• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Perang Ideologi

N/A
N/A
Lynx

Academic year: 2024

Membagikan " Strategi Perang Ideologi"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

“Ghazwul Fikri

Disusun oleh:

1. Hidayati Solicha (1501184186)

2. Luthfie Hafizh Anugerah (1501184190) 3. Muhammad Mizani (1501184200)

AB-42-07

Prodi Administrasi Bisnis Fakultas Komunikasi dan Bisnis

Telkom University

Jl. Telekomunikasi No. 01, Terusan Buah Batu, Sukapura, Dayeuhkolot, Sukapura, Dayeuhkolot, Bandung, Jawa Barat

40257

(2)

i

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ... i

BAB 1 ... 1

PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah... 2

1.3 Tujuan Penulisan ... 2

BAB II ... 3

PEMBAHASAN ... 3

2.1 Sejarah perkembangan Ghozwul fikri ... 3

2.2 Sasaran dan Strategi Al-ghozwul fikri ... 4

2.3 Sarana –sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan ghazwul fikri. .... 6

2.4 Bidang-Bidang Yang Diserang ... 8

2.5. Beberapa saran yang digunakan untuk menghadapi ghozwul fikri. ... 12

2.6 Tujuan Ghzwul Fikri ... 13

BAB III ... 15

PENUTUP ... 15

3.1 Kesimpulan ... 15

3.2 Saran ... 15

DAFTAR PUSTAKA ... 16

(3)

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ghazwul fikri ( perang pemikiran ) merupakan hal yang sangat mungkin terjadi pada zaman seperti ini. Suatu cara yang sangat ampuh untuk mempengaruhi seseorang atau kelompok melalui globalisasi informasi. Perang yang jauh lebih berbahaya dari perang secara fisik karena tidak disadari karena kelihaiannya dan dampak yang ditimbulkan yaitu dampak psikologis yang terpengaruh dalam waktu yang lama. Dorongan untuk menerapkan al-ghozwul fikri sebagai upaya penganekaragaman serbuan terhadap kaum muslim ialah kegagalan pasukan nonmuslim menaklukan dunia Islam melalui perang secara konvensional ( secara fisik militer ). Hal ini menimbulkan kesadaran bagi mereka bahwa untuk menaklukan dunia Islam diperlukan penyerbuan yang bersifat nonmiliter.

Al-ghozwul fikri menyerang pemikiran dan ajaran Islam. Karena itu medannya sangat luas, seluas kehidupan Islam. Hampir semua bagian dari ajaran Islam dan aplikasinya dijadikan sasaran al-ghozwul fikri. Hal ini dimaksudkan agar kaum muslimin, dalam kehidupannya menyimpang dari wahyu, baik secara total maupun sebagian. Al-ghozwul fikri merupakan upaya agar bangsa-bangsa lemah selalu tunduk kepada pengaruh kaum penyerbu. Al-ghozwul fikri juga merupakan fenomena baru yang membuktikan betapa keras dan menyeluruhnya konspirasi kaum kafir terhadap Islam dan kaum Muslimin dan betapa halusnya tipu daya mereka. Dalam bahasa Inggris “ghozwul fikri” disebut sebagai brain washing, thought control, menticide adalah istilah yang menunjuk kepada suatu program yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur oleh musuh-musuh Islam untuk melakukan pendangkalan pemikiran dan cuci otak kepada kaum muslimin, dengan tujuan agar kaum muslimin tunduk dan mengikuti cara hidup mereka sehingga melanggengkan kepentingan mereka untuk menjajah/mengeksploitasi sumber daya milik kaum muslimin. Semua yang mereka lakukan hanya untuk satu tujuan yaitu menghancurkan kaum muslimin didunia.

(4)

2 1.2 Rumusan Masalah

. 1. Apa pengertian dari Gazhwul Fikri?

2. Bagaimana bahaya dari Gazhwul Fikri?

3. Bagaimana tujuan,sarana dan media yang digunakan dalam Ghazwul Fikri?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui pengertian dari Ghazwul Fikri 2. Untuk mengetahui bahaya dari Ghazwul Fikri

3. Untuk mengetahui tujuan,sarana dan media yang digunakan dalam Ghazwul Fikri.

(5)

3

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah perkembangan Ghozwul fikri

Menurut bahasa Ghozwul fikri terdiri dari dua kata : ghozwah dan fikr, ghozwah berarti serangan, sebuan, atau invasi dan fikr berarti pemikiran. Serangan dan serbuan disini berbeda dengan serangan atau serbuan dalam qital ( perang senjata ). Invasi/serangan pemikiran dalam bahasa Inggris disebut sebagai brain washing, thought control, menticide. Invasi pemikiran yang dilakukan olah para musuh Islam dengan pertimbangan-pertimbangan bahwa dibandingkan dengan melakukan peperangan militer/fisik, maka Ghozwul fikri memiliki beberpa kelebihan diantaranya : sepihak (yang lain tidak menyadari kalau sedang diserang), korban hampir tidak ada, membutuhkan dana yang sedikit, hasilnya nyata terlihat dan berhasil, dan efeknya dalam dan luas. Menurut istilah adalah penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat Islam guna merubah apa yang ada didalamnya sehingga tidak lagi bias keluar dari pikirannya itu hal-hal yang benar karena telah tercampur aduk dengan hal-hal tidak Islami.

