajikan berupa wawancara, observasi dan dokumentasi yang dikumpulkan selama penelitian.
Kemudian akan dianalisis untuk mengetahui apakah kesimpulan penelitian tersebut sesuai dengan teori yang digunakan atau tidak.
Keabsahan Data
Pemeriksaan keabsahan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah triangulasi teknis dan triangulasi sumber. Triangulasi teknis artinya peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda untuk memperoleh data dari sumber yang sama. Sedangkan triangulasi sumber berarti memperoleh data dari sumber yang berbeda dengan teknik yang sama.
Dengan demikian dalam triangulasi teknis peneliti memperoleh data dari Bapak Akhmad Ponali selaku kepala SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan triangulasi sumber penelitian memperoleh penguatan data dari Ibu Anna Widya Andayani selaku Pemimpin Kurikulum, Bapak. Made Yudhe Astrianta selaku Kepala Bagian Kemahasiswaan, Bpk. Saiful Mawardi sebagai guru PAI, Ibu Muf seenul Maghfiroh sebagai guru PAI, Ibu. Nur Farida sebagai staf administrasi sekolah, M. Hasyim Asa'ari sebagai siswa dan Putri Dewi Afkarina sebagai siswa SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan yang menggunakan teknik pengumpulan data yang sama yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi.
Tahap-tahap Penelitian
Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Membentuk Budaya Beragama Melalui Keteladanan SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan. Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Budaya Beragama Melalui Kemitraan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan. Salah satu budaya keagamaan yang dilakukan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan adalah kegiatan Jumat sehat.
Salah satu budaya keagamaan yang dilakukan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan adalah kegiatan sedekah Jumat. Salah satu budaya keagamaan yang dilakukan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan adalah kegiatan keagamaan hari Jumat. Strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam membentuk budaya keagamaan melalui keteladanan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan.
Bagaimana strategi guru PAI dalam membangun budaya keagamaan melalui kemitraan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan. Bagaimana peran Anda sebagai pemimpin dalam merumuskan strategi budaya keagamaan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan. Bagaimana peran anda sebagai pengawas dalam merumuskan strategi budaya keagamaan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan.
Gambar kegiatan yang berlangsung berkaitan dengan kegiatan budaya religi di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan. Q: Bagaimana proses strategis yang dilakukan dalam pembentukan program budaya religius di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan. Q: Bagaimana peran Anda sebagai pemimpin dalam membentuk strategi budaya keagamaan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan.
Q: Apa peran anda sebagai motivator dalam pembentukan strategi budaya keagamaan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan. Q: Apa peran anda sebagai pengawas dalam pembentukan strategi budaya keagamaan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan.
PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
Gambaran Objek Penelitian
Penyajian Data dan Analisis
Siswa membentuk budaya keagamaan melalui aktivitas sehari-hari di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan antara lain shalat dhuha berjamaah, membaca Al-Qur'an dan doa sebelum dan sesudah belajar. Dari hasil wawancara diatas, berikut kegiatan pengumuman yang dilakukan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan. Sholat dhuha merupakan budaya di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan, salah satu kebiasaan yang muncul dalam kegiatan keagamaan.
Para siswa SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan biasa melaksanakan salat Dhuha di musala halaman sekolah. Salah satu bentuk kegiatan budaya religi di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan adalah membaca Al-Quran. Dapat kita simpulkan bahwa budaya wajib berjilbab di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan berjalan dengan sangat baik.
Proses pembentukan budaya religius siswa melalui kemitraan salah satunya budaya religius yang dilakukan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan merupakan kegiatan Jumat Berkah. Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa budaya Jumat berkah di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan efektif dalam membentuk karakter siswa. Pernyataan di atas juga diperkuat dengan observasi peneliti di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan pada tanggal 17 Februari 2023.86 Kegiatan sedekah jumat ini dilaksanakan pada pagi hari dan sepanjang hari.
Pernyataan di atas juga diperkuat dengan observasi peneliti di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan pada tanggal 24 Februari 2023. Pada pagi hari telah dilaksanakan 88 kegiatan Jumat keagamaan.
Pembahasan Temuan
Pembentukan budaya keagamaan melalui kemitraan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan melaksanakan kegiatan budaya keagamaan seperti Jumat Agung, Jumat Bersih, Jumat Sedekah dan Jumat Keagamaan. Berdasarkan hasil analisis keseluruhan strategi pendidikan agama Islam dalam membentuk budaya keagamaan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan, dapat diambil kesimpulan. Dalam membentuk budaya religius siswa SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan, guru pendidikan agama Islam menggunakan strategi pembiasaan.
Dalam membentuk budaya keagamaan siswa di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan, guru Pendidikan Agama Islam menggunakan strategi dengan memimpin dengan memberi contoh. Dalam membentuk budaya keagamaan siswa di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan, guru Pendidikan Agama Islam menggunakan strategi dengan menjalin kemitraan. Asmaun Sahlan, (2009) Mewujudkan Budaya Keagamaan di Sekolah (Upaya Mengembangkan PAI dari Teori ke Tindakan), Malang: UIN-MALIKI PRESS Asmaun Sahlan, (2010) Mewujudkan Budaya Keagamaan di Sekolah, Malang, UIN.
Apa yang anda lakukan sebagai kepala sekolah dalam menyusun strategi program budaya religius di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan. Bagaimana cara memonitor dan mengevaluasi program budaya keagamaan agar berjalan lancar dan maksimal di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan. Q: Apa yang dilakukan Bapak sebagai kepala sekolah dalam menyusun strategi program budaya religius di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan.
Pertanyaan: Tahukah anda peran kepala sekolah sebagai motivator dalam perancangan strategi budaya keagamaan di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan?
PENUTUP
Simpulan
Peneliti kemudian melakukan observasi untuk memperkuat pendapat berdasarkan hasil wawancara, dan mengamati kegiatan keagamaan budaya di SMP Negeri 1 Kraton Pasuruan. Hal ini bertujuan agar tujuan yang ingin dicapai dalam pembentukan budaya keagamaan peserta didik dapat tercapai.
Saran-saran