Sejarah Ghozwul fikri sudah ada setua umur manusia, makhluk yang pertama kali melakukannya adalah Iblis la’natullah ketika berkata kepada Nabi Adam as : “Sesungguhnya Allah SWT melarang memakan buah ini supaya kalian berdua tidak menjadi malaikat dan tidak dapat hidup abadi” ( QS : 7/20 ). Dalam perkataannya ini Iblis tidak menyatakan bahwa Allah SWT tidak melarang kalian karena itu akan bertentangan dengan infromasi yang telah diterima eloh Adam as, tetapi Iblis mengemas dan menyimpangkan makna perintah Allah SWT sesuai dengan keinginannya, yaitu dengan menambahkan pelarangan Allah SWT yang dibuatnya sendiri dan ia tahu bahwa Adam as tidak mempunyai pengetahuan tentang sebab tersebut. Para pemikir muslim selalu menyinggung Perang Salib sebagai peristiwa sejarah yang berpengaruh luas terhadap sikap keagamaan kaum Kristiani Eropa, peristiwa ini membangkitkan dendam dan nafsu memusnahkan Islam dan menghancurkan kaum muslimin. Akibatnya mereka memperluas medan penyerbuan dan sasarannya. Sejalan dengan luasnya medan dan sasaran penyerbuan, mereka melipatgandakan penyerbuan dan sasarannya.

(6)

4

Setidak-tidaknya pengalaman Perang Salib membangkitkan kesadaran baru bahwa untuk memusnahkan Islam di bumi ini tidak mungkin dilakukan hanya dengan melalui penyerbuan fisik. Bahkan perang konvensional yang mereka lakukan sampai beberapa abad tidak memberikan hasil yang diharapakan. Karena itu mereka menempuh cara lain, selain penyerbuan militer, yakni penyerbuan pemikiran yang merupakan alternative pelapiasan dendam dan nafsu ingin memusnahkan kaum muslimin atau menaklukannya. Orang yang sering disebut-sebut pertama kali menyerukan untuk melipat gandakan penyerbuan ini adalah Louis IX, kemudian menyusul orang-orang seperti Gladstone, Crommerm, Lord Allenby.

Seruan-seruan mereka inilah yang kemudian dijadikan dasar perencanaan dan langkah-langkah penyerbuan baru Barat terhadap Islam.

Louis IX ketika tertawan dirumah Luqman di Al-Manshuroh (Mesir) menyadari benar akan perlunya pelipat gandaan penyerbuan terhadap Islam dengan tidak semata-mata melalui perang konvensional. Ini merupakan salah satu indikator bahwa Perang Salib berpengaruh besar terhadap sikap keagamaan orang-orang Eropa dan pandangannya terhadap Islam dan kaum muslimin. Sehubungan dengan Perang Salib ini ada beberapa fenomena yang perlu dicatat, terutama dalam hal sikap keagamaan Barat yang Kristiani terhadap Timur yang Islami.

Pertama, ada interaksi langsung pada hamper semua aspek kehidupan antara kekuatan kufur dan Islam. In menimbulkan sikap keagamaan baru bagi orang-orang Eropa dan melahirkan berbagai pengalaman yang dapat dijadikan pijakan dalam menentukan langkah penyerbuan baru terhadap kaum muslimin. Kedua, munculnya sikap keagamaan kaum Kristiani Eropa yang semakin keras. Sikap ini terutama diakibatkan oleh kekalahan mereka yang berkali-kali dalam Perang Salib serta ketidak mampuan mereka menaklukkan dunia Islam secara total.

2.2 Sasaran dan Strategi Al-ghozwul fikri

Al-ghozwul fikri mengarah kepada dua sasaran utama, yaitu : 1. Mengeliminasi Islam supaya tidak berkembang,

2. Menghantam Islam dari dalam. Untuk mencapai sasaran pertama al-ghozwul fikri, orang-orang kafir menggunakan beberapa strategi :

1. Tasywih (pencemaran/pelecehan) Tasywih ini dilancarkan tidak terbatas hanya dalam satu aspek, tetapi mencakup seluruh aspek dalam Islam. Karena itu kita menemukan berbagai upaya Tasywih terhadap Al-Qur’an, Sunnah Nabi, pribadi Rasululloh SAW,

(7)

5

sejarah Islam dan tokoh-tokohnya, system kehidupan Islam, peradaban dan warisan Islam, bahasa dan lainnya. Tujuannya adalah untuk menghilangkan kebanggaan kaum muslimin terhadap Islam dengan menggambarkan Islam secara buruk.

2. Tasykik (pendangkalan/peragu-raguan) Tasykik yang dilancarkan orang-orang kafir terutama terarah kepada sejarah masa lalu umat dan masa kininya. Agar umat Islam terputus hubungannya dengan masa lalunya, maka orang-orang kafir melancarkan tasykik terhadap kejayaan masa lalu umat dan terhadap kehidupan pribadi tokoh- tokohnya. Tujuannya ialah agar generasi muslim sekarang tidak tahu sejarah masa lalu umatnya kecuali masa-masa kegelapan dan penindasan, masa kegoncangan dan kebiadaban, masa pemaksaan dan kediktatoran. Dengan demikian, gernerasi muslim sekarang melihat masa lalu sejarahnya hanya merupakan mata rantai berbagai bentuk penyiksaan dan silsilah penuh lembaran hitam.

3. Tadzwib (penghancuran) karekteristik umat Setelah melancarkan tasywih dan tasykik orang-orang kafir kemudian memasuki tahap tadzwib (penghancuran). Tujuannya ialah agar umat Islam kehilanngan karekteristikdan kepribadiannya. Karena itu mereka menyerbu dengan berbagai sarana yang dapat merubah karakternya dan melunturkan aqidahnya. Seluruh kekuatan musuh Islam bersekongkol menghancurkan karakteristik umat dengan berbagai cara. Mereka menggunakan cara-cara langsung dan tidak langsung, terang-terangan dan samar-samar, materi dan immateri, asing dan local, ekonomi dan sosial, pendidikan dan kebudayaan terhadap muslim yang berada di negeri muslim ataupun muslim yang berada di negeri-negeri kafir.

4. Taghrib (pembaratan/westernisasi/kafirinisasi) Satu langkah lagi yang mereka lancarkan adalah taghrib, yaitu penanaman kebudayaan baru yang dapat mengarahkan akal, menentukan perjalanan politik, menciptakan berbagai keputusan, merusak kondisi umat dan mengendalikan kepemimpinan kaum muslimin. Langkah ini disebut taghrib, sebuah upaya penanaman budaya barat secara total ke tengah-tengah kaum muslimin. Sehingga seluruh struktur kehidupan kaum muslimin sepenuhnya berada dalam kontrol dan arahan pola hidup barat.

Sedangkan untuk mencapai sasaran yang kedua al-ghozwul fikri, orang-oarng kafir menggunakan beberapa strategi, antara lain :

1. Penyebaran paham Sekularisme Sekularisme berupaya menciptakan suatu kehidupan yang berdasarkan ilmu mutlak dan berada dibawah kekuasaan akal dan eksperimen.

(8)

6

Karena itu hal-hal yang bersifat spiritual dipandang serba negatif. Dalam bidang politik, hukum dan moral, selain mendasarkan atas prinsip materialism, sekularisme juga menganut faham machiavelistik dan berupaya keras untuk memisahkan agama dan Negara . Dengan demikian Islam akan tergusur dari kehidupan nyata, sedangkan kepribadian kaum muslimin menjadi merosot, semata-mata bernilai materi kebendaan dan kerasionalan yang terpisah dari keimanan.

2. Menyebarkan paham Nasionalisme Nasionalisme adalah paham yang meletakkan nation atau suku bangsa diatas segala-galanya. Menurut paham ini kepentingan bangsa harus berada diatas semua kepentingan, termasuk kepentingan agama. Karena itu bangsa merupakan prinsip, metode dan sekaligus tujuan kehidupan. Menurut Syekh Abdullah bin Baz : “Nasionalisme adalah propaganda jahiliyah ateistik yang bertujuan memerangi Islam dan menghantam segala hukum dan ajarannya. Nasionalisme adalah sebuah ciptaan Kristiani Barat untuk memerangi Islam dan menghancurkannya dari dalam”. Demikian beberapa strategi yang dilancarkan oleh orang-orang kafir yang berusaha untuk menghancurkan Islam.

2.3 Sarana –sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan ghazwul fikri.

1. Lembaga Pemerintahan Semua lembaga pemerintahan di dunia Islam, tanpa kecuali dijadikan alat dan sarana al-ghozwul fikri. Sarana ini dipergunakan baik untuk mencapai sasaran pertama ( mengeliminasi Islam ) ataupun sasaran kedua ( menghantam Islam dari dalam ). Hal ini dilakukan dengan cara menguasai piranti politik dan piranti perundang-undangan.

2. Publikasi- Publikasi adalah alat ghozwul fikri yang paling luas jangkauannya. Publikasi dapat mengantarkan ghozwul fikri dalam mencapai sasaran-sasarannya dalam kelompok masyarakat yaitu para cendikiawan, orang-orang awam besar-kecil, kaum laki-laki dan perempuan, orang kota dan kampung, oranng kaya dan miskin baik yang sudah dewasa maupun yang masih kecil. Karena itu orang-orang kafir berusaha keras menguasai dan mengarahkan alat-alat publikasi ini. Media cetak, media elektronik, teater, lagu-lagu, film dan lukisan-lukisan dikerahkan untuk membentuk generasi yang ruhnya kosong dari nilai-nilai Islam.

3. Pendidikan Orang-orang kafir memanfaatkan lembaga-lembaga pendidikan secara luas untuk mecapai tujuan ghozwul fikri, yakni dengan cara mempengarui dan

(9)

7

menguasainya. Hamper semua perangkat yang berkaitan dengan pendidikan dikuasai oleh mereka. Managemen, sistem, metode, filsafat pendidikan, tenaga pengajar sampai bahasa yang digunakan, dikuasai oleh mereka.

4. Bidang kemasyarakatan Untuk mengeliminasi dan menghantam Islam dari dalam, mereka juga memanfaatkan bidang sosial kemasyarakatannya dan dijadikannya alat perusak dan penghancur pemikiran umat. Sekurang-kurangnya ada tiga cara yang biasa mereka lakukan dalam program ini :

a. Mentasywih tokoh-tokoh agama dan masyarakat muslim dengan cara memburuk- burukkan nama baik tokoh dan perilaku masyarakat muslim tersebut.

b. Menciptakan pemimpim-pemimpin palsu, baik sebagai pemimpin politik, pendidikan, maupun ekonomi.

c. Menyerbu kehidupan social kemasyarakatan kaum muslimin dengan cara mempopulerkan berbagai macam tradisi, cara berpakaian, pemikiran, seruan- seruan, penemuan-penemuan dan lain sebagainya.

Untuk melancarkan serangan-serangannya dalam mengkerdilkan pemikiran umat islam mereka memasarkan kepada umat islam yang populer di sebut “4 S” (Sing. Sex, Sport, Smoke) dan “4 F” (Fun, Fasion. Food, Faith). Tujuannya jelas, agar umat islam melupakan kitab pegangan utamanya (Al Qur’an), serta tuntunan Nabi Muhammad saw lewat hadist-hadist Nabawiyah.

Ghozwul fikri yang mereka lancarkan ternyata sangat efektif untuk mematikan akidah dan pemikiran serta perjuangan umat Islam secara perlahan. Hal ini dapat kita jumpai dalam rumah tangga umat Islam bahkan sampai tingkat Negara sekalipun. Adapun isi dari ghozwul fikri itu adalah :

a. Empat S ( 4-S )

SING : Musik dengan berbagai jenis dan instrumennya.

SEX : Gambar-gambar pornografi dan film-film yang ditayangkan di televisi yang sarat dengan unsur pornografi.

SPORT : Kegilaan terhadap olahraga yang tampaknya secara lahiriah membawa kebaikan bahkan mengangkat nama bangsa jika berprestasi, namun yang sering dilupakan oleh umat Islam adalah bentuk pakaian yang digunakan diberbagai cabang olahraga yang tidak mencerminkan kutur Islam yaitu menutup aurat, baik putra atau putrid. Juga even-even olahraga yang digelar tanpa memperhatikan waktu shalat, di antaranya sepakbola yang biasanya diiringi oleh arak-arakkan supporter.

(10)

8

SMOKE : rokok sudah umum dikonsumsi oleh semua kalangan dan generasi, jumhur ulama berpendapat bahwa hokum rokok adalah makruh, khususnya makruh yang dapat merusak kesehatan bahkan menurut sebagian ulama hukkum merokok adalah haram atau paling tidak adalah makruh tahrim kecnduan rokok secara umum dikalangan umay Islam, tentunya membawa dampak negative bagi ketegaran ibadah dan jiwa perjuangan umat, didalam melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar secara utuh, serta menghalangi turunnya rahmat Allah SWT kepada mereka.

b. Empat F ( 4F ) :

FUN : Lawakan atau tontonan-tontonan yang lucu yang mengajak pemirsanya tertawa seringkali kkita jumpai di televise, panggung-panggung hiburan dan lain-lain. Yang patut disesalkan adalah kegiatan da’wah atau ceramah agama yang terkadanng porsi lawakannya justru lebih banyak dari fatwa atau isi dakwah itu sendiri.

FASHION : Generasi muda merupakan konsumen utama dari perkembangan model pakaian yang berkiblat pada tren mode Barat.

FOOD : Berbagai macam dan merk makanan siap saji dengan mudah didapat dan harganya pun relative terjangkau. Sisi lain dari makanan jadi ini adalah proses pembuatannya yang terkadang tidak jelas halal haramnya ( walaupun berlabel halal )

FAITH : Kepercayaan yang dimaksud adalah berbagai paham yang dikembangkan oleh orang- orang kafir, seperti : Liberalisme, Zionisme, Sekularisme, Kapitalisme, Nasionalisme, Demokratisme ala Barat, Westernisasi, Kristenisasi, Emansipasi, Karierisasi, pemberlakuan HAM melebihi ketentuan hokum syara’ sesuai yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadits.

2.4 Bidang-Bidang Yang Diserang

1. Pendidikan :

Pendidikan adalah aspek penting yang menentukan maju atau mundurnya suatu bangsa, oleh sebab itu bidang pendidikan merupakan target utama dari GF. GF yang dilakukan dibidang pendidikan diantaranya adalah dengan membuat sedikitnya porsi pendidikan agama di sekolah-sekolah umum (hanya 2 jam sepekan), hal ini berdampak fatal pada fondasi agama yang dimiliki oleh para siswa, dengan lemahnya basis agama mereka maka terjadilah tawuran, seks bebas pelajar yang meningkatkan AIDS, penyalahgunaan Narkoba, vandalisme, dsb. Ini adalah dampak jangka pendek, yang lebih berbahaya lagi adalah dampak jangka panjangnya yaitu terhadap kualitas pemahaman agama para

calonInvasi Pemikiran Terhadap Kaum Muslimin Ditulis oleh Yuari (2008Invasi/ serangan pemikiran atau dalam bahasa Arab dinamakan ghazwul fikri dan dalam

basaha Inggris disebut sebagai brain washing, thought control, menticide adalah istilah

(11)

9

yang menunjuk kepada suatu program yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur oleh musuh-musuh Islam untuk melakukan pendangkalan pemikiran dan cuci otak kepada kaum muslimin, dengan tujuan agar kaum muslimin tunduk dan mengikuti cara hidup mereka sehingga melanggengkan kepentingan mereka untuk

menjajah (baca : mengeksploitasi) sumberdaya milik kaum muslimin.Invasi pemikiran (atau ghazwul fikri selanjutnya disingkat GF) dilakukan oleh para musuh Islam dengan

pertimbangan-pertimbangan bahwa dibandingkan dengan melakukan peperangan

militer/fisik, maka GF memiliki kelebihan- kelebihan sebagai berikut : ASPEK PERANG FISIK GHAZWUL FIKRI ASPEK PERANG FISIK Biaya sangat mahal

Jangkauan Terbatas di front Obyek merasakan

Dampaknya objek mengadakan perlawanan

Penggunaan persenjataan, senjata beratGHAZWUL FIKRI Murah dan dikembalikan Sampai ke rumah – rumah objek

Sama sekali tidak merasa

Slogan, teori, iklan pemimpin bangsa dimasa depan. GF lainnya dibidang ini adalah pada teknis belajarnya

yang campur baur antara pria dan wanita yang jelas tidak sesuai dan banyak menimbulkan pelanggaran terhadap syari’at.

2. Sejarah :

Sejarah yang diajarkan perlu ditinjau ulang dan disesuaikan dengan semangat Islam.

Materi tentang sejarah dunia & ilmu pengetahuan telah di GF habis-habisan sehingga hampir tidak ditemui sama sekali pemaparan tentang sejarah para ilmuwan Islam dan sumbangannya dalam perkembangan ilmu pengetahuan, melainkan semata-mata ilmuwan kafir yang pada akhirnya membuat generasi muda menjadi silau dengan tokoh-tokoh kafir dan minder terhadap sejarahnya sendiri. Ketika berbicara tentang sejarah Islam, di benak mereka hanya terbayang sejarah peperangan dengan pedang dan darah

sebagaimana yang selalu digambarkan dalam kacamata Barat. Hal ini lebih diperparah lagi dengan sejarah nasional dan penamaan perguruan tinggi, gedung-gedung,

perlambangan, penghargaan dan pusat ilmu lainnya dengan bahasa Hindhu Sansekerta, sehingga semakin hilanglah mutiara kegemilangan Islam di hati para generasi muda.

3. Ekonomi :

GF yang terjadi dibidang ekonomi adalah konsekuensi dari motto ekonomi yaitu : Mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya, ketika motto ini ditelan habis-habisan tanpa dilakukan filterisasi lagi, maka tidak lagi

memperhatikan halal atau haram, yang penting adalah bagaimana supaya untung sebesar- besarnya. Hal lain yang perlu dicermati dalam sistem ekonomi kapitalisme yaitu

monopoli, riba dan pemihakan elit kepada para konglomerat. Mengenai monopoli sudah tak perlu dibahas lagi, cukup jika dikatakan bahwa di AS sendiri telah diberlakukan UU anti-trust (bagaimana di Indonesia?). Tentang riba dan haramnya bunga-bank rasanya bukan pada tempatnya jika dibahas disini, cukup dikatakan bahwa munculnya dan berkembangnya bank tanpa bunga (bagi hasil), fatwa MUI, fatwa Universitas al-Azhar Mesir, kesepakatan para ulama Islam dunia (lihat Lampiran-lampiran pada buku

Qardhawi, Bank Tanpa Bunga, Usamah Press, Jakarta) membuktikan bahaya bunga bank dan haramnya dalam Islam. Tentang keberpihakan kepada para konglomerat, semoga dengan perkembangan era reformasi saat ini dapat diperbaiki.

(12)

10 4. Ilmu Alam & Sosial :

Pada bidang ilmu-ilmu Alam, GF terbesar yang dilakukan adalah dengan dilakukannya sekularisasi antara ilmu pengetahuan dengan ilmu agama (lihat bab II, pasal bahaya aliran sekularisme). Bahaya lainnya adalah penisbatan teori-teori ilmu pengetahuan kepada para ilmuwan tanpa mengembalikannya kepada Sang Pemberi dan Pemilik Ilmu, sehingga mengakibatkan kekaguman dan pujian hanya berhenti pada diri para ilmuwan tersebut saja dan tidak bermuara kepada Allah SWT. Hal lain adalah berkembangnya berbagai teori-teori sesat yang sebenarnya belum diterima secara ilmiah, tetapi disebarkan secara besar-besaran oleh kelompok-kelompok tertentu untuk menimbulkan keraguan pada agama, seperti teori tentang asal-usul makhluk hidup (the origins of species) dari Darwin (yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari penemuan Herbert Spencer), yang sebenarnya masih ada the missing link yang belum dapat menghubungkan antara manusia

dan kera, tapi sudah “diindoktrinasikan” kemana-mana (lihat bantahan tuntas terhadap teori ini dalam Bucaille Maurice, Asal Usul Manusia, Mizan, Bandung). Atau teori Libido Seksual-nya Freud, yang menyatakan bahwa jika manusia tidak dibebaskan sebebas- bebasnya keinginan seksualnya akan mengakibatkan terjadinya gangguan kejiwaan, teori ini sudah dibantah secara ilmiah dan pencetusnya sendiri (Freud) yang terus

menggembar-gemborkan kebebasan seksual, ternyata mati karena menderita penyakit kejiwaan (psikopath).

5. Bahasa :

GF dibidang bahasa adalah dengan tidak diajarkannya bahasa al-Qur’an di sekolah- sekolah, karena menganggapnya tidak perlu. Hal yang nampaknya remeh ini sebenarnya sangat besar akibatnya dan menjadi bencana bagi kaum muslimin Indonesia secara umum. Dengan tidak memahami bahasa al-Qur’an maka mayoritas kaum muslimin

menjadi tidak mengerti apa kandungan al-Qur’an (QS 2/78), sehingga al-Qur’an menjadi sekedar bacaan tanpa arti (QS yang pada akhirnya hanya dinikmati iramanya seperti layaknya lagu-lagu dan nyanyian belaka, yang pada puncaknya adalah dengan

ditinggalkannya al-Qur’an (QS 25/30-31). Dampak yang lain dari kebodohan terhadap bahasa al-Qur’an ini adalah bahwa kaum muslimin menjadi terputus hubungannya dengan perbendaharaan ilmu-ilmu keislaman yang telah disusun dan dibukukan selama hampir 1000 tahun oleh para pakar dan ilmuwan Islam terdahulu, yang jumlahnya mencapai jutaan judul buku mencakup bidang-bidang aqidah, tafsir, hadits, fiqih, sirah, tarikh, ulumul qur’an, tazkiyyah, dsb.

6. Hukum :

GF pada aspek hukum adalah penggunaan acuan hukum warisan kolonial yang masih terus dipertahankan sebagai hukum yang berlaku, dan reduksi dan penghapusan hukum Allah SWT dan Rasul-Nya. Rasa takut dan alergi terhadap segala yang berbau syari’at Islam merupakan keberhasilan GF dibidang ini. Penggambaran potong tangan bagi pencuri dan rajam bagi pezina selalu ditonjolkan saat pembicaraan-pembicaraan tentang kemungkinan adopsi terhadap beberapa hukum Islam. Mereka melupakan bahwa hukum Islam berpihak (melindungi) korban kejahatan, sehingga hukuman keras dijatuhkan kepada pelaku kejahatan agar perbuatannya tidak terulang dan orang lainpun takut untuk berbuat yang sama. Sebaliknya bahwa hukum di Barat berpihak (melindungi) pelaku kejahatan, sehingga dengan hukuman tersebut memungkinkannya untuk mengulang lagi kejahatannya karena ringannya hukuman tersebut. Laporan menunjukkan bahwa tingkat

(13)

11

perkosaan yang terjadi di Kanada selama sehari sama dengan kejahatan yang sama di Kuwait selama 12 tahun, dan bahkan pooling yang dilakukan di masyarakat AS menunjukkan bahwa 1 dari 3 masyarakat AS menyetujui dijatuhkannya hukuman mati untuk pemerkosa (lihat Qardhawi, Y., Islam Peradaban Masa Depan, al-Kautsar, Jakarta).

7. Pengiriman pelajar dan mahasiswa ke Luar Negeri :

GF dibidang ini terjadi dalam 2 aspek, brain drain dan brain washing. Brain drain adalah pelarian para intelektual dari negara-negara Islam ke negara-negara maju karena insentif yang lebih besar dan fasilitas hidup yang lebih mewah bagi para pekerja disana. Hal ini

menyebabkan lambatnya pembangunan di negara-negara Islam dan semakin cepatnya kemajuan di negara-negara Barat. Data penelitian tahun 1996 menyebutkan bahwa perbandingan SDM bergelar doktor (S3) di Indonesia baru 60 per sejuta penduduk, di AS dan Eropa antara 2500-3000 orang per sejuta, dan di Israel mencapai 16.000 persejuta penduduk ! Sementara brain washing (cuci otak) dialami oleh para intelektual yang sebagian besar berangkat ke negara-negara Barat tanpa dibekali dengan dasar-dasar keislaman yang cukup, sehingga mereka pulang dengan membawa pola pikir dan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan bahkan secara sadar atau tidak ikut andil dalam membantu melanggengkan kepentingan Barat di negara mereka.

8. Media massa :

Berbicara mengenai GF yang terjadi dalam media massa, maka dapat dipilah pada aspek- aspek sebagai berikut :

Ø Aspek kehadirannya :

Terjadinya perubahan penjadwalan kegiatan sehari-hari dalam keluarga muslim. Sebagai contoh adalah TV, waktu selepas maghrib yang biasanya digunakan anak-anak untuk mengaji dan belajar agama berubah dengan menonton acara-acara yang kebanyakan merusak dan tidak bermanfaat. Sementara bagi para remaja dan orangtua, dibandingkan datang ke pengajian dan majlis-majlis ta’lim, kebanyakan lebih senang menghabiskan waktunya dengan menonton TV. Sebenarnya TV dapat menjadi sarana dakwah yang luarbiasa (sesuai dengan teori komunikasi yang menyatakan bahwa media audio-visual memiliki pengaruh yang tertinggi dalam membentuk kepribadian baik pada tingkat individu maupun masyarakat), asal dikemas dan dirancang agar sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Ø Aspek Isinya :

Berbicara mengenai isi yang ditampilkan oleh media massa yang merupakan produk GF diantaranya adalah mengenai penokohan/orang-orang yang diidolakan. Media massa yang ada tidak berusaha untuk ikut mendidik bangsa dan masyarakat dengan menokohkan para ulama dan ilmuwan serta orang-orang yang dapat mendorong membangun bangsa agar dapat mencapai kemajuan IMTAK dan IPTEK sebagaimana yang digembar-gemborkan, sebaliknya justru tokoh yang terus-menerus diekspos dan ditampilkan adalah para selebriti yang

menjalankan gaya hidup borjuis, menghambur- hamburkan uang (tabdzir) jauh dari memiliki IPTEK apalagi dari nilai-nilai agama. Hal ini jelas demikian besar dampaknya kepada generasi muda dalam memilih dan menentukan gaya hidup serta cita-citanya dan tentunya

(14)

12

pada kualitas bangsa dan negara. Produk lain dari GF yang menonjol dalam media TV misalnya, adalah porsi film-fil yang Islami yang hampir-hampir boleh dikatakan tidak ada, 90% film yang diputar adalah bergaya Barat, sisanya adalah film nasional (yang juga bergaya Barat), film-film Mandarin dan film-film India.

2.5. Beberapa saran yang digunakan untuk menghadapi ghozwul fikri.

1. Meninjau kembali semua kurikulum pendidikan di berbagai Negara Islam. Sehingga kita dapat menutup semua jendela yang dilalui oleh angin jahat. Sehubungan dengan ini universitas di Negara Islam harus memperhatikan mata kuliah kebudayaan Islam yang membicarakan tentang Ghozwul fikri, agar mahasiswa menyadari dan mengerti berbagai bahaya yang mengancam mereka.

2. Sekarang Negara-negara maju mendirikan berbagai instansi untuk memerangi narkotika dan untuk memboikot berbagai komoditas musuh. Jadi tiba saatnya kita membentuk lembaga yang mengamati berbagai kegiatan para aggressor dan sekaligus mencari jalan menghadapinya.

3. Menyebarluaskan berbagai prinsip dan ajaran Islam di tengah masyarakat dengan demikian mereka tidak membutuhkan nilai-nilai import.

4. Umat Islam harus mempunyai kantor berita sendiri, dikelola secara professional, mengerti persoalan dan mampu mengungkap bahaya berita yang tersembunyi dalam berbagai berita yang disiarkan musuh.

5. Memberi pengarahan yang benar dan melindungi otak yang benar serta perasaan kita dari obat penenang dan racun.

6. Menggerakkan berbagai potensi sastra untuk menggali warisan dan sejarah peradaban Islam.

7. Menggalang persatuan umat Islam agar tercapai swasembada disegala segi.

8. Menyatukan derap langkah para penulis muslim dan lembaga dakwah untuk mengawasi gerakan ghozwul fikriserta mengabil langkah untuk menghadapinya

(15)

13 2.6 Tujuan Ghzwul Fikri

Pertama, adalah mendangkalkan Aqidah hingga pemurtadan.

Kedua, menumbuhkan keraguan terhadap ajaran islam. Yang mereka lakukan adalah mengobok-obok hukum2 islam, mereka menyebutkan hukum2 islam sudah tertinggal oleh jaman tidak bisa diterapkan lagi dalam kehidupan sekarang, hukum potong tangan, rajam, jilid dsb-nya tidak manusiawi melanggar HAM dan berbagai macam komentar dari mereka yang bertujuan meragukan kaum muslimin dari agamanya. Tidak sedikit dari umat ini yang berpandangan sama seperti barat, namun mereka bukan dari kalangan SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, liberalisme) yang berpendapat Hukuman potong tangan, rajam dsb-nya tidak manusiawi. padahal sejatinya Hukuman-hukuman itu adalah Jawajir dan jawabir , yaitu pencegah dan penghapus dosa. Inilah yang mesti diterangkan pada umat yang berpandangan seperti itu.

Ketiga, mereka menciptakan sekulerisme (memisahkan agama dari kehidupan). Mereka mengatakan Agama tidak perlu dibawa-bawa dalam aktifitas keseharian dan khususnya politik. Jika ada Pedagang yang mengatakan "kalo jualan bawa2 agama gimana mau kaya!"

itulah hasil kerja dari orang2 penganut sekulerisme, mereka berhasil menjauhkan umat dari agamanya sendiri. Selain karna sekulerisme memang asas mereka yang mereka jadikan sebagai qaidah fikriyah(kaedah berpikir) dan qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir) mereka juga bertujuan melemahkan dan menghancurkan Islam ini dengan cara menjauhkan kaum muslimin dari agamanya.

Keempat, menumbuhkan Islamphobia baik pada kalangan (umat) islam maupun

kalangan non-islam. Mereka ‘menciptakan' ide "Perang melawan Teroris" dan yang mereka

‘jadikan sebagai teroris' adalah umat islam yang berjuang untuk menegakkan Panji-panji Laillahaillallah di muka bumi ini dan negeri2nya.

Kelima, merusak moral kaum muslimin. Mereka merusak moral2 kaum muslimin dengan cara ‘memperkenalkan' pergaulan bebas, free sex, Clubbing, lagu2 cengeng tentang putus cinta, jatuh cinta, budaya pacaran dan segudang aktifitas lainnya yang banyak dilakukan kaum muslimin sekarang ini khususnya anak muda.

(16)

14

Keenam, memecah belah persatuan umat islam. Mereka memakai pisau analis yang

‘membagi-bagi' kaum muslimin terdiri dari; Islam Radikal atau Islam Fundamentalis, Tradisionalis dan Islam moderat. Kaum muslimin yang menentang barat, barat kelompokan kedalam Islam Fundamentalis atau Islam Radikal, sementara kaum muslimin yang ‘wellcome

‘ terhadap barat mereka kelompokkan kedalam Islam Moderat. Inilah contoh kecil yang Barat lakukan dalam memecah belah kaum muslimin. Kita harus selalu waspada jangan sampai kita

‘merasa' bagian dari salah satu ‘kelompok' yang barat ciptakan di atas dan menganggap yang berbeda ‘kelompok' adalah musuh.

Dan yang ketujuh, adalah melanggengkan kolonialisme baru di tengah2 dunia islam.

Mereka menjajah, merampas kekayaan negeri2 muslim untuk kepentingan negara mereka.

Mereka ‘membeli' orang2 yang berpengaruh dalam negaranya agar dijadikan kacung-kacung (antek2) mereka. Dengan cara seperti itu mereka dapat mengendalikan negeri2 muslim karna para penguasanya telah mereka ‘beli'.

Inilah sebagian kecil dari Ghazwul Fikri (perang pemikiran), namun masih banyak lagi tujuan-tujuan, maksud-maksud, rencana-rencana busuk yang mereka kerjakan dan juga yang belum mereka kerjakan. Kita sebagai umat harus selalu waspada dan menambah pemahaman dan juga Tsaqofah kita agar kita dapat menangkal dan melawan perang pemikiran yang dilancarkan barat. Keep Ghirah wa istiqomah.. Allahu Akbar..

(17)

15

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Ghazwul fikri ( perang pemikiran ) merupakan hal yang sangat mungkin terjadi pada zaman seperti ini. Suatu cara yang sangat ampuh untuk mempengaruhi seseorang atau kelompok melalui globalisasi informasi. Dorongan untuk menerapkan al-ghozwul fikri sebagai upaya penganekaragaman serbuan terhadap kaum muslim ialah kegagalan pasukan nonmuslim menaklukan dunia Islam melalui perang secara konvensional (secara fisik militer). Menurut bahasa Ghozwul fikri terdiri dari dua kata : ghozwah dan fikr, ghozwah berarti serangan, sebuan, atau invasi dan fikr berarti pemikiran. Al-ghozwul fikri mengarah kepada dua sasaran utama, yaitu : 1. Mengeliminasi Islam supaya tidak berkembang, 2. Menghantam Islam dari dalam. Beberapa strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut diantaranya : Tasywih (pencemaran/pelecehan), Tasykik (pendangkalan/peragu-raguan),Tadzwib (penghancuran)karekteristik umat, Taghrib (pembaratan/westernisasi/kafirinisasi).

3.2 Saran

Marilah kita mencoba untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT (menjadi pribadi yang bertakwa). Dengan ketakwaan inilah Allah SWT akan menganugrahkan furqon kepada diri kita sehingga kita dapat membedakan mana jalan yang benar dan salah.

(18)

16

DAFTAR PUSTAKA

Bashori, H. Lutfi Musuh Besar Umat Islam. Jakarta: Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI). 2006.

Faris 167. Ghozwul fikri. Diakses pada tanggal 27 Februari 2011. Dari www.google.com

Ridlo, Abu Pengantar Ghazwul Fikri Faris 167. Ghozwul fikri. Diakses pada tanggal 27 Februari 2011. Dari www.google.com

(19)

16

Referensi

Dokumen terkait

Upaya untuk mendalami sejarah dan strategi perkembangan ilmu adalah lewat pemberian mata kuliah filsafat ilmu pada semua tingkat pendidikan tinggi baik

Perkembangan strategi perluasan pasar sasaran yang dijalankan perusahaan yang diimplementasikan dengan pengendalian harga dan pelayanan menurut data perusahaan ialah

Aqua Golden Missisipi hingga bisa sampai sekarang ini, atas dasar itulah penyusun membuat makalah dengan judul “Sejarah Visi Misi dan Strategi yang Digunakan PT Aqua

Upaya untuk mendalami sejarah dan strategi perkembangan ilmu adalah lewat pemberian mata kuliah filsafat ilmu pada semua tingkat pendidikan tinggi baik

Pelaksanaan dakwah ni berdasarkan penerapan strategi dakwah yang efektif yang meliputi adanya tujuan, pelaku, sasaran, materi, metode dan media/sarana; Kedua, proses dakwah Nabi

Dokumen tersebut berisi soal dan jawaban Ujian Tengah Semester untuk mata kuliah Manajemen Teknologi Informasi yang membahas tentang penggunaan teknologi mobile dan perangkat pintar (IoT) dalam strategi TI organisasi, integrasi teknologi rekomendasi dengan CRM untuk kampanye pemasaran yang efektif, dan prediksi perkembangan teknologi rekomendasi di masa